RSS
Galeri

Salah Satu Percakapan Terindah Sepanjang Masa

19 Nov
Sebelum perang Kurukhetra terjadi, telah tumbuh kegelisahan pada diri Shri Krishna karena kehadiran Karna di pihak Kaurava. Krishna tidak takut dengan Bhisma yang perkasa, karena dia tahu bahwa Bhisma telah melakukan dosa (dengan menculik tiga putri, yaitu putri Kashi – Amba, Ambika, Ambalika) dan apa yang telah dilakukan oleh Bhisma telah memberinya sebuah bentuk buah Karma dalam wujud Shrikhandi (reinkarnasi – Dewi Amba, dia berjanji agar kelak menjadi alasan kematian Bhisma).
Krishna pun tidak takut dengan kehadiran Drona , karena dia tahu bahwa Raja Drupada telah melakukan sebuah Yagna dan melahirkan Dhristyadhumna, yang akan membunuh Drona di medan perang.
Krishna bagaimanapun merasa khawatir dengan kehadiran Karna , karena Karna hampir tidak pernah melakukan dosa. Jadi Sri Krisna hampir tidak memiliki cara untuk menggunakan buah Karma, dari dosa Karna . Dan karena Karna memiliki shakti Vasava, ini adalah sebuah penghalang besar menuju kemenangan Dharma. Jika Karna menggunakan Vasava Shakti, Arjuna sudah dipastikan akan mati dan jika Arjuna sudah mati, maka kekalahan Pandawa adalah sebuah keniscayaan.
Percakapan antara Krisna dan Karna, mungkin percakapan terbaik yang terjadi diantara manusia selain percakapan antara Krisna dengan Arjuna. Krisna mencoba membujuk dan merayu Karna agar dapat kembali kepada pangkuan Pandawa.
Krishna :
“Tahukah kau, bahwa kau adalah Putra tertua Kunti . Engkau pantas menjadi raja Hastinapura. Ayo, bergabunglah dengan kami. Semua Pandawa akan menyambutmu. Draupadi akan menjadi ratumu dan mengapa engkau berpihak pada Duryodhana?”
Karna :
“Mereka bukan saudara laki-lakiku, dan aku tidak ingin menjadi raja. Terima kasih telah mengatakan bahwa aku adalah Putra tertua Kunti , Aku telah mencari jawaban ini sepanjang hidupku.
Krishna :
Saat ini engkau telah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya , mengapa dirimu tidak ikut bersamaKu, bersama Pandawa ?
Karna :
Dengan segala hormat kepadamu, Khrisna, siapakah engkau, hingga kau berani menentukan dharma apa yang pantas buatku?Aku menyadari dharmaku dan aku melakukannya setiap hari.
Krishna :
Dan apa dharmamu, bolehkah aku tahu?
Karna :
Dharmaku adalah untuk melindungi temanku saat dia sangat membutuhkanku.
Krishna :
Bahkan dengan berpihak dengan kekuatan yang dilakukan Adharma terhadap ratusan ribu pria? Tahukah kau bahwa kehadiranmu di pihak Kaurava memastikan bahwa Dharma harus berjuang lebih keras untuk meraih kemenangan?
Karna :
“Kekuatan itu memiliki alasan tersendiri, aku punya alasan sendiri. Dimana kau berada, ketika Drona menolakku untuk mengajar pelajaran karena aku bukan anggota keluarga kerajaan? Dimana Dharma ketika aku tidak diizinkan untuk bersaing di Swayamvar Draupadi dan aku dihina karena menjadi orang yang berasal dari kasta rendah? Dimana dharma ketika aku harus menjawab pertanyaan setiap orang bagaimana putra seorang sudra menjadi raja? Dharma atau kebenaran dalam hal ini tidak pernah menjadi temanku. Aku hanya punya satu teman dan hanya satu dharma. Yang disebut Duryodhana.
Krishna :
Apakah kau setuju bahwa Duryodana telah melakukan kesalahan dan bahwa dia satu-satunya yang bertanggung jawab atas perang ini?
Karna :
Aku tahu…..
Krishna :
Lalu apa motivasimu, apa yang mendorongmu hingga kau bersedia ikut terlibat dalam perang ini? Pandawa punya alasan, Duryodana punya, lalu apa alasanmu? Apa yang akan kamu dapatkan dari perang ini?
Karna :
Aku ikut perang ini tidak untuk mendapatkan apapun. Setelah Bhisma Putra Gangga, Aku adalah pejuang tunggal yang paling malang di medan perang ini. Aku Berjuang bukan untuk apa-apa . Bhisma harus memenuhi sumpahnya , ia memiliki Pratigya dan karenanya dia terikat dan seolah tak berdaya. Tapi Aku bukanlah orang yang tidak berdaya. Aku bisa pergi kapan saja dari perang ini. Tapi tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak bisa meninggalkan temanku saat dia sangat membutuhkan diriku. Aku tahu dia salah , tapi hal itu tidak ada hubungannya dengan rasa syukur dan terimakasihku padanya.
Krishna :
Bagaimana jika kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan kedamaian? Bagaimana jika perang tidak pernah dimulai? Bagaimana kau akan membayar kembali hutang pertemananmu?
Karna :
Apakah kau bercanda, Krisna? Bahwa ketika Tuhan berdiri tepat di depan pintuku untuk membujukku dalam mengubah pendirian, yakinlah bahwa perang ini tidak akan bisa dihindari. Mengapa Tuhan datang ke pintuku jika pintu damai dapat terbuka?
Krishna :
Baik. Bagaimana jika Pandawa menang dan mereka mengundangmu untuk menjadi raja Hastinapura? Kau harus menikahi Draupadi saat itu, maukah kau melakukannya?
Karna :
Tidak, hal itu bahkan tidak mungkin terjadi. Di akhir perang ini, entah aku yang akan hidup ataupun Arjuna, tidak peduli siapa yang memenangkan perang ini, salah satu dari kami akan mati. Dan sejauh menyangkut Draupadi, itulah satu-satunya penyesalan terhadap dosa yang aku miliki. Aku telah salah menghina dia, memanggilnya pelacur di ruang pengadilan. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Jadi, bahkan jika dia mendekati diriku, aku sangat tidak layak untuknya sekarang. Pada satu titik, mungkin, tapi tidak sekarang dan selamanya. Semua Sudah terlambat.
Percakapan antara Krisna dan Karna adalah sebuah momentum yang penuh keharuan dan dipenuhi oleh aspek indah dari kemanusiaan , untuk dipahami dan digunakan sebagai bahan perenungan. Peecakapan diatas dimulai dari sebuah pertanyaan Siapakah sebenarnya orang tua / Ibunda Karna sebenarnya dan kemudian diikuti oleh pertanyaan paling menyakitkan yang membuat dia kesakitan sepanjang hidupnya
Karna :
“Ibu meninggalkan diriku saat aku dilahirkan. Apakah salahku hingga aku harus terlahir sebagai anak tanpa orang tua? “
Krishna :
Aku dilahirkan di penjara dan kematianku ditakdirkan bahkan sebelum aku sempat membuka mataku di dunia ini…
Hidup itu bisa saja terasa tidak adil bagi siapapun. Sebenarnya, hal itu akan sangat mungkin bisa terjadi karena dalam bentuk manusia inilah, kita semua ada di sini untuk belajar pelajaran tertentu dan penting bagi kita.
Krisna :
Engkau tidak bisa bertindak hanya karena hidup tidak adil bagimu dan karena ada orang yang telah baik menolong dirimu, yang pada dasarnya merupakan ancaman bagi seluruh masyarakat;Dan Pada akhirnya, kau harus memilih antara hati nuranimu di atas orang tersebut. Ini adalah dharma yang benar. Itulah satu-satunya jalan.
Faktanya adalah, baik Karna ataupun Krishna, pada dasarnya mereka mengekspresikan diri mereka dalam bentuk manusia. Dunia ini adalah panggung dan kita semua hanyalah karakter yang memenuhi takdir permainan terbesar sepanjang masa yang kita sebut Hidup. Alam semesta memiliki cara untuk mewujudkan sesuatu dan kita semua selaras dengan jalan jiwa kita.

Mereka yang menyadari dan menyesuaikan diri dengan jalan mereka, dibebaskan dari perbudakan Karma mereka, mereka kembali lagi untuk menyelesaikan pelajaran dan pengetahuan yang masih belum tersedia atau sebagian tersedia bagi mereka.

Dialog antara Krishna dan Karna adalah contoh klasik untuk memahami perbedaan antara ketidaktahuan dan kesadaran. Terlarut dalam rasa penyesalan dan mengasihani diri sendiri tidak akan pernah memberikan solusi apapun. Namun, ketika kita berdiri berkali-kali untuk menahan diri tegak dan mengatakan kebenaran, Anda melepaskan diri dari semua drama yang tidak perlu.

Hidup adalah pelajaran dan seseorang harus menerima semua yang harus mereka alami.
SANG KARNA
Aku bukanlah orang yang jahat,
juga bukan orang yang tak bermartabat,
Pun aku adalah orang yang berhasrat,
Akan hal yang aku yakini dengan erat….
Walau Dunia akan berperang melawanku dengan hebat,
layaknya seekor semut terkepung oleh air bah yang dahsyat,
hingga habis tetes darah dan menjadi mayat
Aku akan tetap menantang Sangkakala dan berdiri dengan kuat,
Walau dirimu sekumpulan Agung para kesatria,
yang mampu membumi hanguskan kurusetra,
Aku kan menghadapi mu tanpa takut dan jera,
Bagiku kehidupan atau kematian adalah hal bisa kukecup dengan mesra….
Aku bukanlah orang yang hina,
yang sebisanya engkau injak layaknya manusia tanpa guna,
Aku hanya memegang teguh sumpah yang kuucapkan disana,
tanpa ragu dan tanpa nyana….
Sumpahku bagiku bukan sebuah masalah…,
Ku tak peduli akan baik dan salah…..,
yang aku tahu bahwa itu adalah hal wajib dan sah,
hingga datang waktu saat aku menyerah kalah…
Ku tak sesali keputusanku…..,

Aku

telah berserah diri pada Penciptaku,
Apapun yang telah aku ambil sebagai jalanku,
Akan ku Raup dan rasa dalam cecapku….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in filosofi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: