RSS

Arsip Tag: modernisme agama

Agama Damai di Masa Depan

Agama yang Damai di Masa Depan

            Agama sebagai suatu kata yang dapat berarti pedoman seseorang untuk berperilaku, terutama dengan hubungannya kepada Tuhan sebagai pemilik semesta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berasal dari kata sansekerta yaitu sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan  dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Agama disebut juga religi  yang berasal dari bahasa latin, religio dan berakar  pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Artinya adalah seseorang mengikatkan dirinya kepada Tuhan.

Dalam hindu sendiri disebutkan bahwa ajaran hindu sebagai suatu Sanatana Dharma yang mengandung arti kebenaran yang abadi. Hal ini mengatakan secara jelas bahwa sampai kapan pun dharma akan menjadi suatu kebenaran entah apa pun itu keadaan jamannya. Abadi juga berarti bahwa tidak akan pernah dharma itu hilang sampai kapan pun dunia ini ada. Namun sebagaimana kita lihat pada saat ini, apakah jaman modern ini mampu dilingkupi oleh agama? Atau modernitas yang melingkupi agama itu sendiri? Agama itu sendiri sebenarnya telah diterjemahkan oleh beberapa teori dari beberapa ahli. Teori-teori itu bisa menjadi titik awal bagaimana agama itu bisa dimengerti secara ilmu.

  1. Teori-teori tentang Agama.

E.B. Tylor (1832-1917) menyebutkan bahwa agama berarti adalah “keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual”. Hal ini dikatakan sebagai suatu yang mirip dimiliki oleh seluruh agama, yaitu adanya keyakinan terhadap roh-roh berpikir, berprilaku, dan berperasaan seperti manusia. Esensi dari setiap agama adalah animisme (anima) yang berarti roh. Jadi pertanyaan oleh Tylor untuk menjelaskan agama yang pertama adalah “Bagaimana dan kenapa awal mulanya manusia mulai mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh?” Pernyataan ini diterjemahkan oleh E.B. Tylor dengan menyebutkan “filosof liar” pada saat jaman primitif yang bisa mengklasifikasikan manusia itu hidup atau mati, serta memiliki jiwa dan roh sebagai bayang-bayang jiwa sehingga berhasil mendapatkan konsep tentang Jiwa yang Memiliki Pribadi. Itu berkembang menjadi bentuk yang lebih besar di luar tubuh, seperti dewa-dewa yang ada di sekeliling manusia tersebut. Akhir dari Tylor menyimpulkan bahwa takdir agama sebenarnya adalah sekedar memperlambat kemajuan pemikiran manusia yang masih saja memegang teguh agama dari keuntungan mereka (hal 49; Daniel;2011).

J.G. Frazer (1854-1941)memberikan pemahaman tentang agama berhubungan dengan istilah magis dari jaman primitif. Di mana pada saat itu, yang memiliki predikat penguasa magis adalah dukun, tabib, atau tukang sihir yang dianggap mendapatkan kekuatan sosial dan bahkan menjadi penguasa karena kekuatannya tersebut. Magis adalah suatu kekuatan yang pada saat itu dapat menguasai alam. Seperti halnya mampu menurunkan hujan atau mendapatkan cahaya pada saat petani membutuhkan. Magis disebutkan sebagai sesuatu pengetahuan yang salah dan pada akhirnya digantikan oleh agama saat kemundurannya (magis) walaupun memiliki kemiripan tersendiri. Jadi antara E.B. Tylor dan Frazer menyebutkan asal usul agama dari pra sejarah serta evolusinya dalam perkembangannya sebagai penyelesaian masalah pada waktu itu. Dan E.B. Tylor serta Frazer tidak mencantumkan permasalahan agama yang turun dengan cara wahyu, namun kesimpulan yang terpenting adalah agama memang merupakan suatu evolusi pemikiran dari manusia yang pada akhirnya mengalami kemunduran akibat kedatangan suatu ilmu pengetahuan dan perannya akan tergantikan.

Sigmund Freud (1856-1939) merupakan ahli psikologi yang memberikan pemahaman akan psikoanalisa serta alam bawah sadar. Ketertarikannya akan pikiran manusia serta bagaimana hal tersebut bekerja membawanya pula pada pemahaman yang menyentuh bidang-bidang lainnya sebagaimana pula bidang agama. Dalam pemahaman alam bawah sadar menyebutkan bahwa kumpulan emosi dan angan-angan serta dorongan biologis paling dasar masuk dari alam sadar dan menjadi suatu gunung es. Masuknya emosi-emosi tersebut bisa terjadi dengan dua cara, yaitu masuk secara diam-diam sebagai transkrip masa lalu, serta masuk dengan cara dipaksa akibat sesuatu kejadian yang kompleks. Untuk yang kedua itulah yang mengakibatkan ketertekanan yang bisa mengakibatkan pengaruh penyakit syaraf (neurosis) dan dapat disembuhkan oleh psikoanalisa. Ia menyebutkan manusia terdiri dari Id yang merupakan insting hewaniyah (makan, membunuh, seksualitas), super ego (kepribadian yang dimasukkan dari luar seperti keluarga, harapan masyarakat, negara) serta ego (sebagai penyeimbang keduanya). Pemahaman agama dari Freud berasal dari istilah Oedious Kompleks yang berasal dari cerita seorang raja yang baik dan bijaksana namun membunuh ayahnya serta menikahi ibunya sendiri. Karena menyesalnya ia membunuh ayahnya, akhirnya ia mencari cara bagaimana membunuh rasa sesalnya dengan memuja ayahnya tersebut. Hal ini berhubungan dengan pemujaan totemisme dimana binatang totem dianggap sebagai ayah mereka yang telah mati dan menahan hasrat seksual mereka, seperti pula ketabuan dalam menikahi seorang ibu sendiri (totem and taboo 1913). Agama disebutkan oleh Freud sebagai sebuah yang lahir dari emosi-emosi serta konflik-konflik yang lahir dan semenjak kanak-kanak dan terletak jauh di bawah kesadaran rasional, permukaan sadar dalam kepribadian dan dipandang sebagai gangguan neurotis.

Lain halnya dengan pandangan Emile Durkheim(1815-1917) yang menjelaskan tentang kesakralan masyarakat, di mana agama dan masyarakat tidak dapat dipisahkan, dan bahkan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Terdapat dua bagian dari suatu masyarakat, yaitu “Yang Sakral” serta “Yang Profan”. Hal yang sakral selalu diartikan sebagai sesuatu yang superior, berkuasa, dan dalam kondisi normal ia tidak tersentuh dan selalu dihormati. Sebaliknya pula yang profan berarti sesuatu yang biasa-biasa dan menjadi keseharian masyarakat. Seperti pada totem-totem yang memiliki kesakralan, di mana binatang selain yang ditotemkan bersifat biasa dan dapat dibunuh atau dimakan yang berbeda dengan binatang “sakral” pada totem tersebut. Durkheim berpendapat sebelum masyarakat mendapatkan keyakinan terhadap tuhan, terdapat sesuatu yang impersonal maha kuasa (prinsip-prinsip totem) yang menjadi fokus utama dalam keyakinan tersebut. Dari Durkheim dapat disimpulkan agama adalah bagian yang paling berharga dalam kehidupan sosial. Dia menyediakan ide, ritual dan perasaan-perasaan yang menuntun seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai suatu masyarakat yang eksis, maka segala ide-ide, ritual-ritual upacara akan selalu ada, hal tersebutlah yang menyebabkan agama tetap ada.

Karl Marx (1818-1883) berpandangan agama itu adalah sebagai bentuk alienasi. Marx memunculkan  dua titik tolak pemikiran, yaitu bahwa ekonomi sebagai hal yang mempengaruhi perilaku manusia serta yang kedua adalah dalam sejarahnya manusia memiliki konflik pertentangan kelas yang terjadi secara terus-menerus antara yang memiliki barang dan yang harus bekerja membanting tulang agar tetap bertahan hidup. Seperti pula bahwa kebutuhan hidup manusia adalah sandang, papan, dan pangan yang setelah mampu didapatkan akan menuju keinginan lainnya, seperti seks misalnya. Manusia membutuhkan hal dasar tersebut terlebih dahulu, hal itu dilakukan dengan kegiatan ekonomi yang notebene di satu sisi dimiliki oleh pihak pemegang kapital (modal). Pada masa modern yang mengarah pada industrialisme, para pekerja (proletar) mau tidak mau bekerja pada pemilik modal industrial. Itu pun semakin membuat pertentangan kelas antara proletar serta kapital. Dan hanya dengan jalan revolusi atau kekerasan nekad menghancurkan sistem ekonomi yang ada serta membentuk pemerintahan proletar yang membawa pada perubahan kedamaian serta kebebasan yang tidak terdapat pertentangan kelas. Alienasi menurut Marx adalah suatu keterasingan dari manusia itu sendiri, hal tersebut terjadi karena perbuatan manusia itulah yang menyebabkan terjadinya alienasi. Dan tentu saja alienasi ada yang “dilekatkan” secara sengaja kepada manusia termasuk ide-idenya sendiri padahal manusia adalah yang pemilik sebenarnya. Itulah alienasi yang paling riil dan menjadi penyebab kesengsaraan manusia. Namun kritik mengatakan bahwa pemahaman Marx terhadap agama sebagai candu masyarakat dan tempat pelarian masyarakat miskin dari kesengsaraan dan penindasan, sebenarnya dalam benaknya adalah menjelaskan tentang agama kristen. Hal itu akan berbeda jika menjelaskan kebahagiaan hidup setelah mati dan reinkarnasi agama hindu atau kesabaran hidup dalam agama buddha.

Mircea Elliade (1907-1986) yang juga memiliki pengalaman mempelajari yoga di wilayah india selama beberapa waktu, mempergunakan istilah Yang sakral dan Yang Profan seperti yang dipergunakan Durkheim, namun istilah ini lebih mengarah kepada spritualitas atau supernatural dibandingkan mengarah kepada sosial. Yang sakral oleh Elliade digambarkan sebagai suatu perjumpaan dengan sesuatu yang menyentuh satu realitas yang belum pernah dikenal sebelumnya, sesuatu yang nir-duniawi sebagai sebuah dimensi yang maha kuat, sangat berbeda dan merupakan realitas abadi yang tiada tandingannya. Hal ini terdapat pada semua agama, baik pada agama arkhais atau pula pada yahudi dan kristen yang mendasarkan dirinya pada nabi-nabi serta wahyu-wahyu yang ada. Disebutkan bahwa pada akhirnya mereka (yahudi,kristen) menginginkan suatu turunnya manusia tuhan (mesias) yang memberikan suatu dunia dambaan pada akhirnya. Hal tersebut sejalan kembali sesuai pemikiran arkhais yang menerima sejarah sebagaimana itu ada dan akhirnya akan hancur kembali menuju dunia yang sempurna.

Dari beberapa pemikiran di atas yang paling mencengangkan adalah Frederich Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati”. Hal ini tidak diartikan secara harfiah, namun merupakan gagasan dari Nietzsche yang menyatakan bahwa Tuhan tidak lagi mampu berperan sebagai sumber moral atau teologi. Gagasan ini pada akhirnya akan membawa kepada Nihilisme di mana terjadi suatu ketidakpengakuan lagi pada tatanan kosmis termasuk pula penolakan keyakinan akan suatu hukum moral yang objektif dan universal, yang mengarah pada evaluasi kembali dasar-dasar dari nilai manusia.

Ini adalah beberapa pemahaman tentang agama itu sendiri, di samping pula beberapa teori lainnya dari beberapa ahli lain. Asal-usul dari agama tersebut paling tidak bisa menggambarkan bagaimana agama itu terbentuk serta bagaimana bentuk agama ke depannya.

2.  Era modernitas tempat agama saat ini.

Pada era modernitas ini, maka agama yang ada akan berpacu pada suatu kondisi keduniaan itu sendiri. Era modern terbentuk dari suatu era industrial yang mengarah pada berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai suatu pengambil keputusan serta alat untuk mengenal dunia itu sendiri via penelitian empiris. Ini yang membedakan modern dari era pra modern yang menyatakan bahwa sesuatu pengetahuan didapat dari alasan (reason) dan pengetahuan bawaan (innate knowledge). Pra modern juga berarti pemahaman yang didapat dengan kepercayaan mitos serta keyakinan akan sesuatu yang lebih “tinggi”.

Era modernitas juga berarti sesuatunya tidak terlepas dari science dan teknologi, media massa yang berperan cukup tinggi, gerakan sosial yang berkembang, demokrasi, individualitas, industrisasi, dan urbanisasi. Modernitas juga sangat berhubungan dengan berkembangnya paham kapitalisme yang sangat erat dengan revolusi industri. Kemunculan ekonomi yang berarti sebagai ilmu untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, juga sebagai salah satu yang muncul di era modern.

Hal tersebut memunculkan pertanyaan, apa yang dicari manusia pada saat ini? Apakah manusia menjadi objek yang mengikuti perkembangan jaman modern tersebut? Menjadi manusia yang harus tetap setia dalam memunculkan kehidupan sesuai dengan teknologi yang ada? Bagaimanakah menjadi manusia yang sejahtera? Secara ekonomi kah atau kebahagiaan batin atau apa? Lalu agama berada di posisi mana dalam hal ini, seperti juga disebutkan agama sebagai produk dari era pra modern dengan berbagai mitos serta keyakinannya.

Era modern serta segala yang menjadikan seluruh dunia saat ini, di samping pula ilmu pengetahuan, sebenarnya telah sangat banyak memberikan kenikmatan serta kebahagiaan dan kesejahteraan yang memberikan bantuan manusia untuk kehidupan. Peradaban yang selalu berkembang serta informasi yang sangat bebas beredar, memberikan banyak sisi positif di samping pula sisi negatif dari kehidupan era modern tersebut. Seperti pula yang dikritik oleh para ahli di atas Karl Marx contohnya yang mengangkat sisi pertentangan kelas yang juga penuh konflik. Di sisi lain Tuhan sepertinya telah kehilangan daya atau pengaruhnya untuk membentuk moralitas serta kemanusiaan sehingga Nietzsche menceritakan tentang kematian Tuhan itu sendiri. Seperti pula munculnya paham hedonistis yang mirip dengan Carwaka di mana kepuasan pribadi adalah hal yang paling utama. Hal itu memberikan suatu sikap individualitas dan mengurangi keinginan untuk menanamkan sikap yang peduli pada sekitarnya.

Ilmu pengetahuan pun selalu berkembang dengan peran filsafat ilmu bagian aksiologi untuk menjawab bahwa ilmu yang baik berisikan suatu etika dan moralitas. Ini yang bisa menjawab bagaimana suatu pengetahuan pada nantinya akan menjadi suatu ilmu yang memiliki tanggung jawab moralitas serta tanggung jawab etika kepada sosial serta dunia itu sendiri.  Agama dalam hal ini sebagai sesuatu yang memberikan pemahaman etika serta moralitas menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan, sebagaimana Durkheim juga berkata bahwa agama menjadi identitas suatu masyarakat dan dengan mengetahui identitas tersebut suatu permasalahan dapat diselesaikan jika terjadi gesekan di masyarakat tersebut. Eksisnya suatu masyarakat adalah berasal dari agamanya yang terbentuk dari ide, filsafat, serta ritual yang ada. Agama sebagai sesuatu yang membentuk psikologi seseorang, dikatakan sebagai suatu kesakitan oleh Freud sendiri. Namun ia pun tidak bisa menjawab kenapa orang masih beragama dan bersifat kolektif. Tylor pada kesimpulannya, agama dikatakan akan mengalami kemunduran akibat kemajuan ilmu pengetahuan. Tetapi ilmu pengetahuan pun pada akhirnya dibatasi oleh segi kemanusiaan, moralitas, serta etika yang notabene berasal dari sumsum agama itu sendiri.

Terlepas dari beberapa hal di atas, dunia sekarang pun masih memiliki titik-titik sejarah kelam dari agama itu sendiri. Di mana agama dalam penyebarannya atau pun dari suatu pembelaannya memiliki sifat keras tersendiri dengan darah atau pun kehancuran suatu peradaban. Seperti pula terorisme, pembunuhan etnis, brainwash, perang tanpa akhir di suatu wilayah, penghancuran tempat suci, atau mungkin konflik kecil antar umat beragama sendiri. Apakah agama yang salah dalam hal ini? Ataukah pemahaman dan penafsirannya?  Seperti juga John Lennon menyanyikan sebuah lagu “Imagine”  di mana dikatakan “bagaimana dunia tanpa agama, tidak ada yang terbunuh dan mati karenanya”. Namun di akhir ia berkata, yang diinginkan adalah “peace” yaitu suatu kedamaian. Jadi agama yang bagaimana diperlukan di masa depan?

3. Agama yang Damai, Agama yang Pluralis.

Sebelum beranjak pada agama di masa depan, maka semua sepakat bahwa kata damai menjadi suatu yang didambakan oleh siapa pun. Konflik memang pasti terjadi karena manusia memiliki kepala sendiri-sendiri, namun jika itu terjadi pasti ada langkah bijaksana untuk menjadikan sesuatu lebih punya nilai yang baik. Jaman ini masih terjadi suatu agama memberikan pemahaman dengan jalan kekerasan serta mengambil ayat-ayat secara setengah-setengah, serta menganggap kebenaran itu ada padanya sendiri.

Ilmu pengetahuan memiliki peran tersendiri di sini untuk memberikan suatu pandangan yang berbeda terhadap konflik-konflik berdasarkan agama. Humanisme menjadi suatu kaca mata sendiri terhadap kekerasan tersebut. Ilmu pengetahuan hendaknya menjadi hal yang tidak dianggap sebagai penghambat agama, baiknya dianggap sebagai hal yang memajukan manusia itu sendiri.  Karena ada beberapa penganut (bukan agamanya) yang alergi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan ini. Tetapi masih menggunakan hasil pengetahuan itu.

Kedamaian hanya bisa hadir jika paham keeklusifan suatu agama bisa ditiadakan dengan memberikan suatu pemberian kebebasan atas keyakinan lain itu ada. Manusia itu lahir dengan perbedaan, bukan suatu kesamaan dari kelahirannya. Seperti juga pelangi yang berwarna-warni dan bukan pelangi jika hanya berwarna hitam atau biru saja. Kedamaian itu hadir dengan menelaah kembali ayat-ayat pada kitab suci masing-masing dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Seperti misalkan ada ayat tentang “memotong kepala umat lain”, apakah ditafsirkan dengan memotong kepalanya? Mungkin saja bisa ditafsirkan dengan memotong ego sebagai isi kepala darinya.

Dalam Hindu sendiri, dikatakan memiliki kitab sruti dan kitab smerti. Kitab sruti adalah kebenaran sejati, di mana smreti dimaksudkan untuk berubah dan diaplikasikan seperti kasus hukum dengan perhatian besar terhadap setiap konteks untuk menetapkan aplikabilitas serta adaptasi yang diminta (hal 157, Morales,2006). Jadi disesuaikan dengan jaman serta kebutuhan yang ada. Dharma yang abadi (Sanatana Dharma) dari Hindu tersendiri, merupakan suatu yang memang menjadi tuntunan dan kewajiban bagi dunia sampai akhir jaman atau abadi.

Agama masa depan adalah agama yang memandang pluralitas sebagai sesuatu takdir, keharusan atau sesuatu yang dimaklumi. Agama yang mampu memberikan rumah bagi yang tertekan pada suatu kehidupan ini. Agama sebagai tempat pulang dari umat-umat yang memeluknya. Karena agama sebagai wilayah rumah Tuhan yang diyakini merupakan akhir dari perjalanan manusia, memberikan suatu kedamaian batiniah dari sisi negatif keinginan tidak terbatas manusia.

Kedamaian secara realita akan dicapai dengan memberikan pluralitas itu sebagai junjungan dalam beragama, sehingga paling tidak kekerasan dari suatu agama bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Jika kekerasan telah lenyap, maka suatu kesejahteraan akan lebih bisa terfokuskan. Katakanlah idealisme dari Marx tentang agama sebagai candu masyarakat dan masyarakat tanpa kelas, akan lenyap dengan kesejahteraan yang merata. Agama yang damai serta plural adalah jawaban bagi agama yang bermakna di masa depan. Seperti pula Hindu di Bali mengucapkan salam terakhir “Om santi, santi, santi, Om”.

 

 

Daftar Pustaka

Daniel L.Pals. 2011. Seven Theories of Religion. Penerbit IRCiSoD Jogjakarta cetakan pertama.  

Lyrics 007 .___ . John Lennon Lyrics, di website http://www.lyrics007.com/

Morales, Frank G dkk. 2007. Semua Agama Tidak Sama. Penerbit Media Hindu cetakan kedua. Editor Ngakan Made Mandrasuta

Wikipedia .__. Hedonism. di website http://en.wikipedia.org/wiki/Hedonism

Wikipedia. ___. Modern History.di website http://en.wikipedia.org/wiki/Modern_history

Wikipedia,___, Tuhan sudah Mati, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_sudah_mati

Wikipedia,___, Axiology, di website http://en.wikipedia.org/wiki/Axiology

Wikipedia, ___, Agama, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

Wikipedia,___, Alienasi, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Alienasi

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Ngaben Massal dalam Konteks “Ajeg Bali”.

Ngaben Massal dalam Konteks “Ajeg Bali”

             Upacara Ngaben sebenarnya adalah upacara yang sangat dikenal di Bali, dan bahkan dikenal juga oleh umat lain atau juga sampai dikenal oleh dunia. Ngaben pada dasarnya adalah suatu upacara yadnya yang menjadi bagian dari pitra yadnya. Pitra yadnya yakni adalah upacara yang berhubungan dengan pitara atau roh leluhur. Upacara ini merupakan upacara yang mengantar kerabat yang meninggal agar bisa berjalan lancar dalam kehidupan di alam setelah hidup ini.

Bagaimana ngaben itu menjadi begitu penting, pada dasarnya adalah merupakan hutang yang wajib dibayar oleh keluarga kepada diri yang meninggal. Di samping itu pula juga merupakan lima kewajiban yadnya (panca yadnya) dari umat di kehidupan dunia. Untuk pentingnya ngaben itu sendiri dapat dilihat pada Tattwa Loka Kretti :

“Adapun sawa yang tidak diupacarakan (ngaben), atmanya akan berada di Neraka, bertempat di tegal yang sangat panas, yang penuh dengan pohon madhuri reges, terbakarnya oleh sengatan matahari, menangis tersendu-sendu, menyebut anak cucunya masih hidup, katanya Oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, saya dulu punya tidak ada yang saya bawa, kamu juga menikmati, pakau baik-baik, tidak ingat sama ayah-ibu, Air tirtha pengentas, pemastuku, semoga kamu umur pendek, demikian kutukannya. Dasar-dasar pikiran tersebut menjadi landasan adanya upacara ngaben tersebut “

Untuk itulah agar Atma yang terhalang perginya, perlu badan kasarnya diupacarakan untuk mempercepat kembalinya, kepada sumbernya di alam, yakni Panca Mahabhuta. Demikian juga bagi sang Atma dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitara dan memutuskan ikatan ke badan kasarnya. Proses inilah disebut ngaben (Wikarman, hal 18).

Kembali lagi ke jaman sekarang, di mana globalisasi telah menjadi bagian sehari-hari. Peningkatan dari suatu kebutuhan jelaslah akan semakin dibebani oleh masyarakat. Seperti kebutuhan sekolah anak, kebutuhan keluarga, atau mungkin pula kebutuhan kesehatan. Bergeraknya kehidupan, terutama di bidang ritual keagamaan juga menjadi suatu pengeluaran penting dari umat hindu di Bali ini. Menurut Sukarsa (2009,hal 55) disebutkan bahwa pengeluaran ritual yang didapat di Gianyar berdasarkan Tri Hita Karana adalah bahwa Hubungan manusia dengan manusia ( manusa yadnya, undangan, gotong royong) sebesar Rp. 4.791.693,47 (56%). Dan untuk Dewa Yadnya atau hubungan manusia dengan tuhan adalah 42% serta manusia dengan lingkungan adalah 2 %. Jadi total adalah 8 jutaan per tahun. Itu adalah suatu gambaran pengeluaran ritual di Bali.

Bali sebagai suatu daerah pariwisata, sebenarnya sangat terkenal di seluruh dunia. Terutama juga adalah bagaimana pariwisata bali menggunakan ikon pariwisata budaya. Hal itu adalah suatu kebanggaan namun juga suatu beban kalau memang tidak disebut keharusan bahwa semakin meningkatnya pariwisata menyerap tenaga kerja yang pula mengurangi waktu untuk keperluan lainnya. Lalu bagaimana yang tidak mendapatkan kue pariwisata itu. Darimana ia akan mendapatkan penghasilan untuk melaksanakan ritualnya, serta bagaimana mereka yang sibuk untuk melaksanakan kewajiban dalam meluangkan waktunya. Di satu sisi para wisatawan tentunya menginginkan kebudayaan Bali akan selalu ada selamanya.

Akhirnya ngaben massal muncul dan menjamur, walaupun dapat dikatakan sudah lama menjadi suatu sisi yang mungkin memberi angin yang segar. Sebelum ngaben massal itu kita lihat, mari kita perincian dana dari ngaben sarat (ngaben yang semarak sesuai dengan upacaranya) yang diperoleh Wikarman (2010). Maka dana yang dikeluarkan untuk bagaimana ngaben sarat itu dilaksanakan adalah sebesar  Rp.13.345.000 (1993). Dan itu masih merupakan ngaben sarat dalam tingkatan kecil. Pada dasarnya adalah ngaben sarat merupakan tingkat ngaben yang penuh semarak atau kemeriahan sesuai dengan upacara yang diadakannya. Ini mungkin pula sebagai aktivitas upacara pitra yadnya yang menjadi ikon Bali atau pariwisata.

Ngabaen massal telah dilakukan di kuta pada tahun 2008 yang juga diikuti oleh beberapa desa di Klungkung, Karangasem, Gianyar atau pun di Kintamani. Seperti pula dilihat dari penjelasan LPD desa adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H. M.M., bahwa biaya yang sebenarnya upacara ngaben senilai 60 juta dapat dihemat hanya menjadi 15 juta sampai 20 juta, dan bisa dialokasikan ke pendidikan anak-anak, katanya. Lain pula di Jembrana, di mana ngaben massal dilaksanakan di desa batu agung. Yang ikut pun tidak hanya dari desa sendiri terdapat juga dari desa yehembang, candikusuma, warna sari dan bahkan dari lombok pula. Sedangkan besaran biaya yang dipatok adalah senilai Rp. 1.750.000 untuk memukur, dan Rp. 750.000 untuk ngelungah.

Hal ini dapat disadari merupakan suatu yang sangat membantu bagi masyarakat yang membutuhkan kelepasan terhadap belenggu biaya. Di samping itu pula bagaimana jika ini dilaksanakan ke depannya akan menjadi suatu dasar yang kokoh pada pendidikan umat, dalam bidang ekonomi, namun tidak melupakan budaya sebagai pilarnya. Hal ini sejalan pula dengan apa-apa yang disebut konsep Ajeg Bali. Ajeg Bali dapat diartikan sebagai “Kondisi dinamik Bali, yang meliputi segenap aspek kehidupannya yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhannya yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatanya dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, kelangsungan hidupnya sendiri dalam hubungannya dengan kelangsungan hidup bangsa dan Negara (NKRI) serta perjuangan mengejar tujuan nasional (wingarta,2006:6).

Dari definisi di atas, sebenarnya adalah ajeg bali merupakan suatu yang dinamis dan bukan statis. Dan dari apa yang disebut aspek kehidupan adalah bukan hanya dari sisi sosial budaya dan agama saja, namun juga dari sisi politik, ekonomi, demografi, geografi, serta ideologi, dan juga pertahanan, keamanan. Semuanya mensifati hubungan terintegrasi yang artinya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jadi tidak ada hal yang boleh terlepas dalam kelangsungan untuk mengembangkan dan mempertahankan Bali itu sendiri.

Dapat juga dilihat pada definisi yang telah disebutkan, bahwa bagaimana ancaman yang ada baik dari dalam atau dari luar yang secara langsung atau tidak langsung, menjadi suatu yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya. Sehubungan dengan saat ini bahwa ancaman datang mungkin dari bagaimana globalisasi itu cukup membelenggu, terutama dengan kebutuhan yang terus meningkat. Di samping itu kebudayaan tentu saja harus diupayakan sedemikian rupa untuk tetap ada, selain pula dari sisi religi dan agama tetap dipertahankan sesuai dengan sumber-sumber sucinya.

Ngaben massal seperti yang diketahui adalah suatu upacara yang besar pula jika dilangsungkan sendiri. Namun ngaben massal betullah suatu upacara yang tidak terlalu membebani karena secara kolektif biaya itu ditanggung bersama. Bahkan ada sedikit selentingan kata-kata dari seseorang yang mengikuti ngaben massal, “Jika dari dahulu ada upacara ngaben seperti ini, tidaklah sampai tanah leluhur dulu saya habis terjual.” Dari sini terlihat jelas bagaimana kegunaan tersendiri dari ngaben massal itu.

Bagi Ajeg Bali pada dasarnya, jika sekumpulan dari selentingan itu benar, maka ngaben massal juga akan menyelamatkan kondisi geografis dari kepemilikan wilayah pulau Bali itu sendiri. Selain itu jelas bahwa dari segi ekonomi membantu bagi yang kurang memiliki kemampuan dana untuk melaksanakan ngaben secara personal. Dari segi budaya pada dasarnya akan menjadi suatu keajegan tersendiri, di samping pula sesuai dengan ikon pariwisata budaya untuk Bali. Terakhir untuk kelayakan ngaben massal, sebenarnya telah dilakukan oleh berbagai desa atau adat dan tentu saja melibatkan para sulinggih. Hal ini menunjukkan bahwa secara agama ngaben massal tidak bertentangan dengan sumber-sumber suci yang terbukti secara aplikasi oleh legitimasi para sulinggih. Jadi tidaklah salah bahwa Ajeg Bali bisa dijaga oleh ngaben massal ini. Dan ke depannya ngaben massal sangat relevan untuk dilaksanakan dalam perkembangan jaman yang semakin global dan modern ini sekaligus pula semakin mencekik.

 

Daftar Pustaka

Abhi (humas), 2012. “Ngaben Massal, Hemat Biaya dan Kaya Manfaat”. Di website http://www.jembranakab.go.id/index.php?module=detailberita&id=1638

Baktian Rivai Ardhian, 2010. “Ajeg Bali : Konsep untuk Selamatkan Bali.” Di website http://regional.kompasiana.com/2010/07/29/ajeg-bali-konsep-untuk-selamatkan-bali/

Dwi Koestanto Benny, 2008. “ Ngaben Massal : Seribu Harapan di Setra Dalem Ubud”. Di website http://www.wisatamelayu.com/id/news.php?a=QkpMTC8g=

Dwija Bhagawan,____.” Ngaben Gotong Royong”. Di website http://stitidharma.org/ngaben-gotong-royong/

Sujaya Made, 2008. “Ini Eranya Ngaben Massal”. Di website http://pojok-bali.blogspot.com/2008/08/kini-eranya-ngaben-massal.html

Sukarsa Made, 2009. “Biaya Upacara Manusia Bali”. Penerbit Arti Foundation Bali.

Wikarman Singgin I Nyoman, 2010. “Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama)”. Penerbit Paramita Surabaya.

_____, ____. “Ritual Ngaben”. Di website http://wisatabali2010.wordpress.com/ritual-ngaben/

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: