RSS

Arsip Tag: pantheisme

Evolusi kesadaranNYA monotheis-monisme/panteism-panentheism Analisa lintas keyakinan

Om sarwa prani santhi ya namo namah..
Om jnana pujam shanti ya namo namah
Om pasupatya shanti namo namah..
Shanti om..

wpid-fb_img_1436226664098.jpg

Ibarat dalam memahamiNya adlah sebagai seekor gajah yg ditebak oleh sang buta..Sang buta yg berarti sebuah kesadaran tentang keilahian yg suci itu sendiri..Tentunya makna-makna berkesadaran tersebut akan selalu berevolusi dgn hikayat hakikatNya yg mengarah pada pelepasan ketidaksadaran yg lainnya..Evolusi tersebut tentu berdasarkan cara “rasa” memulai kesadaran terhadapNya. Memulai dengan kesadaran bahwa IA Sang Khalik akan selalu mengada, dan bagaimana IA sebagai definisi yang mutlak agar dinikmati dalam “rasa” yang selalu takjub.

Pemahaman yang ada bahwa menelisik sebuah makna tentang persepsi kesadaran memandang Nya dalam sebuah bingkai konsep teologika. Evolusi kesadaran yang ada adalah dapat dipahami dalam bahasa keyakinan yang telah ada, apakah itu konsep monotheism, pantheism/monism, dan juga panentheism sebagaimana juga sebuah konsep tentang personalisasi Ilahi ruh yang agung Hyang maha Kuasa. Konsep ini menyebar secara tersirat dan tersurat pada berbagai keyakinan bersahaja.

MONOTHEISM

Konsep yang pertama adalah MONOTHEISM yaitu bahwa IA adalah satu sahaja dan tidak ada yang lainnya yang dibahasakan sebagai Tauhid dalam islam dan Ekam eva adityam brahman.. Konsep ini seperti ini bisa berasal dari evolusi konsep lain, seperti dua konsep di bawahnya yaitu konsep HENOTHEISM dan POLITHEISM yang berarti Tuhan pemenang dengan Tuhan yang banyak.. Sangat ‘licin’ ketika memahami Tuhan Yang satu itu, dimana ketika Tuhan (dalam sebutan indahNYA) menang atas tuhan2 yang lainnya, maka itu IA bersifat Henotheism Tuhan yang dianggap menang, tentunya hal ini akan bisa membuat perendahan tentang makna Ilahiah tuhan itu sendiri.. Apakah Tuhan ada dua??Apakah dengan itu mereka menghancurkan Tuhan2 lainnya?? Apakah Tuhan menghedaki diriNya ada dua??apakah itu tidak malah sebagai cara pandang mengetahui dua tuhan (Syirik-musrik dalam islam).. Tentunya ini adalah suatu pandangan yang kurang bijak (satwikk) ktika memandanganya sebagai yang menang dari tuhan lainnya (Henotheism)..

Lalu yang berasal dari Politheism adalah pengakuan tuhan yang banyak, juga merupakan risalah yang sering diperdebatkan secara tak mendalam..Ketika mereka (para tuhan) banyak, mengapa itu tidak satu?? Dalam bahasa Hindu disebutkan Ekam Eva Adityam Brahman, Hanya satu IA dan Ia semata..Dan disebutan bahwa para dewata yang berjumlah banyak itu, dikatakan sebagai tuhan yang banyak pula, tentunya ini bisa menjadi konsep Henotheism juga ktika ada pemenang, namun dalam pemahaman yang lebih mendalam maka ini akan menjadi konsep monotheism yang menyejukkan.. Ketika dibahasakan sang Brahman yang tinunggal adalah memiliki manifest2 simbolisme yang memiliki fungsi masing-masing dalam bahasaNya masing-masing. Hal ini cukup memudahkan kiasanNya saat melaksanakan puja puji terhadapnya.. Sebagaimana fungsiNya sebagai Sang pemberi Rejeki maka tentu menuju IA Sang Bhatara Shri yang agung, atau memahami tentang pengetahuanNYA maka ia bisa membahasakan pujam kepada Hyang saraswati dan juga Hyang Ghanapatya..Tentunya itu merupakan saguna Brahman Tattwa yang dimaknai sebagai simbol-simbol gambar keilahian yang suhci..

Kemudian dalam konsep islami ada juga yang menyebutkan Asma ul husna yang berjumlah 99 nama indah ilahiah.. Dan itu tentu menjadi satu saja yang Tauhid, tetapi ketika kesadaran tentang politheism mengada, maka pertanyaan mengapa tuhan ilahi itu Al Adl(yang maha adil) sekaligus Al rahman rahiim (maha pengasih penyayang)secara bersamaan saat ada seseorang disuguhi azab dunia, tentulah itu akan menjadi sesuatu pemisahan yang jelas, kecuali kesadaran mereka pada henotheism dan politheism bisa tersirnakan. Tentu saja pandangan bahwa bahasa terhadapNya adalah sebuah tauhid yang Asma Wa Sifati sebagaimana bahwa Ilahi adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh siapa pun juga.. Sebagaimana dzat yang meliputi seluruh ciptaannya tanpa terkecuali yang dibahasakan dalam berbagai makna berkeyakinan..Pada akhirnya pemisahan fungsi2 yang ada adalah sebuah suatu kemutlakan jua dari sang Mutlak.. Dan akhirnya manusia diharapkan bersifat insaf dan memahami keghaibanNya (al ghoib)

MONISME(PANTHEISM)

Monisme dalam hal ini adalah bahasaNya dalam mendeskripsikan konsep ilahi berdasarkan bahwa IA merasuk menyusupi seluruhnya sebagai zat hidup (prana-suksma-atman) yang membuat sesuatunya itu sebagaimana dirinya.. Tuhan memang ada diseluruh semesta sebagaimana IA berada di air udara tanah ruang api (panca maha butha) dan Maya (satwik rajas tamas) prakerti yang sesungguhnya wyapi wyapaka (menyusup kemana saja). Hal ini memberikan pemahaman bahwa IA Maha Besar meliputi semuaNya. Sebagai sang Al Kabiir Yang maha besar, meliputi semuanya. Meliputi IA seluruh ciptaanNya dan dengan itu IA ada dimana-mana. Ada di batu, ada di bunga, ada di tempat suci bahkan di tempat yang tidak suci.. IA yang maha mendengar maha mengetahui Wibhu sakti. IA yang Prabhu Sakti maha diraja IA yang maha pengetahuan Jnana Sakti dan Maha Karya Krya Sakti..Dan dengan itu semesta akan layaknya dijaga sebagaimana menjaga diriNYA sebagai tubuhNya sebagai ciptaNya..Namun apakah Ia ada dibatu??tentu saja ada namun apakah ia batu, belum tentu IA sebuah batu, tapi Ia adalah bukan ini dan itu..Sebuah penginsafan akan neti neti bukan ini bukan itu..

Dalam kesakralanNya Ia disimbolkan dalam aksra suci dalam simbolisme tempat suci salib, huruf suci, swastika dan sebagaimana iya. Namun apakah itu IA??tentu saja kesakralan itu adalah sebagai simbolisnya..banyak yang menganggap dengan menhancurkan itu simbolNya akan membuat IA hancur…Itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal..IA dengan berbagai caraNya untuk berbahasa tulus suci dan doa, takkan sirna karena itu, namun hukum karma azab atau bahasa pengadilannya aka terbiasa membias menjadi sebuah takdir buruk.. Kesadaran tentang tat twam asi, rahmatan, yang khudus suci, akan membuat semesta ini menjadi sangat lebih baik..Ketika IA diibaratkan sebagai bumi juga sebagai tempat berpijak, maka tentu sebuah keindahan yang sahih dan suci akan dinikmati..Hal ini menjadi sumber pahala kebaikan untuknya dan seluruh keturunan mereka.

Sebuah perjalanan indah adalah ketika mampu memahami monisme cara ia menjadikan semesta ini sebuah kedamaian yang dirahmatkanNya secara abadi..Sesuatu yang seperti kembali ke pada kesucian rumahNya (sangkan paraning dumadi)..

PANENTHEISM

Konsep selanjutnya adalah panentheism yaitu berada di dalam tuhan. Sesungguhnya ketika memaknai diri adalah atman saja yang sedang hidup dalam tubuh manusia yang sementara saja (buddha), dan sebagai kumpulan2 nafs ilahi (islam) untuk memaknai bahwa kita(ruh yg utama) selalu berada pada tubuh ilahiah. Sebaga sel Nya yang akan selalu mati dan hidup kembali, sebagai tangan kakiNya, sebagai wali dan sesuhunanNya sebagai seseorang yang bhakti yang selalu dalam diriNYA.. Tentu saja bahwa disebutkan mereka yang hidup adalah hanya sedang membuat istana pasir saja, sehingga untuk bermakna adalah memahami diri sangat kecil dari kemaha besarannya dan hanya sebagai debu pasir dari diriNYA. Sang Khalik pencipta semesta..Sang Bapa yang membawa surgaNya sang jiwa yang sedang dalam pencarian jalan pulang menuju kesadaranNya..

Ketika diri sendiri memaknai diri sebagai yang kecil, maka diri akan terbebas dari makna-makna bias duniawi yang sesungguhnya adalah berada pada Bhur loka (hindu) di surga terendah dari sapta loka (tujuh loka surgawi)..Menunggu apakah diri akan terpental menuju sapta patala (neraka tujuh tingkat) atau ke alam surgawi di atasnya. Tentu saja melepaskan diri dari keterikatakan maya dan sebagai sesuatu yang terlingkupi dzat saja akan membuat diri memahami diri yang kecil dalam makna yang Maha besar..Pengetahuan rohani yang membebaskan dimana lahir-hidup-mati, ang-ung-mang, dikhalikkan-dimuaiminkan-diakhiri adalah sebuah bagian sel-sel yang mati sahaja untuk menuju penginsafan kesadaran ilahiah…Karena setiap saat di seluruh mahluk hidup dan benda mati, ada yang sirna ada yang hancur ada yang terpindahkan ada yang musnah..Lalu siapakah kita yang hanya sebagai selnya semata…

PERSONALITAS HYANG KUASA

Memahami ini adalah sebuah perjalanan tentang sang Maha Ghaib (al-ghoib) yang sebagai Para-atman, sang pembebas dan juga ruh yang utama yang disadari sebagai prana hidup.. Dalam hal ini beberapa penyabda wali nabhi sang reshi suci  dang hyang mpu pandita adalah sebuah gambaran tentang sesuatuNya adlaah dari peengenalan terhadap diri adalah semesta..Konsep tentang bhuana alit bhuana agung sinunggal, aham brahman asmi, kemahrifatan, kekhudusan yang nyata, avatara adalah sebuah rahasia tentang keberwujudan kemaujudan tentang ilahi itu sendiri..Namun pantas disadari adalah tentu makna bahwa diri hanyalah entitas yang terperosok dalam badan kasar manusia, membuat itu menjadi bias dan sebagaimana makna jiwa yang selalu termaknai keterikatan terhadap kenikmatan itu sendiri.. Tidak banyak yang sanggup, tetapi telah ada beberapa jnana yang abadi disadurkan kepada mereka untuk dinikmati oleh para bhakta pencari kehakikian diri..

Pada masa kenabian, tentu ada banyak yang lahir membawa pengetahuan tersendiri tentang makna2 hakiki Ilahiah. Tentu saja sifati mereka dekat dengan sifati yang berada pada AsmaNya, dalam batas-batas sebagai manusia itu sendiri.. Entah apakah IA adalah IA juga, atau dalam bahasa pengenalan sebagai utusannya. Yang jelas pemahaman tentangNya akan dimaknai dari sabda-sabda mereka, sedangkan pada mereka yang berada di pengabdi dengan keegoan (nafs amarrah lwanmah-ahli neraka) yang zalim akan tidak memikirkan tentang apa yang diutarakan, tapi egonya membuat mereka memilih mana yang mereka ingin lakukan..Ketika mreka bersifat raksasa dan berego kasar, maka dipilihlah yang sesuai amarrah mereka..Dan itu tidak semuaya, tentu ada yang secara sadar atau tidak telah memaknai dalam tentang sifati itu sendiri..

Kamoksan jagaditha adalah sebuah konsep dimana seseorang membawa sabdanya untuk menyirnakan paham-paham adharmik yang membawa kesucian dan kedamaian..Seperti konsep avatara yang lahir untuk memisahkan adharmik dari yang budhi dharma.. Memahami diri dalam bahasa kumpulan ahamkara ego, budhi (intelektual), manas (pikiran pnguasa indera), citta (kumpulan karma), dan diterobos itu semua dengan makna dharma dan sattwik yang akhirnya meningkatkan pengetahuan IA sebagai abdi sang Mutlak itu sendiri..

Lalu bahwa kebebasan dari keterikatan duniawi, dimana memahami bahwa diri berisikan nafs surgawi nafs neraka, yang sebagai juga sedulur papat kanda pat untuk meenjadikan diri sebagai contoh buddhi sang ilahiah..Pemahaman diri yang terliputi dzat sebagaimana pemahaman akan saudara diri nafs amarrah ego, nafs sufiyah manas, nafs mutmainah buddi dan nafs lwanmah citta akan membawa pada pemahaman diri yang meningkat menjadi pemahaman nafs khamilah rhudiah..Dan tentu saja itu menerobos diri sebagai bhakta bhakti abdi kepada IA sang Khalik..

Mencapai Ia kesadaran yang menyadari tentang suksmsa sariram yang selalu dikontrol oleh kehendak ilahiah yang suci..Dan karena itu ia memahami tentang makna sang utusan wali dang hyang avataram untuk menjadi diri yang menikmati kesadaran ilahi..

salam guswar

april 19 2016

 

 

 

 

Tag: , , , , , , , ,

Panentheisme (Di dalam Tuhan) menurut Bhagawadgita

Agama sebagai jalan untuk menuju suatu kesadaran akan kebahagiaan, maka tentu saja dapat dianalisa dengan berbagai pandangan tersendiri. Tidak ada yang mutlak benar dan pasti salah, karena pada dasarnya Tuhan Yang Esa adalah sebagai Acintya, yang tidak akan mampu dipikirkan. Logika, Akal, Pikiran, Rasa, Jiwa, semua tunduk pada sebuah kesadaran, Kesadaran yang hanya akan dicapai oleh sebuah tingkat yang memiliki perbedaan pula. Kesadaran yang membawa pada sebuah kebahagiaan tentunya untuk disebarkan kepada yang lain. Ketika diri sendiri tidak berbahagia dan menyadari akan sebuah kesadaran yang Hakiki, apa yang layak disebarkan??

images (4)

Tuhan dalam hal ini brahman atau dalam sebutan lain di agama apa pun, memiliki beberapa pandangan yang bisa dirasai oleh sadar itu sendiri.

Monotheisme adalah bagaimana IA tuhan adalah satu sahaja,tidak ada yang lainnya, yang maha besar, maha agung, maha kuasa, maha tahu dan sebagaiNYA, dunia diciptakan olehNya, berakhir di dia semata. 

Monisme dan pantheisme adalah konsep dimana seluruhNya adalah Tuhan, artinya dimana-mana IA berada, dimana-mana IA merasuk ke dalam apa pun, dan dengan itu maka tidak ada mungkin suatu kesemena-menaan akan ciptaanNYA, karena itu juga adalah IA semata. Dalam bhgwadgita secara sekilas disebutkan.. “Aku berada di seluruh mahluk sebagai ruh yang Utama, mereka yang sadar akan itu dan mengimani itu, namun tidak merosot ia karena itu, adalah seseorang yang berjalan pada jalan kerohanian.”

Panentheisme adalah konsep dimana IA Tuhan adalah maha Besar, dan manusia, kita berada pada kesadaranNya, bahwa kita berada di dalamNya. Kita hanya bagian kecil dariNYA, kita hanya bagian sangat-sangat kecil dan menjadikan sebagai sebuah atom diantara semestaNYA, kita hanya merupakan bagian dari Wajah,telinga, tubuh, tangan, kaki, jari, atau selnya, dari semesta kita hanya setitik kecil dari lautan samudra kesadaranNYA. Karena itu, sebenarnya kita hidup atau mati hanya berada pada kesadaran kecilNYA, satu kali brahman bangun hidup dan kembali terdiam, adalah satu kali pralaya itu mengada, dan kita hnya bagian dari itu saja. Betapa kecil kita sebenarnya.

Dan namun tentu saja itu adalah bagian kesadaran kita semata, kita lupa dan tidak berbahagia ketika kesadaran tentangNYA tidak didapatkan, kita telah dan selalu akan berada di dalamNYA, Namun karena ketidak sadaran dari ATMAN Brahman Aikyam, maka atman dan citta terbungkus oleh ahamkara (ego) yang menggelapkan manah dan budhhi itu sendiri sebagai bagian saudara dan lapisan atman itu sendiri.

Sebagai ingatan selubung atman adalah berturut-turut Atman, Citta (intuisi memori), Buddhi (akal wiweka), Manah (pikiran penguasa inderawi), Ahamkara atau ego. Maka selubung itu yang tidak menyadarkan manusia untuk mengetahui diri sebagai Hyang Agung itu sendiri. Dalam konsep Buana Agung Buana Alit, maka manusia adalah menyadari akan dirinya sebagai buana alit dan juga bagian dari buana agung itu sendiri. Di mana kedua hal itu tidak dapat terpisahkan..

Maka ketika sebuah kesadaran entitas diri, sebagai yg selalu terhubung pada keilahian dan kebenaran yang berbahagia, maka begitu pula diri akan selalu merasa berada di dalamNYA.. Dalam berbagai kitab hindu, banyak tersirat dari konsep kemahaBesaran hyang kuasa, serta keagunganNYA, yang siap ditemui pada tingkat kesadaran tertinggi serta kebahagiaan yang benar hakiki..

Bhgwadgita IX-6 ..

Yathakasha-sthito nityam watuh sarwatra-go mahan,  tatha sarwani bhutani mat-sthanity upadharaya..

Artinya :seperti udara yang perkasa yg bergerak dimana-mana, senantiasa berada di ruang angkasa(akasa)..ketahuilah bahwa dengan cara yang sama seluruh keberadaan ini berada di dalamKU..

Bhagawadgita IX-7

Sarwa bhutani kaunteya prakerthim yanti mamikam, kaloa ksaye punas tani kalpadau wisrjamy aham..

Artinya : seluruh mahluk, wahai putra kunti , masuk ke dalam sifat alam (prkrt)-Ku, pada setiap akhir siklus(kalpa) oada awal siklus (kalpa)berikutNYA Aku kembalikan lagi mereka itu…

Dalan kedua sloka bhgwdgita diatas, maka dpat disimpulkan bahkan udara berada di dalamNYA tuhan yg maha besar, serta seluruh mahluk terliputi terkuasai oleh alam prkerti hyang Kuasa, walaupun mereka  menyangkalnya, tetap saja mereka berada di dalam sifati prkerti hyang maha besar itu..

Kemudian di bhgwadgita IX-13.,

Mahatmanas tu mam partha daiwim prkertim asritah, bhajanty ananya-manaso jnatwa bhutadim awyayam.,

Artinya : Roh roh agung, wahai partha, yg memiliki sifat2 ilahi(daiwi prkrthim), yang mengetahui AKU sebagai sumber abadi segala mahluk, memujaKu dengan pikiran yang mantap..

Bhwagawadgita, IX-4

Maya tatam idam sarwan jagad awyakta-murtina, Mat-sthani sarwa-bhutani na caham tesw awasthitah..

Artinya ., seluruh alam semesta inu terselimuti olehKU melalui wujudKU, yg tak termanifestasikan..Semua mahluk ada padaKU, tetapi Aku tak ada pada mereka..

Dalam sloka di atas, maka maya prkerti atau sifati ilahi yaitu satwik rajasik tamasik, ada dalam daiwik prkrtim di roh2 agung yg mngerti bahwa IA yang kuasa berada di sifati daiwi yg satwika dan rajasikam,..Kemudian bahwa seluruh mahluk yang berada di dalamNYA, tidak akan bisa lepas dari prkrtiNYA, apakah daiwi prkrthim, atau mohini prkrtim (keakuan palsu) dan keagunganNYA, menyebutkan bhwa IA yang KUAsa, tiada terpengaruh oleh kedua itu, namun kedua itu selalu berada di dalamNYA…

Kemudian apa yg menjadi daiwi prkrtih dan mohini prkrtih yg berada di dalamNYA, dapat disebutkan pada sloka berikut :

Bhgwdgita X-4

Buddhir jnanam assamohah ksama satyam damah samah,sukham duhkham bhwavo, bhayam cabhayam evacha..

Artinya ..pemahaman, pengethuan, bebas dari kebingungan,kesabaran, kebenaran,pengendalian diri dan ketenangan, kesenangan dan dukha,keberadaan, dan ketidak adaan, ketakutan dan keberanian…

Bhgwdgita X-5

Ahimsa samata tuatis tapo danam yaso yasah, bhwanti,bhawa bhutanam, matta eva prthag-widhah..

Artinya,, tanpa kekerasan,keseimbangan pikiran, kepuasan, kesederhanaan, amal sedekah, kemasyuran dan kehinaan, semuanya ini adalah keadaan daru mahluk2 yang hanya berasal dari AKU saja.,,

Dalam sloka kedua diatas, dapat diambil pemahaman bhwa semua sifati dunia ilahi, atau dri sifati mohini berasal dari IA yang Maha KUAsa, dan berada pada prakertiNYA, tentunya kesadaran yg berada di dalamNYA..kemudian bhwa yang mencariNYA dalam kesadaranNYA yg menuju kebahagiaan sejati…walaupun sangkalan dan pengethuan yg mnjauh dariNYA, tetap saja itu berada di dalam IA semata, karena mahkukNYA sesungguhnya hnya dpat memilih, mnjadi yg sadar atau berada di ketidaksadaran…krna semua berada di dalamNYA(panentheism)..semakin menyangkal, maka tidak berguna, krna sudah selalu berada di kesadaranNYA..

Salam gwar  Agust 2014

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Agustus 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , ,

..Kafir, Nastika, Carwaka-Hedonism, Atheism, Agnotism-Kapitalsim,Sosialism,Nusantaraism..

budak budak jaman

budak budak jaman

Mengenal suatu tinjauan akan makna, pemahaman serta keberadaan dari berbagai kata-kata yang menuju pada keekslusfian, dan bahkan suatu kebebrokan atas yang bernama mentalitas, prilaku radikal serta filsafati liar dan  hanya memandang kedogmatisan, kegalauan rahysa, kedunguan, serta keberhalaan dunia. Maka dalam paham itu bisa diambil suatu benang merah tersendiri yang membuka sedikit suksmaning ati untuk mengubah dan mendekeontruksi atau pula merekontruksi, baik itu fikir, baik itu laku, baik itu paradigma yang lebih menuju sikap keuniversalitasan rahasia magis sebuah KEKUATAN AGUNG….

I. KAFIR NASTIKA CARWAKA.

Bahwa dari beberapa kata atau istilah di atas, maka akan terbuka sedikit kesamaan, atau bahkan meleburkan suatu motivasi spiritual (bukan ambisi) untuk lebih memahami (prtyaksa,anumana,agama pramana) secara filsafati, secara susila (etika), atau bahkan secara upacara(ritualisme).

Sebagai bahasan bagaimana sifat kekafiran yang berasal dari filsafat islam, yang sebenarnya adalah meniadakan atau membungkam mereka-mereka yang memberhalakan Tuhan (Allah), menyekutukan Allah, membuat Allah sebagai nomor dua. Jika itu dilihat dari Shallow Thinking (Pemikiran yang dangkal), maka jelas berarti bahwa dewa-dewa, patung, pohon, inkarnasi, atau dan sebagainya sebagai keberhalaan. Bahkan ada atau terdapat ayat yang memotong kepala kafir, darah kafir halal, atau kekerasan lainnya. Namun mereka lupa jika bahwa berkata Al Quran adalah keniscayaan yang abadi, maka jaman akan menuju suatu perubahan sendiri akan semiotika Ayat2 tersebut. Seperti sbagaimana ditafsirkan oleh Nurcholis Madjid (mendalamkan hakikat ayat fitna), atau Gusdur yang mengemukakan pandangan universalitas, serta Gusmus yang mengkritik dengan mehakikatkan universalitas dalam tubuh islam itu sendiri.

Sebagai contoh jika kepala dipotong akan menggambarkan penghilangan ego, darah kafir halal artinya kafir itu layak untuk disadarkan (dalam bentuk dirinya sendiri), yang menerbayangkan kesucian muslim berada pada mereka juga. Lalu apa kafir itu sendiri???bahwa kafir adalah mencakup semuanya, jika ingin menyemuakan kafir, artinya bahwa diri adalah kafir pula. Bahwa diri adalah yang tidak atau lupa bahwa mereka masih memberhalakan Allah dalam wilayah mengagungkan Uang mengagungkan Harta, mengagunggkan kekuasaan, bahkan menindas yang tidak sejalan dan melupakan hakikat mereka sebagai manusia itu sendiri.

Sama seperti nastika yang tidak atau melihat mereka yang tidak mempercayai sebagai orang yang MERUGI. Bahwa memang mereka tidak percaya akan weda, namun hanya sebatas itu, sebatas pada pembicaraan debat, pembicaraaan hakikat, pembicaraan argumentasi pemahaman,dan menceritakan serta mengsinkretis pemahaman menjadi yang bersolusi. Rugi dalam artian bahwa mereka telah meninggalkan kebenaran yang bijak. Tapi itu hanya pengingatan, dan tetap bahwa mereka tergantung diri mereka.

Untuk Carwaka dapat dilihat sebagai suatu filsafat bagi mereka yang menjadi budak2 dari jaman, dari nafsu, dari ketidak benaran dan memuaskan diri mereka selagi mereka masih hidup dan meninggalkan filsafati Tuhan itu sendiri.

2.Hedonism-Atheism- Agnotism

Tiga dari suatu istilah di atas, sangat mengarah dan dekat dengan Keagamaan, Religiusitas, dan bahkan sebuah spiritualitas. Artinya adalah bahwa mereka menjadi seperti itu adalah apakah karena kehendak jaman, apakah karena kekurang mengertian kritikal mereka, atau pula karena kebencian mereka terhadap jaman itu sendiri.

Untuk yang memahami hedonism, adalah mereka yang bergerak persis sama sebagai carwaka yang hanya hidup untuk memuaskan nafsu mereka keinginan mereka akan dunia ini sbagai produk dari kemajuan jaman. DImanja mereka sampai mereka tidak ingat akan kemanusiaan mereka, lupa bahwa mereka adalah manusia, mereka ada agen-agen kebenaran, mereka adalah pejalan yang hampa, serta tunduk pada kedunguan indera mereka. Sehingga pada akhirnya mereka jatuh ke lobang atheisme. Yaitu tidak percaya akan Tuhan dan kekuatan gaib angkasa atau bumi. Mereka yang menjadi budak jaman, sebagai budak di neraka, sebagai budak yang akan nanti mendapatkan penghukuman serta melupakan etika (susila) yang luhur dan jatuh terjerembab pada lubang kegilaan. Intinya adalah menganggap tuhan telah mati, namun mereka hanya tertawa tanpa tau maksudnya.

Menuju pemahaman Agnotis dan atheism, adalah haruslah melihat berbagai faktor2 yang mengenalkan mereka pada filsafati tersebut. Maksdunya adalah apakah kerena dogmatisme yang hanya mengumpulkan jenasah2 korban peperangan idelatis agamais atau bahkan peperangan ekonomis yang secara langsung tidak langsung mennyebabkan kesenjangan atau juga kematian yang tragis bagi mereka yang kurang akan produk primer, makanan (kelaparan),papan (homeless), serta kegilaan lainnya.

3. Kapitalism (zionism),Sosialism,Nusantaraism.

Kemajuan jaman tidak lepas pula dari paham keberekonomian itu sendiri dalam menuju suatu kesejahteraan secara kolektif yang dibatasi pemborderan wilayah negara atau NKRI. Maksudnya adalah karakterisitik, idealistik dari kenusantaraan adalah sangat berbeda dengan dunia itu sendiri. Nusantara yang plural, universal, serta ramah tamah akan menjadi hal yang akan “hilang” lenyap “sirna kertaning bumi”..lenyap dimakan jaman atau apa pun itu, bahkan domgmatisme keras kepala dari apa yang dikatakan produk2 lain.

Maksudnya islam nusantara berbeda dengan arab, hindu nusantara berbeda dengan india, kristen nusantara berbeda dengan eropa, dan sebagainya. Itu lah yang membentuk karakteristik bangsa dan kekhasan dari setiap suku ras di nusantara ini. Kekuasaan kapitalis adalah bisa, namun pada akhirnya yang membobrokan alam dan lainnya adalah fakta, seperti lumpur lapindo, atau pengucapan sumpah penggantungan diri yang jika dibiarkan atau pembiarannya mengakibatkan amarah serta kemeledakan sabar akan arti revolusianism. Bahwa sukarno pun berkata Revolusi belum selesai.

Ada yang ingat pancasila???????

Hanya sedikit yang tau bahwa sangat salah memaksakan agama pada butir2 sila pertama, sangat salah bertindak biadab pada butir2 sila kedua, sangat salah mengagungkan golongan dibanding negara seperti butir ketiga, atau kedunguan dan kebodohan wakil rakyat yang memperkaya diri seperit butir ke keempat, dan kesederhanaan serta un materialism sila kelima.

Kelupaan itu mengakibatkan jatuhnya mereka ke lobang yang disebut lobang tidak diterima bumi tidak dihargai langit (yg dekat dengan kafir), yang tidak mempercayai kebhinekaan tunggal ika (dkat dngan nastika), yang mengabdi dan membudaki diri pada nafsu dunia (kapitalism)..seperti carwaka…

SAMPAIIII KAPAAAN?????????

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2013 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Ego manusia yang memberi takdir kepada manusia lainnya…

Apa teriakan bermakna??

Di saat menyata pada emosi…

Yang lebih besar dari takdir manusia itu sendiri..

Takdir sebagai mahluk budi dharma ???

——————————————————————-

Apa kau bisa membuat mereka yang telah tiada??

Apa kah akan kau katakan, ..ini air mani , mana telurnya??

Lalu siapa itu yang kau takdirkan, Mati??

Siapa yang menjamin engkau menjadi malaikat maut yang benar??…

Lalu apa yakinmu jika itu menjadi pahala burukmu,

kemana kau mendapat tempat mengadu??

Mati itu tiada akan guna sesal….

Kembalkan mati itu saja?? bisa kah??

——————————————————-

Emosi yang memBABI buta…

Dan “punggung” itu masih ada di dirimu..

Bawa saja beban itu??

Toh kau sudah tahu sudah mendapat tempat di alam sana…

abadikah??

—————————————————————————-

Ya sudah lah,

terjadi terjadi ya begitulah….

terkadang tersenyum miris, melihat merasa…

bahwa kengerian di alamNya…terngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang…

———————————————————————

gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Pantheisme dalam Teologi Hindu

1. Latar Belakang

            Cara memahami bagaimana Tuhan itu, sangatlah memiliki kesubjektifan tersediri antara masing-masing penganut suatu agama. Seperti dalam analoginya bagaimana mengenal Tuhan yang diistilahkan sebagai seekor gajah yang diteliti oleh tiga orang buta. Setiap orang buta tersebut memeriksa bagian ekor, bagian telinga, serta pula bagian kakinya. Hal tersebut akan juga menimbulkan pemahaman yang berbeda pada akhirnya bagaimana mendeskripsikan Tuhan tersebut.

Seperti pula ketiga orang buta tersebut, yang menemukan persepsi Tuhan secara berbeda dengan hasil yang berbeda pula, maka konsep tentang ketuhanan memiliki beberapa hasil pemahaman yang berbeda. Di antaranya adalah paham monotheisme, politheisme, pantheisme, atau atheisme. Paham-paham itu ada yang bertahan atau mengalami perubahan serta mulai berkembang sebagai studi ilmu pengetahuan dan pemahaman spiritual yang sesuai dengan pemahaman jaman dewasa ini.

Ketika melihat bahwa perkembangan jaman di masa sekarang, maka telah sampailah manusia pada suatu masa yang perlu ditelaah lagi bagaimana penerapan konsep ketuhanan dalam agama masing-masing. Berdasarkan sejarah telah banyak terlihat bagaimana pemahaman yang ada (monotheisme), memiliki sejarah kelam dalam penerapan serta penyeberannya. Dapat dilihat bagaimana agama abrahamik (yahudi, islam, Kristen) yang menaruh atau meletakkan Tuhan di atas alam semesta dan memusatkan diri Tuhan sebagai Pencipta yang tunggal, yang berada di luar universum. Keterbatasan ini dapat menimbulkan alam menjadi suatu ajang penguasaan dan kehilangan kesuciannya.

Toynbee mengatakan, pemujaan terhadap Tuhan antropomorfik (monotheisme) menyebabkan konflik dan perang. Pemujaan terhadap Tuhan monotheistik membuat para pemeluknya masing-masing bermusuhan karena agama ini adalah ekpresi dari sifat mementingkan diri sendiri; dan karena ego kolektif lebih berbahaya sebagai objek pemujaan dari pada ego individual.

Pada salah satu sejarah antara peperangan agama abrahamik, disebutkan bahwa kepercayaan tunggal yang tiada terjamah dan suci di luar alam, yang tidak dapat disanggah kesuciannya dan keagungannya, mengakibatkan jaman menjadi penuh darah serta ketidakadilan. Dapat dilihat bagaimana Tuhan langit (sky god) yang sangat pencemburu tidak menginginkan umatnya untuk bisa menganggap adanya Tuhan lain yang menyamai Tuhannya. Bahkan tanpa mau peduli menghancurkan berhala-berhala yang dianggap suci dan menyatakan itu sebagai bukan hal yang saleh dan benar sesuai Tuhan mereka.

Pada dewasa ini, kejadian perang agama telah sampai pada tahap yang mengguncang dunia. Seperti pula yang terjadi pada peledakan gedung WTC di amerika. Hal tersebut telah menjadi satu peperangan terhadap apa-apa yang disebut terorisme itu sendiri. Seperti juga yang terjadi di Indonesia. Terjadi pengeboman malam natal pada tahun 2000 dan juga peristiwa bom Bali yang membuat pemerintah menyadari bahwa teroris sudah ada di tengah kita.

Jadi apa yang menjadi suatu kekurangan di sana adalah bahwa monotheisme menunjukkan satu ihwal Tuhan yang tidak bisa digugat atau dijamah kesucian serta apa-apa yang diturunkan oleh Tuhan tersebut. Memandang hal tersebut maka hendaknya sebagai umat yang bangsa yang menyondongkan diri atas sifat-sifat toleransi, alangkah baiknya jika paham-paham Ketuhanan lain bisa disebutkan sebagai suatu pelengkap atas apa yang telah ada. Seperti suatu paham yang disebut Pantheisme.

Hindu sebagai sebuah agama memiliki suatu pemahaman monotheisme. Hal itu tercantum juga dalam istilah hindu yang melihat Tuhan sebagai Brahman yang tiada duanya. Istilah seperti “Ekam eva adityam brahman”, “Ekam sat wiprah bahuda wadanti”, serta “eko narayano na dwityo asti kascit”, adalah bentuk pemahaman Hindu yang menunjukkan bahwa Tuhan atau Brahman sebagai bentuk yang satu dan tertinggi. Tetapi tidak tertutup kemungkinan akan bahwa terdapat pemahaman Hindu tentang konsep keTuhanan dari sudut pandang lainnya. Seperti pula pemahaman ketuhanan berdasarkan konsep pantheisme.

Keberagaman pemahaman keTuhanan dalam Hindu bukanlah suatu permasalahan. Seperti yang disebutkan oleh R.C.Zaehner bahwa dalam agama Hindu tidak terdapat suatu pengekangan, dan oleh karenanya, Hinduisme seperti mengajar kita dalam tradisi tunggalnya, bahwa banyak ragam mistisisme yang dapat kita kumpulkan dari penampakan-penampakan yang harus diinterpretasikan melawan teologi dogmatis yang terberi. Pengalaman mistik yang beragam itu tentunya diinterpretasikan secara beragam, begitu juga tradisi Hindu itu sendiri.

Pantheisme adalah suatu paham yang menyebutkan semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Jadi pantheisme menyebutkan bagaimana kita bisa sejajar dan sejalan dengan alam sekitar serta bagaimana mahluk-mahluk dari ciptaanNya. Karena di sana pun ada Tuhan. Di dalam Hindu hal ini berhubungan dengan filsafat Wyapi Wyapaka, Tat Twam Asi, atau pun Aham Brahman Asmi.

Pantheisme sebagai istilah sebenarnya diperkenalkan oleh penulis Inggris John Toland pada tahun 1705. Sedangkan istilah panenteisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1874, yang berasal dari kata-kata Yunani pan-en-theos, artinya “Semua dalam Tuhan”. Tuhan masih dipandang sebagai pencipta yang maha kuasa dan hakim personal, tetapi dia tidak lagi secara keseluruhan terpisah dari ciptaannya. Bagian dari dirinya mengatasi ruang dan waktu, jadi dia lebih besar dari Alam Semesta dan mendahuluinya. Tapi pada saat yang sama ia hadir dalam seluruh semesta, dalam setiap atom dan setiap mahluk hidup. (Putra Ngakan,2008,69)

Dari latar belakang di atas maka dapat disebutkan beberapa rumusan masalah, yaitu. Bagaimana konsep pemahaman pantheisme dalam hindu, bagaimana implementasi pemahaman pantheisme tersebut serta bagaimana manfaat dari pemahaman pantheisme tersebut.

2. Keberadaan Pantheisme dalam Teologi Hindu.

            Panteisme atau pantheisme (Yunani: πάν ( ‘pan’ ) = semua dan θεός ( ‘theos’ ) = Tuhan) secara harafiah artinya adalah “Tuhan adalah Semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”. Ini merupakan sebuah pendapat bahwa segala barang merupakan Tuhan abstrak imanen yang mencakup semuanya; atau bahwa Alam Semesta, atau alam, dan Tuhan adalah sama. Definisi yang lebih mendetail cenderung menekankan gagasan bahwa hukum alam, Keadaan, dan Alam Semesta (jumlah total dari semuanya adalah dan akan selalu) diwakili atau dipersonifikasikan dalam prinsip teologis ‘Tuhan’ atau ‘Dewa’ yang abstrak.(wikipedia).

Di dalam filsafat Ketuhanan, pandangan tentang Tuhan Yang Maha Esa dapat dijumpai beraneka ragam, sebagai berikut :

  1. Animisme : Keyakinan akan adanya roh bahwa segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh yang berbeda-beda pula.
  2. Dinamisme : Keyakinan tterhadap adanya kekuatan-kekuatan alam
  3. Totemisme : Keyakinan akan adanya binatang keramat, yang sangat dihormati.
  4. Polytheisme : keyakinan terhadap adanya banyak Tuhan.
  5. Natural Polytheisme : keyakinan terhadap adanya banyak Tuhan sebagai penguasa berbagai aspek alam.
  6. Henotheisme : Keyakinan terhadap adanya dewa tertinggi pada suatu masa akan digantikan oleh dewa yang lain.
  7. Pantheisme : Keyakinan bahwa di mana-mana serba Tuhan atau setiap aspek alam digambarkan dikuasai oleh Tuhan.
  8. Monotheisme : Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa (Tuhan yang satu).
  9. Monisme : Keyakinan terhadap Keesaan Tuhan yang Maha Esa merupakan hakekat alam semesta.(Titib, 2003, 31).

Jadi dijelaskan di atas bagaimana penjelasan atas paham ketuhanan pantheisme. Menurut Loeis Leahy, SJ, (Ngakan Putu, 2008, 69) menyebutkan ada lima sumber pantheisme, tetapi dikutip dua saja karena mewakili yaitu :

  1. Tiap keragaman (multiplisitas ) sejatinya nampak sebagai sama sekali tidak dipahami, oleh karena itu tidak bersifat nyata. Roh mencari kesatuan, dan tidak menemukan ketenangan sebelum ia berhasil menundukkan keragaman itu ke dalam kesatuan. Bukan saja filasafat menyatakannya; kegiatan ilmiah pun menyatakannya. Parmenides berpandapat : Agar dua mahluk (“ada”) bisa betul-betul secara memadai berbeda, mereka haruslah berbeda satu sama lain dari pihak “ada”nya sendiri. Tetapi itu mustahil, sebab “ada” (being) tidak dapat dibedakan, baik oleh dirinya sendiri, sebab yang sama tidak dapat membedakan diri dengan hal yang sama. “Ada” adalah kesatuan hal-hal; maupun oleh hal lain, sebab di luar “ada” tidak ada sesuatu pun. Jadi haruslah pada hakekatnya hanya “ada”yang sama dalam segala hal.
  2. Ketidak-terbatasan Tuhan. Bila Tuhan tidak terbatas ia mencakup semuanya di dalam dirinya, sehingga tidak ada satu aspek pun dan satu modus “ada” pun yang tidak terdapat di dalamNya. Bila demikian itulah halnya, bagaimana Ia bisa berbeda dari hal-hal lain secara radikal? Bila Tuhan adalah Ada yang Menyeluruh, tidak mungkin ada sesuatu di luar Dia. Bila sesuatu ada sesungguhnya di luar Dia, berarti Dia terbatas karenanya. Maka haruslah disimpulkan bahwa Tuhan tidak secara nyata dan radikal berbeda dari hal-hal yang lain.

Pantheisme; berasal dari kata “pan” yang berarti semuanya dan “theo” yang berarti “Tuhan”; adalah keyakinan agama atau teori filsafat bahwa Tuhan dan alam identik (secara implisit menolak monotheisme satu Tuhan berpribadi dan menjauhkan diri dari ciptaan); doktrin bahwa Tuhan adalah segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Atau doktrin bahwa alam semesta dipandang secara satu keseluruhan adalah Tuhan dan, atau, sebaliknya, bahwa tidak ada Tuhan kecuali substansi, kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum yang dikombinasikan yang dimanifestasikan di dalam semesta yang ada.(Ngakan putu, 2008, 65).

Pengertian ketuhanan dalam hindu adalah bagaimana cara hindu memandang wujud Tuhan itu sendiri. Maka keberadaan Tuhan atau Brahman dalam agama Hindu adalah yang berwujud dan yang tidak berwujud. Tuhan dalam agama Hindu terutama di Bali disebutkan sebagai Sang Hyang Widhi yang berarti Sang Pencipta atau penguasa hukum dan pengendali (Titib, 14, 2003). Timbul pertanyaan apakah brahma atau siva sama dengan sang hyang widhi? Pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui sloka ini :

 

Indram mitram varunam agnim ahur

Atho divyah sa suparno garutman

Ekam sadvipra bahudavadhanty

Agnim yamam matarisvanam ahuh (Reg weda I.164.46)

“Mereka yang menyebut-Nya dengan Indra, mitra, varuna, dan agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, para maharsi (viprah) memberinya banyak nama, mereka menyebut Indra, Yama, Matarisvan.

Jadi dengan itu bisa dikatakan bahwa Tuhan itu esa dan orang bijak menyebutNya dengan banyak nama yang indah. Tuhan yang mencipta alam semesta itu tidak berwujud (impersonal god). Namun pada saat Sang Hyang Widhi menerima persembahan, maka Ia berwujud sebagai personifikasiNya. Brahma, Wisnu, Siwa sebagai suatu kesatuan Tri Murti yang diwujudkan dalam alam pikiran.

Dalam agama lainnya ada arah perkembangan antara bahwa proses agama itu adalah dari politheisme, monotheisme, dan menuju pantheisme. Lalu kembali lagi menjadi politheisme seperti sejarah-sejarah dari agamab dapat dilihat sebagai berikut:

Tuhan agama Yahudi disebut Yahweh. Pada mulanya Yahweh adalah ajudan dewa perang yang sangat buas. Yahweh bukanlah dewa asli orang Yahudi. Ia berasal dari suku bangsa Midian dan oleh Moses dimasukkan dalam jajaran dewa-dewa orang Yahudi. Hampir lima abad lamanya Yahweh hanya mendapat kedudukan yang tidak penting. Selama lima abad itu Yahweh pernah digabung atau dikawinkan dengan dewa atau dewi Yahudi yang lain. Setelah bergulat selama lima ratus tahun, akhirnya Yahweh dapat mengalahkan dewa-dewa lain dan menjadi Dewa Tertinggi atau Tuhan satu-satunya.

Dari hanya ajudan dewa perang menjadi Tuhan satu-satunya, Yahweh telah melakukan perjuangan keras. Artinya para pengikut Yahweh telah melakukan pengucilan, pengusiran dan pembunuhan terhadap pengikut-pengikut dewa-dewa Yahudi lainnya. Dan pembakaran terhadap kuil-kuil dewa-dewa lainnya. Monotheisme Yahudi memang ditegakkan melalui jalan berdarah. Sekalipun agama Yahudi telah menetapkan Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan, tapi Torah, kitab suci mereka masih mempercayai banyak dewa.

Agama Kristen pada mulanya hanyalah satu sekte kecil dari agama Yahudi. Yesus Kristus, pendiri agama Kristen pada mulanya adalah seorang guru agama yang mengajar secara berkeliling sambil memberikan pengobatan kepada orang-orang Yahudi. Karena Yesus banyak mengeritik praktek-praktek agama Yahudi pada jamannya, maka para pemuka Yahudi bekerjasama dengan penguasa Romawi yang menjajah negeri Israel, bersekongkol untuk menghukum mati Yesus dikayu salib. Ajaran-ajaran Yesus dianggap bida’ah, atau sesat.

Berkat kegigihan para murid Yesus, sekte kecil yang bergerak secara tersembunyi ini kemudian berkembang menjasi agama tersendiri, yaitu agama Kristen. Para pemeluk agama baru ini enggan mengakui Yahweh sebagai Tuhan mereka. Mereka menetapkan konsep ketuhanannya sendiri, yang disebut Trinitas, yaitu Roh Kudus, Tuhan Bapa dan Tuhan Anak yaitu Yesus. Penetapan konsep Trinitas ini dilakukan dalam beberapa kali musyawarah antara para pemuka gereja yang berbeda pendapat. Setelah melalui proses panjang, hampir 450 tahun, konsep Trinitas ini disepakati

Setelah berabad-abad lamanya orang Yahudi menganut monotheisme (mengakui Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan), dan hampir 200 tahun setelah agama Kristen mantap dengan konsep Trinitasnya, bangsa Arab masih menyembah banyak dewa. Di antara dewa-dewa Arab itu yang banyak dipuja adalah Al-Lah, dewa kemakmuran, disebut juga dewa air karena dipercaya memberi hujan dan air bagi bagi orang-orang Arab. Dewa-dewa Arab yang lain adalah Al-Rahman (pengasih), Al-Rahim (selamanya pengasih), Al Malik (raja), Dewi-dewi Arab adalah Anat, Maniat dan Ujja. Mereka bertiga adalah putri Al-Lah. ***)

Pada abad 6 M, Mohammad – menurut keyakinan Islam, karena perintah Allah – mengajak orang-orang Arab hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Tapi ajakan ini tidak diterima oleh mayoritas orang Arab, terutama suku Quraish. Setelah melalui perjuangan keras, antara lain dengan konflik- konflik bersenjata antara pengikut dan penentang Mohammad, akhirnya pengikut Mohammad menang. Dan Allah diakui sebagai satu-satunya Tuhan oleh seluruh bangsa Arab. Demikianlah dari jasirah Arab ini agama Islam berkembang. Dan Islam menganut monotheisme yang sangat ketat. Tiada Tuhan selain Allah, demikian keyakinan Islam.

Namun Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama (Asma’ul Husna). Nama-nama itu, disamping Allah antara lain Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik, yang artinya sama dengan nama dewa-dewa di atas. Allah juga bernama Al-Haqq (Kebenaran), Al Qahtar (yang mendominasi dan mematahkan punggung musuh-musuhNya), Al-Muntaqinu (yang memberi siksaan), Assaburru (yang maha penyabar). Prinsip Ketuhanan dalam agama Islam disebut Tawhid yang secara harfiah berarti “menyatukan” atau “Mengesakan” atau “mempersatukan”.

Jika memang itu adalah suatu proses, maka dalam peradaban sekarang ini terdapat suatu pemahaman yang mulai berkembang. Yaitu paham pantheisme dalam beragama. Paham pantheisme yang terdapat dalam hindu dimana alam(semua) adalah Tuhan atau Tuhan adalah semua dapat dilihat dari pemahaman filsafat Tat Twam Asi, Wyapi Wyapaka, Aham Bramman Asmi.

Paham ketuhanan pantheisme dapat dijelaskan atau dilihat pada sloka-sloka berikut:

 

Bhagawadgita XI.40.

Namah puras tas artha prstha taste

Mamostu te sarvata eva sarva

Ananta vi rya mitavikramastvam

Sarvam samapnosi sarvah.

Artinya : Hormat pada-Mu pada semua sisi, O Tuhan. Engkau adalah semua yang ada, tak terbatas dalam kekuatan, tak terbatas dalam keperkasaan. Karena itu engkau adalah semua itu.

 

Svestasvara Upanishad II.17

Yo devo’gnayu yo’psu, yo visvam bhuvanama visesa,

Yo asadishu yp vanaspatisu, tasmai devaya namo namah.

Artinya : Sujud pada Tuhan yang berada dalam api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu.

 

  1. 3.     Implementasi dan Manfaat Pantheisme dalam kehidupan masyarakat.

Implementasi dalam paham pantheisme sebenarnya adalah menanggulangi berbagai ekslusifitas agama serta paham yang buta terhadap Tuhan yang satu dan dibela mati-matian. Ini sangat berpengaruh pada kehidupan dan sosialitas di masyarakat, serta pula bagaimana kehidupan bernegara dan berbangsa.

Dalam rangka mengeleminasi segala permasalahan yang mengarah kepada disharmonisasi dan disintegrasi, kiranya diperlukan revitalisasi terhadap tafsir ajaran Agama agar tetap eksis dan bermakna di tengah – tengah kehidupan global dewasa ini, selanjutnya diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari – hari secara proporsional, paling tidak menyangkut dua hal yaitu :

1. Keimanan kepada yang Absolut dengan segala sifat keabsolutan-Nya ( terkait dengan nilai – nilai spiritual yang harus dan wajib diamalkan ).
2. Pengamalan nilai – nilai yang bersifat ” munden “, keduniawian untuk mengatur kehidupan bersama, menyangkut masalah moral dan etik.

Berkaitan dengan keimanan , Agama Hindu mengajarkan ” Panca Sraddha ” ( Puniatmaja : 1971 ) yaitu lima dasar keyakinan yang meliputi keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ( Brahman ), keyakinan pada Jiwa Sejati ( Atman ), keyakinan pada hukum karma ( Karmaphala ), keyakinan pada penjelmaan kembali ( Punarbhava ), dan keyakinan pada pembebasan dari penjelmaan ( Moksa ).

Konsep Hindu tentang Tuhan, lebih jauh dijelaskan oleh Visvanathan (2000 : 28 ) yang didasarkan pada Veda adalah bahwa :

  1. Semua datang dari ” Satu Itu ” yang tidak dapat didefinisikan disebut Brahman yang kekal abadi ( monisme ).
  2. Segala sesuatu datang dari ” Itu “, maka semua eksistensi adalah baik dan suci ( pantheisme ).

3. Hanya ada satu Tuhan, ” Ekam Sat ” ( monotheisme ).

4. Semua dari kita adalah Dewa – Dewa, Jivi sebagai pancaran sinar suci immanen ( dvaita ).

5. Mencari Tuhan adalah seperti sesendok garam mencari dasar samudera. Pada saat garam itu menyentuh permukaan samudera maka ia menjadi bagian yang tak terpisahkan ( Visistadvaita ).

Konsep tentang Atman sampai dengan Moksa dapat dijelaskan sebagai berikut :
Atman adalah penyebab segala sesuatu itu hidup. Ia adalah sinar Brahman Yang Esa. Ia berada didalam setiap makhluk dan juga berada di luar ” Tat Tvam Asi ” ( Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu ). Ketika berada didalam tubuh dia disebut Jivi atau Jiwa. Ketika tubuh ini ditinggalkan maka tubuh ini mati dan menjadi hancur, namun Atman tetap kekal ( Katha Upanisad I.2.18 dan II.2.4 ). Sang Jiwa yang terbungkus dalam Roh pergi membawa kesan karma / perbuatan selama ia berada dalam tubuh yang tidak kekal. Segala bentuk perbuatan atau karmanya selama menghuni tubuh, akan memperoleh pahala yang setimpal dan sang Jiwa/Roh yang masih terikat oleh dunia maya akan mencari badan yang baru atau lahir kembali yang disebut Punarbhava. Tetapi apabila Sang Jiwa selama menghuni badan terbebas dari belenggu dunia maya, ia melihat semua makhluk ada pada dirinya dan dirinya berada pada semua makhluk serta tiada lagi rahasia yang tersembunyi ( Isa Upanisad 6 ), maka Sang Jiwa mencapai identitas Atman yang suci, menemukan kesadaran yang tak terbatas dan menyatu dengan Brahman. Bagaikan lampu yang memperlihatkan sinar yang dapat pergi jauh diluar batas materialnya dan memproklamirkan hubungan persaudaraannya dengan matahari. Itulah cita – cita akhir dari kehidupan, mencapai ” ananda rupam “, wujud kebahagiaan kekal, terbebas dari suka – duka yang disebut Moksa.
Demikian ajaran Panca Sraddha merupakan nilai, norma, bahkan sebagai hukum yang absolut karena berasal dari Brahman Yang Esa dan Abadi.

Untuk menetapi Sraddha tersebut umat Hindu mengamalkannya berdasarkan petunjuk Atharva Veda XII.1.1 yaitu dengan memantapkan keyakinan pada kebenaran Tuhan ( Satyam ), mentaati hukum suci-Nya ( Rtam ), melakukan penyucian diri ( Diksa ), pengendalian diri terhadap nafsu duniawi ( Tapa ), selalu berdoa memohon pencerahan ( Brahma ) dan melakukan korban suci untuk keselamatan dan kebahagiaan makhluk ( Yajna ). Aktualisasi pengamalannya bersifat relatif, sesuai desa – kala – patra ( tempat – waktu – kondisi ) sehingga tidak mengakibatkan terjadinya benturan / disharmoni, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat yang heterogen ( bhineka ) ini.
Agar pengamalannya tidak menyimpang ( sesat ) dari ajaran Veda maka perlu dipedomani ajaran ” Dharma Siddhyartha ” sebagai mana tercantum di dalam Veda Smrti VII.10 yang memuat lima aspek yang dijadikan dasar pertimbangan dalam menuangkan konsep ataupun bentuk amalan yang akan dilakukan, yaitu:

1.    Iksa adalah hakikat tujuan dari suatu kegiatan yang akan dilaksanakan.

2.  Sakti adalah kesadaran kemampuan fikir dan fisik materiil untuk mendukung suatu kegiatan.

3.  Desa adalah tempat kegiatan atau lingkungan kondusif yang dapat memperlancar suatu kegiatan.

4. Kala adalah waktu atau masa di dalam melaksanakan suatu kegiatan.

5. Tattva adalah dasar keyakinan atau falsafah yang bersumber dari nilai suci Veda.

Keseluruhan ide pengamalan ajaran Agama Hindu baik absolutisme maupun relativisme, dapat dirumuskan dalam satu konsep yang disebut ” Tri Hita Karana “, yang mencakup hubungan manusia dengan Sang Pencipta dalam wujud bhakti yang murni; hubungan manusia dengan Negara, dengan umat beragama, maupun dengan sesama manusia; hubungan manusia dengan lingkungan secara harmoni.

1. Hubungan manusia dengan Tuhan hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa ” Tuhan adalah kebenaran pengetahuan yang tak terbatas ( Sat Citta Ananda Brahman ) dan Ia adalah dari mana semua ini berasal ( Janmadhyasya yatah ) “, sebagaimana diungkapkan didalam kitab Maha Nirvana Tantra dan Brahma Sutra I.1.2. Sehubungan dengan itu kitab suci Bhagawad Gita adhyaya XI sloka 55 dan XVIII.65 menyatakan :

“Yang bekerja bagi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi,
berbakti kepada-Ku tanpa kepentingan pribadi,tiada bermusuhan terhadap segala insani,
dialah yang datang kepada-Ku, oh Pandawa ”

” Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbakti pada-Ku,

bersujud pada-Ku, sembahlah Aku

engkau akan tiba pada-Ku, Aku berjanji

setulusnya padamu sebab engkau Ku-kasihi ”

  1. Hubungan manusia / warganegara dengan Negara, dan sesama umat beragama, maupun dengan sesama manusia hendaknya mengarah pada kerukunan, motivasi juang, persatuan dan kesatuan, baik dalam cita – cita, pikiran maupun sikap, guna menghadapi masalah bangsa dan negara menuju kebahagiaan serta perdamaian yang kekal.

a. Tentang hubungan warganegara terhadap Negara dijelaskan dalam kitab suci Yajur Veda IX.22 dan 23, Atharva Veda XII.1.2 serta Veda Smrti VII.13, 14 dan 18 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Kami menghormati Ibu Pertiwi. ( Yaj.V. IX.22 )

Semoga kami waspada menjaga dan melindungi bangsa dan negara kami. ( Yaj.V. IX.23 )

Semoga kami dapat berkorban untuk kemuliaan bangsa dan negara kami ” ( Ath.V. XII.1.2 )

” Karena itu hendaknya jangan seorangpun melanggar undang – undang yang dikeluarkan oleh pimpinan negara, baik karena menguntungkan seseorang maupun yang merugikan pihak yang tidak menghendakinya ”

( V.Smrti. VII.13 )
” Demi untuk itu, Tuhan telah menciptakan Dharma, pelindung semua makhluk, penjelmaannya dalam wujud undang – undang merupakan bentuk kejayaan Brahman Yang Esa” ( V.Smrti VII.14 ).

” Sangsi hukum itu memerintah semua makhluk, hukum itu yang melindungi mereka, hukum yang berjaga selagi orang tidur, orang – orang bijaksana menyamakannya dengan Dharma ” ( V.Smrti VII.18 ).

b. Hubungan dengan sesama umat beragama, umat Hindu hendaknya percaya bahwa setiap agama mengandung nilai suci dan jalan menuju Kebenaran Tuhan ,sebagaimana disuratkan dalam Kitab suci Pancamo Veda IV.11 dan VII.21, 22 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana – mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Parta ”

“Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera ”

” Berpegang teguh pada kepercayaan itu, mereka berbakti pada kepercayaan itu pula dan dari baktinya itu mereka memperoleh pahala keuntungan yang sebenarnya dikabulkan oleh-Ku ”

c. Hubungan manusia dengan sesama warga bangsa bahkan seluruh manusia dijelaskan dalam Kitab suci Rg Veda X.191.2,3 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Wahai manusia, berjalanlah kamu seiring, berbicara bersama dan berfikirlah kearah yang sama, seperti para Deva dahulu membagi tugas mereka, begitulah mestinya engkau menggunakan hakmu.”

” Berkumpullah bersama, berfikir kearah satu tujuan yang sama, seperti yang telah Aku gariskan. Samakan hatimu dan satukan pikiranmu, agar engkau dapat mencapai tujuan hidup bersama dan bahagia. ”

  1. Selanjutnya mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya ( alam semesta ini ) hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa seluruh alam ini berasal dari Tuhan dan diberi makan oleh Tuhan Yang Maha Sempurna sebagaimana dinyatakan dalam Atharwa Veda X.8.29 dengan kalimat : ” Purnat purnam udacati purnanena vasisyate “. Demikianlah manusia harus menyadari bahwa dirinya merupakan suatu kesatuan dengan alam semesta ini didalam Tuhan. Kitab suci Isa Upanisad sloka 6 menyatakan :
    ” Yas tu sarvani bhutani atmanyevanupa?yati

sarva bhutesu catmanam tato na vijugupsate.”

Artinya:
” Dia yang melihat semua mahluk pada dirinya (Atman) dan dirinya (Atman) sendiri pada semua mahluk, Dia tidak lagi melihat adanya sesuatu perbedaaan dengan yang lain.”

Kebenaran Tuhan akan dimunculkan kepadanya bila dia mengerti kebenaran pada mahluk lain sesuai entitasnya, sehingga dengan kesadaran itu dia siap mengorbankan dirinya sendiri melalui cinta kasih yang tulus. Bila manusia telah diliputi sinar cinta kasih maka aspek negatif dari keterpisahan dirinya dengan orang ataupun mahluk lain, bukan lagi merupakan persaingan dan konflik tetapi mengarah kepada simpati dan kerjasama yang harmonis. Simpati dan kerjasama yang harmonis akan mewujudkan kerukunan sejati dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di tengah alam semesta yang maha luas ini.

 

Daftar pustaka

Amstrong, Karen. 1993. History of God. penerbit William Heinemaan, London.

Dana, I Nengah. 2001. Aktualisasi Ajaran Agama. Artikel di http://www.parisada.org/.

Keramas, Dewa Made. 2008. Filsafat Ilmu. Penerbit Paramita Surabaya.

Majid, Nurcholis. 1992. Islam, Doktrin dan Peradaban. Penerbit Paramadina, Jakarta

Mascaro Juan, Swami Harshananda, 2010. Upanisad Himalaya Jiwa. Putu Renny, Sang Ayu. Penerjemah. Putra, Putu Ngakan. Editor. Penerbit Media Hindu.

Pudja, I Gede, 1999. Isa Upanisad.Cetakan Pertama. Paramita Surabaya.

Putra, Putu Ngakan, 2008. Tuhan Upanisad Menyelamatkan Masa Depan Manusia. Cetakan Pertama. Penerbit Media Hindu.

Radhakrisnan, S, 1953. The Principal Upanisads. Yayasan Parijata.

Titib, I Made.2003. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Edisi Pertama. Paramita Surabaya.

Zaehner, R.C. 1994. Hindu and Muslim Mysticism. Suhadi, Penerjemah. Mustafid, Fuad, editor. LkiS Yogyakarta

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Januari 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Pantheisme…Imanen….coba resapi, benar damai..

Pantheisme dapat dikatakan sebagai suatu pemahaman dimana Tuhan meresapi segala mahluk…hal ini dapat dihubungkan pada sisi bagaimana membahas atman sebagai percikan dari Tuhan…

Yapz atman adalah memang sebagai bagian dari Tuhan…jadi ada Tuhan dalam diri setiap mahluk hidup, yang menghidupi dan menjadikan mahluk hidup itu berhayat..Jika sebenarnya diresapi, manusia yang menyayangi Tuhannya (beragama) tentu pula menyayangi mahluk hidup tersebut…karena dalam penalarannya ada percikan Tuhan dalam diri mahluk hidup itu…menyakitinya??berarti menyakiti Tuhan itu sendiri..hmmmm…

Imanen dimana Tuhan adalah hadir dalam diri setiap mahluk, tiada jauh kok..dekat sedekatnya…disamping kiri, disamping kanan…seseorang anak ayah adalah terhadiri Tuhan disana…tahu yang dilakukan adalah menyayangi dan mencintai itu gampangnya….jika paling tidak separuh lebih satu dari manusia melakukannya…hmmmm…damai bukan suatu impian…

pertanyaan yang terbersit….baru saja adalah jadi semua adalah Tuhan dong…Tuhan ada dimana-mana mungkin benar, namun apakah kita menerapkan sembah kepada setiap mahluk hidup?jadi kita menyembah belalang, singa, manusia…kembali ke jaman itu yaa…

waaah….

di saat semua rasa menjadi suatu ego tanpa cinta…

di saat semua rahasia menjadi asa yang tanpa kasih…

mungkin di saat itu pensifatan(AUM)  hilang menuju…

Transendensi…….dalam hening..

salam gwar..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , ,

 
%d blogger menyukai ini: