RSS

Arsip Tag: pancasila

Aktualitas Sila Pertama Pancasila..(membungkam intoleransi)..

Sahadja pancasila jaya negara samastha..amin

20131028-234625.jpg

Seperti diketahui bahwa Pancasila adalah bukan sekedar ideologi tanpa makna..Tapi merupakan kendaraan atau wahana untuk mencapai suatu kedaulatan tertinggi berdasarkan moralitas harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan…

Tuhan menciptakan menusia dengan keniscayaan serta keadaan yang pelangi,yang berbeda yang bermacam – macam warna apa pun itu..Lalu bagaiman itu berjalan dengan seimbang damai dan berkelanjutan sebagai dasar pemahaman spiritualitas yang kuasa, maka itu perlu menjadi sugestifitas kelayakan hidup sebagai manusia yang bertuhan baik secara etika secara filsafati dan keluhuran berkehidupan.

Maka sebuah keberharusan namun menuju kebijaksanaan hati bahwa privasi hubungan antara tuhan dan umatnya adalah keniscayaan dan daulat dari tuhan serta semesta juga. Hal itu sudah terdapat secara sahih fakta dan diamanatkan oleh pancasila sendiri, melalui butir-butirnya. Ini adalah sebuah keharusan ketika malah penjajahan dari ideologi itu sprti sebuah garis kehidupan yang suram pula dan menutup mata hati batin para pemegang jabatan pemerintahan. DOsa-dosa itu masih diingat dan tak akan pernah lenyap. Karena ketika itu tidak menjadi suatu bahasan filsafati dan prilaku yg baik pancasilais, maka mereka adalah sebenarnya benalu penjajah kekuatan bangsa indonesia sendiri..

Untuk penjajah yang menjajah sila pertama adalah ini:

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atas Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mutlak. Namun taqwa artinya adalah disesuaikan dengan apa yang dipercayai. Taqwa atas etika atas ritualitas adalah berbeda. Karena Sakralitas dan profanitas dari setiap agama berbeda.DI satu sisi sajadah adalah sakral, di satu sisi dupa adalah baik dibutuhkan , namun ketika sakralitas itu direndahkan dengan mencemooh apa pun sesuai pemahaman dari kitab2, maka kitab adalah sebuah sakarilats di tempat agama A tetapi tidak di agama B. Maka jangan ketika itu berbeda membuat keyakinan menjadi berkurang dan malah lenyap atau menuju ketidak beradaban. Ketika seni dan budaya adalah soal rasa, maka tidak ada lebih bermakna bagi rasa dari seni budaya menuju kepada rasa yang cinta akan tuhan itu sendiri. Bukankah rasa itu lahir dari cinta atas sifat kedamaian akan Tuhan? itu aktualitas makna kebersamaandan memperbesar bangsa secara sekaligus.

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Maka ketika ini adalah sebuah hambatan akan keberadaban, maka biadab adalah aktualitas manusia penjajah. Mereka tutup mata akan itu, ketika seni sebagai keberadaban dan adil akan kebebasan beritual, tanpa merendahkan sakralitas agama lainnya, maka DURkheim pun mengiyakan surga damai itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan. Sangat mudah, ketika memberi selamat memberi kebebasan sebagai saudara sebangsa setanah air dengan ilmu filsafati, haqiqat, cinta kasih tuhan, ilmu syariat dan minggu kebaktian dengan waisak, atau tarekat serta japa, dan pula moksah mahrifat, maka ketika itu berkembang dengan sakralitas yg dijaga, apakah manusia indonesia nusantara akan terjadi kekerasan agama??

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Maka aktualisasi itu adalah privasi, dan apakah itu menjadi kenyataan, maka kebijaksaaan dari yg melakukan ritualitas yg beretika berfilsafati tinggi serta menghormati adalah sebuah sikap mulia yg dibalikkan dengan rasa hormat yg lebih tinggi..

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sikap fundamentalis serta menghanguskan atau menganggap rendah yang lainnya adalah bagian yg dikembalikan dengan sikap yang sama pada akhrinya..Ketika aktualisasi itu sngatlah mudah, memberi selamat saat hari raya, maka mengurangi ego keagamisan yg bengis, menjadi sikap hormat menghormati serta meniadakan kebodohan yang membelenggu dari kualitas manusia yang bertuhan.. Tidak ada tuhan pada manusia yang mengmban misi penghancuran. Secara logis dan mudah adalah, manusia akan mendapat apa yang dia tanam, tidak ada menanam nanas tumbuh rambutan, tidak ada yang menanam benci tumbuh kedamaian kecintaan kesukaan, tidak ada yg menanam dukha lalu mendapatkan cita suka ria, itu tidak logis dalam agama apa pun..Ketika ada yg menghancurkan kedamaian, maka ada beberapa kesimpulan.

1. Apakah mereka menghabiskan WAKTU untuk mmpelajari kedalaman keramahan kedamaian kitab sendiri, atau cuma belajar menebar kebencian, dan prasangka, lalu berharap surga….itu parah dan gila yang telah medogmatis mereka, ajaran agama tidak cukup dipejari dengan satu kali kehidupan dan lalu dengan mudah mendapat surga serta meninggalkan jejak kehancuran di yang ditinggalkan…itu bukan agama…itu setan…

2. Lalu evolusi keagamaan, bukan saja dari ritualitas, tapi dari etika moralitas akhlak (islam) susila (hindu) buddhi(kjawen) manusia nusantara juga, dan ritualitas – syariat (islam), yadnya (hindu) kebaktian (nasrani), serta dari filsafati itu sndiri tattwa (hindu), haqiqat( islam), dan menuju kebersatuan illah dan manusia ..mahrifat(islam) moksartham (hindu) manunggal kawula gusti (kjawen)..Itu adalah evolusi yg saya rasa universal dan spirit..Itu tidak hanya menjadi senjata akan mentalitas moral yg tinggi dan melihat setiap manusia sebagai saudara sedarah seperjuangan..

3. Kemudian dari pihak pemerintah yang cenderung mnjadikan pembiaran karena apa??apa karena takut, atau karena kedangkalan dari pemahaman mereka tentang moral itu sendiri.. FIlsafat moral adalah harus diterapkan dimengerti dari para pemimin jabatan.. Ketika agama sebagai moralitas tertinggi, tentunya adalah kebobrokan mental dan evolusi yang rendah atas pemahaman spirituaitas mereka.. Dan sangat terbukti dari kasus2 korup dari para petinggi agama.. Itu memalukan bangsa, memalukan negara memalukan umat, dan memalukanrakyat dan Tuhan itu sendiri.. Maka Keadilan tuhan bisa jadi mnjadi keadilan rakyat dan bahkan bisa dipaksakan.. Bukankah revolusi sudah sering dan pernah terjadi??namun mental yang direvolusi dengan cermin serta kontemplasi akan membawa kesadaran serta keniscayaan.. TIADA ADA YANG BISA MELAWAN KETETAPAN DAN KEADILAN TUHAN ESA

 

DAn Itu adalah kemutlakan serta keniscayaan indah damai di masa depan, Aktualisasi yang paling hakiki adalah menerapkan hukum pancasila sebagai media kontemplasi dan bercermin UNTUK MENCARI KEBENARAN BERKEBANGSAAN. Lalu ketika itu telah dilaksanakan, maka KETETAPAN TUHAN LAINNYA adalah disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing..TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR, DAN TUHAN PASTI ADALAH KEADILAN..

Maka selayaknya kedamaian itu hadri, dari “DIRI” yang laksana Illah, dan kemudian menuju KETERWUJUDAN Lingkungan ILLAH di keluarga, masyarakat, dan Bangsa bernegara..

 

SALAM

TAPI “AKU” TAK PERNAH MATI

TAK AKAN BERHENTI

 

“Kami tidak TAKUT”..

gwar juni 2014

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2014 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , ,

Realitas Kebenaran…Maujud Apa Itu?

Om hare kalkyantara hare kalkyantra ya namo nama swaha

hare kalkya hare kalkya
kalkya hare kalkya hare
hare hare

Salam Kebangkitan..

..Om Paramasiwa,Sadasiwa,SiwaNarayana, Om Namasiwaya..

Maaf kelancangan hamba, ku-persembahkan ini hanya pada-Mu..

Sering mendengar sebuah frase yang Maha, itu seperti mendengar balutan kata “Realitas Kebenaran”. Apa itu sebuah Realitas Kebenaran? Apakah Sebuah fakta tentang idealnya “diri’ sekaligus “dunia”? Atau bagaimana kenyataan di “sini” di dunia dalam bentuk sebagai unit “diri” dan tentunya semesta yang sedianya terjadi di sini..Awalnya yang mendasari semua adalah kekosongan, sebuah kehampaan, ketiadaan, kediaman. Yang menjadi awal dari segala-galaNya, dan menjadi suatu permulaan yang mengaktif sehingga berisi…

Lalu, beranjak jauh kepada realitas dari kenyataan di dunia ini. Apa yang kita telah lihat melalui indera kita (anumana pramana), dan kita rasakan dengan alam pikiran kita(prtyaksa pramana), dan pula dari berbagai pengetahuan hyang lalu (agama pramana), apakah kita merasakan akan suatu kenyataan realita yang “Benar”?Jika sudah “Benar” maka itu berarti kita memberikan berkat bahwa realitas yang ada itu adalah Kenyataan yang diharapkan, atau memasrahkan diri pada Nyata(Maya) ini….Jika akan “Benar” maka bahwa kita mengharapkan ini bukanlah suatu yang ideal dan seharusnya, tetapi ada keharusan dari kita untuk selalu mem”Benar”kannya dan kita yakin nanti pasti “Benar”.

Di balik penceritaan dan pemahaman realitas-kebenaran yang ada, perlu dilihat dari apakah itu merupakan suatu idealnya dunia ini, atau idealnya diri sebagai pemilik dunia yang mampu berpikir (idep). Di dasari awalnya adalah ketika dunia ini adalah suatu maya (acetana) ketidak sadaran akan realitas-kebenaran itu sendiri. Maka sehendaknya dengan kesadaran akan maya,membawa manusia menuju pengetahuan akan maya dunia.

Kembali pada kehampaan, kediaman, kekosongan sebelum adanya dunia dan kenyataan ini, maka sebuah Realitas-Diam yang disebut sebagai Kekuatan energi yang penuh, memulai sebuah aksi dan aktivitas. KeMauanNya(Brahman) itu merupakan kekuasaanNya sendiri. Dari sebuah keadaan tanpa sifat (Nirguna Brahman-Parama Siwa), yang tidak terlacak, tidak bisa dibingkai, diam, tidak terpikirkan, mengaktifkan diriNya dengan sifat (guna). Guna sattwam (terang,bijak), guna Rajas(aktif bergerak), guna Tamas (gelap,diam). Dengan guna itu maka Brahman sebagai realitas tertinggi merealisasikan diriNya menjadi Berpribadi (Saguna Brahman-SadaSiwa). Beliau memiliki empat Kemahaan Utama (Cadu Sakti) ..Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Wibhu Sakti (Maha ada), Jnana Sakti (Maha Tahu), Krya Sakti (Maha Membuat)..

Dengan Krya Sakti Ia Membuat Dunia beserta segala isinya, dengan Jnana Sakti Ia berikan pengetahuan kepada semestaNya untuk bisa hidup dan menikmati diriNya, dengan Wibhu Sakti Ia memberikan diriNya sebagai tempat perlidungan di mana pun dan menyaksikan semuaNya, dan Prabhu Sakti sekaligus menjadi raja IA di dunia ini, memberikan waktu yang tepat untuk hadiah dan hukuman.

Dengan itu IA membuat dunia dari persatuanNya (purusa) dan Guna (prakerti).i Lahir panca maha butha dari kekosongan yng menjadi bagian ruang panca maha butha. Air, Api, Tanah, Udara, dan Ether menyusun bumi. Kemudian mencipta Ia kehidupan yang mengambil bagian seperti eka pramana (tumbuhan me-Bayu) dwi pramana (hewan Ber-Sabda,berBayu), Manusia terakhir dengan IdepNya untuk berpikir. Kekuatan pikir manusia adalah wadah atman ditambah dengan persatuan panca maha butha. Atman yang diselubungi pikiran adalah terdiri dari citta, budhi ahamkara. Ketika kesatuan unit(atman) mampu memberikan ruang jawab bagi indera (panca budhhindriya) dan laku (panca karmendrya) akan menjadikan dunia ini seperti “REALITAS YANG DAPAT MAUJUDKAN KEBENARAN”..

Secara bahasa filsafati, bahwa realitas adalah apa yang ada di sini,di dunia..atau apa yang dipikirkan dan menjadikan kita ada. Realitas adalah saat ini yang berasal dari masa lalu dan menjadi masa depan. Realitas yang terjadi berdasarkan AKSI di masa lalu, dan BEREAKSI menjadi kenyataan realita saat ini. Hasil reaksi itu akan memberi bahan bakar AKSI selanjutnya dan begitu seterusnya (KArmaPhala). Dan itu melintas menuju generasi selanjutnya dan sampai berketurunan dan keturunan selanjutnya (Samsara). Tiada terputus itu sebagai suatu Realitas yang Berkebenaran, sebagai suatu jalan yang abadi (Sanatana Dharma).Di saat terakhir IA akan menuju suatu Kesatuan UNIT tertinggi Hyang Paramatman, dan Mengalami Nikmat Hari Brahman, setersnya sampai sloka bhgwdgita Praritranaya Sadhunam ,Vinashaya Cha Dushkritam, 
Dharamasansthapnaya, Sambhavami Yuge-Yuge.”
Untuk melindungi Dharma (kebaikan), untuk meleburkan adharma (keburukan), AKU (Realitas KEBEnaran) lahir dari jaman ke jaman…………………………..Terlaksana…………………………..

Bukan suatu mistis atau suatu spiritualitas tanpa logika, pada dasarnya etika, sebagai “bagaimana sebagai suatu spontanitas diri yang etis”, menjadi ditegakkan dengan susila yang bersumber dari teologis atau filosofis. Pada dasarnya spontanitas etis itu adalah bagaimana buddhi (kemampuan membedakan baik dan salah) menjadi sebuah wiweka yang terlaksana pada manas(cara berpikir), wacika (kata), dan kayika (sebuah perbuatan).Ini yang mencipta sebuah sisi damai di dunia. Artinya Dharma yang dalam wadah apa pun, adalah Unit Kolektif yang menjadi sebuah kekuatan REALITAS KEBENARAN. Yang benar-benar terpendam di dalam “diri” masing-masing unit, yang bisa terbuka, melaksana, demi keutuhan keabadian dharma itu sendiri. Refleksi dari kemampuan mengenali diri sendiri sebagai bagian buana agung, REALITAS KEBENARAN sebagai tempat tinggal, adalah membawa pedang yang mampu membunuh ketidaksempurnaaNya dengan cara yang lembut, halus, sekaligus menyayat, mengikis kematian kemelekatan akan MAYA dan adharma.

Sangat logis juga ketika dikatakan bahwa filsafat sebagai pengametahuan berpikir akan diriNya atau Wujud ciptaanNya, mampu mengikis ahamkara ego, buddhi yang terpancar,sampai rmenuju sebuah pegetahuan suci tentangNya..Menjadi semua guru kepada murid, dan refleksi dari murid terhadap guru (mirip sikhism). Sebuah kontemplatif yang selalu menuju perubahan dari alam pikir, menjadi energi tanpa batas akan ide sebuah idealnya ini (maya) dan dekat memahami (Maha Pencipta Maya). Apakah itu akan menuju jurang akhir (Maha Pralaya) sebuah kehampaan kembali (akhri malam brahma)..

Dan menyambung pada kata2 BG di atas, sebagai sambhawami yuge yuge..dari jaman ke jaman…Maka sesunguhNya adalah pedang itu akan terasah pada “diri” sendiri..Sebagai sebuah kemanunggalan, sebagai sebuah satria pinandita yg telah dipingit, ratu yg sejatinya adil bijak,sbagai imam yg memiliku nurNya…sebagai seorang “diri” sejati, dimana pun yang menjalankan dharma (kebenaran) masing2..Untuk mendapat tugas besar lahirnya TUHAN pada diri mereka(aku)kalian(dia)mereka(kita) masing-masing, YANG pada akhrinya Maujudkan REALITAS KEBENARAN itu secara otomatis spontan suci dan indah….

 

gwar…

mar 2014..

santi rahayu..

.

….Hyang Sabdo Palon…

 

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2014 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Sebuah Kebersahajaan Hidup, Sekelumit Kemerdekaan sila ke-5..

images

Setelah dalam kurun waktu terjajah, kurun situasi yang tidak mengerti telah dijajah, dan apakah suatu “kesadaran” memerdekakan diri ada? atau bahkan memiliki kesiapan memerdekakan alam sekitarnya minimal, karena bukan pemerintah yang mengurusi kita sampai saat ini.  Pemerintah sibuk memberikan dirinya makan, yang padahal sudah kenyang, yang padahal sudah memiliki kendaraan mewah yang tak hanya satu. Seandainya itu diberikan ke perut yang memerlukan, toh tidak terjadi kesenjangan. Kesenjangan yang akibat pola hidup, pola pikir dan pola iman yang katanya sudah menyuci, tapi secara prilaku dan kata-kata sungguh sudah dekat. Dekat dengan rahwana, keraksasan, dan tanah mereka sudah sama2 banyak. Banyak di dunia, banyak di akhirat, tapi masak akhirat di surga. Iya betul kah(n)??(!!)

Soekarno, Harto, Habibie, Gusdur, Mega, SBY, dan yang selanjutnya, sebenarnya memiliki banyak kelebihan atau pula kelemahan. Soekarno sebagai penegak atau proklamator membebaskan dari penjajahan fisik, Soeharto memberikan kenyamanan stabilitas dan bertindak sebagai pemberi contoh :”Ini low namanya sejahtera”. Habibie yg menunjukkan “Ini low orang Indonesia bisa buat pesawat”. Gusdur yang pluralis, bahwa siapa pun layak dihargai. Mega yg penyabar (Hrusnya presiden tapi dimundurkan) yang membentuk KPK bahwa “Koruptor itu kayak babi”. Dan SBY sebagai pembuka “pintu” dengan kebebasannya, bahwa rakyat sekarang tau dan memiliki kesadaran “Begini lo baiknya pemerintah”. Terlepas dari para penya(u)mpah monas dan gorok leher, bahwa kita telah berada di tangga terakhir sebelum pintu taman firdaus utopia (sebagai tujuan akhir komunisme) menjadi nyata di dunia. Moralitas selain dari agama, logika, serta kebermanfaatan, pada dasarnya menjadi bagian penting akan keterciptaan atau kenyataan bahwa butir2 pancasila itu menjadi semakin mampu dilaksanakan…

Pemahaman atau perspektif apa yang tidak masuk di ideologi ini, liberalis masuk dengan batasan bahwa jangan apatis terhadao lingkungan sendiri. Agamis masuk dengan batasan bahwa pelangi itu indah dan di taman bunga firdaus tidak ada yang hanya bunga berwarna putih atau merah atau hanya biru saja. Komunis atau Sosialis yang memberikan persepsi perjuangan tanpa kelas, adalah bisa dilaksanakan dengan artian persepsi tanpa kelas tidak mungkin bisa diterapkan. Namun dengan agamis yang bermoral dengan tidak apatis akan sesamanya yang tidak mementingkan kelas (SARA) bahkan adalah sebagai tujuan akhir dari komunisme itu sendiri. Nasionalis humanis, adlah pejuang yang memberikan kontrol batasan tersendiri pada wadah ideologi, bahwa agamis agar bermanfaat tidak mementingkan kelas2 (lebih spiritualis), serta beradab untuk memajukan diri bahwa kita memang seorang manusia (humanis), dan tidak lupa pada pejuang ekologis yang berniat memberikan alam tempat bernafas dan mengurangi free will( penggunaan alam serampangan) dibatasi. Bahwa tanah air, pertiwi, laut udara tanah keamanan kenyamanan kebahagiaan kesejahteraan ada dan berhak kita mendapatkannya. Apakah kita mampu memberikan ruang untuk hak itu??

Ini secarik tujuan nusantara

5.    SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Keadilan sosial, sebuah keadilan yang mampu memberikan pembebasan bagi yang tidak bebas, memberikan kebebasan bagi privasi, memberikan kontrol bagi yang menginjak2, secara massif dan keseluruhan holistik megamankan, menyamankan, hak2 pribadi yang menjadi kenikmatan kedamaian kesejahteraan seluruhnya. Dasar dari itu adalah menelisik penjajahan yang ada di sila2 sebelumnya dan berjuang untuk memperlihatkan jati diri, harga diri, kecintaan diri sebagai identitas bangsa indonesia, bangsa nusantara…..

Butir2 yang ada

 1.    Mengembangkan perbuatan luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan

 2.    Mengembangkan sikap adil terhadap sesama

Gotong royong, kekeluargaan sebagai rasa bahwa kepedulian sosial itu ada. Tidak mungkin tidak dikatakan busuk, jika rumah sendiri paling besar dengan mobil mewah berderet sembilan, lalu jelas sudah tidak mau turun untuk sekedar gotong royong membersihan sampah di hari minggu dengan membawa sapu. Apa kah karena malu atau memang tahu diri, kalau diri hanya mengambil hak orang lain (baca : babi korup)..Itu saja sudah berarti bukan sikap adil, apalagi notabene para lawyer2 tangguh yang dengan mudahnya membenarkan membalikkan yang salah jadi benar. Sampai kapan ini terjadi, ini terjadi tergantung dari seberapa hati rakyat memiliki ruang kosong untuk sabar. Ruang kosong itu apakah sudah penuh atau malah sudah tidak cukup. Dan pada saat ini, jangan salahkan bila kembali kudeta atau revolusi dari RAKYAT bukan dari lainnya menjadi kenyataan cepat atau lambat. Itu sosialis dan revolusi.

 3.    Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban

 4.    Menghormati hak orang lain

Keseimbangan hak dan kewajiban, kemalasan bukan kewajiban menuntut hak saja. Kewajiban adalahpada saat lupa akan hal yang wajib itu telah dilakukan. Artinya karmany eva dikharaste ma phlasu kadacana..yaitu kerja keras tanpa mengharap hasil, krana hasil datang dari Tuhan.

Itu bersambung ke hak orang lain, ketika orang pemalas mengungkapkan haknya secara memaksa, pada saat itu hak orang lain terambil.Dan keberhakan yang telah melakukan  kewajiban terkadang menjadi suatu kepasrhan,  tiada keinginan untuk membela diri. Contoh 10 mobil mewah yg bisa dijual itu mampu memberikan makan setahun orang2 yg berhak atau memerlukan.

5.    Suka mem berikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri

Ini yang saya pribadi suka, dengan bantuan langsung yang bertaruh nyawa, dasarnya akan tidak memberi pelajaran berarti. Permasalahan lain adalah pajak dan pilihan dari kita untuk mereka (baca; babi korup) Jelas kita berhak untuk lebih, bukan hanya bantuan langsung, kecuali terjadi bencana alam yang kita bagi yng mampu pun tanpa disuruh pemerintah, mau melakukannya.

6.    Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain

7.    Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah

8.    Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum

Hak milik, sebagai misal backing, kedudukan, kekuasaan bisa jadi adalah dasar untuk memeras. Kita sebagai pemilih mereka, sebagai yang memberikan pajak tanpa target yang pas hanya menambah kebabian mereka.

Ketika hedonisme dan aptisme berlangsung dan terjadi, bukan saja berarti manusia atau rakyat hidup akan mendapat contoh yang baik. Tetapi contoh yang sangat menjerumuskan, rakyat akan berpikir ia mencari kekayaan dengan kerja keras hanya untuk menandingi gaya hidup perlente yang membusukkan, harga diri yang dilihat dari apa di punyai hanya akan membawa ke keduniawian semu. Boros untuk diri akan mengurangi kesejahteraan, bahkan boros tapi uang kita, akan cocok disediakan tali, parang, di wilayah monas.

 9.    Suka bekerja keras

 10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama

 11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial

Ini adalah tipe2 keberhasilan manusia nusantara (baca : bangsa) yang berbudaya, bersahaja dan berciri bijaksana. Mampu bekerja keras, menghargai karya yng bermanfaat (teringat : jarak yg mampu dimanfaatkan sbagai bahan bakar, pesawat yg bisa dibangun, mobil listrik, dll). Dan manusia indonesia yang paling berharga adlaha manusia yang peduli akan sesamanya.

 

Edisi terjajah lain…

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/01/05/edisi-terjajah-episode-keempat-_-mlawan/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2013/10/28/edisi-terjajah-episode-ketiga-_-i-m-lawan/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2013/02/23/edisi-terjajah-episode-kedua-_-m-lawann/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2014 in budaya, ekonomi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode keempat (-_-”!)-(m)Lawan..

Edisi Terjajah Episode keempat (-_-”!)-(m)Lawan..

Kita terbelenggu dan kita tidak tahu telah kehilangan jati diri sebagai manusia indonesia. Manusia yg terjebak pada sikap hedonis, individual, dan suka menyelamatkan diri sendiri, tidak berkeinginan untuk berkorban. Bahkan suka mencemooh yg sbenarnya bersahaja, sebagai sifat dan idealnya manusia asli negeri ini.

Kita malah terlihat sbagai pahlawan moral yg penerapannya jauh dari moral itu sendiri. Kita bangga, tapi kita lupa pada siapa seharusnya kita. Intervensi asing jelas sudah masuk dengan secara langsung atau tidak langsung disadari atau tidak. Apakah salah dari seorang pemimpin, atau keseluruhannya?? Yang pasti kebebasan liberalis yg kebablasan merupakan wajah kita semua. Yang kuat yg menang, yg tidak kuat ya ga layak hidup. Begitukah.

Sebentar lagi ada ajang untuk mncari tampuk pemimpin, memilih yg tepat, atau melanjutkan pembodohan ini? Wakil wakil rakyat itu apa berguna, atau apa memang ga ada gunanya??Siapa yg mereka wakilkan. Pribadi golongan atau sekelompok kecil manusia, yg pasti bukan rakyat banyak faktanya.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.

Hak dan kewajiban yang sama. Seperti juga benar, namun harusnya korupsi sampai ke kalangan bawah sampainya. Dan dengan pula berebutan seperti bantuan langsung dan bagi bagi sembako. Jika ada yang meninggal itu resiko, nah yang memberikan kan tidak punya kewajiban atas nyawa yang lenyap. Yang penting hak sudah diberikan, beres. Yang pasti pajak yg dikumpulkan sudah semestinya jadi jalan raya. Kalau tidak ada jalan raya ya jalam pribadi yg berhak boleh.

(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Kehendak apa yang dipaksakan, semua iklas ,menjalani kenaikan bbm, menjalani kenaikan harga sembako, menjalani kenaikan lpg. Toh memaksaka kehendak pada pemerintah pula tidak layak. Mau apa yang dipaksakan, cuma menunggu tanggul yg semakin tinggi meninggi dan rumah yg telah lenyap. Ah iklas kok. Mending memikirkan sepak bola indonesia dgan paling dulu angkat tangan sebagai pencetus pembaharu kemenangan.

(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

Musyawarah sudah dilupaken. Demokrasi model liberal barat yang sedang  naik daun. Biaya tingga dan akan dikembalikan pda saat terpilih adalah bagian dari mekanisme masuk kantong,BEP, kembali modal. Politik pedagang. Kapan untuk merealisasikan ucapan? Itu nanti setelah dipilih kembali. Jadi semua yang dilantik itu lebih setia sumpahnya pada “pocong” daripada hyang kuasa saat sumpah jabatan dulu. Eh beneran sudah sumpah??

(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Kepentingan bersama,..bersama teman satu partai, bersama teman satu keyakinan, bersama teman sama satu kampung,…kepentingan indonesia ya setelah yang akhir di  nomer paling belakang.

(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Hati nurani yang luhur itu adalah sebanyak berapa amplop yg diperlukan saat ini, dihitung sesuai dgan jumlah penyumbang terbanyak. Dan hubungan nurani sudah luntur dari tidak berlakunya sumpah kepada (siapa ya tadi)..akal sehat saat ini ya tidak ada, mngkin disesuaikan dengan slogan amerika yg tepat. “IN GREED WE TRUST”

(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Ini butir terpenting dari semua. Moralitas yang tidak sesuai dengan hati nurani tuhan, hanya akan menghancurkan. Menghancurkan harkat dan martabat manusia. Jika hancur, bagaimana cara mempertanggung jawabkan kepada hyang kuasa.?. Jelas pula kebenaran dan keadilan tidak ada. Bagaimana mau melindungi bangsa dan warganya. Karena jika tidak bisa trlindungi dan hak dirampas, ya menunggu bubar NKRI ini. Mau tau kapan itu?

(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan

Ini butir tidak usah dibahas. Mending saya percaya pada anjing saya bahwa bisa menjaga rumah dengan baik, percaya sama sapi saya nanti hari raya bisa disembelih. Tapi saya masih percaya tuhan, kalau suatu saat nanti manusia akan bisa dipercaya di atas tampuk pimpinan sana..

Gwar….jan 2014

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2014 in ekonomi, pancasila, persatuan negara

 

Tag: , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode Ketiga (-_- i! …(m) LAWAN !!!

Edisi Terjajah Episode Ketiga (-_- i! …(m) LAWAN !!!

Setelah memiliki penyadaran-penyadaran akan penjajahan, maka untuk beberapa kali perlu diingatkan bahwa bangsa Indonesia telah dijadikan kambing perah di wilayahnya sendiri. Yang dibiarkan mencari dedaunan dan dilepas,lalu nantinya dicari susunya dan disembelih. Bahkan tempe, bawang, atau pun beras dan kebutuhan pokok lainnya yang sejogjanya bisa dikendalikan dan diproduksi sendiri, kewalahan dan mengemis ke negara lain. Seperti sebuah pesawat yang ditukar dengan beras. Terang saja bahwa Indonesia tiada memiliki identitas, tiada memiliki harga diri, dan bertengkar antara satu dengan yang lainnya, di saat negara lain mungkin telah menginjak pada pengaktualan diri sebagai fase terakhir piramida Maslow.

Korupsi dan bagaimana ketidaktahumaluan para pejabat dan kepala batu, muka tebal, badak yang mementingkan diri pribadi serta golongan adalah hanya menuju jurang kehancuran bangsa indonesia. Perut-perut buncit dan gembul adalah milik mereka, dan seorang nenek yang berada di bawah jembatan kelaparan dan meninggal dunia menjadi cerminan bahwa pembunuh itu ada di tangan serakah mereka. Sampai kapan? Apa pancasila sudah dilupakan, apa mereka tau pancasila? Mungkin perlu diingatkan pada otak bebal mereka.

Prilaku-prilaku para pemimpin bangsa yang harusnya menjadi panutan, tidak lagi bisa dianggap yang menjadi sesosok orang yang pantas dibanggakan. Kesabaran-kesabaran yang dimiliki oleh rakyat adalah telah pasti terkumpul lalu menjadi bom waktu tersendiri. Apa yang dapat dibanggakan? bahkan rakyat dijadikan kedok kesejahteraan dan dijual sebagai alasan mereka untuk membenarkan keputusan-keputusan mereka yang sasarannya jelas tidak tepat.Bagaimana bisa? Mereka bertugas untuk mensejahterakan rakyat, tapi malah membunuh rakyat secara pelan-pelan dan pasti. Pernah kah melihat pejabat yang tidak sejahtera? Padahal rakyat yang memerintah dan berkuasa.

Pancasila teryakini akan abadi dan tak pernah pudar. Walaupun sayap2nya masih terkoyak, toh pula nantinya akan sembuh dan menerkam semua serta terbang tinggi ke angkasa. Sebelumnya mari dilihat sila ketiga yang bermakna “Persatuan Indonesia”.

3. Persatuan Indonesia

  • Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Jelas sudah bahwa para pejabat adalah pribadi yang tidak mementingkan keselamatan bangsa. Persatuan dan kesatuan pribadi dan golongan yang di utamakan. Salutt..

  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  • Sepertinya tidak sanggup mereka para penjajah dan benalu itu, untuk berkorban. Apalagi secara rela, pada saat tidak perlu pun mereka tidak rela.

  • Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  • -Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  • Hanya sepak bola untuk saat ini, oktober 28 oktober yang membuat rasa cinta tanah air meningkat.

  • Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  • Ketertiban dunia sudah lupa, ketertiban di negara sendiri saja sudah lemah. Ormas-ormas yang tidak bisa dikendalikan tentu saja menebar racun kekacauan. Bahkan mereka menjadi pelindung bagi nafsu serakah benalu dan parasit bangsa itu.

  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  • Plural, toleransi dan saling menghargai adalah sampah. Iya sampah bagi mereka yang tidak mendambakan kebersatuan.

  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Nasakom lebih baik bahkan sangat lebih baik daripada menjadi budak kapitalis, liberalis, dan paruh penuh adu domba kolonoalisme.

    Singkat jelas dan tergantung otak untuk kepadatannya. Mulut-mulut mereka sudah patut dibungkam, dipoles oleh aspal panas dengan sedikit cacian bahwa mereka lebih pantas menjadi belatung yang memakan bangkai- bangkai tubuh mereka sendiri.

    Untung masih mengingat bagaimana “sumpah” sebagai seorang pemuda.
    Indonesia.

    Salam gwar 28 okt 2013

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Oktober 2013 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , ,

..Kafir, Nastika, Carwaka-Hedonism, Atheism, Agnotism-Kapitalsim,Sosialism,Nusantaraism..

budak budak jaman

budak budak jaman

Mengenal suatu tinjauan akan makna, pemahaman serta keberadaan dari berbagai kata-kata yang menuju pada keekslusfian, dan bahkan suatu kebebrokan atas yang bernama mentalitas, prilaku radikal serta filsafati liar dan  hanya memandang kedogmatisan, kegalauan rahysa, kedunguan, serta keberhalaan dunia. Maka dalam paham itu bisa diambil suatu benang merah tersendiri yang membuka sedikit suksmaning ati untuk mengubah dan mendekeontruksi atau pula merekontruksi, baik itu fikir, baik itu laku, baik itu paradigma yang lebih menuju sikap keuniversalitasan rahasia magis sebuah KEKUATAN AGUNG….

I. KAFIR NASTIKA CARWAKA.

Bahwa dari beberapa kata atau istilah di atas, maka akan terbuka sedikit kesamaan, atau bahkan meleburkan suatu motivasi spiritual (bukan ambisi) untuk lebih memahami (prtyaksa,anumana,agama pramana) secara filsafati, secara susila (etika), atau bahkan secara upacara(ritualisme).

Sebagai bahasan bagaimana sifat kekafiran yang berasal dari filsafat islam, yang sebenarnya adalah meniadakan atau membungkam mereka-mereka yang memberhalakan Tuhan (Allah), menyekutukan Allah, membuat Allah sebagai nomor dua. Jika itu dilihat dari Shallow Thinking (Pemikiran yang dangkal), maka jelas berarti bahwa dewa-dewa, patung, pohon, inkarnasi, atau dan sebagainya sebagai keberhalaan. Bahkan ada atau terdapat ayat yang memotong kepala kafir, darah kafir halal, atau kekerasan lainnya. Namun mereka lupa jika bahwa berkata Al Quran adalah keniscayaan yang abadi, maka jaman akan menuju suatu perubahan sendiri akan semiotika Ayat2 tersebut. Seperti sbagaimana ditafsirkan oleh Nurcholis Madjid (mendalamkan hakikat ayat fitna), atau Gusdur yang mengemukakan pandangan universalitas, serta Gusmus yang mengkritik dengan mehakikatkan universalitas dalam tubuh islam itu sendiri.

Sebagai contoh jika kepala dipotong akan menggambarkan penghilangan ego, darah kafir halal artinya kafir itu layak untuk disadarkan (dalam bentuk dirinya sendiri), yang menerbayangkan kesucian muslim berada pada mereka juga. Lalu apa kafir itu sendiri???bahwa kafir adalah mencakup semuanya, jika ingin menyemuakan kafir, artinya bahwa diri adalah kafir pula. Bahwa diri adalah yang tidak atau lupa bahwa mereka masih memberhalakan Allah dalam wilayah mengagungkan Uang mengagungkan Harta, mengagunggkan kekuasaan, bahkan menindas yang tidak sejalan dan melupakan hakikat mereka sebagai manusia itu sendiri.

Sama seperti nastika yang tidak atau melihat mereka yang tidak mempercayai sebagai orang yang MERUGI. Bahwa memang mereka tidak percaya akan weda, namun hanya sebatas itu, sebatas pada pembicaraan debat, pembicaraaan hakikat, pembicaraan argumentasi pemahaman,dan menceritakan serta mengsinkretis pemahaman menjadi yang bersolusi. Rugi dalam artian bahwa mereka telah meninggalkan kebenaran yang bijak. Tapi itu hanya pengingatan, dan tetap bahwa mereka tergantung diri mereka.

Untuk Carwaka dapat dilihat sebagai suatu filsafat bagi mereka yang menjadi budak2 dari jaman, dari nafsu, dari ketidak benaran dan memuaskan diri mereka selagi mereka masih hidup dan meninggalkan filsafati Tuhan itu sendiri.

2.Hedonism-Atheism- Agnotism

Tiga dari suatu istilah di atas, sangat mengarah dan dekat dengan Keagamaan, Religiusitas, dan bahkan sebuah spiritualitas. Artinya adalah bahwa mereka menjadi seperti itu adalah apakah karena kehendak jaman, apakah karena kekurang mengertian kritikal mereka, atau pula karena kebencian mereka terhadap jaman itu sendiri.

Untuk yang memahami hedonism, adalah mereka yang bergerak persis sama sebagai carwaka yang hanya hidup untuk memuaskan nafsu mereka keinginan mereka akan dunia ini sbagai produk dari kemajuan jaman. DImanja mereka sampai mereka tidak ingat akan kemanusiaan mereka, lupa bahwa mereka adalah manusia, mereka ada agen-agen kebenaran, mereka adalah pejalan yang hampa, serta tunduk pada kedunguan indera mereka. Sehingga pada akhirnya mereka jatuh ke lobang atheisme. Yaitu tidak percaya akan Tuhan dan kekuatan gaib angkasa atau bumi. Mereka yang menjadi budak jaman, sebagai budak di neraka, sebagai budak yang akan nanti mendapatkan penghukuman serta melupakan etika (susila) yang luhur dan jatuh terjerembab pada lubang kegilaan. Intinya adalah menganggap tuhan telah mati, namun mereka hanya tertawa tanpa tau maksudnya.

Menuju pemahaman Agnotis dan atheism, adalah haruslah melihat berbagai faktor2 yang mengenalkan mereka pada filsafati tersebut. Maksdunya adalah apakah kerena dogmatisme yang hanya mengumpulkan jenasah2 korban peperangan idelatis agamais atau bahkan peperangan ekonomis yang secara langsung tidak langsung mennyebabkan kesenjangan atau juga kematian yang tragis bagi mereka yang kurang akan produk primer, makanan (kelaparan),papan (homeless), serta kegilaan lainnya.

3. Kapitalism (zionism),Sosialism,Nusantaraism.

Kemajuan jaman tidak lepas pula dari paham keberekonomian itu sendiri dalam menuju suatu kesejahteraan secara kolektif yang dibatasi pemborderan wilayah negara atau NKRI. Maksudnya adalah karakterisitik, idealistik dari kenusantaraan adalah sangat berbeda dengan dunia itu sendiri. Nusantara yang plural, universal, serta ramah tamah akan menjadi hal yang akan “hilang” lenyap “sirna kertaning bumi”..lenyap dimakan jaman atau apa pun itu, bahkan domgmatisme keras kepala dari apa yang dikatakan produk2 lain.

Maksudnya islam nusantara berbeda dengan arab, hindu nusantara berbeda dengan india, kristen nusantara berbeda dengan eropa, dan sebagainya. Itu lah yang membentuk karakteristik bangsa dan kekhasan dari setiap suku ras di nusantara ini. Kekuasaan kapitalis adalah bisa, namun pada akhirnya yang membobrokan alam dan lainnya adalah fakta, seperti lumpur lapindo, atau pengucapan sumpah penggantungan diri yang jika dibiarkan atau pembiarannya mengakibatkan amarah serta kemeledakan sabar akan arti revolusianism. Bahwa sukarno pun berkata Revolusi belum selesai.

Ada yang ingat pancasila???????

Hanya sedikit yang tau bahwa sangat salah memaksakan agama pada butir2 sila pertama, sangat salah bertindak biadab pada butir2 sila kedua, sangat salah mengagungkan golongan dibanding negara seperti butir ketiga, atau kedunguan dan kebodohan wakil rakyat yang memperkaya diri seperit butir ke keempat, dan kesederhanaan serta un materialism sila kelima.

Kelupaan itu mengakibatkan jatuhnya mereka ke lobang yang disebut lobang tidak diterima bumi tidak dihargai langit (yg dekat dengan kafir), yang tidak mempercayai kebhinekaan tunggal ika (dkat dngan nastika), yang mengabdi dan membudaki diri pada nafsu dunia (kapitalism)..seperti carwaka…

SAMPAIIII KAPAAAN?????????

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2013 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

ekonomi yang berspiritual..

ekonomi yang berspiritualkan agama

Ekonomi yang berkeyakinan Spiritual
“Utopia??”

Jika kita dihadapkan pada sebuah kata, &&& atau mungkin sebuah kondisi kritis yang dapat dilihat mata ataukah mungkin juga suatu sejarah akan benda yang berjudul “Uang” maka kata tersebut adalah ekonomi. Terlalu banyak sejarah dalam pembentukan suatu prsepsi tentang ekonomi. Namun dalam perjalanannya, yaitu termasuk penerapan teorinya. Maka ekonomi hanya menjadi nomor yang menakutkan bagi Indonesia itu sendiri.
Bahkan kata uang merupakan sesuatu yang sangatlah sensitif. Dalam artian suatu prestise, suatu pencapaian, suatu hakikat hidup. Ya hakikat hidup bisa dibayangkan dari dahulu sampai saat ini berapa jiwa melayang demi kata tersebut.
Mmmm…… Mati dipirkan….
Bayi meninggal karena orang tua yang tidak memperhatikan. Orang bunuh saudara karena hutang. Atau perebutan warisan yang sungguh perlu dipikirkan.
Sudahkah kau pikirkan Tki, TKW, dsb…. Hmmm…. Stop…. berhentilah dulu menerawang berhentilah dulu terbang. Mari nikmati sejenak percintaan antara sebuah pertobatan ekonomi dengan kesabaran spiritual…..

NB : Jika kau seorang ekonom : jangan beranjak ikuti perjalanan seorang ekonom dalam menjelaskan spiritualitas pada Bab I.

NB : Jika kau seorang spiritualis, bolehlah dengan sabar membaca jejak-jejak spiritual atau langsung menuju Bab II tentang pertobatan ekonomi… toh pandangan kita mungkin sama…

BAB I
Filsafat ekonomi spiritual

Banyaklah cabang dari ilmu atau mungkin pengetahuan spiritual dari jaman ke taman. Perangkumannya adalah suatu usaha untuk penyabaran bahwa moralitas memang benar dari kata religiusitas.
Religius adalah sebuah kata yang teramat dalam dan bisa juga sangatlah syahdu. Bagai musik yang penuh cinta dan rindu akan bahagia. Saya anggap spiritualitas adalah nilai religius manusia yang terpancar dan dapat dirasakan oleh seorang yang patut merasakannya.
Mungkin andalah salah satunya. Kepankah anda terakhir melakukan persemabhayangan atau ritual. Tidak mungkin anda lupa? Nah ingatan anda akan melayang mengikuti persembahyangan atau ritual tersebut.
Ingatkah apa yang anda pikirkan atau renungkan? atau anda hanya merenungkan hmmm…. berapa biaya yang habis untuk ritual ini…. oh ya aku sedang ingin berbisnis dengan klien… harus selesai secepatnya!! Atau wah ada acara bagus… harus secepatnya?
Ataukah anda dalam posisi seperti ini!
Tuhan saya minta agar mendapatkan pekerjaan yang baik layak? (padahal sudah mempunyai pekerjaan layak) Tuhan saya minta agar Dosa saya korupsi dihapuskan? (Padahak koruptor) atau Tuhan saya minta agar selalu diberikan rezeki? (padahal rumah punya, mobil ada, keluarga cukup makan).
Sudahkan anda berpikir tentang nasib pemulung yang selalu dicurigai sampai-sampai dengan gagahnya membuatkan plang “Mohon maaf pemulung dilarang masak” untuk menghormatinya. Sudahkan anda berpikir anak-anak terlantar dan fakir miskin di pojokan jalan yang selalu diusir oleh apara yang sungguh sangat terhomat. Saya pribadi mengagumi slogan jangan lupa menafkahi anak yatim dalam Islam yang sungguh bijaksana terlepas dari latar belakang saya.
Ataukah anda sudah bersujud untuk mensyukuri apa yang ada. Bersyukur sudah diberikan tempat layak untuk bangun apgi. Bersyukru untuk diberikan kesehatan sebagai dasar rejeki. Bersyukur telah diberikan keluarga yang selalu memperhatikan, keluarga yang sejahtera atau anak yang bermanfaat. Menurut saya hal ini sungguh mulia. Bersyukur akan kehidupan.
Dan yang terakhir, apakah anda berdoa untuk mengutuk seseorang? Tuhan semoga kolega saya sakit? semoga mereka sengsara, karena meerka bahagia.
Ah…. saya kira tidak ada yang terakhir… mungkin…
Terlepas dari cara berdoa tersebut…. Apakah Tuhan itu, siapakah Beliau, bagaimanakah sebuah makan tentang ke Maha an dari seluruh Maha…. yang tidak mungkin habis untuk diceritakan dibicarakan sampai akhir hayat bumi ini….
Jika disederhanakan, maka sayang khalik adalah pencipta bumi, matahari, air, api, tanah, sumber dari segala sumber di dunia. Tuhan adalah hakikat atau membentuk hakikat. Tuhan adalah sumebr segalanya.
Filsafat ekonomi spiritual adalah suatu cara pandang dimana ekonomi dibentuk dari cara berkeTuhanan yang Maha Esa dan bertujuan untuk keadilan sosial yang tinggi di masyarakat. Oleh karenanya ekonomi yang berspiritual tidak memandang laba sebagai tujuan, karena menurut hukum sebab akibat, dimana kita melakukan suatu kegiatan yang memenuhi kebutuhan, maka laba atau untung itu datang menyertai dari suatu kegiatan. Keadilan sosial adalah untung atau laba tertinggi dari kegiatan ekonomi itu.
Seperti kata falsafah yaitu “karmany eva dikharaste ma phalesu kadacana” yang artinya bahwa kita bekerja jangan terikat oleh hasil dari kerja tersebut. Falsafah tersebut mengajarkan kita untuk menjadikan laba bukan hal terpenting yang diutamakan dalam kegiatan ekonomi.

BAB II

Agama sebagai ideologi moralitas ekonomi

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama merupakan hal yang ideologis bagi umat yang memelukna. Suatu kedigjayaan wahana emas manuhun, bahwa ekonomi dapat menjadikan agama sebagai faktor politis belaka.
Sebagai contoh bahwa ekonomi syareat islam yang harusnya mengantarkan rakyat atau umat ke mekkah, dikorupsi dengan sedemikian rupa. Itu adalah hal yang less morality yang berkedok agamaisme.Sungguh pun memaksa maysarakat atau umat untuk mendeskriditkan agama sebagai racun dunia (kata cang cuters).
Berbagai hal-hal politis itulah yang membuat agama menjadikannya sebagai kekotoran belaka yang menjatuhkan agama itu sendiri. Moralitas bobrok itu menjadikannya sesuatu yang musrik belaka dan memberhalakan uang itu sendiri.
Marilah dengan sebenar-benarnya menempatkan agama dalam posisinya sebagai penjaga moralitas bukan hanya sebagai pengadilan dalam hubungan suami istri belaka. Jika ditelaah maka-segala hal yang menciptakan moralitas bobrok perlu dihancurkan di masa sekarang ini. Salah satunya dengan menempatkan filosofi yang baik dan benar dan bukan hanya sekedar homo homoni lupus belaka.
Contoh ekonomi yang mumpuni adalah ekonomi dalam pengkoperasian yang menjadikan gotong royong sebagai hal yang mutlak perlu dilakukan. Prinsip Pancasilais berbeda banyak dengan prinsip liberalisme yang terlalu bebas dan prinsip sosialisme yang berbentuk doktrin-doktrin atas manusia.
Agama Hindu pun menyebutkan bahwa karnmany eva dikharaste Maphalesu kadacana, yaitu bekerjalah tanpa memikirkan hasil, karena hasil adalah racun belaka, bekerjalah dengan tanpa memikirkan hasil , ber-yadnya-lah agar semua waktu dalam hidup adalah untuk berusaha meningkatkan diri menjadi pencarian ilmu belaka.
Sebagai waktu dan contoh dalam penerapannya adalah sebagai jalan sutra yang disebut jnana marga. Yaitu hidup adalah untuk belajar dan hidup adalah untuk menikmati ilmu pengetahuan yang sahih dalam penjabarannya. Hal itu merupakan hal yang mulia adanya untuk menempatkan ekonomi ke dalam jaringan agama yang mumpuni pula, serta membuat agama sebagai pedoman hidup yang syahadat pula.
Bakti marga dan Karma Marga mungkin adalah jalan yang salah dalam penerapannya. Kita menjadikan kerja itu sebagai tujuan hidup, dan bakti pun tak cukup dalam penjabarannya. Yang benar-benar dari sujud-Nya adalah bagaimana ekonomi itu menjadi sebagai suatu jalan jnana yang penting untuk kemajuan dunia.
Atas usaha yang kokoh dari seseorang , maka pendidikan ekonomi adalah hal mutlak yang dilakukan dalam pembelajaran hidup. Haruslah ekonomi diajarkan di sekolah dasar, agar manusia itu tahu akan bahwa ekonomi moralitas menjadi suatu yang mutlak diketahui oleh manusia, khususnya di Indoenesia.
Bhagawadhita pernah bersabda,”jika kau kembali kepadaKu dan kau memujaKu maka kau akan ke Aku bukan ke lainnya”. Ada tujuan yang sahih disini, yang menjadikan Aku sebagai tujuan hidup.Aku dalam hal ini adalah Tuhan atau Allah atau Yesus atau Musa atau yang lainnya. Dan sertakan pula bahwa Aku adalah Wisnu juga dalam penjabaran perang Bharatayudha. Dalam hal ekonomi, maka Aku adalah “uang “ itu sendiri, dimana menjadikkannya sebagai tujuan hidup, namun sebgai tujuan dengan moralitas tinggi dalam pencapaiannya. Bukan berarti sebgai tujuan hidup yang kotor, tetapi sebagai tujuan hidup yang tinggi dalam pencapaiannya.
Uang adalah sebgai dewi laksmi atau kesejahteraan belaka, sama pula dengan falsafah pancasila yaitu kesejathteraan sosial masyarakat. Itulah tujuan belaka bahwa manusia hadir dan hidup untuk mensejahterakan dirinya dan tentu pula orang lain. Kembali dalam populasi manusia yang rakus akan uang, maka koperasi menjadi satu jawaban yang mumpuni dalam pencapaian utopia tersebut.

BAB III

Koperasi sebagai Wadah Gotong Royong yang Berspiritual Pancasila
Pancasila merupakan filosofi yang mafhum atau secara realitanya merupakan syareat yang mumpuni dalam berekonomi. Dalam perekonomian Pancasila ini mengandung makna yang sakral dalam penerapannya. Bahwa ekonomi bukan lagi menjadi hal yang homo homoni lupus dalam penerapannya. Karena kesejahteraan umat menjadi hal yang utama dalam penerapannya.
Koperasi dianggap sebagai soko guru yang wayah dalam penuturannya. Karena dalam pencariannya tidak terdapat keuntungan yang berlebih sebagai tujuannya. Sebenar-benarnya koperasi menjadi salah satu pilar yang sahih dalam perekonomian bangsa.
Koperasi dalam jaman sekarang memang dianggap sebelah mata, bahkan dianggap sebagai perusahaan bencong, karena tidak mengambil lahan cari untung dalam realitanya. Padahal koperasi menjadikan orang tidak jumawa pada kembali realitanya di masyarakat.
Usaha tolong menolong dalam koperasi, merupakan cermin kehidupan yang berjalan bagai air mengalir yang bersahaja. Bahwa bukanlah manusia , jika ia bagai srigala yang memakan manusia lainnya dalam filsafat ekonomi saat ini. Pancasila sebagai dasar falsafah koperasi, adalah sebgai berikut :
1. Pancasila merupakan wadah agama yang berkeTuhanan yang Maha Esa, dimana setiap agama memiliki pedoman bahwa hanya ada satu Tuhan di dunia ini.
2. Pancasila merupakan budi yang luhur dalam syareatnya sebagai satu kesatuan yang utuh yang membentuk sifat kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa dimana dengan budaya politik yang sikut sana-sikut sini yang perlu diberantas untuk menuju masyarakat madani.
4. Dengan Pancasila sebagai pedoman , maka masyarakat tidaklah takut akan wakilnya yang duduk di DPR, karena dipilih dari hati nurani yang berpancasila akan dirinya.
5. Atas berkat rahmat Tuhan maka koperasi adalah bertujuan untuk keadilan sosial bagi masyarakat , dimana sosialisme menjadikan tujuan hidup bermasyarakat yang hendaknya dikembangkan. Hal ini bertujuan agar tidak ada saling pisah dan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang merupakan produk kapitalisme itu sendiri.
Modal dalam koperasi diambil dari anggotanya sendiri, sehingga dengan demikian , bahwa koperasi membentuk watak manusia menjadi tepo seliro dan saling pengertian dalam penerapannya kembali. Gotong royong pun akan terlaksana dengan hakikat pancasila yang sejati untuk pemberdayaannya saat ini.

BAB IV
Korupsi Moral yang Merajalela
Korupsi merupakan kata kunci dari bab berikut. Disamping merupakan momok yang menakutkan, sebenarnya kata korupsi adalah hal yang musrik untuk dilakukan. Sebagaimana pula dalam hal ini ekonomi, merupakan asas berdemokrasi pancasila. Jika dikembangkan, maka ekonomi bukanlah hanya efisiensi dan efektifitas saja, melainkan pula sebuah dasar atau kajian yang mengekonomipancasilakan masyarakat.
Mengekonomikan masyarakat artinya bahwa masyarakat berusaha dihadapkan pada tantangan yang mengakibatkan rendahnya unsur moral yang dipegang oleh kata kunci tersebut. Di samping itu manusia Indonesia, baru merupakan khasanah bangsa yang melek akan uang itu sendiri.
Pada dasarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang nasionalis dan bangsanis. Yang cinta akan tanah airnya, hal itulah yang perlu dipupuk dalam bangsa yang moralitasnya rendah ini. Oleh karena itu moralitas sebagai unsur keagamaan yang nomor wahid, telah gagal menunjukkan taringnya sebagai penjaga moral itu sendiri.
Jadi adalah suatu hal yang tidaklah mudah untuk mengubah akar budaya korupsi sebagai hal utama yang mengacaukan roda perekonomian Indonesia. Padahal moralitas adalah hal terpenting untuk mengedepankan kekeluargaan dan asas gotong royong dalam mengadopsi pancasila sebagai falsafah dasar manusia ataupun sebagai agama itu sendiri. Karena agama telah gagal dalam penerapannya sebagai penjaga moral manusia Indonesia itu sendiri.
Jika disamakan uang adalah nyawa atau soul dari manusia itu sendiri, maka Pancasila adalah penjaga makna uang tersebut. Dalam sistem karma wasana atau karma yang menyebar. Maka dapat dipastikan jika bila korupsi terjadi, maka di bagian dunia lain terjadi pembunuhan akibat karma yang mengalir tersebut.Jangan dipungkiri ada orang miskin karena ada orang lain yang korupsi. Benar seperti itulah yang terjadi, karena karma adalah perjalanan abadi menuju surga dan neraka yang ada di bumi.
Konsep surga neraka di bumi adalah konsep dimana manusia itu memiliki neraka dan dunia surga di bumi ini. Pada dasarnya manusia mengalami ke-syahid-an setiap harinnya. Disamping untuk membanting tulang, dan juga sebagai pemenang dalam pencarian uang tersebut. Uang adalah makna yang dalam bagi bidang spiritual, karena dengan uang sebagai nyawa, maka meng-halal-kan cara uang itu beredar adalah hal yang mutlak dilakukan, dikatakan, dan dipikirkan.
Dalam Hindu terdapat tiga hal penting, yaitu Kayika, Wacika, Manacika. Pada dasarnya manusia tidak diperkenankan untuk berbuat kotor, berbicara najis, berpikir jorok. Karena hal itu membuat suatu medan elektromagnetik dan metafisika yang negatif. Begitu pula dalam mencari selembar rupiah, bahwa rupiah haruslah dicari dengan ke-halal-an yang tanpa syirik, dan musrik.
Jaman sudah berubah di alam ini. Dahulu saat nabi itu ada di dunia menyebarkan agama, maka uang belum menjadi kebutuhan penting dalam hidup. Barter adalah sistem yang terlaksana dahulu. Tidak ada lah kata uang apalagi korupsi. Oleh karena itu sejarah sekarang adalah uang yang berspiritual lah yang dianggap sebagai hal yang tulus diupayakan ada dalam dunia ini dan tanpa korupsi tentunya.

BAB V
Cinta adalah Uang Pula
Adalah kata materialistis merupakan sesuatu yang konon menjadi hal yang ditakuti di dunia, tentunya bagi orang yang dianggap miskin oleh orang lain. Padahal orang miskin adalah kata yang dianggap sebagai kata sifat yang semu bagi orang miskin. Pemulung yang dianggap orang miskin sebenarnya masih bisa hidup dan sungguh pun ia anggap dirinya bahagia. Pengkayaan dan pemiskinan merupakan konsep yang salah dalam dunia yang sekarang ini.
Hal ini berhubungan dengan sosialisme dan kapitalisme. Kedua kata tersebut adalah sesuatu yang pastinya eneg dikatakan bahkan dipikirkan oleh orang-orang tertentu. Padahal tidak ada kata miskin dan kaya jika diibaratkan bahwa miskin dan kaya itu adalah dapat mencapai hal yang sama dalam kebahagiaan.
Konsep surga dan neraka serta reinkarnasi, dapat dikatakan disini bahwa dalam Hindu maka manusia akan hidup nantinya dalam suasana yang bahagia pada saat mati di bumi ini. Sehingga ada pemikiran manusia yang kaya adalah manusia yang memiliki leluhur yang menjalankan agama sebagai bagaimana mestinya berdasar kitab-kitab agama tersebut. Dan yang miskin tidaklah salah menjadi miskin karena dahulu mungkin adalah pembunuh berdarah dingin yang merupakan sesuatu karma dan pahala yang harus dijalani.
Dalam Islam disebutkan maka jika engkau menjalankan alquran dengan sebagaimana mestinya maka kau akan mendapatkan surga di akherat dan dilingkupi oleh bidadari-bidadari cantik sebagaimana mestinya. Allah menyatakan bahwa Ia pun dapat menghidupkan manusia dengan sedemikian rupa dan menjadikannya manusia kembali yang hidup di dunia ini (konsep reinkarnasi). Jadi tidak lah salah untuk berpikir bahwa cinta Allah pada umatnya untuk menjadikan ia sebagai manusia yang perfect dalam hidupnya di dunia. Karena Allah maha pengasih dan maha penyayang.

BAB VI
Politik Biaya Tinggi sebagai Salah Satu Penghancur Bangsa

Bisa dikatakan suatu politik adalah suatu konspirasi akan pembodohan bangsa. Apalagi jika pencapaian suatu kedudukan dalam politik dikaitkan atau sebanding dengan uang atau modal yang ditanamkan. Hal ini merupakan suatu pembodohan karena pemaksaan kehendak dari si pemilik modal terhadap pemilih yang seharusnya independen.
Politik biaya tinggi pun disinyalir sebagai sebab dari korupsi itu sendiri. Dari sudut pandang ekonomi, maka jika untuk duduk di kursi empuk harus membayar biaya masuk dan seterusnya akan mencari pembalikan modal dari biaya tinggi tersebut. Jadi setelah duduk di “atas”, maka korupsi adalah satu cara untuk balik modal. Mengingatkan seperti jual beli barang atau perusahaan dagang.
Jika ditilik dari sudut perkembangan suatu negara, maka wajarlah jika Indonesia sebagai Negara berkembang masih merajakan suatu materialitas. Padahal belum tentu suatu nilai kebahagiaan diukur dari banyaknya materi yang dipunyai. Hiburan tidak dipungkiri memerlukan suatu materi untuk menikmatinya. Namun jika mengorbankan suatu empati terhadap mahluk sosial yang lain, maka tidak layaklah suatu kebahagiaan itu dikatakan kebahagiaan.
Ada cerita seorang teman, dimana suatu kandidat pemimpin menyumbang sebesar 100 juta. Nah bagaimana caranya ia harus mengembalikan uangnya, kalo tidak korupsi jika ia terpilih nanti. Sebagai saran bagi teman saya itu, maka ambil saja uangnya, dan jangan pilih dia. Pilihlah sesuai hati nurani anda sendiri.
Transparansi sebagai senjata dalam memerangi korupsi, belum tentu bisa digunakan dalam menjebak politik biaya tinggi ini. Bagaimana bisa jika tidak ada pencatatan yang perlu dianalisa, jika semua pengeluaran biaya tidak dicatat secara sistematis. Sungguh susah menjebak para belut-belut politik ini.
Dalam hal pemilihan calon independen, saya pribadi sangat setuju. Namun partai-partai sebagai wakil pemilu, sudah dengan strategi perangnya di DPR (Dewan Perampok Rakyat). Memotong segala celah untuk menjegal calon independen itu sendiri. Calon independen sudah barang tentu harus memiliki nama yang harum yang layak juga untuk dijual tanpa biaya yang tinggi pula. Jika nama tidak ada, kembali lagi harus merogoh koceknya untuk biaya naik ke panggung politik. Sungguh lingkaran setan yang sulit dicari solusinya.
Sebagai contoh nama suatu pemimpin yang harum adalah kalau boleh menyebut nama, maka Mangku Pastika adalah berdaya jual tinggi. Tanpa biaya tinggi untuk masuk ke panggung politik sudah ada jaminan untuk dipercaya oleh masyarakat sebagai pemilihnya. Ini bukan sebagai ajang promosi, cuma sebagai pemberian contoh politik yang berbiaya rendah.
Ada pula kabar dari salah satu calon gubernur yang tidak mengeluarkan biaya apa pun untuk duduk di panggung pemerintahan. Itu lah yang patut dijadikan pilihan yang sebagai plihan hati nurani. Media juga kadang-kadang kalau boleh dikatakan, mengambil biaya tertentu agar suatu berita calon pemimpin muncul di halaman depan media tersebut. Itu sah-sah saja, namun dimana etika dari media tersebut untuk menjadi media yang independen dan membentuk opini di masyarakat.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: