RSS

Arsip Tag: filsafat cakra dasar

Dewata nawa sangha dalam Sapta Cakra.. 

Dewata nawa sangha dalam Sapta Cakra.. 

Om ya cakra natakha pujamkha,  wasudhewaki pashupatakha mahayantrakha,  waisnawakha brahmin sidhanta yanatakha,  mahakalkiya mahantrakhi pujamkha.. Niya Aum..

Patut sekali disadari ketika dalam memahami cakra bersama dengan karakteristiknya juga, adalah sebuah kesatuan yg universal dalam keberpahamanNya,  sebagaimana ktika dihubungkan dalam konsep dewata nawa sangha.. Atau pun berdasarkan materi atau ruangNya yg mampu divisualisasikan dan bahkan dapat diimplementasikan dalam metode yantra tantra mudra itu sendiri..

Disadari kembali dewata nawa sangha adalah suatu kesatuan tentang arah2 mata angin yg dimaknai juga sebagai dasa aksaraNya yg berkumandang penuh pada arah2 yg berada pada sapta cakra yang terpusat..

Mengenai juga pembalutan ida pinggala sumsumha adalah juga mengandung konsep dari sapta cakra sendiri..

Dari bawah adalah pertiwi yg berwarna merah adalah brahma prajapati yg menguasai hidup dan juga kematian beserta semua di dalamNya sebagai tempat hidupNya,  ini juga berkuasa maha jnana saraswati mahadewi prawati sebagai pratiwi itu sendiri.. Dalam aksara adalah bang di arah selatan.. Cakra muladhara..

Dari itu ke atas bernama cakra manipura air. Yg berkuasa adalah hyang rudra dan menguasai hormon2 yg ada di daerah seluruh tubuh,  dalam hal ini juga bhtra waruna waisnawa yg menguasai air..dan dari cakra muladhara kluar juga Ida nadi yg dikuasai oleh maheswara berkuasa atas cahaya cinta kasih dri bhtara surya.. Manipura sendiri beraksara mang berada di arah naritri..

Kemudian naik lagi berwarna kuning adalah mahadewa yg berisikan cakra swadisthana dengan aksara Tang,  bersama dgn agni IA merupakan penguasa arah barat sebagai lambang pengharapan dan motivasi..

Kemudian naik lagi berwarna Hijau itu adalah anahata yg berisikan dewata sangkara dewam dan juga bhatara wayu dgn lambang nang..   angin brisikan cinta juga kasih yg disebrkan bersama benih kebajikan,  dan akhirnya dri swadisthana kluarlah sumsumha pujamkha yg menuju kebawah dan ke atas yg dibalut oleh bhatara Iswara yg bersuara sang..

Kemudian naik lagi menuju namaNya aksara Sing adalah bhtra shywambu pasupatya dgn suara kosong sunia atau om yg dimaknai dalam mantra juga Japa.. Dari ini (ketika berjapam) maka kluarlah pinggala yg dibalut oleh warna hitam bercakra senjataNya disebut juga wisnu waisnawa dewam dgn aksara Ang,  maka lengkap itu berputar di dalam tubuh yg bernama sumsumha ida pinggala juga lima cakra utama..

Kemudian naik lagi ke atas ke wilayah Ing dan Yang,  maka ktika mengthui bahwa ida pinggala dikuasai oleh dua bhatara chandra dan surya,  maka terbukalah cakra di antara lelata (kedua alis)  yg disebut Ajna mata ketiga yg berisikan aksara Yang berwarna ungu,  adalah penyatuan dri sumsumha ida pingala..pink putih hitam yg artinya mengetahui sesuatu yg belum diketahui.. Lalu……….. …

Terakhir masuk ke atas dan menyebar ke seluruh cakra,  dan diberkati oleh cakra mahkota yg beraksara ING di “pintuNya”, maka berwarna warnilah sumsumha dan bergeraklah ida pinggala sbagai shiva sidha ananta.. Ang Ung Mang Namah dan juga seluruh dasa aksara,  sa ba ta a i na ma si wa ya..
Om kstantwyah kayiko waciko manaso dosah,  tat pramadat ksma swhamam,  prema ksma ya mudita karuna upeksa shantii om..

Guswar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Oktober 2017 in budaya, doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Telaah Cakra Dasar (Root Cakra)

Om Hyang Pertiwi Pujam

Hyang Suci Nirmala Hring Loka Samastha..

Om Tat Sat Ksama Sahampurna ..

Ya namo nama swaha..
image

Cakra Dasar

Dalam pengetahuan tentang cakra, maka dari tujuh cakra utama akan diketahui bahwa cakra yang paling terbawah adalah cakra dasar atau root cakra. Cakra ini berada paling bawah dari ke tujuh cakra dan merupakan cakra yang mengadung konsep “keamanan-kenyamanan-menjadi diri sendiri” cakra.. Cakra yang diwakili dengan warna “Merah” dan juga lambang Bumi (pertiwi) itu sendiri.. Cakra ini juga berhubungan dengan pemahaman duniawi serta cakra yang erat dengan ketahanan (survival) di dunia ini..

Cakra Dasar seperti juga cakra yang lainnya, merupakan cakra yang bisa dalam keadaan tidak seimbang.. Bisa saja cakra ini menjadi terlalu aktif, yang bercirikan sifati ingin menguasai, tidak memikirkan keadaan lingkungan, liar dan bersifat premanisme yg dikarenakan tidak adanya keseimbangan antar cakra yg ada..Energi yg ada menumpuk di cakra dasar yg terjadi krna kurangnya aktivasi di cakra jantung(kasih sayang) ajna(intelektualitas) atau mahkota(spiritualitas) misalnya..Bentuk cakra dasar mnjadi merah sdikit gelap dan padat..Hal ini bagi fisik mengakibatkan sakit daerah tulang ekor dan pegal2 pada bagian perut kebawah
.

Cakra ini ketika tidak aktif (belum aktif) maka akan memberikan rasa tidak percaya diri, rasa ketidaknyamanan dgn lingkungan, paranoid, serta membuat tidak puas akan keadaan diri, canggung.. Sebuah keadaan lingkungan yg menekan, pola asuh yg mmbuat tertekan, kurangnya pembelajaran kasih dan sayang, dan kurangnya hubungan yg erat dgn keilahian adalah jua mmbuat energi baik di cakra dasar tidak mengaktif..Karena daya hidup serta kemampuan untuk survive berasal juga dri keadaan cakra dasar yg mmbuat puas akan diri atau mengamini diri sebagai diri yg berhak dan wajib untuk selalu hidup di jalan yg baik..

Dalam bahwasanya cara yg bisa membantu menyeimbangkan cakra dasar dan yg lainnya adalah:

1. Meditasi grounding yg merupakan cara untuk menyeimbangkan cakra yang ada..Duduk di atas tanah serta tangan kiri menghadap ke bawah serta tangan kanan di atas paha mnghadap ke atas serta jua mlntunkan doa mantram, akan segera menyeimbangkan energi yg bertumpuk sekaligus mengeluarkannya menuju pertiwi sbagai semesta.. Rasa ketidaknyamanan penat lelah akan dibawa melebur menuju pertiwi..Ini bagus dan baik dilakukan setiap hari dan sesuai keperluan, untuk jga menambah rasa kebersatuan dengan semesta itu sendiri..

2. Mudra pertiwi..bisa dilaksanakan dengan tangan kiri menengadah di ke atas di paha kiri saat bermeditasi, kmudian tangan kanan di depan perut dgn menyatukan jempol di jari telunjuk..Duduk diam dengan memperhatikan nafas hirup tahan lepas yg bisa dimaknai dgn ang ung mang (atau jga mntram.serta doa)..Kebersediaan duduk dan memfokuskan pada aliran energiNya yg penuh makna, akan membawa pada kesehatan jiwa rohani serta diri..

3.Mensugesti diri, dimana berulang menyatakan “inilah saya”-“saya berpasrah padaMU”-semoga semesta memberikan saya sbagaimana saya adanya” dibarengi dgn kekuatan mntram yg bisa dilakukan setiap saat..Maka semoga semesta pratiwi akan menjaga sedemikian rupa, dan mengingat diri adalah Bhakta yg tangguh dan berhak serta wajib mendapat dan memberikan kasih sayangNya kpda yg lainnya.

image

Semoga dgn ini ada jalan terang memahami kebaikan kebajikan dan kebijaksanaan menuju manusia yg berbhakti dan bertaksu tangguh sekaligus berkasih..

Salam guswar..
Okt 2015

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Oktober 2015 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: