RSS

Arsip Tag: filsafat tuhan

Nihilisme Zaratustra, Tuhan telah mati

Sunya lokham pujamkha.. Aum.. 

Nietczhe dalam buku filsafatNya yaitu tuhan telah mati,  mengisyaratkan banyak makna mndalam tentang suatu hal.. Bagaimana IA menggambarkan bahwa Tuhan dianggap sebagai pembawa bencana atas kemanusiaan,  dan pada akhirnya IA tiada lagi.. 

Dalam konsep nirguna brhman,  memang semua berasal dari ketiadaan dari nihil dari kosong,  bahwa dari kosong itulah nirguna,  maka potensi tetap ada (TAO) beryoga IA menjadikan sesuatu itu ada.. 

Namun dalam konsep NIHilisme zaratustra,  disebutkan Ia berteriak2 di pasar dan mengatakan Tuhan telah mati, tuhan telah mati,  ditertawakan IA.. Lalu kemana manusia berdoa dan menyuarakan isi hatinya,  dan memang Tuhan adalah moralitas itu sendiri yg dimana para pencariNya para penebar paham kemanusiaan,  mnyatakan Tuhan itu ada dalam moralitas.. 

Sangat benar sekali ktika mengatakan (di jaman ini)  tuhan telah mati..Lebih baik tidak ada Tuhan yg dipergunakan nama2Nya untuk kekuasaan dan disalahgunakan sebagai perlindungan atas nama agama.. Agama sendiri sangat berbeda dri Tuhan.. Agama adalah jalan untuk menujuNya dgn berbagai kisah buruk bijak baik upacara mitos dan sebagaiNya..Itu yg terjadi di semesta ini, moralitas atas keburukan adalah bagian agama, sbagai percontohan janganlah dilakukan..

Ketika di pasar atau tempat lain,  yg penuh kebobrokan moral,  Tuhan memang telah mati,  tak ada Tuhan dalam kejahatan,  tak ada pelindung bagi mereka yg terlibat amoralitas.. Bersumpah atas agama (atas kitab suci)  malah akan membuat hari pembalasan menjadi semakin nyata.. 

Tuhan adalah pelindung yg adil,  tak pernah ada cerita ketidakadilan Tuhan atas ciptaanNya.. Dan amoralitas adalah keadaan tanpa Tuhan,  juga memberikan celah ruang untuk “waktu-kala” membereskan mereka,  cepat lambat lama atau selamanya.. 

Bhgwadgita mnyebutkan ttg keadilanNya sbagai bhakta,  Injil menyatakan ttg berita baik agar kuat akan ujian2Nya,  quran mnyatakan hari pembalasan akan tiba.. Tuhan itu mgkin diangga tiada,  dan memang tak ada,  namun ada pada mereka yg pantas terlindungi,  ketika suatu gerakan kala yg menyiarkan menyuarakan hari pembalasan.. 

Gwar sept 2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 September 2017 in filosofi

 

Tag: , , , , ,

Melihat dengan Kaca Mata Tuhan…

Gambar

 

Melihat..seperti suatu pekerjaan indera yang pasti dilakukan setiap harinya. Dalam menuju pemahaman akan turunan melihat, maka ada melihat untuk mengenal, melihat untuk meneliti, sembari tentunya memahami sekelilingnya dengan indera mata. Dari indera mata, maka tersirat sebuah pemahaman akan kondisi tertentu di lingkungan sekelilingnya. Bahkan dengan melihat, maka apa yang menjadi idealnya suatu dunia itu pun bisa ditelaah. Tentu saja selanjutnya menjadi dasar untuk mencari solusi terkait ketidakseimbangan idealitas pada realitas.

 

Melihat...tentu saja terkadang bisa menimbulkan sensasi, ketika ketidaksesuaian antara realitas dan BAIKnya yang ada menjadi ruang yang mengungkap rasa yang sedikit kelam di hati. Namun pertanyaannya selanjutnya akan memberikan sedikit fikir sebelum itu menuju ke ranah solusi. Dasar yang digunakan untuk melihat itu APA??…Apa di sini dalam arti Kaca mata yang bagaimana yang digunakan. Apakah kaca mata itu sesuai, atau kaca mata itu belum sesuai? atau kah apakah perlu sebuah kacamata?

 

Kaca mata…Begitu banyak versi model kaca mata yang digunakan, bahkan terkadang cenderung memaksakan versi dan model. Dan akhirnya malah meniadakan sisi kaca mata yang digunakan atau diberikan label “BAGUS dan LAYAK”. Kaca mata yang secara umum diterima oleh seluruh manusia yang berharkat dan martabat tentunya. Itu pun masih menjadi sebuah perjalanan yang sangat panjang serta selalu berubah untuk nanti menjadi kacamata “UTOPIA” mungkin??..

 

Tuhan…Bagaimana jika sebuah jawaban dan solusi atas ketidaksesuaian dunia itu dengan menggunakan bayangan yang jatuh di mata Tuhan Yang terlewati dari sebuah Kacamata Tuhan. Di saat kita menggunakan kaca mata (Tuhan) apakah kita masih atau mampu melihat dunia dari kehendak yang IA (Tuhan) inginkan?..Atau jangan-jangan malah bertambah jumlah dari ketidaksesuaian itu sendiri. Bertambah yang seharusnya indah di dunia menjadi sesuatu yang tidak indah. Dengan asumsi jelas indahnya Tuhan adalah mutlak, Karena IA menciptakan dunia untuk melihat diriNya, seperti itu IA bersabda sebelumnya lewat pengetahuan yang sedianya diberikan mengada oleh kemaha-kehendakNya. Atau malah yang tidak indah di kaca mata terdahulu, menjadi suatu keindahan akan nikmatNya di dunia. Mungkin saja, namun sampai saat ini mari mengenakan kaca mata(Tuhan) itu, dengan satu pertanyaan apakah itu sama-sama Tuhan kita??

 

Sebuah Keniscayaan…Di saat suatu barisan akan kebhinekaan namaNya, ada yang bisa di sadari bahwa masa depan yang mungkin penuh kekelaman, penuh perang, penuh kepesimisan agak sedikit berkurang dengan membeli atau sekedar membayangkan memiliki kaca mataNya (Tuhan). Dari banyak yang menyimbolkan IA (Tuhan), baik yang dengan ketat atau dengan kelonggaran yang terbatas, tentunya di sisi akhir nanti (atau suatu tanpa akhir) bahwa Keindahan itu sebenarnya sama, bukan harus sama, atau tidak boleh sama. Karena di akhirnya dunia akan menjadi apa yang IA inginkan sebagai cerminNya bahkan sebagai DiriNYA di mana Teologi itu bersabda dulu. Bagaimana bahwa pengetahuan adalah sebuah jalan untuk mencapai apa yang pengetahuan inginkan. Yap sebuah Utopia. Utopia yang sangat bermakna, Utopia yang menjadi dambaan, menjadi indahnya bayangan di balik pengenaan kacamata Tuhan. Permasalahannya,hmmm..atau bahkan bukan masalah apakah  utopia itu hadir di sini atau hadir di “sana”. Yang pasti, selamat menggunakan Kaca mataNya. Kaca mata Tuhan..

 

Gwar..29 sept 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 September 2013 in Tak Berkategori

 

Tag: , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: