RSS

Arsip Tag: moksa

Realitas Kebenaran…Maujud Apa Itu?

Om hare kalkyantara hare kalkyantra ya namo nama swaha

hare kalkya hare kalkya
kalkya hare kalkya hare
hare hare

Salam Kebangkitan..

..Om Paramasiwa,Sadasiwa,SiwaNarayana, Om Namasiwaya..

Maaf kelancangan hamba, ku-persembahkan ini hanya pada-Mu..

Sering mendengar sebuah frase yang Maha, itu seperti mendengar balutan kata “Realitas Kebenaran”. Apa itu sebuah Realitas Kebenaran? Apakah Sebuah fakta tentang idealnya “diri’ sekaligus “dunia”? Atau bagaimana kenyataan di “sini” di dunia dalam bentuk sebagai unit “diri” dan tentunya semesta yang sedianya terjadi di sini..Awalnya yang mendasari semua adalah kekosongan, sebuah kehampaan, ketiadaan, kediaman. Yang menjadi awal dari segala-galaNya, dan menjadi suatu permulaan yang mengaktif sehingga berisi…

Lalu, beranjak jauh kepada realitas dari kenyataan di dunia ini. Apa yang kita telah lihat melalui indera kita (anumana pramana), dan kita rasakan dengan alam pikiran kita(prtyaksa pramana), dan pula dari berbagai pengetahuan hyang lalu (agama pramana), apakah kita merasakan akan suatu kenyataan realita yang “Benar”?Jika sudah “Benar” maka itu berarti kita memberikan berkat bahwa realitas yang ada itu adalah Kenyataan yang diharapkan, atau memasrahkan diri pada Nyata(Maya) ini….Jika akan “Benar” maka bahwa kita mengharapkan ini bukanlah suatu yang ideal dan seharusnya, tetapi ada keharusan dari kita untuk selalu mem”Benar”kannya dan kita yakin nanti pasti “Benar”.

Di balik penceritaan dan pemahaman realitas-kebenaran yang ada, perlu dilihat dari apakah itu merupakan suatu idealnya dunia ini, atau idealnya diri sebagai pemilik dunia yang mampu berpikir (idep). Di dasari awalnya adalah ketika dunia ini adalah suatu maya (acetana) ketidak sadaran akan realitas-kebenaran itu sendiri. Maka sehendaknya dengan kesadaran akan maya,membawa manusia menuju pengetahuan akan maya dunia.

Kembali pada kehampaan, kediaman, kekosongan sebelum adanya dunia dan kenyataan ini, maka sebuah Realitas-Diam yang disebut sebagai Kekuatan energi yang penuh, memulai sebuah aksi dan aktivitas. KeMauanNya(Brahman) itu merupakan kekuasaanNya sendiri. Dari sebuah keadaan tanpa sifat (Nirguna Brahman-Parama Siwa), yang tidak terlacak, tidak bisa dibingkai, diam, tidak terpikirkan, mengaktifkan diriNya dengan sifat (guna). Guna sattwam (terang,bijak), guna Rajas(aktif bergerak), guna Tamas (gelap,diam). Dengan guna itu maka Brahman sebagai realitas tertinggi merealisasikan diriNya menjadi Berpribadi (Saguna Brahman-SadaSiwa). Beliau memiliki empat Kemahaan Utama (Cadu Sakti) ..Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Wibhu Sakti (Maha ada), Jnana Sakti (Maha Tahu), Krya Sakti (Maha Membuat)..

Dengan Krya Sakti Ia Membuat Dunia beserta segala isinya, dengan Jnana Sakti Ia berikan pengetahuan kepada semestaNya untuk bisa hidup dan menikmati diriNya, dengan Wibhu Sakti Ia memberikan diriNya sebagai tempat perlidungan di mana pun dan menyaksikan semuaNya, dan Prabhu Sakti sekaligus menjadi raja IA di dunia ini, memberikan waktu yang tepat untuk hadiah dan hukuman.

Dengan itu IA membuat dunia dari persatuanNya (purusa) dan Guna (prakerti).i Lahir panca maha butha dari kekosongan yng menjadi bagian ruang panca maha butha. Air, Api, Tanah, Udara, dan Ether menyusun bumi. Kemudian mencipta Ia kehidupan yang mengambil bagian seperti eka pramana (tumbuhan me-Bayu) dwi pramana (hewan Ber-Sabda,berBayu), Manusia terakhir dengan IdepNya untuk berpikir. Kekuatan pikir manusia adalah wadah atman ditambah dengan persatuan panca maha butha. Atman yang diselubungi pikiran adalah terdiri dari citta, budhi ahamkara. Ketika kesatuan unit(atman) mampu memberikan ruang jawab bagi indera (panca budhhindriya) dan laku (panca karmendrya) akan menjadikan dunia ini seperti “REALITAS YANG DAPAT MAUJUDKAN KEBENARAN”..

Secara bahasa filsafati, bahwa realitas adalah apa yang ada di sini,di dunia..atau apa yang dipikirkan dan menjadikan kita ada. Realitas adalah saat ini yang berasal dari masa lalu dan menjadi masa depan. Realitas yang terjadi berdasarkan AKSI di masa lalu, dan BEREAKSI menjadi kenyataan realita saat ini. Hasil reaksi itu akan memberi bahan bakar AKSI selanjutnya dan begitu seterusnya (KArmaPhala). Dan itu melintas menuju generasi selanjutnya dan sampai berketurunan dan keturunan selanjutnya (Samsara). Tiada terputus itu sebagai suatu Realitas yang Berkebenaran, sebagai suatu jalan yang abadi (Sanatana Dharma).Di saat terakhir IA akan menuju suatu Kesatuan UNIT tertinggi Hyang Paramatman, dan Mengalami Nikmat Hari Brahman, setersnya sampai sloka bhgwdgita Praritranaya Sadhunam ,Vinashaya Cha Dushkritam, 
Dharamasansthapnaya, Sambhavami Yuge-Yuge.”
Untuk melindungi Dharma (kebaikan), untuk meleburkan adharma (keburukan), AKU (Realitas KEBEnaran) lahir dari jaman ke jaman…………………………..Terlaksana…………………………..

Bukan suatu mistis atau suatu spiritualitas tanpa logika, pada dasarnya etika, sebagai “bagaimana sebagai suatu spontanitas diri yang etis”, menjadi ditegakkan dengan susila yang bersumber dari teologis atau filosofis. Pada dasarnya spontanitas etis itu adalah bagaimana buddhi (kemampuan membedakan baik dan salah) menjadi sebuah wiweka yang terlaksana pada manas(cara berpikir), wacika (kata), dan kayika (sebuah perbuatan).Ini yang mencipta sebuah sisi damai di dunia. Artinya Dharma yang dalam wadah apa pun, adalah Unit Kolektif yang menjadi sebuah kekuatan REALITAS KEBENARAN. Yang benar-benar terpendam di dalam “diri” masing-masing unit, yang bisa terbuka, melaksana, demi keutuhan keabadian dharma itu sendiri. Refleksi dari kemampuan mengenali diri sendiri sebagai bagian buana agung, REALITAS KEBENARAN sebagai tempat tinggal, adalah membawa pedang yang mampu membunuh ketidaksempurnaaNya dengan cara yang lembut, halus, sekaligus menyayat, mengikis kematian kemelekatan akan MAYA dan adharma.

Sangat logis juga ketika dikatakan bahwa filsafat sebagai pengametahuan berpikir akan diriNya atau Wujud ciptaanNya, mampu mengikis ahamkara ego, buddhi yang terpancar,sampai rmenuju sebuah pegetahuan suci tentangNya..Menjadi semua guru kepada murid, dan refleksi dari murid terhadap guru (mirip sikhism). Sebuah kontemplatif yang selalu menuju perubahan dari alam pikir, menjadi energi tanpa batas akan ide sebuah idealnya ini (maya) dan dekat memahami (Maha Pencipta Maya). Apakah itu akan menuju jurang akhir (Maha Pralaya) sebuah kehampaan kembali (akhri malam brahma)..

Dan menyambung pada kata2 BG di atas, sebagai sambhawami yuge yuge..dari jaman ke jaman…Maka sesunguhNya adalah pedang itu akan terasah pada “diri” sendiri..Sebagai sebuah kemanunggalan, sebagai sebuah satria pinandita yg telah dipingit, ratu yg sejatinya adil bijak,sbagai imam yg memiliku nurNya…sebagai seorang “diri” sejati, dimana pun yang menjalankan dharma (kebenaran) masing2..Untuk mendapat tugas besar lahirnya TUHAN pada diri mereka(aku)kalian(dia)mereka(kita) masing-masing, YANG pada akhrinya Maujudkan REALITAS KEBENARAN itu secara otomatis spontan suci dan indah….

 

gwar…

mar 2014..

santi rahayu..

.

….Hyang Sabdo Palon…

 

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2014 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Sekilas tentang Atman yang Lekat pada Kemoksaan…

LotusYogaWomanArtYinYan

Om sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya.. Semoga “ini” hanya sembah kepadaMu oh hyang kuasa..

….Atman….
Mendengar sederet kata atman, artinya adalah bahwa pemahaman tentang itu (atman) adalah menuju sebuah sraddha yang lekat pada 5 dasar keyakinan hindu. Hikayat atau hakikat tentang atman, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang kekekalan dari brahman (tuhan) sebagai sumber dari atman..

Membicarakan atman itu juga lekat dengan bagaimana tuhan sebagai nirguna serta sekaligus saguna brahman. Dalam wrspatti tattwa disebutkan bahwa nirguna brahman atau parama siwa adalah saat kekosongan kehampaan dari Tuhan itu sendiri dan tidak terlekat pada tiga sifat dasar yaitu sattwam rajas dan tamas triguna.

Tuhan dalam kehampaan ini sebagai acintya, IA yg tidak terpikirkan.Dikatakan Sifat dari Parama siwa tattwa adalah sebagai berikut :
Apremaya (tidak terbayangkan),
Ananta(tidak terbatas),
Anidesya (tidak dapat diberikan batasan),
Anaupamya (tidak dapat dibandingkan),
Anamaya (tidak dapat kena penyakit, suci),
Suksma(tidak dapat dilihat),
Sarwagita (memenuhi segalanya),
Dhruwa (kokoh tidak bergerak stabil),
Avyaya (utuh tidak pernah berkurang),
Iswara (guru yg mengatur segalanya).
Dan selanjutnya IA memberikan maujud pada diriNya sendiri, dengan memberikan pengaruh tri guna itu kepadaNYA. Pada saat dipengaruhi oleh guna, IA menjadi saguna brahman yang bersifat yang MAUJUd.

IA dikatakan saguna brhman atau sadasiwa adlah saat Tuhan sebagai Cetana melebur bersama acetana( ketidaksadaran) Ketika IA dalam wujud Saguna brahman, maka memiliki 4 sakti atau sifat, yaitu Cadu Sakti. Maka dengan ini Beliau memiliki :
1. Wibhu Sakti : Maha ada.
2. Prabhu Sakti : Maha Kuasa
3. Jnana Sakti : Maha tahu.
4. Kriya Sakti : Maha Karya
Dengan KemahaKaryaAnNya timbul pula mahluk hidup (manusia) yang berpikir, manusia yang terliputi tri guna dan terpengaruh, namun juga menciptakan tri guna itu sendiri. Timbullah alam pikiran yang menjadi dasar untuk berprilaku dan menjadi tolak ukur akan kemana nanti manusia setelah menjalani kehidupan yang sekejap ini. Atman yang berasal dari langsung cetana akan lupa asalnya dan terpengaruh oleh ketidak sadaran.

Atman sebagai tempat terdalam dan tersembunyi dilapisi beberapa lapisan, yaitu budhhitattwa, ahangkara tattwa… Buddhitattwa adalah bagian yang berada sebagai hasil dari tri guna..buddhi itu dibagi menjadi empat dengan pahalanya:
1.Dharma buddi adalah perbuatan mulya, tapa, yadnya, dana punia, yoga, meninggalkan keluarga hidup dari sedekah. Pahala dari dharma buddhi adalah ketika dharma lahir dari budhi maka orang mencapai surga dan bersenang-senang disana, IA menjadi dewa dan mendapatkan kekuatan lainnya.
2. Jnana Buddhi adalah pengindraan langsung, menarik kesimpulan, ajaran-ajaran agama dari orang yg telah mempelajarinya. Pahala dari Jnana budhi adalah melalui pengetahuan yang benar orang akan mencapai empat kekuatan dan mencapai moksah.
3. Vairagya Buddhi adalah ketidak terikatan terhadap kesenangan, baik yang dilihat, didengar pada badan yang sehat. Pahala dari Vairagya buddhi adalah mereka akan mencapai prakertiloka (dunia material) dan mengalami kesenangan seperti orang tidur dan setelah lama akan lahir sebagai dewayoni.
4. Aiswarya Buddhi adalah keseimbangan dalam kesenangan bhoga (makanan) kesenangan kecil, upabhoga (kesenangan sandang), paribhoga (memiliki istri) dengan asiwarya orang menikmati kesenangan tanpa gangguan. Dengan anima dan kekuatan lain orang lahir menjadi dewa sebagai pahala aiswarya .

Ahamkara(ego) adalah yang sangat melekat dan berpengaruh terhadap buddhi, apalagi dengan keterpengaruhan dari tri guna tattwa.
Ahamkaralah yang berhubungan langsung dengan indra dan memiliki serta membentuk keinginan-keinginan yang sesuai guna yg ada.
Ahamkara yang terliputi sattwa dominan akan memiliki keinginan untuk menjadi lebih bijak dan memikirkan dharma secara mendalam, ketika itu diliputi oleh keinginan rajasikam,maka apa yang diinginkannya menjadi sebuah perilaku atau perbuatan.
Ahamkara tamasikam, arttinya keinginan jahat dan kemalasan, gelap, ketika ditambahkan dengan rajasikam, maka ambisi untuk berbuat jahat dan culas akan terlaksana. Jadi dapat dipastikan bahwa pengaruh dari tri guna sangatlah tinggi untuk memperoleh hasil dari tujuan agama itu sendiri.

Atman yang lupa akan keberadaanNya sebagai bagian dari Paraatman, setidaknya akan memiliki buddhi dan lapisan ahamkara. Dijelaskan pula alam pikiiran yang terpengaruhi sattwam rajas tamas akan membawa atman menuju alam yang selayaknya ketika lepas dari badan wadag.

Sattwam yang mendominasi pikiran artinya dengan tekun melaksanakan dan memiliki jnana buddhi , maka akan mencapai wilayah kemoksaan dan bersatu dengan Parama siwa atau Kesadaran Siwa.

Sattwam yang dibarengi rajasika akan mencapai wilayah surga yang disesuaikan dengan Dharma buddhi, Vairagya buddi, Aiswarya buddhi. Selain itu maka tamas berpengaruh dibarengi dengan rajasika, artinya akan mencapai wilayah neraka dan reinkarnasi sebagai bukan manusia.

Maret awal 2014
salam Gwar

sumber :wrasppati tattwa

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Neti-neti..bahwa Definisi-Nya tidak dapat dibingkai

Tuhan…Tuhan yang memiliki semesta serta merupakan poros perputaran Sthiti, Utpetti, dan Pralina adalah yang segalanya.Artinya adalah Ia saking besar serta maha luasnya, tidak dapat terbingkai oleh satu definisi mutlak akan diriNya. Dan bahwa Ia yang penguasa, tidak dapat dibingkai oleh sederet kata-kata yang pas.

Neti-Neti, bahwa Brahman, Sang Hyang Widhi wasa dikatakan bukan ini bukan itu, artinya adalah saat suatu penggambaran atau definisi melibatkan IA,maka Ia adalah bukan yang didefinisikan,dan Ia juga bukan yang tidak didefinisikan. Seperti seorang    yang mencari “pikiran” secara material dan berbentuk. Jelaslah mustahil memperlihatkan atau memandang pikiran sebagai benda. Merupakan sebuah metafisis atau abstrak. Saat kita berpikir, dan mungkin materi pikiran akan dapat diduga dan diberi “nilai” saat dilisankan atau dituliskan atau didiskusikan. Namun bentuk yang ada masih abstrak yang tidak bisa dinilai secara sangat tepat.

Seperti itu pikiran, seperti itu lebihNya yang kuasa, dimana tidak bisa dilingkupi suatu yang disebut penyebutan. Sehingga Acintya (tak terpikirkan) menjadi suatu yang pasti dan dibatasi oleh Neti-neti. Tuhan apakah berada di sebuah batu?Lalu dengan itu kita definiskan keberhalaan??maka “nilai” sebuah batu menjadi lenyap. Karena kembali bukan batu. Namun apakah Ia berada di atas di langit ke tujuh? Maka bisa saja, namun neti neti, IA kembali dikatakan dekat sedekat urat lehermu.

Sebagai sebuah kekuatan Nirguna, tidak memiliki suatu sifat tertentu, maka saat kesifatan dileburkan ke Ia, menjadi Ia Saguna Brahman, yang sesuai dengan keinginan PenyembahNya yang memang merindukan dan mencintaiNya sebagai pengabdi. Sifat Sarwagatah ada dimana-mana. Jika terungkapkan Ia, maka “penilaian” akan Ia kembali lenyap, dan transenden ke Kuasa diriNya. Ia Paraatman, tempat kembalinya atman-atman. Ia tidak berhak diberikan “nilai”, karena kemutlakannya itu lebur bersama Ia yang Ia mau, namun tetap Ia adalah Ia brahman yang Agung yang tetap suci dan tetap (sanatana) dan Nitya(abadi).

Dan bagaimana dengan falsafah Aham Braman Asmi, atau pula moksartham jagadihta,serta mungkin manunggaling Kawulo Gusti? Dimana menyatakan aku adalah tuhan (brahman), serta persatuan antara Kawula(abdi) dengan Gusti (para atman). Ekstasi itu yang terjadi, seperti pada saat melakukan semadhi atau tapa brata, adalah pengalaman paling pribadi,pengalaman yang memiliki makna tersendiri dan subjektif, yang tidak bisa disamaratakan kepada setiap subjek atau kepala. Jadi kenikmatan yang tiada terkatakan, dan membuat kebahagiaan (ananda) tertinggi tercapai. Kegilaan pada suatu kekuatan agung, namun kesubjektifannya atau pengalaman (prtyaksa pramana) itu menjadikan itu tidak berlaku secara universal, mengingat bahwa Ia pun tidak dapat digambarkan sama oleh hati seseorang. Tetapi tetap Ialah Ia, yang menaungi jagat raya Sang Paraatman.

Lalu maka Ia yang agung memberikan dasar-dasar tertentu untuk dipahami lewat jalan Dharma, jalan kebenaran hakiki dan jalan yang Agung. Dengan pengetahuan akan dharma, maka jalan yang terbuka dan bahagia akan terbentang dalam menapaki kebenaranNya yang hakiki. Etika dan susila adalah jalan yang patut dilalui dan seiringnya memberi pemahaman dunia akan keagungan dharma.Seperti pada : Sarasamuscaya 18 dharmah sada hitah pumsam dharmascaicasrayah satam, dharmallokastrayastata pravttah sacaracarah,  Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 November 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Manunggaling Kawulo Gusti serta Kaitan dalam Moksa..

ajaran sebagai moksa sebagai tujuan akhir manusia HIndu..sangatlah merupakan pedoman dalam melaksanakan berbagai tautan-tautan hidup…sebagai ciri bahwa moksa telah tercapai adalah bersatunya Atman dengan Brahman yang ditandai dari meresapi segala sifatNya dan tidak memikirkan segala sifat yang memiliki unsur keduniawian ….

seperti pada sifat kawulo manuggaling gusti dimana terjadi suatu persatuan antara Tuhan dan Jiwa manusia itu sendiri…

tiada yang mustahil di dunia…moksa bukanlah suatu hal yang tidak bisa tercapai pada jaman kaliyuga ini..seperti yang telah disebutkan bahwa hanya dengan japa maka moksa bisa tercapai secara mungkin…

lepas dari kehidupan dunia, lepas dari segala yang menjadi suatu cipta di dunia, dan lepas dari segala perbedaan atau tautan rasa…seperti biasa terhadap rasa senang atau duka, biasa terhadap rasa marah, dan selalu menghargai kehidupan…

dalam penahapannya, hidup bagai terasa di alam kematian yang menelaah diri..sebagai pikiran bahwa kita lakukan kewajiban yang mesti dilakukan tanpa mengharapkan hasil-hasil apapun yang terjadi…pasrah namun masih terpikirkan bahwa segala sesuatu diserahkan kepada Yang Terhaturkan dan menjalani dharma secara setia…

untuk lebih jelas dalam memahami manunggaling kawulo gusti dapar ditelaah pada link berikut..:

http://gantharwa.wordpress.com/2007/02/02/manunggaling-kawula-lan-gusti/

untuk menelaah arti moksa dan segala apa yang menjadi ikatan-ikatan dunia dapat dilihat pada link ini..:

http://www.hindubatam.com/moksa.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , ,

antara aliran syeh siti jenar, komunis, dan agnotisme..tinjauan terhadap konsep..

dalam pertautannya..maka dapat dijelaskan bagaimana posisi aku adalah Tuhan dari sisi syeh siti jenar…

dapat dijelaskan bahwa syeh siti jenar memiliki jiwa murni dan penuh kebijaksanaan dalam diri pribadinya…jika suatu rasa itu ada, maka sangguplah jika ia dapat mengatakan Sang Aku dalam dirinya…itu berarti bahwa Tuhan sudah menyatu dalam setiap raga dirinya…

Sang Aku itu adalah dimana setiap rasa dalam dirinya bersifat KeTuhanan..dan bagaimana Tuhan itu memiliki makna yang ranum untuk ditelaah kembali…

Sang Aku dan Aku aku yang lainnya..adalah suatu kata dimana diri adalah Tuhan individu yang nyatakan bahwa wess onok Tuhan dalam hatiku…yang nyatakan bahwa terdapat setiap kebenaran dalam diriku untuk berbuat berdasarkan kebenaran Hati yang murni, yang berisikan ajaran-ajaran tentang KeTuhanan…dan menerapkannya dengan selalu mencari arti dari keberadaan Beliau tersebut, di luar..sebagai Sang Aku yang sujati…

di manapun ada Beliau yang terpancar dari sikap individu perseorangan, yang memiliki sifat sifat KeTuhanan dalam dirinya…jadi Sang Aku dalam diri setiap manusia…

jika dihubungkan dengan akhir ajaran komunisme, maka utopia adalah suatu keadaan dimana kesejahteraan sosial telah tercapai serta keadilan sosial…hal itu jika ditelaah maka setiap orang harus paling tidaklah memiliki sifat atau sikap KeTuhanan dalam dirinya…karena dengan hal itu maka tiada orang miskin dan keadilan sosial tercapai baik rohani dan jasmani….

dan agnotisme…adalah sikap atau sifat mencari pembenaran bahwa ia adalah pencari jalan KeTuhanan…
http://www.religioustolerance.org/agnostic.htm

bahwa ia adalah pencari kenapa Ia tu exist ataupun tidak dan mengapakah kita masih sengsara…

dan ini jawaban dari semua jawaban bahwa kita sengsara karena tiadaNya Sang Aku dalam diri kita…

benarkah??

diambil dari blogs
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2009 in filosofi

 

Tag: , , , , ,

Kamokshan sang Ghru Sujahati…

pencarian sang anak bhagawantha…
mendalami shadulur pancaran nurcahaya….
agni adalah pembahakar seluruh putus asa…
pangilmu bagi pelupa hidup yang bahagia….udara nafas adalah burung penyejuk…
bagi makhluk larut sangat nestapa…
air sebagai pelepas kering dahaga…
tuk sang aku yang tak lepas dari mereka yang maruk….

penyabar bagai tanah yang terinjak-injak….
hanya cinta mawar melati untuk anak-anak…
adilnya hanya pedang keadilan….
yang merobek rahsya pemfitnah Sang Tuhan….

semua dasar adalah akhir….
yaitu kesunyian, kehampaan, keheningan….
dalam suatu KAMOKSHAAN…
saat GHRU SUHAJATI HIDUP….

——————–tiiiiitttt,,…mat…

g.war 2 feb 2008..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Maret 2008 in Uncategorized

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: