RSS
Galeri

Hubungan Antara Maya dengan Jiwa

20 Nov
Maya sangat membantu dalam pembebasan jiwa dari keterikatan. Anava (kebodohan/ketidaktahuan/kegelapan), karma dan maya (Prakirti/materi/tubuh) dikatakan sebagai “malas” dari Sang jiwa. Dari ketiga hal tersebut, anava adalah penyebab kelahiran berulang jiwa, dengan mengikis ketidaktahuan sedikit demi sedikit, Maya membantu jiwa terbebas dari ketidaktahuan dan terbebas dari kelahiran berulang. Yang mendorong jiwa melalui selimut kegelapan (Anava) setiap jiwa akan memiliki maya dan karma.

Bagaimana maya membantu jiwa digambarkan oleh kitab kitab Siddhanta sebagai berikut :

“Maya, menurut karma dari masing-masing jiwa, akan menjadi tubuh, alam materi dll. Sampai jiwa mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan Anugrah Tuhan, maya membantu jiwa seperti lampu yang memberi terang kepada manusia mengarungi kegelapan hingga matahari kesadarannya terbit”

Saat Anugrah Tuhan tercapai, kegelapan /anava akan lenyap sama sekali. Hingga saat itu, “lampu” maya membantu jiwa untuk tidak menderita dalam kegelapan anava.

Karena maya (tubuh) membantu jiwa, maka maya bukanlah penghambat namun justru memiliki ‘hubungan baik’ dengan Sang Jiwa . Menganggap maya sebagai penyebab kelahiran berulang kuranglah tepat.
Jadi, meskipun maya membantu jiwa, dengan mengetahui sifatnya yang tidak nyata, maka Maya tidaklah abadi dan pada waktunya akan musnah dan ditinggalkan. Ketika matahari sudah terbit dan menerangi jalan maka lampu lentera tidak diperlukan lagi dan baru kemudian pembebasan bisa tercapai. Apa yang menyebabkan lampu lentera/ Maya/ tubuh / dunia materi sulit untuk ditinggalkan adalah karena ketidaktahuan; dan ketidaktahuan ini disebabkan oleh anava (kegelapan) dan bukan maya. Dimanapun dan kapanpun ada ketidaktahuan, itu harus dipahami sebagai efek anava. Oleh karena itu, maya tidak sempurna; anava-lah yang menahannya sehingga terselimuti kegelapan.

Jiwa mengambil tubuh tertentu hanya karena karma. Apapun bentuk tubuh, pada karma yang semakin menipis dan habis maka jiwa pada akhirnya akan mencapai pembebasan. Oleh karena itu, jumlah kelahiran bergantung pada karma sang jiwa. Jiwa yang memiliki sedikit karma bisa mencapai pembebasan bahkan dalam satu atau dua kelahiran. Tapi jika karma tidak habis – habis bahkan setelah mengalami kelahiran jutaan kali jiwa – jiwa akan tetap mengalami kelahiran kembali.

Seorang siswa di Kelas 3 dapat naik ke Kelas 5 dengan terlebih dulu naik ke Kelas 4, ada juga yang terjadi secara langsung dari 3 ke 5. Dia juga bisa turun kelas, semuanya bergantung pada kecerdasannya. Demikian pula, jiwa yang lahir sebagai tanaman bisa mendapatkan kelahiran Deva, dan seorang Deva mungkin dapat terlahir sebagai seekor anjing atau rubah. Semua tergantung pada perbuatan baik-buruk.

Tanpa tubuh, jiwa tidak bisa eksis. Dan tidak ada tubuh tanpa karma. Bahwa jiwa mendapatkan tubuh yang sesuai dengan karma-karmanya. Karena itu, tidak ada tubuh (bagi setiap jiwa) tanpa karma.

Mungkin aja ada yang bertanya , Jika demikian, jiwa dari kondisinya yang halus, saat akan menempati tubuhnya yang pertama kali, tergantung seperti apa yang tubuhnya , Itu juga tergantung pada Karmas-nya! Bila jiwa berada dalam kondisi halus karena di dalam jiwa juga ada badan halus, anava (kegelapan) yang menguasainya akan merubah keinginan di dalamnya. Keinginan itu menjadi karma dan, sebagai akibatnya, jiwa memperoleh tubuh pada kelahiran pertamanya.
Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa karma hanya diperoleh di tingkat manusia dan bukan kelahiran kelahiran yang lain tidaklah tepat.

Jiwa karena terselimuti oleh Anava, Maya dan karma tidak memiliki kebebasan dalam kelahiran apapun. Satu-satunya Hal di Semesta Raya yang memiliki kebebasan adalah Tuhan. (Ini adalah salah satu kebenaran mendasar dari ajaran Saiva Siddhanta). Ciri khas jiwa adalah bahwa ia mengambil bagian dari sifat yang terbawa dengannya menjadi satu kesatuan. Dengan demikian, ketika jiwa mencoba menyatukan dirinya dengan Pati, ia mendapat sedikit pencerahan dan melakukan perbuatan baik; Saat bergabung dengan Pasas, ia akan melakukan perbuatan jahat. Bergabungnya jiwa dan seberapa banyak kecenderungan dia bersama (Pati atau Pasam) juga disebabkan karena karma masa lalu. Karena itu, jiwa jiwa yang lahir kembali tidaklah memiliki kebebasan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in filosofi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: