RSS

Arsip Penulis: shivasidhanta

Tentang shivasidhanta

Hanya seorang manusia biasa yang mencoba mencari kesembuhan dalam amnesia spiritual
Galeri

THE BIG BANG THEORY

Sebelum segalanya ada dan tercipta, tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah “sesuatu”. Sesuatu itu adalah bentuk energi kebiruan yang sangat dalam, serta memiliki kesadaran. Dalam dunia spiritual, Energi dengan kesadaran disebut sebagai JIWA. Jiwa ini tak berbentuk, tidak berbau, tanpa jenis kelamin, abadi, dan tak terbatas. Inilah yang disebut dalam Spiritualisme Hindu sebagai ” BHAGAWAN”.

Jiwa ini kemudian berkembang dengan sendirinya, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi semesta. Jika dilihat sebagai laki – laki / Ayah Semesta (Purusha) jiwa yang berwarna kebiruan ini kemudian disebut sebagai “MULA DATTA”. Sedangkan Jika dilihat sebagai perempuan / Ibu Semesta, jiwa ini disebut sebagai “ADI PARA SHAKTI”, atau, “Energi pertama dan Utama yang ada.”

MULA DATTA (mula adalah awal, DATTA adalah pemberi/ donor) kemudian terbelah menjadi dua. Paruh pertama adalah bentuk energi yang sangat stabil. Ini kemudian disebut sebagai “Sthanu Shakthi”. Bentuk energi yang sangat tenang dan stabil ini tiada lain adalah Siwa. Jika “Shava” atau sawa berarti, sesuatu yang tidak bisa bergerak (mayat). Sedangkan “Shiva” berarti sesuatu yang tidak pernah bisa dipindahkan (tetap) – “Energi Stabil”. Separuh energi yang kedua disebut “Renu Shakthi”. Energi Ini terus bergetar, terus bergerak dan bersifat sangat “Radio aktif”. Bentuk energi yang terus bergerak ini tiada lain adalah Wisnu. “Vish” atau “Vishw” berarti ada pada semua & dan ada dimana-mana. “Wisnu” berarti energi yang ada dalam segala hal dan ada dimana – mana.

Dengan demikian

energi yang stabil, dan energi yang sangat tidak stabil selalu mengalami gesekan. Pada suatu titik kedua Energi akan kembali Mula Datta, kemudian mengalami siklus pembelahan kembali ke dua bentuk energi yang berbeda, dan kemudian akan bersatu kembali. Saat itulah “Wisnu”, energi yang mengalir ke mana-mana dan dimana mana mulai memikirkan tentang ciptaan. Pergerakan energi ini berbentuk cairan dan disebut sebagai “Brahma”. Seorang anak mendapatkan kehidupan dari ibunya, melalui tali yang menghubungkan pusar ke ibunya. Dan teratai, adalah simbolisme kesadaran. Brahma sering digambarkan duduk di atas teratai bermunculan dari pusaran perut Vishnu.

Saat energi stabil dan tidak stabil menemukan keseimbangan atau dengan kata lain saat “Sthanu Shakthi”, dan “Renu Shakthi” mengalami keseimbangan, dan karena Renu shakti atau Bisnis adalah bentuk energi yang selalu bergerak dan ada dimana mana maka dengan demikian, Wisnu akan memiliki “Avatara” menduplikasi energinya , sementara Siwa tidak, Siwa tetap menjadi bentuk energi yang stabil. Wisnu tidak bisa, bertahan dalam satu bentuk / posisi untuk waktu yang lama. Karena dasar dari Renu Shakti bahwa energi ini akan terus bergerak dan berubah.

Dalam bahasa Sansekerta hal terkecil atau atom disebut sebagai Anu. Setiap benda dan makhluk hidup dan keseluruhan ciptaan memiliki Anu atau atom. Dan dalam Anu atau Atom terdapat 3 unsur pembentuk Atom yang disebut sebagai “paramanus”
1. Energi yang stabil (proton) yang berada di tengah inti Anu / Atom. Ini mengapa Siwa dalam konsep Nawa Sanga berada di tengah. Karena Proton ada dalam Inti Atom.
2. Energi yang tidak stabil (elektron) atau Renu Shakti.
3. Dan energi yang netral (neutron). Selain itu, ada (330 juta) bentuk energi, yang mewujud pada ketiga bentuk energi ini agar tetap stabil. Kumpulan wujud wujud bentuk energi ini kemudian menjadi “Maha Anu” dan kemudian dalam Hindu disebut sebagai Dewa / Dewi. Hal inilah yang menjadi konsep dan cara membedakan mengapa “Bhagawan” berbeda dengan “Dewa”.

Brahma, energi yang netral, akan melebur sekali dalam 100 tahun. Saat itulah kedua energi utama yakni Stanu dan Renu Shakti akan ini kehilangan keseimbangan, dan bersatu kembali menjadi Mula Datta. Dalam Veda disampaikan, ini adalah Brahma pertama yang pernah ada. Dan ia telah melewati 50 tahun pertamanya. Di Saat ini, merupakan hari 1 di pagi hari di tahun ke 51 … dan ada banyak waktu kuantum seperti Kalpa, manvantara, Yuga dan lain-lain. Kita berada di Kaliyuga dalam siklus yuga ke 28 dari “Manvantra ini. Meskipun, setiap kali Yuga berubah, terjadi gangguan kecil di antara energi yang terjadi, dan ada kerusakan ringan dalam proses penciptaan.

Bahkan dalam kutipan Sloka lontar Purusha Suktha beberapa baris berbunyi
“Athyadhishta dasaangulam. Purusha ye vedaguma Yath Bhootham Yath Bhavyam..”.
“Dia ada dimana-mana, dan Dia bisa sekecil sepuluh ANGULA, yaitu renu shakthi ini , dia ada di mana-mana, dan hadir bahkan di tingkat atom! Ia adalah Vishnu .

Dalam kutipan Shri Rudra Namakam tertuliskan :
“Namoooo Jyeshtacha Kanishtayacha” …”
Sthanushekthi ini adalah energi terbesar bahkan pada tingkat yang begitu kecil (atomik).”
Hal yang pasti tentang hal ini adalah tentang shiva. Kita tidak bisa memindahkan energi ini, jika kita mencoba melakukannya, hanya akan ada kehancuran saja.
“Mrutyave Swaha Mrutyavee SwahaaAA”
Tidak diragukan lagi bahwa hanya Dialah yang mengakhiri penciptaan, apakah itu satu kehidupan, ataukah seluruh alam semesta, energi stabil ini sendiri berhak mengambil apa yang telah diberikan (yaitu hidup)! Pada akhirnya, energi inilah yang akan menghancurkan ” Brahma” dan mengakhiri penciptaan, untuk semesta yang baru, untuk kehidupan yang lebih baik….

Referensi :

1. Speaking Trees ; Sarwagna Kumar

2. http://www.mediacenterimac.com/the-big-bang-genesis-of-lord-shiva-3/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

MENGAPA PELINGGIH SEBAGAI STANA PARAMASIWA PADA PADMA TIGA BERWARNA HITAM?

Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Paramasiwa.
Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988.
Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Paramasiwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan, keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Paramasiwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan.
Sementara busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Yang Maha Kuasa ParamaSiwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.
Siwa adalah dewata bagian dari Trimurti, yang bertanggung jawab terhadap penyerapan alam semesta. Beliau merupakan perwujudan dari sifat tamas, kelembaman sentrifugal. Kecenderungan menuju pelenyapan atau peleburan. Arti sebenarnya dari siwa adalah pada siapa alam semesta ini tertidur setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dilenyapkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar, prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Siwa jauh lebih banyak dari pada itu, keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, substratum dari segala keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang nampak tanpa batas ini, Kata “Siwa” secara harfiah dapat pula diartikan sebagai “Sesuatu yang tidak.” Dewasa ini, sains modern membuktikan kepada kita bahwa segala sesuatu berasal dari kekosongan atau tidak ada apa-apa dan kembali kekosongan .
Dasar keberadaan atau eksistensi Semesta dan Kualitas dasar makrokosmos sangatlah luas. Galaksi Bima Sakti yang kita tempati hanyalah bagaikan butiran debu diantara jutaan taburan galaksi dan bintang, Sisanya adalah semua ruang kosong yang luas, yang disebut sebagai ParamaSiwa. Itulah rahim dari mana semuanya, itulah tempat dimana Semesta lahir, dan itu adalah tempat terakhir dimana semuanya tersedot kembali. Tempat dimana semua akan melebur kembali
Semuanya berasal dari ParamaSiwa dan kembali ke ParamaSiwa.

Jadi

ParamaSiwa bukan digambarkan sebagai makhluk, bukan sebagai individu. ParamaSiwa tidak digambarkan sebagai cahaya, tapi sebagai Kekosongan / Kegelapan Total. Manusia yang lahir kedunia, Atma yang telah diseliputi Maya, telah membawa kodrat kelahiran dengan mata sebagai alat untuk melihat . Tanpa cahaya mata biasa tak dapat melihat. Cahaya bisa saja ada , bisa saja tidak. Yang selalu ada dan tetap ada adalah kegelapan. Gelap telah ada sebelum cahaya Ada. Ini berarti bahwa setiap sumber cahaya apakah itu lilin, bola lampu bahkan matahari, pada saatnya nanti, pada akhirnya akan kehilangan kemampuannya untuk memberikan cahaya. Cahaya itu tidaklah abadi, Cahaya lahir dan pada saatnya nanti akan berakhir. Kegelapan adalah kondisi yang jauh lebih besar daripada cahaya. Cahaya ada dalam selimut kegelapan . Cahaya ada karena ada dalam dekapan kegelapan. Kegelapan ada dimana-mana, karena Kegelapan total adalah kekosongan Mutlak dimana semesta akan kembali, dan dari kegelapan Semesta kan lahir kembali .
Kegelapan disini bukanlah kegelapan dalam arti konotasi yang kurang baik , jika kita mengatakan “kegelapan ilahi,” bukan berarti kita adalah pemuja setan atau

sesuatu

. Namun kegelapan disini adalah sebuah konsep, filsafat dan Tatwa, dan tiada konsep yang lebih cerdas di planet ini tentang keseluruhan proses penciptaan dan bagaimana hal itu terjadi, dan konsep ini telah dimiliki Hindu ribuan tahun….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

PARA KETURUNAN DHAKSA (1)

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 6)
KETURUNAN DHAKSA

Istri Daksha bernama Asikli, Asikli melahirkan lima ribu anak laki-laki. Mereka dikenal sebagai Haryashvas. Haryashvas ditakdirkan untuk menguasai dunia. Tapi Rsi Agung Narada menemui Haryashvas dan berkata, “Bagaimana kalian bisa memerintah dunia jika kalian bahkan tidak tahu seperti apa Dunia itu? Apakah kalian terbiasa dengan geografi dan batas-batasnya? Pertama cari tahu tentang hal-hal ini, sebelum kalian merenungkan keputusan atas dunia. “
Haryashvas pergi menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.
Daksha dan Asikli kemudian memiliki seribu anak laki-laki lain yang diberi nama Shavalashvas. Narada
Menceritakan kepada mereka apa yang dia katakan pada Haryashvas dan Shavalashvas juga pergi untuk menjelajah dunia dan tidak pernah kembali pula.
Daksha dan Asikli merasa tertekan bahwa anak-anak mereka harus menghilang dengan cara seperti ini. Daksha menyalahkan Narada atas dorongan tersebut dan berencana untuk membunuhnya. Tapi Brahma ikut campur dan membujuk Daksha untuk mengendalikan kemarahannya. Dakshapun setuju untuk melakukannya, asalkan syarat yang diajukannya terpenuhi. “Brahma harus menikahi putriku Priya,” katanya. “Dan Narada harus dilahirkan sebagai
Putra Priya. “
Syarat yang diajukan Dhaksapun ini diterima. Sebenarnya, Daksha dan Asikli memiliki enam puluh anak perempuan. (Dalam sumber selain
Brahma Purana menyebutkan lima puluh anak perempuan.) Sepuluh dari anak-anak perempuan ini menikah dengan Dewa Dharma dan tiga belas lainnya diperistri oleh Resi Kashyapa. Dua puluh tujuh anak perempuan menikah dengan Soma atau Dewa
Chandra. Anak perempuan yang tersisa menikah dengan beberapa Resi Arishtanemi, Vahuputra, Angirasa Dan Krishashva. Sepuluh anak perempuan yang menikah dengan dewa Dharma bernama Arundhati, Vasu, Yami, Lamba, Bhanu, Marutvati, Sankalpa, Muhurta. Sadhya dan Vishva.

Anak-anak Arundhati adalah benda (vishaya) dunia. Anak-anak Vasu adalah delapan dewa yang dikenal sebagai AsthaVasu Nama mereka adalah Apa, Dhruva, Soma, Dhara, Salila, Anala, Pratyusha dan Prabhasa. Putra Anala adalah Kumara. Karena Kumara dibesarkan oleh dewi yang dikenal sebagai Krittika, dia akan menjadi Disebut Kartikeya.

Putra Prabhasa adalah Vishvakarma. Vishvakarma ahli dalam bidang arsitektur dan pembuatan perhiasan. Ia menjadi arsitek para dewa. Anak-anak Sadhya adalah dewa-dewa yang dikenal sebagai Sadhyadevas dan anak-anak Vishva adalah dewa-dewa Dikenal sebagai Vishvadervas. Duapuluh tujuh anak perempuan Daksha yang menikahi Soma atau Dewa Bulan dikenal sebagai nakshatras (bintang). Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Maharesi Kashyapa menikahi tiga belas anak perempuan Daksha. Nama mereka adalah Aditi, Diti, Danu, Arishta, Surasa, Khasa, Surabhi, Vinata. Tamra, Krodhavasha, Ila, Kadru dan Muni.

Anak-anak Aditi adalah dua belas dewa yang dikenal sebagai adityas. Nama mereka adalah Indra, Dhata, Panjarnya, Tvastha, Pusha, Aryama, Bhaga, Vivasvana, Wisnu, Amshumana, Varuna dan Mitra. Dalam setiap bulannya, aditya yang berbeda yang akan bersinar. Sebagai Indra, Aditya menghancurkan musuh para dewa. Sebagai Dhata, dia menciptakan makhluk hidup. Sebagai Parjanya, dia menurunkan hujan. Sebagai Tvashta, dia tinggal di pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai Pusha, dia membuat makanan tumbuh. Seperti Aryama, dia tertiup angin. Sebagai Bhaga, dia ada di tubuh semua makhluk hidup. Sebagai Vivasvana, dia terbakar dan membantu memasak makanan. Sebagai Wisnu, dia menghancurkan musuh para dewa. Seperti Amshumana, dia kembali tertiup angin. Sebagai Varuna, aditya ada di perairan dan sebagai Mitra, dia berada di bulan dan di lautan
Anak laki-laki Diti adalah para daityas (setan). Mereka bernama Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, dan di antara keturunan mereka ada beberapa iblis yang sangat kuat antara lain Bali dan Banasura. Diti juga memiliki seorang putri bernama Simhika yang menikah dengan seorang danava (setan) bernama Viprachitti. Mereka keturunan adalah iblis yang mengerikan seperti Vatapi, Namuchi, Ilvala, Maricha dan nivatakavachas

(Bersambung)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Sebuah Kajian : Apakah Aswatama adalah Nabi Ibrahim?

Aswatama anak seorang Brahmana yang bernama Pendeta Drona, yang menjadi gurunya pangeran Kuru (Pandawa dan Korawa). Aswatama beribukan Dewi krepi, yang menurut legendanya adalah jelmaan Bidadari Wilotama. Diberi nama Aswatama karena bentuk telapak kaki nya mirip telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki), dan berambut seperti rambut kuda. hal ini dikarenakan, ketika awal mengandung dirinya, Konon Dewi Krepi/Wilotama sedang beralih rupa menjadi Kuda Sembrani dalam upaya menolong Bambang Kumbayana ( nama Resi Drona sewaktu muda), menyeberangi lautan.

Dalam dunia wayang Aswatama dikenali dengan ciri-ciri : bermata kedondongan putih, berhidung mancung serba lengkap, berketu udeng dengan garuda membelakang, bersunting kembang kluwih panjang, berkalung putran berbentuk bulan sabit, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain, tetapi tidak bercelana panjang dan bentuk telapak kakinya seperti telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki) dan bersurai

Aswatama memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Aswatama belajar ilmu perang bersama para pangeran Kuru di bawah bimbingan ayahnya sendiri yaitu Resi Drona. Ia memiliki keterampilan dalam ilmu perang, terutama mempergunakan sejata panah dan kemampuannya hampir sama dengan Arjuna. Ia mendapat pusaka yang sangat sakti dari ayahnya bernama Cundamanik.

Ia juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjiwin, yaitu manusia berumur panjang. Saat perang Bharatayudha berakhir, hanya ia bersama Kertawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan melakukan pembantaian membabi buta dan penyerbuan itu dilakukan setelah perang diumumkan berakhir.

Pada perang Bharatayuddha, Pandito Dronacarya, ayah Aswatama gugur karena siasat para Pandawa. Mereka sengaja membunuh gajah yang bernama Hestitama, agar Begawan Drona menjadi kehilangan semangat hidup (Resi Drona mengira yang tewas adalah Aswatama puteranya). Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Setelah perang Bharatayudha berakhir, Aswatama menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (Pembunuh ayahnya), Pancalawa (anak-anak Drupadi), dan Srikandi.

Setelah membunuh kelima anak Drupadi dan ksatriya lainnya, Aswatama berlindung kepertapaan Maharsi Byasa/Wiyasa (di jawa disebut Abiyoso). Pandawa memburu dan terjadilah pertarungan antara Arjuna dan Aswatama. Dalam pertarungan itu, Aswatama memanggil senjata “Brahmasta” begitu juga dengan Arjuna, takut akan kehancuran dunia, Maharsi Wiyasa (Bhagawan Abiyasa) meminta keduanya agar segera menarik senjatanya kembali.

Arjuna berhasil melakukannya, tetapi Aswatama kurang pandai menguasai senjata itu sehingga tidak bisa menariknya. Ia kemudian diberi pilihan agar senjata itu menyerang target lain untuk dihancurkan. Masih dengan penuh rasa dendamnya, Aswatama mengarahkan senjata itu ke rahim Utari, menantu Arjuna, istri Abimanyu.

Senjata itu membakar janin dalam kandungan Utari, Namun Kresna berhasil menghidupkan kembali janin yang dikandung Utari. Oleh Sri Krisna dikatakan bahwaAswatama akan kena karma akibat perbuatannya. Aswatama tersadar dari perbuatan khilafnya, Aswatama menyerahkan batu permata berharga (Manik) yang terletak di dahinya kepada Sri Krisna, yaitu permata yang membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para Dewa,Danawa, dan Naga. Aswatama mohon supaya tidak dikutuk oleh Sri Krisna, tetapi Sri Krisna mengatakan bahwa itu bukan kutukan melainkan buah karma atas apa yang telah dilakukan selama hidupnya. Atas perlindungan dan jaminan Bhagawan Abiyoso, Aswatama diampuni. Aswatama kemudian melakukan penebusan dosa mengembara kearah barat ditanah padang nan tandus di gurun pasir disemenanjung Arvasthan dan hidup selama 1000 tahun sebagai pertapa yang mengembara.

Aswatama bukan brahmana lagi, meskipun beliau keturunan Brahmana atau berasal dari Brahmana. Aswatama anak Brahmana Bhagawan Dronacarya, selama hidupnya sampai perang Bharatayudha berakhir memilih hidup sebagai Ksatriya membela pihak Kurawa dalam perang di Kuruksetra tahun 3138 SM. Setelah tersadar dari kekhilafan, atas jaminan dan bimbingan Maharesi Wiyasa, kemudian melakukan penebusan dosa, pergi dari Hastina pura menuju kerah barat. Ditempatnya yang baru Aswatama menjalani hidup sebagai seorang pertapa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi maha Pengampun.

Aswatama mengasingkan diri di suatu tempat yang masih asing. Penduduk setempat menyebut Aswatama sebagai orang KAURA/KURU/KORA. Kata WA dalam bahasa sansekerta berarti keturunan, seperti Pandawa, artinya keturunan Pandu dan Kaurawa berari keturunan Kuru/Kaura. Bahasa yang dipakai oleh Aswatama bahasa-nya orang Kuru/Kaura/Kora/KAURAN, yang oleh penduduk setempat disebut bahasa dari seberang atau bahasa asing ( HEBREW). Aswatama bagi orang setempat disebut orang Asing (=muhajirin)

Di tempat pengasingannya Aswatama kembali menjalani hidup sebagai seorang Brahmana. dan mendirikan Kuil pemujaan didaerah yang sangat kering, tandus dan panas, Daerah itu Ibaratnya seperti Padang Pagangsaran di lintasan Sorga dan Neraka di kadewatan sana. Di tempatnya yang baru Aswatama mengasingkan diri melakukan penebusan dosa, dia bisa hidup tenteram beranak pianak di sana. Meskipun diawal-awal pengasingan dirinya berbagai macam cobaan dihadapi-nya dengan tabah.

NABI ABRAHAM atau NABI IBRAHIM :

Abraham Pergi dari Negerinya karena mau di bakar oleh kaumnya. Orang tuanya penjual patung berhala (perlu diteliti lagi apakah Orang tua biologisnya atau orang tua angkatnya). Istri yang selalu menemaninya dipengasingan bernama Sarah , disertai keponakannya bernama Nabi Lut, Abraham berumur panjang konon sampai1000 tahun, mendirikan Ka’abah meninggalkan jejak kaki di Ka’abah, meninggalkan batu hitam Hajar Aswad. Menurut ceritera orang, bahasa yang digunakan oleh Nabi Ibrahim adalah bahasa Hebrew yang artinya seberang. Pendudk asli arab menyebut Nabi Ibrahim sebagai orang KAURUN = Muhajirin yang artinya Emigran, yaitu orang yang meninggalkan negerinya.

Masjid Baittullah disebut juga Masjidil Harram, dan sangat populer disebut Ka’abah. Para jemaah melakukan tawaup 7 kali mengelilingi Ka’abah, melempar jumrah, mengambil air zam-zam

IBRAHIM = ABRAHAM = ASWATAMA ??? Apa ya…..?

ABRAHM dalam bahasa sansekerta artinya dari Brahma atau bisa juga berarti Bukan Brahmana lagi atau Mantan Brahmana atau keturunan Brahmana tetapi tidak melaksanakan kewajiban sebagai Brahmana.

Abrahm mungkin julukan untuk Aswattama, ini hanya mungkin lhoh, karena Aswatama tidak melaksanakan kewajibannya sebagai Brahmana dan memilih hidup sebagai Ksatriya sebagai prajurit di Hastinapura. Makanya orang menyebut Aswataama dengan sebutan ABRAHM. Atau mungkin juga Aswatama saat itu telah total menjadi Brahmana kembali, sehingga dipanggil Brahmana, atau Brahmin, tetapi karena di-eja dalam bahasa arab atau lidah bahasa Arab kata Brahmana atau Brahmin menjadi Abraham atau Ibrahim. he..he ini hanya mengira…ngira saja. perlu pembuktian ilmiah yaaaa.

Beberapa kesamaan yang mendukung sehingga banyak yang berpendapat bahwa Aswatama=Abraham/Ibrahim

1. Nama Sarah adalah mirip nama Saraswati,sakti/kekuatan dewa brahma, nama Abrahm artinya dari Brahma, sehingga sangat wajar kalau istrinya disebut saras dari kata Saraswati.

2. Nabi Lut, keponakan Nabi Abrahm mirip dengan nama Lottama, kerabat dari Aswatama yang memakai nama legenda leluhurnya Bidadari Nilottama/Wilottama, seperti diketahui dalam perang di Kurusetra selain Aswatama yang masih hidup, adalah Kertawarma dan paman Aswatama yaitu Kripacarya semuanya meninggalkan Hastinapura melakukan penebusan dosa menjadi pertapa. Hal ini juga dilakukan oleh Kelima Pandawa setelah menyerahkan tahta kepada Parikesit th 3102 SM (menurut perhitungan kalender masehi tepat tanggal 18 februari th 3102 SM), kelima pandawa pergi meninggalkan Istana Hastinapura menuju Puncak Gunung Himalaya melakukan penebusan Dosa.

3. Aswatama selalu mengenakan kalung dengan liontin berbentuk Bulan Sabit. Bulan Sabit merupakan hiasan pengikat rambut Dewa Siwa. Saat ini Bulan sabit merupakan lambang Negara di hampir diseluruh negara Arab.

4. Para Ilmuwan mesti secara transparan meneliti tapak kaki Nabi Ibrahim yang tersimpan di Mekah. apakah ada gambaran jari-jari nya layaknya kaki manusia normal apa tidak ?, Karena telapak kaki Aswatama tidak ada jari-jarinya. Telapak kaki Aswatama dempet seperti kaki kuda. Kalau ada jari kakinya berarti itu bukan tapak kaki Aswatama. Artinya Aswatama tidak sama dengan Ibrahim seperti yang diklaim selama ini.

5. Di dahi-nya Aswatama terdapat Manik/batu permata yang oleh Sri Krisna kesaktian batu tersebut dicabut dan dilepaskan dari dahi-nya Aswatama. Meski sudah tidak bertuah lagi batu tersebut merupakan hadiah dari ibunya bidadari Nilottama, sehingga kemanapun beliau pergi selalu dibawanya. Kemungkinan batu permata/manik tersebut = Hajar Aswad. Dulunya batu itu berwarna merah menyala seperti mirah delima dan berupa perhiasan kecil di dahi, tetapi karena tuahnya sudah dicabut, batu tersebut berubah dan lama-kelamaan menjadi Hitam. Namun hal ini perlu diteliti kembali karena ukuran dari batu yang tertempel di dahi dengan Hajar Aswad. Sejauh catatan sejarah, ada bukti yang menunjukkan bahwa kabah tersebut sebagai candi Hindu dan batu hitam sebagai tempat shiv lingga. Diceritakan Ada seorang raja Tamil yang besar dengan nama cheraman nayanar. Dia adalah pemuja Siwa yang agung. Dia memutuskan untuk mencatat semua kuil Siwa di dunia. Jadi, dia pergi ke semua kuil shiva dan mencatatnya. Dalam pencariannya untuk mendata kuil shiv, dia pergi ke Indonesia, Malaysia, Arabia, Asia Tengah dan India untuk merekam semua kuil shiv di sana. Demikian juga, dia mengunjungi Mekah dan dia telah meriwayatkan pertemuannya dengan nabi mohammed. Sesuai dengan perjanjiannya dia berkewajiban untuk membangun masjid pertama di India selatan. Akhirnya, dia meninggal dalam perjalanan untuk mendaki kailash. Dia telah mencatat semua pertemuannya dengan kuil Siwa dalam lagu nayanar. Orang orang Tamil menggunakan lagu-lagu ini untuk memuja Shiva. Selain itu, ada lagi lempeng tembaga dari zaman raja besar vikramaditya yang menjelaskan Mekah berada di bawah kendalinya. Ia juga mengatakan, dia adalah pemuja Siwa yang hebat dan ini menjelaskan bagaimana dia membangun sebuah kuil besar di Mekah. Pelat tembaga ini saat ini tersedia di Turki agar publik dapat melihat.

6. Tradisi yang dilakukan oleh Ibrahim sama dengan kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk di Bharatawarsa, yaitu melakukan Pradaksina (mengelilingi tempat Suci sebanyak 7 kali), Dalam kisah Ganesa dan Kartekiya, Dewa Siwa menguji kedua putranya untuk mengelilingi Dunia, Ganesa sangat cerdik, hanya berkeliling 7 kali disekitar Dewa Siwa, sementara Kartekya keliling Dunia, Dan Ganesa ada dipihak yang benar karena Siwa adalah pusatnya alam semesta. Jadi mengelilingi Siwalinggam atau tempat suci sebagai perujudan stananya pusat dunia sangat umum dilakukan oleh Umat Hindu baik di India maupun di Indonesia.

Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara puncak dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian disalah artikan oleh nenek moyangnya Muhammad menjadi 7 kali). Mengingat “Makha” atau Mekah itu artinya API. Ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa Mekah dahulunya dibangun sebagai pusat pemujaan Dewa Api.

7. Suku bangsanya Ibrahim disebut suku Kuraisi/Quraisi; sangat mirip dengan kata Kururesi, yaitu seorang Kuru yang menjadi pendeta/resi/brahmana. Dalam kamus bahasa sansekerta ada kata : Kuruksetra = tempat peperangan bangsa Kuru, Kurawa=keturunan Kuru, Kururesi=seorang resi dari Kuru=Brahmana dari Kuru=Pendeta dari Kuru.

8. Masjid Baitulah disebut juga Masdijil Harram, kata Harram mirip dengan kata HAIRAM atau HARERAM, Japamantra yang selalu dilantunkan oleh Umat Hindu sekte Waisnawa : HAIRAM….HAIRAM …HARERAM….HARERAM….atau HARIRAM…HARIRAM

9. Ciri lainya bahwa Ibrahim membawa tradisi Hindustan adalah kebiasaan kaum Kuarisi bertahanut/bermeditasi/bertafakur di tempat sepi seperti di Goa-Goa atau di Hutan-hutan, karena di timur tengah tidak ada hutan maka Goa adalah pilihan yang paling tepat.

10. Nabi Muhamad sebelum menerima Wahyu, juga punya kebiasaan bermeditasi/bertahanut/bertafakur di Goa. Tempat yang menjadi kebiasaan Nabi Muhamad bertahanut/bermeditasi adalah GOA HIRA.

11. Kata KAURUN mirip dengan KAURU yaitu asal Aswatama dan tempat Aswatama menjadi Prajurit perang di pihak KAURAWA.

12. Dalam melaksanakan ritual tersebut para penyembah berhala memakai pakaian yang disebut Ihram yang dipakai untuk menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup. Pakaian ini jelas sekali adalah pakaian umat Hindu kuno dalam berziarah ke kuil mereka. Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan agar mereka datang dalam dalam keadaan putih bersih.

13. Mengenai Arab : Arabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan, asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sang-Sakerta, huruf “V” diganti jadi huruf “B” seperti pada kata devata menjadi debata kemudiana menjadi dewata.

Arva dalam bahasa Sangsakerta berarti “kuda”. Arvasthan berarti “Tanah Kuda”, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya.

14. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sangsakerta. Kata Makha dalam bahasa Sangsakerta berarti “api persembahan”. Karena penyembahan terhadap “Api Veda” dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, dengan demikian Makha itu merupakan tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.

15. Naskah Raja Vikramaditya yang ditemukan di dalam Kaba di Mekah merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Jazirah Arabia merupakan bagian dari Kekaisaran India dimasa lalu, dan dia yang sangat menjunjung tinggi Dewa Shiva lalu membangun kuil Shiva yang bernama Kaba. Naskah penting Vikramaditya ditemukan tertulis pada sebuah cawan emas di dalam Kaba di Mekah, dan tulisan ini dicantumkan di halaman 315 dari buku yang berjudul `Sayar-ul-Okul’ yang disimpan di perpustakaan Makhtabe-Sultania di Istanbul, Turki.

KESIMPULAN

Perlu ada penelitian lebih lanjut, dengan melepaskan diri dari keterikatan terhadap Agama tertentu atau keyakinan tertentu, dan murni ilmiah untuk membuktikan bahwa Nabi Ibrahim adalah Aswatama yang pergi meninggalkan negerinya karena terkoyak perang saudara.

Sumber Referensi :

1. http://betal-boyz.blogspot.com/2012/03/photos-of-hajar-aswat-hajar-nya.html
2. http://mahabharata-adiparwa.blogspot.com/2010/07/konflik-timur-tengah-berawal-dari-jaman.html
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Aswatama

4. http://www.hadisukirno.com/artikel-detail?id=81

5. https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/03/03/photos-of-hajar-aswat-hajar-nya-aswatama/.

6. https://www.quora.com/Whats-the-history-behind-the-Black-Stone-in-Mecca-Saudi-Arabia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

ASAL USUL PRAJAPATI

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 5)
Asal Usul Prajapati
“……Di garis Dhruva ada seorang raja bernama Prachinavarhi. Prachinavarhi memiliki sepuluh anak laki-laki, yang dikenal dengan nama Prachetas. Prachetas ini dalam tugasnya seharusnya menjaga dunia dan menjadi pengaturnya, tapi sepertinya prachetas tidak terlalu tertarik pada hal-hal duniawi semacam itu. Mereka pergi untuk melakukan tapasya di bawah lautan. Tapasya berlangsung selama sepuluh ribu tahun. Akibat lain dari tapasya ini adalah bahwa bumi tidak memiliki penguasa dan mulai menderita. Orang-orang mulai mati dan hutan lebat tumbuh di mana-mana. Begitu tebalnya hutan , bahkan anginpun tidak bisa bertiup karenanya. Berita tentang malapetaka ini sampai di Prachetas. Mereka sangat marah dengan pepohonan dan menciptakan. Angin (vayu) dan api (agni) dari mulut mereka. Angin mengeringkan pepohonan dan api membakarnya, dengan segera hanya ada sedikit pohon yang tersisa di bumi.
Semua orang khawatir dengan efek kemarahan Prachetas. Dewa Brahma dan Dewa bulan Soma (atau Chandra) datang ke Prachetas dengan seorang wanita cantik dan berkata, “Prachetas, tolong kendalikan kemarahanmu.
Engkau membutuhkan seseorang untuk menguasai dunia sehingga engkau dapat berkonsentrasi pada tapasyamu.
Aku anugrahkan Wanita bernama Marisha. Putranya akan memerintah dunia “.
Prachetas menyetujui usulan ini dan dari perkawinan antara Prachetas dan Marsha lahirlah Daksha Sang Prajapati. Kata praja berarti dunia atau materi dan Kata pati berarti tuan. Sejak Daksha memerintah dunia dan rakyatnya, Daksha datang ke sana Dikenal sebagai Prajapati.
Para Maharesi kemudian bertanya kepada Resi Romaharshana. Mereka berkata, “Resi, kita benar-benar bingung mendengar bahwa Daksha lahir dari ibu jari kaki Brahma. Namun engkau telah mengatakan kepada kami bahwa Daksha adalah Putra dari Prachetas. Bagaimana ini mungkin?”
Romaharshana menjawab, “Tidak ada alasan untuk kebingungan. Banyak daksha telah lahir dan menguasai dan memimpin dunia, seorang Dhaksa lahir dari ibu jari kaki Brahma, satu lagi putra dari Prachetas…… “

(Bersambung)
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Sapta Resi yang Berstana di Bintang Tujuh

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 4)
“…Untuk melanjutkan proses penciptaan, Brahma melahirkan seorang pria dan seorang wanita dari tubuhnya sendiri. Pria itu bernama Svayambhuva Manu dan wanita itu bernama Shatarupa. Manusia adalah keturunan Manu. Itulah alasan mereka dikenal sebagai manava. Manu dan Shatarupa Memiliki tiga putra bernama Vira, Priyavrata dan Uttanapada. Anak Uttanapada adalah Dhruva yang agung. Dhruva melakukan meditasi yang sangat sulit (tapasya) Tiga ribu tahun. Brahma sangat senang terhadap bakti sang Dhruva, sehingga Brahma memberikan anugrah Dhruva kehidupan yang kekal dan ditempatkan di langit sebagai bintang kutub , di dekat rasi bintang yang dikenal sebagai Stana saptarshi atau “Bintang Tujuh”.
Catatan :

1. Manu adalah manusia pertama dalam Hindu. Keturunan dari manu disebut manava. Sama seperti keturunan Pandu disebut Pandava, Keturunan Wangsa Kuru disebut Kurava. Dalam berbagai penelitian yang salah satunya dilakukan oleh peneliti linguistik asal India ditemukan kaitan yang sangat erat antara bahasa Yunani dengan Bahasa Sankrit yang kemudian berkembang menjadi bahasa Tamil. Penelitian tentang hubungan genetik antara bahasa Yunani dan bahasa Tamil memiliki hubungan hubungan erat khususnya kata-kata umum dalam kosa kata inti dari kedua bahasa tersebut. Salah satu kata tersebut adalah kata ‘man’. Di Tamil, ‘mann’ மண் berarti ‘bumi, tanah’. Orang yang hidup di ‘mann’ (bumi) atau orang yang terlahir dari ‘mann’ adalah ‘maanudan’ (dengan bumi).
‘Maanudan’ adalah bentuk ‘pria’. Dalam bahasa Tamil ‘laki-laki’ disebut ‘aan’ ஆண் yang berarti ‘orang yang memerintah’. Sekarang istilah ‘aan’ juga ditemukan dalam bahasa Yunani sebagai ‘Andro’. Kata ini berkembang seperti

maanudan

> mannithan> manithan மனிதன் yang merupakan ‘man’

, Kata

‘manithan’ ini sesuai dengan bahasa Sanskerta sebagai ‘manushan> manush’, yang akhirnya menjadi kosakata Bahasa Indonesia Manusia .

2. Dalam Hindu, Sapta Resi dalam manvantara 1 menduduki posisi yang sangat terhormat dan BERSTANAKAN di tujuh 🌟 bintang yang kemudian disebut sebagai Gugus Bintang Ursa Majoris. Ursa Majoris terlihat sebagai tujuh bintang terang di belahan langit utara yang berguna bagi kapal dan perahu sebagai patokan saat berlayar pada malam hari. Selain itu, kumpulan bintang ini populer juga di Nusantara karena kemunculannya menjadi penanda dimulainya waktu tanam padi. Asterism tujuh bintang paling terang di Ursa Mayor juga dikenal dengan nama Bintang Biduk. Gugus bintang “Bintang Tujuh”, juga dikenal sebagai Lintang Kartika oleh masyarakat Jawa.

3. Druva yang kemudian dianugerahi panugrahan BERSTANAKAN di Bintang Kutub, Atau disebut sebagai Polaris (α UMi / α Ursae Minoris / Alpha Ursae Minoris, kadang disebut juga sebagai Bintang Utara atau Bintang Kutub) adalah bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Bintang ini terletak sangat dekat dengan kutub langit utara.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Hubungan Antara Maya dengan Jiwa

Maya sangat membantu dalam pembebasan jiwa dari keterikatan. Anava (kebodohan/ketidaktahuan/kegelapan), karma dan maya (Prakirti/materi/tubuh) dikatakan sebagai “malas” dari Sang jiwa. Dari ketiga hal tersebut, anava adalah penyebab kelahiran berulang jiwa, dengan mengikis ketidaktahuan sedikit demi sedikit, Maya membantu jiwa terbebas dari ketidaktahuan dan terbebas dari kelahiran berulang. Yang mendorong jiwa melalui selimut kegelapan (Anava) setiap jiwa akan memiliki maya dan karma.

Bagaimana maya membantu jiwa digambarkan oleh kitab kitab Siddhanta sebagai berikut :

“Maya, menurut karma dari masing-masing jiwa, akan menjadi tubuh, alam materi dll. Sampai jiwa mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan Anugrah Tuhan, maya membantu jiwa seperti lampu yang memberi terang kepada manusia mengarungi kegelapan hingga matahari kesadarannya terbit”

Saat Anugrah Tuhan tercapai, kegelapan /anava akan lenyap sama sekali. Hingga saat itu, “lampu” maya membantu jiwa untuk tidak menderita dalam kegelapan anava.

Karena maya (tubuh) membantu jiwa, maka maya bukanlah penghambat namun justru memiliki ‘hubungan baik’ dengan Sang Jiwa . Menganggap maya sebagai penyebab kelahiran berulang kuranglah tepat.
Jadi, meskipun maya membantu jiwa, dengan mengetahui sifatnya yang tidak nyata, maka Maya tidaklah abadi dan pada waktunya akan musnah dan ditinggalkan. Ketika matahari sudah terbit dan menerangi jalan maka lampu lentera tidak diperlukan lagi dan baru kemudian pembebasan bisa tercapai. Apa yang menyebabkan lampu lentera/ Maya/ tubuh / dunia materi sulit untuk ditinggalkan adalah karena ketidaktahuan; dan ketidaktahuan ini disebabkan oleh anava (kegelapan) dan bukan maya. Dimanapun dan kapanpun ada ketidaktahuan, itu harus dipahami sebagai efek anava. Oleh karena itu, maya tidak sempurna; anava-lah yang menahannya sehingga terselimuti kegelapan.

Jiwa mengambil tubuh tertentu hanya karena karma. Apapun bentuk tubuh, pada karma yang semakin menipis dan habis maka jiwa pada akhirnya akan mencapai pembebasan. Oleh karena itu, jumlah kelahiran bergantung pada karma sang jiwa. Jiwa yang memiliki sedikit karma bisa mencapai pembebasan bahkan dalam satu atau dua kelahiran. Tapi jika karma tidak habis – habis bahkan setelah mengalami kelahiran jutaan kali jiwa – jiwa akan tetap mengalami kelahiran kembali.

Seorang siswa di Kelas 3 dapat naik ke Kelas 5 dengan terlebih dulu naik ke Kelas 4, ada juga yang terjadi secara langsung dari 3 ke 5. Dia juga bisa turun kelas, semuanya bergantung pada kecerdasannya. Demikian pula, jiwa yang lahir sebagai tanaman bisa mendapatkan kelahiran Deva, dan seorang Deva mungkin dapat terlahir sebagai seekor anjing atau rubah. Semua tergantung pada perbuatan baik-buruk.

Tanpa tubuh, jiwa tidak bisa eksis. Dan tidak ada tubuh tanpa karma. Bahwa jiwa mendapatkan tubuh yang sesuai dengan karma-karmanya. Karena itu, tidak ada tubuh (bagi setiap jiwa) tanpa karma.

Mungkin aja ada yang bertanya , Jika demikian, jiwa dari kondisinya yang halus, saat akan menempati tubuhnya yang pertama kali, tergantung seperti apa yang tubuhnya , Itu juga tergantung pada Karmas-nya! Bila jiwa berada dalam kondisi halus karena di dalam jiwa juga ada badan halus, anava (kegelapan) yang menguasainya akan merubah keinginan di dalamnya. Keinginan itu menjadi karma dan, sebagai akibatnya, jiwa memperoleh tubuh pada kelahiran pertamanya.
Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa karma hanya diperoleh di tingkat manusia dan bukan kelahiran kelahiran yang lain tidaklah tepat.

Jiwa karena terselimuti oleh Anava, Maya dan karma tidak memiliki kebebasan dalam kelahiran apapun. Satu-satunya Hal di Semesta Raya yang memiliki kebebasan adalah Tuhan. (Ini adalah salah satu kebenaran mendasar dari ajaran Saiva Siddhanta). Ciri khas jiwa adalah bahwa ia mengambil bagian dari sifat yang terbawa dengannya menjadi satu kesatuan. Dengan demikian, ketika jiwa mencoba menyatukan dirinya dengan Pati, ia mendapat sedikit pencerahan dan melakukan perbuatan baik; Saat bergabung dengan Pasas, ia akan melakukan perbuatan jahat. Bergabungnya jiwa dan seberapa banyak kecenderungan dia bersama (Pati atau Pasam) juga disebabkan karena karma masa lalu. Karena itu, jiwa jiwa yang lahir kembali tidaklah memiliki kebebasan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in filosofi

 
 
%d blogger menyukai ini: