RSS

Arsip Tag: akhir jaman

..Pandangan Universalitas Tuhan Transendensia..

kalki

Universalitas, adalah sebuah kata ghaib dan penuh makna yang sejatinya indah.Di mana bahwa dalam rangka waktu yang sekarang ini, dikatakan sebagai sebuah jalan moralitas yang melangkahi kebenaran agama itu sendiri. Namun kata-kata tersebut sangatlah memiliki suatu sifati humanisme yang agung tentu saja. Sebenarnya pun Tuhan adalah suatu misteri yang sangat misterius dan akhirnya menjadi keindahan tersendiri untuk memeluk “itu” kedamaian menuju sebuah kebahagiaan yang hakiki. Dan para raja adalah semuaNya yang merupai IA sebagai pencari pemakna penafsir misteri ILAHIAH.

Seperti kebercontohan pada ISLAM dan HINDU, dimana jelas sangat erat pada manunggaling kawula dan gusti Allah dengan persatuan dari moksartam jagadihta. Dan yang lainnya adalah bahwa Allah yang tiada boleh diwujudkan, tiada layak dirangkaikan dengan perwujudanNYA, sangat erat dengan filosofi Atma widya dan juga Nirguna Brahman (Parama Siwa) yang Tuhan Esa tidak bisa dipikirkan Acintya, tidak sanggup diwujudkan, tidak mampu diwacanakan dengan kata-kata. Pada saat ini adalah maka Tuhan berada pada kehampaan kekosongan dan sangat sulit diketahui, seperti “neti neti”,bukan ini bukan itu. Dan bgitulah seperti bhgwadgita mnyebutkan AKU menciptakan dunia dengan baik dan buruk, tetapi Aku tidak berada di “itu” dan “itu” tidak berada di aku..Selayaknya itu adalah KuasaNYA tuhan itu sendiri..

Lalu ketika telah sampai pada kebersatuan (bukan di sisiNYA) adalah saatnya Atma widya atau tentang nur atma ruh khudus diketahui dan dipahami kesifatanNYA. Artinya adalah bahwa NUR yang terlingkupi berbagai dzat ilahiah dan Maya dunia, terdiri dari ego ahamkar buddhi dan citta.. Maka kesungguhan Buddhi itu akan mencapai NurNYA dan mampu menjadikan wahyu itu ada dengan otomatis dan sedemikian indahnya..Hal ini dapat dilihat pada posisi transedental seorang Sufisme. Manusia santa bisa saja mengikuti tata titi ritual yang telah umum, namun sebagai kebijaksanaan yang indah adalah privasi itu kemudian disampaikan dengan sangat memegang kesantunan yang semakin disegani..

Ini adalah wilayah santa dari manusia yang transendesial dan mampu melacak imanensi hyang KUASA di pada suatu apa pun dengan makna yang menyentuh nurani nya sendiri..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/04/03/manusia-santa-manusia-yang-trance-sebagai-wadah-wahyu/

Ini tentang kamoksan..dan mahrifat..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2013/02/09/mahrifat-wahdatul-wujud-dan-kamoksan/

Kemudian dari kebijaksaan terhadap nama – nama Ilahiah, maka sangatlah beruntung bagi mereka yang melihat keindahan dari misteriusnya nama-nama Indah Tuhan itu sendiri.. Dalam weda dikatakan bahwa dewata juga bersama raksasa, namun itu bukan saja berarti wujud-wujud dari mereka itu, karena dari weda dikatakan pula bahwa:

“Mereka yang melaksanakan ritualitas yang berkualitas, adalah dengan merasuki yang mereka Sembah sujudkan untuk menjadi IA sendiri pada waktu dan keseharianNYA” ..maksudnya adalah bahwa dewata yang memiliki kekhususan laku dan fungsi akan merasuk pada jihwani mereka yg melaksakan ritual itu, dan energi mereka semua (dewata-sinar suci ilahi) sudah berada di MAYA (yang sattwikam sekaligus Rajasikam). Artinya adalah kualitas itu meng”ada” dengan cara niskala mistikal dari sesajian yang ada dan dengan bantuan Mantra mantra weda yang suci untuk mengundang Maya yang suci sekalgus positif tersebut. Sebagai bukti mereka yang waskita akan melihat aura yang benar2 Maha di daerah tempat dilaksakan ritualitas itu, termasuk dengan adanya yang trance dan mengucapkan kata-kata yg mereka sendiri tidak bisa dikontrol oleh IA, suatu kekuatan besar yang mereka rasakan pada frekwensi yang sama pula dan terkoneksi..

Lalu dilihat dari Wajah ALLAH islami, maka dapat dikatakan bijaksanaNya mereka terdahulu dengan mengumpulkan 99 nama indah Ilahiah.. Secara halus tanpa mengasari, ini adalah sebuah kombinasi yang mungkin akan menjadi pembahasan dan pemahaman bagi mereka yang mencari kerinduan akan kebahagiaan dan kedamaian yang abadi..Dengan jalan tauhid asma wa sifat.

-**Brahman Al Khalik..Artinya adalah Maha IA mencipta yang memiliki Krya Sakti maha karya…Dan bgitulah sifati IA menyangkut pada ini:

Al Baari — Maha melepaskan (membuat, membentuk , menyeimbangkan)

Al Mussawhir –Maha membentuk rupa MahlukNYA

Al Aliim – Maha memiliki Ilmu (sebagai Jnana sakti) artinya Bahwa semua ciptaNYa berasal dari ilmu pengetahuan itu sendiri

Ini salah satu contoh fungsi dari GOD (generate) mencipta.

***Waisnham Al Muaimin –artinya adalah Maha ia memelihara mahlukNYA..

Al Wahhaab         Yang Maha Pemberi Karunia

Ar Razzaaq              Yang Maha Pemberi Rejeki

Al Fattaah                  Yang Maha Pembuka Rahmat

Ar Rahman          Yang Maha Pengasih

Ar Rahiim           Yang Maha Penyayang

As Salaam            السلام   Yang Maha Memberi Kesejahteraan

Al Wahhab AL Rahzzaak-Maha pemberi karunia maha pemberi rezeki.. (bhataraning Shri Manik Mas maketel)..

Al adl dimana Maha adil kepada siapa pun jua. itu menjadi laksana Al hakiim (yangMaha bijak) menghukum tanpa pandang bulu..Menjadi teringat seperti Tribhuana Tungga dewi yang memotong tangan anaknya karena mencuri

Maka ini adalah bagian GOD ..Operate yan memberikan pemeliharaan bagi mereka yang sudjud iklas insaf pada KekuatanNYA yang mana pun jua..

*****Shaiwa Al Mudzil… Maka di jaman akhir ini, mereka yang selalu hadir di waktu-waktuNYA dalam agama apa pun itu, akan menyambut kebahagiaan di akhir jaman, Dan kebenaran semua terkuak dan maka misteri yang ada akhirnya bisa dijawab oleh mereka yang berjalan pada kebenaran itu sendiri..Kebenaran Pun tentunya sangatlah anti dengan ketidaksantunan kelupaan akan haqiqat manusia dan juga kebersatuan Manusia dengan ilahiah itu sendiri. Dimana mereka yang lupa akan itu, akan diperbudak nafsu dari pembenaran itu sendiri.. Tidak ada namanya kebenaran yang bajik dan bijak yang berkuasa pada himsa karma. Tentunya kematian dari seseorang yg tidak bersalah akan membawa pada suatu karma yang sangatlah buruk, alasannya yg utama adalah manusia  tidak akan pernah bisa untuk membuat nyawa dan wujud itu sendiri..

Al khafiidz Yang Maha merendahkan MahlukNYA..(maka mereka yang merendahkan manusia sebagai bukan manusia, hanyalah seorang yang mendapat azab direndahkan olehNYA Shaiwa Al mudzil).

Al Qhaahaar..adalah maha memaksa, artinya ketika mereka memaksakan himsa karma pada diri mahlukNYA siapa pun itu, akan mendapat azab yang setimpal..Bersujudlah sebelum kamu dipaksa bersujud..

Hal ini di GOD filosofia adalah Destruction dimana IA adalah penghancur dunia dan menghancurka kebatilan ketidak adilan di dunia ni.

Kemudian dibalik wajah reinkarnasi dan inkarnasi maka ASma UL husnaNYA terdiri dari :

Al Mu`iid     Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

Al Muhyii      Yang Maha Menghidupkan

Tiada yang tidak mungkin dilakukan oleh Hyang Kuasa, yang ada adalah manusia mengimani NYA secara terbatas pada isi kepala otaknya yang terkadang tidak mampu memberikan jawaban atas misteri NYA. Dan itu pula yang menghambat mereka menuju kepada kesempurnaan jagaditha. Mereka sprti puas bermain di dalam lumpur, dan puas menyatakan diri sebagai manusia yang berakal. Padahal mereka seburuk-buruknya iman sebaik-baiknya abdi bagi bisikan syaitan…

Bgitu sedikit tntang keutamaan Ajaran Buddhi tentang universalitas spiritualitas KuasaNYA..

Lalu tentang maujud ilahiah pada kebersatuanNYA, adalah mereka-mereka para rasul rsi para nabi para hyang guru dan sebagaiNYA, yang mendapat wahyu atau pesan lewat dari NUR ATMAN dan Ruh KhudusNYA.Pada wilayah saguna brahman dimana Beliau dapat dterka dengan senang hati karena kebaikan IA kpada bhaktaNYA.. Maka sesungguhnya manusia telah terjebak pada hegemoni Tuhan yang tidak Maha KUASA.. Artinya adalah Manusia itu, sungguh pun tidak melihat dunia sebagai wajah ILAHIAH yang sengaja IA ciptakan untuk mengetahui DIRINYA sendiri..Telah berbagai banyak utusan yang datang, namun alih-alih memberikan pemahaman dalam akan arti kedatangan mereka, tetapi mereka bertengkar pada hal kecil seperti wujud patung berhala kekuatan ilahiah yang tidak mungkin diilhami manusia.. Mengapa mereka mencobai tuhan sendiri dengan mngatakan IA tidak Maha Kuasa MAHA Tahu, Maha mendengar, dan sebagainya…

Kuasa Tuhan melewati batas-bbatas aturan yang disangsikan sendiri oleh mereka ..Tuhan Maha Kuasa dan MAHA adil, maka itu akan sangat mudah menyusui IA pada sebongkah pasir, atau pun sebidang kotak kubus, atau di patung-patung..Mereka yang menilai itu tidak bisa hanya manusia yang membiasakan diri pada kebodohan akal mereka sendiri.. Lalu apa dosa mereka yang meniadakan Ketidak Maha Kuasaan TUHAN??

dan bgitulah bghawadgita bersabda IA kepribadian Hyang Maha KUasa…Aku ciptakan kebaikan keburukan, Namun Aku tidak ada padaNYA, dan ITU tidak ada padaKU…

its just a crazy funny and yet so powerful imagination…and gods who is so lunatic yet so wise, create this world to see Himself Playing around then let their soul of holiness  become home soon or later…

gwar..bringing The truth of Khalamanyit..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2014 in agama, doa

 

Tag: , , , , , ,

Manusia “Santa”, Manusia yang “trance” sebagai Wadah Wahyu..

image

Manusia adalah ciptaan Hyang Khalik yang paling sempurna. Dimana manusia diberikan sabdha,bayu serta idep. Yang terakhir itu adalah pikiran (wiweka) yg digunakan untuk mengenal baik dan buruk serta solusi atas segala kehidupan yang penuh kebermanfaatan dan keberadaban. Sehingga mahluk sempurna ya memang manusia…

Seperti disebutkan sarasamuscaya bahwa kebermanusiaan itu harus dsyukuri karena dengan itu bisa meningkatkan “diri”. Meningkatkan diri sebagai manusia yang memiliki kesetaraan dewa, manusia yang memiliki citta yang manunggal pada kepara-atman. Dan bgitu IA mencapai itu, maka suatu wahyu dari hyang kesempurnaan menyata pada kesemua keseharian kemasa mendatang yang sahaja..

Sebutan sebagai santa adalah kepada mereka yang benar2 telah melampaui batas keyakinan di jaman itu, dan mampu memberikan kerahasiaan ilahiah yang mumpuni dan diingat sepanjang masa bagi kaum nya…Seperti pula manusia yang memiliki sinar(nur) ilahiah dan menjadi keyakinan sepanjang masa. MUSA, Sulaiman, khidir, muhammad, yesus, abraham, dsb. Itu menjadi keyakinan kolektif dan membentuk epos, mitos penuh nilai spritualitas. Dan selalu tertanam dalam..tertanam sangat dalam di kalbu sanubari hati yang tuan agung, yang rahsya manikam khalam di wilayah citta dekat dngan kesemestaan. Seperti sesuatu yang khudus yang suci tiada terbandingkan. Arsy shiratu muhallam..

Disadari atau tidak, upanishad menyatakan bahwa dunia ini didirikan dan terdirikan atas maya dunia triguna..sattwam terang bijak rajasikam aktif tamasikam gelap pasif. Dan ketika tidak kenal akan belenggu itu, maka kebahagiaan sejati tidak akan diketahui. Dan buddha mnyatakan penderitaan manusia adalah krana tidak mengenal keterikatan karma. Kedua kemiripan itu mnyakan bahwa keberputaran manusia adalah sbuah kesengsaraan, jadi jika itu dicapai dengan sebuah pencerahan, bukan berarti sebuah kemustahilan untuk memanunggalkan diri dengan diri ilahiah..

Atma widya sangkan paraning dumadi kembali ke NUR para nabhi, pada kekhudusan hyang ESa. Adalah jalan yang paling indah jalan paling bajik jalan paling jnana, sekaligus paling sulit, sekaligus palinga cerdas dan bahkan licin. Jalan yang memberikan dasar untuk “natak baos”,untuk ,mewahyukan Diri pada keutamaan Buddhi indriyah dan kekangan ego ahamkara yang dipengaruhi sattwikam rajasikam yg mutlak berisikan jejak nafas dzat keilahian dan kebenaran abadi. Dan itu terletak pada wadah apaPUN akan tetap sebuah kebenaran..

Menyadari maya dunia dan laku purusha pada god generate operate destruction, pada ang ung mang, pada cipta khalik pada pemelihara muaiminaha dan maha hamcur mudzilah. Itu adalah kemutlakan keniscayaan samastha bhuana. Penceritaan sahajdah sahajah pada sangkan paraning, mahrifati diri, moskartham jagaditham bhur bwah swaha, adalah mendewakam sifati ilahiah pada asmaNYA pada asta bharatah, dzikir dan puja kali mhamrtyunjaya gan gana phataye hare kalkyah kalkyah hare hare..

Maka sangkan paraning akam membawa manusia pada ke Esa-an esa dimana IA sebagai monisme IA berada di embun dan sujudnKITa adalah sesuai kebersyukuran setiap beberapa waktuNYA. ESa yang membawa tuhan pada satu saja yang monotehism IKA ESA tunggal. Dan maujud BElIAu pada kekhalikan sahadja menjadi IA mereka MahlukanYa yanh kesampurnaan di akhir jaman sebagai imam semesta mahdi, kalki avaatar, ESA yanh bangkit membawa kerajaan surga di bhumi bhuana langgam…

Itu terjadi dan menyemestha ragha laku khalam…

Gwar..

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 April 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , ,

Orang Beragama adalah orang Gila (Freud)

Memang benarkah seperti itu? atau apakah berbeda dengan apa-apa yang terjadi di kenyataan?

Yaps benarlah bahwa memang orang beragama dikatakan sebagai orang yang neurosis seperti yang dikatakan oleh sigmund freud ahli psikologis penemu psikoanalais. Ada beberapa dasar mengapa orang beragama dikatakan sebagai seorang neurosis :

1. Bahwa orang beragama dikatakan memiliki sifat kekanakan yang berhubungan dengan hubungan ayah(bapa) dan anak. Dimaksudkan bahwa Tuhan sebagai suatu faktor yang berkuasa, dan memiliki pengetahuan Maha Tahu akan menjadi seseorang yang melindungi dan memberi kekuatan perlindungan atas ketakutan dan  ketidakberdayaan anak dengan kasih sayang dan menentramkan. Maka itulah yang menciptakan suasana nyaman (surga) dari anak(manusia) itu. Maka sikap tentram itu menjadikan halusinasi surga akan pemahaman tuhan sebagai anak.

2.Menurutnya satu-satunya cara untuk meninggalkan kekanak-kanakan bahwa dengan memahami dan mempelajari sains dan teknologi.

3. Agama adalah tempat untuk berlindung dari jaman, apakah ia manyatakan bahwa beragama seperti”katak dalam tempurung”?.

4.Dan ia juga menyatakan bahwa orang-orang kekanakan akan pergi mengadu kepada Bapa (Tuhan), jika terkena berbagai kesulitan-kesulitan yang ada di dunia. Seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya sebagai mental defense.

 

 

 

 

 

Yaps seperti itulah, bahkan penelitian anehnya membuktikan bahwa nyatanya orang yang berpengetahuan lebih, tidak mementingkan keagamaan itu sendiri. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hanya orang bodoh yang perlu agama…hmmmmm…

Jika dalam hindu sendiri, maka pengetahuan itu lahir dan diberikan sendiri yaitu,hari raya saraswati. Dan Ganesha sebagai suatu simbol pengetahuan, sangat jelas terpampang di banyak institusi pendidikan.

Sebenarnya dalam berbagai kehidupan yang diceritakan oleh kitab suci adalah semakin terbelenggu dengan keduniawian, maka semakin jauh pula dari kelepasan (Moksa). Atau bahkan mungkin persatuan dengan ilahi manunggaling kawulo gusti, aham brahman asmi. Hal itu terkadang seperti sebuah ekstasi yang benar-benar membuat lupa diri atau tidak menapak dunia dan terbang tinggi. Ini mungkin resiko yang perlu diwaspadai bagi mereka yang telah masuk dalam lingkaran semesta yang juga memabukkan. Namun untungnya dalam Hindu, ada berbagai pakem-pakem keseimbangan yang disarankan dijalankan. Yaitu Tri hita karana (palemahan, pawongan, parahyangan), dan pula catur asrama (brahmacari,grehasta,wanaprasta,sanyasin).Di mana dalam wilayah grehasta yg terpenting adalah melaksankan kewajiban keluarga, dan nantinya jika sudah pantas melepas duniawi,maka masuk ke tahap selanjutnya.

Untuk bahasan pengetahuan, maka ada Catur marga, dan kecocokan jalan itu dekat dengan jnana marga.Sbagai wilayah yg mmbahas jalan pengetahuan tentang dharma yang membebaskan.

Dari keyakinan serta pengetahuan akan jaman-jaman yang ada,maka jaman ini termasuk jaman Kaliyuga. Jaman dimana yang berpegang teguh pada dharma hanya tersisa 25 persen. Yang lainnya adalah wilayah adharma yang terbelenggu sad ripu, sad atatayi, atau tidak berpegang pada satya dan sbagainya.Jadi dapat dikatakan adalah ketidakwarasan manusia lebih banyak. Tapi saya belum dapat mengecek berapa jumlah pasien psikiater, atau malah mereka merasa waras.

Kegilaan itu sebenarnya tidak terlepas dari slogan tiga gila, yaitu gila kekuasaan, gila harta, dan gila wanita. Bahkan itu secara tidak sadar dimiliki oleh mereka. Ketidak sadaran pada belenggu-belenggu duniawi dan material serta kemoralitasan yang berlaku umum. Ini menciptakan ketidakberadaban, dan mungkin pula energi-energi negatif yang terkumpul,akan menghasilkan bola energi penghancuran dunia,seperti yang dipahami energi menuju semesta sesuai dengan pola energi kebanyakan manusia di dunia. Apakah itu menciptakan pralaya???Ah.berpikir terlalu abstrak,pepohonan saja semakin berkurang, dengan banyaknya perang-perang yang ada sudah cukup memberi bukti nyata. Dan anehnya adalah karena dendam-dendam masa lalu yang meng-ego dan mengeras menjadi batu, entah perebutan wilayah atau bahkan perang urat syaraf Agama,SUku dan Ras, benar membawa ke jaman yang kurang berkenan dan penuh biadab. Yah sejarah terkadang membekas sangat dalam, namun pula ayat-ayat ketetapan yang teryakini dari sumber suci agama, kiranya perlu dipertimbangkan tentang penafsirannya.

Dalam masa ini,ilmu diharapkan memberi suatu kemanfaatan tersendiri dan mengandung nilai norma serta moralitas, srehingga kegunaan ilmu memang betul-betul menyentuh dan memperbaiki dunia itu sendiri. Aksiologi dari pemahaman dalam  ilsafat ilmu itu tentunya memberi harapan akan sisi kemanusiaan ilmu itu sendiri.

Kembali pada kata gila, maka Sri Khrisna pernah bersabda,ketika ditanya mengapa kau seperti orang gila atas segala yang kau katakan? Maka Sri Khrisna berkata ” Kalian Aku Mereka semuanya adalah orang gila, Tapi bedanya kalian gila kekuasaan, dan Mereka gila Harta dan gila wanita,Dan aku juga Gila,tetapi gila kepada Tuhan.”

dari berbagai sumber..

gwar 18-11-2012..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 November 2012 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Hubungan Fungsional Atas Pensifatan Tuhan pada Tri murti (Hindu) dengan Asma ul Husna (islam)

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Apa yang kita hadapi pada jaman sekarang. Tidaklah bisa dipungkiri bahwa dunia memang sudah terasa sesak dengan berbagai kekerasan serta pembunuhan, caci maki dan fitnahan, serta pola pikir yang cenderung pesimis dan memiliki nilai negatif atas apa-apa yang menjadi pedoman keyakinan itu sendiri. Padahal bahwa suatu keyakinan itu, sangatlah sakral dan sungguh pun merupakan perwujudan atas nasib dan takdir manusia sebagai mahluk sempurna yang berhubungan dengan kehidupan dan kematian itu sendiri. Seperti saat kita lihat bahwa kemanusiaan (kematian), menjadi hal yang lazim jika ditelisik pada arah pemahaman suatu keyakinan yang mengabaikan lainnya (kemanusiaan).

Apakah memang itu yang terjadi semestinya, atau ada yang salah pada penafsiran akan ayat-ayat suci tersebut Sebagai misal, jika dihadapkan pada ayat yang berkata “potong kepalanya dan halal darahnya”. Apakah itu harus diibaratkan secara nyata dengan memotong kepala yang berbeda keyakinan? Ataukah itu adalah bisa diterjemahkan sebagai pemotongan ego di kepala, baik yang dianggap berbeda dengan mereka yang dianggap seratus persen suci. Padahal jika masuk lingkaran mereka, apakah bisa lebih baik kehidupannya?

Sebagaimana bisa ditelaah pada fenomena ramalan-ramalan tertentu, maka suatu jaman akan berubah menjadi suatu jaman yang lain. Susahkah dipercaya?, atau memang wilayah akademis tidak bisa terlingkupi suatu kekuatan agung metafisika secara menyeluruh. Sebagai suatu definisi pun dapat dikatakan oleh E.B. Taylor bahwa agama berasal dari suatu kekuatan agung yang kemudian diyakini sedemikian rupa. Maka alangkah bijaknya bila ilmu bisa menerjemahkan fenomena akan adanya ramalan-ramalan itu. Ramalan-ramalan tersebut antara lain adalah:

  1. Ramalan jaman Kaliyuga
  2. Ramalan Sabdo Palon
  3. Ramalan dari Kalender Maya yang menceritakan kiamat pada tahun 2012.
  4. Ramalan Jayabaya
  5. Ramalan tentang satrio piningit, imam mahdi, ratu adil, buddha maitreya, kalki avatar.
  6. Dan sebagainya.

Lalu ramalan tetaplah ramalan, namun bijak atau tidaknya memberikan ruang keyakinan pada suatu kekuatan agung ramalan itu adalah merupakan suatu pilihan tersendiri. Fenomena yang terjadi baik secara abstrak atau pun yang teryakini nyata, adalah berunsur dari pemahaman dalam tingkat spirit yang mungkin berbeda-beda pada setiap individu secara subjektif. Lalu apakah pemahaman dari ego menjadi suatu konstribusi pada super ego secara kolektif, berdasarkan jelas pada sifat serta psikologi masing-masing secara perorangan atau individu.

Kembali juga di atas tentang nilai-nilai yang tergerus pada suatu masa, bahwa Pancasila yang disebut sebagai ideologi bangsa, serasa berseberangan antara sila pertama dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Contoh nyata adalah bahwa kesempurnaan dari suatu keyakinan menjadi membabi buta, apa pun yang berbeda malah menjadi bulan-bulanan mereka. Hal itu sepertinya ditujukan kepada telinga para pembela fanatik dan fundamentalis yang telah ditutup dan bahkan menuju suatu pembenaran diri sendiri. Tidak ada yang sanggup dilakukan, kecuali dengan tegas untuk menerobos, mendekontruksikan moralitas yang sesuai dengan ideologi bangsa yang harus tidak pernah akan bisa dihancurkan oleh sekelompok kecil manusia-manusia yang mungkin salah dalam penafsiran kitab suciNya. Dipastikan pula memang benar bahwa bangsa ini masih terjajah dari sisi ideologinya. Dan pada dasarnya kemenangan seperti yang disyaratkan oleh beberapa kitab suci, seperti bhagawadgita dan sarasamuscaya menyebutkan kemenangan dharma yang agung itu adalah suatu hal yang pasti. Kemana pun suatu jaman itu tertuju, intinya adalah dharma pasti menang pada akhirnya. Namun proses menuju ke sana adalah suatu hal yang sejalan dengan paham Karl Marx tentang utopia di masa nanti. Bukan hal yang mustahil rasanya, karena tidak mungkin Tuhan sebagai keagungan semesta membiarkan mereka-mereka yang ikhlas sujud tidak mendapatkan karma yang sesuai. Pada saat akhri jaman itulah bagaimana keyakinan masing-masing diuji sedemikian rupa untuk bersama-sama menuju suatu akhir yang sayangnya indah bagi yang memuja keagungan-Nya.

Pada intinya adalah paham yang diyakini oleh umat hindu yang terangkum pada Panca Sraddha, bahwa karmapala itu tetaplah terjadi baik yang teryakini, atau pun yang kurang teryakini. Termasuk samsara dan tujuan akhir kemoksaan. Dasar dari suatu pemikiran tentang agama yang dituduhkan selalu brutal dan mengancam kehidupan, sebenarnya memiliki sesuatu keilmubatinan yang hampir mirip dengan apa yang diyakini oleh  filsafat moksa dari Hindu itu sendiri. Keilmuan atau pembelajaran batin dari seorang islam (muslim) sangat dekat keterjadiaannya dengan moksa itu sendiri. Pembelajaran itu adalah filsafat Mahrifat yang diperkenalkan atau disebarluaskan oleh Syeh siti Jenar dengan juga oleh Sunan Kalijaga. Mengapa dikatakan mirip, karena pada dasarnya bagaimana persatuan raga dengan Sang Khalik hampir sama dengan moksa yaitu pengetahuan tentang “diri” itu sendiri.  Dan bisa disandingkan dengan “Sangkan Paraning Dumadi”, atau bisa juga dihubungkan dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”.

Seperti yang diceritakan oleh Ngakan Putu Putra tentang Tuhan masa depan, maka sebagai suatu paham monotheisme, islam sudah menjadi suatu agama yang mengerikan. Di mana karena disangka mempersekutukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, maka agama lain (baca: agama bumi) dianggap sebagai agama yang lebih rendah dari yang mereka anut (islam). Padahal terdapat beberapa istilah bagaimana ayat Quran yang menyebutkan  “Agamamu agamamu, agamaku agamaku”.  Itu adalah salah satu ayat yang menjadi tameng terakhir jika suatu ayat pengislaman dilakukan suatu waktu di saat ini. Sebagaimana pula oleh Ngakan putu Putra, menyebutkan kelemahan-kelemahan dari paham transendensialisme dari Sang Khalik. Paham yang lain seperti Monisme atau pun paham pantheism sebenarnya bisa ditelisik kepada bahwa yang Kuasa mengimanensikan diri-Nya ke pada suatu alam semesta. Seperti juga yang disebutkan pada filsafat “tat twam asi” yang menyamaratakan manusia dan bahkan mahluk lainnya.

Pantheisme atau sebagai suatu paham semua adalah Tuhan, menyebutkan bahwa Tuhan berada di mana-mana sesuai dengan apa yang IA inginkan sendiri, atau bahkan apa yang diinginkan penganutNya. Sebagaimana disebutkan pelangi atau perbedaan antar umat-Nya, sebenarnya telah membebaskan bagaimana cara untuk menjadi abdi-Nya. Kerusuhan akibat keyakinan yang berbeda adalah suatu musuh dan bahkan penjajahan atas ke” Bhineka Tunggal Ika”an itu sendiri. Hal mutlak yang dilupakan adalah sila Ketuhanan yang Maha Esa sangat berseberangan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang seharusnya berlaku secara menyeluruh dengan sila-sila lainnya. Di saat keyakinan dijadikan senjata dalam memborbadir bangsa sendiri sebagai upaya menegakkan segala yang dianggap pembenaran dogma, maka Keadilan Sosial sebagai tujuan akhir dari suatu bangsa akan terjerembab dengan buruknya moralitas Pengkhidmat Kebijaksanaan yang sesungguhnya dipilih oleh rakyat itu sendiri. Apa yang salah dalam hal ini adalah mengingatkan pada suatu dekontruksi moralitas yang memerlukan suatu revolusi dari cara berpikir dan cara merasa.

Setelah melihat berbagai persoalan yang didapat secara gamblang di atas, maka terbesit suatu pemikiran yang mungkin diilhami oleh beberapa cendekiawan religi termasuk pula almarhumah Gusdur, maka didapat sebuah kata yaitu “universalitas”. Kata itu sendiri bisa dianggap memiliki suatu kesakralan yang tinggi seperti juga bahwa agama memiliki wilayah sakral dan juga profan yang dipahami oleh Durkheim sebagai bentuk psikologi kolektif di suatu lingkungan sosial.  Universalitas adalah berarti apa yang terdapat di setiap agama, baik agama apa pun itu jika ditelaah secara mendalam, dan bukan hanya dari fisiknya saja, maka filsafat berbagai agama itu bisa diperbandingkan dan pula bisa diakulturasi sedemikian rupa menjadi suatu pemahaman yang baru. Sebagai contoh seperti agama Shiva dan agama Budha yang telah terbukti menjadi suatu akulturasi filsafat yang masih ada sampai sekarang ini.

Perkembangan lainnya yang telah terbukti adalah bagaimana persatuan serta akulturasi antara Islam dan Hindu yang terbukti masih tampak di lombok (Islam Watu telu).  Dan pula di wilayah di Bali, terdapat pelinggih Ida Bhatara Mekkah pada Pura Negara Gamblung Anglayang yang memang lah sebagai simbol keislaman yang dihindukan atau bisa sebagai penghormatan atas islam itu sendiri.  Di samping pula berbagai penyamaan antara Syeh Jenar dengan leluhur Hindu Dang Hyang Nirartha (fenomena). Di samping itu pula bahwa suatu filsafat atau tattwa suatu agama, pada dasarnya akan secara otomatis sesuai dengan perkembangan jaman menuju pada akulturasi itu sendiri. Penyatuan ini juga tampak secara gamblang di daerah India, di mana Guru Nanak menakdirkan dirinya menyatukan Islam dengan keHinduan dan melebur menjadi Agama Sikh.

Seperti yang dituduhkan oleh yang lainnya, bahwa Hindu adalah sebagai agama yang politheism, sebenarnya adalah bahwa hindu memiliki berbagai sudut pandang atas apa-apa yang dituduhkan. Sebagaimana misal bahwa dewa yang dipuja, adalah sebenarnya memiliki fungsi tersendiri. Hal itu juga terdapat pada fungsi-fungsi Allah(baca:Tuhan) yang terangkum pada Asma Ul Husna, yaitu 99 nama Allah yang menjelaskan fungsi dari Allah itu masing-masing. Jika diibaratkan sebagai suatu universalitas, perlu digaris bawahi makna kata dari “menyekutukan” Allah adalah bahwa Allah diserang bersama-sama (sekutu) untuk memperoleh suatu kemenangan atas Allah tersebut.  Padahal dalam berbagai kesempatan adalah bahwa Allah yang disekutukan oleh beberapa pengikut fanatisnya dan memberikan sembari kasta kafir dan non kafir yang membuat perbedaan tinggi rendahnya manusia yang bahkan tidak sesuai dengan maha keadilan Allah tersebut. Kembali ke kata-kata Gusdur dengan pluralismenya, menyebutkan bahwa “Orang tidak akan melihat engkau dari agama apa, dari suku apa, kelahiran apa, jika engkau bermanfaat bagi manusia lainnya”, seperti itu kira-kira pernyataan Beliau.

Penalaran dalam memberi suatu penggambaran atau bayangan terhadap Yang Kuasa, sebenarnya tergantung dari bagaimana memandang Tuhan secara filsafati atau lebih mendalam. Maksudnya adalah wilayah abstrak Tuhan (Allah) dapat dikatakan bersifat melalui penggambaran 99 nama Asma ul Husna. Hal ini bisa juga ditelaah oleh tiga fungsi Tuhan dalam Tri murti yang transendensial yang mirip pula dengan sifat Asma ul husna yang juga transenden. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk membuka suatu jalan yang mungkin penuh makna di masa yang akan datang.

Secara fungsi dari Tuhan yang diagungkan oleh siapa pun itu, maka dalam hindu disepakati bahwa Utpeti, Sthiti, Pralina sebagai Tri murti, yaitu Brahma , Wisnu, Siwa, maka fungsi vital dan sakral itu sebenarnya pula terdapat pada agama-agama yang lainnya baik secara nyata atau secara terbersit. Dan bagi islam, maka Zikir Asma ul Husna dengan japa apakah itu Mahamrytunjaya, atau Japa thiruu neelam kantam, sebenarnya bisa dan sangat boleh disandingkan secara bersama-sama untuk bisa menjadi suatu ketidakberdayaan di hadapan Brahma Al-khalik yang menunjukkan fungsi tersendiri. Dan apakah ada suatu jawaban tersendiri dari pembenaran atau kebenaran itu nantinya, maka kembalikan dari bahwa jaman kaliyuga tidak selamanya akan ada. Dan teryakini bahwa jaman lain yang terhubung dengan kaliyuga seperti jaman Kertha Yuga yang merupakan jaman keemasan manusia akan terjadi  di kemudian hari.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: