RSS
Galeri

Sebuah Kajian : Apakah Aswatama adalah Nabi Ibrahim?

Aswatama anak seorang Brahmana yang bernama Pendeta Drona, yang menjadi gurunya pangeran Kuru (Pandawa dan Korawa). Aswatama beribukan Dewi krepi, yang menurut legendanya adalah jelmaan Bidadari Wilotama. Diberi nama Aswatama karena bentuk telapak kaki nya mirip telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki), dan berambut seperti rambut kuda. hal ini dikarenakan, ketika awal mengandung dirinya, Konon Dewi Krepi/Wilotama sedang beralih rupa menjadi Kuda Sembrani dalam upaya menolong Bambang Kumbayana ( nama Resi Drona sewaktu muda), menyeberangi lautan.

Dalam dunia wayang Aswatama dikenali dengan ciri-ciri : bermata kedondongan putih, berhidung mancung serba lengkap, berketu udeng dengan garuda membelakang, bersunting kembang kluwih panjang, berkalung putran berbentuk bulan sabit, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain, tetapi tidak bercelana panjang dan bentuk telapak kakinya seperti telapak kaki kuda (tidak punya jari-jari kaki) dan bersurai

Aswatama memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Aswatama belajar ilmu perang bersama para pangeran Kuru di bawah bimbingan ayahnya sendiri yaitu Resi Drona. Ia memiliki keterampilan dalam ilmu perang, terutama mempergunakan sejata panah dan kemampuannya hampir sama dengan Arjuna. Ia mendapat pusaka yang sangat sakti dari ayahnya bernama Cundamanik.

Ia juga merupakan salah satu dari tujuh Ciranjiwin, yaitu manusia berumur panjang. Saat perang Bharatayudha berakhir, hanya ia bersama Kertawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan melakukan pembantaian membabi buta dan penyerbuan itu dilakukan setelah perang diumumkan berakhir.

Pada perang Bharatayuddha, Pandito Dronacarya, ayah Aswatama gugur karena siasat para Pandawa. Mereka sengaja membunuh gajah yang bernama Hestitama, agar Begawan Drona menjadi kehilangan semangat hidup (Resi Drona mengira yang tewas adalah Aswatama puteranya). Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Setelah perang Bharatayudha berakhir, Aswatama menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (Pembunuh ayahnya), Pancalawa (anak-anak Drupadi), dan Srikandi.

Setelah membunuh kelima anak Drupadi dan ksatriya lainnya, Aswatama berlindung kepertapaan Maharsi Byasa/Wiyasa (di jawa disebut Abiyoso). Pandawa memburu dan terjadilah pertarungan antara Arjuna dan Aswatama. Dalam pertarungan itu, Aswatama memanggil senjata “Brahmasta” begitu juga dengan Arjuna, takut akan kehancuran dunia, Maharsi Wiyasa (Bhagawan Abiyasa) meminta keduanya agar segera menarik senjatanya kembali.

Arjuna berhasil melakukannya, tetapi Aswatama kurang pandai menguasai senjata itu sehingga tidak bisa menariknya. Ia kemudian diberi pilihan agar senjata itu menyerang target lain untuk dihancurkan. Masih dengan penuh rasa dendamnya, Aswatama mengarahkan senjata itu ke rahim Utari, menantu Arjuna, istri Abimanyu.

Senjata itu membakar janin dalam kandungan Utari, Namun Kresna berhasil menghidupkan kembali janin yang dikandung Utari. Oleh Sri Krisna dikatakan bahwaAswatama akan kena karma akibat perbuatannya. Aswatama tersadar dari perbuatan khilafnya, Aswatama menyerahkan batu permata berharga (Manik) yang terletak di dahinya kepada Sri Krisna, yaitu permata yang membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para Dewa,Danawa, dan Naga. Aswatama mohon supaya tidak dikutuk oleh Sri Krisna, tetapi Sri Krisna mengatakan bahwa itu bukan kutukan melainkan buah karma atas apa yang telah dilakukan selama hidupnya. Atas perlindungan dan jaminan Bhagawan Abiyoso, Aswatama diampuni. Aswatama kemudian melakukan penebusan dosa mengembara kearah barat ditanah padang nan tandus di gurun pasir disemenanjung Arvasthan dan hidup selama 1000 tahun sebagai pertapa yang mengembara.

Aswatama bukan brahmana lagi, meskipun beliau keturunan Brahmana atau berasal dari Brahmana. Aswatama anak Brahmana Bhagawan Dronacarya, selama hidupnya sampai perang Bharatayudha berakhir memilih hidup sebagai Ksatriya membela pihak Kurawa dalam perang di Kuruksetra tahun 3138 SM. Setelah tersadar dari kekhilafan, atas jaminan dan bimbingan Maharesi Wiyasa, kemudian melakukan penebusan dosa, pergi dari Hastina pura menuju kerah barat. Ditempatnya yang baru Aswatama menjalani hidup sebagai seorang pertapa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi maha Pengampun.

Aswatama mengasingkan diri di suatu tempat yang masih asing. Penduduk setempat menyebut Aswatama sebagai orang KAURA/KURU/KORA. Kata WA dalam bahasa sansekerta berarti keturunan, seperti Pandawa, artinya keturunan Pandu dan Kaurawa berari keturunan Kuru/Kaura. Bahasa yang dipakai oleh Aswatama bahasa-nya orang Kuru/Kaura/Kora/KAURAN, yang oleh penduduk setempat disebut bahasa dari seberang atau bahasa asing ( HEBREW). Aswatama bagi orang setempat disebut orang Asing (=muhajirin)

Di tempat pengasingannya Aswatama kembali menjalani hidup sebagai seorang Brahmana. dan mendirikan Kuil pemujaan didaerah yang sangat kering, tandus dan panas, Daerah itu Ibaratnya seperti Padang Pagangsaran di lintasan Sorga dan Neraka di kadewatan sana. Di tempatnya yang baru Aswatama mengasingkan diri melakukan penebusan dosa, dia bisa hidup tenteram beranak pianak di sana. Meskipun diawal-awal pengasingan dirinya berbagai macam cobaan dihadapi-nya dengan tabah.

NABI ABRAHAM atau NABI IBRAHIM :

Abraham Pergi dari Negerinya karena mau di bakar oleh kaumnya. Orang tuanya penjual patung berhala (perlu diteliti lagi apakah Orang tua biologisnya atau orang tua angkatnya). Istri yang selalu menemaninya dipengasingan bernama Sarah , disertai keponakannya bernama Nabi Lut, Abraham berumur panjang konon sampai1000 tahun, mendirikan Ka’abah meninggalkan jejak kaki di Ka’abah, meninggalkan batu hitam Hajar Aswad. Menurut ceritera orang, bahasa yang digunakan oleh Nabi Ibrahim adalah bahasa Hebrew yang artinya seberang. Pendudk asli arab menyebut Nabi Ibrahim sebagai orang KAURUN = Muhajirin yang artinya Emigran, yaitu orang yang meninggalkan negerinya.

Masjid Baittullah disebut juga Masjidil Harram, dan sangat populer disebut Ka’abah. Para jemaah melakukan tawaup 7 kali mengelilingi Ka’abah, melempar jumrah, mengambil air zam-zam

IBRAHIM = ABRAHAM = ASWATAMA ??? Apa ya…..?

ABRAHM dalam bahasa sansekerta artinya dari Brahma atau bisa juga berarti Bukan Brahmana lagi atau Mantan Brahmana atau keturunan Brahmana tetapi tidak melaksanakan kewajiban sebagai Brahmana.

Abrahm mungkin julukan untuk Aswattama, ini hanya mungkin lhoh, karena Aswatama tidak melaksanakan kewajibannya sebagai Brahmana dan memilih hidup sebagai Ksatriya sebagai prajurit di Hastinapura. Makanya orang menyebut Aswataama dengan sebutan ABRAHM. Atau mungkin juga Aswatama saat itu telah total menjadi Brahmana kembali, sehingga dipanggil Brahmana, atau Brahmin, tetapi karena di-eja dalam bahasa arab atau lidah bahasa Arab kata Brahmana atau Brahmin menjadi Abraham atau Ibrahim. he..he ini hanya mengira…ngira saja. perlu pembuktian ilmiah yaaaa.

Beberapa kesamaan yang mendukung sehingga banyak yang berpendapat bahwa Aswatama=Abraham/Ibrahim

1. Nama Sarah adalah mirip nama Saraswati,sakti/kekuatan dewa brahma, nama Abrahm artinya dari Brahma, sehingga sangat wajar kalau istrinya disebut saras dari kata Saraswati.

2. Nabi Lut, keponakan Nabi Abrahm mirip dengan nama Lottama, kerabat dari Aswatama yang memakai nama legenda leluhurnya Bidadari Nilottama/Wilottama, seperti diketahui dalam perang di Kurusetra selain Aswatama yang masih hidup, adalah Kertawarma dan paman Aswatama yaitu Kripacarya semuanya meninggalkan Hastinapura melakukan penebusan dosa menjadi pertapa. Hal ini juga dilakukan oleh Kelima Pandawa setelah menyerahkan tahta kepada Parikesit th 3102 SM (menurut perhitungan kalender masehi tepat tanggal 18 februari th 3102 SM), kelima pandawa pergi meninggalkan Istana Hastinapura menuju Puncak Gunung Himalaya melakukan penebusan Dosa.

3. Aswatama selalu mengenakan kalung dengan liontin berbentuk Bulan Sabit. Bulan Sabit merupakan hiasan pengikat rambut Dewa Siwa. Saat ini Bulan sabit merupakan lambang Negara di hampir diseluruh negara Arab.

4. Para Ilmuwan mesti secara transparan meneliti tapak kaki Nabi Ibrahim yang tersimpan di Mekah. apakah ada gambaran jari-jari nya layaknya kaki manusia normal apa tidak ?, Karena telapak kaki Aswatama tidak ada jari-jarinya. Telapak kaki Aswatama dempet seperti kaki kuda. Kalau ada jari kakinya berarti itu bukan tapak kaki Aswatama. Artinya Aswatama tidak sama dengan Ibrahim seperti yang diklaim selama ini.

5. Di dahi-nya Aswatama terdapat Manik/batu permata yang oleh Sri Krisna kesaktian batu tersebut dicabut dan dilepaskan dari dahi-nya Aswatama. Meski sudah tidak bertuah lagi batu tersebut merupakan hadiah dari ibunya bidadari Nilottama, sehingga kemanapun beliau pergi selalu dibawanya. Kemungkinan batu permata/manik tersebut = Hajar Aswad. Dulunya batu itu berwarna merah menyala seperti mirah delima dan berupa perhiasan kecil di dahi, tetapi karena tuahnya sudah dicabut, batu tersebut berubah dan lama-kelamaan menjadi Hitam. Namun hal ini perlu diteliti kembali karena ukuran dari batu yang tertempel di dahi dengan Hajar Aswad. Sejauh catatan sejarah, ada bukti yang menunjukkan bahwa kabah tersebut sebagai candi Hindu dan batu hitam sebagai tempat shiv lingga. Diceritakan Ada seorang raja Tamil yang besar dengan nama cheraman nayanar. Dia adalah pemuja Siwa yang agung. Dia memutuskan untuk mencatat semua kuil Siwa di dunia. Jadi, dia pergi ke semua kuil shiva dan mencatatnya. Dalam pencariannya untuk mendata kuil shiv, dia pergi ke Indonesia, Malaysia, Arabia, Asia Tengah dan India untuk merekam semua kuil shiv di sana. Demikian juga, dia mengunjungi Mekah dan dia telah meriwayatkan pertemuannya dengan nabi mohammed. Sesuai dengan perjanjiannya dia berkewajiban untuk membangun masjid pertama di India selatan. Akhirnya, dia meninggal dalam perjalanan untuk mendaki kailash. Dia telah mencatat semua pertemuannya dengan kuil Siwa dalam lagu nayanar. Orang orang Tamil menggunakan lagu-lagu ini untuk memuja Shiva. Selain itu, ada lagi lempeng tembaga dari zaman raja besar vikramaditya yang menjelaskan Mekah berada di bawah kendalinya. Ia juga mengatakan, dia adalah pemuja Siwa yang hebat dan ini menjelaskan bagaimana dia membangun sebuah kuil besar di Mekah. Pelat tembaga ini saat ini tersedia di Turki agar publik dapat melihat.

6. Tradisi yang dilakukan oleh Ibrahim sama dengan kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk di Bharatawarsa, yaitu melakukan Pradaksina (mengelilingi tempat Suci sebanyak 7 kali), Dalam kisah Ganesa dan Kartekiya, Dewa Siwa menguji kedua putranya untuk mengelilingi Dunia, Ganesa sangat cerdik, hanya berkeliling 7 kali disekitar Dewa Siwa, sementara Kartekya keliling Dunia, Dan Ganesa ada dipihak yang benar karena Siwa adalah pusatnya alam semesta. Jadi mengelilingi Siwalinggam atau tempat suci sebagai perujudan stananya pusat dunia sangat umum dilakukan oleh Umat Hindu baik di India maupun di Indonesia.

Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara puncak dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian disalah artikan oleh nenek moyangnya Muhammad menjadi 7 kali). Mengingat “Makha” atau Mekah itu artinya API. Ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa Mekah dahulunya dibangun sebagai pusat pemujaan Dewa Api.

7. Suku bangsanya Ibrahim disebut suku Kuraisi/Quraisi; sangat mirip dengan kata Kururesi, yaitu seorang Kuru yang menjadi pendeta/resi/brahmana. Dalam kamus bahasa sansekerta ada kata : Kuruksetra = tempat peperangan bangsa Kuru, Kurawa=keturunan Kuru, Kururesi=seorang resi dari Kuru=Brahmana dari Kuru=Pendeta dari Kuru.

8. Masjid Baitulah disebut juga Masdijil Harram, kata Harram mirip dengan kata HAIRAM atau HARERAM, Japamantra yang selalu dilantunkan oleh Umat Hindu sekte Waisnawa : HAIRAM….HAIRAM …HARERAM….HARERAM….atau HARIRAM…HARIRAM

9. Ciri lainya bahwa Ibrahim membawa tradisi Hindustan adalah kebiasaan kaum Kuarisi bertahanut/bermeditasi/bertafakur di tempat sepi seperti di Goa-Goa atau di Hutan-hutan, karena di timur tengah tidak ada hutan maka Goa adalah pilihan yang paling tepat.

10. Nabi Muhamad sebelum menerima Wahyu, juga punya kebiasaan bermeditasi/bertahanut/bertafakur di Goa. Tempat yang menjadi kebiasaan Nabi Muhamad bertahanut/bermeditasi adalah GOA HIRA.

11. Kata KAURUN mirip dengan KAURU yaitu asal Aswatama dan tempat Aswatama menjadi Prajurit perang di pihak KAURAWA.

12. Dalam melaksanakan ritual tersebut para penyembah berhala memakai pakaian yang disebut Ihram yang dipakai untuk menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup. Pakaian ini jelas sekali adalah pakaian umat Hindu kuno dalam berziarah ke kuil mereka. Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan agar mereka datang dalam dalam keadaan putih bersih.

13. Mengenai Arab : Arabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan, asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sang-Sakerta, huruf “V” diganti jadi huruf “B” seperti pada kata devata menjadi debata kemudiana menjadi dewata.

Arva dalam bahasa Sangsakerta berarti “kuda”. Arvasthan berarti “Tanah Kuda”, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya.

14. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sangsakerta. Kata Makha dalam bahasa Sangsakerta berarti “api persembahan”. Karena penyembahan terhadap “Api Veda” dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, dengan demikian Makha itu merupakan tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.

15. Naskah Raja Vikramaditya yang ditemukan di dalam Kaba di Mekah merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Jazirah Arabia merupakan bagian dari Kekaisaran India dimasa lalu, dan dia yang sangat menjunjung tinggi Dewa Shiva lalu membangun kuil Shiva yang bernama Kaba. Naskah penting Vikramaditya ditemukan tertulis pada sebuah cawan emas di dalam Kaba di Mekah, dan tulisan ini dicantumkan di halaman 315 dari buku yang berjudul `Sayar-ul-Okul’ yang disimpan di perpustakaan Makhtabe-Sultania di Istanbul, Turki.

KESIMPULAN

Perlu ada penelitian lebih lanjut, dengan melepaskan diri dari keterikatan terhadap Agama tertentu atau keyakinan tertentu, dan murni ilmiah untuk membuktikan bahwa Nabi Ibrahim adalah Aswatama yang pergi meninggalkan negerinya karena terkoyak perang saudara.

Sumber Referensi :

1. http://betal-boyz.blogspot.com/2012/03/photos-of-hajar-aswat-hajar-nya.html
2. http://mahabharata-adiparwa.blogspot.com/2010/07/konflik-timur-tengah-berawal-dari-jaman.html
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Aswatama

4. http://www.hadisukirno.com/artikel-detail?id=81

5. https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/03/03/photos-of-hajar-aswat-hajar-nya-aswatama/.

6. https://www.quora.com/Whats-the-history-behind-the-Black-Stone-in-Mecca-Saudi-Arabia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

ASAL USUL PRAJAPATI

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 5)
Asal Usul Prajapati
“……Di garis Dhruva ada seorang raja bernama Prachinavarhi. Prachinavarhi memiliki sepuluh anak laki-laki, yang dikenal dengan nama Prachetas. Prachetas ini dalam tugasnya seharusnya menjaga dunia dan menjadi pengaturnya, tapi sepertinya prachetas tidak terlalu tertarik pada hal-hal duniawi semacam itu. Mereka pergi untuk melakukan tapasya di bawah lautan. Tapasya berlangsung selama sepuluh ribu tahun. Akibat lain dari tapasya ini adalah bahwa bumi tidak memiliki penguasa dan mulai menderita. Orang-orang mulai mati dan hutan lebat tumbuh di mana-mana. Begitu tebalnya hutan , bahkan anginpun tidak bisa bertiup karenanya. Berita tentang malapetaka ini sampai di Prachetas. Mereka sangat marah dengan pepohonan dan menciptakan. Angin (vayu) dan api (agni) dari mulut mereka. Angin mengeringkan pepohonan dan api membakarnya, dengan segera hanya ada sedikit pohon yang tersisa di bumi.
Semua orang khawatir dengan efek kemarahan Prachetas. Dewa Brahma dan Dewa bulan Soma (atau Chandra) datang ke Prachetas dengan seorang wanita cantik dan berkata, “Prachetas, tolong kendalikan kemarahanmu.
Engkau membutuhkan seseorang untuk menguasai dunia sehingga engkau dapat berkonsentrasi pada tapasyamu.
Aku anugrahkan Wanita bernama Marisha. Putranya akan memerintah dunia “.
Prachetas menyetujui usulan ini dan dari perkawinan antara Prachetas dan Marsha lahirlah Daksha Sang Prajapati. Kata praja berarti dunia atau materi dan Kata pati berarti tuan. Sejak Daksha memerintah dunia dan rakyatnya, Daksha datang ke sana Dikenal sebagai Prajapati.
Para Maharesi kemudian bertanya kepada Resi Romaharshana. Mereka berkata, “Resi, kita benar-benar bingung mendengar bahwa Daksha lahir dari ibu jari kaki Brahma. Namun engkau telah mengatakan kepada kami bahwa Daksha adalah Putra dari Prachetas. Bagaimana ini mungkin?”
Romaharshana menjawab, “Tidak ada alasan untuk kebingungan. Banyak daksha telah lahir dan menguasai dan memimpin dunia, seorang Dhaksa lahir dari ibu jari kaki Brahma, satu lagi putra dari Prachetas…… “

(Bersambung)
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Sapta Resi yang Berstana di Bintang Tujuh

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 4)
“…Untuk melanjutkan proses penciptaan, Brahma melahirkan seorang pria dan seorang wanita dari tubuhnya sendiri. Pria itu bernama Svayambhuva Manu dan wanita itu bernama Shatarupa. Manusia adalah keturunan Manu. Itulah alasan mereka dikenal sebagai manava. Manu dan Shatarupa Memiliki tiga putra bernama Vira, Priyavrata dan Uttanapada. Anak Uttanapada adalah Dhruva yang agung. Dhruva melakukan meditasi yang sangat sulit (tapasya) Tiga ribu tahun. Brahma sangat senang terhadap bakti sang Dhruva, sehingga Brahma memberikan anugrah Dhruva kehidupan yang kekal dan ditempatkan di langit sebagai bintang kutub , di dekat rasi bintang yang dikenal sebagai Stana saptarshi atau “Bintang Tujuh”.
Catatan :

1. Manu adalah manusia pertama dalam Hindu. Keturunan dari manu disebut manava. Sama seperti keturunan Pandu disebut Pandava, Keturunan Wangsa Kuru disebut Kurava. Dalam berbagai penelitian yang salah satunya dilakukan oleh peneliti linguistik asal India ditemukan kaitan yang sangat erat antara bahasa Yunani dengan Bahasa Sankrit yang kemudian berkembang menjadi bahasa Tamil. Penelitian tentang hubungan genetik antara bahasa Yunani dan bahasa Tamil memiliki hubungan hubungan erat khususnya kata-kata umum dalam kosa kata inti dari kedua bahasa tersebut. Salah satu kata tersebut adalah kata ‘man’. Di Tamil, ‘mann’ மண் berarti ‘bumi, tanah’. Orang yang hidup di ‘mann’ (bumi) atau orang yang terlahir dari ‘mann’ adalah ‘maanudan’ (dengan bumi).
‘Maanudan’ adalah bentuk ‘pria’. Dalam bahasa Tamil ‘laki-laki’ disebut ‘aan’ ஆண் yang berarti ‘orang yang memerintah’. Sekarang istilah ‘aan’ juga ditemukan dalam bahasa Yunani sebagai ‘Andro’. Kata ini berkembang seperti

maanudan

> mannithan> manithan மனிதன் yang merupakan ‘man’

, Kata

‘manithan’ ini sesuai dengan bahasa Sanskerta sebagai ‘manushan> manush’, yang akhirnya menjadi kosakata Bahasa Indonesia Manusia .

2. Dalam Hindu, Sapta Resi dalam manvantara 1 menduduki posisi yang sangat terhormat dan BERSTANAKAN di tujuh 🌟 bintang yang kemudian disebut sebagai Gugus Bintang Ursa Majoris. Ursa Majoris terlihat sebagai tujuh bintang terang di belahan langit utara yang berguna bagi kapal dan perahu sebagai patokan saat berlayar pada malam hari. Selain itu, kumpulan bintang ini populer juga di Nusantara karena kemunculannya menjadi penanda dimulainya waktu tanam padi. Asterism tujuh bintang paling terang di Ursa Mayor juga dikenal dengan nama Bintang Biduk. Gugus bintang “Bintang Tujuh”, juga dikenal sebagai Lintang Kartika oleh masyarakat Jawa.

3. Druva yang kemudian dianugerahi panugrahan BERSTANAKAN di Bintang Kutub, Atau disebut sebagai Polaris (α UMi / α Ursae Minoris / Alpha Ursae Minoris, kadang disebut juga sebagai Bintang Utara atau Bintang Kutub) adalah bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Bintang ini terletak sangat dekat dengan kutub langit utara.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Hubungan Antara Maya dengan Jiwa

Maya sangat membantu dalam pembebasan jiwa dari keterikatan. Anava (kebodohan/ketidaktahuan/kegelapan), karma dan maya (Prakirti/materi/tubuh) dikatakan sebagai “malas” dari Sang jiwa. Dari ketiga hal tersebut, anava adalah penyebab kelahiran berulang jiwa, dengan mengikis ketidaktahuan sedikit demi sedikit, Maya membantu jiwa terbebas dari ketidaktahuan dan terbebas dari kelahiran berulang. Yang mendorong jiwa melalui selimut kegelapan (Anava) setiap jiwa akan memiliki maya dan karma.

Bagaimana maya membantu jiwa digambarkan oleh kitab kitab Siddhanta sebagai berikut :

“Maya, menurut karma dari masing-masing jiwa, akan menjadi tubuh, alam materi dll. Sampai jiwa mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan Anugrah Tuhan, maya membantu jiwa seperti lampu yang memberi terang kepada manusia mengarungi kegelapan hingga matahari kesadarannya terbit”

Saat Anugrah Tuhan tercapai, kegelapan /anava akan lenyap sama sekali. Hingga saat itu, “lampu” maya membantu jiwa untuk tidak menderita dalam kegelapan anava.

Karena maya (tubuh) membantu jiwa, maka maya bukanlah penghambat namun justru memiliki ‘hubungan baik’ dengan Sang Jiwa . Menganggap maya sebagai penyebab kelahiran berulang kuranglah tepat.
Jadi, meskipun maya membantu jiwa, dengan mengetahui sifatnya yang tidak nyata, maka Maya tidaklah abadi dan pada waktunya akan musnah dan ditinggalkan. Ketika matahari sudah terbit dan menerangi jalan maka lampu lentera tidak diperlukan lagi dan baru kemudian pembebasan bisa tercapai. Apa yang menyebabkan lampu lentera/ Maya/ tubuh / dunia materi sulit untuk ditinggalkan adalah karena ketidaktahuan; dan ketidaktahuan ini disebabkan oleh anava (kegelapan) dan bukan maya. Dimanapun dan kapanpun ada ketidaktahuan, itu harus dipahami sebagai efek anava. Oleh karena itu, maya tidak sempurna; anava-lah yang menahannya sehingga terselimuti kegelapan.

Jiwa mengambil tubuh tertentu hanya karena karma. Apapun bentuk tubuh, pada karma yang semakin menipis dan habis maka jiwa pada akhirnya akan mencapai pembebasan. Oleh karena itu, jumlah kelahiran bergantung pada karma sang jiwa. Jiwa yang memiliki sedikit karma bisa mencapai pembebasan bahkan dalam satu atau dua kelahiran. Tapi jika karma tidak habis – habis bahkan setelah mengalami kelahiran jutaan kali jiwa – jiwa akan tetap mengalami kelahiran kembali.

Seorang siswa di Kelas 3 dapat naik ke Kelas 5 dengan terlebih dulu naik ke Kelas 4, ada juga yang terjadi secara langsung dari 3 ke 5. Dia juga bisa turun kelas, semuanya bergantung pada kecerdasannya. Demikian pula, jiwa yang lahir sebagai tanaman bisa mendapatkan kelahiran Deva, dan seorang Deva mungkin dapat terlahir sebagai seekor anjing atau rubah. Semua tergantung pada perbuatan baik-buruk.

Tanpa tubuh, jiwa tidak bisa eksis. Dan tidak ada tubuh tanpa karma. Bahwa jiwa mendapatkan tubuh yang sesuai dengan karma-karmanya. Karena itu, tidak ada tubuh (bagi setiap jiwa) tanpa karma.

Mungkin aja ada yang bertanya , Jika demikian, jiwa dari kondisinya yang halus, saat akan menempati tubuhnya yang pertama kali, tergantung seperti apa yang tubuhnya , Itu juga tergantung pada Karmas-nya! Bila jiwa berada dalam kondisi halus karena di dalam jiwa juga ada badan halus, anava (kegelapan) yang menguasainya akan merubah keinginan di dalamnya. Keinginan itu menjadi karma dan, sebagai akibatnya, jiwa memperoleh tubuh pada kelahiran pertamanya.
Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa karma hanya diperoleh di tingkat manusia dan bukan kelahiran kelahiran yang lain tidaklah tepat.

Jiwa karena terselimuti oleh Anava, Maya dan karma tidak memiliki kebebasan dalam kelahiran apapun. Satu-satunya Hal di Semesta Raya yang memiliki kebebasan adalah Tuhan. (Ini adalah salah satu kebenaran mendasar dari ajaran Saiva Siddhanta). Ciri khas jiwa adalah bahwa ia mengambil bagian dari sifat yang terbawa dengannya menjadi satu kesatuan. Dengan demikian, ketika jiwa mencoba menyatukan dirinya dengan Pati, ia mendapat sedikit pencerahan dan melakukan perbuatan baik; Saat bergabung dengan Pasas, ia akan melakukan perbuatan jahat. Bergabungnya jiwa dan seberapa banyak kecenderungan dia bersama (Pati atau Pasam) juga disebabkan karena karma masa lalu. Karena itu, jiwa jiwa yang lahir kembali tidaklah memiliki kebebasan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in filosofi

 
Galeri

Indahnya Kematian

Lepaskan dan biarkan aku terbaring,
dan jangan biarkan air matamu mengering
Biarkan aku tenang memasuki loka tanpa berpaling,
dan biarkan daku pergi dalam damai tanpa tangisan nyaring.
Biarkan aku istirahat di ranjang ini,
mataku telah lelah melihat dan menjalani,
seperti layaknya hatiku yang telah lelah berlari,
dan akhirnya sampai pada tempat menyandarkan diri…..
Nyalakan lilin kecil dan bakarlah aroma dupa,
dan taburi tubuhku dengan wewangian Puspa.
Basuhlah rambut ini dan wajah serta rupa,
dan biarkan diriku ini pergi dalam hampa.
Tegakkanlah wajahmu tanpa kesedihan,
sebagaimana timbulnya mentari saat fajar menjelang.
Nyanyikanlah lagu masa lalu kita dengan gemilang,
mengiringi kepak sayap – sayapku yang terbang.
Aku hanya menanggalkan bajuku yang kasar,
yang telah usang dan akan terbuang ke dasar.
Aku hanya ingin pergi dan tidak tersasar,
terhantar oleh bara api yang terus membakar.
Pun tali jiwa ku dengan badan telah putus,
Suratma telah menunaikan tugas dengan lulus.
Menguap sudah selaput kulit halus,
sebagaimana uap embun mengisi kabut dengan tulus.
Hapuslah air matamu …..,
dekatilah diriku dengan senyummu….,
sampaikan selamat tinggal bagiku,
yang akan melanjutkan perjalanan baru….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

Salah Satu Percakapan Terindah Sepanjang Masa

Sebelum perang Kurukhetra terjadi, telah tumbuh kegelisahan pada diri Shri Krishna karena kehadiran Karna di pihak Kaurava. Krishna tidak takut dengan Bhisma yang perkasa, karena dia tahu bahwa Bhisma telah melakukan dosa (dengan menculik tiga putri, yaitu putri Kashi – Amba, Ambika, Ambalika) dan apa yang telah dilakukan oleh Bhisma telah memberinya sebuah bentuk buah Karma dalam wujud Shrikhandi (reinkarnasi – Dewi Amba, dia berjanji agar kelak menjadi alasan kematian Bhisma).
Krishna pun tidak takut dengan kehadiran Drona , karena dia tahu bahwa Raja Drupada telah melakukan sebuah Yagna dan melahirkan Dhristyadhumna, yang akan membunuh Drona di medan perang.
Krishna bagaimanapun merasa khawatir dengan kehadiran Karna , karena Karna hampir tidak pernah melakukan dosa. Jadi Sri Krisna hampir tidak memiliki cara untuk menggunakan buah Karma, dari dosa Karna . Dan karena Karna memiliki shakti Vasava, ini adalah sebuah penghalang besar menuju kemenangan Dharma. Jika Karna menggunakan Vasava Shakti, Arjuna sudah dipastikan akan mati dan jika Arjuna sudah mati, maka kekalahan Pandawa adalah sebuah keniscayaan.
Percakapan antara Krisna dan Karna, mungkin percakapan terbaik yang terjadi diantara manusia selain percakapan antara Krisna dengan Arjuna. Krisna mencoba membujuk dan merayu Karna agar dapat kembali kepada pangkuan Pandawa.
Krishna :
“Tahukah kau, bahwa kau adalah Putra tertua Kunti . Engkau pantas menjadi raja Hastinapura. Ayo, bergabunglah dengan kami. Semua Pandawa akan menyambutmu. Draupadi akan menjadi ratumu dan mengapa engkau berpihak pada Duryodhana?”
Karna :
“Mereka bukan saudara laki-lakiku, dan aku tidak ingin menjadi raja. Terima kasih telah mengatakan bahwa aku adalah Putra tertua Kunti , Aku telah mencari jawaban ini sepanjang hidupku.
Krishna :
Saat ini engkau telah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya , mengapa dirimu tidak ikut bersamaKu, bersama Pandawa ?
Karna :
Dengan segala hormat kepadamu, Khrisna, siapakah engkau, hingga kau berani menentukan dharma apa yang pantas buatku?Aku menyadari dharmaku dan aku melakukannya setiap hari.
Krishna :
Dan apa dharmamu, bolehkah aku tahu?
Karna :
Dharmaku adalah untuk melindungi temanku saat dia sangat membutuhkanku.
Krishna :
Bahkan dengan berpihak dengan kekuatan yang dilakukan Adharma terhadap ratusan ribu pria? Tahukah kau bahwa kehadiranmu di pihak Kaurava memastikan bahwa Dharma harus berjuang lebih keras untuk meraih kemenangan?
Karna :
“Kekuatan itu memiliki alasan tersendiri, aku punya alasan sendiri. Dimana kau berada, ketika Drona menolakku untuk mengajar pelajaran karena aku bukan anggota keluarga kerajaan? Dimana Dharma ketika aku tidak diizinkan untuk bersaing di Swayamvar Draupadi dan aku dihina karena menjadi orang yang berasal dari kasta rendah? Dimana dharma ketika aku harus menjawab pertanyaan setiap orang bagaimana putra seorang sudra menjadi raja? Dharma atau kebenaran dalam hal ini tidak pernah menjadi temanku. Aku hanya punya satu teman dan hanya satu dharma. Yang disebut Duryodhana.
Krishna :
Apakah kau setuju bahwa Duryodana telah melakukan kesalahan dan bahwa dia satu-satunya yang bertanggung jawab atas perang ini?
Karna :
Aku tahu…..
Krishna :
Lalu apa motivasimu, apa yang mendorongmu hingga kau bersedia ikut terlibat dalam perang ini? Pandawa punya alasan, Duryodana punya, lalu apa alasanmu? Apa yang akan kamu dapatkan dari perang ini?
Karna :
Aku ikut perang ini tidak untuk mendapatkan apapun. Setelah Bhisma Putra Gangga, Aku adalah pejuang tunggal yang paling malang di medan perang ini. Aku Berjuang bukan untuk apa-apa . Bhisma harus memenuhi sumpahnya , ia memiliki Pratigya dan karenanya dia terikat dan seolah tak berdaya. Tapi Aku bukanlah orang yang tidak berdaya. Aku bisa pergi kapan saja dari perang ini. Tapi tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak bisa meninggalkan temanku saat dia sangat membutuhkan diriku. Aku tahu dia salah , tapi hal itu tidak ada hubungannya dengan rasa syukur dan terimakasihku padanya.
Krishna :
Bagaimana jika kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan kedamaian? Bagaimana jika perang tidak pernah dimulai? Bagaimana kau akan membayar kembali hutang pertemananmu?
Karna :
Apakah kau bercanda, Krisna? Bahwa ketika Tuhan berdiri tepat di depan pintuku untuk membujukku dalam mengubah pendirian, yakinlah bahwa perang ini tidak akan bisa dihindari. Mengapa Tuhan datang ke pintuku jika pintu damai dapat terbuka?
Krishna :
Baik. Bagaimana jika Pandawa menang dan mereka mengundangmu untuk menjadi raja Hastinapura? Kau harus menikahi Draupadi saat itu, maukah kau melakukannya?
Karna :
Tidak, hal itu bahkan tidak mungkin terjadi. Di akhir perang ini, entah aku yang akan hidup ataupun Arjuna, tidak peduli siapa yang memenangkan perang ini, salah satu dari kami akan mati. Dan sejauh menyangkut Draupadi, itulah satu-satunya penyesalan terhadap dosa yang aku miliki. Aku telah salah menghina dia, memanggilnya pelacur di ruang pengadilan. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Jadi, bahkan jika dia mendekati diriku, aku sangat tidak layak untuknya sekarang. Pada satu titik, mungkin, tapi tidak sekarang dan selamanya. Semua Sudah terlambat.
Percakapan antara Krisna dan Karna adalah sebuah momentum yang penuh keharuan dan dipenuhi oleh aspek indah dari kemanusiaan , untuk dipahami dan digunakan sebagai bahan perenungan. Peecakapan diatas dimulai dari sebuah pertanyaan Siapakah sebenarnya orang tua / Ibunda Karna sebenarnya dan kemudian diikuti oleh pertanyaan paling menyakitkan yang membuat dia kesakitan sepanjang hidupnya
Karna :
“Ibu meninggalkan diriku saat aku dilahirkan. Apakah salahku hingga aku harus terlahir sebagai anak tanpa orang tua? “
Krishna :
Aku dilahirkan di penjara dan kematianku ditakdirkan bahkan sebelum aku sempat membuka mataku di dunia ini…
Hidup itu bisa saja terasa tidak adil bagi siapapun. Sebenarnya, hal itu akan sangat mungkin bisa terjadi karena dalam bentuk manusia inilah, kita semua ada di sini untuk belajar pelajaran tertentu dan penting bagi kita.
Krisna :
Engkau tidak bisa bertindak hanya karena hidup tidak adil bagimu dan karena ada orang yang telah baik menolong dirimu, yang pada dasarnya merupakan ancaman bagi seluruh masyarakat;Dan Pada akhirnya, kau harus memilih antara hati nuranimu di atas orang tersebut. Ini adalah dharma yang benar. Itulah satu-satunya jalan.
Faktanya adalah, baik Karna ataupun Krishna, pada dasarnya mereka mengekspresikan diri mereka dalam bentuk manusia. Dunia ini adalah panggung dan kita semua hanyalah karakter yang memenuhi takdir permainan terbesar sepanjang masa yang kita sebut Hidup. Alam semesta memiliki cara untuk mewujudkan sesuatu dan kita semua selaras dengan jalan jiwa kita.

Mereka yang menyadari dan menyesuaikan diri dengan jalan mereka, dibebaskan dari perbudakan Karma mereka, mereka kembali lagi untuk menyelesaikan pelajaran dan pengetahuan yang masih belum tersedia atau sebagian tersedia bagi mereka.

Dialog antara Krishna dan Karna adalah contoh klasik untuk memahami perbedaan antara ketidaktahuan dan kesadaran. Terlarut dalam rasa penyesalan dan mengasihani diri sendiri tidak akan pernah memberikan solusi apapun. Namun, ketika kita berdiri berkali-kali untuk menahan diri tegak dan mengatakan kebenaran, Anda melepaskan diri dari semua drama yang tidak perlu.

Hidup adalah pelajaran dan seseorang harus menerima semua yang harus mereka alami.
SANG KARNA
Aku bukanlah orang yang jahat,
juga bukan orang yang tak bermartabat,
Pun aku adalah orang yang berhasrat,
Akan hal yang aku yakini dengan erat….
Walau Dunia akan berperang melawanku dengan hebat,
layaknya seekor semut terkepung oleh air bah yang dahsyat,
hingga habis tetes darah dan menjadi mayat
Aku akan tetap menantang Sangkakala dan berdiri dengan kuat,
Walau dirimu sekumpulan Agung para kesatria,
yang mampu membumi hanguskan kurusetra,
Aku kan menghadapi mu tanpa takut dan jera,
Bagiku kehidupan atau kematian adalah hal bisa kukecup dengan mesra….
Aku bukanlah orang yang hina,
yang sebisanya engkau injak layaknya manusia tanpa guna,
Aku hanya memegang teguh sumpah yang kuucapkan disana,
tanpa ragu dan tanpa nyana….
Sumpahku bagiku bukan sebuah masalah…,
Ku tak peduli akan baik dan salah…..,
yang aku tahu bahwa itu adalah hal wajib dan sah,
hingga datang waktu saat aku menyerah kalah…
Ku tak sesali keputusanku…..,

Aku

telah berserah diri pada Penciptaku,
Apapun yang telah aku ambil sebagai jalanku,
Akan ku Raup dan rasa dalam cecapku….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in filosofi

 
Galeri

14 Negara Era Modern, Yang Terlibat Dalam Perang Mahabharata

Perang Mahabharata atau Perang di Kurukshetra terjadi pada tahun 3138 SM (5.155 tahun yang lalu). Perang Mahabharata dimulai pada Mrugashirsha Shukla Ekadashi
(hari ke 11 di bulan ke 2 tahun Hindu), dan berlangsung hingga 18 hari. Nama Kurukshetra diberikan untuk menghormati Raja Chandravanshi Kuru- ke 1 yang lahir di bawah garis keturunan Raja Puru.
Raja Yuddhisthira lahir pada generasi ke 53 setelah Raja Kuru-1. Yuddhisthira adalah raja Chandravanshi terakhir dari Era Dwaparayuga di bawah garis keturunan Dinasti Kuru. Sedangkan Raja Kuru-1 memerintah pada Era Satyayuga. Raja Ikhvaku Sudas (Maha Bhishaka) hidup sejaman dengan Raja Kuru-1. Sedangkan Raja Sudas (Mahabhishaka) kelak akan lahir kembali sebagai Raja Shantanu (ayah dari Bhisma) di kehidupan selanjutnya.
Dalam Perang Mahabharata total ada 14 negara modern (saat ini) yang terlibat. Yaitu :
(1). India:-
(2). Pakistan: –
Kerajaan Sindhu
Kerajaan Keikaya
Kerajaan Madra
(3). Afghanistan: –
Kerajaan Gandhara
Kerajaan Kamboja
Kerajaan Parada
Kerajaan Parasika
Kerajaan Huna
(4) Iran: –
Kerajaan Aswaka
KerajaanYavana
(5) Tajikistan: –
Kerajaan Parama Kamboja
Kerajaan Hara Huna
(6) Balkhan : –
Kerajaan Bahlika
Kerajaan Saka
(7) Turkmenistan: –
Kerajaan Tushara
(8) Irak: –
Kerajaan Pahlava
(9) Kyrgistan: –
Kerajaan Uttara Madra
Kerajaan Uttara Kuru
(10) Tibet: –
Kerajaan Rishika
Kerajaan

Tushara

(11) Nepal: –
Kerajaan Videha
Videha diperintah oleh (Raja Janaka 1), 62 Raja memerintah setelah Raja Siradhwaja (Raja Janaka-2) yang merupakan ayah dari Dewi Sita di Ramayana.Kerajaan Videha ditaklukkan oleh Kerajaan Magadha pada tahun 544 SM yang dipimpin oleh Raja Bimbisara (559- 491 SM). Raja Magadha Ajaatshatru memerintah Kerajaan Videha dari tahun 491 SM sampai tahun 460 SM. Raja Bimbisara hidup sejaman dengan Buddha Gautama (563-483 SM).
Kerajaan Kailasha
Kerajaan Nepa
Kerajaan Kirata
(12) Bangladesh: –
Kerajaan Vanga
Kerajaan Pundra
Raja Paunduraka Vasudeva memerintah di Kerajaan Paundra pada saat Perang Mahabharata. Sri Krishna mengalahkan & membunuh Paunduraka. Pada saat itu Raja Paundaraka telah berhasil menggalang kekuatan dengan membuat persekutuan antara :
1. Raja Magadha Jarashangha: Jarashanga memerintah Magadha selama 112 tahun (3250 SM – 3138 SM). Jarashangha adalah ayah mertua Raja Mathura Kamsa.
2. Raja Chheidya Shishupala: Shishupala dibunuh oleh Sri Krishna.
3. Raja Shroditpur Banasura: Banasura dikalahkan oleh Sri Krishna setelah Perang Mahabharata. Putri Banasura, Usha, menikah dengan putra Sri Krishna, Aniruddha.
4. Raja Rukmiva: – Rukmiva adalah saudara laki-laki Rukmini. Rukmiva adalah saudara ipar Sri Krishna. Rukmiva dikalahkan oleh Sri Krishna.
5. Raja Bhagadutta: – Bhagadutta dibunuh oleh Arjuna dalam Perang Mahabharata.
6. Raja Susharma: – Susharma dibunuh oleh Arjuna pada hari ke 13 saat Perang Mahabharata berlangsung.
Kerajaan Suhma
Kerajaan Pragjyotisha
(13) Myanmar: –
Kerajaan Brahmmdesh
(14) Sri Lanka: –
Kerajaan Sinhala
Kerajaan Trikuta
Kubera adalah pendiri Sri Lanka.
Kubera adalah raja pertama Sri Lanka.
Kubera memerintah Sri Lanka selama 10.000 tahun pada era Satyayuga.
Pada era dan jaman yang sama Raja ke 24 Ikshvakuvanshi Muchukanda (putra Chakravartin Samrata Raja Mandhata & putra dari Raja Yuvanasva-1) sedang memerintah di Ayodhya. Kubera bertempur dengan Muchukanda dua kali. Dalam pertempuran pertama Kubera mengalahkan Muchukanda.
Dalam pertempuran kedua Muchukanda dengan bantuan Brahmmarshi Vashishtha mengalahkan Kubera. Ravana menduduki Sri Lanka dari Kubera. Rahwana kemudian memerintah Sri Lanka. Sri Rama lahir pada generasi ke 56 setelah Raja Muchukanda.
Sri Rama mengalahkan & membunuh Rahwana dalam perang. Sri Rama kemudian menunjuk Vibhishana sebagai Raja Sri Lanka.
Vibhishana memerintah Sri Lanka selama 864,000 tahun (Seluruh era Dwaparayuga).
Vibhishana memerintah Sri Lanka sampai Mahabharata. Saat Yuddhisthira melakukan Ashwamedha Yagnya , Sahadeva dikirim ke arah selatan sampai Sri Lanka karena keahliannya dalam pertarungan Pedang. Sahadeva bertemu dengan Vibhishana dan mereka menjadi teman (mereka tidak berkelahi). Vibhishana memerintah sampai tahun 3102 SM.
REFERENSI:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in Tak Berkategori

 
 
%d blogger menyukai ini: