RSS

Arsip Tag: ideologi pancasila

Edisi Terjajah Episode Kedua (-_-!! (m)..LAwann!!!

LAWAN!!!!!!!!!!

LAWAN………!!!!!!!!

LAWAN   !!!!!!

Setelah menapaki konteks edisi terjajah pertama, maka hendaknyalah bahwa kita memahami bagaimana ketidaktahuan kita akan keterjajahan bangsa itu sendiri. Seperti telah diketahui dalam dunia ide, ide yang ideal sebagai suatu karakteristik dan identitas dari Bangsa Indonesia (nusantara) itu sendiri, maka sampailah kita ke hadapan kontradiksi yang jelas terpampang pada suatu ideologi yang terpampang dalam Hati, suksma, nurani kita sendiri.

Sebuah bangsa yang beradab dan bukan suatu bangsa barbar yang mengagungkan sisi kemanusiaan itu sendiri yang seharusnya sebagai suatu super ego dari khalayak bangsa Nusantara ini. Di mana super ego itu seperti digulung atau disamarkan oleh dogmatisme yang putus asa, suatu bahasan untoleransi terhadap keagungan dari pelangi bhineka itu sendiri. Berbhineka namun hanya satu, berbhineka yang berwarna dan merupakan kekuatan bangsa, kekuatan negara kesatuan republik Indonesia (nusantara) ini. Yaps pancasila sila kedua yang perlu ditelaah dipahami serta diperjuangkan menuju suatu kelepaslandasan menjadi “Garuda Asia”.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Dilihat di atas bahwa, manusia yang bernusantara, berpancasila hendaknya memperlakukan manusia memiliki harkat dan martabat sebagai mahluk BerTuhan. Artinya secara mudah adalah bahwa kita, kami, mereka, semua berhak untuk hidup di bumi nusantara ini. Lalu yang terjadi adalah bahwa dengan mudahnya manusia-manusia yang berperilaku anjing dan hanya pantas dikatakan sebagai bukan manusia (baca: asu) membunuh, menyiksa, menghancurkan hak asasi bagi kami, mereka, kita, semua, dan bahkan sampai menyingkirkan filsafat ahimsa atau menuju kekerasan itu sendiri dan bahkan sampai menghilangkan nyawa. Apa itu suatu sifat manusia yang memiliki akal, budi, dan sifat hati sebagai manusia. Itu adalah keterjajahan kita karena nyawa dianggap sebagai suatu barang yang biasa. Yang padahal mereka tiada mampu untuk mengembalikannya atau menjadikan nyawa itu menjadi manusia seperti tuhan yang kita sama2 sembah. Lalu bagaimana kematian itu terjadi pada bom bali, di Madura, Ahmadyah, gereja2 poso, dsb. Sangat berbeda mungkin pada tsunami, gempa, dan yang lainnya. Dalam artian di atas adalah “Mengakui” artinya menghormati segala keberbedaan sebagai suatu identitias, kekayaan, atau bahkan sebuah kejeniusan lokal dari Indonesia (Nusantara) itu sendiri. Dalam keterjadian kekerasan di atas berarti adalah sikap tidak mengakui keberagaman itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Sikap-sikap di atas sangat dengan manusia itu sendiri, yang merupakan mahluk utama sebenarnya dari Tuhan. Namun kejatuhan manusia adalah mereka-mereka yang telah lupa dirinya sebagai manusia dan memangsa serta membunuh manusia lainnya. Seperti di atas dikatakan bahwa kekerasan adalah musuh kemanusiaan, maka saling cinta, saling tenggang rasa atau rasa empati terhadap penderitaan manusia lainnya, tepa selira, menjunjung nilai “diri’ sebagai manusia serta menjadi manusia yang berguna dan gemar melakukan kegiatan membantu yang lainnya dan jauh dari sikap ke”asu”an. Termasuk pula dalam sisi kesejahteraan dan sisi ekonomi, bahwa mereka2 yang jatuh pada keserakahan dan hanya menjadi budak investor, akan hanya menjadikan manusia lainnya sebagai korban. Terlihat sendiri bagaimana para pemimpin lebih memilih untuk mendukung freeport daripada masyarakat papua sendiri. Dan terlihat juga bahwa lumpur itu seakan2 menjadi cerita ketertenggelaman Jawa, khususnya Jawa timur (sidoarjo). Apakah itu sikap dan sifat manusia yang diangkat sebagai pemimpin yang memberhalakan uang dan harta serta kekuasaan lebih besar dari kepedulian terhadap masyarakatnya sendiri. Sungguh pun mereka lebih baik jika digantung ramai-ramai di monas dalam revolusi bangsa dan negara.

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.

Dan ini yang terpenting. Kebenaran, kebenaran yang mana, serta keadilan kepada siapa yang pantasnya diupayakan. Apakah suatu kebenaran yang dipaksakan, atau suatu keadilan yang hanya dinikmati oleh kau-kaum yang kapital yang sebenarnya menjual negeri Nusantara (indonesia). Menjual tanah, menjual harga diri, dan sebagai kambing congek yang mengabdi kepada kaum asing yang manut-manut serta tidak bisa lepas dari  atau tidak memiliki hak diri untuk mengelola sumber daya alam, serta sumber daya manusia terbengkalai sampai harus menjadi TKI, TKW, yang pulang hanya tinggal nama di arab, yang hanya menjadi orang gelap di malaysia, serta kaum pemimpin serta pejabat tolol tiada bisa mampu untuk melindungi rakyat mereka sendiri. Apakah sudah habis tempat di Nusantara (indonesia) yang katanya jaya ini untuk menghidupi rakyatnya?Keterjajahan pada kebodohan, dan kedunguan mereka kaum pejabat dan pemimpin yang menjadi budak-budak kaum asing. Termasuk pula penjajahan dari internal nusantara (indonesia) sendiri yang hidup seperti cacing-cacing parasit yang mungkin hanya bisa diambilkan obat pembunuh cacing atau pencahar perut dan habis sampai telur-telurnya. Cacing yang ada menjadi parasit hanya terdapat pada kebusukan atau kekotoran sampah-sampah tanah yang hanya bisa menjadi parasit dan mati sebagai parasit.

  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain

Dan ini adalah penetralisir dari kedua bahasan di atas. Bahwa saling hormat dan bekerjasama patut ditelaah sebagai suatu keberhagaan diri (bangsa) yang memiliki keberadaban tinggi dan layak dihormati. Seperti pula bahwa Indonesia bagian dunia, yang artinya pula secara etis Indonesia adalah bangsa yang universal dan memiliki sifat menghargai humanisme di atas dari segalanya. Karena manusia adalah mahluk tuhan paling mulia dan memiliki kewajiban menjaga kemanusiaannya dan berhak hidup dan menjunjung hak asasi itu sendiri tanpa pandang bulu. Lalu bahwa manusia yang beradab dan membentuk suatu idealitas peradaban sendiri, dan memfilter baik itu politik dunia, sosialitas dunia, ekonomi dunia, Budaya dunia, Pertahanan dan Keamanan. Yang pada akhrinya sebuah ideologi melindungi suatu hak asasi manusia( suku , agama, ras) beribadat,dan menjadi berani untuk membela sebuah kata “Kebenaran”, Suatu kebenaran Nusantara.

pustaka

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Februari 2013 in ekonomi, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode Pertama…(-_-!I ~[m]..

L.A.W.A.N...!!!

L.A.W.A.N…!!!

 

LAWAN…!!!

Kita sudah merdeka. Iya itu adalah benar, namun terkadang bisa dikatakan benar yang abu-abu. Semua pasti sepakat bahwa memang belum bisa suatu negeri Indonesia dikatakan sebagai suatu negeri yang merdeka. Namun apakah tujuan utama dari suatu negara Indonesia itu sendiri? Ataukah bagaimana sesuatu yang dikatakan ideal dalam suatu individu, suatu lingkungan keluarga, sampai pada suatu lingkungan masyarakat, dan terakhir adalah keidealan dari suatu wilayah kenegaraan. Sampai pula bagaimana Indonesia mampu menjadi negara yang ikut memberikan sepak terjangnya di dunia itu sendiri.

Di saat ini yang penuh dengan carut marut negeri, sebenarnya sudah sangat jauh dari idealnya mimpi-mimpi dari pendiri negara yang katanya indah ini. Peristiwa kekerasan, peristiwa SARA, atau pun kebobrokan dari aparatur negara sampai pula dengan birokrat-birokrat yang membudaya hingga ke terkecilnya. Mungkin jika dibandingkan dengan penjajahan pada saat Belanda serta Jepang dan penjajahan lainnya, sebenarnya Indonesia telah diberikan keluwesan atau kebebasan untuk membangun dirinya menuju suatu tujuan indah itu sendiri. Apa tujuannya? Apa pembatasnya? Bagaimana penerapan(etika)nya? Yang terpikirkan mungkin hanya satu bagi saya (kami)(kita), yaitu Pancasila.

Dengan satu kata sebagai ideologi Bangsa itu, sebenarnya kita sudah bisa melacak apa-apa yang tidak pas dalam kenegaraan dan berbangsa ini. Mari kita lihat dan selidiki dari Pancasila sila pertama dari detail-detail butirnya.

1.Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari sini disebutkan bahwa Bangsa Indonesia percaya dan yakin kepada TYME beserta taqwa, artinya adalah tidak ada ruangan dari paham “ketidak percayaan dan keyakinan” thdap TUhan di bumi ini. Dalam arti tegas “NO Atheism” Titik. Tapi diberikan ruang lain bagi seorang atheis yang mengarah pada agnotis dan menuju suatu keyakinan tersendiri tentang yang Kuasa.(bisa dibaca dibagian bawah)

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Yang berarti bahwa, jika bertemu seorang yang tidak percaya atau yakin, maka berkewajiban untuk memberikan pemahaman dengan BIJAKSANA kepadanya. Jangan menggunakan cara-cara bunuh, siksa, perkosa, ancam, intimidasi (BSPAI) yang tidak sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab tersebut. Kata-kata capslock artinya anda harus seperti itu, jika belum maka anda masuk dalam ruang BSPAI. Hal ini termasuk pada jajaran Fundamentalis Agama serta kaum Misionaris brutal.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan.

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Jika dilihat fakta yang mengenegkan, kebebasan ini masih dirongrong oleh suatu pemaksaan serta pembenaran diri sendiri, dengan tidak melihat masalah pribadi kepada yang Kuasa. Artinya mem (BSPAI) dilarang serta merupakan musuh negara. Kembali ke penjelasan di atas, maka wajib untuk yakin dan percaya, namun pembelajaran bagi yang belum percaya atau belum yakin, dilakukan dengan cara-cara yang bermartabat serta berkemanusiaan sesuai dengan Adil serta beradab. Bunuh dan kekerasan bukan alasan, negara berkewajiban melakukan penangkapan serta memberikan rasa aman. Jika tidak (baca:biasanya tidak) maka negara telah lalai dalam melindungi rakyatnya untuk memiliki keyakinan yang pribadi terhadap TYME.

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Yaps untuk yang terakhir ini, adalah suatu pembahasan atau wilayah missionaris. Jadi tidak ada istilahnya pemaksaan kepada manusia lain untuk memeluk atau meyakini agama atau kepercayaan tertentu. Kata yang menjadi kunci adalah PAKSA. Intinya boleh memberikan suatu pemahaman terhadap agama, bebas berpindah ke lain hati, namun tanpa todongan pistol, celurit, atau gorok leher dan lemparan batu serta pembakaran rumah.

Jadi Dapat disimpulkan adalah penjajah dari negeri yang diimpikan indah dan damai ini adalah kaum FUNDAMENTALIS anarkhis, serta kaum MISSIONARIS yang menghalalkan segala cara.

Yang lebih baiknya adalah bagi negara beserta aparatur dan bangsa lainnya yang menjunjung kemerdekaan itu sendiri,  menjaga serta mengamankan kebebasan, serta toleransi, begitu pula ketaqwaan TYME yang ada.

sumber data:

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

http://id.wikipedia.org/wiki/Fundamentalisme

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 17 September 2012 in budaya, pancasila, persatuan negara

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: