RSS

Arsip Tag: buddhi tattwa

Sang buddhi (dharma)  Penyaring Pikiran dalam Ranah Atma Tattwa

Sang buddhi (dharma)  Penyaring Pikiran dalam Ranah Atma Tattwa

Om sahadjanathaka buddhi dharmika,  mayapada sarwa aji karma yamatakha sabda,  tinanduk manacika sudha amritam, tatujonipun jagaditha kamoksan.. Aum.. 

Manusia lahir pada dasarnya adalah diberi tugas tertentu untuk bisa melepaskan diri dari jasad manusia itu sendiri,  dalam kashanah jiwanya menuju kelepasan.. Kelepasan yg berarti ketidakterikatan akan sisi materialitas semesta yg berisikan suka bagya duka lara rogha,  smpai nanti bertemu (yama) pati.. 

Manusia lahir dari sancita karmaNya,  sancita karma yang terkandung dalam maya guna tattwa,  satwik rajas tamas.. Dan melinkupi seluruh semesta dan srcara adil memberikan karma pahala itu kepada aeaeorang itu.. 

Secara konsep,  manusia secara universal terdiri dari citta budhi manas(mahat) ahamkara.. Yg paling dekat dengan dunia luar adalah ahamkara atau ego itu sendiri yg masuk pada penerimaan manas atau pikiran sebagai penguasa indriya.. Ego adalah diri yg masih terbelenggu keinginan,  yg dapat dikendalikan melalui vairaghya sesana..dgn melalui brata panca yama niyama…. 

Buddhi sebagai penyaring itu,  akan berkembang dngan baik ktika “rasa” telah memberikan prilaku yg ksama,  mudita,  karuna,  upeksa,  maitri (catur pramita),  dan memahami kebenaran jnana dalam pencapaian atas Sang Mutlak itu sendiri..Hal ini akan membuat buddhi berkembang dan menjadi penyaring yg kokoh atas kehendak manas (mahat)  pikiran.. 

Buddi kemudian dianggap sebagai intelektualitas dari itu,  yg menuju pada kesadaran atman,  intelektualitas yg lebih besar dari pikiran itu sendiri.. Pikiran lahir karena belenggu maya pada lewat tri gunaNya satwik rajas tamas.. Dalam konsep awatara,  maka dijelaskan awatara setelah kalki lahir adalah maya guna itu sendiri.. Maya guna yg brisikan satwik rajas tamas sbagai pemisah antara kebajikan,  keaktivan dan kegelapan atau tamasik.. Ini yg akan selalu menguji manusia akibat dari hasil perbuatan mereka terdahulu.. 

Ktika energi maya kemudian bisa disaring melalui buddhi,  maka yg tercantumkan pada citta (tabungan karma) adalah pahala baik saja,  ktika buddhi berkembang.. Dan akhirnya mengikis karmapala buruk itu sendiri. Dharmika Budhi tercatat pada srsmsucya adalah bahwa hnya dharma lah yg melebur dosa tri loka ini.. Maka ktika habis,  smpailah pada kesadaran turyapada.. Memahami atman.. 

Atman yg telah terpahami,  maka tersadarkanlah IA itu pada peleburan karma2 buruk,  dan muncul khasanah intuitif yg memberikan pembelajaran semesta.. Karena persatuan penyadaran atman itu,  ibarat brhman atman aikyam juga lalu mahaguru rishi yg memberikan contoh kesadaran2 akan hal itu.. Juga sbagai kesadaran bhuana agung alitan yang aikyam pula.. Dan hidup ini hnya sebuah tugas mulia sbagai sang maha guru itu sndiri.. 

Om ksama sahampurnam jayathakam mahaguna tattwa pujamkha.. Aum.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Oktober 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Berkesadaran ATman, Sebuah Pujam dan Kepasrahan akan Kehendak Brahman..

Om asatoma sad gamaya,
Tamasoma jyotir gamaya,
Mrtyorma amrtam gamaya..
Om siddhi shanti linggam sarira,
Ya namo nama swaha..

image

Dalam kehidupan di dunia, jelas dibedakan bahwa ada pemahaman tentang kesadaran kepada entitas brahman, dan atau kesadaran akan kehidupan yg terbelenggu materialitas dunia.. Memang tidak mungkin ketika sebuah kesadaran dalam waktu kehidupan, akan terbebas dri kebutuhan di alam materi(dunia) dan juga tidak akan pernah dapat terhindar dri hidup,mati serta karma itu sendiri…

Pada dasarnya, ketika manusia menyadari bahwa dirinya adalah jiwa..Jiwa yg terperangkap dalam badan manusia, yg sementara dan juga diberikan menikmati dunia secara berkesadaran, maka pemahaman kesadaran melihat dunia sebagai sebuah bagian kala(waktu) yg akan sirna sesuai umur manusia itu, manusia akan  dpat menyadari bahwa kebahagiaan yg tidak terguncang adalah bukan berasal dri kenikmatan di badan manusia(badan kasar-stula sarira)..Tetapi dri kesadaran akan jiwa itu sendiri, dan dimulai dri pemahaman pembelajaran akan jihwatman(suksma-antahkarana sarira)..Bahwa setiap manusia diberi kesempatan oleh waktu(kala) untuk mendapatkan menemukan sebuah kesadaran brahman (atman aikyam) yg menghadirkan kebahagiaan kekal tidak tergoyahkan..Itu akan terus menerus diberikan kesempatan, sebagai sebuah kebaikan hatiNYA untuk mencapai kebahagiaan yg penuh kesejatian..

Atman adlah antahkarana sarira, atau badan bahagia..Dimana kesadaran itu adalah sebuah jalan untuk menyadari akan sebuah kekekalan ilahi atau brahman itu sendiri..Seperti sebuah percakapan antara Sang Khrisna dan partha arjuna, bahwa risau gundah gulana akan kehidupan yg tidak kekal ini adalah sebuah kesalahan..Dunia semesta brahman, telah memberikan segalaNya di sebuah kesadaran ttg Atman itu sendiri..Atman yg sanatana nitya yg abadi..yg tidak akan terkeringkan terbakar terbasahkan ternodai oleh apa pun itu, yang suci sidhi waskita, yg menunggu diketahui pada wahana tubuh manusia ini..

Tahapan2 yg ada itu sekiranya disesuaikan yg melingkupi atman itu sendiri sbagai jihwatman..Jihwatman adalah dimana atman diselubungi citta (memori dan tumpukan karma), buddhi (intelektual idep wiweka-yg berkembang untuk menerima kesadaran atman) manas sebagai raja indera2 manusia, serta ego ahamkara..yang mrupakan suatu yg sangat rapuh dan rentan pada pngruh maya guna di dunia..

Kesadaran sadhana sebagai sadhu, tentu saja berasal dri disiplin ttg penguasaan ego dgn ksama serta mengontrol musuh sad ripu, dan juga mengontrol manas sbagai akibat ego yg terpaksa mnyerah dgn keadaan dunia, sbagai dinding kedua..Dan dua dinding itu akan membentuk timbunan karma yg terakumulasi oleh buddhi yg mengatur memberikan keberpahaman akan wiweka itu sendiri..Dan itu tidak bisa terbebas dri kumpulan karma yg ada di citta yg selalu terkoneksi dgn atman brahman aikyam di buana agung sbagai maya, di diri sebagai buana alit…

Pada dasarnya ktika sbuah buddhi kebaikan atas dharma itu dilaksanakan sesuai kebertahuan akan mana yg dharma atau adharmik, maka tentu bahwa itu adalah sebagai pujam mantram sunia yg selain pula sadhana sebagai bhakta sang nawa sangha dlam bntuk yadnya..Itu jua pun sebagai pondasi pondasi untuk menuju pada ketahanan dan pencapaian kekekalan atman itu sendiri..sbagai sebuah kelepasan dan kamoksan..kesadaran itu adalah baru awalnya saja, karena setelah sampai pada tatanan itu, maka bersiap untuk menjadi tangan2 tuhan itu sendiri yg berdiri pada ke-dharma-an..Siklus yg tidak pernah putus, sampai nanti suatu waktu yg telah IA tentukan..bahwa akan terjadi malamNya brhman dan mahapralaya hnyalah bagian untuk “diri” merasakanNYA sebagai Hyang SuNIa suhci Nirmalam swaham…

Juni 2015..
Guswar..
Inspirasi..Atmaboddhi-Sankaracarya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Juni 2015 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , ,

Sekilas tentang Atman yang Lekat pada Kemoksaan…

LotusYogaWomanArtYinYan

Om sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya.. Semoga “ini” hanya sembah kepadaMu oh hyang kuasa..

….Atman….
Mendengar sederet kata atman, artinya adalah bahwa pemahaman tentang itu (atman) adalah menuju sebuah sraddha yang lekat pada 5 dasar keyakinan hindu. Hikayat atau hakikat tentang atman, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang kekekalan dari brahman (tuhan) sebagai sumber dari atman..

Membicarakan atman itu juga lekat dengan bagaimana tuhan sebagai nirguna serta sekaligus saguna brahman. Dalam wrspatti tattwa disebutkan bahwa nirguna brahman atau parama siwa adalah saat kekosongan kehampaan dari Tuhan itu sendiri dan tidak terlekat pada tiga sifat dasar yaitu sattwam rajas dan tamas triguna.

Tuhan dalam kehampaan ini sebagai acintya, IA yg tidak terpikirkan.Dikatakan Sifat dari Parama siwa tattwa adalah sebagai berikut :
Apremaya (tidak terbayangkan),
Ananta(tidak terbatas),
Anidesya (tidak dapat diberikan batasan),
Anaupamya (tidak dapat dibandingkan),
Anamaya (tidak dapat kena penyakit, suci),
Suksma(tidak dapat dilihat),
Sarwagita (memenuhi segalanya),
Dhruwa (kokoh tidak bergerak stabil),
Avyaya (utuh tidak pernah berkurang),
Iswara (guru yg mengatur segalanya).
Dan selanjutnya IA memberikan maujud pada diriNya sendiri, dengan memberikan pengaruh tri guna itu kepadaNYA. Pada saat dipengaruhi oleh guna, IA menjadi saguna brahman yang bersifat yang MAUJUd.

IA dikatakan saguna brhman atau sadasiwa adlah saat Tuhan sebagai Cetana melebur bersama acetana( ketidaksadaran) Ketika IA dalam wujud Saguna brahman, maka memiliki 4 sakti atau sifat, yaitu Cadu Sakti. Maka dengan ini Beliau memiliki :
1. Wibhu Sakti : Maha ada.
2. Prabhu Sakti : Maha Kuasa
3. Jnana Sakti : Maha tahu.
4. Kriya Sakti : Maha Karya
Dengan KemahaKaryaAnNya timbul pula mahluk hidup (manusia) yang berpikir, manusia yang terliputi tri guna dan terpengaruh, namun juga menciptakan tri guna itu sendiri. Timbullah alam pikiran yang menjadi dasar untuk berprilaku dan menjadi tolak ukur akan kemana nanti manusia setelah menjalani kehidupan yang sekejap ini. Atman yang berasal dari langsung cetana akan lupa asalnya dan terpengaruh oleh ketidak sadaran.

Atman sebagai tempat terdalam dan tersembunyi dilapisi beberapa lapisan, yaitu budhhitattwa, ahangkara tattwa… Buddhitattwa adalah bagian yang berada sebagai hasil dari tri guna..buddhi itu dibagi menjadi empat dengan pahalanya:
1.Dharma buddi adalah perbuatan mulya, tapa, yadnya, dana punia, yoga, meninggalkan keluarga hidup dari sedekah. Pahala dari dharma buddhi adalah ketika dharma lahir dari budhi maka orang mencapai surga dan bersenang-senang disana, IA menjadi dewa dan mendapatkan kekuatan lainnya.
2. Jnana Buddhi adalah pengindraan langsung, menarik kesimpulan, ajaran-ajaran agama dari orang yg telah mempelajarinya. Pahala dari Jnana budhi adalah melalui pengetahuan yang benar orang akan mencapai empat kekuatan dan mencapai moksah.
3. Vairagya Buddhi adalah ketidak terikatan terhadap kesenangan, baik yang dilihat, didengar pada badan yang sehat. Pahala dari Vairagya buddhi adalah mereka akan mencapai prakertiloka (dunia material) dan mengalami kesenangan seperti orang tidur dan setelah lama akan lahir sebagai dewayoni.
4. Aiswarya Buddhi adalah keseimbangan dalam kesenangan bhoga (makanan) kesenangan kecil, upabhoga (kesenangan sandang), paribhoga (memiliki istri) dengan asiwarya orang menikmati kesenangan tanpa gangguan. Dengan anima dan kekuatan lain orang lahir menjadi dewa sebagai pahala aiswarya .

Ahamkara(ego) adalah yang sangat melekat dan berpengaruh terhadap buddhi, apalagi dengan keterpengaruhan dari tri guna tattwa.
Ahamkaralah yang berhubungan langsung dengan indra dan memiliki serta membentuk keinginan-keinginan yang sesuai guna yg ada.
Ahamkara yang terliputi sattwa dominan akan memiliki keinginan untuk menjadi lebih bijak dan memikirkan dharma secara mendalam, ketika itu diliputi oleh keinginan rajasikam,maka apa yang diinginkannya menjadi sebuah perilaku atau perbuatan.
Ahamkara tamasikam, arttinya keinginan jahat dan kemalasan, gelap, ketika ditambahkan dengan rajasikam, maka ambisi untuk berbuat jahat dan culas akan terlaksana. Jadi dapat dipastikan bahwa pengaruh dari tri guna sangatlah tinggi untuk memperoleh hasil dari tujuan agama itu sendiri.

Atman yang lupa akan keberadaanNya sebagai bagian dari Paraatman, setidaknya akan memiliki buddhi dan lapisan ahamkara. Dijelaskan pula alam pikiiran yang terpengaruhi sattwam rajas tamas akan membawa atman menuju alam yang selayaknya ketika lepas dari badan wadag.

Sattwam yang mendominasi pikiran artinya dengan tekun melaksanakan dan memiliki jnana buddhi , maka akan mencapai wilayah kemoksaan dan bersatu dengan Parama siwa atau Kesadaran Siwa.

Sattwam yang dibarengi rajasika akan mencapai wilayah surga yang disesuaikan dengan Dharma buddhi, Vairagya buddi, Aiswarya buddhi. Selain itu maka tamas berpengaruh dibarengi dengan rajasika, artinya akan mencapai wilayah neraka dan reinkarnasi sebagai bukan manusia.

Maret awal 2014
salam Gwar

sumber :wrasppati tattwa

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: