RSS

Arsip Tag: ajeg bali

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah (Upacara)

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah Upacara

 A.Pola Pikir tentang Sampah (upacara)

Saat kita dihadapkan dengan kata sampah, maka yang ada dalam pikiran adalah kata “jijik” dan “kotor”. Hal itulah sebenarnya yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap sampah itu sendiri menjadi meningkat. Padahal sampah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri, sebagai sesuatu hasil dari pekerjaan tertentu yang tidak bernilai atau ampas-ampas yang tidak digunakan lagi.  Sampah adalah keseharian hidup manusia, bahkan sampah adalah tidak terpisahkan pula pada hubungan dengan kekuasaan Ilahi itu sendiri. Seperti pula bagaimana Tri Hita Karana, yaitu Parahyangan, Pawongan, Palemahan.

Dalam hubungan yang selaras dengan lingkungan (alam) atau Palemahan, maka hendaknya disadari bahwa untuk menjaga suatu lingkungan agar tetap bersih dan senantiasa asri yang mencakup sebagai suatu kebersihan diri itu sendiri. Dalam mitos-mitos tentang Betara Kala, disebutkan bahwa saat itu Dewa Kumara dikejar-kejar dan lolos karena bersembunyi di dalam gundukan sampah. Maka Betara Kala pun mengutuk orang-orang yang membuang sampah sembarangan agar mendapatkan penyakit menular (www.balipost.co.id). Hal itu secara logika bisa dikatakan onggokan sampah adalah sumber penyakit yang membahayakan manusia sekitarnya. Di samping itu menurut pemahaman Tri Guna (Sattwam, Rajas, Tamas), maka manusia yang berlebihan dalam tabiat tamasnya, akan bersifat atau berkepribadian awut-awutan, tidak terurus, dan malas (http://www.hukumhindu.or.id/susila-dalam-agama-hindu/), hal ini sangat berhubungan dengan tingkat kepedulian kebersihan akan lingkungan itu sendiri.

Jika dilihat pada Tiga Kerangka Agama Hindu, maka Tattwa serta Susila diangkat atau dijalankan melalui Upacara. Upacara yang ada adalah sebagai bagian dari pembayaran tiga utang (Tri Rna) yaitu kepada Dewa, kepada Pitara, serta kepada Rsi. Dan kewajiban yang ada dalam pembayaran hutang itu, dijalankan dengan Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Maka Panca Yadnya ini jika dilaksanakan memerlukan berbagai sarana-sarana, dalam hal ini adalah bebantenan itu sendiri.  Dan pada akhir dari upacara, maka lungsuran atau prasadam sisa upacara akan dinikmati oleh yang menghaturkan yadnya tersebut.  Hal ini seperti juga dikatakan pada Bhagawadgita sloka III-13 yaitu,

 

Bhagawadgita III-13

“yajna-sistasinah santo mucyante sarwa-kilbisaih,

Bhunjate te tw agham papa ye pacanty atma-karanat”

Artinya : Orang-orang baik yang makan sisa persembahan kurban akan terlepas dari segala dosa, tetapi orang-orang jahat yang mempersiapkan makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya mereka itu makan dosa”

Jadi pada intinya adalah bahwa sisa-sisa persembahan dari kurban jika dimanfaatkan sebenarnya akan terlepas dari segala dosa. Maka hasil dari upacara pun sebenarnya adalah akan menjadi suatu manfaat tertentu jika dengan sadar kita pahami bahwa tidak ada satu apa pun yang tidak bernilai, walaupun itu adalah dalam bentuk sampah.

Dalam Manawa Dharmasastra IV.56 juga disebutkan bagaimana hendaknya agar tidak membuang sampah sembarangan yang dijelaskan sebagai berikut :

Manawa Dharmasastra IV.56

Napsu mutram purisam wa sthiwanam wa samutrsjet, amedhya lipya     menyadwa lohitam wa wisaniwa”.

Artinya : Hendaknya ia jangan kencing atau berak dalam air sungai, danau, dan laut, tidak pula meludah, juga tidak boleh berkata-kata kotor, tidak pula melemparkan sampah, darah, atau sesuatu yang berbisa atau beracun.

Sloka ini juga menyarankan bagaimana baiknya untuk tetap menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah.

  1. Sampah Upacara serta Nilai yang Terkandung di dalamnya.

Dalam pelaksanaan upacara Yadnya, terdapat sindiran dari umat lain yang menyatakan bahwa cara persembahyangan umat hindu hanya menghasilkan sampah yang menggunung. Hal itu sebenarnya tidak dapat disanggah jika melihat berapa jumlah volume sampah sisa dari hasil upacara itu sendiri. Sebagai contoh pada berita di salah satu stasiun TV  menyebutkan bahwa sampah yang dihasilkan pada hari raya galungan adalah sebanyak 5000 meter kubik atau setara dengan 714 sampah yang diangkut oleh truk. Coba diperkirakan bagaimana pertambahan jumlah sampah pada hari raya yang lain. Memang dalam hal ini sudah dilakukan pembuangan sampah menuju TPA-TPA yang ada. Namun mari kita lihat bagaimanakah sampah-sampah yang ada di pantai misalnya, semakin tidak terlihat manis di mata.

Sebagai gambaran data biro pusat statistik yang menyebutkan bahwa di kawasan perkotaan baru 11,25 % sampah yang dihasilkan diangkut oleh petugas pemerintah, sisanya 63,35 % sampah ditimbun/dibakar, 6,35 % sampah dibuat kompos, dan 19,05% sampah dibuang ke kali secara sembarangan. Sementara itu, di kawasan pedesaan, sebanyak 19 % sampah diangkut petugas, 54 % ditimbun atau dibakar, 7% dibuat kompos, dan 20 % dibuang di kali sembarangan. Dari statistik di atas menggambarkan bahwa pengelolaan sampah secara salah sekitar 20% masih dilakukan, yang artinya sebagai cikal bakal penyakit (kutukan Bhatara Kala) serta sifat ketamasan. Namun jika diletakkan suatu pikiran bahwa sampah, dalam hal ini sampah upacara sebagai juga suatu yang dapat dimanfaatkan atau sebagai lungsuran(prasadham), maka sebenarnya sudah terdapat 7 % yang secara sadar menyebutkan sampah bisa bernilai guna sebagai pupuk kompos untuk melestarikan kehidupan serta lingkungan itu sendiri.

Sampah upacara pada dasarnya dapat dimasukkan sebagai sampah organik dan sedikit pula terdiri dari sampah yang anorganik. Sampah organik adalah sampah yang bisa terurai dan mudah membusuk, yang diantaranya sisa makanan, sayur, daun-daun kering, bunga, dan sebagainya. Pada upacara maka sampah organik adalah bunga, janur, buah, dupa, serta bagian yang bisa membusuk lainnya. Lain pula dengan sampah unorganik yang tidak dapat terurai. Sebagai contohnya adalah plastik, kertas, plastik mainan, kaleng, dan sebagainya (wikipedia). Pada intinya yang diperlukan untuk mendapatkan suatu nilai tambah dari suatu sampah adalah dengan melakukan pemisahan terdahulu antara sampah organik dan sampah unorganik tersebut.

Pemanfaatan sampah organik yang diubah menjadi pupuk yang juga bernilai tambah, adalah hal yang bisa dilakukan. Karena pada dasarnya penggunaan pupuk dari organik lebih bermanfaat dan mengurangi sifat-sifat kimiawi yang membahayakan daripada menggunakan pupuk kimia itu sendiri. Dan permintaan yang cukup tinggi di pasar, menyebabkan harga dari pupuk ini per kilonya mencapai Rp.10.000,00. Dan dalam jumlah banyak (sekitar 1 ton) harganya juga menyesuaikan menjadi Rp.5.000,00.  Pupuk juga bisa digunakan sendiri untuk perkebunan atau taman. Jadi nilai tambah dari sampah yang diyakini adalah nol, menjadi lebih bermakna secara ekonomis, serta bernilai pula dari sisi kebersihan dan menuju Bali go-green 2013 sesuai dengan program pemerintah.

Untuk awalnya, maka pemanfaatan sampah ini bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut (Susetya) :

  1. Pengumpulan sampah organik : Semua sampah organik berbentuk dedaunan, sampah sayur, buah dikumpulkan. Untuk sampah yang berukuran besar, dipotong-potong terlebih dahulu agar bisa masuk ke dalam kantong plastik.
  2. Pemasukan sampah ke dalam kantong : Setelah selesai dipotong, secara bertahap masukkan sampah ke dalam kantong. Selanjutnya siramkan larutan promi secara merata. Masukkan kembali selapis sampah 10 cm, siramkan kembali larutan promi. Ulangi langkah sampai kantong plastik penuh.
  3. Inkubasi : Proses inkubasi dengan menutup rapat kantong plastik dengan tali plastik. Biarkan kurang lebih 3-6 minggu hingga kompos matang.
  4. Panen kompos : Setelah matang, bisa langsung digunakan. Namun untuk hasil lebih berkualitas, sebaiknya kompos matang dikeringkan, dicacah, dan diayak. Sehingga pupuk yang dihasilkan tidak berbau dan layak jual.

Jadi penggunaan atau pemanfaatan menjadi kompos adalah suatu yang termasuk dalam wilayah melestarikan palemahan (lingkungan), sebagaimana pula jika dilakukan secara profesional, maka akan menambah atau membantu perekonomian selain pula membantu pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang asri.

  1. Manfaat dari Budaya Pengelolaan Sampah

Sampah sebenarnya adalah suatu yang memiliki nilai jika bisa dilakukan pengolahannya menjadi sesuatu yang berguna. Dalam hal ini di daerah denpasar sendiri sudah berdiri bank sampah di jalan Noja. Sebagamana telah berjalan dua tahun (2010) dan menjadi tempat pengubahan sampah menjadi suatu yang bernilai ekonomis. Selain itu pula seperti namanya yaitu “bank”, ada sebagai tempat menabung sampah secara berkala, dan diuangkan sehingga bernilai ekonomis baik bagi yang menyetorkan sampah serta bagi yang manajemen yang mengelolanya.

Lain pula bagaimana pengembangan pengelolaan sampah di temesi. Di samping pula sebagai tempat yang memproduksi pupuk kompos serta biodiesel, Temesi juga mengambil bagian sebagai pusat pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang lebih indah baik itu di daerah Gianyar, atau keseluruhan Bali pada umumnya. Dan kompos yang dihasilkan di Temesi ini juga diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan para petani secara keseluruhan.

Profesionalitas pengelolaan itu pun, bisa dicontoh dari sekeliling wilayah masyarakat, apakah itu banjar, desa, atau bisa dalam pengorganisasian tempat persembahyangan suatu daerah di Bali. Selain pula dibantu dari swasta, pemerintah untuk menunjang kebersihan serta keasrian seperti pula pemberdayaan desa adat itu sendiri.

Dalam suatu pola pikir masyarakat, maka sampah adalah dianggap sebagai suatu yang terpinggirkan dan menjadi posisi tersudut atau marginal. Padahal sampah dalam hal ini bisa jadi merupakan suatu anugerah pula bagi masyarakat itu sendiri. Baik itu seperti sampah sebagai akibat hasil dari upacara yang dilakukan oleh umat dalam melaksanakan prosesi panca yadnya-nya. Sekehendaknya adalah posisi marginal itu diberikan ruang pemikiran untuk menjadi suatu yang berguna di kedepannya. Manfaat untuk lingkungan dalam hal ini Bali itu sendiri adalah menjadi tujuannya.Di samping pula menyongsong Bali untuk menjadi Bali yang selalu bersih, aman, lestari, dan indah.

 

 

Daftar Pustaka

Arifin, Togar Silaban. 2008. Memaknai Nilai Ekonomis Sampah. Pada website http://togarsilaban.wordpress.com

Gede Dharma Putra. 2010. Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan yang Berasal dari sampah, . Pada website http://kgdharmaputra.blogspot.com/

Handayani Trisakti. 2010. Dekonstruksi dalam Penelitian Cultural Studies. Pada website trisakti.staff.umm.ac.id/files/2010/03/Dekonstruksi1.pps

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuscaya (dalam teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna). Penerbit Paramita Surabaya.

Maswinara, I Wayan (penyadur). 1997. Bhagawadgita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Penerbit Paramita Surabaya.

Pudja G.,M.A. , Rai Sudharta, Tjokorda, M.A. 1996. Manawa Dharmacastra (Weda Smreti Compendium Hindu). Penerbit Hanuman Sakti Jakarta.

Putrawan. 2010. Permasalahan Sampah Sisa Upacara. Pada Website http://majalahhinduraditya.blogspot.com/

 

Susetya Darma,S.P. ____. Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik (untuk tanaman Pertanian Perkebunan). Penerbit Pustaka Baru Press.

Sumada Ketut. 2012. Pemanfaatan Limbah “Canang” (Bunga) di Pura. Pada Website http://ketutsumada.blogspot.com/

Syahyuti. 2011. Teori Dekontruksi Derrida. Pada website  http://kuliahsosiologi.blogspot.com/

___________. 2012.  Volume Sampah Galungan Setara dengan 714 Truk, www.balipost.co.id

___________.____. Susila dalam Agama Hindu. Pada website http://www.hukumhindu.or.id/

___________.____.  About Our Compost. Pada website http://www.temesirecycling.org/

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Agustus 2012 in agama, budaya

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Ngaben Massal dalam Konteks “Ajeg Bali”.

Ngaben Massal dalam Konteks “Ajeg Bali”

             Upacara Ngaben sebenarnya adalah upacara yang sangat dikenal di Bali, dan bahkan dikenal juga oleh umat lain atau juga sampai dikenal oleh dunia. Ngaben pada dasarnya adalah suatu upacara yadnya yang menjadi bagian dari pitra yadnya. Pitra yadnya yakni adalah upacara yang berhubungan dengan pitara atau roh leluhur. Upacara ini merupakan upacara yang mengantar kerabat yang meninggal agar bisa berjalan lancar dalam kehidupan di alam setelah hidup ini.

Bagaimana ngaben itu menjadi begitu penting, pada dasarnya adalah merupakan hutang yang wajib dibayar oleh keluarga kepada diri yang meninggal. Di samping itu pula juga merupakan lima kewajiban yadnya (panca yadnya) dari umat di kehidupan dunia. Untuk pentingnya ngaben itu sendiri dapat dilihat pada Tattwa Loka Kretti :

“Adapun sawa yang tidak diupacarakan (ngaben), atmanya akan berada di Neraka, bertempat di tegal yang sangat panas, yang penuh dengan pohon madhuri reges, terbakarnya oleh sengatan matahari, menangis tersendu-sendu, menyebut anak cucunya masih hidup, katanya Oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, saya dulu punya tidak ada yang saya bawa, kamu juga menikmati, pakau baik-baik, tidak ingat sama ayah-ibu, Air tirtha pengentas, pemastuku, semoga kamu umur pendek, demikian kutukannya. Dasar-dasar pikiran tersebut menjadi landasan adanya upacara ngaben tersebut “

Untuk itulah agar Atma yang terhalang perginya, perlu badan kasarnya diupacarakan untuk mempercepat kembalinya, kepada sumbernya di alam, yakni Panca Mahabhuta. Demikian juga bagi sang Atma dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitara dan memutuskan ikatan ke badan kasarnya. Proses inilah disebut ngaben (Wikarman, hal 18).

Kembali lagi ke jaman sekarang, di mana globalisasi telah menjadi bagian sehari-hari. Peningkatan dari suatu kebutuhan jelaslah akan semakin dibebani oleh masyarakat. Seperti kebutuhan sekolah anak, kebutuhan keluarga, atau mungkin pula kebutuhan kesehatan. Bergeraknya kehidupan, terutama di bidang ritual keagamaan juga menjadi suatu pengeluaran penting dari umat hindu di Bali ini. Menurut Sukarsa (2009,hal 55) disebutkan bahwa pengeluaran ritual yang didapat di Gianyar berdasarkan Tri Hita Karana adalah bahwa Hubungan manusia dengan manusia ( manusa yadnya, undangan, gotong royong) sebesar Rp. 4.791.693,47 (56%). Dan untuk Dewa Yadnya atau hubungan manusia dengan tuhan adalah 42% serta manusia dengan lingkungan adalah 2 %. Jadi total adalah 8 jutaan per tahun. Itu adalah suatu gambaran pengeluaran ritual di Bali.

Bali sebagai suatu daerah pariwisata, sebenarnya sangat terkenal di seluruh dunia. Terutama juga adalah bagaimana pariwisata bali menggunakan ikon pariwisata budaya. Hal itu adalah suatu kebanggaan namun juga suatu beban kalau memang tidak disebut keharusan bahwa semakin meningkatnya pariwisata menyerap tenaga kerja yang pula mengurangi waktu untuk keperluan lainnya. Lalu bagaimana yang tidak mendapatkan kue pariwisata itu. Darimana ia akan mendapatkan penghasilan untuk melaksanakan ritualnya, serta bagaimana mereka yang sibuk untuk melaksanakan kewajiban dalam meluangkan waktunya. Di satu sisi para wisatawan tentunya menginginkan kebudayaan Bali akan selalu ada selamanya.

Akhirnya ngaben massal muncul dan menjamur, walaupun dapat dikatakan sudah lama menjadi suatu sisi yang mungkin memberi angin yang segar. Sebelum ngaben massal itu kita lihat, mari kita perincian dana dari ngaben sarat (ngaben yang semarak sesuai dengan upacaranya) yang diperoleh Wikarman (2010). Maka dana yang dikeluarkan untuk bagaimana ngaben sarat itu dilaksanakan adalah sebesar  Rp.13.345.000 (1993). Dan itu masih merupakan ngaben sarat dalam tingkatan kecil. Pada dasarnya adalah ngaben sarat merupakan tingkat ngaben yang penuh semarak atau kemeriahan sesuai dengan upacara yang diadakannya. Ini mungkin pula sebagai aktivitas upacara pitra yadnya yang menjadi ikon Bali atau pariwisata.

Ngabaen massal telah dilakukan di kuta pada tahun 2008 yang juga diikuti oleh beberapa desa di Klungkung, Karangasem, Gianyar atau pun di Kintamani. Seperti pula dilihat dari penjelasan LPD desa adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H. M.M., bahwa biaya yang sebenarnya upacara ngaben senilai 60 juta dapat dihemat hanya menjadi 15 juta sampai 20 juta, dan bisa dialokasikan ke pendidikan anak-anak, katanya. Lain pula di Jembrana, di mana ngaben massal dilaksanakan di desa batu agung. Yang ikut pun tidak hanya dari desa sendiri terdapat juga dari desa yehembang, candikusuma, warna sari dan bahkan dari lombok pula. Sedangkan besaran biaya yang dipatok adalah senilai Rp. 1.750.000 untuk memukur, dan Rp. 750.000 untuk ngelungah.

Hal ini dapat disadari merupakan suatu yang sangat membantu bagi masyarakat yang membutuhkan kelepasan terhadap belenggu biaya. Di samping itu pula bagaimana jika ini dilaksanakan ke depannya akan menjadi suatu dasar yang kokoh pada pendidikan umat, dalam bidang ekonomi, namun tidak melupakan budaya sebagai pilarnya. Hal ini sejalan pula dengan apa-apa yang disebut konsep Ajeg Bali. Ajeg Bali dapat diartikan sebagai “Kondisi dinamik Bali, yang meliputi segenap aspek kehidupannya yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhannya yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatanya dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, kelangsungan hidupnya sendiri dalam hubungannya dengan kelangsungan hidup bangsa dan Negara (NKRI) serta perjuangan mengejar tujuan nasional (wingarta,2006:6).

Dari definisi di atas, sebenarnya adalah ajeg bali merupakan suatu yang dinamis dan bukan statis. Dan dari apa yang disebut aspek kehidupan adalah bukan hanya dari sisi sosial budaya dan agama saja, namun juga dari sisi politik, ekonomi, demografi, geografi, serta ideologi, dan juga pertahanan, keamanan. Semuanya mensifati hubungan terintegrasi yang artinya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jadi tidak ada hal yang boleh terlepas dalam kelangsungan untuk mengembangkan dan mempertahankan Bali itu sendiri.

Dapat juga dilihat pada definisi yang telah disebutkan, bahwa bagaimana ancaman yang ada baik dari dalam atau dari luar yang secara langsung atau tidak langsung, menjadi suatu yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya. Sehubungan dengan saat ini bahwa ancaman datang mungkin dari bagaimana globalisasi itu cukup membelenggu, terutama dengan kebutuhan yang terus meningkat. Di samping itu kebudayaan tentu saja harus diupayakan sedemikian rupa untuk tetap ada, selain pula dari sisi religi dan agama tetap dipertahankan sesuai dengan sumber-sumber sucinya.

Ngaben massal seperti yang diketahui adalah suatu upacara yang besar pula jika dilangsungkan sendiri. Namun ngaben massal betullah suatu upacara yang tidak terlalu membebani karena secara kolektif biaya itu ditanggung bersama. Bahkan ada sedikit selentingan kata-kata dari seseorang yang mengikuti ngaben massal, “Jika dari dahulu ada upacara ngaben seperti ini, tidaklah sampai tanah leluhur dulu saya habis terjual.” Dari sini terlihat jelas bagaimana kegunaan tersendiri dari ngaben massal itu.

Bagi Ajeg Bali pada dasarnya, jika sekumpulan dari selentingan itu benar, maka ngaben massal juga akan menyelamatkan kondisi geografis dari kepemilikan wilayah pulau Bali itu sendiri. Selain itu jelas bahwa dari segi ekonomi membantu bagi yang kurang memiliki kemampuan dana untuk melaksanakan ngaben secara personal. Dari segi budaya pada dasarnya akan menjadi suatu keajegan tersendiri, di samping pula sesuai dengan ikon pariwisata budaya untuk Bali. Terakhir untuk kelayakan ngaben massal, sebenarnya telah dilakukan oleh berbagai desa atau adat dan tentu saja melibatkan para sulinggih. Hal ini menunjukkan bahwa secara agama ngaben massal tidak bertentangan dengan sumber-sumber suci yang terbukti secara aplikasi oleh legitimasi para sulinggih. Jadi tidaklah salah bahwa Ajeg Bali bisa dijaga oleh ngaben massal ini. Dan ke depannya ngaben massal sangat relevan untuk dilaksanakan dalam perkembangan jaman yang semakin global dan modern ini sekaligus pula semakin mencekik.

 

Daftar Pustaka

Abhi (humas), 2012. “Ngaben Massal, Hemat Biaya dan Kaya Manfaat”. Di website http://www.jembranakab.go.id/index.php?module=detailberita&id=1638

Baktian Rivai Ardhian, 2010. “Ajeg Bali : Konsep untuk Selamatkan Bali.” Di website http://regional.kompasiana.com/2010/07/29/ajeg-bali-konsep-untuk-selamatkan-bali/

Dwi Koestanto Benny, 2008. “ Ngaben Massal : Seribu Harapan di Setra Dalem Ubud”. Di website http://www.wisatamelayu.com/id/news.php?a=QkpMTC8g=

Dwija Bhagawan,____.” Ngaben Gotong Royong”. Di website http://stitidharma.org/ngaben-gotong-royong/

Sujaya Made, 2008. “Ini Eranya Ngaben Massal”. Di website http://pojok-bali.blogspot.com/2008/08/kini-eranya-ngaben-massal.html

Sukarsa Made, 2009. “Biaya Upacara Manusia Bali”. Penerbit Arti Foundation Bali.

Wikarman Singgin I Nyoman, 2010. “Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama)”. Penerbit Paramita Surabaya.

_____, ____. “Ritual Ngaben”. Di website http://wisatabali2010.wordpress.com/ritual-ngaben/

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: