RSS

Arsip Tag: bersyukur menjadi manusia

Manusia (bukan hewan) yang Beragama

Manusia (bukan hewan) yang Beragama

Om Suci Nirmala ya namo namah..

Sirna papa lara rogha winasaya..

Mahacintya hyang murtining shaktii..

Mogi ksama sahmpurna ya namo nama swaha..

Agama dan manusia,

Religi dan humanisme, sesungguhnya adalah bagian yg tidak terpisahkan. Agama sendiri pada dasarnya memberikan pemahaman atas kesusilaan atau moralitas yang sejatinya meningkatkan derajat manusia sebagai mahluk yang berakal dan penuh cinta juga kasih.

Kesusilaan sendiri atau akal budi yang memahami etis, etika sebagai manusia untuk senantiasa berbuat bajik, bijak demi kelangsungan hidup yg terlingkupi dalam kedamaian. Kesusilaan selalu ada dalam tiap agama dan menjadi bagian terpenting untuk membentuk manusia tersebut menjadi manusia yang sungguh berguna.

Dalam agama hindu mungkin secara umum ada konsep tat twam asi (engkau adalah aku) konsep vasudhewa kutumbhakam (semua adalaha saudara). Atau konsep islam dengan rahmatan lil alamin, kristen dengan cinta kasih,buddha dengan dhamma, Sikh yg mngatakan hubungan antar manusia adalah murid dan guru, Tao dengan kebijaksaan Lao Tzu, dan lainnya. Adalah kekayaan yg sangat besar, dan ketika diterapkan dalam dunia nyata, maka kelak dunia ini menjadi atau mencapai kebahagiaan yang kekal. Sungguh pun luar biasa.

Mengkhusus pada konsep Jiwa dalam kehinduan, maka dapat dipahami bahwa manusia adalah merupakan hasil dari keseimbangan atas prilaku yg satwik rajas tamas dan jihwatman itu (wraspatti tattwa), sehingga lahirlah manusia. Kemudian juga disebutkan manusia adalah yang lahir dan mendapatkan berkah sabda, bayu, idep. Maka karena idep (akal budi) itulah ia manusia memiliki kemampuan memilah mana yg baik dan buruk, bukan hanya sabda (bersuara) saja, atau bayu (daya hidup) hanya sekedar hidup saja.

Dalam sarasamuscaya disebutkan bahwa manusia itu dilahirkan untuk menjadi yang utama, karena kesadaran yg utama itu (memiliki sabda bayu idep) akan membuat ia melaksanakan dharma (agama) untuk meningkatkan dirinya kelak. Inilah yg membuat manusia sbagai yang utama dgan melaksanakan kebajikan agar dunia ini menjadi tempat yang penuh kebahagiaan yang kekal..

Namun patut diberi gambaran bahwa, dikatakan manusia lahir dari keseimbangan tri guna yaitu satwik rajas tamas. Artinya bahwa ada unsur sattwika guna yg membuat manusia itu memiliki “idep” atau akal jga buddhi yg membedakan manusia dri mahluk lainnya, seperti scra garis besar hewan atau tumbuhan. Dalam konsep yg tercantum pada wraspatti tattwa adalah bahwa mahluk lain seperti hewan dan tumbuhan adalah bisa berasal dari manusia yg tidak mencantumkan sattwika guna di dalam kehidupannya, yang artinya hanya melaksanakan rajasika guna dan sekaligus tamasika guna. Kelak manusia yg melupai sattwika guna, maka ia akan samsara turun derajatnya mnjdi yg bukan manusia.

Sattwika guna apakah itu? Sattwika guna bisa dikatakan sebagai sifati yg penuh cahaya, kebijaksanaan, kebajikan, juga penuh pengetahuan dharma di mana akal budhi berkembang baik yg pada akhirnya mereduksi sifat2 bawahan atau kebinatangan itu sendiri, disebut sebagai manusia yg mampu memanusiakan dirinya juga jiwanya sendiri. Agen-agen hyang maha kuasa, sebagai bhakta yang taat kepada Tuhan Hyang Widhi Wasa. Serta memberikan cahaya kepada dunia tempat hidupnya. Mereka-mereka inilah yang mampu menciptakan kedamaian di semesta ini.

Dalam segi kesusilaan, maka manusia yang sattwika adalah manusia yang mampu serta mau melaksanakan berbagai konsep kesusilaan, seperti Tri Kaya Parisudha, Panca Yama Bratha,Panca nyama brata, Catur Paramita, dan sebagainya.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2017/02/26/susila-panca-yamanyama-bratha-dari-nitisastra/

https://linggashindusbaliwhisper.com/2011/06/11/catur-paramitha-dan-catur-aiswarya-sebagai-penerapan-tat-twam-asi/

Dan juga senantiasa menjauhi sad ripu, sad atatayi, sapta timira, agar bisa memvibrasikan cahaya2Nya di dunia ini.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/03/31/panca-yama-niyama-bratha-pengendali-sad-ripu/

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Dengan bekal inilah dikatakan jga manusia kelak akan mendapatkan tempat baik ke swarga loka (jana maha tapa sunya loka) atau jga mendapatkan kamoksan (samipya sayujya salokya sarupya). Seperti jga yg tersebut dalam sloka wrspatti tattwa. Bahwa manusia yg banyak melakukan sattwika guna, menuju Ia alam kemoksaan, dan ktika dibarengi dgn keaktifan rajas yg didasari sattwika, maka mnujulah IA ke swarga loka menikmati hasil buah karma baiknya.

Mengapa manusia bisa turun derajatnya, jga melupai keutamaannya? Dikatakan jga manusia walaupun sebagai mahluk utama, maka ia juga lahir berisikan sifati rajasika dan tamasika. Tamasika adalah kebebalan, kemalasan, dan jga menuju pada kegelapan, ketidakaktifan, kepasifan, sprti sifat2 tumbuhan yg pasif. Serta jga sifat rajasika yg artinya bahwa manusia memiliki sifat aktif untuk selalu bergerak, dan juga keras, tegas, yg terpengaruhi sifati kedua itu. Saling tarik menarik antara tamasika jga rajasika. Dikatakan bahwa manusia walaupun memiliki karakteristik sattwika, namun ktika ia malah cenderung berada pada tamas rajas yg meniadakan keutamaan manusia itu, maka tentu buah karma yg dihasilkan adalah tidak menuju pahala yg baik. Dikatakan kelak IA akan bersamsara mnjdi mahluk bukan manusia, dan turun derajatnya. Hal ini masuk akal, karena manusia yg berbudhi mnggunakan akal pikiran jga rasa manusianya untuk hidup. Ketika tanpa logika, sia2lah IA lahir karena berkatNya sebagai manusia tidak digunakan secara baik.

Begitu banyak manusia yang saat ini menuju pada ketumpulan atas sifati kemanusiaannya, akalnya tidak digunakan dengan baik, mengejar ambisi, ego, jga terlekat pada duniawi tidak seimbang kepada konsep jiwanya. Menggunakan malah kekerasan, homo homoni lupus, memakan manusia lainnya, jga bahkan menggunakan konsep2 agama dan merasa didukung oleh Tuhan katanya. Begitu baik dikatakan sebuah jargon tentang itu..

“Sebelum beragama, maka jadilah manusia terlebih dahulu”

Rahayu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2019 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Menderita!! Jangan dulu dah..

image

Penggalan kata judul di atas mudah mudahan membuat alis anda terangkat. Judul itu bukan saat depresi dinyatakan, bukan pula sebuah kata motivasi, atau bahkan sebuah pencerahan, apalagi tentang keterikatan materi. Dan jika tidak yakin, boleh saja kata “bukan” diatas dihapus saja.Menderita, siapa sih yg mau memderita. Namun faktanya adalah kita mencari penderitaan itu sendiri. Lho kok bisa?

Namum pada dasarnya, manusia lahir adalah sebuah penderitaan yamg tanpa henti. Lahir dan lahir yang tiada berujung. Tetapi dilain pihak, terdapat sloka sarasamuscaya menyebutkan “bersyukurlah lahir menjadi manusia, karena dengan menjadi manusia, diberikan kesempatan untuk melaksanakan dharma dan melepaskan diri dari kelahiran berulang”. Sedikit banyaknya bahwa manusia telah diberikan idep(pikiran)untuk bisa menjadikan dirinya lebih baik.

Nah sebuah kebersyukuran itu akan mengarah pada apa sih yg membuat manusia ini naik tingkat, dengan kata lain yaitu bahagia. Apakah yang membuat manusia jauh dari kebahagiaan? Dengan kata lain menderita. Sumber pertama suatu ketidakbahagiaan adalah keterikatan. Keterikatan akan materi dan dunia itu sendiri. Semakin terikat (apalagi dasar dharma) akan memberikan asupan energi

Menderita..adalah sebuah kata yang memang akan membelenggu selalu bagi yang hidup, atau telah hidup beberapa kali di sini, reinkarnasi beberapa kali. Disebutkan pula bahwa beruntungnya menjadi manusia karena hanya ia yg mampu berbuat baik untuk meningkatkan hidupnya. NAmun malah disisi lain, lahir menjadi manusia adalah sebuah kesengsaraan, karena akan hidup berisikan suka, duka, lara, pati, sedih, gembira, kehilangan, keterpurukan, dan tentu mngharapkan bahagia(ananda). Sungguh pun bagian hidup dan berakhir dengan siklus kematian. Apa setelah mati akan bahagia terjadi??

Apa sebenarnya yang membuat seseoran menuju ke penderitaan??
》Yang pertama mungkin adalah keterikatan. Sebuah keterikatan akan kedunawian ini. Duniawi yg seperti sesuatu jeratan sampai akhir jaman. Iya jaman, berusaha mengikuti perkembangan jaman yg tiada henti adalah sesuatu yg melelahkan. Seperti pengelompokam carwaka yaitu orang yg melepaskan nafsunya tanpa etika, seperti pula hedonism yang memupuk keinginan tanpa henti akan harta, kekuasaan, dan nafsu wanita. Yang pada akhirnya menderitakan diri sendiri yg menguapkan harga diri, keluarga, dan tenti saja ketidakpuasan tiada henti. Apalagi tidak dibarengi dengan kemampuan serta mendekat pada kehancuran.

》Kedua adalah mungkin ketidakpercayaan atau kekurangyakinan akan karma. Bahwa karma itu adalah suatu bagian kehidupan yang berasal dari keberpikiran, kata, kelakuan yg jauh dari kebenaran. Itu mungkin saja terjadi di suatu masa lalu, dan berpengruh pada masa depan bahkan melampaui kematian. Di saat tiada diri mengenal karma, maka saat itulah mental serta kekuatan untuk menjalani kehidupan yg keras ini sirna. Banyak manusia yg tidak bersedia mnjalani hasil karmanya yg mngkin terlihat kurang adil. Dan itu menambah rasa derita yg jika tidak terkendali akan memgarah pada perbuatan yg jauh dari baik dan benar. Padahal mental yg terasah untuk memasrahkan diri memjalani karma yg ada, akan membuat dan menarik berkat dari semesta. Ketertarikam semesta akan energi kebersahajaan dan pemasrahan diri adalah mempercepat suatu peleburan karma dan memberikan karma baik sebagai hadiah akan mentalitas yg kuat dalam menahan cobaan dan godaan.

》Yang ketiya sepertinya adalah kurangnya manusia (kita) melihat ke dalam diri. Mencari jalan mengenal suatu wahyu kehidupan dalam takdir ilahi pada citta kita. Penyelaman ke dalam lautan nurani, akan mendapatkan diri kita pada jalan sangkan paraning. Kembali ke asalNya. Dengan melihat diri, paling tidak akan memberikan ruang untuk kekal111melepaskan ujian hidup ini. Terkadang saat ini manusia seringnya mendahulukan mengenal orang lauin secra mendalan dan bias. Tentu saja akan sangat buruk jika kita mempelajaro buruknya orang lain, buat apa untuk belajar buruk dan berguru kepada lainnya. Hal itu menambah rasa benci, jengkel, amarah, serta menambah penderitaan saja. Paling parah adalah saat kita menyenanginya, kita menikmatinya, dan kita akkhirnya terbiasa. Kurang puas rasanya kalau tidak memiliki rasa benci, jengkel, iri dsb. Itu kurang baik buat kesehatan, termasuk kebahagian itu sendiri. Atau malah membenci orang yg berbuat baik. Terkadang sya berpikir, kejahatan itu ada karena kesempatan. Nah berapakah kesempatan berbuat baik yg telah anda lewatkan??? Menderitalah pasti bagi yg menciptakan diriya dari tubuh tubuh penderita yg ia injak2. Tidak kekallah sepertinya bahagia itu..

》Disebutkan bahwa dharma adalah yg memberikan sebuah pedang yg sanggup melibas kebodohan, bodoh atau istilahnya “punggung” adalah seseorang yg menolak dharma sbagai jalan kehidupannya. Dharma adalah basic atau pondasi dalam mendapatkan kebahagiaan abadi sampai melewati ranah kehidupan mendatang. Bahkan dikatakan manusia tanpa dharma hanyalah seperti “padi yg tanpa berisi”(srsmuscya). Dengan tanpa dasar itu, bgitu mudahnya manusia melekatkan hidupnya pada ketidak”dharmaan” semakin ia meliputi dirinya tanpa sadar, semakin ia menyemukan dirinya pada “maya”.Pada sumber ketidakbahagiaan itu sendiri. Orang yg memupuk itu hanya akan dekat pada kenikmatan dan lupa terbebas. Seperti borgol yg masuk dari pemuasaan panca indria. Setelah puas, maka meminta lagi tanpa henti sampai ia tak sanggup pada tubuhnya yg telah renta, dan pikirannya tidak ingin iklas pergi dari dunia, shingga kembali lahir.

Baju, sepatu, sandal, celana, rumah,kan tidak terbawa. Namun cinta, kasih sayang, yadnya, punia, ilmu, dan kekayaan dharma akan tetap tinggal dan menjadi bagian yang terkasih, keluarga, anak, istri, handai tolan, masyarakat sbagai bagian doa yg mnghntarkan menuju tempat akhir.

Dan jika pun masih harus lahir kembali, tenang saja. Kebahagiaan dari “diri”anda saat dulu itu pun, masih akan ada dapatkan kembali. Dari anda untuk semua kembali lagi pada anda sebagai bagian semua. Bukankah itu bahagia yg sejati dan abadi??

…Sanatana dharma…

Gwar des 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 November 2013 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: