RSS

Arsip Harian: 19 November 2017

Galeri

Indahnya Kematian

Lepaskan dan biarkan aku terbaring,
dan jangan biarkan air matamu mengering
Biarkan aku tenang memasuki loka tanpa berpaling,
dan biarkan daku pergi dalam damai tanpa tangisan nyaring.
Biarkan aku istirahat di ranjang ini,
mataku telah lelah melihat dan menjalani,
seperti layaknya hatiku yang telah lelah berlari,
dan akhirnya sampai pada tempat menyandarkan diri…..
Nyalakan lilin kecil dan bakarlah aroma dupa,
dan taburi tubuhku dengan wewangian Puspa.
Basuhlah rambut ini dan wajah serta rupa,
dan biarkan diriku ini pergi dalam hampa.
Tegakkanlah wajahmu tanpa kesedihan,
sebagaimana timbulnya mentari saat fajar menjelang.
Nyanyikanlah lagu masa lalu kita dengan gemilang,
mengiringi kepak sayap – sayapku yang terbang.
Aku hanya menanggalkan bajuku yang kasar,
yang telah usang dan akan terbuang ke dasar.
Aku hanya ingin pergi dan tidak tersasar,
terhantar oleh bara api yang terus membakar.
Pun tali jiwa ku dengan badan telah putus,
Suratma telah menunaikan tugas dengan lulus.
Menguap sudah selaput kulit halus,
sebagaimana uap embun mengisi kabut dengan tulus.
Hapuslah air matamu …..,
dekatilah diriku dengan senyummu….,
sampaikan selamat tinggal bagiku,
yang akan melanjutkan perjalanan baru….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Salah Satu Percakapan Terindah Sepanjang Masa

Sebelum perang Kurukhetra terjadi, telah tumbuh kegelisahan pada diri Shri Krishna karena kehadiran Karna di pihak Kaurava. Krishna tidak takut dengan Bhisma yang perkasa, karena dia tahu bahwa Bhisma telah melakukan dosa (dengan menculik tiga putri, yaitu putri Kashi – Amba, Ambika, Ambalika) dan apa yang telah dilakukan oleh Bhisma telah memberinya sebuah bentuk buah Karma dalam wujud Shrikhandi (reinkarnasi – Dewi Amba, dia berjanji agar kelak menjadi alasan kematian Bhisma).
Krishna pun tidak takut dengan kehadiran Drona , karena dia tahu bahwa Raja Drupada telah melakukan sebuah Yagna dan melahirkan Dhristyadhumna, yang akan membunuh Drona di medan perang.
Krishna bagaimanapun merasa khawatir dengan kehadiran Karna , karena Karna hampir tidak pernah melakukan dosa. Jadi Sri Krisna hampir tidak memiliki cara untuk menggunakan buah Karma, dari dosa Karna . Dan karena Karna memiliki shakti Vasava, ini adalah sebuah penghalang besar menuju kemenangan Dharma. Jika Karna menggunakan Vasava Shakti, Arjuna sudah dipastikan akan mati dan jika Arjuna sudah mati, maka kekalahan Pandawa adalah sebuah keniscayaan.
Percakapan antara Krisna dan Karna, mungkin percakapan terbaik yang terjadi diantara manusia selain percakapan antara Krisna dengan Arjuna. Krisna mencoba membujuk dan merayu Karna agar dapat kembali kepada pangkuan Pandawa.
Krishna :
“Tahukah kau, bahwa kau adalah Putra tertua Kunti . Engkau pantas menjadi raja Hastinapura. Ayo, bergabunglah dengan kami. Semua Pandawa akan menyambutmu. Draupadi akan menjadi ratumu dan mengapa engkau berpihak pada Duryodhana?”
Karna :
“Mereka bukan saudara laki-lakiku, dan aku tidak ingin menjadi raja. Terima kasih telah mengatakan bahwa aku adalah Putra tertua Kunti , Aku telah mencari jawaban ini sepanjang hidupku.
Krishna :
Saat ini engkau telah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya , mengapa dirimu tidak ikut bersamaKu, bersama Pandawa ?
Karna :
Dengan segala hormat kepadamu, Khrisna, siapakah engkau, hingga kau berani menentukan dharma apa yang pantas buatku?Aku menyadari dharmaku dan aku melakukannya setiap hari.
Krishna :
Dan apa dharmamu, bolehkah aku tahu?
Karna :
Dharmaku adalah untuk melindungi temanku saat dia sangat membutuhkanku.
Krishna :
Bahkan dengan berpihak dengan kekuatan yang dilakukan Adharma terhadap ratusan ribu pria? Tahukah kau bahwa kehadiranmu di pihak Kaurava memastikan bahwa Dharma harus berjuang lebih keras untuk meraih kemenangan?
Karna :
“Kekuatan itu memiliki alasan tersendiri, aku punya alasan sendiri. Dimana kau berada, ketika Drona menolakku untuk mengajar pelajaran karena aku bukan anggota keluarga kerajaan? Dimana Dharma ketika aku tidak diizinkan untuk bersaing di Swayamvar Draupadi dan aku dihina karena menjadi orang yang berasal dari kasta rendah? Dimana dharma ketika aku harus menjawab pertanyaan setiap orang bagaimana putra seorang sudra menjadi raja? Dharma atau kebenaran dalam hal ini tidak pernah menjadi temanku. Aku hanya punya satu teman dan hanya satu dharma. Yang disebut Duryodhana.
Krishna :
Apakah kau setuju bahwa Duryodana telah melakukan kesalahan dan bahwa dia satu-satunya yang bertanggung jawab atas perang ini?
Karna :
Aku tahu…..
Krishna :
Lalu apa motivasimu, apa yang mendorongmu hingga kau bersedia ikut terlibat dalam perang ini? Pandawa punya alasan, Duryodana punya, lalu apa alasanmu? Apa yang akan kamu dapatkan dari perang ini?
Karna :
Aku ikut perang ini tidak untuk mendapatkan apapun. Setelah Bhisma Putra Gangga, Aku adalah pejuang tunggal yang paling malang di medan perang ini. Aku Berjuang bukan untuk apa-apa . Bhisma harus memenuhi sumpahnya , ia memiliki Pratigya dan karenanya dia terikat dan seolah tak berdaya. Tapi Aku bukanlah orang yang tidak berdaya. Aku bisa pergi kapan saja dari perang ini. Tapi tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak bisa meninggalkan temanku saat dia sangat membutuhkan diriku. Aku tahu dia salah , tapi hal itu tidak ada hubungannya dengan rasa syukur dan terimakasihku padanya.
Krishna :
Bagaimana jika kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan kedamaian? Bagaimana jika perang tidak pernah dimulai? Bagaimana kau akan membayar kembali hutang pertemananmu?
Karna :
Apakah kau bercanda, Krisna? Bahwa ketika Tuhan berdiri tepat di depan pintuku untuk membujukku dalam mengubah pendirian, yakinlah bahwa perang ini tidak akan bisa dihindari. Mengapa Tuhan datang ke pintuku jika pintu damai dapat terbuka?
Krishna :
Baik. Bagaimana jika Pandawa menang dan mereka mengundangmu untuk menjadi raja Hastinapura? Kau harus menikahi Draupadi saat itu, maukah kau melakukannya?
Karna :
Tidak, hal itu bahkan tidak mungkin terjadi. Di akhir perang ini, entah aku yang akan hidup ataupun Arjuna, tidak peduli siapa yang memenangkan perang ini, salah satu dari kami akan mati. Dan sejauh menyangkut Draupadi, itulah satu-satunya penyesalan terhadap dosa yang aku miliki. Aku telah salah menghina dia, memanggilnya pelacur di ruang pengadilan. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Jadi, bahkan jika dia mendekati diriku, aku sangat tidak layak untuknya sekarang. Pada satu titik, mungkin, tapi tidak sekarang dan selamanya. Semua Sudah terlambat.
Percakapan antara Krisna dan Karna adalah sebuah momentum yang penuh keharuan dan dipenuhi oleh aspek indah dari kemanusiaan , untuk dipahami dan digunakan sebagai bahan perenungan. Peecakapan diatas dimulai dari sebuah pertanyaan Siapakah sebenarnya orang tua / Ibunda Karna sebenarnya dan kemudian diikuti oleh pertanyaan paling menyakitkan yang membuat dia kesakitan sepanjang hidupnya
Karna :
“Ibu meninggalkan diriku saat aku dilahirkan. Apakah salahku hingga aku harus terlahir sebagai anak tanpa orang tua? “
Krishna :
Aku dilahirkan di penjara dan kematianku ditakdirkan bahkan sebelum aku sempat membuka mataku di dunia ini…
Hidup itu bisa saja terasa tidak adil bagi siapapun. Sebenarnya, hal itu akan sangat mungkin bisa terjadi karena dalam bentuk manusia inilah, kita semua ada di sini untuk belajar pelajaran tertentu dan penting bagi kita.
Krisna :
Engkau tidak bisa bertindak hanya karena hidup tidak adil bagimu dan karena ada orang yang telah baik menolong dirimu, yang pada dasarnya merupakan ancaman bagi seluruh masyarakat;Dan Pada akhirnya, kau harus memilih antara hati nuranimu di atas orang tersebut. Ini adalah dharma yang benar. Itulah satu-satunya jalan.
Faktanya adalah, baik Karna ataupun Krishna, pada dasarnya mereka mengekspresikan diri mereka dalam bentuk manusia. Dunia ini adalah panggung dan kita semua hanyalah karakter yang memenuhi takdir permainan terbesar sepanjang masa yang kita sebut Hidup. Alam semesta memiliki cara untuk mewujudkan sesuatu dan kita semua selaras dengan jalan jiwa kita.

Mereka yang menyadari dan menyesuaikan diri dengan jalan mereka, dibebaskan dari perbudakan Karma mereka, mereka kembali lagi untuk menyelesaikan pelajaran dan pengetahuan yang masih belum tersedia atau sebagian tersedia bagi mereka.

Dialog antara Krishna dan Karna adalah contoh klasik untuk memahami perbedaan antara ketidaktahuan dan kesadaran. Terlarut dalam rasa penyesalan dan mengasihani diri sendiri tidak akan pernah memberikan solusi apapun. Namun, ketika kita berdiri berkali-kali untuk menahan diri tegak dan mengatakan kebenaran, Anda melepaskan diri dari semua drama yang tidak perlu.

Hidup adalah pelajaran dan seseorang harus menerima semua yang harus mereka alami.
SANG KARNA
Aku bukanlah orang yang jahat,
juga bukan orang yang tak bermartabat,
Pun aku adalah orang yang berhasrat,
Akan hal yang aku yakini dengan erat….
Walau Dunia akan berperang melawanku dengan hebat,
layaknya seekor semut terkepung oleh air bah yang dahsyat,
hingga habis tetes darah dan menjadi mayat
Aku akan tetap menantang Sangkakala dan berdiri dengan kuat,
Walau dirimu sekumpulan Agung para kesatria,
yang mampu membumi hanguskan kurusetra,
Aku kan menghadapi mu tanpa takut dan jera,
Bagiku kehidupan atau kematian adalah hal bisa kukecup dengan mesra….
Aku bukanlah orang yang hina,
yang sebisanya engkau injak layaknya manusia tanpa guna,
Aku hanya memegang teguh sumpah yang kuucapkan disana,
tanpa ragu dan tanpa nyana….
Sumpahku bagiku bukan sebuah masalah…,
Ku tak peduli akan baik dan salah…..,
yang aku tahu bahwa itu adalah hal wajib dan sah,
hingga datang waktu saat aku menyerah kalah…
Ku tak sesali keputusanku…..,

Aku

telah berserah diri pada Penciptaku,
Apapun yang telah aku ambil sebagai jalanku,
Akan ku Raup dan rasa dalam cecapku….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in filosofi

 
Galeri

14 Negara Era Modern, Yang Terlibat Dalam Perang Mahabharata

Perang Mahabharata atau Perang di Kurukshetra terjadi pada tahun 3138 SM (5.155 tahun yang lalu). Perang Mahabharata dimulai pada Mrugashirsha Shukla Ekadashi
(hari ke 11 di bulan ke 2 tahun Hindu), dan berlangsung hingga 18 hari. Nama Kurukshetra diberikan untuk menghormati Raja Chandravanshi Kuru- ke 1 yang lahir di bawah garis keturunan Raja Puru.
Raja Yuddhisthira lahir pada generasi ke 53 setelah Raja Kuru-1. Yuddhisthira adalah raja Chandravanshi terakhir dari Era Dwaparayuga di bawah garis keturunan Dinasti Kuru. Sedangkan Raja Kuru-1 memerintah pada Era Satyayuga. Raja Ikhvaku Sudas (Maha Bhishaka) hidup sejaman dengan Raja Kuru-1. Sedangkan Raja Sudas (Mahabhishaka) kelak akan lahir kembali sebagai Raja Shantanu (ayah dari Bhisma) di kehidupan selanjutnya.
Dalam Perang Mahabharata total ada 14 negara modern (saat ini) yang terlibat. Yaitu :
(1). India:-
(2). Pakistan: –
Kerajaan Sindhu
Kerajaan Keikaya
Kerajaan Madra
(3). Afghanistan: –
Kerajaan Gandhara
Kerajaan Kamboja
Kerajaan Parada
Kerajaan Parasika
Kerajaan Huna
(4) Iran: –
Kerajaan Aswaka
KerajaanYavana
(5) Tajikistan: –
Kerajaan Parama Kamboja
Kerajaan Hara Huna
(6) Balkhan : –
Kerajaan Bahlika
Kerajaan Saka
(7) Turkmenistan: –
Kerajaan Tushara
(8) Irak: –
Kerajaan Pahlava
(9) Kyrgistan: –
Kerajaan Uttara Madra
Kerajaan Uttara Kuru
(10) Tibet: –
Kerajaan Rishika
Kerajaan

Tushara

(11) Nepal: –
Kerajaan Videha
Videha diperintah oleh (Raja Janaka 1), 62 Raja memerintah setelah Raja Siradhwaja (Raja Janaka-2) yang merupakan ayah dari Dewi Sita di Ramayana.Kerajaan Videha ditaklukkan oleh Kerajaan Magadha pada tahun 544 SM yang dipimpin oleh Raja Bimbisara (559- 491 SM). Raja Magadha Ajaatshatru memerintah Kerajaan Videha dari tahun 491 SM sampai tahun 460 SM. Raja Bimbisara hidup sejaman dengan Buddha Gautama (563-483 SM).
Kerajaan Kailasha
Kerajaan Nepa
Kerajaan Kirata
(12) Bangladesh: –
Kerajaan Vanga
Kerajaan Pundra
Raja Paunduraka Vasudeva memerintah di Kerajaan Paundra pada saat Perang Mahabharata. Sri Krishna mengalahkan & membunuh Paunduraka. Pada saat itu Raja Paundaraka telah berhasil menggalang kekuatan dengan membuat persekutuan antara :
1. Raja Magadha Jarashangha: Jarashanga memerintah Magadha selama 112 tahun (3250 SM – 3138 SM). Jarashangha adalah ayah mertua Raja Mathura Kamsa.
2. Raja Chheidya Shishupala: Shishupala dibunuh oleh Sri Krishna.
3. Raja Shroditpur Banasura: Banasura dikalahkan oleh Sri Krishna setelah Perang Mahabharata. Putri Banasura, Usha, menikah dengan putra Sri Krishna, Aniruddha.
4. Raja Rukmiva: – Rukmiva adalah saudara laki-laki Rukmini. Rukmiva adalah saudara ipar Sri Krishna. Rukmiva dikalahkan oleh Sri Krishna.
5. Raja Bhagadutta: – Bhagadutta dibunuh oleh Arjuna dalam Perang Mahabharata.
6. Raja Susharma: – Susharma dibunuh oleh Arjuna pada hari ke 13 saat Perang Mahabharata berlangsung.
Kerajaan Suhma
Kerajaan Pragjyotisha
(13) Myanmar: –
Kerajaan Brahmmdesh
(14) Sri Lanka: –
Kerajaan Sinhala
Kerajaan Trikuta
Kubera adalah pendiri Sri Lanka.
Kubera adalah raja pertama Sri Lanka.
Kubera memerintah Sri Lanka selama 10.000 tahun pada era Satyayuga.
Pada era dan jaman yang sama Raja ke 24 Ikshvakuvanshi Muchukanda (putra Chakravartin Samrata Raja Mandhata & putra dari Raja Yuvanasva-1) sedang memerintah di Ayodhya. Kubera bertempur dengan Muchukanda dua kali. Dalam pertempuran pertama Kubera mengalahkan Muchukanda.
Dalam pertempuran kedua Muchukanda dengan bantuan Brahmmarshi Vashishtha mengalahkan Kubera. Ravana menduduki Sri Lanka dari Kubera. Rahwana kemudian memerintah Sri Lanka. Sri Rama lahir pada generasi ke 56 setelah Raja Muchukanda.
Sri Rama mengalahkan & membunuh Rahwana dalam perang. Sri Rama kemudian menunjuk Vibhishana sebagai Raja Sri Lanka.
Vibhishana memerintah Sri Lanka selama 864,000 tahun (Seluruh era Dwaparayuga).
Vibhishana memerintah Sri Lanka sampai Mahabharata. Saat Yuddhisthira melakukan Ashwamedha Yagnya , Sahadeva dikirim ke arah selatan sampai Sri Lanka karena keahliannya dalam pertarungan Pedang. Sahadeva bertemu dengan Vibhishana dan mereka menjadi teman (mereka tidak berkelahi). Vibhishana memerintah sampai tahun 3102 SM.
REFERENSI:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Makhluk yang Hampir Abadi Dalam Hindu

Manusia modern bisa saja hidup maksimal 125 tahun atau bahkan mencapai 135 tahun. Jadi, akan sangat Sulit dipercaya manusia modern , bahwa ada manusia yang hidup lebih dari 125 tahun atau lebih dari itu, pada saat ini. Dalam Hindu, dikenal ada beberapa Makhluk dalam kelompok yang disebut Ashta-Chiranjivin (Chiranjivin dalam tulisan sankrit चिरन्जीिव) , Astha artinya 8 , Chiran artinya panjang sedangkan Jivin dari Jeevi adalah jiwa. Jadi secara harfiah, Ashta-Chiranjivin adalah 8 Makhluk yang berusia sangat panjang / hampir – hampir abadi. Delapan jiwa yang umurnya hampir abadi ini hingga detik ini masih hidup di Bumi yang sama dengan kita, dalam balutan daging dan darah hingga hari ini, karena berbagai alasan berbeda. Secara khusus, Chiranjeevis adalah mereka yang lahir sebagai manusia / makhluk yang normal namun karena mendapatkan berkat ataupun karena mendapat kutukan sehingga memiliki usia kehidupan yang sangat panjang (mungkin bukan keabadian yang benar benar abadi seperti yang kita tahu, namun untuk kesederhanaan kita akan gunakan kata abadi).
Dalam kitab kitab Purana , itihasa Ramayana maupun Mahabharata, dan dalam kutipan dari Tithyaditantra dan Sabdakalpadruma dituliskan
अश्वत्थामा बलिव्र्यासो हनूमांश्च विभीषण :. कृप: परशुरामश्च सप्तएतै चिरजीविन :. सप्तैतान् संस्मरेन्नित्यं मार्कण्डेयमथाष्टमम्. जीवेद्वर्षशतं सोपि सर्वव्याधिविवर्जित.
“Ashwathaama Balirvyaaso Hanumanshcha VibheeshanahaKrupaha Parshuramascha Saptaitey ChiranjivinahaSaptaitaan Samsmareynnityam MarkandeymathaashtamamJivedvarshshatam Sopi Sarvavyadhivarjit”
इस श्लोक का अर्थ यह है कि इन आठ लोगों (अश्वथामा, दैत्यराज बलि, वेद व्यास, हनुमान, विभीषण, कृपाचार्य, परशुराम और मार्कण्डेय ऋषि) का स्मरण सुबह-सुबह करने से सारी बीमारियां समाप्त होती हैं और मनुष्य 100 वर्ष की आयु को प्राप्त करता है”
“Bahwa dengan mengingat-ingat 8 makhluk abadi ini (Ashwatthama, Raja Bali, Ved Vyasa, Hanuman, Vibhishan, Kripacharya, Parashuram dan Rishi Markandaya), seseorang dapat terbebas dari semua masalah dan hidup selama 100 tahun”
Adapun ke 8 makhluk abadi tersebut adalah :
1. Aswatama
2. Raja Asura Bali
3. Maharesi Veda Vyasa
4. Hanuman
5. Vibhishana
6. Kripaacharya
7. Parasurama
8. Maharesi Markandeya

1. Aswatama
Ashwatthama adalah putra guru Drona. Dia adalah salah satu dari 8 Chiranjivis. Dronakharya sangat mencintainya. Desas-desus tentang kematiannya dalam perang Kurukshetra menyebabkan kematian Drona di tangan Pangeran Dhrishtadyumna. Dia adalah cucu dari Brahmana Bijak Bharadwaja. Kelahiran Aswatama merupakan sebuah berkah bagi Resi Drona yang telah bertahun-tahun melakukan penebusan yang berat untuk menyenangkan Hyang Siwa untuk mendapatkan anak laki-laki yang memiliki keberanian yang sama dengan Dewa Siwa. Aswatthama adalah avatara salah satu dari sebelas Rudras. Aswatthama dan Kripa diyakini sebagai korban selamat yang masih hidup yang benar-benar bertempur dalam Perang Kurukshetra. Aswatthama lahir dengan permata di keningnya yang memberinya kekuatan atas semua mahluk hidup. Permata ini melindungi dia dari serangan oleh hantu, setan, serangga beracun, ular, hewan dll. Dronacharya sangat mencintainya. Meskipun dia lahir abadi karena berkah dari Dewa Siwa, rumor tentang kematiannya dalam Perang Kurukshetra menyebabkan kematian Drona di tangan Pangeran Dhrishtadyumna. Ashwatthama adalah Maharathi perkasa yang berjuang melawan Kaurava melawan Pandawa. Selain dengan resi Parashurama dan resi Vyasa, Aswatthama dianggap paling utama di kalangan para Maharesi .
Asvatthama pada Mahayuga ke 29 dan manvantara ke 8 bersama dengan Vyasa, Krpa, Parasurama adalah saptarsis masa depan (SrimadBhagavata 8.13.15-16), Raja Asura Bali adalah yang akan menjabat sebagai penguasa KayanganIndra berikutnya (SrimadBhagavata 8.13.12,17, Garuda Purana 1.87.36), Hanuman diberkati oleh Brahma untuk hidup selama dia mau ( Ramayana, Brhad-bhagavatamrta 1.4.41 – dia selalu bebas dari usia tua dan meninggal), Wibhisana diberkati oleh Rama untuk hidup hingga satu kalpa (SrimadBhagavata 9.10.32). Gambaran fisiknya di Mahabharata adalah dia sangat tinggi, dengan kulit gelap, mata gelap, dan permata di dahinya. Seperti Bhishma, Drona, Kripa, Karna, dan Arjuna, dia adalah ahli ilmu senjata dan dianggap sebagai yang terdepan di antara para pejuang. Aswatthama mempelajari Dhanurveda atau bela diri dan Brahmavidya atau ilmu tentang Diri atau Atma dari Parasurama, Maharishi Durvasa, Maharishi Veda Vyasa, Bhishma, Kripa dan Drona. Aswatthama adalah penguasa segala bentuk pengetahuan dan memiliki penguasaan penuh atas 64 bentuk seni atau Kalas dan 18 Vidyas atau cabang ilmu pengetahuan.
Bhishma berusaha keras sepanjang hidupnya untuk melindungi Hastinapura dalam usahanya mencari pewaris sah klan Sathyavati. Bhishma mempercayakan Krishna tanggung jawab untuk menemukan pewaris keluarga Sathyavati berikutnya dan meneruskan silsilah Pandawa. Meskipun, setelah kekalahan Duryodhana, tampaknya Hastinapura sekarang aman, karena jelas bahwa Yudhistira adalah raja Hastinapur berikutnya, namun malang, tindakan Ashwatthama mengakhiri garis Pandava ketika membunuh janin bayi Parikesit. Krishna kemudian mengutuk Ashwatthama (sebenarnya karma Prarabdha-nya) bahwa “dia akan menanggung beban dosa semua orang di pundaknya dan akan berkelana sendirian seperti hantu tanpa mendapat kasih dan kesopanan sampai akhir Kaliyuga; tidak akan memiliki keramahan atau kenyamanan apapun, Dia akan berada dalam keterasingan total dari umat manusia dan masyarakat; Tubuhnya akan menderita sejumlah penyakit yang tidak dapat disembuhkan yang membentuk luka dan bisul yang tidak akan pernah sembuh “. Ashwatthama memiliki permata yang mirip dengan Shamantakamani di dahinya yang digunakan untuk melindungi pemakainya dan akan dijauhkan dari ketakutan pada ular, hantu dan setan. Jadi, Ashwatthama diminta menyerahkan permata ini. Sri Krishna lebih jauh menyatakan bahwa “luka yang disebabkan oleh pengangkatan permata ini di dahinya tidak akan pernah sembuh dan akan menderita kusta, sampai akhir Kaliyuga”. Dipercaya bahwa di Kaliyuga, namanya akan berganti menjadi “Suryakanta”. Dengan demikian, Ashwatthama akan mencari kematian setiap saat, namun dia tidak akan pernah mati. Di akhir Kali Yuga, Ashwatthama akan menemui Sri Kalki, yang merupakan awatar kesepuluh dan terakhir dari Dewa Wisnu.

2. Raja Asura Bali
Raja Asura Mahabali, yang telah menaklukkan ketiga dunia ini, telah ditundukkan oleh Wisnu atas permintaan Indra, setelah mengembangkan arogansi yang tidak sehat. Wisnu mengusir Bali ke dunia bawah, namun perbuatan salehnya di Bumi memberinya anugerah untuk dapat mengunjungi rakyatnya setahun sekali – sekarang dirayakan sebagai Onam di Kerala.
Dalam Skanda Purana, diceritakan bahwa MahaBali adalah seorang Saivita (pemuja Siwa) karena Bali memuja Siwa setiap hari. Vishnu memberikan anugerah kepada Mahabali , Saat ia didorong masuk menghuni Patala (koloni asura yang baik dan sudah sadar), Raja Bali mengajukan permintaan terakhir. Dia meminta agar dia diizinkan mengunjungi Kerala satu kali dalam setahun untuk memastikan bahwa rakyatnya masih bahagia, Dewa Vishnu dengan senang hati mengabulkan permohonan Mahabali. Juga, dengan anugerah Wisnu, Bali akan menjadi pengganti Dewa Indra berikutnya, yaitu Pejabat Dewa Indra pada Manvantara kedelapan (Raja Deva) (Purandara adalah Indra saat ini) pada masa Manu kedelapan, Savarni Manu. Dan sebelum berangkat ke Patala, dia membungkuk kepada Wisnu, Brahma dan Siwa.

3. Maharesi Veda Vyasa
Veda Vyasa adalah seorang Maharesi bijak agung yang lahir pada akhir masa Treta Yuga dan yang telah dikatakan telah hidup melalui Yuga Dvapara dan Kali Yuga saat ini. Orang bijak seperti orang abadi lainnya dikatakan memiliki umur hingga Manvantara ini selesai atau sampai akhir Kali yuga ini. Veda Vyasa adalah penulis Mahabharata serta Purana dan juga orang yang membagi Weda dalam empat bagian. Hal itu juga bisa diperdebatkan sehingga Veda Vyasa bukan hanya satu melainkan sekelompok ilmuwan yang mengerjakan Weda. Veda Vyasa dalam arti harfiah berarti pembagi Veda. Setelah mengatakan bahwa bagaimanapun diyakini secara luas bahwa dia adalah satu manusia. Selalu akan ada Veda Vyasa yang hidup melalui satu Manvantara ini.
Veda Vyasa dikatakan menjalani kehidupan pertapa dan diyakini secara luas masih hidup dan hidup di antara makhluk hidup sampai akhir Kali Yuga ini.

4. Hanuman
Hanuman mungkin yang paling terkenal dari semua Chiranjivi. Hanuman adalah pengikut Rama yang paling setia dan memainkan peran penting dalam membentuk plot Ramayana dan kekalahan Rahwana oleh Rama. Hanuman adalah humanoid yang lahir dalam bentuk monyet atau disebut juga ras vanaras. Melewatkan sejarah untuk beberapa waktu yang lain, ketika Rama, Tuan yang begitu ia cintai meninggalkan bumi, Rama bertanya kepada Hanuman apakah dia ingin ikut bersamanya, Sebagai tanggapan, Hanuman meminta Rama agar dia ingin tetap tinggal di bumi selama nama Rama diucapkan oleh orang-orang di bumi. Hanuman menghindari langit dan meminta untuk tetap tinggal di Bumi selama Rama dihormati oleh orang-orang, untuk tinggal dimanapun nama Rama disebut, dan itulah wujud cintanya kepada Tuhan. Siapa pun yang melantunkan kemuliaan Hanuman akan mengatasi kesengsaraan dan rintangan hidup. Ada satu cerita yang sangat menarik tentang sebuah ziarah di Himalaya pada tahun 1998. Seorang peziarah diduga melihat sebuah cahaya di dalam gua, di mana dia mengambil sebuah foto. Setelah Dia meninggal dunia tak lama kemudian saat rekan seperjalanannya membuat foto itu menjadi berita yang menghebohkan , foto Ini menggambarkan makhluk berbentuk monyet, mempelajari apa yang tampak seperti Veda.
Dengan demikian, Hanuman dikatakan masih ada di planet ini dan kita hanya bisa berspekulasi mengenai di mana dia berada .

5. Vibhishana
Raja Vibhishana adalah saudara raja Raksasa / asura Ravana yang terkenal dan seseorang yang memainkan peran penting dalam kekalahannya dengan berpihak pada Sri Rama di Ramayana. Vibhishana dikatakan sebagai jiwa yang murni dengan hati yang murni dan merupakan pengikut setia Rama.
Setelah mengalahkan Ravana, Vibhishana dinyatakan sebagai Raja Lanka [sekarang Sri Lanka] oleh Rama dan dikatakan telah diberi restu / anugrah umur seumur hidup untuk menjaga kerajaannya di Lanka dengan baik.
Vibhishana akan hidup sampai akhir Kaliyuga ini. Adapun riwayat dari Vibhishana adalah lahir di Satyayuga. Vibhishana adalah kakak laki-laki Suprnakha (Chandramukhi / Meenakshi). Vibhishana adalah adik Kubera, Rahwana, Kumbhakarna. Kubera adalah saudara tiri Ravana, Kumbhakarna, Vibhishana. Vibhishana mulai memerintah di Tretayuga setelah kematian Rahwana. Vibhishana mulai memerintah Lanka saat Sri Rama mulai memerintah Ayodhya. Vibhishana juga masih memerintah saat Yuddhisthira memerintah. Yuddhisthira lahir 128 tahun terakhir dari Dwaparayuga. Hanya 128 tahun Dwaparayuga yang tersisa saat Yuddhisthira Lahir. Jadi, Vibhishana memerintah seluruh Dwaparayuga. Dwaparayuga berumur 864,000 tahun.

6. Kripaacharya
Kripacharya – Dia adalah seorang bijak, seorang master untuk semua pelajaran. Kelahirannya sangat aneh. Nama masa kecilnya adalah Kripa, dia menjadi seorang guru sehingga dipromosikan menjadi Kripacharya. Dia mengajar Pandawa dan Kaurava sejak usia dini, hingga saat Resi Dorna diberi tugas itu. Ashwathama adalah keponakannya. Dia termasuk di antara yang hidup abadi karena ia tidak pernah dilahirkan sehingga tidak bisa mati seperti itu. Sebenarnya ayahnya adalah pemanah yang hebat yang membuat Indra cemburu dan seperti biasa dia mengirim Apsara untuk merayunya, ayahnya Shardwan adalah orang suci sehingga dia mengendalikan dirinya sendiri tapi air maninya jatuh pada rumput yang membelahnya menjadi dua, dari mana seorang anak laki-laki dan perempuan lahir. . Anak laki-laki adalah Kripa dan gadisnya Kripi. Shantanu, kakek dari Pandawa mengadopsi mereka dan Kripa menjadi guru sementara Kripi menikahi Drona. Jadi dia tidak lahir dalam rahim sehingga tidak bisa mati secara sederhana, Kripi meninggalkan dunia dalam kesedihan karena dia kehilangan suami dan anaknya (Ashwathama masuk hutan) di dalam kisah Mahabharata.

7. Parasurama.
Parashurama – merupakan Avatara ke 6 dari Vishnu, Pria dengan kekuatan tinggi dan penuh berkah Tuhan, bahwa semua veda dan senjata mengenalnya. Dia adalah pejuang dan Orang suci yang hebat sejak lahir. Ayahnya Jamadangi adalah gurunya, dikatakan bahwa ayahnya meminta kepala ibunya selama Guru Dakshina. Parashurama tidak berpikir dua kali dan melakukan apa yang dimintanya, melihat ini ayahnya menjadi bahagia dan memberinya hadiah, Parshurama pun kembali meminta ibunya kembali. Dia adalah pemuja Dewa Siwa yang taat dan dia pula orang yang menghancurkan 1 gading Ganesha. Dia pula yang akan mengajar Kalki pada masa akhir kaliyuga , saat Kalki paling membutuhkannya, dia akan muncul dan membantu manusia. Kalki Purana menulis bahwa ia akan muncul pada akhirnya sebagai guru bela diri Kalki. Dia kemudian akan menginstruksikan avatar terakhir untuk melakukan penebusan dosa untuk menerima persenjataan surgawi, yang dibutuhkan untuk menyelamatkan umat manusia pada akhir zaman.

8. Maharesi Markandeya
Satu kisah dalam purana menceritakan bagaimana Shiva melindungi Markandeya dari cengkeraman kematian, yang dipersonifikasikan sebagai Yama. Penguasa Mrikandu dan istrinya Marudmati memuja Siwa dan mendapatkan anugerah dariNya untuk melahirkan seorang putra. Namun dalam Anugrah itu ada 2 pilihan yang harus diambil oleh pasangan itu , yaitu dianugrahi anak berbakat, tapi dengan kehidupan singkat di bumi atau anak dengan kecerdasan rendah namun dengan umur panjang. Pakikandu memilih yang pertama, dan diberkati dengan Markandeya, putra teladan, yang ditakdirkan untuk meninggal pada usia 12 tahun. Markandeya tumbuh menjadi pemuja Siwa yang hebat dan pada hari kematiannya dia melanjutkan pemujaannya pada Siwa dalam benthuk Shivalingam. Utusan Yama, dewa kematian tidak dapat mengambil nyawanya karena pengabdiannya yang besar dan penyembahan kepada Siwa yang terus-menerus. Yama kemudian datang secara pribadi untuk melepaskan nyawa Markandeya, dan menumbuhkan tali dan menjerat di sekitar leher Sang bijak muda itu. Secara kebetulan atau telah ditakdirkan, simpul tali tersebut secara keliru mendarat di sekitar Shivalingam, dan dari sana, Siwa muncul dengan semua kemarahannya dan menyerang Yama karena tindakan agresi. Setelah mengalahkan Yama dalam pertempuran sampai mati, Siwa kemudian menghidupkannya kembali, dengan syarat pemuda yang taat akan hidup selamanya. Untuk tindakan ini, Shiva kemudian dikenal sebagai Kalantaka (“Pembebas dari Kematian”). Dengan demikian maka mantra Maha Mrityunjaya Stotra yang digunakan oleh Rsi Markandeya, kemudian dikenal sebagai mantra Pembebas.
Dari hal diatas beberapa catatan dapat diambil ;
1. Parashurama akan menjadi Saptarshi di Manavanatara berikutnya ( Manavanatara ke 8).
2. Veda Vyasa akan menjadi saptarshi di Manavantara berikutnya.
3. Kripacharya akan menjadi Saptarshi di Manavnatara berikutnya.
4. Ashwatthama akan mengambil posisi Veda Vyasa di Manavantara selanjutnya. Ashvatthama akan mengumpulkan empat veda di Manvantara berikutnya.
5. Karena karunia Nya Hyang Hanuman akan menjadi Dewa Brahma di Kalpa (100 tahun Brahma) berikutnya.
(Jadi, Hanumaan akan tinggal lebih lama di Bumi dari Chiranjivin yang lain).
Setiap Manavantara memiliki Saptarshis yang berbeda, Indra & Manu yang berbeda

pula. Total

Manvantara adalah 14. Total jabatan Indra adalah 14 kali pergantian (Raja Surga). Total Manu adalah 14 kali pergantian (manusia pertama di bumi). Total Saptarshi adalah 7 pada satu waktu tapi beberapa dari tujuh yang pernah jadi Sapta Resi tetap sama dan beberapa di antaranya berubah dalam Manvantara berikutnya. Manu pertama adalah Swayambhuv Manu. Kata “Man” & “Manushya” berasal dari Manu. Manushya berarti turunan dari Manu. Manu saat ini adalah Manu ke-07. Nama Manu saat ini adalah Vivasvan Manu. Vivasvan Manu adalah putra dari Bhatara Surya, Ikshvaku adalah putra sulung Vivasvan Manu. Sri Rama lahir pada generasi ke-81 dari Dinasti Surya. Sri Rama lahir 80 generasi setelah Vivasvan Manu. Sri Rama lahir 79 generasi setelah Ikshvaku. Dan Buddha Gautama lahir 66 generasi setelah Sri Rama.
Referensi:
4. http://www. google. co.in/search?hl=en&as_q=&as_epq=horse-voiced&as_oq=&as_eq=&as_nlo=&as_nhi=&lr=&cr=&as_qdr=all& as_sitesearch=http%3A%2F%2Fwww. sacred-texts. com&as_occt=any&safe=images&tbs=&as_filetype=&as_rights=
5. http://spokensanskrit.de/index. php?tinput=azvatthAma&direction=SE&script=HK&link=yes&beginning.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Yang Tersembunyi Dari Seorang Drupadi

Bagi banyak orang Drupadi adalah lambang kesucian sekaligus keanggunan seorang wanita. Dia adalah seorang ratu penuh misteri, yang energik dan berapi-api namun penuh kasih kepada lima bersaudara Pandawa, dan juga dianggap sebagai salah satu alasan kenapa perang Mahabharata terjadi. Tapi tahukah, bahwa Draupadi melambangkan pengikatan lima chakra dalam tubuh manusia? Drupadi merupakan perlambang yang juga disebut Kula kundalini, yang berada di sumsum tulang belakang manusia. Mari kita lihat beberapa fakta tersembunyi tentang Draupadi …

1. Berbagai nama lain Draupadi
Draupadi juga disebut sebagai Panchali (artinya yang berasal dari kerajaan Panchala), Yajnaseni (yang berarti terlahir dari Yajna atau pengorbanan api), Mahabhaaratii (Istri / Nyonya besar dari lima keturunan Bharata) dan Sairandhri (seorang pembantu ahli, nama ini muncul saat Drupadi dan Pandawa hidup dalam pengasingan di mana dia bekerja sebagai penata rambut ratu Sudir dan rambut Raja Virata).

2. Draupadi seharusnya memiliki 14 suami dan bukan lima orang saja….
Dikisahkan tentang Draupadi yang meminta seorang suami dengan 14 kualitas dalam kelahirannya sebelumnya. Dewa Siwa memberinya anugerah. Tapi karena tidak ada orang yang bisa memiliki semua kualitas, dia mengatakan kepadanya bahwa dia akan menjadi istri dari lima pria yang secara kolektif memiliki semua kualitas tersebut. Draupadi telah meminta Dewa Siwa untuk memberkati dirinya dengan suami yang memiliki lima kualitas terbaik yang dimiliki seseorang: dharma, kekuatan, keterampilan memanah, tampan, kesabaran, dll.

3. Draupadi bukanlah tipe wanita yang hanya bisa diam dan pasrah pada penderitaan.
Sosok Draupadi adalah sosok yang Langka dalam budaya jaman itu, Draupadi adalah wanita yang tak kenal takut. Dia menuntut keadilan secara langsung dari Dhritarashtra, raja Hastinapura, saat dia dihina. Dia, saat menjadi Sairandhri, sekali lagi menuntut keadilan secara langsung dari raja Virata saat dia dihina oleh saudara ipar Sang Raja, Kichaka. Dia secara terbuka mengutuk raja-raja tersebut (Virata dan Dhritarashtra) karena gagal melindungi seorang wanita. Dia bahkan mengutuk para pejuang hebat seperti Bhishma, Drona, Kripacharya dan suaminya karena tidak menyelamatkannya dari penghinaan selama peristiwa Cheer-Haran.

4. Draupadi tidak pernah memiliki masa kecil….
Ayah Draupadi Drupada, raja Panchala, menciptakannya dengan tujuan menghancurkan Dinasti Kuru yang melindungi Drona, yang menggunakan murid-muridnya, Pandawa dan Kaurava, untuk menaklukkan dan kemudian membagi Panchala. Dia lahir dari Yadnya Gni dengan demikian, Draupadi lahir dewasa, tanpa mengalami masa kecil atau mengalami asuhan sebagai seorang anak. Draupadi dibesarkan dalam kebencian, dirancang untuk menghancurkan sebuah keluarga.

5. ReInkarnasi Dewi Kali
Ada kepercayaan populer di India Selatan bahwa Draupadi juga merupakan inkarnasi dari Maha Kali, yang lahir untuk membantu Krishna (yang merupakan avatar dari Vishnu, Kali yang merupakan saudara Dewi Parvati) untuk menghancurkan semua Raja India yang sombong. Itulah sebabnya mereka dianggap kakak dan adik meski Draupadi lahir dari api.

6. Draupadi tidak mempercayai suaminya.

Draupadi berteriak ingin membalaskan dendam namun meragukan jika kelima suaminya akan membalaskan dendamnya. Dia punya alasan untuk meragukannya. Mereka tidak membunuh Jayadhrata, suami ipar perempuannya, meskipun dia menyeretnya keluar dari rumahnya ke kereta yang bertekad menjadikannya selirnya. Mereka ragu membunuh Kichaka karena takut membuat identitas rahasia mereka diketahui publik saat dia menyiksanya di tahun terakhir pengasingan mereka.
7. Istana Draupadi
Istana Draupadi seperti “akshaya patra” milik Lakshmi, yang selalu penuh dengan makanan. istilah “lstana Draupadi” berarti dapur yang dipenuhi dengan makanan terbaik. Dapur seperti itu adalah tanda ibu rumah tangga yang baik (Drupadi kadang disebut sebagai “Annapurna”). Mahabharata menunjukkan kepada kita nilai seorang ibu rumah tangga yang baik dan bahwa ini menjadi simbol bahwa wanita tidak sepantasnya untuk “mementingkan” diri sendiri.

8. Apakah Draupadi diselamatkan oleh Resi Durvasa?
Ada juga cerita menarik Durvasa yang menyelamatkan Draupadi peristiwa Cheer-Haran. Dalam Siwa Purana menghubungkan penyelamatan ajaibnya dengan anugerah yang diberikan oleh Resi Durvasa. Draupadi dengan cepat merobek selembar pakaiannya untuk menutupi tubuhnya. Maharesi memberinya anugerah pertolongan, yang menyebabkan aliran kain yang tak ada habisnya untuk menutupi tubuhnya saat Dushasana mencoba melepaskan pakaiannya.

9.Drupadi mengutuk Ghatotkacha
Ketika Ghatotkacha mengunjungi kerajaan ayahnya untuk pertama kalinya, atas perintah ibunya (Hidimba), dia tidak menghormati Drauapdi . Drupadi merasa terhina dan dia menjadi sangat marah. Drupadi berkata kepada Gatotkaca bahwa dia adalah orang yang luar biasa, dia adalah ratu Yudhistira, dia adalah anak perempuan seorang raja Brahmana, dan statusnya jauh lebih tinggi daripada Pandawa.

10.Balas dendam Hidimba
Draupadi mengucapkan sebuah kutukan yang mengerikan bahwa hidup Ghatotkacha akan singkat, dan bahwa dia akan dibunuh tanpa pertarungan – kejadian yang mengerikan bagi seorang kshatriya. Hidimba tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat mendengar kutukan Draupadi. Dia bergegas menghampirinya, dan memanggilnya wanita malang dan berdosa. Hidimba dalam kemarahannya mengutuk anak-anak Drauapdi

11. Berbagai Kelahiran Drupadi sebelumnya…
Menurut NaradaPurana dan Vayu Purana, Draupadi adalah gabungan awatara dari para Dewi , yaitu Dewi Shyamala (Shakti Dharma), Bharati (Shakti Vayu), Shachi (Shakti Indra), Usha (Shakti Ashwins) dan Parvati (Shakti Siwa). Di avatar sebelumnya, dia lahir sebagai Vedavati, yang mengutuk Ravana. Dia kemudian dilahirkan sebagai Sita. Inkarnasi ketiganya sebagai Damayanti yang berputri Nalayani. Dan reinkarnasinya yang kelima adalah Draupadi sendiri.

12. Perjanjia Pranikah Draupadi
Ketika Draupadi setuju untuk menjadi istri Pandawa, Dia mengajukan syarat bahwa dia tidak akan berbagi rumah tangganya dengan wanita lain. Pandawa tidak dapat membawa istri mereka yang lain ke Indra-prastha. Arjuna, bagaimanapun, berhasil membawa satu istri masuk. Dia adalah saudara perempuan Krishna, Subhadra. Dan dengan sedikit saran dari Krishna, akhirnya arjuna bisa membawa Subhadra ke Indraprasta.

13. Duryodana tidak ikut serta dalam Swayamvara Drupadi
Ada alasan mengapa Duryodhana tidak berpartisipasi dalam swayamvara Draupadi. Itu karena dia sudah menikahi putri Kalinga, Bhanumati. Dia telah berjanji kepadanya bahwa dia tidak akan pernah menikah dengan orang lain, dan dia menepati janjinya.

14. Sepatu di depan Pintu sebagai Tanda…..

Pandawa telah sepakat bahwa hanya satu laki-laki yang bisa masuk kamar Draupadi pada satu waktu dan selama itu, tidak ada Pandava lain yang boleh masuk ke kamarnya. Barang siapa yang memasuki kamar Drupadi harus memberi tanda dengan meletakkan sepatunya di luar pintu. Pelanggaran terhadap kondisi ini memiliki hukuman yang ketat – pelaku harus segera berangkat bertapa untuk pengasingan selama bertahun-tahun.

15. Arjuna , pelanggar aturan…
Suatu hari ketika Yudhistira berada di kamar Draupadi, seekor anjing mencuri sepatunya dari luar pintu. Arjuna, yang tidak sadar akan hal ini, memasuki bilik itu dan melihat kakak laki-lakinya dengan Draupadi. Menurut kesepakatan tersebut, Arjuna harus berangkat ke pengasingan. Karena Malu, Draupadi menjadi marah dengan anjing yang telah mencuri sepatu Yudhistira, sehingga memaki semua anjing – “Seluruh dunia akan melihat anjing bersetubuh di depan umum, dilucuti dari rasa malu.”

16. Sisi lain Drupadi
Asvatthama, anak Drona, tanpa belas kasih membunuh kelima anak Draupadi yang sedang tidur di tengah malam. Krishna, Arjuna dan Bhima pergi dan menangkap Asvatthama dan membawanya ke Draupadi agar dia mengambil keputusan akhir. Draupadi, bagaimanapun, menunjukkan rasa kasihan yang luar biasa saat Asvatthama duduk dengan kepala tertunduk. Meskipun Krishna mengatakan kepadanya bahwa tidak ada dosa yang timbul dalam pembunuhan seorang pembunuh semacam itu, Drupadi dapat merasakan rasa sakit yang dirasakan istri Drona atas kehilangan anaknya.

17. Terberkati menjadi perawan….
Sebelum pindah ke suami berikutnya, Draupadi berjalan melalui api untuk mendapatkan kembali keperawanan dan kemurniannya. Sedangkan Aturan seperti ini tidak pernah dilakukan oleh suami poligami. Semua Pandawa memiliki istri-istri lain tapi istri-istri ini tinggal bersama orang tua mereka dan Pandawa harus pergi ke luar kota untuk mengunjungi istri mereka yang lain selama empat tahun saat giliran Drupadi bersama dengan salah satu anggota Pandawa yang lain selama 1 tahun .

18. Krishna adalah satu-satunya teman Draupadi….

Draupadi selalu menganggap Krishna sebagai Sakha atau sahabat sejatinya dan Krishna yang menujukannya sebagai Sakhi, ini adalah simbol cinta spiritual yang ada antara Draupadi dan Krishna .Satu-satunya teman sejati, yang datang untuk menyelamatkannya setiap kali dia berada dalam keadaan yang membahayakan, adalah Krishna.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Nama Tuhan Menyelamatkanku

Raka dan Ayu berteman akrab, yang selalu bermain dan belajar bersama.
Suatu ketika Raka pergi ke rumah Ayu, dia memperhatikan bahwa sebelum tidur Ayu seperti sedang bergumam untuk beberapa waktu. Dia tidak mengerti apa dan mengapa Ayu sedang bergumam. Ketika ditanya tentang hal itu, Ayu berkata, “Aku sedang mengucapkan (mengulang-ulang) Nama Tuhan selama lima menit. Aku juga mengulangi Nama itu selama lima menit begitu aku bangun tidur. “
Raka terkejut dan tidak mengerti mengapa seseorang harus mengulangi Nama Tuhan berkali kali. Ayu menjawab, “Ibuku mengatakan bahwa Tuhan selalu bahagia dan jika kita mengulangi Nama-Nya, kita pun merasa bahagia.”
Keesokan paginya, Raka memperhatikan bahwa Ayu memperdengarkan pengulangan nama Tuhan selama lima menit begitu dia terbangun. Ibu Ayu pun juga sedang melantunkan hal itu saat sedang sarapan. Raka merasa bahwa dia juga harus melantunkan nama Tuhan. Jadi, dia bertanya kapan dan apa yang harus dia nyanyikan. Ayu menjawab, “Raka , kau bisa mencoba menyebut dan melantunkan nama dewa Kuldevata (favorit) mu. Kau juga bisa bernyanyi saat sedang takut, misalnya saat berada di ruangan yang gelap atau saat kamu sedang sendiri, dan lain-lain, karena Nama Tuhan akan melindungimu. ”

Saat malam hari tiba, ayah Raka datang menjemputnya untuk melihat sirkus. Raka sangat senang pergi ke circus bersama orang tua dan adik laki-lakinya. Mereka menikmati banyak atraksi yang berbeda, mengunjungi banyak toko dan membeli banyak mainan .

Tak lama kemudian malam telah semakin larut dan anak-anak lapar. Jadi, mereka pergi makan di warung terdekat. Entah bagaimana, salah satu kios terbakar dan dalam waktu singkat api mulai menyebar.

Raka dan keluarganya mulai lari menghindari api. Mereka bisa melihat banyak orang di sekitar mereka, panik dan lari. Ayah Raka membawa adik laki-laki nya dan berteriak pada Raka untuk berpegangan pada tangan ibunya. Saat mereka hendak keluar dari warung yang berapi-api, seseorang menabrak Raka dan mendorongnya mundur. Raka kehilangan pegangan di tangan ibunya dan terjatuh. Saat dia berdiri, dia tidak bisa melihat kedua orang tuanya. Dia tersesat dan ketakutan.

Entah bagaimana, dia berhasil mencapai pintu keluar dan diperhatikan oleh salah satu petugas pemadam kebakaran, yang membimbing dan mengarahkan orang agar selamat. Petugas pemadam kebakaran bertanya kepada Raka di mana orang tuanya berada. Raka mulai menangis dan tidak bisa mengatakan apapun. Petugas pemadam kebakaran kembali menanyakan nama dan alamatnya kepadanya, tapi Raka sangat ketakutan sehingga dia tidak dapat mengingat apapun.

Petugas pemadam kebakaran kemudian dengan lembut menyuruh Raka untuk tenang dan berpikir. Tiba-tiba, Raka mengingat kata-kata ibu Ayu, “Nama Tuhan akan melindungimu” Dia memejamkan mata dan dengan fokus dan penuh konsentrasi melantunkan Japa nama Dewa favoritnya. Sambil bernyanyi dia tidak bisa memikirkan hal lain dan dalam beberapa menit, Raka mulai merasakan perbedaannya. Semua ketakutannya hilang dan faktanya, dia merasa tenang, meski berada dalam situasi itu. Saat dia membuka matanya, dia mengingat semuanya dan memberi tahu namanya dan nomor telepon ayahnya. Dalam waktu singkat, mereka bisa menemukan orang tuanya dan Raka bersatu dengan mereka. Saat dia memeluk ibunya, Raka berkata ‘Nama Tuhan menyelamatkanku!’
Om Namah Shivaya
Om Namo Bhagavate Vasudevaya Namah
Om Namo Shiva Bhudaya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
 
%d blogger menyukai ini: