RSS

Arsip Tag: Hindu Bali

Tiga temperamen manusia menurut Mahanirwana Tantra

Om hyang parama kawi namastute..mahatantra ya ja mahe..sweca rahayu sanjiwani..sinampura hring manah..succi buddhi citta ahamkara..dumogi sirna duka larra rogha..om

Dalam konsep mahanirwana Tantra, dimana dikatakan adalah bahwa tantra diajarkan layak pada jaman kali ini, maka terdapatlah beberapa konsep tentang sifati manusia yang membedakan satu dengan yg lainnya. Ini adalah tetap menjadi kuasa tri guna untuk memperlihatkan bagian mana yg paling aktif di antara itu. Tentunya bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memahami diri untuk menuju pada kebajikan sebagai cermin dalam kehidupan yang menuju ke-shanti-an..

Tiga temperamen itu yang bisa dijelaskan adalah..

Pashu bhawa yaitu temperamen yang berkarakter sebagai binatang. Dalam hal ini adalah bahwa raja guna atau rajas sbagai sesuatu sifati yang aktif, bekerja kepada tamasa guna yaitu menggerakkan kegelapan. Jadi bahwa rajas mengaktifkan sisi tamasik atau kegelapan..Ia yg bersifati atau bertemperamen ini akan menampilkan sisi bharanti(berbuat kesalahan), tandra (lesu dan malas), dan kecerobohan (alasya). Pashu adalah mereka yg terlalu terikat akan keduniawian, dan jga banyak diliputi ketidakmengertian, tidak menyukai akan jnana. Ia yg tidak mau menyentuh yantra (wewantenan-bali), tidak melakukan japa jga mantra, enggan melaksanakan yadnya(pengorbanan) atau tantra, tidak yakin terhadap guru, tidak menyakralkan arca pratima, membeda2kan dewata, puja tanpa tahu artinya, berbicara buruk ttg orang lain, dan sifati buruk manusia yg lainnya. Semoga bisa menghindari temperamen ini..

Wira bhawa adalah temperamen berikutnya dimana secara tri guna adalah rajasnya banyak mendorong guna sattwika, namun masih banyak guna rajas itu bebas, sehingga dapat menimbulkan kedukkaan. Rajas yg tidak terkendalikan itu, bisa menjadi sebuah kejahatan saja, karena sattwika guna belum mampu menguasainya. Orang ini sangat mudah sekali tersinggung, terpacu, atau terangsang atas sesuatunya, akibat dari rajasnya yg berlebih dan dominan. Pada suatu waktu ktika Ia terlalu terlewat akan guna rajasnya, bisa terlempar menuju temperamen pashu bhawa. Ibaratnya ia keberaniannya bisa menjadi suatu kesalahan yg membuat dirinya terlepas atas sattwika guna. Keterbiasaan atas prilaku itu membuatnya gelap. Sehingga bisa memasuki alam sapta timira. Penyadaran diri atas kebajikanNya jga jnana dan pengakuan atas mantra yantraNya adalah yg bisa membuat temperamen sifatiNya meningkat.

Diwya bhawa adalah bagaimana ia bisa membuat suatu sattwika guna menarik rajasika larut ke dalam sattwika guna itu.. Dalam tattwa disebutkan bahwa ketika bicara tentang kamoksaan, tujuan kita maka sattwika guna adalah bagian yg menjadi hal utama itu menuju tujuan itu. (wrsptti tattwa). Disebutkan ciri2 dari diwya bhawa adalah selalu menyucikan diri setiap hari, berbuat amal setiap hari, keyakinan tinggi akan weda, sastra, guru, dewata, melakukan puja atas dewa juga pitra, pengetahuan mantra yg mendalam, menghindari perbuatan kejam dan buruk, memandang lawan dan kawan sama, selamanya bicara kebenaran, tidak bersahabat dan berkumpul dgn mereka yg mencerca dewata, melakukan meditasi, menghormati wanita, dan susila yg lainnya..

Semoga kita menjadi yg sebaik-baiknya manusia berbudhi itu, dalam kehidupan saat ini..

Swaha..shanti rahayu..

Gwr..2018 apr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 April 2018 in agama, doa

 

Tag: , , , , , ,

Kesatuan Tujuan Hindu Nusantara…

20140317-020654.jpg

Om parama siwa, sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya…

Semua adalah berkat dan kebertujuan hidup ini adalah untukMu..

Hindu nusantara, semua telah mengenalntentang cerita sejarah mistis sabdo palon, semua telah memahami kedekatan moksah mahrifat, semua telah terbuka tentang kebhinekaan, dan dalam lingkup wadah pancasilaisme di bumi nusantara ini..

Sangat dekat dengan itu adalah, bagaimana bahwa gaung tentang hindu nusantara semakin membesar dan telah masuk ke relung relung sanubari para pemelukNya..Patut disadari adalah kebhinekaan (dalam hal ini hindu) menjawab pasti bahwa apa yg telah ada, apa yg berproses untuk ada, dan yg akan ada..adalah sebuah bagian keindahan jihwani dari pemeluk hindu sendiri.. Kepengetahuan tentang tattwa brahman (sbagai keesaan), pengetahuan tentang atman(pembelajaran kemanunggalan-moksa jagaditha), pengetahuan tentang karmapala(yg sangat lekat pada keseharian dan mutlak teryakini sadar atau tidak), samsara(yg spirit keleluhuranNya penuh ada pada ajaran2 yg bersahaja), dan moksah(kebersatuan akhir denganNya di dunia atau setelah dunia)…benar itu pun pedoman dasar bagi hindu semesta dan nusantara..

Menyelam pada etika susila, maka keseharian yg ada dikombinasikan dengan keempatian sesama, menyeluruh berdasarkan pawongan…tri kaya parisudha..dimana akan sangatlah berat ketika terjebak dalam kondisi jaman kali ini…manacika yg tidak berprasangka buruk, wacika yang tidak mengutarakan kebencian, dan kayika yg perbuatannya mengarah pada keagungan dharma….apalagi dengan musuh yg terdekat adalah diri…kama,krodha,matsarya,mada,moha, dan lobha…masih banyak etika lagi yg bisa dijelaskan, namun etika adalah musuh terbesar manusia saat ini, apalagi kemanusiaan dan keberadaban manusia semakin tidak terkontrol..ini adalah hyang utama sebagai tujuan yg patut dipikirkan (dngan mengelola pikiran), disebarkan (dngan mengatakan secara baik, benar dan indah), dilakukan (dgan prilaku yg tercipta dari kedua seblumnya)…ini keduaNya masih dalam wilayah universal dan harus atau hendaknya menjadi kebersatuan bersama hindu nusantra…

Yang menarik adalah kajian ketiga tentang upacara ritualisme…ini yg unik dan indahnya terjadi dan terlaksana baik sebagai kebhinekaan itu sendiri di hindu nusantara…namun jelas itu adalah wilayah tattwa dan susila yg bercermin dari ini…desa kala patra adalah bagian penting dari upacara hindu nusantara, hindu di bali dengan bebantenan, hindu di jawa dengan bentuk simbol lain, dan dari india asalnya malah digambarkan dengan yantra…itu keunikan yang berbhineka…bahkan mendegar sedikit berita takjub(bagi saya) bahwa candi difungsikan kembali…..bagi saya itu indah asalkan sisi kuning telur(tattwa), putih telur(susila) menjadikan kulit telur memiliki makna…telur akan busuk tanpa kulit yg bagus, putih telur akan terjaga, dan itu smua brmakna dan berarti pada tattwa sendiri…. Lainnya adalah bahwa terkadang upacara itu sangat tidak dipaksakan, dan berdasar rasa..karena hindu sendiri adalah agama rasa…ketika terjadi pergolakan batin, maka tidak ada kecocokan…namun pembelajaran terus menerus akan menghasilkan kualitas yg tentunya memuaskan…apa lagi pembelajaran dari saudara-saudara yg telah mengenal hindu secara mendalam…. Baik dari filsafat, etika upacara…. Itu merupakan keindahan kedamaian keceriaan kerahayuan yg betul2 suci …. Apalagi bagi mereka yg tersadar, akan keindahan hindu itu sendiri…baik dari daerah mana pun juga…rangkulan itu akan menjadi ajakan bersama bagaiamana bahasa akhir hindu nusantara
Santi rahayu…

Lalu dalam renung saya melihat barisan ramalan itu, bahwa ..indah yang hyang leluhur berikan pada kita…
Yang lebih indah saya rasa adalah..dalam tenang pun itu akan tercapai..

Saat ini, atau masa depan…

Salam gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Being Spiritual is Being Natural..

kata-kata yang sangat indah dalam menjalani suatunya dalam pemujaanNya…di bidang spiritual dalam menjalani berbagai ritual-ritual sebagai suatu yang dapat dilihat, adalah tercantum suatu sifat atau sikap toleransi terhadap segala berbagai perbedaan…

Hal ini terutama dilaksanakan pada suatu pemahaman-pemahaman natural dari berbagai ritual tersendiri di Hindu..Sebagai contoh ada perbedaan signifikan antara pemujaan dalam ruang lingkup Hindu di India dan di Bali..Di Bali banyak digunakan berbagai simbol-simbol penting yang menautkan tattwa (filsafat) atau kebenaran dalam mengupayakan suatu ritual-ritual tertentu…di India hal itu belum tentu ada dalam penerapannya..Itulah yang membuat Hindu kaya sebagai suatu sifat-sifat toleransi di dalam Hindu sendiri…

Timbulnya simbol-simbol yang ada berasal dari kedatangan para orang-orang suci Hindu pada masa lalu..Beliau memberikan suatu ajaran-ajaran yang menjadikan Hindu di Bali memiliki ciri-ciri sendiri yang ada..Beliau-beliau tersebut adalah sebagai berikut..:

1. DANGHYANG MARKANDEYA

Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegal lalang – Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.

Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.

Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.

Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.

Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.

Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN

Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.

Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).

4. MPU MANIK ANGKERAN

Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.

Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA

Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).

Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain : Mpu / Danghyang Nirarta, dan dijuluki : Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.

Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.

Dan dari kemajuan teknologi serta media yang berlimpah, pada jaman ini semakin banyak cara-cara mengkhusus yang menjadi suatu kekayaan dari Hindu itu di Bali sendiri..seperti kalimat yang berjudul “Being Spiritual is Being Natural”..yang dapat diartikan sebagia cara-cara untuk memahami dan menjalankan Hindu tersebut secara tersendiri….

Seperti juga dijelaskan pada sloka manawa dharmasastra serta kutipan dari http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2009/06/perbedaan-hindu-india-dan-hindu.html

Penerapan agama Hindu agar berhasil harus disesuaikan dengan tujuan (Iksha), kemampuan (Sakti), aturan setempat (Desa) dan waktu (Kala). Namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan Tattwa atau kebenaran Veda. Hal inilah yang menyebabkan Hindu di India dan Hindu di Bali atau di mana saja selalu berbeda-beda bentuk penampilan luarnya. Lima pertimbangan ini sebagaimana dutuliskan dalam Manawa Dharma Sastra:

Karyam so’veksya saktimca
Desakaala ca tattvatah
Kurute dharmasiddhiyartham
Visvaruupam punah punah.
(Manawa Dharmasastra VIII.10)

Maksudnya:
Setelah mempertimbangkan iksha (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), kala (waktu) dan tattwa (kebenaran) untuk menyukseskan tujuan agama (Dharmasiddhiyartha) maka ia wujudkan dirinya dengan bermacam macam wujud.
Di Bali sinergi Agama Hindu dengan budaya Bali mampu meningkatkan dan mengembangkan kualitas budaya Bali. Dalam sinergi itu tampak Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat) yang menjiwai semua aspek budaya Bali.

Yang pasti dalam melaksanakan berbagai ritual dan penjiwaan Hindu tersebut, hendaknya disadari bahwa betapa pentingnya unsur tattwa (kebenaran) dalam menjalani berbagainya tersebut..Hal itu sebagai tuntunan dasar untuk menyatakan bahwa segala ritual itu adalah mengandung kebenaran yang bersumber dari ajaran atau sloka sloka Hindu yang ada…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juli 2009 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: