RSS

Arsip Penulis: linggawardanasahajakers

Bhatara Dharma Japa untuk Belajar dan Dilindungi Kebenaran

Om hyang namo nama dharma bhatara pujamkha, pradnya paramita sunya laksana ya namastute, yaksanatakha rajha om


Dewa bhatara dharma adalah dewa yg memberikan ruang kebenaran kepada setiap mahluknya, dewa yg mengajarkan tentang kebenaran juga keadilan dan dapat dikatakan sebagai yg menguji iman manusia sejauh mana ia telah menapaki keyakinannya..

Dalam kisah itihasa mahabrata, maka dewa dharma beberapa kali muncul kehadapan yudistira anaknya sebagaimana IA muncul sbgai Yaksa raja dan juga sbagai anjing hitam..Kenapa harus anjing, karena anjing melambangkan kesetiaan tanpa batas atas tuannya, yaitu kebenaran itu sendiri..

Dharma adalah sebuah kebenaran yg mutlak, disebut juga bhatara dharma adalah dewa keadilan yg hadir di kehidupan ini, (sedikit berbeda dgn yama yg sebagai pencabut nyawa) bisa jadi bhatara dharma yg akan juga mengadili seseirang setelah Ia mati (dicabut oleh yamapati) dan ktika itu sebuah kebenaran, maka mirip dengan konsep sang Suratma yg mempertanyakan asas kebenaran dan kebatilan yg dilakukan oleh manusia tersebut dan mengadilinya.. 

Di konsep dewa lainnya,ada yg bernama dewa Anubis mesir yg menjaga alam kematian, dewa ini berkepala anjing dan disangkutpautkan oleh dua dacin (timbangan) untuk mengadili manusia yg telah meninggal di masa hidupnya..Ketika dilihat bentuk kepalaNya, maka adalah anjing juga..Dalam hal ini bisa dikatakan ada arketipe yg sama dri hal tersebut untuk tentang kebenaran itu sendiri..

Bhatara dharma dapat dijapakan agar mereka yg dalam suatu pembelajaran bisa fokus atas apa yg dipelajari, ini yg bisa membuat mereka juga lebih mudah dalam memahami pembelajaran mereka itu..Dan ktika dalam ujian, mereka bisa lebih berani dalam melaksanakannya, hati menjdi lebih tenang krna mampu menegakkan bhatara dharma di dalam hatinya untuk menjadi tuntunan..Japamnya adalah 

“Om ya bhatara dharma pradnya widyastute ya namo namaha om”

Semoga ada maknanya..

Guswar 2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2017 in Tak Berkategori

 

Bhatara kubera Sang Pemberi Rejeki

Om hyang kuwera ya namo nama sidhantaka..maha danti dantya dana prani hitankarana..maha sidhi hring jagatha dewatanaka..wisrawana namastute mahajayanta..dharma santana pujam om

Kubera disebut sebagai dewaNya keberkahan, yang merupakan penguasa arah utara bersama wisnu di dewata surya majapahit .. Merupakan saudara dari rahwana namun lain ibu, dan berkedudukan sebagai bendahara para dewata..

Beliau adalah  yaksa, yg mrupakan mahluk mitologi setengah dewa dan dekat dgn ras raksasa..Yaksa raja adalah yg pernah menguji yudistira saat di hutan dalam pelariannya..juga diangkat sebagai raja di alengka, selain itu dalam konsep astabrata ramayana, maka kubera masuk sbagai brata kepemipinan, agar pemimpin selalu memberi berkah kepada rakyatnya..

Dapat digunakan sbagai japa untuk memperlancar rejeki dan dapat dijadikan amulet atau pegangan untuk mencari keberkahan itu sendiri..japanya yaitu :

Om kubera ya namo namah swaha om..

Terkenal dalam kebudayaan jaina dan juga buddha, atau juga di hindu termasuk majapahit..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2017 in agama, doa

 

Tag: , , ,

Pengaruh Tri Guna Maya terhadap Buddhi dalam Jnana Tattwa..

Om jnana yoga yantranamakha om

Disebutkan bahwa sattwika yang memengaruhi manusia, maka hal itu akan membawa manusia pada peningkatan kualitas kelahirannya..Dalam wraspatti tattwa dikatakan akan menuju kamoksan yg merupakan kebahagiaan tanpa batas..

Dalam hal ini sattwika merupakan bagian dari tri guna maya, yaitu yg lainnya adalah Rajas tamas yang dikatakan akan membuat manusia terlahir menjadi hewan tumbuhan atau masuk dalam neraka yang kelam..

Buddhi sendiri adalah disebut sebagai akal, yg bersama2 dgn ahamkara sebagai ego juga citta adalah wujud kasar purusha yg dikatakan sbagai intuisi..manah dimasukkan kepada buddhi..maka buddhi adalah dasar untuk menuju pada sebuah keadaan yg terbahagiakan ktika mengenal dan dimasuki sattwika, yg lain sprti rajas dan tamas maka bisa membuat manusia turun derajatnya..

Dalam jnana tattwa, pengaruh tri guna sangat besar bagi evolusi manusia untuk menuju kelepasan..dan pengaruh itu dibagi menjadi tiga ruang lingkup besar atas nama tri guna tersebut..Jnana tattwa menyebutkan sebagai berikut :

bila ada buddhi sattwa, sangat menekankan pada hakikat kebijaksanaan, mengamati baik2 sastra, melaksanakan kesamyagjnanan, Sang Hyang Tri Purushalah kelahiran Sattwa yang demikian. Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat Brata tapa yoga samadhi, maka Pancarsilah kelahiran yang demikian. Bila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat puja,arcana, japa, mantra dan puji2an terhadap bhatara, maka saptarsi lah kelahiran Sattwa yg demikian. Apabila buddhi sattwa tidak mengindahkan baik dan buruk, namun kasih sayang pada semua mahluk, Dewarsi kelahiran sattwa yang demikian. Apabila sattwika sangat menekankan terhadap hakikat dharma, kirti yasa kebajikan, maka Dewalah kelahiran Sattwa yang demikian. Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak mempedulikan bahaya, sangat rela iklas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam berprilaku, hanya tenang pikirannya, pikirannya semata mata jernuh, bila akan melaksanakan ketetapan hatinya keberaniannya, maka Widyadaralah kelahiran sattwa yang demikian, apabila buddhi sattwa menekankan pada hakikat keindahan ,senang bunyi-bunyian yg menyebabkan telinga senang, setiap yg indah didatanginya maka ghandarwalah kelahiran sattwa itu…

Disebutkan juga buddhi yg terpengaruhi rajah adalah sebagai berikut :

  • Danawa rajah adalah buddhi rajah ketika ia diberi kata2 tak layak ia marah, dan ia menahan itu karena ada orang lain dan kemudian menangis maka ia kelahiran danawa rajah namanya
  • Daitya rajah adalah ketika buddhi rajah diberi kata tidak baik ia marah namun kemudian ia menjauh dan sambil berkata “paling hebat seharusnya aku ini” ia dapat merendahkanku, ia mengira aku penakut, hanya karena enggan bertengkar, krna aku sayang kebaikan..
  • Raksasa rajah ktika budhi rajah diberikan kata tidak baik kemudian ia marah, gemetar badannya, seketika ia menyerang, lancang kata2nya, lancang tangan, kaki menjerit meraung, dan berkata seenaknya saja..

Dan buddhi tamah adalah sebagai berikut :

  • Bhutayaksa tamah adalah ia tidak resah pada apa yg dimakan, kenyang dengan secabik sayur dan sekepal nasi, seteguk air, atau tuak maka puas hatinya..
  • Kelahiran bhutadengen tamah adalah memilih apa yg dimakan, bukan emas yg diinginkan, gemerlapan ditolaknya namun ktika bertemu makanan sejuklah hatinya..
  • Kelahiran bhutakala tamah dimana ttidak memilih apa yg diingininya, smua daging yg dipandang tak layak dimakan asal membuat kenyang..
  • Kelahiran bhuta paisacha mau makan makanan yg tidak enak gelisah resah ke barat ke timur, dan tertipu lesu namun masih tergila-gila, dan dipasang telingannya ktika mendengar ada makanan.

Dijelaskan selanjutnya adalah sebagai berikut tentang bagaimana sang atman akhrinya mnuju moksah, surga , neraka, atau jatuh menjadi binatang..

  • Ketika bhutayaksa bertemu dengan Dewarsi, Saptarsi, Pancarsi, Tri purusa terang bercahaya buddhi itu maka atman akan mencapai kamoksaan.. 
  • Ketika.bhuta dengen bertemu dengan daitya, widyadara, dewata terang bercahaya buddhi itu, maka iru mnyebabkan mencapai surga..
  • Ketika bhutakala bertemu raksasa, gandharwa bercahaya buddhi itu maka menyebabkan ia lahir menjadi manusia..
  • Namun apabila bhutapaisaca bertemu dengan raksasa terang bercahaya buddhi itu maka atma jatuh ke neraka..
  • Dan ktika hanya.bhutapaisaca yg bercahaya buddhi itu, maka akan menjadi binatang..

Begitulah yang terjelaskan di jnana tattwa, semoga bisa menjadi cermin diri untuk selalu meningkatkan diri sebagai manusia yang memahami arah tujuan akhir pdaNYA..

Guswar des 2017

Kalvatar regions books..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Desember 2017 in agama, sastra

 

Tag: , , , , ,

Sad Paramita Enam jalan Pencerahan dalam Sang Hyang Kamahayanikan

Om shiva buddhanta ya namastute.. ksama sampurna ya namo nama swaha.. 

Dalam kitab sang hyang kamahayanikan disebutkan tentang sad paramita,  atau enam jalan menuju kebuddhaan atau pencerahan.. Pada sloka 51 yaitu :

“Aum anaku kitang jina putra, mene kami awaraha irikang aji,  anung yogya gegonta.  Ana sad paramita ngaranya,  ya tika parama Boddhi margga,  ya tika warahakena mami ri kita rumuhun,  marapwan kita tan anghel mangabhyasa ring kapanguhan ika ka-hyang-Buddhan.  Nihan lwuirnya,  sad ikang paramita,  Dana silanca ksantisca,  wirya dhyananca prajnanca,  sad paramita mucyate,  dana tri widha laksanam.  Kalinganya,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita, prajna paramita,  ya tika awan abener marerikang maha Boddhi.  Dana tri wadha laksanam,  tiga prakaraning laksananing dana,  lwirya dana,  ati dana,  mahati dana”

Artinya hai anakku engkau penganut buddha (dharma),  kini Aku menasehatimu tentang suatu ajaran yg mrupakan jalan pertama menuju keBudhaan (pencerahan)  sebaiknya hal itu Kuajarkan terlebih dahulu agar tidak susah payah menuju keTuhanan.  Itu disebut enam paramita yaitu,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita,  prajna paramita.  Itulah disebut enam paramita,  jalan kencang menuju sang maha Buddha. Dana itu ada tiga macamnya yaitu dana,  ati dana,  mahati dana… 

Dijelaskan dana paramita adalah dana disebutkan sbagai barang yg mengandung rasa,  nasi yg ebak,  minum2an, air yg segar,  kain sutera,  emas, harta permata ternak,  hendaknya itu diberikan kepada orang2 yg mementingkan dan jangan meminta balasan,  juga iklas-itu adalah dana.. 

Kemudian ati dana adalah dimana orang engkau sayangi,  ktika ada yg memintanya dan saat engkau berpisah padanya,  maka iklaskan lah karena cinta kasih itu juga sbagai tabir penghalang dalam mendapatkan keHyang Buddhaan (bersatu dengan Tuhan).. 

Mahati dana adalah dimana seperti buddha sakyamuni,  seseorang itu memberikan dagingnya,  darahnya,  matanya,  badannya,  atau organ tubuh lainnya sebagai keiklasan untuk kepada yg memerlukan,  bahkan kepada binatang buas atau pun raksasa.. Ini adalah hal yg paling utama dalam menyerahkan diriNya sendiri.. Seperti juga menyumbangkan organ tubuh ke orang lain yg memerlukan. 

Sloka 55

“sila paramita ngaraniya,  niwrttir ashubat krhsnat prawrttir asubhat tatha,  iti silasya sangkepah kayawanmanasakramat. Kalinganya, ikang kaya wak citta. Kaya ngaran sariea,  solahning tangan suku,  ya kaya ngaranya. Wak ngaranya sabda,  salwiring wuwus,  ya sabda ngaranya. Citta ikang idep ya citta ngaranya. Sangsiptanya,  ikang kaya wak citta, ya tika tah pagayawa papa,  sapkarani inaran papa karma,  tan wineh mahabhyapare rika. Ikang tri-kaya ngaranika,  kaya,  wak,  citra. Apa pwanung utsahanen ikang tri kaya,  ikang gawe hayu,  salwiring inaranan subha karma,  ya hayu pawayakena de ning trikaya.  Apa lwir nikang asubha karma,  anung tan utsahanen denikang kaya”

Artinya Yang dinamai sebagai sila paramita adalah segala pekerjaan baik yg dilakukan oleh kaya,  wak,  citta. Yang disebut kaya adalah gerak tangan dan kaki dari badan jasmani.  Yang dinamai wak adalah sekalian kata-kata.  Yang dinamai citta adalah jalan pikiran,  tegasnya ke semua itu janganlah diberi untuk berbuat papa,  janganlah tersesat kesana.  Kaya,  wak,  citta itu disebut tri kaya. Adalah perbuatan pekerjaan baik,  yang buruk janganlah diperbuat .

Kaya dibagi tiga,  yaitu pranati pati wirati yang artinya tidak membunuh mahluk yg berdosa atau pun tidak berdosa (kecuali yang diperbolehkan agama seperti untuk yadnya,  atau dharmayuddha), ketika melakukan bisa mendapatkan duka yang besar serta mendapat karma menjadi binatang lintah dan semut (S.H.Kamahayanikan sloka 56)

Adatta dana wirati adalah tidak mengambil barang yang bagus atau tidak tanpa seijin yg memiliki,  akan mendapat neraka loka (SHK sloka 57).

Kama Mithyacar Wirati adalah tidak boleh berbuat tidak suci pada perempuan, segala perempuan, ibu anak, istri seseorang suci, perempuan guru,  yang telah bertunangan dan yang lainnya,  ini ketika dilakukan akan menyebabkan musnah semua hasil yoga bratha samadhinya juga akhirnya mendapat neraka. (SHK 58)

Kemudian yang harus diusahakan oleh Wak atau mulut maka ada beberapa yang perlu disimak, yaitu jangan melakukan kebohongan dan curang atas sesuatu hal,  dilarang memfitnah,  dilarang berkata keras dan kasar atau mencaci maki,  dilarang mencela serba benda seperti mencela keadaan orang lain,  makanan, atau, mungkin cara orang lain melakukan sesuatu dan sebagainya,  lalu yang terakhir jangan memakan sesuatu yg terhidang untuk persembahan kepada sang Buddha. 

Kemudian yang hendaknya dilakukan oleh pikiran citta yaitu,  janganlah besar nafsu,  jangan menuruti hati jahat,  jangan suka mabuk,  jangan sombong,  jangan iri hati, jangan dengki, jangan marah keras,  jangan tamak,  jangan sangat sedih,  berpegang kepada hati yang tenang dan suci, setia kepada hutang (janji), jangan ingkar kepada kenyataab,  besar kasih pada segala mahluk Tuhan dan berbakti kepada Buddha (bhatara) Tuhan. 

Sloka 62 “Ksanti paramita ngaraniya,  mitra mitra samanam cittanam apujah pujah,  yoh sakam kruddesu santi soratyam ksanti paramitam wadet. Kalinanya,  ikang citta klan ring parawamana,  kaya tan yukti sabda tanyukti,  citta tan yukti,  tatan malara,  tan kagyat,  pisaningun ahyun malesa ring ahita,  kewala tumarima ikang purbwa karma paradha,  tan pahuwusan manganeng nganeng pwa kita,  tatan gemen-gemen,  tan harsa, tan girahyasen,  mwan sama buddhinta, ring sarbwa sattwa.  Sangsiptanya,  tan hana wikaranu buddhinta ri sedengyan inawamanan mwang kinagorawan. Ika tang gati mangkana, ya sinanggah ksanti paramita ngaraniya”

Artinya yanf dinamai ksanti paramita adalah pikiran yang tenang serta tahan terhadap durhaka manusia,  beraneka ragam jenis penyakit (yang menyebabkan sakit hati)  disampaikan oleh orang yang dengki iri hati padamu,  seperti pikiran yang tidak benar,  kata tidak benar,  pikiran palsu,  namun demikian janganlah hendaknya sakit hati, jangan terkejut,  jangan sekali bermaksud membalas dengan yang tidak baik juga,  hanya terimalah betapa keadaan purwa karma yang terjadi ini,  janganlah henti-hentinya memikirkan keselamatan dan kebaikan semua mahluk. Demikian ketika engkau disanjung dan dibaik-baikkan, jangan terlalu bersuka cita, jangan terlalu senang,  jangan sangat gembira,  samakan batinmu terhadap semua mahluk. Jadi jangan berubah pikiran atau batin ketika mendapat hinaan dan sanjungan.  Hal itu disebut ksanti paramita. 

Kemudian selanjutnya dalam sloka 63. “Wirya paramira,  ngaranya,  wirya rembho diwa rato sattwanam,  hita karanam,  karotina srawam kincit wirya paramita smrto.  Kalingaya,  ikang kaya,  wak, citta,  ya tika byamara tadangluh,  tan alisuh gumawayaken ri rahina,  sad dharma lokana,  mamuja,  mawe angaya,  manulis sanghyang akara pallawa,  manasu,  sad dharma wacana,  umaca sanghyang dharma pustaka,  athupopakarana,  mangarembha sanghyang sthupa tataghata pratiwimba,  mangarcanakena sarbwopakriya,  mahoma, mwang maka buddhyang gorawa ring tamuy.  Nahan lwir ni kusala gawayakena dening kaya,  wak, citta,  ring rahina ika” 

Artinya yang dinamai Wirya paramita  iu adalah dengan tidak bosan2nya,  tidak merasa payah mengerjakan kusala karma atau pekerjaan, jasa yg suci. Baik siang maupun malam. Pekerjaan kusala yg dilakukan siang hari disebut sad dharma lokanta  yaitu memuja,  memberi nasehat serta ajarab ajaran,  menulis sesuatu pustaka dan sebagainya,  sad dharma wacana  yaitu membaca ajaran kitab suci,  ajaran dhaema,  memberi upakara pada stupa (arca suci),  membicarakan merencanakan peneyelenggaraan upacara dhyani buddha (bhatara), berhoma,  berbatin ramah kepada tamu,  itu yg baik dilakukan pada waktu siang.  

Kemudian pada malam hari (sloka 64) melakukan japa,  yoga,  berpikir suci,  menghubungkan jiwa kepada Tuhan,  mengucapkan mantera pada Budha dewa dewi,  mendoakan keselamatan serba mahluk,  terlepasnya dari rencana buruk,  batin agar terlepas dari cengkraman pengaruh dunia, agar menemui tingkah laku yang suci, mencapai alam kesenangan yang tinggi. 

Selanjutnya adalah dhyani paramita dalam sloka 65 “dhyana paramita ngaranya, sresta madhyama kaniste satye nityam dayamati,  yoginan yogasa marsyat dhyana paramita smrto.  Kalinganya,  ikang ngambek mangekantanken takwan-takwan,  nitya masih ring sabrhwa sattwa,  kanista madhyamottama,  inangen-angen kita suka wasananya,  ring ihatra paratra dwnira.  Umapa denira umanusmaranahi ta suka wasananya ika sarbhwa sattwa,  inakni denira tumungalakena waknya.  Mapa lwir nikang ambek,  ya ewa sattwah ah ewa ham,  sa aham sah sarbwa sattwa,  awaku ika,  awaku awakni sarbwa sattwa ika,  apayapan awibha geka shabhawah,  ikang sarbwa wastu tan haneka bheda ri sarbwa dharma,  mangkana karana ikang ambek,  ya tika dhyana paramita ngaranya”

Artinya bahwa yang dinamai dhyana paramita ialah mempersatukan pikiran untuk menelaah mncari jawaban dari pertanyaan (tentang kehidupan) selalu kasih sayang terhadap semua mahluk tuhan yg menurun derajatna kanista madhya uttama,  dipikirkan keselamatan dan kesenangan akhirnya sampai kepada dunia swmua,  dipujakan keselamatannya dan kesenangan akhir serba mahluk itu. Yaitu dengan mempersatukan batinnya terhadap mahluk itu.  Badan mahluk itu adalah badanku dan badanku ini adalah badan segala mahluk itu,  apalagi tidak ada bedanya serba mahluk itu dengan serba dharma. Pikiran yang itu disebut dhyana paramita. 

Yang terakhir adalah prajna paramita, maka disebutkan dalam sloka 66. Prajna paramita ngaraniya,  yawanti sarbwa wastuni dasa diksan kashitani catani sunya swabhawani prajna paramita smrto. Kalinganya,  sakwehnikang sinanguh hana ring loka,  dasa diksan shitah,  ikang umungguh ring Desa sapuluh, purwa,  daksina, pascima,  uttara, agneya,  nrtti,  wyawya,  airsanya,  urdhwa, adhah,  yatika kawruhana teka ring sarira wahyadyatmika,  mwang sarbwa sattwa, sarbwa widya, sarbwa wihdya, sarbwa kriya, sarbwa kabwatan, sarbwa paksa, ya tika kaweruhana, sakaranya nirakaranya an makatattwan yan inenget ingeten, pakawakang eka neka swabhawa,  apang tunggal mapupul matemu sinanggu,  akwe ngaranya”

Yang dinamai prajna paramita adalah demikian yg disebutkan ada di dunia ini disegala penjuru timur selatan barat utara tenggara barar daya barat laut timur laut,  atas bawah,  semuanya harus diketahui dalam badan lahir atau batin dan juga seluruh serba mahluk, pengetahuan, aerba kerja,  bentuk dan lainnya,  bahwasanya kebenaran yang terkandung di dalamnya jika diperhatikan berbadan esa bersifat banyak,  sebab yang satu itu berkumpul bertemu merupakan banyak. 

Demikian tentang sad paramita, dumogi sarwa prani hitankarah.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Catur aiswarya buddi dan neraka loka tattwa

Catur aiswarya buddi dan neraka loka tattwa

Om yamapati pujamkha.. Asvina sarira puja samastanakha.. Mahadewa shanti jayantakha.. Loka samsthana amritam sanjiwani..

Kenikmatan itu memiliki harga,  dalam hal ini bukan dalam hal duniawi,  tapi dalam hal karma.. Setiap kenikmatan dari indriya sejatinya ktika dilaksanakan tanpa satwika guna dan kesadaran dharma,  maka itu hanyalah sementara dan akan mendapatkan balasan nantinya.. 

Dikatakan dalam wraspatti tattwa adalah bahwa terdapat pengendalian atas diri itu agar mencapai buddhi yg waskita juga utama.. Disebutkan bahwa itu terdiri dari empat yaitu catur aiswarya budhi.. Yang mana yang pertama disebut dharma buddhi yg artinya tekun dalam melakukan tapa brata yoga mantra samadhi juga japa..Yang kedua adalah jnana budhi yaitu tekun dalam mencari mempelajari juga memahami akan pengetahuan suci rohani,  Yang ketiga adalah vairaghya budhi yaitu tekun dalam melaksanakan brata atau pengekangan hawa nafsu juga indriya,  yg terakhir adalah aiswarya budhi yaitu hidup dalam keseimbangan.. 

Disbutkan pula pengendalian indriya sejatinya adalah sebuah hal yg dapat membebaskab diri dari jerat neraka loka,  dalam tattwa tentang neraka loka disebutkan bahwa,  mereka yang menggunakan indriyanya secara sembarangan atau juga mengumbar krodha sad ripu,  juga tidak melakukan panca yama niyama brata,  maka akan trrganjar hukuman di beberapa neraka loka sapta patala loka.. 

Seperti neraka dimana ada dicongkel matanya karena tidak menggunakan mata secara benar,  lalu juga karena melihat sesuatu yg tak layak,  maka akan dicongkel matanya di neraka oleh bala tentara yamapati.. Disebutkan itu selama beberapa tahun dan setiap hari dilalukan,  kemudian setelah menjerit kesakitan dipasang lagi matanya setelah minum air tirtha penyembuhan,  dan lagi dicongkel sampai waktunya selesai.. 

Ada tattwa lagi yg menyebutkan tangan dipotong karena mencuri korupsi atau juga melakukan kekerasan,  ada yg juga lidah dipotong karena senang mengadu,  ada dikuliti karena tidak tahu malu,  atau mungkin ada dipotong kelamin karena tidak bsik menggunakannya atau selingkuh,  ada yg ditusuk telinganya karena senang mendengar hal yg tidak benar, ada yg ditusuk mulutnya karena selalu marah marah, ada yg dimakan oleh kumbang2 menjijikkan karena menyebarkan ajaran yg sesat dan meramal untuk mendapatkan uang saja,  atau seorang penyembuh yg berbohong untuk uang dan menjerumuskan.. 

Ketika diri sudah mengetahui tentang tattwa itu,  lalu kemudian menyangkalnua,  bisa jadi akan ada hal yg lebih buruk diterima lagi ktika tidak mampu mengendalikan indriya..Dalam hal ini ktika telah mengethui,  maka cara menebusnya bisa dengan melaksanakan catur aiswarya buddhi itu.. Karena tidak mudah melaksanakan brata dan yoga catur aiswarya.. Melaksanakan tapa brata sbagai dharma buddhi bisa jadi akan melenyapkan kotoran2 jiwa yang mungkin akan terselamatkan di alam kematian nanti.. Selain itu pengetahuan rohani atau jnana juga membebaskan,  dan pelaksanaan panca yama niyama bratha.. 

 https://linggashindusbaliwhisper.com/2017/02/26/susila-panca-yamanyama-bratha-dari-nitisastra/

Melaksanakan catur aiswarya buddhi adalah sebuah perjalanan menuju kelepasan dalam hal2 duniawi yg menjerumuskan,  keseimbangan itu perlu namun jangan lupa atas kebenaran hukum karmapala yang agung.. Ktika seseorang tau akan itu,  namun tetap menyangkalnya karena egonya karena ksenangan duniawinya,  maka bisa jadi Ia akan mendapatkan sengsara di kehidupan nanti kelak.. Dan semoga kita semua terselamatkan.. 

Swaha shanti guswar.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 November 2017 in agama, doa

 

Tag: , , , , ,

Yadnya adalah sebuah aktualisasi diri (maslow).. 

Yadnya adalah sebuah aktualisasi diri (maslow).. 

Om sang hyang raja jagatham pujamkha.. Sattwika guna maha sidhi shaktam..  Mahalaksana jihwatman sahadjanataka.. Om maha jaya sanatanam dharmika cintya pada om.. 

Yadnya sebagai sebuah kerangka upacara umat hindu,  merupakan hal yg tidak terpisahkan Dri keseharian,  sbagai maujud dari tattwa itu sendiri.. Tattwa yg juga dijelaskan dalam proses ritual agama tersebut.. Di mana ada ekspresi jiwa dari seseorang itu untuk mengungkapkan dirinya dalam sbuah ritual upacara.. 

Upacara itu sebagai ritual,  berasal dari jiwatman,  berasal dri citta, berasal dri buddhi, juga manas serta ahamkara pula.. Ia juga dipngruhi oleh wijnana maya kosa,  manomaya kosa,  jga prana maya kosa,  dan anna maya kosa.. Bertujuan untuk menuju kesadaran antahkarana sarira atau ananda maya kosa.. Kebahagiaan batin menyentuh atman dalam sanubari kita saat sedang melaksanakan yadnya tersebut.. Termasuk mlksakan meditasi memahami jnana dan juga kgiatan suci lainnya.. 

Dalam hirarki kebutuhan maslow dikatakan bahwa aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yg tertinggi dibandingkan kbutuhan lainnya.. Ini jg yg memberikan gambaran psikologis dari seseorang itu untuk menelaah bagaimana seseorang itu melaksanakan ritual yadnya secara detail dan juga besar atau bahwa ada juga yang mulai melakukan yadnya secara sederhana dan bersedia membantu semeton lainnya sebagai simbol aktualisasi IA dari sisi psikologis mereka sendiri.. 

Seperti dalam membuat penjor yang termasuk wah dengan berbagai seninya,  itu adalah proses aktualisasi diri mereka,  bahwa mereka mampu melaksanakan itu juga menggambarkan akan kepuasan hati mereka dalam melaksanakan upacara yadnya,  itu hal yg lumrah dan sangat baik sepertinya.. Di sisi lain ada yang serta merta melakukan sewana atau pelayanan kepada umat,  membantu umat,  juga memberikan dharma wacana,  pembelajaran juga meringankan kebutuhan yadnya umat,  adalah konsep aktualisasi diri yang sangat luhur.. Tidak ada suatu kurangnya dri sebuah perjalanan yadnya yang dilaksanakan sebagai konsep aktualisasi diri.. Bahkan dalam perapalan mantra,  proses pembuatan wewantenan,  atau pemilihan buah-buah pajegan dan sodaan,  itu adalah ekpresi jiwa dari seseorang.. Namun juga hendaknya agar sesuai etika dan susila juga norma yang berlaku..Etika susila inilah yg membatasi atas pengaktualisasian diri tersebut serta lontar tattwa yang ada.. Upacara yadnya bisa jadi adalah sbuah perjalanan tentang jiwahtman dalam memberikan purifikasi pembersihan jiwa.. 

Dalam sloka srsmsucya disebutkan ktika yadnya adalah bagian dharma juga,  maka hanya dharma lah yg melebur dosa tri loka ini…Sungguh yadnya merupakan sesuatu yg sangat penting bagi pengembangan diri sebagai jiwa-jiwa yang sejatinya adalah utama.. Dalam sloka juga menyebtukan,  beryadnya janganlah terlalu sayang dengan materi,  hal ini memberikan gambaran bahwa secara metafisis hukum rta akan memberikan kuasanya dalam menilai yadnya itu,  apakah IA yadnya yg satwik rajas tamas.. 

Psikologi manusia sebetulnya adalah konsep tentang kejiwaan yg telah ada dalam setiap pemahaman jiwa di agama-agama.. Kebahagiaan yang sejati dan kekal adalah bagaimana seseorang itu mampu menelaah inti terdalam jiwa yaitu atman yg disebut sebagai kesadaran antahkarana sarira.. Itu adalah kebahagiaan yg dikatakan kekal yang menyentuh realitas diri sebagai sang Kuasa,  kesadaran atas moksartham jagaditha-moksah dalam kehidupan dgn dasar dharma.. Maka sebagai seorang hindu,  aktualisasi diri dalam yadnya adalah kebutuhan manusia hindu yg tertinggi (dalam hirarki maslow)  ini yang menjadi manusia itu sebagai manusia yang utama.. 

Swaha shanti sahadjanataka

Guswar.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2017 in agama, budaya

 

Tag: , , , , , ,

Dharma Menundukkan Adharma (Galungan) Konsep Awatara.. 

Dharma Menundukkan Adharma (Galungan) Konsep Awatara.. 

Sarasamuscaya 47..ye tu dharmmasuyante,  bhuddimohanwita janah,  apatha gacchatam tesam-anuyatapi pidyate.. Dan orang yg ingkar dalam pelaksanaan dharma serta cenderung berbuat jahat,  pasti neraka akan ditemuinya.. 

Begitu agungNya kedharmaan itu,  IA tak akan pernah kalah,  dan IA akan selalu menang yg ditandai dengan adaNya kemunculan pelbagai utusan juga hadirat dari sang Ilahi hyang widdhi itu sendiri.. 

Sebagaiamana galungan hari kemenangan dharma yg didahului dengan munculnya sang kala tiga yg menguji dengan membawa ujian kegelapan,  dasa mala sad ripu juga sapta timira sebagai bahan perenungan diri.. 

Seperti bagian dasa mala.. 

  1. Tandri, artinya orang yang malas, suka makan, dan tidur saja. Tidak tulus hanya ingin melakukan kejahatan.
  2. Kledaartinya berputus asa, suka menunda dan tidak mau memahami maksud orang lain.
  3. Leja, artinya berpikir gelap, bernafsu besar, dan gembira melakukan kejahatan.
  4. Kutila, artinya menyakiti orang lain, pemabuk dan penipu.
  5. Kuhaka, artinya pemarah, suka mencari-mencari kesalahan orang lain, berkata sembarangan, dan keras kepala.
  6. Metraya, artinya berkata menyakiti hati, sombong, iri, dan suka menggoda istri orang.
  7. Megata, artinya berbuat jahat, berkata yang manis tetapi pamrih.
  8. Ragastri, artinya bernafsu dan suka memperkosa.
  9. Bhaksa Bhuana, artinya suka menyakiti orang lain, penipu dan hidup berfoya-foya melewati batas.
  10. Kimburu, artinya penipu dan pencuri terhadap siapa saja tak pandang bulu, pendengki dan irihati.

Sad ripu,  kama moha mada matsarya krodha lobha.. 

https://linggashindusbaliwhisper.com/2014/05/25/sad-ripu-dalam-bhagawadgita-dan-hubungannya-pada-maya/

Atau sapta timira yg merupakan tujuh kegelapan secara detail adalah

Dhana timiram dimana materi adalah hal utama dalam hidup,  bukan dharma.. 

Guna timiram dimana hanya kepintaran yg diakui sebagai yg utama, bukan dharma

Kulina timiram,  keturunanlah yg paling utama.. 

Sura timiram,  karena minuman keraslah orang dihormati dan melupakan keluarga

Kasuran timiram,  karena keberanianlah yg utama, bukan dharma.. 

Yowana karena umurlah paling utama,  bukan kebijaksanaan dharma..

Surupa,  karena rupalah yg paling utama.. 

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Kesadaran akan ujian itu akan membawa manusia pada kesadaran diriNya tentang dharma itu sendiri.. Di mana dharma adalah yg akan selalu menang pada akhirnya dan setiap harinya,  walau sang adharma merasa menang,  karena pada dasarnya tidak ada rasa menang dari seorang yg dharma.. Itu adalah sebuah kepastian saja.. 

Sarasamuscaya 48 ..adharmarucayo mandastiryaggatiparayanah,  kroccham yonimamuprapyana windanti sukham. Janah.. Selain itu orang yg angkuh dan adharma,  setelah pergi ke alam neraka ia akan menjelma menjadi binatang seperti kerbau kambing,  jika penjelmaannya meningkat, ia bisa menjadi orang nista menderita dibelenggu penyakit menyedihkan jauh dari kesenangan.. 

Maka bgitu disebutkan pula dharma lah yg membuat manusia menuju pada kebahagiaan kekal juga terlepas dari kedukkaan dunia.. 

Seseorang yg menjadikan dharma sebagai tamengnya,  jalan hidupnya,  juga sebagai diriNya sendiri,  maka IA disebut sebagai utusan bhatara dharma itu sendiri,  sbegaimana juga para leluhur2 yg telah hadir dan ada pada berbagai kesempatan memberikan penjelasan tentang tattwa juga kedigjayaan dharma itu sendiri.. 

Mpu bharadah pernah menghancurkan keadharmaan Nyai girah,  Mpu kuturan yg menyatukan pelbagai aliran dalam bentuk wewantenan yg dirumuskan maha rishi markandeya.. Dibawah mpu bahradah ada mpu tantular tentang persatuan siwa budha,  dan juga dang hyang sidhimantra yang mnyuarakan pengabdian di basukihan bersama anakNya ida Sangkul Putih yg mengalahkan keadharmaan MayaDanawa..atau juga dang hyang Asmranatha yg menyebutkan sabdo palwan,  juga sidakarya oleh dang hyang astapaka,  dan sampai universalitas pemahaman dharma pada wetu telu oleh dang hyang nirartha.. Bhagawan wararuci dengan sarasamuscayaNYa dan sebagaiNya.. 

Pada dasarnya beliau2 itu,  atau yg lainnya disebut bhatara lelangit adalah awatara yg telah terdeteksi oleh sejarah nusantara,  yg memberi prmbelajaran tentang dharma.. Dan karena pembelajaran itulah,  bisa kita mengucapkan dengan yakin dan lantang.. 

Satyam eva jayatyam.. 

Gwar.. Selamat galungan kuningan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Oktober 2017 in agama, budaya

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: