RSS

Arsip Tag: islam

Kembali Menuju “Aku”..sebuah perjalanan(kah)?

Buddhi

Sangkan Paraning Dumadi

Perjalanan menuju kata “Aku”. Terkadang bisa dianggap sebagai sesuatu yang abstrak,seabstrak jiwa yang melayang-layang mencari tempat akhirnya. Seperti sebuah pemahaman atau ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Bagaimana mengenal diri,bagaimana mengenal “Aku” dan kembali menuju pulang. Ataukah menemukan jalan itu dulu, lalu berjalan menuju rumahNya.

Hanya sebuah filosofi saja, namun seperti melihat pemahaman psikologi barat dari Freud,bahwa manusia memiliki ID,memiliki Ego,memiliki SUper ego. Namun jika ditelaah maka itu adalah jalan keluar dari rumah itu sendiri. Mengapa?Apakah ID sebagai sesuatu “AKU”, sebagai kembali ke fitrahnya sebagai manusia?(islam), atau mungkin sebagai awal keluar dari sarang sendiri yang sebenarnya nyaman dan damai menuju dunia dan kemelekatannya.

ID adalah seperti freud itu dikatakan sebagai nafsu kebinatangan, nafsu atau insting yang membuat manusia memiliki sifat kebinatangan. Tidak semua buruk semisalnya seperti insting untuk membela diri, insting untuk tetap hidup, serta mungkin insting untuk membela yang ia miliki (anak, keluarga, rumah,dsb). Dan dengan itu lalu manusa memiliki EGO, ego yang menjadikan Ia itu memiliki kepribadian, keinginan, serta ambisi termasuk sifat-sifatnya bagaimana memandang dunia atau lingkungan yaitu terbentuk dari sekumpulan ego dan membentuk super ego. Manusia didesak dan menyediakan dirinya beradaptasi dengan super ego tersebut. Dapat dikatakan manusia menjadi bagian dunia dan bahkan dipaksakan untuk menerima dunia, lalu apakah itu hendaknya manusia memanusiakan dirinya?

Lalu memetik dari wraspatti tattwa yang telah terangkum di blog ini, maka bahwa manusia itu terciptakan dari panca maha butha dan dari dalam adalah memiliki citta (intuisi), memiliki manas, buddhi, ahamkara (ego), lalu panca tan matra, panca buddhindriya, serta kemudian panca karmendriya. dua yang terakhir adalah termasuk indrea manusia untuk merasakan dan mengecap dunia. Ke dalam lagi adalah ahamkara atau ego serta buddhi. dimana ahamkara adalah sifat ke “Aku”an manusia identitas manusia, yang mencerminkan dia bahwa ia manusia, buddhi sebagai akal untuk mengenal buruk dan baik. serta manas untuk berpikir lalu citta adalah cikal bakal atau mungkin alam bawah sadar manusia, alam yang terhubung dengan kekuatan semesta, bagian manusia yang memiliki memori-memori tersendiri akan fitrah akan bagaimana sejogjanya manusia sebagai mahluk tuhan.

Manusia dengan seringnya menyangkal kebenaran dari semesta, dari dunia dari apa itu keterjadian dunia. Sehingga menemukan sebuah jalan yang “benar” menjadi sangat bias dan apakah itu benar atau salah akan menjadi memori pada cittanya. Citta dapat pula dikatakan sebagai simbolisme atma yang terhubung dengan Para atma di semesta ini. Bahkan merupakan suatu ananda (sebuah kebahagiaan)sebuah jalan  sebuah ananda marga itu sendiri.Pertanyaannya mengapa bisa bahagia?Padahal dunia pun (bukan semesta) memberikan kebahagiaan tersendiri, memberikan kenikmatan, dan kepuasan. Namun apakah itu jalan pulang????iya memang, jika kemelekatan itu pada (maya) selalu mengada. Begitu susah terkadang dalam melepaskan kemelekatan, melepaskan keinginan, melepaskan ambisi, dan nafsu. Namun manusia dikatakan hidup karena ada itu semua. Kematian manusia telah menjadi ada jika kehampaan dan ketidakmelekatan itu terjadi. Apakah itu “ananda”?

Kemelekatan akan selalu ada dan menjadikan manusia itu menjejak di dunia. Namun ketidakmelekatan bisa membawa kepada sebuah ananda pada pemahaman baru akan penjejakan akan dunia itu sendiri.Maksudnya adalah menjadi manusia yang tidak melekat namun menjadi lepas akan itu sendiri. Kemelekatan akan citta bisa menjadi jawaban tersendiri akan penguasaan ahamkara, manas, dan meningkatkan buddhi indriya. Dan yang terakhir adalah melepas itu semua.

Yaps melepas itu semua pada bahwa ketidak “aku”an itu sendiri. Ketidaktahuan akan siapa “aku” itu. Menuju suatu kehampaan dan ketidakhampaan itu sendiri. Dimana buddhi berproses, buddhi berevolusi menjadi jenjang-jenjang yang tidak terbayangkan dan ananda itulah yang membuat segalanya sempurna. Kembali ke ciita, kembali ke asal, dan pada dasarnya “Aku” bukan siapa-siapa.

gwar mei 2013

sedikit bacaan:

wraspati tattwa

Sigmund freud

“Bukan siapa-siapa” A.Brahm

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

..Kafir, Nastika, Carwaka-Hedonism, Atheism, Agnotism-Kapitalsim,Sosialism,Nusantaraism..

budak budak jaman

budak budak jaman

Mengenal suatu tinjauan akan makna, pemahaman serta keberadaan dari berbagai kata-kata yang menuju pada keekslusfian, dan bahkan suatu kebebrokan atas yang bernama mentalitas, prilaku radikal serta filsafati liar dan  hanya memandang kedogmatisan, kegalauan rahysa, kedunguan, serta keberhalaan dunia. Maka dalam paham itu bisa diambil suatu benang merah tersendiri yang membuka sedikit suksmaning ati untuk mengubah dan mendekeontruksi atau pula merekontruksi, baik itu fikir, baik itu laku, baik itu paradigma yang lebih menuju sikap keuniversalitasan rahasia magis sebuah KEKUATAN AGUNG….

I. KAFIR NASTIKA CARWAKA.

Bahwa dari beberapa kata atau istilah di atas, maka akan terbuka sedikit kesamaan, atau bahkan meleburkan suatu motivasi spiritual (bukan ambisi) untuk lebih memahami (prtyaksa,anumana,agama pramana) secara filsafati, secara susila (etika), atau bahkan secara upacara(ritualisme).

Sebagai bahasan bagaimana sifat kekafiran yang berasal dari filsafat islam, yang sebenarnya adalah meniadakan atau membungkam mereka-mereka yang memberhalakan Tuhan (Allah), menyekutukan Allah, membuat Allah sebagai nomor dua. Jika itu dilihat dari Shallow Thinking (Pemikiran yang dangkal), maka jelas berarti bahwa dewa-dewa, patung, pohon, inkarnasi, atau dan sebagainya sebagai keberhalaan. Bahkan ada atau terdapat ayat yang memotong kepala kafir, darah kafir halal, atau kekerasan lainnya. Namun mereka lupa jika bahwa berkata Al Quran adalah keniscayaan yang abadi, maka jaman akan menuju suatu perubahan sendiri akan semiotika Ayat2 tersebut. Seperti sbagaimana ditafsirkan oleh Nurcholis Madjid (mendalamkan hakikat ayat fitna), atau Gusdur yang mengemukakan pandangan universalitas, serta Gusmus yang mengkritik dengan mehakikatkan universalitas dalam tubuh islam itu sendiri.

Sebagai contoh jika kepala dipotong akan menggambarkan penghilangan ego, darah kafir halal artinya kafir itu layak untuk disadarkan (dalam bentuk dirinya sendiri), yang menerbayangkan kesucian muslim berada pada mereka juga. Lalu apa kafir itu sendiri???bahwa kafir adalah mencakup semuanya, jika ingin menyemuakan kafir, artinya bahwa diri adalah kafir pula. Bahwa diri adalah yang tidak atau lupa bahwa mereka masih memberhalakan Allah dalam wilayah mengagungkan Uang mengagungkan Harta, mengagunggkan kekuasaan, bahkan menindas yang tidak sejalan dan melupakan hakikat mereka sebagai manusia itu sendiri.

Sama seperti nastika yang tidak atau melihat mereka yang tidak mempercayai sebagai orang yang MERUGI. Bahwa memang mereka tidak percaya akan weda, namun hanya sebatas itu, sebatas pada pembicaraan debat, pembicaraaan hakikat, pembicaraan argumentasi pemahaman,dan menceritakan serta mengsinkretis pemahaman menjadi yang bersolusi. Rugi dalam artian bahwa mereka telah meninggalkan kebenaran yang bijak. Tapi itu hanya pengingatan, dan tetap bahwa mereka tergantung diri mereka.

Untuk Carwaka dapat dilihat sebagai suatu filsafat bagi mereka yang menjadi budak2 dari jaman, dari nafsu, dari ketidak benaran dan memuaskan diri mereka selagi mereka masih hidup dan meninggalkan filsafati Tuhan itu sendiri.

2.Hedonism-Atheism- Agnotism

Tiga dari suatu istilah di atas, sangat mengarah dan dekat dengan Keagamaan, Religiusitas, dan bahkan sebuah spiritualitas. Artinya adalah bahwa mereka menjadi seperti itu adalah apakah karena kehendak jaman, apakah karena kekurang mengertian kritikal mereka, atau pula karena kebencian mereka terhadap jaman itu sendiri.

Untuk yang memahami hedonism, adalah mereka yang bergerak persis sama sebagai carwaka yang hanya hidup untuk memuaskan nafsu mereka keinginan mereka akan dunia ini sbagai produk dari kemajuan jaman. DImanja mereka sampai mereka tidak ingat akan kemanusiaan mereka, lupa bahwa mereka adalah manusia, mereka ada agen-agen kebenaran, mereka adalah pejalan yang hampa, serta tunduk pada kedunguan indera mereka. Sehingga pada akhirnya mereka jatuh ke lobang atheisme. Yaitu tidak percaya akan Tuhan dan kekuatan gaib angkasa atau bumi. Mereka yang menjadi budak jaman, sebagai budak di neraka, sebagai budak yang akan nanti mendapatkan penghukuman serta melupakan etika (susila) yang luhur dan jatuh terjerembab pada lubang kegilaan. Intinya adalah menganggap tuhan telah mati, namun mereka hanya tertawa tanpa tau maksudnya.

Menuju pemahaman Agnotis dan atheism, adalah haruslah melihat berbagai faktor2 yang mengenalkan mereka pada filsafati tersebut. Maksdunya adalah apakah kerena dogmatisme yang hanya mengumpulkan jenasah2 korban peperangan idelatis agamais atau bahkan peperangan ekonomis yang secara langsung tidak langsung mennyebabkan kesenjangan atau juga kematian yang tragis bagi mereka yang kurang akan produk primer, makanan (kelaparan),papan (homeless), serta kegilaan lainnya.

3. Kapitalism (zionism),Sosialism,Nusantaraism.

Kemajuan jaman tidak lepas pula dari paham keberekonomian itu sendiri dalam menuju suatu kesejahteraan secara kolektif yang dibatasi pemborderan wilayah negara atau NKRI. Maksudnya adalah karakterisitik, idealistik dari kenusantaraan adalah sangat berbeda dengan dunia itu sendiri. Nusantara yang plural, universal, serta ramah tamah akan menjadi hal yang akan “hilang” lenyap “sirna kertaning bumi”..lenyap dimakan jaman atau apa pun itu, bahkan domgmatisme keras kepala dari apa yang dikatakan produk2 lain.

Maksudnya islam nusantara berbeda dengan arab, hindu nusantara berbeda dengan india, kristen nusantara berbeda dengan eropa, dan sebagainya. Itu lah yang membentuk karakteristik bangsa dan kekhasan dari setiap suku ras di nusantara ini. Kekuasaan kapitalis adalah bisa, namun pada akhirnya yang membobrokan alam dan lainnya adalah fakta, seperti lumpur lapindo, atau pengucapan sumpah penggantungan diri yang jika dibiarkan atau pembiarannya mengakibatkan amarah serta kemeledakan sabar akan arti revolusianism. Bahwa sukarno pun berkata Revolusi belum selesai.

Ada yang ingat pancasila???????

Hanya sedikit yang tau bahwa sangat salah memaksakan agama pada butir2 sila pertama, sangat salah bertindak biadab pada butir2 sila kedua, sangat salah mengagungkan golongan dibanding negara seperti butir ketiga, atau kedunguan dan kebodohan wakil rakyat yang memperkaya diri seperit butir ke keempat, dan kesederhanaan serta un materialism sila kelima.

Kelupaan itu mengakibatkan jatuhnya mereka ke lobang yang disebut lobang tidak diterima bumi tidak dihargai langit (yg dekat dengan kafir), yang tidak mempercayai kebhinekaan tunggal ika (dkat dngan nastika), yang mengabdi dan membudaki diri pada nafsu dunia (kapitalism)..seperti carwaka…

SAMPAIIII KAPAAAN?????????

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2013 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Hindu bertemu dengan Islam dalam Tingkat Kesufian…

Sufi yaitu ilmu Islam tingkat tinggi adalah ilmu tentang jiwa , ilmu tentang cinta kepada Dzat ALlath, ilmu tentang bagaimana kesatuan dengan Yang Kuasa..Ilmu pasrah terhadap bagaimana ALlah itu menjadi sesuatu yang nikmat dalam menjalani kesehariannya…itu adalah hal yang sungguh nikmat dalam menapaki kehidupan mnusia dimana diri berserah sepenuhnya pada apa-apa yang menjadi hakikat dalam KemaHa kuasaan ALlah ta;ala….

Dalam hIndu atma atau jiwa sangat dipuja sebagai sinaran suci brahman dimana brahman menyatu bersama manusia di dalam kehidupannya sebagai sesuatu yang menyinari setiap insan-insan dalam sisi yang menjadikan ia bersatu dengan SAng Acintya dan pasrah terhadap apa-apa yang menjadikan Ia bermakna….”Tat twam asi”, menyatu bersama “Brahman Atman Aikyam”…untuk itu sufi adalah bagaiamna manusia menjadi suatu zat kuasa dan menyatu bersamanya…

 

OH sang Hyang Acintnya oh cahaya yang Tercerahkan…

Aku bergumul dalam setiap jeritan takdir-takdirmu yang mengangkasa bersama diri…

diri ini hanyalah Alat BagiMu sebagai bagaimana aku menjadi AbdiMu…

Oh Allah, aku menjadikan diriku sebagai pesuruhMu.sebagai sang Khalifah yang menjunjung tinggi budhiMu..

Menuju suatu kejayaan ABadi kjayaan CINTA terhadap segala hakikat-hakikat jiwa yang menyatu BersamaMu…

Oh Gusti ALlah gusti Acintya…Gusti Brhman…Aku memujaMu sepenuh Jiwaku dalam menapaki segala kenikmatan dunia yang benar-benar nikmat dalam segala ujian-ujianMu…

 

Basmallah Jaya DImahi…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Zikir dalam islam adalah suatu jalan yang indah…

Maka tersebutlah kata zikir (japa dalam hindu) dimana kata-kata bermakna tentang Allah ta’ala dijadikansuatu yang diulang-ulang sedemikian rupa yang mengakibatkan suatu risalah hati yang menjadi lenyap…ada beberapa zikir penting dalam islam yang mungkin berhubungan dengan kisah nabi-nabi jaman dahulu…Hal ini mengandung sejarah serta hidayah yang mungkin bermanfaat pada islam yang taat dimana jaman ini perlu sekehendaknya dilaksanakan.

Setelah Allah menciptakn Arsy
diperintahkanlah malaikat malaikat
sebagai pendukung beban Arsy itu
karena dirasanya berat,
Allah memerintahkan pra malaikat mengucapkan subhanallah

Berseru malaikat: Subhanallah….
terasa beban Arsy agak menjadi ringan

Tatkala Adam tercipta,kemudian ia bersin
mengucaplah Adam Alhamdulillah
dan dijawab oleh Allah Yarhamukallah
Menurut Malaikat,itulah kalimat mulia yang kedua
tidak patut ditinggalkan pecuma

Sejak itu berseru malaikat:
Subhanallah…
Walhamdulillah…
Terasa makin ringanlah beban Arsy

Tatkala Allah mengutus Nabi nuh
Nabi yaang pertama mengajak kaumnya mengucap Laailaahaillallah
Bagi Malaikat itulah kalimat mulia yang ketiga

Kemudian sejak itu malaikat berseru:
Subhanallah..
Walhamdulillah…
WaLaailaahaillallah….
Terasa sungguh,semakin ringan beban Arsy

Tatkala Allah memerintahkan Nabi Ibrahim berqurban
Dan Ibrahim melihat ismail digantikan seekor kambing
Mengucaplah Nabi Ibrahim Allahu Akbar
Mendengar ucapan itu,Para malaikat memuji
inilah kalimat keempat yang mulia

Sejak itu berseru malaikat:
Subhanallah..
Walhamdulillah…
WaLaailaahaillallah….
Wallahu Akbar…
Sungguh sungguh,sangat ringan beban Arsy

Tatkala Jibril menyampaikan seluruh cerita
Kepada Rasulullah,menjawablah beliau:
Lahaula Walaquwwata illa billahil Aliyil Adhim
dengan irama ucapan sepenuh penuhnya takjub
mendengar jawaban Rosulullah Jibril berkata
Ucapan ini harus disambungkan pada kalimat yang menjadi bacaan
para malaikat yang mendukung Arsy

bacalah kalimat tersebut sebanyak banyaknya

Sungguh besar nilai kalimat di atas

Subhanallah..
Walhamdulillah…
WaLaailaahaillallah….
Wallahu Akbar….
Lahaula Walaquwwata illa billahil Aliyil Adhim

copas dari forum tetangga..thanks yah…

salam rahayu rahayu rahayu…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2011 in agama

 

Tag: , , , , , , , ,

Tauhid Asma wa sifat melalui Asma ul Husna serta kajian Mahrifat menuju syareat

Ini tulisan pertama tentang islam dan mudah2an membawa manfaat bagi para saudara muslim…taqqiyah adalah jalanku..

Asma wa sifat menurut apa-apa yang telah saya baca dan coba resapi adalah suatu bagian dari tauhid yang mana pula memiliki tiga jenis dimana dua jenis lainnya dihilangkan, kalau mau di wacanakan sebagai suatu nusantara bahasa dapat disebut sebagai Tri Tauhidyah…

yaitu

1.Rubbubiyah

2.Uluhiyah

3.Asma wa sifat…

dua lainnya yang dihilangkan adalah hakimiyah dan mulkiyah karena sudah memasuki wilayah pertama dan kedua..

dalam hal ini saya berbicara tentang asma wa sifat…seperti juga yang telah saya baca adalah iman terhadap bahwa pada dasarnya Allah memiliki suatu sifat dan atas dari nama-nama Allah…Nama-nama Allah itu maka dibagi menjadi 99 nama, maka disinilah kita dapat melihat dan mencermati bagaimana 99 nama Allah yang mulia…

Asma Al-Husna

No.         Nama    Arab      Indonesia

Allah      الله        Allah

1              Ar Rahman          الرحمن   Yang Maha Pengasih

2              Ar Rahiim             الرحيم Yang Maha Penyayang

3              Al Malik                الملك     Yang Maha Merajai/Memerintah

4              Al Quddus           القدوس                 Yang Maha Suci

5              As Salaam            السلام   Yang Maha Memberi Kesejahteraan

6              Al Mu`min           المؤمن    Yang Maha Memberi Keamanan

7              Al Muhaimin      المهيمن Yang Maha Pemelihara

8              Al `Aziiz                 العزيز Yang Memiliki Mutlak Kegagahan

9              Al Jabbar              الجبار   Yang Maha Perkasa

10           Al Mutakabbir   المتكبر              Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran

11           Al Khaliq               الخالق   Yang Maha Pencipta

12           Al Baari`                البارئ Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)

13           Al Mushawwir   المصور                Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)

14           Al Ghaffaar         الغفار Yang Maha Pengampun

15           Al Qahhaar          القهار     Yang Maha Memaksa

16           Al Wahhaab        الوهاب    Yang Maha Pemberi Karunia

17           Ar Razzaaq          الرزاق    Yang Maha Pemberi Rejeki

18           Al Fattaah            الفتاح                 Yang Maha Pembuka Rahmat

19           Al `Aliim                العليم Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)

20           Al Qaabidh          القابض               Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)

21           Al Baasith            الباسط                 Yang Maha Melapangkan (makhluknya)

22           Al Khaafidh         الخافض               Yang Maha Merendahkan (makhluknya)

23           Ar Raafi`               الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya)

24           Al Mu`izz              المعز      Yang Maha Memuliakan (makhluknya)

25           Al Mudzil             المذل      Yang Maha Menghinakan (makhluknya)

26           Al Samii`               السميع                 Yang Maha Mendengar

27           Al Bashiir              البصير             Yang Maha Melihat

28           Al Hakam             الحكم     Yang Maha Menetapkan

29           Al `Adl   العدل     Yang Maha Adil

30           Al Lathiif               اللطيف               Yang Maha Lembut

31           Al Khabiir             الخبير                Yang Maha Mengenal

32           Al Haliim               الحليم Yang Maha Penyantun

33           Al `Azhiim            العظيم Yang Maha Agung

34           Al Ghafuur          الغفور                 Yang Maha Pengampun

35           As Syakuur          الشكور                 Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)

36           Al `Aliy العلى    Yang Maha Tinggi

37           Al Kabiir                الكبير                Yang Maha Besar

38           Al Hafizh              الحفيظ               Yang Maha Memelihara

39           Al Muqiit              المقيت                 Yang Maha Pemberi Kecukupan

40           Al Hasiib               الحسيب               Yang Maha Membuat Perhitungan

41           Al Jaliil   الجليل                 Yang Maha Mulia

42           Al Kariim              الكريم Yang Maha Mulia

43           Ar Raqiib              الرقيب                Yang Maha Mengawasi

44           Al Mujiib              المجيب                 Yang Maha Mengabulkan

45           Al Waasi`              الواسع Yang Maha Luas

46           Al Hakiim             الحكيم Yang Maha Maka Bijaksana

47           Al Waduud          الودود    Yang Maha Mengasihi

48           Al Majiid              المجيد   Yang Maha Mulia

49           Al Baa`its              الباعث                 Yang Maha Membangkitkan

50           As Syahiid            الشهيد Yang Maha Menyaksikan

51           Al Haqq                الحق       Yang Maha Benar

52           Al Wakiil               الوكيل                 Yang Maha Memelihara

53           Al Qawiyyu         القوى    Yang Maha Kuat

54           Al Matiin              المتين                 Yang Maha Kokoh

55           Al Waliyy              الولى    Yang Maha Melindungi

56           Al Hamiid             الحميد   Yang Maha Terpuji

57           Al Muhshii           المحصى               Yang Maha Mengkalkulasi

58           Al Mubdi`            المبدئ Yang Maha Memulai

59           Al Mu`iid              المعيد   Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

60           Al Muhyii             المحيى                 Yang Maha Menghidupkan

61           Al Mumiitu          المميت Yang Maha Mematikan

62           Al Hayyu              الحي      Yang Maha Hidup

63           Al Qayyuum       القيوم Yang Maha Mandiri

64           Al Waajid             الواجد     Yang Maha Penemu

65           Al Maajid             الماجد     Yang Maha Mulia

66           Al Wahiid             الواحد     Yang Maha Tunggal

67           Al Ahad                الاحد       Yang Maha Esa

68           As Shamad          الصمد   Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta

69           Al Qaadir              القادر    Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan

70           Al Muqtadir        المقتدر                Yang Maha Berkuasa

71           Al Muqaddim     المقدم    Yang Maha Mendahulukan

72           Al Mu`akkhir      المؤخر   Yang Maha Mengakhirkan

73           Al Awwal             الأول      Yang Maha Awal

74           Al Aakhir              الأخر      Yang Maha Akhir

75           Az Zhaahir           الظاهر     Yang Maha Nyata

76           Al Baathin            الباطن Yang Maha Ghaib

77           Al Waali                الوالي   Yang Maha Memerintah

78           Al Muta`aalii       المتعالي             Yang Maha Tinggi

79           Al Barri البر      Yang Maha Penderma

80           At Tawwaab       التواب Yang Maha Penerima Tobat

81           Al Muntaqim      المنتقم                Yang Maha Pemberi Balasan

82           Al Afuww            العفو   Yang Maha Pemaaf

83           Ar Ra`uuf             الرؤوف                 Yang Maha Pengasuh

84           Malikul Mulk      مالك الملك            Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)

85           Dzul Jalaali Wal Ikraam   ذو الجلال و الإكرام             Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

86           Al Muqsith          المقسط                 Yang Maha Pemberi Keadilan

87           Al Jamii`                الجامع    Yang Maha Mengumpulkan

88           Al Ghaniyy          الغنى    Yang Maha Kaya

89           Al Mughnii          المغنى Yang Maha Pemberi Kekayaan

90           Al Maani              المانع    Yang Maha Mencegah

91           Ad Dhaar             الضار   Yang Maha Penimpa Kemudharatan

92           An Nafii`               النافع Yang Maha Memberi Manfaat

93           An Nuur               النور     Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)

94           Al Haadii               الهادئ     Yang Maha Pemberi Petunjuk

95           Al Baadii               البديع                 Yang Indah Tidak Mempunyai Banding

96           Al Baaqii               الباقي                 Yang Maha Kekal

97           Al Waarits            الوارث   Yang Maha Pewaris

98           Ar Rasyiid            الرشيد                 Yang Maha Pandai

99           As Shabuur         الصبور              Yang Maha Sabar

bagi suatu pembahasannya maka Asma wa sifat itu mungkin dan benar pula adalah bagaimana cara manusia yang teridhoi mampu mensifati Allah…dalam bahwasanya maka hal itu adalah tidak sangat mudah namun bukan hal yang mustahil..dan ini mungkin pula dapat diarahkan sebagai bagaimana dijaman lalu sya sadari sangat erat dengan bagaimana mahrifat itu bisa tercapai tidak dengan sembarang orang..syeh siti jenar mungkin pula menyadari hal ini, jika wali menyupat kanjeng syeh jenar maka bisa saja melupakan sifat Allah Al Qadiir…namunalangkah baiknya jika mahrifat itu dibarengidengan bagaimana syareat itu dilaksanakan sedemikian rupa…sungguh pun mungkin ada maknanya…

salam rahayu rahayu rahayu _/\_

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2011 in agama

 

Tag: , , , , ,

Membersihkan nama Balian…

balian di bali atau dukun adalah pengobatan alternatif terhadap segala suatu penyakit…sebenarnya balian adalah aliran kepercayaan di Bali seperti kejawen di jawa…untuk itu orang-orang di Bali harus lebih siap menggunakan kata Balian sebagai kata yang bukan underground, atau penuh dengan misteri atau ketakutan…sebenarnya balian adalahsama dengan kejawen…jika ditilik dari laku itu sendiri…apakah balian itu suatu kemusrikan, tidak lah….bagi Hindu….karena Hindu bisa ada offering dengan banyak Dewa….Hindu India beda dengan Hindu di Bali…Islam di arab beda dengan islam di jawa…jadi saya mendaulat balian itu adalah bagian dari bali itu sendiri…jadi sebaiknya dipergunakan mana hindu india mana Hindu balian…gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2011 in Tak Berkategori

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: