RSS
Galeri

MENGAPA PELINGGIH SEBAGAI STANA PARAMASIWA PADA PADMA TIGA BERWARNA HITAM?

24 Nov
Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Paramasiwa.
Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988.
Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Paramasiwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan, keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Paramasiwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan.
Sementara busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Yang Maha Kuasa ParamaSiwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.
Siwa adalah dewata bagian dari Trimurti, yang bertanggung jawab terhadap penyerapan alam semesta. Beliau merupakan perwujudan dari sifat tamas, kelembaman sentrifugal. Kecenderungan menuju pelenyapan atau peleburan. Arti sebenarnya dari siwa adalah pada siapa alam semesta ini tertidur setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dilenyapkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar, prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Siwa jauh lebih banyak dari pada itu, keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, substratum dari segala keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang nampak tanpa batas ini, Kata “Siwa” secara harfiah dapat pula diartikan sebagai “Sesuatu yang tidak.” Dewasa ini, sains modern membuktikan kepada kita bahwa segala sesuatu berasal dari kekosongan atau tidak ada apa-apa dan kembali kekosongan .
Dasar keberadaan atau eksistensi Semesta dan Kualitas dasar makrokosmos sangatlah luas. Galaksi Bima Sakti yang kita tempati hanyalah bagaikan butiran debu diantara jutaan taburan galaksi dan bintang, Sisanya adalah semua ruang kosong yang luas, yang disebut sebagai ParamaSiwa. Itulah rahim dari mana semuanya, itulah tempat dimana Semesta lahir, dan itu adalah tempat terakhir dimana semuanya tersedot kembali. Tempat dimana semua akan melebur kembali
Semuanya berasal dari ParamaSiwa dan kembali ke ParamaSiwa.

Jadi

ParamaSiwa bukan digambarkan sebagai makhluk, bukan sebagai individu. ParamaSiwa tidak digambarkan sebagai cahaya, tapi sebagai Kekosongan / Kegelapan Total. Manusia yang lahir kedunia, Atma yang telah diseliputi Maya, telah membawa kodrat kelahiran dengan mata sebagai alat untuk melihat . Tanpa cahaya mata biasa tak dapat melihat. Cahaya bisa saja ada , bisa saja tidak. Yang selalu ada dan tetap ada adalah kegelapan. Gelap telah ada sebelum cahaya Ada. Ini berarti bahwa setiap sumber cahaya apakah itu lilin, bola lampu bahkan matahari, pada saatnya nanti, pada akhirnya akan kehilangan kemampuannya untuk memberikan cahaya. Cahaya itu tidaklah abadi, Cahaya lahir dan pada saatnya nanti akan berakhir. Kegelapan adalah kondisi yang jauh lebih besar daripada cahaya. Cahaya ada dalam selimut kegelapan . Cahaya ada karena ada dalam dekapan kegelapan. Kegelapan ada dimana-mana, karena Kegelapan total adalah kekosongan Mutlak dimana semesta akan kembali, dan dari kegelapan Semesta kan lahir kembali .
Kegelapan disini bukanlah kegelapan dalam arti konotasi yang kurang baik , jika kita mengatakan “kegelapan ilahi,” bukan berarti kita adalah pemuja setan atau

sesuatu

. Namun kegelapan disini adalah sebuah konsep, filsafat dan Tatwa, dan tiada konsep yang lebih cerdas di planet ini tentang keseluruhan proses penciptaan dan bagaimana hal itu terjadi, dan konsep ini telah dimiliki Hindu ribuan tahun….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: