RSS

Arsip Tag: bhagawadgita

Cetana dan acetana kesadaran dan ketidaksadaran atas manusia dan hewan…

Om pasupatya pujamkha ya namo namaha..agastya ning parwa ya namo namah..sahadjanataka dewarshi pujamkha aum om tat sat..

Cetana acetana..cetana artinya kesadaran..kesadaran yg membuat manusia sadar akan idepnya yg diberikan bhatara hyang untuk mengenal diriNya sendiri, dan juga mengenal atma tattwa, yaitu mengenal sangkan paraningMya..idep itu sendiri yg dianugerahkan kepada manusia shingga mengenal IA yg nanya suka duka lara bagya juga rogha dan terakhir pati..ini dikuasai oleh sattwika guna yg membuat manusia berbeda dari pashu atau hewan jga tumbuhan..
Dan acetana sndiri adalah brasal dri guna rajas tamas dimana hewan tidak akan mengenal adanya kesadaran akan diriNya sendiri..tidak mampu mengethui sangkan paran atau asal muasalNya dan susah sekali Ia jihwatman yg berada pada acetana mngthui “jalan pulangnya”..
Dalam srsmsucya disbutkan sungguh kebersyukuran terlahir menjadi manusia, krna dapat menigkatkan hidupNya dan sadar akan diriNya sndiri sbagai yg berkesadaran Tuhan..berbeda lah ktika sbagai binatang yg lahir dgn sifati guna rajas tamas tanpa sattwika, shingga manasNya tidak dibrikan kesadaran buddhi tattwa jga tidak dibri kesadaran akan wijnana maya kosa atau kecerdasan..maka ia tak akan mengenal namanya jnana yg membawa pada kelepasan dan hnya menunggu sesuatu (bisa juga manusia) untuk menyelamatkan dirinya agar naik derajatnya menjadi manusia..
Dalam agastya parwa disebutkan bahwa manusia yg telah sampai sbagai manusia uttama ning uttama, mampu dengan mudah untuk meningkatkan derajat binatang sampai ke taraf cetana kesadaran manusia pada kehidupan selanjutnya..dikatakan bahwa manusia suci uttama ning utama, apa yg ia makan, apa yg ia sentuh dan bahkan manusia lain yg berbicara atau disentuhnya bisa terlebur dosanya2nya, ini disebut sbagai sang maha rishi yg telah mengenal kesadaran atman cetana ning buddhi dharma kawisesan, minab smpun meraga Shiva (dewa panca rshi sapta rsi dewarsi dsb)..maka saat Ida mlkukan pemujaan, bahkan lingkungan yg mendengarkan mantra Nya itu tersomyakan atas berkat atma ning suhci itu…beryogalah Beliau agar mantra suciNya mampu menyupat acetana mnjadi cetana..pasupatya pujam.
Ini yg membuat wewantenan yg dipuput oleh Ida memberikan vibrasi juga energi besar yg melukati sekitarNya, bahkan juga yg mendengar dentingan genta Ida..sebagaimana juga bebantenan yg berisikan hewan2 yg ada niscaya akan juga termanifestasikan untuk naik tingkat bersama sattwika guna mnjdi yg lebih tinggi..diantara manusia ada mahluk lain yg juga dgn kecerdasan sama bhkan lebih tinggi, sperti yaksa gandharwa widyadara daitya aditya danawa rakasha paisacha dan sebagainya, mereka adalah abdi juga dri Ida hyang bhatara…
Kemudian para hewan itu (yg terdiri dri rajas tamas yg acetana) bersama guna sattwika akan mnuju pada kehidupan yg lebih tinggi dimana acetana mereka terlebur mnjdi cetana sattwika guna, dan rajas tamas mreka dikubur dgn sattwika guna yg dimana tidak dikenallah mereka lagi dalam kehidupan selanjutnya..dlam bhagawadgita disbutkan AKU mengenal kelahiran2Ku sebelumNya, tetapi tidak engkau wahai arjuna yg melupakan kelahiran2mu”…

Karena itulah kelahiran seblumnya yg dikenal oleh beliau yg wikan adalah sattwika gunaNya, (pitara sane samsara) bukan rajas tamasNya..namun kmbali bhagawadgita menyebutkan ” Diantara ikan AKU adalah seekor Hiu” maka kesadaran Tuhan sendiri ada dalam hewan juga..
Binatang apakah Aku di masa lalu? Mudah saja untuk melihat itu, tapi memastikanNya adalah berlakukah dgn meninggalkan sattwika guna, maka tertinggal rajas tamaz saja, niscaya kelak engkau akan lahir sebagai hewan yg meminta untuk kembali menjadi manusia (wrspatti tattwa)
Shanti rahayu om

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2018 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

Sad Ripu dalam Bhagawadgita dan Hubungannya pada Maya..

Om saba ta a i na ma siwaya..

Om tryambakam ya jamahe.sugandhim pusti wardhanam.Uvarikmwa Bandanhat Mrtyormuksiyah mamrtat..

Semua ujian ini, Hanya padaMu Aku brsujud untuk diberi kekuatan menyingkapNYA…

trimurti4

Sad ripu, adalah enam golongan atau sifati dari diri yang menjadi musuh utama dan selalu menjadi bagian kehidupan sampai itu menuju kematian itu sendiri..Hal ini sangat sekali berhubungan dengan bagaimana Maya dari IA Sang Penguasa tiga Alam, sattwika rajasika tamasika, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, kecuali menyadari Nya dan memilah mana yang akan menuju jalan kebijaksanaan dan kebahagiaan yang sejati.

Mengenali diri dan mengenal Sang Pencipta adalah jalan yang sungguh pun semakin menyadari bahwa musuh-musuh utama itu adalah sangat mengikat dan menjadi halangan dan rintangan untuk menapaki tahapan tangga untuk ke tujuan.Atma widya serta Brahma widya akan semakin mempurifikasi ahamkara menuju buddhi yang jnana dan menyatukan atman serta brahman..

Ketika atman sebagai ananda maya kosa yang suci atau antakarana sarira badan bahagia, maka terlingkupi IA sebagai suksma sarira badan halus yang terdiri dari Vijnana Maya Kosa badan kecerdasan (citta buddhi), Mano maya kosa badan mental sebagai buddhi manas ahamkar, Prana maya kosa badan etheris yang berhubungan dengan dunia luar tri guna serta ahamkara ego yg terjebak tri guna, yang terakhir adalah badan kasar stula sarira annamayakosa..

Sebagai bagian itu maka skemanya sbagai berikut- Panca Maya Kosa dan selubung Atman

(Brahman)Atman(Aikyam)–> Antakarana Sarira / Ananda maya kosa..

*Suksma Sarira*

Citta (Buddhi yg cerah), Intuisi,–> Vijnana Maya Kosa (badan intelek cerdas, memahami Wiweka secara benar baik.

Buddhi (awal) terpengaruhi tri guna + Ahamkara yg Sattwika-> Manomaya Kosa, Badan Mental,Akal pikiran mulai mengenal keterikatan diri atas Maya dunia… 

Ahamkara Ego (rajasik tamasik->pengaruh acetana (ketidaksadaran) –> Prana Maya Kosa, Badan etheris bruhubungan langsung dengan kegiatan kekuatan hidup,..berhubungan dengan indera pada dunia

*Stula Sarira –>Annamaya Kosa ..terdiri dari Panca Buddhindriya Panca Karmendrya 5 indera pengenal dunia, serta indera melakukan kerja karma di dunia..

Dan ketika pemahaman itu sudah menjadi lebih dimengerti, maka kesadaran akan musuh diri yang terliputi Maya dunia dan menjadi energi yang menjauhkan diri yg “Sadar”.maka Sad ripu adalah bagaimana manusia kalah oleh pengendalian Diri akan keterikatan duniawi..Hanya pengetahuan SuciNYA yang membebaskan dari keterikatan itu untuk menuju pada AnAnda Maya Kosa badan yang berbahagia..

Sad Ripu adalah enam yang perlu disadari dan dikontrol sehingga mampu menjadi energi yang lebih baik.. Kama, Mada, Moha, Lobha, Matsarya, Krodha adalah yang dipengaruhi oleh MAYA yang bersifat Rajasikam penuh nafsu dan tamasikam yang bodoh tidak mengenal pengetahuan yang suci..Ketika Satttikam hadir di rajasikam, maka itu menjadi keoptimisan dan ambisi yg terkontrol, namun ktika tanpa kebaikan kebijaksaan kebenaran (sattwika), maka itu hanya menuju tamasikam, maka rajasikam akan dipngruhi oleh kegelapan(tamasik bodoh)..

–Kama-– adalah hawa nafsu, itu juga termasuk dalam catur purusa artha, maka kama yang bisa diterapkan sebagai kebaikan adalah mereka yang mendasariNYa dengan Dharma. Kama sendiri hendaknya dikatakan sebagai suatu bahan bakar untuk menuju pada tujuan Manusia itu sendiri,Keterikatan akan objek-objek dari dunia (maya) hanya akan tidak menuju kepada kebahagiaan itu sendiri, ananda maya kosa..tubuh yang berbahagia karena telah kembali menuju kesejatian, ya brahman atman aikyam..

-Krodha– adalah kemarahan, maka ketika marah menjadi tidak terkotrol, hancur ia nanti pada penyesalan.. Karena kesabaran akan menuju pada mereka yang benar2 tidak terikat oleh dunia itu sendiri..

**Bhagawadgita sloka 2.62**

dhyayato visayan pumsah, sangas tesupajayate, 

sangat sanjayate kamah,kamat krodho bhijayate..

Artinya : Selama seseorang merenungkan objek2 indria indria, ikatan terhadap objek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itulah berkembangnya hawa nafsu, dari hawa nafsu timbullan amarah..

Dari sloka diatas dikatakan, mengetahui subjek panca buddhindrya dan karmendrya, maka dunia adalah sebuah objek-objek itu sendiri.. Secara berlebih ketika mereka tidak menggunakan indria sebagaimana mestinya,maka terikat dan ketika tidak mendapatkan sebuah kepuasan karmendriya atau buddhindrya maka Krodha menjadi itu, dan akan membawa hawa nafsu menjadi jawaban atas pesona objek tersebut..

–Moha—.. adalah sebuah kebingungan, kebingungan terjadi karena pada tahap pengurangan ego ahamkar, terlalu banyak mengambil pengetahuan berdasarkan kebenaran atau pembenaran.. Hal ini  terjadi kembali pada badan mental atau Mano Maya Kasa yang berisikan jnana buddhi yang mulai mengenal wiweka namun belum mampu memisahkannya.. Dewa iya Bhuta Iya..Memang rwa bhineda akan selalu ada sebagai isi bumi, namun jalan dharma raksaka adalah seorang yang lengkap tunduk sebagai abdi dharma, dan telah memahami bibit-bibit adharma di dalam diri..Saat itu IA menjadi kan dirinya seorang bijak bajik dan tidak menyerah pada kuantitas dharma yg selalu lebih sediikit di jaman kali yuga ini..Tetapi sebuah evolusi mental yg menggenapi diri sebagai manusa yang tidak bingung karena kekuatan jnana atas panca sraddha, bgitu pula mantap dalam bhakti kepada panca yadnya itu sendiri..

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Maka awal utamanya adalah kemarahan atas kendali hawa nafsu, ketika marah merajalela maka moha atau kebingungan atas yang SEHarusnya terjadi, membuat khyalan-khayalan itu membuat kecerdasan akan menurun menyusut, Kecerdasan adalah bagian dari VIjanan maya Kosa atau ciitta yang mencakup buddhi yang telah menenal wiweka kebaikan dan ketidak baiikan..Kesadaran akan itu, maka buddhi memiliki dua pilihan.

Sattiwka ning buddhi Dharma Citta, akan membawa kecerdasan itu sebagai guru yg memiliki idep yang mantap yang mengetahui dharma, baik yang bijak atau bajik, baik yang siap sebagai maha guru atau pun murid dari semesta..Yang tahu bahwa nanti ketika pengetahuan tentang kebebasan diungkap, akan menyucikan lainnya..Dalam tapa semadi dan sadhana(diam)

Sattwika Rajasikam Citta Buddhi Dharma Rakhsaka..Adalah saat pilihan kedua bagi mereka yang mengetahui Kebaikan Kebenaran (Dharma), dan berjiwa sebagai pembela dharma, maka mereka adalah bagian-bagian dari pasukan penyebar dharma..Apakah sebagai seorang jnana dharma yang mampu menghilangkan adharma di diri serta membuat mereka (musuh) dharma takluk. Mereka adalah kalangan nastika, yang menyepelekan dan merendahkan weda serta keagungan dharma.. Mereka adalah diibaratkan sebagai padi tanpa isi.. Artinya mereka bodoh dan kurang cerdas akan pengetahuan agama baik agamanya mereka sendiri, atau kebenaran kebaikan universal itu..

–Matsarya-– Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”. Apalagi jika iri ini menutup hati atau panca maya kosa yang menambah bahan bakar ahamkar sehingga buddhi citta akan terbungkus egoisme rajasikam tamasikam untuk mencapai Brahman Atman Aikyam.. Buddhi sebagai wiweka kecerdasan yg terhubung dengan Citta akan semakin jauh..Dan apalagi tidak melakukan yadnya panca yang telah diturunkan leluhur..Karena Maya yg massif dan menjadi belenggu setiap mahluk, akn tidak membawa kedamaian itu sendiri.. Lekat dengan duniawi seperti hedonisitas atau carwaka, adalah sangat lekat dengan nastika itu sendiri.. Membuat harta tahta dan berlindung di tamasika,hanya akan membuat akhir perjalanan hidup hanya kehancuran..Sesuai dngan wrspatti tattwa, satwik lekat dengan moksah, rajasik satwik lekat dengan surga, rajasik dan tamasik saja lekat dengan neraka dan reinkarnasi yang buruk..

–Lobha– Adalah kerakusan atau ketidakpernahpuasan atas apa yang dimilikinya. Menginginkan lebih lebih dan lebih.. Yang lekat pada keterikatan materi dunia. Mereka seperti dipermainkan oleh dunia, tetapi mereka sadar atau tak sadar.. Ketika sadar maka mereka tidak mampu lepas, karena pegangan mereka untuk itu tidak ada..Maka kebebasan itu adalah ada pada mereka yang baik bijak dan senang akan pengetahuan rohani yang suci serta kebebasan kebahagiaan yang suci.. Mereka yang tidak sadar, maka bagaimana mungkin mereka akan lepas dari kerja yang selalu mengharapkan hasil lebih, lebih, dan memompa amarah ketika hasil yang tidak sesuai..Ambisi dari ahamkar yang rajasikam, akan baik bila dipengaruhi sattwikam sebagai dasar dharma..Namun ketika mereka menggunakan cara kurang baik, adhaarma, dan melenyapkan pengetahuan suci itu sendiri, Mereka hanya akan hidup dan seperti gila oleh kemabukan harta tahta dan nafsu duniawi..Ketika mereka menyangkal mereka terikat dan tidak sadar akan keagungan Dharma yg membebaskan, maka mereka hanya akan masuk ke dalam jurang reinkarnasi, kepada kerja yang harus menghasilkan dan terikat akan hasil itu.. Maka yadnya apakah yang bisa menyadarkan? kecuali mereka giat berpunia, namun tetap kesadaran itu hanya ada pada mereka yang tahu akan MAYA(KU)

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan..

Dari dua sloka di atas maka disebutkan bahwa, kebebasan dari rasa iri,akan membawa diri menjadi terlepas dari MAYA itu sendri, artinya adalah bahwa Maya yang merupakan kekuatan prkrti Brahman, akan memberikan balasan pahala atas iklas itu sebagai suatu hadiah pahala pada mereka yang mengabdi secara tulus dan iklas serta insaf.. Semakin terikat maya, terutama atas pencarian artha kesejahteraan dengan cara yang kurang baik, maka IA atau mereka hanyalah akan mendapatkan dosa, dan jauh dari pengetahuan suciNYA tuhan brahman dalam ketidakbrsyukuran, kelobhaan serta berasal dari rasa iri yang tidak pernah puas..Maka mereka akan selalu terikat dari hasil dan pahala, kecuali keiklasan akan membawa Tuhan turun ke ranah pahala di dunia..Ketika mereka melakukan yadnya, maka saat itu sebenarnya Diri yang berpribadikan Atman yg suci menuju pada sebuah kesempurnaan itu sendiri.. Bagi mereka yang paham akan mendapatkan hasil dari yadnya, yang mereka sadari sebagai keiklasan atas yadnya panca itu sendiri…

Sloka 3-27

Prkerteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah, ahankara-vimudhatma kartaham iti manyati..

Sang Roh yang dibingunkan oleh pengaruh Keakuan Palsu menganggap dirinya pelaku kegiatan yang sebenarnya diakukan oleh tiga sifat (tri guna) alam material..

–MADA- Kemabukan, yang membuat manusia lupa diri, manusia yang terbelenggu oleh kenikmatan dari keterikatan materi dunia, yang juga tanpa sattwika,akan berasal dari loba kerakusan yang dimabukkan oleh belenggu rasa iri, tentu saja dari kroda yang membuat hayalan serta kebingungan tetapi tidak merasa bingung.. Artinya mereka mabuk akan keterpengaruhan alam tiga sifati itu.. Maya itu melupakan diri, memabukkan IA pada kebahagiaan semu, apalagi jika mereka menikmati kemenangan mereka dari kemarahan, iri, kerakusan yang menyenangkan yang membuat bingung itu sendiri..

Keakuan palsu adalah mereka yang berada pada kendali tri guna, namun mereka mnyatakan ia adalah pelaku kegiatan, bukan dari tri guna. Namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda bahwa mereka mencari keuntungan karena diri mereka yang pintar, mereka mengungkapkan kebenaran karena diri mereka yang tahu segalanya, atau bahwa karena keakuan palsu itulah yang menyebabkan kebahagiaan (keakuan semu) yg mereka sadari.. Mereka mabuk bahwa hanya mereka yang mendapatkan semua berkat ini, namun sabda Tuhan, pun mereka ketahui dengan amarah, dan kerakusan akan pembenaran.. Pada hal Sabda Tuhan yang paling perlu diingat selain panca sraddha yang sattwika dan rajasika atau tentang filsafat etika upacara, adalah memahami mereka hanya sebagai abdi dari kekuatan Tri MayaGuna itu sendiri..

Maka kepribadian Tuhan menyatakan Aku mencipta kebaikan keburukan sattwika rajasika tamasikam, namun Aku tidak berada pada “itu” dan “itu” tidak berada pada AKU…

Hare kalkya Kalkya Hare Hare

Asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir  gamaya, Mrtoyrma AMrtam gamaya

Om santi rahayu raharja Om

salam gwar

lihat juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

sumber :bhgwadgita, wraspatti tattwa, meditasi sathya baba

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Korelasi antara Catur Warna dan Catur Marga..

tara yantra

Seperti telah diketahui bahwa Warna yang ada di setiap mahlukNYA di bagi menjadi empat yang utama. Artinya adalah itu menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada

manawadharmasastra II-18 :

tasmidece ya acarah parampyakramagatah,

warnamam santralanam sa sadacara ucyate..

Artinya adalah bahwa Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”..

Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri..

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran..

Sarasamuscaya 61.

raja bhirur brahmanah sarvahakso vaicyo’nihavan, hinahvarno’lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta

Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waica nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alemen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila

Artinya adalah Jika hal yang demikian keadaannya ; raja yang pengecut, brahmana yang doyan makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi pada tri warna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.

Tetapi filsafat tat twam asi akan trus mengumandangkan kebersamaan yang indah dan mendamai, sprti disebutkan bhagawadgita..

Bhagawadgita V-18..

widya-winaya-sampanne brahmane gawi hastini suni caiwa swa pake ca panditah sama-darsinah..

artinya adalah Oati, orang bijak melihat dengan pandangan sama. baik seorang brahmana yang terpeajar dan rendah seekor sapi seekor gajah atau bahkan seekor anjing atau seseorang yang berkelahiran hina..

silakan cek link ini untuk memperjelas..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/06/03/warna-yang-terdapat-pada-setiap-diri-umat/

Lalu dalam hindu sendiri,dikatakan terdapat 4 jalan atau catur marga yang disesuaikan dengan siapa bagaimana serta apa yang cocok bagi IA itu. Tentu saja Maya dunia (sattwika rajasik tamasik) akan selalu ikut ambil bagian mempengaruhi setiap jalan jejak langkah penuh makna manusia itu sendiri..

Marga yang pertama adalah

****Bhakti Marga****,—–Secara jelas bahwa seorang bhakta adalah pengabdi sejati yang artinya melayani tuhan secara tulus iklas

Seorang bhakta secara jelas di sunting pada percakapan suci bhagwadgita XII..Dan dijelaskan di itu adalah bahwa seorang bhakta dikatakan sebagai berikut :

Bhagawadgita XII-10

abhyase ‘py asamartho’si mat-karma-paramobhawa, ma-artham api karmani siddhim awapsyasi..

Artinya : Bila engkau juga tak mampu melakukan ini, maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang melayani diri_KU; bahkan dengan melakukan kegiatan demi untuk-ku saja, engkau akan mencapai kesempurnaan..

Dalam hal ini adalah bahwa seorang bhakta akan melayani tuhan sesembahannya dengan tulus iklas, tentu saja itu akan dipengaruhi oleh Sattwikam shingga menjadi kebahagiaan yang bajik dan bijak..

Setiap dari sebuah yadnya akan ada berbagai tinjauan akan struktur sosial, alam itu akan memilij semua itu dalam yadnya..Melayani semua itu terluapkan pada keseluruhan warna, dan seorang brahmana adalah seorang bhakta yang menyomyakan sarana upacara menuju yang dituju. Dan semua itu akan memiliki berbagai kedudukan sesuai yang tergenerasikan dan tertuju pada penghormatan di seluruh makna yang ada…

****Karma Marga**,**

Secara jelas bahwa karma marga disunting pada bhagawadgita bagian III..Karma Marga adalah jalan yang diibaratkan seperti seorang pekerja yang meleburkan hasil kerjaNya kepada yang menjaga dan menjadi sesembahan para Karmin. Di bhagawadgita disebutkan :

BG-III-8

niyatam kuru karma twam karma jyayo hyakarmanah,sarira yatrapi ca te na prasidhyed akarmanah.

Artinya : Lakukan kegiatan yang diperuntukkan bagimu, karena kegiatan kerja lebih baik dari pada tanpa kegiatan (pngruh tamasika) dan memelihara kehidupan fisik sekalipun tak dapat dilakukan tanpa kegiatan kerja..

Maka seorang karmin akan sangat dekat denga waisya ketika melaksanakan itu untuk mencari menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi yang dicari dengan baik dan benar untuk mencapai karma yang baik.. Dan selain golongan waisya, maka tiga golongan lain tentu saja tetap untuk mencari amertha,mertha dari seluruh kewajiban mereka..Hal ini juga sangat erat hubungannya dengan catur asrma grehasta. Dimana tanggung jawab untuk menjaga kebahagiaan adalah denggan mencari artha dengan sokongan dharma itu sendiri.Tidak ada yang sebenarnya lepasdari kegiatan kerja karmin..

****Jnana Marga****

Jalan pengetahuan suci untuk mengenal panca sraddha secara mendalam.. Bagaimana panca sraddha itu diwujudkan sebagai filsafat hindu yang mendalam dan wajib oleh seorang jnanin mengupasnya untuk kemudian diberikan pemahamannya kepada seluruh umat yg memerlukan. Maka seorang jnanin juga seorang bhakta yang melayani untuk memberikan pengetahuan suci itu kepada yang semuanya.Jnana marga dapat dipahami bhgwdtita bagian IV..

BG. IV-19

yaysa sarve samarambhah kama sankalpa warjitah,

jnanagni dadha karmanam tam ahuh panditam buddha.

Artinya : Ia yang melakukan kegiatan yang seluruhnya bebas dari pamrih, yang kegiatan kerjanya dibakar oleh apai kebijaksanaan (jnana), oleh para bijak disebut Ia sebagai orang yang terpelajar..

Maka bahwa seorang jnanin yang memahami panca sraddha akan masuk pada wilayah masing-masing dari itu. Brahman maka diketahui oleh jnanin tentang pelajaran brahma widya, Atman kemudian diketahui oleh IA sebagai pengetahuan Atma Widya, ter masuk sampai manunggalnya Moksah di dunia dan di alam nanti..Semua itu adalah selayaknya dimiliki seorang jnani dengan pengetahuan itu sendiri.

Ada tiga cara untuk mengetahui pengetahuan suci, yaitu anumana pramana prtyaksa pramana agama pramana, maka ketika itu dikombinasikan, akan menjadi suatu bahan tersendiri untuk senantiasa membuat NYA tersenyum bahagia..

Seorang Jnanin adalah pula seorang Brahmana yang melayani umatnya,dan Weda yang dikatakan sebagai aje wera, sebenarnya tidak terlalu perlu ditakuti. Karena bagi mereka yang telah menerima eka jati atau pewintenan saraswati dan pewintenan lainnya,Hendaknya senantiasa mempelajari weda itu sendiri, dan bahkan sambil lalu mengagumi keagunganNYA mengamali ajaran sucinya dan menjadi tauladan dari seluruh lingkungan terdekat bahkan ke luar lingkungan..

Ilmu lain seperti ilmu artha sastra sangat layak dipertimbangkan sebagai bagian ekonomi umat, cara untuk mempertahankan diri, serta kebersamaan yang berkeadilan sosial..Manawdhramsastra dan kitab2 suci lelontaran lain, akan sangat bermanfaat ketika moral makna dalamnya dikombinasikan diakulturasi kan di sikretiskan untuk kejayaan hindu itu sendiri..

*****Raja Marga*****

Raja marga adalah sebuah jalan kontemplasi, ini biasanya dikatakan sebagai jalan dri sanyasin bhiksuka, Namun belakangan ini jalan meditasi serta jalan kontempasli adalaha jalan indah untuk melepaskan diri dari belenggu MAYA(KU) itu sendiri. Jalan ini sangatlah baik, namun selayaknya dilaksanakan di ruangan yang tenang dan ruangan yang sunyi senyap, agar panca tan matra tidak ditangkap oleh panca buddhindriya dan tidak mempengaruhi panca karmendrya.Dan khusyuk menemukan atmaning rahsya di sekeliling citta sebagai alam bawah sadar yang dalam. Raja marga seperti tapa yoga samadhi adalah jalan menuju kemoksaan itu sendiri. Di saat menyatu IA pada hyang disembahnya, akan menuju pada kewaskitaan itu sendiri..

Jalan ini adalah jalan berkat, dan sungguh harus mengalami pengalaman mental yg tidaklah mudah..Maka berbagai itu maya yg mereka lampaui, maka pengalaman itu akan mencapai kepada planet-planet keindahan surga di ketiga dunia. Menurut sloka bgwadgita 8-8 sbagai berikut :

BG 8-8

abyasa yoga yuktina, cetasa nanya-gamina, patamam purusam divyam yati parthanucintayam…

Artinya adalah Orang yang bersemadi kepada KU sebagai Kepribadian Tuhan yang maha esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-KU, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dia lah yang pasti mencapai kepadaKU wahai partha..

Maka dari ini, dikatakan bahwa raja marga adalah jalan yang menuju kewasikataan dan persatuan pula kepadaNYA hyang ilahiah. Jalan ini dapat dilihat pada para pelaku spiritual, yang supranatural dan dekat dengan alam ghaib serta mampu menggunakan itu untuk kebermafaatan. Wilayah ini termasuk pada para balian atau yg memiliki berkat-berkat keindahaan para Hyang mereka suhun, dan ngiring. Dalam berbagai warna, ini ada dimana mereka diberikan jalan yang tentunya dirasa berat bagi yang lain, tetapi sangat penuh iklas dan insyaf pada seluruh kualitas yang disembah itu..

Mereka terlepas dari warna apa pun, dan mereka melayani tuhanNYA sebagai bhakta, melakukan kerja karmin yng iklas, secara intuisi mngalami jnana yg sesuai serta dekat dengan pengetetahuan suciNYa..Weda sendiri sangatlah dianjurkan untuk membacanya dengan dasar yang kuat, namun itu bukanlah halangan yang besar..Ketika ingin mencari kebenaran dari weda, apakah itu kebenaran yang suci, yang benar atau yang melepaskan diri dari Maya(ku), maka sesungguhnya pun niat suci itu terus menerus akan memberikan kedamaian dari purifikasi atma widyaning rahasya…

Sarasamuscya…niat suci dikatakan sebagai berikut..

Ketika mereka yang mencari kama artha moksa kadangkalanya tiada berhasil, namun ketika mereka bermanacika berdasarkan dharma, maka itu akan terlaksana walau hanya diimajinasikan sahaja..

Artinya adalah bahwa niat suci untuk melakukan dan melaksanakan dharma di weda atau menyebarkan dan mengkontemplasikan diri pada saat mewacakang weda maka itu adalah sebuah kebercukupan. Dan niat suci itu dikalikan berlipat-lipat jua, bahwa mereka yang meyakini weda dan bisa memahaminya adalah sebuah kebahagiaan paling sejati. Namun weda sendiri akan menantang mereka untuk tidak percaya dahulu, tetapi menyerahkan semua pada KALA (waktu) untuk membersihkan hati menuranikan rahsa untuk menjadikan mereka sebagai wedantis yang diagungkan alam semesta..

Maka berbahagialah wahai para dharma raksaka.Berbahagialah wahai itu yang meyakini (KU)-Weda. Bahwa dengan itu engkau mendapatkan berkat, kejayaan, kerahayuan, kesejatian sebagai pejuang Dharma, dan sebagai para Bijaksanawan yang hakiki…

Satywam eva Jayate..

Gwar…Sang penyair…

sumber bhgwdgita

sarasamuscaya

wrsapatti tattwa

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2014 in agama, doa

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Ngiring sesuhunan IDA hyang Kalki Avatar..

Sambhawami yuge yauge..

Hari krushna hari kalkya

Hari kalkya hari khrusna

Khrusna khrusna hari hari

 kalkya kalkya hare hare.

kalki_the_tenth_avatara_the_ten_incarnations_of_pg56

Aum Aku datang dari jaman ke jaman untuk menegakkan dharma..

Aku datang dari jaman ke jaman untuk menyelamatkan dharma dari adharma

Aku datang dari jaman ke jaman untuk menyelamatkan dunia

Aku hadir sebagai krisna, dan aku ada sebagai rama pula

Aku lahir dari jaman ke jaman untuk menjadi penyelamat seluruh manusia..

Ida sesuhunan kalki avatar, sebenarnya adalah jawaban atas semua kegusaran dari kaum yang merasa berjalan di atas kebenaran…

Ida sesuhunan kalki avatar berada pada mereka yang dipingit untuk mempelajari kebenaran dari seluruh wadah apa pun…

Ida sesuhunan kalki avatar sebenarnya adalah raja keadilan yang tegas tanpa pandang siapa, tetapi memliki ratu keadilan yang memahami kemauan para penikmat kebenaran…

Ida sesuhunan kalki avatar adalah semua ramalan yang ada dan benar dari seluruh dunia tentang hari akhir..

Ida sesuhunan kalvatar juga berada pada mereka yang berjalan di kebenaran dengan nama nama yang lain dan indah

esa sat wiprah bahuda wadanti..

sesungguhnya esa IA dan mereka yang bajik bijak menyebut IA esa dengan nama lainnya..

Ida sesuhunan kalki avatar akan menjadi keadilan bagi mereka yang melakukan ritualnya masing-masing secara benar dan baik sekaligus bajik

Ida sesuhunan kalki avatar akan diragui oleh mereka yang hanya berjalan di tempat akan kemampuan kebenaran mereka

Ida sesuhunan kalki avatar akan diyakini baik dulu, nanti dan akan datang cepat atau lambat

Ida sesuhunan kalki avatar akan hanya hadir pada setiap malam, tapi akan hadir pada setiap nafas yang terhembus

Ida sesuhunan kalki avatar akan menanyai mereka yang lupa akan jumlah nafas mereka ketika mereka ragu akan kebenaran mereka sendiri

Ida sesuhunan kalki avatar akan membuat jiwa mereka lenyap tetapi masih dalam kehidupan

Ida sesuhunan kalki avatar akan membuat mereka merasakan apa yang mereka lakukan sebelumnya baik itu bajik atau tidak, tetapi IA bukan di itu dan itu tidak terdapat IA

Salam gwar..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/29/perwujudan-dan-sujud-pada-suatu-kekuatan-agung-akhir-jaman-kalvatar/

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 24 April 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Sebuah Benang Merah Nusa Antara…

Aum Tamasoma Jyoitr Gamaya, Mrtyorma AMremtam Gamaya, MahaKsampurna Ya na Namo Swaha Namasiwaya.OM..

shiva anataraja

Nusa ANtara adalah sebuah negeri yang penuh rasa yang rahasya. Rasa yang menjadikan nikmat2 kejagahtan Hyang Seperti Manik Manik Antarswaha buana. Sebuah bangsa yang kaya yang tiada kekurangan yang selalu akan jaya selamaNYA bagi kepada mereka yang Yakin dan Percaya…

Nusa-Antara sebenarnya adalah benua yang indah dan melenyap sirna, namun akan ditunggu-tunggu kedatanganNYA selalu. Bagaimana di Nusa-antara dahulu kala, adalah sebagai wilayah yang penuh kesemestaan dan keagungan dari ilahiah, baik sebagai bapa angkasa atau baik bagi ibu parthiwi..Seperti dahulu MAhenjo Darro Ibu pertiwi, lalu menuju sarkophagus,dan wilayah-wilayah angker namun bersahadja di situs2 purba-khala di seluruh nusa-antara..

Tidak dipungkiri jaman ini adalah jaman dimana hedonisme adalah hal biasa, dimana kaum carwaka meraja-lela dan merupakan yang biasa saja ketika melihat keterikatan dari maya dunia. Dan ketika itu tidak dicari dengan cara paling bijak dan paling bajik, hanya akan membebani keturunan sampai bahkan ketujuh turunan..Kenapa harus tujuh?, karena itu sekitar 500 tahun..(dipersilakan menghitung sendiri)…Tetapi 500 tahun hanyalah sekejap seperti 5 menit brahman…

Terlepas dari itu, maka jaman akhir telah dikatakan diramalkan dan disejogjanya diyakini, dipercayai..Dan terkadang hendaknya di paksakan kepada mereka yang berada di alam bawahan yang terkena kendali mahya dunia (sattwam rajasikam tamasikam)..namun itu adalah kesunyatan ketika utpeti sttiti pralina menjadi bermakna oleh karena pengaruh triguna tersebut..Dan hanya pedang kebajikan pedang kebangkitan pedang kebijaksanaan, mampu mengendalikan maya dan menghancurkan semua yang tidak sejalan dengan maya di dunia satya yuga dan kertha yuga.

Lihat dilink ini :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/29/perwujudan-dan-sujud-pada-suatu-kekuatan-agung-akhir-jaman-kalvatar/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/03/16/realitas-kebenaran-maujud-apa-itu/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/11/bagaimana-beliau-bisa-banyak-nama/

Dan sebuah keniscayaan akan kebenaran, ketika melihat bagaimana dahulu seperti ramalan sabda palwan noyo genggong oleh brawijaya dan kisah mereka..Ketika itu brawijaya memiliki dua penasehat yaitu Dang Hyang Smaranatah (hyang semar) dan Sasuhunan Kalijaga…Mereka adalah sabdo palwan dan noyo genggong…Dan ketika kutukan pastu itu terjadi, maka lenyap sabdo palwan dan masuk ke dalam alam bhur bwah dan swah… Keitka itu muncul pula Sang Mahesa Jenar, yaitu yang langsung mampu mendalami keislaman sampai rahasia mahrifat.. Dan Beliau dijuluki Syeh Sthiti(waisnawa saktya) Jenar. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Anak dari Sabdo Palwan itu. Banyak kisah waskita dan kesahajaan Beliau.. Dan akhirnya setelah usai di jawa, Beliau menuju Bali sebagai penyebar agama tirtha, lalu sampai ke lombok sebagai penangkulturasian sinkretis islam watu telu…Dan begitu pula akhirnya moksah IDa di wilayah uluwatu..

Sabdo Palwan sendiri identik dengan Kewaskitaan Nabi Nusantara yaitu Nabi Khidir. Yang memiliki kemampuan menghentikan Kala (waktu), memiliki kemampuan untuk menyerang dengan PanjakNya kasat mata (baca : dibali adalah Ida Ratu Niang – Sakti dari Dang Hyang Dwijendra, Di laut selatan Ratu Kidul)…Dan begitu lah ketika memang sudah saatNya pralaya,maka sesungguhnya yangterjadi adalah:

Bhwadgita ..

Bagaimana dikatakan ketika dunia pada cengkraman adharma (kebiadaban, kejahatan, kekerasan, kehilangan sifat manusia) telah bertambah, Maka Aku akan datang dari jaman-ke jaman menegakkan kebenaran (dharma,kebaikan, kebijaksanaan, kebajikan–universal) dari cengkraman Adharma…

(sambhwami yuge-sambhawi yuge)

Itu akhirnya bagaiman surga neraka ada di alam sana adalah benar adaNya.

Baca :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/12/24/manusia-akan-kemanasetelah-kematian-wraspatti-tattwa/

Dan moksartam jagaditham satya ning LAku sabda manah, Maujud hring Ya ca Iti DHarma, mrityorma Amrtam Gamaya..Ksama sampurnah Ya namo nama swaha..

om Santi om

Om rahayu om

om Raharja om

Om awignamastu namosidham…

..Santi santi rahayu rahsya sahadja..

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Realitas Kebenaran…Maujud Apa Itu?

Om hare kalkyantara hare kalkyantra ya namo nama swaha

hare kalkya hare kalkya
kalkya hare kalkya hare
hare hare

Salam Kebangkitan..

..Om Paramasiwa,Sadasiwa,SiwaNarayana, Om Namasiwaya..

Maaf kelancangan hamba, ku-persembahkan ini hanya pada-Mu..

Sering mendengar sebuah frase yang Maha, itu seperti mendengar balutan kata “Realitas Kebenaran”. Apa itu sebuah Realitas Kebenaran? Apakah Sebuah fakta tentang idealnya “diri’ sekaligus “dunia”? Atau bagaimana kenyataan di “sini” di dunia dalam bentuk sebagai unit “diri” dan tentunya semesta yang sedianya terjadi di sini..Awalnya yang mendasari semua adalah kekosongan, sebuah kehampaan, ketiadaan, kediaman. Yang menjadi awal dari segala-galaNya, dan menjadi suatu permulaan yang mengaktif sehingga berisi…

Lalu, beranjak jauh kepada realitas dari kenyataan di dunia ini. Apa yang kita telah lihat melalui indera kita (anumana pramana), dan kita rasakan dengan alam pikiran kita(prtyaksa pramana), dan pula dari berbagai pengetahuan hyang lalu (agama pramana), apakah kita merasakan akan suatu kenyataan realita yang “Benar”?Jika sudah “Benar” maka itu berarti kita memberikan berkat bahwa realitas yang ada itu adalah Kenyataan yang diharapkan, atau memasrahkan diri pada Nyata(Maya) ini….Jika akan “Benar” maka bahwa kita mengharapkan ini bukanlah suatu yang ideal dan seharusnya, tetapi ada keharusan dari kita untuk selalu mem”Benar”kannya dan kita yakin nanti pasti “Benar”.

Di balik penceritaan dan pemahaman realitas-kebenaran yang ada, perlu dilihat dari apakah itu merupakan suatu idealnya dunia ini, atau idealnya diri sebagai pemilik dunia yang mampu berpikir (idep). Di dasari awalnya adalah ketika dunia ini adalah suatu maya (acetana) ketidak sadaran akan realitas-kebenaran itu sendiri. Maka sehendaknya dengan kesadaran akan maya,membawa manusia menuju pengetahuan akan maya dunia.

Kembali pada kehampaan, kediaman, kekosongan sebelum adanya dunia dan kenyataan ini, maka sebuah Realitas-Diam yang disebut sebagai Kekuatan energi yang penuh, memulai sebuah aksi dan aktivitas. KeMauanNya(Brahman) itu merupakan kekuasaanNya sendiri. Dari sebuah keadaan tanpa sifat (Nirguna Brahman-Parama Siwa), yang tidak terlacak, tidak bisa dibingkai, diam, tidak terpikirkan, mengaktifkan diriNya dengan sifat (guna). Guna sattwam (terang,bijak), guna Rajas(aktif bergerak), guna Tamas (gelap,diam). Dengan guna itu maka Brahman sebagai realitas tertinggi merealisasikan diriNya menjadi Berpribadi (Saguna Brahman-SadaSiwa). Beliau memiliki empat Kemahaan Utama (Cadu Sakti) ..Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Wibhu Sakti (Maha ada), Jnana Sakti (Maha Tahu), Krya Sakti (Maha Membuat)..

Dengan Krya Sakti Ia Membuat Dunia beserta segala isinya, dengan Jnana Sakti Ia berikan pengetahuan kepada semestaNya untuk bisa hidup dan menikmati diriNya, dengan Wibhu Sakti Ia memberikan diriNya sebagai tempat perlidungan di mana pun dan menyaksikan semuaNya, dan Prabhu Sakti sekaligus menjadi raja IA di dunia ini, memberikan waktu yang tepat untuk hadiah dan hukuman.

Dengan itu IA membuat dunia dari persatuanNya (purusa) dan Guna (prakerti).i Lahir panca maha butha dari kekosongan yng menjadi bagian ruang panca maha butha. Air, Api, Tanah, Udara, dan Ether menyusun bumi. Kemudian mencipta Ia kehidupan yang mengambil bagian seperti eka pramana (tumbuhan me-Bayu) dwi pramana (hewan Ber-Sabda,berBayu), Manusia terakhir dengan IdepNya untuk berpikir. Kekuatan pikir manusia adalah wadah atman ditambah dengan persatuan panca maha butha. Atman yang diselubungi pikiran adalah terdiri dari citta, budhi ahamkara. Ketika kesatuan unit(atman) mampu memberikan ruang jawab bagi indera (panca budhhindriya) dan laku (panca karmendrya) akan menjadikan dunia ini seperti “REALITAS YANG DAPAT MAUJUDKAN KEBENARAN”..

Secara bahasa filsafati, bahwa realitas adalah apa yang ada di sini,di dunia..atau apa yang dipikirkan dan menjadikan kita ada. Realitas adalah saat ini yang berasal dari masa lalu dan menjadi masa depan. Realitas yang terjadi berdasarkan AKSI di masa lalu, dan BEREAKSI menjadi kenyataan realita saat ini. Hasil reaksi itu akan memberi bahan bakar AKSI selanjutnya dan begitu seterusnya (KArmaPhala). Dan itu melintas menuju generasi selanjutnya dan sampai berketurunan dan keturunan selanjutnya (Samsara). Tiada terputus itu sebagai suatu Realitas yang Berkebenaran, sebagai suatu jalan yang abadi (Sanatana Dharma).Di saat terakhir IA akan menuju suatu Kesatuan UNIT tertinggi Hyang Paramatman, dan Mengalami Nikmat Hari Brahman, setersnya sampai sloka bhgwdgita Praritranaya Sadhunam ,Vinashaya Cha Dushkritam, 
Dharamasansthapnaya, Sambhavami Yuge-Yuge.”
Untuk melindungi Dharma (kebaikan), untuk meleburkan adharma (keburukan), AKU (Realitas KEBEnaran) lahir dari jaman ke jaman…………………………..Terlaksana…………………………..

Bukan suatu mistis atau suatu spiritualitas tanpa logika, pada dasarnya etika, sebagai “bagaimana sebagai suatu spontanitas diri yang etis”, menjadi ditegakkan dengan susila yang bersumber dari teologis atau filosofis. Pada dasarnya spontanitas etis itu adalah bagaimana buddhi (kemampuan membedakan baik dan salah) menjadi sebuah wiweka yang terlaksana pada manas(cara berpikir), wacika (kata), dan kayika (sebuah perbuatan).Ini yang mencipta sebuah sisi damai di dunia. Artinya Dharma yang dalam wadah apa pun, adalah Unit Kolektif yang menjadi sebuah kekuatan REALITAS KEBENARAN. Yang benar-benar terpendam di dalam “diri” masing-masing unit, yang bisa terbuka, melaksana, demi keutuhan keabadian dharma itu sendiri. Refleksi dari kemampuan mengenali diri sendiri sebagai bagian buana agung, REALITAS KEBENARAN sebagai tempat tinggal, adalah membawa pedang yang mampu membunuh ketidaksempurnaaNya dengan cara yang lembut, halus, sekaligus menyayat, mengikis kematian kemelekatan akan MAYA dan adharma.

Sangat logis juga ketika dikatakan bahwa filsafat sebagai pengametahuan berpikir akan diriNya atau Wujud ciptaanNya, mampu mengikis ahamkara ego, buddhi yang terpancar,sampai rmenuju sebuah pegetahuan suci tentangNya..Menjadi semua guru kepada murid, dan refleksi dari murid terhadap guru (mirip sikhism). Sebuah kontemplatif yang selalu menuju perubahan dari alam pikir, menjadi energi tanpa batas akan ide sebuah idealnya ini (maya) dan dekat memahami (Maha Pencipta Maya). Apakah itu akan menuju jurang akhir (Maha Pralaya) sebuah kehampaan kembali (akhri malam brahma)..

Dan menyambung pada kata2 BG di atas, sebagai sambhawami yuge yuge..dari jaman ke jaman…Maka sesunguhNya adalah pedang itu akan terasah pada “diri” sendiri..Sebagai sebuah kemanunggalan, sebagai sebuah satria pinandita yg telah dipingit, ratu yg sejatinya adil bijak,sbagai imam yg memiliku nurNya…sebagai seorang “diri” sejati, dimana pun yang menjalankan dharma (kebenaran) masing2..Untuk mendapat tugas besar lahirnya TUHAN pada diri mereka(aku)kalian(dia)mereka(kita) masing-masing, YANG pada akhrinya Maujudkan REALITAS KEBENARAN itu secara otomatis spontan suci dan indah….

 

gwar…

mar 2014..

santi rahayu..

.

….Hyang Sabdo Palon…

 

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2014 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Dewa yang memanusiakan Dirinya (konsep Astabrata)

Dewa sebagai sinar suci yang Kuasa (Brahman), merupakan suatu wujud super, wujud yang penuh kekuatan, kebijaksanaan dan wakil atau simbol yang kuasa dalam menjalankan diriNya di dunia. Sebagaimana kisah-kisah yang terpampang dan tercantum pada weda menunjukkan kedigjayaan mereka para Dewa. Termasuk pula kisah-kisah heroik mereka pada purana-purana.

Kisah-kisah mereka pun memberikan inspirasi bagi bagaimana manusia sekehendaknya bersikap seperti dewa itu di dunia. Manusia yang berkemampuan dewa dan mampu bersifat, bersikap seperti mereka. Manusia yang mampu berpikir, berkata, dan berlaksana bijak sekaligus tegas, dan juga memiliki rasa kasih sayang. Serasa mustahil di jaman kaliyuga ini, namun bukanlah suatu kemustahilan dari persentase minoritas, terdapat mereka-mereka yang menyerupai “dewa”.

Dewa sebagai manifestasi Brahman (Tuhan YME), merupakan perwujudan atau kepribadian dari sifat-sifat sattwam yang penuh etika di samping pula pemberani dan memiliki kewibawaan tinggi. Lalu sebagaimana sifatNya pun menjadi cermin dan sebagai inspirasi bagi manusia sendiri untuk bersikap dan tentunya pula berkepribadian pemimpin. Pemimpin yang mampu menyelesaikan pelbagai permasalahan serta menjadi tauladan juga memakmurkan bumi, mensejahterakan masyarakatnya. Dalam konsep hindu, telah ada bagaimana selayaknya pemimpin itu yang berkepribadian “dewa” yang dibanggakan rakyat-rakyatnya. Konsep itu antara lain adalah konsep asta brata yang tercantum baik pada itihasa ramayana atau pada manawa dharma sastra. Sloka tersebut adalah :

ramayan

Ò Kakawin ramayana, 21.12

yama brata dumandha karena ala sirakana malung maling yan pejah umelwa kita malwa ngolah salah asing ngumamrang sarat prih pati”

Artinya:

Brata sanghyang yama menghukum orang yang berbuat salah. Beliaulah yg menghukum roh pencuri kalau sdh mati. Patutlah kita ikut menghukum orang yg bersalah. Setiap yg membikin kacaunya masyarakat patut dilenyapkan.

Ò “anginta kita yat panginte ulah, kuma wruhana budining rat kabeh. Sucara yapanonta tata katon, ya dibya guna suksma bayu brata”.

Artinya:

agar seperti angin itulah engkau ketika menyelidiki keadaan rakyat, supaya engkau mengetahui kehendak masyarakat yg sebenarnya. Kepandaian sbg penglihatanmu yg kamu tidak ketahui itu, adalah sifat utama yg amat rahasia bernama bayu brata.

Ò Kakawin ramayana, 21.16

“mamukya ngupa bhoga sinambin nginak taman penepengang pangan muang nginum, manadanga mabusana mahyas, nahanta danadha brata nuntirum”

Artinya :

“ada waktu menikmati makanan dan hiburan jangan terlalu tamak dengan makan dan minum.. Demikian juga berpakaian dan berhias diri itulah beberatan sang hyang kwera yg patut ditiru”

Ò Kakawin ramayana, 21.17

“bhatara bharunangga sanjata, maha wisaya naga pasa ngapus, sira ta tuladanta pasa brata, kita mapusanang watak durjana”.

Artinya

“sanghyang baruna selalu beliau memegang senjata, sangat bertuah dililit oleh naga pasa, beliau itu patut ditiru bratanya, begitulah engkau harus mengikat semua yang berbuat salah”

Ò Kakawin ramayana, 21.18

lanang gesengi satru bahni brata, galakta rimusuh yeka puw, asing saina santa sirna pasah, yetekana sinanguhagni brata”

Artinya :

“yang selalu membasmi musuh itu adalah agni brata, semangat membasmi musuh itu sebagai kobarannya, setiap musuh yang akan dihadapinya hancur berantakan, yang demikian itulah bratanya sanghyang agni.

Ò Kakawin ramayana, 21-10

“sang hyang indra, yamam, surya, candra, nilakwera, bharunagni nahan wwalu sirata maka angga bhupati matang sira ni nesthi asta brata”

Artinya

“sang hyang indra, yama, surya, candra, dan bayu, sanghyang kwera, waruna, dan agni itu semuanya delapan. Semua beliau itu menjadi pribadi sang pemimpin (raja). Oleh karena itulah beliau harus memuja asta brata”

Jadi dapat terlihat bahwa asta brata merupakan sifat-sifat yang hendaknya diketahui serta diamalkan oleh seorang pemimpin. Asta brata secara jelas adalah sebagai berikut :

1.Sang Hyang Indra : Sebagai dewa penguasa hujan dan kemakmuran,maka hendaknya seorang pemimpin memiliki tujuan utama untuk mendatangkan hujan atau kemakmuran kepada rakyatnya. Karena rakyat yang makmur adalah suatu tanda bahwa Ia adalah memang seorang pemimpin yang berhasil.

2.Sang Hyang Yama : sebagai dewa yang menghukum, artinya bahwa seorang pemimpin tegas dan tidak pandang bulu dalam memberikan hukuman bagi mereka yang bersalah.(bukan dengan memandang materinya).

3.Sang Hyang Surya : di mana seorang pemimpin selayaknya mampu memberikan sinar dan penerangan yang bijaksana, sebagai seorang pendidik dan mampu mencerahkan masyarakat menuju ke kesejahteraan.

4.Sang Hyang Candra : seperti bulan yang menyejukkan dan lembut, maka seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap ramah dan selalu menampilkan senyum menyejukkan yang akan semakin dicintai rakyatnya.

5.Sang Hyang Bayu : yaitu bagai angin yang menuju tekanan lebih rendah dari tinggi dan artinya pemimpin itu mampu mendapatkan suatu informasi serta dekat dengan rakyatnya dan mengetahui nasib mereka dalam keseharian.

6.Sang Hyang Kuwera/Dana Brata : yaitu bahwa pemimpin harus bijak dan mampu mengelola dana(artha) secara efisien, efektif, sekaligus ekonomis dan tepat guna dan tidak berlebihan atau bahkan menggelapkan dana yang seharusnya milik rakyat tersebut.

7.Sang Hyang Baruna : sebagai lautan, di mana tempat terakhir manusia untuk berlabuh dan menyucikan serta menyembuhkan segala kesakitan dunia, maka pemimpin sekehendaknya bisa menjadi seseorang yang bisa menghapus keragu-raguan dari rakyat, dan dengan tidak adanya keraguan maka optimisme untuk menyehatkan pikiran dari rakyat akan tercapai.

8. Sang Hyang Agni.: seperti api yang selalu menjadi penyemangat dan memotivasi semua manusia, itulah bahwa seorang pemimpin hendaknya menjadi.

Jadi itulah idealisme dari seorang pemimpin dalam rupa “dewa”. Atau bung Iwan berkata “Manusia setengah dewa”. Mustahilkah dalam kehidupan untuk menapaki kepemimpinan “dewa” itu? Memang sepertinya jaman Kaliyuga, yang benar dan baik seperti menjadi momok kemunafikan atas segala nikmat dunia. Sebagaimana pula kekuasaan,harta, dan wanita yang menjadi penggoda segala manusia tanpa terkecuali.Iman dan yakin atas dharma sebagai kebenaran yang abadi, adalah titik puncak idealisme manusia. Idealisme tersebut sangat mirip dengan bagaimana seorang “Berkepribadian Tuhan” yang berusaha mengubah jaman menuju idealnya suatu pemahaman pengetahuan “dharma” itu sendiri. Suatu kepribadian Tuhan dapat kita petik pada sloka-sloka seperti di bhagawadgita.

Bhagavad-gita 8.8
Orang yang bersemadi kepada-Ku sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-Ku, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dialah yang pasti mencapai kepada-Ku, wahai Partha.

Bhagavad-gita 8.22
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.

Jadi kepribadian yang maha kuasa adalah Ia yang lebih agung dari siapa pun, dan bahkan sebagaimana astabrata dikatakan sebagai konsep sifat seorang pemimpin, tampaknya akan dekat dengan bagaimana Ia berkepribadian yang agung. Dan kepribadian Tuhan dalam bentuknya sebagai Hyang Wisnu diwicarakan telah turun beberapa kali sebagai avatara, sebagai penyelamat manusia dan menghancurkan adharma di dunia ini. Awatara yang turun memiliki tugas yang mempengaruhi setiap jaman-jaman dan turun berinkarnasi pada suatu spesifikasi jaman. Seperti sabda Sang Kresna sebagai awatara atau inkarnasi wisnu yang tercantum pada bhagawadgita adalah :

Bhagawadgita 4-8

paritranaya sadhunam
vinasaya ca duskrtam
dharma-samsthapanarthaya
sambhavami yuge yuge

Artinya : Dalam rangka untuk menegakkan dharma serta memusnahkan adharma, dan membangun kembali prinsip-prinsip agama, maka Aku menginkarnasi diri-Ku dari milenium (jaman) ke milenium.

Maka Sang Hyang Wisnu sebagai pemelihara dan pelindung dunia, Ia sendiri lahir dan menapakkan diriNya ke dunia untuk menghancurkan adharma itu sendiri. Dan memang Ia adalah sebagai wujud tauladan dan panutan dalam dunia ini.

Dalam wujud avatara, maka telah lahir sampai sembilan avatara di bumi ini. Dan yang terakhir dan ditunggu adalah kepribadian Beliau dalam wujud Kalki avatara. Namun jika dilihat dari berbagai sejarah-sejarah tentang raja-raja terkenal khususnya di nusantara ini, telah beberapai kali seorang raja dinobatkan atau diberikan suatu pribadi agung sebagaimana seorang “dewa” itu sendiri. Raja-raja itu dianggap sebagai titisan Hyang Wisnu yang dalam artian mampu serta memiliki kedigjayaan, kebijaksanaan, dan dicintai rakyatnya.

Dari beberapa sumber dapat dirangkum sebagai berikut :

1. Raja Airlangga yang memerintah pada tahun 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
  • Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha.

Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epikMahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.

2.Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri.

Kemenangan Jayabhaya atas Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh empu Sedah dan empu Panuluh tahun 1157.

3.Prabu Anglingdarma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.

Jadi dalam kesimpulannya adalah, mereka-mereka para pemimpin adalah sebenarnya manusia yang dianggap “dewa” oleh rakyatnya. Syarat-syarat yang jelas telah ada tercantum dalam Asta Brata, memanglah benar dijadikan sebuah impian akan pemimpin yang bijaksana dan memandang kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama. Dan telah ada beberapa raja-raja dari Nusantara yang dianggap titisan wisnu atau yang Kuasa. Maka tidaklah suatu kemustahilan di jaman yang kurang ditemukannya seorang pemimpin atau raja,seorang dewa akan lahir dan muncul di dunia ini. Paling tidak dari keseharian dan dari diri masing-masing individu, secara nyata disifatkan serangkai filosofi asta brata dan menjadi pemimpin dari sebuah lingkungan tersendiri dan mampu mengalahkan musuh-musuh diri.

sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Wisnu

http://id.wikipedia.org/wiki/Airlangga

http://rah-toem.blogspot.com/2011/10/kepemimpinan-hindu-asta-brata-panca.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Jayabhaya

http://id.wikipedia.org/wiki/Angling_Dharma

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Desember 2012 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: