RSS

Arsip Tag: mengontrol sad ripu

Kekuatan dewata (asta bratha) untuk Menundukkan Sad Ripu..

Kekuatan dewata (asta bratha) untuk Menundukkan Sad Ripu..

Meminjam kekuatan dewata untuk menundukkan Sad Ripu..

Sangat perlu diketahui dan sudah dikenal jga secara umum, bahwa kita memiliki enam musuh yg berada dalam diri kita..dan itu sungguh membuat kita bisa menjauh dari sisi kedharmaan itu sendiri..musuh2 itu mengikuti kita selalu, bahkan sampai menuju jurang kematian, dan semoga saja hidup kita selalu bermakna..

Musuh2 itu antara lain, lobha matsarya krodha moha mada jga kama..Ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dalam diri manusia, namun hanya sebagai musuh dalam diri, yg akan membuat manusia itu terjatuh dalam lubang kenestapaan..

Falsafah hindu sendiri, telah memiliki sejumlah cara2 yg baik, dalam mencoba mengenal lalu mengontrol juga mengendalikan gejolak dari sad ripu ini..Kemudian ada juga konsep tentang bahwa manusia bisa saja meminjam kekuatan dari dewata (atau menjadiNya) dalam ruang lingkup penguatan diri jga melaksanakan keswadarmaan masing2 dalam lingkungannya..Menjadi pemimpin atas diri dan juga kepada lingkungan sekitarnya, adalah salah satu cara memberikan ruang untuk mengontrol musuh2 itu..

Laku asta brata adalah konsep kepemimpinan atas diri, agar diri mampu mengendalikan diri itu sendiri, dan menjadi tauladan di masyarakat atau keluarga terkecil..laku asta bratha, sekiranya dapat membentuk kepribadian diri agar mampu menjadi panutan atau menjadi kekuatan yg besar dalam diri itu sendiri..

Asta brata adalah..
Seperti laku bhtra Surya yg memberikan pencerahan, dan penerangan sekitar dengan sinar kebijaksanaannya, dengan ini maka moha atau kebingungan, tidak akan menjdi sesuatu yg menakutkan, atau jga Kama atau hawa nafsu mampu dikekang, atas dasar kebijaksanaan itu sendiri..

Sepert laku bhatari chandra yg menyejukkan dan memberikan cinta kasihnya kepada siapa pun, hal ini sangat pasti dapat mengontrol jiwa yg krodha atau dalam kemarahan, tentunya cinta kasih dan kesejukan adalah bagian antonim dari keadaan krodha itu sndiri..

Seperti laku bhatara kubera..yg memberikan keberkahan pada semua mahluk dan sekitarnya, bahwa memberi adalah bagian dri yadnya yg sangat penting, tentu saja dgn memberi, maka diri memberikan ruang untuk menciptakan kesejahteraan bersama yg pada akhrinya mengikis matsarya dan juga kelobhaan, bahwa diri telah diberikan banyak, maka gunakanlah hidup untuk memberikan pelayanan dan pembelajaran atas hidup itu sndiri kepada orang lain atau mahluk lain..

Laku bhatara indera yg jga sbagai pelindung dan lambang keberanian, juga memberikan amertha, maka itu ia berani untuk memberikan pembelajaran hidup atau dharma, shingga tidak bingung atau moha, juga tidak akan mabuk (mada) atas sesuatu sifat duniawi, krna Ia adalah lamban keberanian untuk mempertahankan dharma itu sendiri..

Laku bhatara bayu..dimana sprti angin yg memberikan kabar yg benar secara nyata, tanpa melebihkan tanpa mengurangi, apa adanya, dimana IA akan memberikan kekuatan diri untuk selalu tidak jatuh pada kebingungan atau moha..bahwa informasi adalah bagian yadnya pula, dalam memberitakan suatu kebenaran itu (dharma)..

Laku bhatara baruna, bahwa laut adalah sbuah tempat segalaNya, dimana smua berakhir di laut, dan menelan apa pun, artinya.bahwa laut mampu memberikan ruang keluh kesah atau apa pun itu yg membuat diri terlepaskan segala bebannya…maka Kama kmudian mnjdi stabil dan tidak terlalu bergejolak, kebingungan mnjdi sirna, dan juga mada kemabukan atas sesuatu bisa terkurangi, karena telinga jga hati jga kesabaran, serta kebijaksanaan adalah laku laut. Yg tidak habis ruang di dalam diriNya menerima keluh kesah sesamanya..

Laku bhatara yama yg selalu adil, dmana saja ada keadilan yg tercapai, maka kepuasan diri mengada, akan membuat kelobhaan dan jga mastsarya menjadi berkurang..

Laku bhatara Agni, dmana membakar semua keangkara murkaan, dan juga melebur diri pada laku tapa brata, dan memberikan ruang jnana untuk melebur mala, dan ketidakadilan…Sangat baiklah ketika sang Kama diberikan tempat untuk dilebur dgn jalan yg sesuai atas kedharmaan, dan jga mengintropeksi diri bahwa segala ripu adalah seharusnya kita mengendalikannya..

Salam
Gwr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2018 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: