RSS

Arsip Tag: agama hindu nusantara

Sivaratri..Malam Memahami Dosa, Menganalisa Maya (Tri Guna)

shiva buddha concept

Sivaratri..

Secara umum, maka sivaratri adalah dikenal malam peleburan dosa. Sesuai dengan cerita Lubdaka yang tidak tidur, dan melempar daun Bila, maka malam ini memiliki suatu energi berbeda untuk memahami dan (mungkin) melebur dosa-dosa yang ada.

Sebelum jauh memandang tentang melebur dosa, hendaknya perlu disadari tentang apakah arti dosa itu, darimana sesuatu itu berasal, dan mengapa itu bisa terjadi? Tentunya pemikiran dan konsep dosa sudah banyak dianalisa, namun sesuai dengan tulisan ini, maka perlu dosa dianalisa dengan konsep Maya (Tri Guna)..

Maya (Tri Guna) atau prakerti, adalah sebuah sifati semesta yang hadir bersamaan dengan hadirnya purusha, atau penciptaan dunia ini. Maya hadir saat Nirguna Brahman (Paratman-Parama Siva) memanifestasikan kehendakNYA untuk menhadirkan dunia serta memiliki Sifati, yaitu Saguna Brahman. Saguna Brahman sendiri terdiri dari Cadu Sakti yaitu Prabhu,Wibhu, Jnana, Krya Sakti. Dan dengan kuasaNya itu, maka Purusha mengadopsi dan mengolah Maya menjadi dunia beserta isinya. Maka sumber dari Tiga Sifati Semesta itu adalah berasal dari Brahman saat memiliki sifatiNYA.

Prakerti atau Maya itu sendiri terdiri dari tiga bentuk(kualitas), yaitu Sattwika, Rajasika, Tamasika. Yang berturut-turut adalah Kebijaksanaan, Aktif, dan Pasif dari semesta. Dalam Bhagawadgita disebutkan :

Bhagawadgita III-27..

Prkertih kryamani gunaih karmani sarwasah,

ahankara-wimudhatma kartaham iti manyate

Artinya : Sementara segala kegiatan kerja dilakukan oleh guna (sifat) dari prakerti,

Ia yang dibingungkan oleh rasa keakuannya berpendapat bahwa .”Akulah si pelakunya”.

Kemudian di Bhagawadgita VII-12

ye caiwa sattwika bhawa rajasas tamasas ca ye,

matta eweti tan widdhi na tw aham tesu te mayi

Artinya : Dan sebagaimana pun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattwik), penuh nafsu (rajas), atau pun malas (tamasa) ketahuilah semua berasal dari AKU, AKU tak disana, tetapi mereka ada pada (KU.

Maka betul sekali ketika dikatakan bahwa tidak ada satu pun mahluk di dunia yang dapat terlepas dari Maya, karena itu berasal dari Prakerti dan pula mempengaruhi purusha itu sendiri. Seperti yang juga dijelaskan pada

Bhagawadgita XIV-5

sattwam rajas tama iti gunah prkrtisambhawah,

nibadhnanti mahabaho dehe dehinam awyayam.

Artinya : Tiga sifat (Guna),Sattwam (kebaikan), rajas (bernafsu), dan tamas (kelembaman) berasal dari alam (prkerti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabaho (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam di badan.

Berdasarkan keseluruhan konsep Tri Guna(Maya), sebagai prakerti yang akan selalu membelenggu jasmani. Membelenggu jasmani dan merupakan suatu kesadaran bahwa manusia atau mahluk hidup, tidak bisa lepas dari tiga sifati semesta itu sendiri. Dalam upanishad sendiri disebutkan bahwa Manusia yang ingin menuju kelepasan, yang notabene adalah tujuan akhir, untuk mendapatkan sebuah pencerahan adalah dengan cara memahami tri guna (maya) itu sendiri.

Dosa atau suatu karma buruk, adalah terjadi karena pengaruh guna rajas atau tamas yang membelenggu. Seperti guna rajas yang cenderung keras aktif penuh hawa nafsu, maka akan membawa karma buruk, karma buruk yang menghasilkan hasil dari karma yang buruk pula. Tamas sendiri yang berarti gelap, adalah guna yang ktika terlalu dihirup, maka akan menghasilkan kesengsaraan belaka. Hal ini adalah mutlak, bahwa ketika suatu prilaku atau pikiran atau perbuatan yang mengarah pada guna-guna itu, maka secara otomatis semesta(yang terdiri dari Maya Prakerti) akan menyimpan itu dan bereaksi atas tri guna yang dilaksanakan.. Kemudian akan memberi pengaruh kembali sesuai guna yang ada/dilaksanakan. Tidak ada yang sanggup sembunyi dari itu..

Karma atau Perbuatan, adalah tentu akan terliputi pula oleh Maya, ktika melaksanakan sesuatu itu, maka Maya akan bereaksi seusai aturan2 semesta itu sendiri. Rekaman-rekaman tentang Hasil Karma, entah buruk atau baik, akan selalu menjadi memori yang tersimpan di Maya semesta..

Ketika masuk dalam konsep Suksma Sarira, maka mencapai kelepasan , (kesadaran Atma-Antahkarana sarira), maka pemahaman akan seluruh pikiran, perkataan, dan prilaku itu akan sangat mempengaruhi jalan kelepasan (pengetahuan ttg Atman Brahman Aikyam) dimana suksma sarira yang terdiri dari Citta Buddhi Manas Ahamkar akan menjadi memori-memori untuk menuju tempat pengadilan (di mana pun itu) di semesta. Bentuk pengadilan di semesta dapat dikatakan sebagai Karmapala, Sancita, Pradabda, Kryamana. Apa yang ditabur, itu yang dituai.

Dalam hal ini, ahamkara (ego) sangat terpengaruhi oleh Maya, ketika tanpa Buddhi yang mengembangkan guna Sattwika, maka Ego akan dipengaruhi guna Rajas dan tamas. Dan Manas atau pikiran atau penguasa Inderawi akan menyesuaikan dengan Tri guna yang tersampaikan itu. Citta itulah mengandung unsur memori apa pun tentang Hasil Karma itu sendiri. Prakerti sangat mempengaruhi suksma sarira, yang menjadi awal terciptanya dosa itu sendiri.

Pemahaman akan Tri Guna sebagai garis besar penentuan karma, adalah dapat dipahami sesuai dengan Wraspatti Tattwa. Di mana manusia itu lahir dari keseimbangan perbuatan Sattwika rajasika Tamasika, dan seperti sloka sarasamuscya yang mennyebutkan :

Sarasamasucaya 2

Manusah sarwabhutesu varttate vai subhasubhe,

asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah,

yang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk; leburlah dalam perbuatan baik,

segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahala) jadi manusia.

Dikatakan pula bahwa di saat menjadi manusia, maka ketika melaksakan tri guna, yaitu berturut-turut:

1.Sattwika dominan, maka akan menuju kelepasan.

2.Rajasika dan Sattwika dominan, maka akan mendapat sorga.

3.Rajasika dominan maka akan menuju Neraka.(tanpa Sattwika).

4.Tamasika Rajasika dominan maka akan numitis menjadi hewan dan tumbuhan.

Jadi jelaslah bahwa dosa itu sebenarnya berasal dari karma buruk yang dipengaruhi guna Rajas serta Tamasikam. Seperti pula Sarasamucaya di atas, bahwa melebur karma buruk adalah dengan melaksanakan perbuatan baik. Perbuatan yang Sattwikam adalah perbuatan bajik, bijak dan memberikan pencerahan kepada yang lainnya. Kemudian secara garis besar perbuatan Rajasik adalah perbuatan aktif penuh nafsu jahat dan keras. Namun ketika Sattwika jua memengaruhi, maka Ambisi yang besar dari Rajasikam akan dikendalikan untk melaksanakan dharma itu sendiri. Tentu dalam swadarma sebagai jalan karma marga, bahwa Kama dan Artha yang didasari dharma adalah konsep Sattwik yang mendasari Rajasika Guna. Kemudia tamasikam adalah gelap lembam dan malas, artinya lebih baik aktif dan berambisi, namun dikendalikan sattwika guna. Ketika kegelapan(Tamas) didasari dengan Rajas, maka yang terjadi adalah kekerasan karena hawa nafsu tinggi, dan ego yang melenyapkan kebenaran dharma itu sendiri.. Hakikat manusia tidak disadari pada kondisi seperti itu, maka sepantasnyalah IA sesuai dengan pikirannya yg tidak digunakan (bagai hewan), akan membuat dirinya menjadi hewan itu sendiri..Ini adalah konsep karmapala dosa berdasarkan tri guna (maya)Prakerti..

Disadari juga sebagai kesimpulan, bahwa Karma Buruk tentunya sangat disadari ada. Namun bahwa seluruh perbuatan buruk akan dilebur dengan perbuatan baik. Karma buruk itu sendiri “yang terdaftar” di Maya duniawi, akan pula terkoneksi dengan pola pikiran dan kesadaran dari individu itu sendiri. Tidak ada konsep yang pasti bahwa perbuatan A akan mendapat karma B, namun perbuatan yang Sattwik akan menghasilkan karma baik, bahkan hasil karma itu sendiri, tidak menjadi pikiran, dan diserahkan kepada Hyang Kuasa. Karena ketika guna Sattwik telah mengada dan selalu ada, menjadi keseharian dan bahkan menjadi pola pikir, maka tentunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ke masa yang akan datang. Sembari memberikan energi pada rasa syukur sepanjang masa yang berkenan diberikan..

Om tyambakam ya ja mahe, sugandhim pusthi wardhanam,

uvarikamiva bhandanat, mrityormuksiyas mamrtat..

Om santi santi santi Om..

Salam Guswar

Siwaratri Jan 19 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Sebuah Benang Merah Nusa Antara…

Aum Tamasoma Jyoitr Gamaya, Mrtyorma AMremtam Gamaya, MahaKsampurna Ya na Namo Swaha Namasiwaya.OM..

shiva anataraja

Nusa ANtara adalah sebuah negeri yang penuh rasa yang rahasya. Rasa yang menjadikan nikmat2 kejagahtan Hyang Seperti Manik Manik Antarswaha buana. Sebuah bangsa yang kaya yang tiada kekurangan yang selalu akan jaya selamaNYA bagi kepada mereka yang Yakin dan Percaya…

Nusa-Antara sebenarnya adalah benua yang indah dan melenyap sirna, namun akan ditunggu-tunggu kedatanganNYA selalu. Bagaimana di Nusa-antara dahulu kala, adalah sebagai wilayah yang penuh kesemestaan dan keagungan dari ilahiah, baik sebagai bapa angkasa atau baik bagi ibu parthiwi..Seperti dahulu MAhenjo Darro Ibu pertiwi, lalu menuju sarkophagus,dan wilayah-wilayah angker namun bersahadja di situs2 purba-khala di seluruh nusa-antara..

Tidak dipungkiri jaman ini adalah jaman dimana hedonisme adalah hal biasa, dimana kaum carwaka meraja-lela dan merupakan yang biasa saja ketika melihat keterikatan dari maya dunia. Dan ketika itu tidak dicari dengan cara paling bijak dan paling bajik, hanya akan membebani keturunan sampai bahkan ketujuh turunan..Kenapa harus tujuh?, karena itu sekitar 500 tahun..(dipersilakan menghitung sendiri)…Tetapi 500 tahun hanyalah sekejap seperti 5 menit brahman…

Terlepas dari itu, maka jaman akhir telah dikatakan diramalkan dan disejogjanya diyakini, dipercayai..Dan terkadang hendaknya di paksakan kepada mereka yang berada di alam bawahan yang terkena kendali mahya dunia (sattwam rajasikam tamasikam)..namun itu adalah kesunyatan ketika utpeti sttiti pralina menjadi bermakna oleh karena pengaruh triguna tersebut..Dan hanya pedang kebajikan pedang kebangkitan pedang kebijaksanaan, mampu mengendalikan maya dan menghancurkan semua yang tidak sejalan dengan maya di dunia satya yuga dan kertha yuga.

Lihat dilink ini :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/29/perwujudan-dan-sujud-pada-suatu-kekuatan-agung-akhir-jaman-kalvatar/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/03/16/realitas-kebenaran-maujud-apa-itu/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/11/bagaimana-beliau-bisa-banyak-nama/

Dan sebuah keniscayaan akan kebenaran, ketika melihat bagaimana dahulu seperti ramalan sabda palwan noyo genggong oleh brawijaya dan kisah mereka..Ketika itu brawijaya memiliki dua penasehat yaitu Dang Hyang Smaranatah (hyang semar) dan Sasuhunan Kalijaga…Mereka adalah sabdo palwan dan noyo genggong…Dan ketika kutukan pastu itu terjadi, maka lenyap sabdo palwan dan masuk ke dalam alam bhur bwah dan swah… Keitka itu muncul pula Sang Mahesa Jenar, yaitu yang langsung mampu mendalami keislaman sampai rahasia mahrifat.. Dan Beliau dijuluki Syeh Sthiti(waisnawa saktya) Jenar. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Anak dari Sabdo Palwan itu. Banyak kisah waskita dan kesahajaan Beliau.. Dan akhirnya setelah usai di jawa, Beliau menuju Bali sebagai penyebar agama tirtha, lalu sampai ke lombok sebagai penangkulturasian sinkretis islam watu telu…Dan begitu pula akhirnya moksah IDa di wilayah uluwatu..

Sabdo Palwan sendiri identik dengan Kewaskitaan Nabi Nusantara yaitu Nabi Khidir. Yang memiliki kemampuan menghentikan Kala (waktu), memiliki kemampuan untuk menyerang dengan PanjakNya kasat mata (baca : dibali adalah Ida Ratu Niang – Sakti dari Dang Hyang Dwijendra, Di laut selatan Ratu Kidul)…Dan begitu lah ketika memang sudah saatNya pralaya,maka sesungguhnya yangterjadi adalah:

Bhwadgita ..

Bagaimana dikatakan ketika dunia pada cengkraman adharma (kebiadaban, kejahatan, kekerasan, kehilangan sifat manusia) telah bertambah, Maka Aku akan datang dari jaman-ke jaman menegakkan kebenaran (dharma,kebaikan, kebijaksanaan, kebajikan–universal) dari cengkraman Adharma…

(sambhwami yuge-sambhawi yuge)

Itu akhirnya bagaiman surga neraka ada di alam sana adalah benar adaNya.

Baca :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/12/24/manusia-akan-kemanasetelah-kematian-wraspatti-tattwa/

Dan moksartam jagaditham satya ning LAku sabda manah, Maujud hring Ya ca Iti DHarma, mrityorma Amrtam Gamaya..Ksama sampurnah Ya namo nama swaha..

om Santi om

Om rahayu om

om Raharja om

Om awignamastu namosidham…

..Santi santi rahayu rahsya sahadja..

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Kesatuan Tujuan Hindu Nusantara…

20140317-020654.jpg

Om parama siwa, sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya…

Semua adalah berkat dan kebertujuan hidup ini adalah untukMu..

Hindu nusantara, semua telah mengenalntentang cerita sejarah mistis sabdo palon, semua telah memahami kedekatan moksah mahrifat, semua telah terbuka tentang kebhinekaan, dan dalam lingkup wadah pancasilaisme di bumi nusantara ini..

Sangat dekat dengan itu adalah, bagaimana bahwa gaung tentang hindu nusantara semakin membesar dan telah masuk ke relung relung sanubari para pemelukNya..Patut disadari adalah kebhinekaan (dalam hal ini hindu) menjawab pasti bahwa apa yg telah ada, apa yg berproses untuk ada, dan yg akan ada..adalah sebuah bagian keindahan jihwani dari pemeluk hindu sendiri.. Kepengetahuan tentang tattwa brahman (sbagai keesaan), pengetahuan tentang atman(pembelajaran kemanunggalan-moksa jagaditha), pengetahuan tentang karmapala(yg sangat lekat pada keseharian dan mutlak teryakini sadar atau tidak), samsara(yg spirit keleluhuranNya penuh ada pada ajaran2 yg bersahaja), dan moksah(kebersatuan akhir denganNya di dunia atau setelah dunia)…benar itu pun pedoman dasar bagi hindu semesta dan nusantara..

Menyelam pada etika susila, maka keseharian yg ada dikombinasikan dengan keempatian sesama, menyeluruh berdasarkan pawongan…tri kaya parisudha..dimana akan sangatlah berat ketika terjebak dalam kondisi jaman kali ini…manacika yg tidak berprasangka buruk, wacika yang tidak mengutarakan kebencian, dan kayika yg perbuatannya mengarah pada keagungan dharma….apalagi dengan musuh yg terdekat adalah diri…kama,krodha,matsarya,mada,moha, dan lobha…masih banyak etika lagi yg bisa dijelaskan, namun etika adalah musuh terbesar manusia saat ini, apalagi kemanusiaan dan keberadaban manusia semakin tidak terkontrol..ini adalah hyang utama sebagai tujuan yg patut dipikirkan (dngan mengelola pikiran), disebarkan (dngan mengatakan secara baik, benar dan indah), dilakukan (dgan prilaku yg tercipta dari kedua seblumnya)…ini keduaNya masih dalam wilayah universal dan harus atau hendaknya menjadi kebersatuan bersama hindu nusantra…

Yang menarik adalah kajian ketiga tentang upacara ritualisme…ini yg unik dan indahnya terjadi dan terlaksana baik sebagai kebhinekaan itu sendiri di hindu nusantara…namun jelas itu adalah wilayah tattwa dan susila yg bercermin dari ini…desa kala patra adalah bagian penting dari upacara hindu nusantara, hindu di bali dengan bebantenan, hindu di jawa dengan bentuk simbol lain, dan dari india asalnya malah digambarkan dengan yantra…itu keunikan yang berbhineka…bahkan mendegar sedikit berita takjub(bagi saya) bahwa candi difungsikan kembali…..bagi saya itu indah asalkan sisi kuning telur(tattwa), putih telur(susila) menjadikan kulit telur memiliki makna…telur akan busuk tanpa kulit yg bagus, putih telur akan terjaga, dan itu smua brmakna dan berarti pada tattwa sendiri…. Lainnya adalah bahwa terkadang upacara itu sangat tidak dipaksakan, dan berdasar rasa..karena hindu sendiri adalah agama rasa…ketika terjadi pergolakan batin, maka tidak ada kecocokan…namun pembelajaran terus menerus akan menghasilkan kualitas yg tentunya memuaskan…apa lagi pembelajaran dari saudara-saudara yg telah mengenal hindu secara mendalam…. Baik dari filsafat, etika upacara…. Itu merupakan keindahan kedamaian keceriaan kerahayuan yg betul2 suci …. Apalagi bagi mereka yg tersadar, akan keindahan hindu itu sendiri…baik dari daerah mana pun juga…rangkulan itu akan menjadi ajakan bersama bagaiamana bahasa akhir hindu nusantara
Santi rahayu…

Lalu dalam renung saya melihat barisan ramalan itu, bahwa ..indah yang hyang leluhur berikan pada kita…
Yang lebih indah saya rasa adalah..dalam tenang pun itu akan tercapai..

Saat ini, atau masa depan…

Salam gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: