RSS

Arsip Tag: psikologi agama

Yadnya adalah sebuah aktualisasi diri (maslow).. 

Yadnya adalah sebuah aktualisasi diri (maslow).. 

Om sang hyang raja jagatham pujamkha.. Sattwika guna maha sidhi shaktam..  Mahalaksana jihwatman sahadjanataka.. Om maha jaya sanatanam dharmika cintya pada om.. 

Yadnya sebagai sebuah kerangka upacara umat hindu,  merupakan hal yg tidak terpisahkan Dri keseharian,  sbagai maujud dari tattwa itu sendiri.. Tattwa yg juga dijelaskan dalam proses ritual agama tersebut.. Di mana ada ekspresi jiwa dari seseorang itu untuk mengungkapkan dirinya dalam sbuah ritual upacara.. 

Upacara itu sebagai ritual,  berasal dari jiwatman,  berasal dri citta, berasal dri buddhi, juga manas serta ahamkara pula.. Ia juga dipngruhi oleh wijnana maya kosa,  manomaya kosa,  jga prana maya kosa,  dan anna maya kosa.. Bertujuan untuk menuju kesadaran antahkarana sarira atau ananda maya kosa.. Kebahagiaan batin menyentuh atman dalam sanubari kita saat sedang melaksanakan yadnya tersebut.. Termasuk mlksakan meditasi memahami jnana dan juga kgiatan suci lainnya.. 

Dalam hirarki kebutuhan maslow dikatakan bahwa aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yg tertinggi dibandingkan kbutuhan lainnya.. Ini jg yg memberikan gambaran psikologis dari seseorang itu untuk menelaah bagaimana seseorang itu melaksanakan ritual yadnya secara detail dan juga besar atau bahwa ada juga yang mulai melakukan yadnya secara sederhana dan bersedia membantu semeton lainnya sebagai simbol aktualisasi IA dari sisi psikologis mereka sendiri.. 

Seperti dalam membuat penjor yang termasuk wah dengan berbagai seninya,  itu adalah proses aktualisasi diri mereka,  bahwa mereka mampu melaksanakan itu juga menggambarkan akan kepuasan hati mereka dalam melaksanakan upacara yadnya,  itu hal yg lumrah dan sangat baik sepertinya.. Di sisi lain ada yang serta merta melakukan sewana atau pelayanan kepada umat,  membantu umat,  juga memberikan dharma wacana,  pembelajaran juga meringankan kebutuhan yadnya umat,  adalah konsep aktualisasi diri yang sangat luhur.. Tidak ada suatu kurangnya dri sebuah perjalanan yadnya yang dilaksanakan sebagai konsep aktualisasi diri.. Bahkan dalam perapalan mantra,  proses pembuatan wewantenan,  atau pemilihan buah-buah pajegan dan sodaan,  itu adalah ekpresi jiwa dari seseorang.. Namun juga hendaknya agar sesuai etika dan susila juga norma yang berlaku..Etika susila inilah yg membatasi atas pengaktualisasian diri tersebut serta lontar tattwa yang ada.. Upacara yadnya bisa jadi adalah sbuah perjalanan tentang jiwahtman dalam memberikan purifikasi pembersihan jiwa.. 

Dalam sloka srsmsucya disebutkan ktika yadnya adalah bagian dharma juga,  maka hanya dharma lah yg melebur dosa tri loka ini…Sungguh yadnya merupakan sesuatu yg sangat penting bagi pengembangan diri sebagai jiwa-jiwa yang sejatinya adalah utama.. Dalam sloka juga menyebtukan,  beryadnya janganlah terlalu sayang dengan materi,  hal ini memberikan gambaran bahwa secara metafisis hukum rta akan memberikan kuasanya dalam menilai yadnya itu,  apakah IA yadnya yg satwik rajas tamas.. 

Psikologi manusia sebetulnya adalah konsep tentang kejiwaan yg telah ada dalam setiap pemahaman jiwa di agama-agama.. Kebahagiaan yang sejati dan kekal adalah bagaimana seseorang itu mampu menelaah inti terdalam jiwa yaitu atman yg disebut sebagai kesadaran antahkarana sarira.. Itu adalah kebahagiaan yg dikatakan kekal yang menyentuh realitas diri sebagai sang Kuasa,  kesadaran atas moksartham jagaditha-moksah dalam kehidupan dgn dasar dharma.. Maka sebagai seorang hindu,  aktualisasi diri dalam yadnya adalah kebutuhan manusia hindu yg tertinggi (dalam hirarki maslow)  ini yang menjadi manusia itu sebagai manusia yang utama.. 

Swaha shanti sahadjanataka

Guswar.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2017 in agama, budaya

 

Tag: , , , , , ,

Atma tattwa dan Psikologi Modern (ala Carl Jung) 

Atma tattwa dan Psikologi Modern (ala Carl Jung) 

Om namaste om.. 

Hindu dalam pemahaman atma tattwa,  sebetulnya secara tersadarkan merupakan konsep pembelajaran atas psikologi manusia itu yg dikembangkan secara gamblang oleh freud atau carl gustav jung.. Dalam hal ini melalui psikoanalisa yg memberi pemahaman tentang apa yg terjadi di “dalam” manusia itu.. 

Atma tattwa berdasarkan konsep citta budhi manas ahamkara,  mengajarkan tentang bagaimana keadaan “luar” ibarat fenomena gunung es yg menjelaskan “persona”(jung)  yaitu keadaan yg diperlihatkan oleh seseorang itu kepada dunia.. Persona yg merupakan topeng sebagai alat2 sandiwara manusia yg diperlihatkan kepada sesamanya.. 

Dan jung mengatakan,  bahwa yg “tidak terlihat” itu adalah seperti samudra besar yg berisi “penuh” atas kesadaran manusia yg kompleks juga arketipe arketipe manusia yg universal.. Arketipe yg berupa kesadaran kolektif atau universal yg ajaibnya hampir sama di setiap belahan negara.. Ini seperti juga sejalan dgn konsep dri kebijaksanaan hindu tentang keadaan jagra,  svapvna, susupta atau pun turiya pada yg berhubungan erat dgn keadaan sadar,  mimpi (sebagai simbol arketipe manusia),  tidur pulas,  juga diantaranya (yg nanti akan diulas pda tulisan selanjutnya)  

Arketipe itu misalnya konsep IBU mother,  Child anak kecil,  The creator, The Sidekick,  the wise old man,  the explorer,  the snake, the hero yg terdefinisikan seperti myth yg telah lama ada dan selalu ada,  sprti utusan tuhan awatara,  anak tuhan (ganesha atau kristus), bapa the father Shiva,  the mother Theresha pratiwi atau legenda Kanjeng ibu juga mahenjo daro harappa terracota,  bhisma sang pahlawan dan sebagainya.. INi adalah arketipe arketipe yg membentuk kesadaran supra atau ketidaksadaran personal akan “diri” itu sendiri.. 

Kembali pada atma tattwa,  maka kebersadaran di “dalam” terbagi atas citta buddhi manas ahamkara,  yg (mungkin)  akan terkombinasikan secara kompleks atas arketipe2 tersebut.. Dalam hal ini,  kebersadaran “dalam” terbentuk atas dunia luar (ego ahamkara)  lalu terbentuk atas memori masa lalu juga tradisi (citta atas dasar samsara) kmudian itu akan membukakan persona atas keberpahaman dalam buddi dan manas.. Buddi sendiri adalah rasa atau juga intelektualitas yg berkembang atas dasar jnana juga dharma keberagungan arketipe simbol Ilahi seperti the father the mother the creator the hero the wise old man the mentor yg merupakan arketipe hyang agung.. Semakin lekat manusia akan jnanaNya atau ilmuNya,  maka IA akan semakin sering mengumandangkan wacana visualisasi keilahian di atas.. 

Di bagian lain adalah manas atau mahat ada “alat” dari atman untuk mengambil atau mendapatkan informasi dari ahamkara atau pun dari citta yg akan diolah oleh buddhi jnana,  ini adalah “Sidekick” yg mengolah the shadow itu sendiri yg selalu hadir untuk menguji, menganalisa juga sebagai alat untuk memperdayai membuat persona,  sampai dalam pengetahuan akan bahwa citta dan ahamkara (ego)  adalah sesuatu hal yg sama sahadja.. 

Kebersadaran lampau tentang the creator adalah IA yg mencipta,  IA yg sebagai IBU IA yg sebagai juga guru dan anak, dan yg lainnua  adalah yg “sejatinya” bisa digali dgn jnana itu sendiri.. Ini sendiri juga merupakan simbolisasi akan kekuatan atman jihwantam yg layak ditandai sebagai “persona” sesungguhnya,  perjalanan atas “hidup” manusia itu sendiri.. 

Aham brhman asmi, brhman atman aikyam,  agung alitan buana aikyam adalah (bisa jadi)  perjalanan akhir manusia.. 

Bacaan : art &jung Buntje harbunangin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Tuhan budaya dalam Psikologi

Tuhan budaya dalam Psikologi

Tuhan budaya dalam Psikologi

 

Memahami psikologi seperti pada bahasa freud tentang menganalisa hal-hal kecil, tentunya menjadi sesuatu yang bermakna sangat besar. Dan pada dasarnya kemampuan manusia untuk memahami jiwanya dari apa yang terpapar sedikit pada kehidupan yang biasanya ia jalani, akan membawa pada kesediaan mereka untuk memahami diri itu sendiri. Sebagai sesuatu mahluk yang memiliki jiwa, dan dalam kecendrungan akan memiliki karakter, pola pikir, serta kebiasaan-kebiasaan yang jelas memiliki makna tersendiri.
Pada dasarnya sebuah pemaknaan akan jiwa akan membawa manusia pada keterbiasaan mereka sehari-hari. Sebagai contoh adalah ketika mereka memercayai bahwa masuk ke rumah orang yang baik adalah dengan kaki kanan, maka ia akan memaknai itu sebagai sebuah kepercayaan diri bahwa ia sedang berada pada niat yang memang baik. Tentu saja ini memengaruhi bagaimana jiwa memahami tentang dirinya sebagai manusia yang mendirikan jiwanya pada etika atau juga dengan itu memengaruhi konsep ia menjadi manusia kesehariannya.

Keseharian itu adalah sebuah bagian yang tak terpisahkan dari bagaimana ia menjalani niatan ia pada kehidupan ia sendiri. Dalam kejiwaan, maka tentunya ia adalah sebuah konsep yang mengada saat jiwa itu bisa didefinisikan sesuai dengan apa-apa yang ada. Secara literatur dikembangkan oleh Jung sebagai sumbernya, maka bahwa jiwa itu adalah kumpulan dari empat makna tersendiri yang dinisbahkan sebagai bagian-bagian yang terdiri dari

  1. Memori-intuitif-insting yang berkembang dalam bahasa lain sebagai kodrat, yang juga dimaknai sebagai ID oleh Freud ( namun freud membagi menjadi tiga, id ego super ego).
  2. Rasa-emosi-keniatan-moral? Yang merupakan bagian dari rasa akan sesuatu untuk melihat itu sebagai sesuatu yang bernilai dan menghadirkan serta memengaruhi perasaan mood juga pada taraf hormonal yang memberikan nilai akan keindahan ketidakindahan, kesenangan ketidaksenangan, kenyamanan ketidaknyamanan kenikmatan ketidaknikmakatan dan sebagainya, ketakutan keberanian, kebahagiaan dan tidak bahagia, dan seterusnya (endorphin, serotonin,  adrenalin, dopamin, dst).
  3. Pikiran-intelektualitas-kecerdasan-keputusan yang diajukan sebagai pemaknaan pada yang mampu menelaah menganalisa setiap keterjadian agar dapat dimaknai dengan nilai baik buruk, benar salah, mempersepsikan sesuatu berdasarkan kadar atau nilai-nilai yang vertikal dan pada akhirnya menjadi sebuah kendali atas panca inderawinya untuk memberikan tanggapan atau pernyataan tentang sesuatu itu.
  4. Yang terakhir adalah penginderaan yang berhubungan dengan pemaknaan pada penilaian atas hubungan jiwa terhadap luarnya serta persepsi yang ditangkap oleh itu yang menuju pada keberdayaan jiwanya untuk menafsirkan apa-apa yang berada di luar jiwa itu sendiri. Pengindraan bisa menjadi sebuah ke antaraan pada ego serta super ego, yang dimana super ego adalah sebuah konsep tentang yang berada di luar tanpa memisahkan antara apa-apa yang dimaknai oleh jiwa itu sendiri dalam tafsirnya, sedangkan ego adalah bagaimana sebuah jiwa itu memaknai tentang ke antaraan tersebut. Sebagai contoh: lingkungan yang dingin adalah super ego dengan pemaknaan bahwa ego itu adalah belum merasakan kedinginan. Maka keantaraan itu adalah apakah dingin itu menjadi terlalu dingin atau dingin yang tidak seberapa dan ego sendiri memaknai itu sesuai dengan kadar masing-masing yang secara perspepsi tiap-tiap orang akan berbeda juga.

Kemudian tentu saja hal itu akan dimaknai sebagai sesuatu yang bermakna, ketika bahwa itu menjadi bagian dari keberadaan manusia sendiri memaknai kehidupan dan perjalanan hidupnya. Pada bagian-bagian yang dimaknai secara baik adalah saat di mana manusia akan bisa memiliki kebermaknaan menghargai kehidupan itu sendiri sebagai manusia yang mengunsurkan dirinya sebagai bagian dunia. Sebagai bagian lingkungan yang kecil dan membesar menjadi keluarga, menjadi kemudian lingkungan masa remaja, masa bercengkerama, berkeluarga, serta menafkahi, dan juga bermanfaat, serta masa tua yang akhirnya mati.

Hal ini sepertinya akan menjadi bagian yang cenderung berpengaruh besar nantinya pada kepribadian dan daya tau manusia akan keberadaan dia akan jiwanya itu sendiri. Pada dasarnya suatu konsep keadaan budaya membentuk perbedaan pola persepsi pikir dan tafsir mereka dalam mendalami pola konsep kejiwaan ia sendiri. Sebagaimana juga pembudayaan yang berbeda yang memasuki pada suatu kebudayaan yang ada, akan memberikan suatu pemetaan-pemetaan baru akan kejiwaan dari unsur-unsur jiwa itu sendiri. Karena pada dasarnya konsep super ego akan memberikan pengaruh besar dari sudut budaya asal muasal itu yang tidak serta merta dapat diaplikasikan di budaya yang berbeda juga pada prinsip-prinsip yang mengakar.

Namun perlu disadari juga bahwa konsep arketipe yang ditawarkan oleh Eliiade dan juga tingkat sakralitas profanitas durkheim, akan suatu “kesamaan” yang tersamarkan dan juga selalu berkembang, dan namun tetap masuk sebagai intuitas jiwa itu sendiri, akan membawa pada sebuah tolak ukur yang hampir sejatinya pasti menggambarkan keterdalaman jiwa yang nyaris adalah sebuah “kesamaan”. Akan tetapi pada akhirnya itu akan menjadi bias ketika ego dalam penerimaan atas “keantaraan” itu, menjadi hal yang terpaksa bergantung pada super ego itu sendiri. Tentu super-ego adalah suatu yang dimaknasi dalam kebudayaan juga, namun arketipe-arketipe yang muncul sebagai bagian-bagian yang tidak terpisahkan akan keberjalanan manusia secara sejarah awal, akan menuju pada keberselarasan saja.

Tetapi perlu disadari bahwa super-ego sendiri pada dasarnya memiliki beberapa kegenapan yang tergiatkan pada bagaimana arketipe-arketipe itu tetap mengada. Simbolis-simbolis yang dimaknai dahulu sebagai sesuatu yang “melahirkan” dan memberi “lahir”. Arketipe ini sepertinya adalah bagian-bagian yang menjadikan budaya itu sebagai sebuah keberwajahan atas penyatuan “itu” sendiri yang akan terbawa ke mana dia akan mempersepsikan dirinya sebagai manusia.

Hal itu belum menjadikan sebuah jawaban yang sangat memuaskan, dimana pada dasarnya sebuah adaptasi manusia terhadap keadaan super-ego itu sendiri, membuat manusia berevolusi secara jiwa dan juga menuju pada fisiknya, yang sekiranya tidak serta merta menjadi kebenaran. Karena sains sendiri berasal pada sebuah produk intuitif yang tersebar kepada mereka yang menemukan itu juga. Seperti misalkan keintuitifan buah apel yang menjadikan “kesamaan’ keterjadian antara yang satu dengan yang lainnya, sebagaimana halnya apel pada sebuah konsep kereligian dan konsep sains. Itu adalah hal yang sedikitnya tidak detail dan akan ditertawakan, namun pada dasarnya kemaknaan atau konsep psikoanalisa adalah memperlihatkan sebuah kebiasaan yang ada dan menjadikan itu sebagai pemaknaan tentan psikis manusia di luarannya.

Pada sebuah budaya yang mengakar sekaligus juga situasi religio yang berkembang di tempat itu, maka sangat perlu untuk memberi keberhatian pada konsep-konsep yang telah terpolakan secara genetik dan juga terbudayakan sebagai akarnya, dan pada akhirnya memberikan sudut pandang yang berkembang pada manusia yang telah lama ada di wilayah itu. Karena dalam kebudayaan itu sendiri akan memberikan sebuah pembawaan sebenarnya yang seharusnya ia dan lingkungannya terima dalam memberikan pemberdayaan psikologi bagi sesiapa yang telah hidup pada budaya religio itu.

Sebagai contoh konsep moral keberyakinan yang berada pada “keantaraan” yang akan berbeda di setiap budaya yang ada. Pada dasarnya dari arketipe “melahirkan” dan “yang memberi lahir” akan memberikan sebuah konsep tentang nilai penilaian moral secara adanya. Nilai moral disuatu tempat akan memberikan jawaban untuk bagaimana etika yang sesuai pada penafsiran pola-pola psikologis yang ada. Ada tiga yang bisa ditelaah menjadi bagian penilaian kemoralan, konsep “terang-mulai, aktif-proses, gelap-diam”.

  1. Yang dimaknai secara super ego adalah konsep yang memetakan baiknya menjadi manusia dalam keberpikiran yang termanifestasikan menjadi ia sehari-hari, tentunya disesuaikan dengan lingkungan kecilnya yang menjadi super ego kecilnya.
  2. Yang dimaknai adalah keberaktifan manusia sebagai mahluk sosial yang mengembangkan dirinya sebagai yang mengaktualitaskan diri, atau sebagai juga yang mencari kenyamanan, kebutuhan sehari dan juga makanan (maslow) apakah akan memberikan ia sebuah pola-pola keberpikiran dan berprilaku secara sehat.
  3. Yang dimaknai sebagai pola-pola pada yang tidak layak dijabarkan sebagai kebermanusiaan itu sendiri, dan mempengaruhi persepsi jiwa di dia itu. Tentunya hal ini merupakan bagian yang dianggap sebagai kelainan pada kejiwaan itu sendiri. Ini adalah hal-hal yang tak sesuai pada pengembangannya sebagai manusia. Pada ini lah sebuah konsep jiwa yang perlu dianalisa untuk mencari mengapa manusia kehilangan etika dan ketidaksesuaian ia memanifestasikan dirinya keluar pada wilayah super ego.

Hal di atas akan menjadikan pedoman untuk membenahi apa-apa yang menjadi gambaran pemetaan jiwa itu sendiri di keempat mana sebelumnya tentan jiwa itu. Tentunya perlu penganalisaan lebih lanjut.

 

Sekedar gwar..2017

Freud psikoanalisa

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 April 2017 in agama

 

Tag: ,

Suksma Sarira dalam Psikologi Modern

image

Om gan ganapatya ya namo namah swaha..
Pradnya saraswati jnaniskala..
Om sada siwa siva narayanam om nama siwaya..

Dalam memahami Jiwa sebagai bagian mengenal Atma, maka masuk dalam keberpahaman pengetahuan ttg jiwa..Itu dikenal sebagai atma widya..Dan pada pengthuan agama( agama pramana) hindu, maka tubuh terdiri dari tiga sarira besar.Antahkarana Sarira yg dikatakan juga sbagai ananda maya kosa..badan berbahagia. Kemudian ada suksma sarira yaitu badan halus, serta stula sarira badan kasar..Badan kasar ini terdiri dari dasendriya..10 indera yg terbagi menjadi dua yaitu panca buddhindriya serta panca karmendriya..

Suksma sarira sendiri itu adalah bagian badan halus yg disebut juga jiwa atau roh dan dalam agama hindu dibagi menjadi empat bagian, yaitu citta, buddhi, manas, ahamkara . Dari empat itu maka dapat dijelaskan sebagai berikut

1.citta..adalah bagian yg paling dekat dgn atma itu sendiri yg dalam bahasa ilmu dikatakan sebagai intuisi atau juga memori, baik yg dalam memori ttg sancita,pradabda, krymana karma..Dalam kyakinan hindu, maka ini selalu berhubungan dngn konsep semesta ttg samsara dan reinkarnasi2 terdahulu atau sbagai bekal di masa depan..

2.buddhi..adalah bagian kesadaran intelektual yg juga berisikan id prinsip atas kebenaran itu sendiri atau perasaan yg berkembamg sedemikian rupa.Dalam hal ini dikatakan sbagai insting humanis yg membedakan jiwa manusia dri  jiwa yg berada di wujud yg tidak berkembang (binatang dan tumbuhan)..

3.manas.adalah kehendak atau kemauan dari pikiran serta kemampuan untuk survive dari pengaruh lingkungan yg ada, dan atau mengendalikan indera atas gejolak yg ada di semesta itu sendiri..

4.ahamkara adalah ego atau kepribadian diri yg menjadi penerima pengaruh dari semesta, dan kemudian memberikan suatu informasi kepada pikiran tentang bagaimana pengaruh semesta itu dijlankan oleh inderawi tersebut (dasendriya)…

Dari sudut pandang penjelasan atas suksma sarira tersebut, maka dapat ditarik garis benang merah pada kepribadian-kepribadian psikologi modern itu sendiri..
Dalam bahasa freud maka suatu konsep jiwa terdiri dari tiga..yaitu :

ID, EGO, Super EGo

Dalam hal ini ID adalah kepribadian scara naluri insting yg mgkin mengarah pada kemampuan survive, makan, seksualitas, aman nyaman, dan kebutuhan dasar lainnya..dalam hal ini pencapaian bahagia dalam konsep hindu adalah menuju pada jalan ananda kosa, badan bahagia antahkarana sarira…

Kemudian EgO adalah konsep yg dapat dikatakan sebagai kepribadian diri serta kemampuan diri untuk berkoneksi dgn dunia luar itu sendiri, Ego ada kesadaran ttg bagaimana menerima refleksi dari lingkungan serta sbagai bahan informasi untuk inderawi, yg sesuai dgan ID yg ada dgn keseimbangan Super Ego..Akan selalu ada suatu proses menuju keseimbangan antara ID dan super Ego, hal ini yg membuat suatu kesadaran akan sisi humanis berkembang menuju super Ego. Kesadaran Buddhi yg berkembang sesuai dgn Kerjasama Ahamkara dan Manas untuk menaungi Citta sbagai bekal memori samsara dan sbagai persimpangan antara takdir dan juga ID Super Ego..

Super Ego dikatakan adalah suatu Ego yg sempurna yg menuju pada pemahaman akan ajaran  Moralitas dan Keadilan. Sebuah kesempurnaan sbagai manusia yg mengetahui rahasia semesta untuk menuju insan yg sempurna..Dalam hal ini sangat sejalan dgn konsep maya triguna purusha…satwika rajas tamasik yg sesuai jam waktu jaman, lingkungan..Manusia yg bahagia adalah yg mengenal dan memahami widyaning atman kaniskalan..yg menuju kebahagiaam sempurna..Hal ini disesuaikan dgn jaman yg ada, seperti buddha gautama dgn pencerahan dari dalam bahwa materi bisa tidak membuat bahagia sama sekali, atau khrisna yg melumpuhkan kelicikan dan adharma, samawi seperti musa yg menyelamatkan yahudi, yesus messiah yg menjelaskan mukjizat dan cinta kasih, muhammad yg menjelaskan waktu dan ibadat tauhid, lao tzu yg memahami mistimisme yin yang, konfutzius yg menjelaskan moralitas dan ketatanegaraan..Dan yg lain seperti di nusantara yg plural yg tentunya mempengarui kepribadian dari SuperEgo itu sndiri..Namun ktika universalitas Yang Mutlak mengada, maka itu kmbali menjadi super ego yg nyata…
PAda suksma sarira, maka Super Ego adalah konsep sebuah keberadaan kemanunggalan antara Atman dan suksma..Atau sbagai kesatuan antara Jiwatman dgn brhman, Jiwa dngan supraEgo dan alam materi..
Maka pngthuan ttg Jiwa adalah bagian yg memahami sebuah tujuan kebahagiaan itu sendiri..

Lebih dekat lagi bisa dilihat pada konsep carl jung yg membagi konsep jiwa sebagai berikut:
INTUISI, PERASAAN, PIKIRAN, PENGINDERAAN..
1. Intuitif cenderung dapat dikatakan sebagai citta yg memberikan kesadaran yg serta juga berasal dari naluri yg humanis(positivitas).. Dalam bahasa samsara, maka ini berhubungan dgn bekal karma masa lalu sancita karmapala, atau ujian2 hidup yg harus dilalui..Dari kedekatan atas “kebahagiaan hakiki ananda” maka citta lah yg paling berperan..Introvert pribadi yg penyendiri, kontemplatif, meditate, adalah yg terlihat pada kepribadian yg dominan dri intuitive personality…

2. Perasaan adalah dekat dgn konsep Buddhi atau kesadaran..Hal ini berhubungan dgn Rasa atau ktika menuju pada pembelajaran kesadaran, maka itu dikatakan “olah rasa”..Bahasa Rasa bahasa keindahan, kebaikan, dan juga sebaliknya bahasa kesedihan keresahan, tetapi itu juga jalan bahasa kebahagiaan..Tentunya dalam konsep ananda marga, maka itu adalah jalan menuju antahkarana sarira..badan yg bahagia scara kekal..Kepribadian ini terletak pada seseorang yg sensitif dan perasa yg juga memberikan ruang dengar pada perasaan sekitar juga..

3.Pikiran adalah bagian dari jiwa yg untuk mengolah informasi yg didapat dari lingkungan serta merajai indera-indera yg ada..Logika juga berada pada wilayah ini..Pada bahasa atma widya, maka pikiran adalah disebut sebagai manas..Manas ini juga menguasai indriya2 yg ada, berkehendak dan berkemauan atas pngaruh dari lingkunga luar itu sendiri..Dalam hindu bisa disebut maya semesta..Indriya indriya itu adalah panca buddhindriya dan karmendriya yg secara ringkas trdiri dari panca idnriya yg umum ditambah dgn mulut (bicara) tangan kaki kemaluan dan anus..

4. Pengindraan bisa dikatakan dekat dgn ahamkara..yaitu bagian yg paling luar untuk yg menangkap respon dri lingkungam atau semesta itu sendiri…ini tercakup pada bgaimana panca indriya mengirimkan sensasi2nya kepada pikiran dan diolah dgn rasa yg ada berdasarkan intuitif juga..Seluruh itu benar merupakan suatu kesatuan dan saling mempengaruhi…

Lingkungan semesta itu sendiri, berdasarkan konsep dri hindu dikatakan terbagi menjadi Maya triguna..sattwika rajasika tamasika guna..untuk lebih jelasnya ttg Maya, bisa diclick link berikut…
https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/06/05/psikologi-tentang-tiga-sifati-kuasa-illah-tri-guna-pada-manusia-sebagai-kekuatan-maya/

Shanti rahayu om..
Guswar ..mar 2015..
Dri berbagai sumber..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Ciri ciri manusia berdasarkan Tri Guna..

Om tyambakam jayamahe..

Snthi sahajahtra ning eling…

Mahajaya devantara jagat …

Rahayu raharja saktya amartha Sanjihwani…

Jahya om..

Maya dari ilhaiah adalah sesuatu yang sangat mendasar. Sehingga dengan mengenalnya, maka dikatakan dalam Upanishad bahwa akan mendapati dirinya keberpahaman untuk mengelola Maya itu menjadi sarana pembebasan, penyadaran tentang “diri”.

Diri adalah suatu kondisi yang berada pada keseimbangan atau berisikan suatu ketidakseimbangan, sesuai dengan wicara,fikir, serta laksana.. Maka ketika itu menjadi suatu perwujudan atmanikam (pancer), Citta, Buddhi, Ahamkar (sedulur papat). Maka itu sebagai bagian Atman yang meliputi dirinya dengan bhakt, kebaktian, bhakta serta kejayaan akan mengenal Diri sebagai buana Alit, Buana Agung yang menyatu bagai atman brahman aikyam..

Maka Maya, seprti dalam bhgawadgita menyabdakan adalah Tuhan menciptakan Tri GUna sifati alamiah dunia, namun Tuhan tiada ada di sana dan Itu tiada ada di Tuhan. Seperti itu sampai mereka semua memahamiNya, sesampai mereka menyadarinya, dan hidup dalam ketersadaran ilahiah.. Namun ketika mereka menyadari, maka itu membuka pintu karma pahala, entah itu baik atau buruk. Dan itu sebagai bagian penyucian lahirian dn batiniah, atau penghancuran karma yang buruk..

Maya sendiri terdiri dari tiga..Yaitu Sattiwka, Rajahsika, Tamasikah…

***Sattwika sendiri adalah sifat kebijaksanaan, kebaikan, kebajikan.. sehingga ketika badaniah yang mengikuti suksmaning rahsa sajadha akan membawa mereka pada keluhuran buddhi, dan membuka citta menjadi memori yang mengindah dari kekuasaan Atmaning Jahya Manikam, dimana sedari dulu tanpa pernah pergi berasal dari brahman.. Maka mereka yang memiliki sifati sattwika dibagi sebagai berikut :

Sattwika Prakerti

1.Sattwika Brahma : Kepribadian manusia yang suci, cinta kebenaran, tulus dalam berbagai usaha, rajin sembahyang memuja Tuhan, ramah tamah terhadap tamu, senang giat belajar untuk menambah ilmu.

2. Sattwika Mahendra : Yang memiliki kepribadian yang masyur dan berani, sabar, setia kepada pelajaran veda, bersikap baik terhadap para sahabat atau pun kepada lawan.

3. Sattwika Varuna : Menyukai dingin, toleran, warna rambut kurang hitam, dan suka berbicara. Maka mereka menyerap “guna” baik dari alam buana agung sehingga mengubah pencirian mereka.

4. Sattwika Kaubera : Senang jadi perantara, toleran, kaya, mempunyai kemampuan untuk berdagang (menyalurkan barang).

5. Sattwika Gandharwa : Menyenangi wewangian, gemar musik seni dan tari, suka berpindah tempat kerja dan memberikan suasana keindahan di tempat yg telah ditinggalinya.

6. Sattwika Yama : taat melakukan yadnya ibadah, kuat dalam beraktivitas, tidak kenal takut, ingatan dan kesucian kuat, bebas dari keterikatan dan ketakutan.

7. Sattwika Arsa : Taat menjalankan upacara keagamaan, membujang, tidak kawin, mengetahui spiritualitas, dan materialnya tinggi.

**Rajasikam Prakerti adalah sifat yang dengan prilaku keras, agresif, agak rakus, energik, dan mendahulukan kemenangan tanpa pikiran dan kebijaksanaan.. Maka rajasikam ini ketika tanpa dibarengai sattwam, akan membawa dan menjauhi kedamaian itu sendiri. Mengapa??karena pada dalam dirinya akan menyebarkan ketakutan dari pada alam..Ketika mereka menyuarakan itu tanpa kebenaran adalah menjadi sesuatu yang membibitkan kehancuran dan ketidakdamaian..Namun dengan sattwikam, maka ini bisa menjadi sesuatu bekal dan perisai bagi kebenaran itu sendiri..

1. Rajasikam Ashura : sifat berani, kejam, iri hati, menakutkan, menyendiri senang, senang mengisi perut..

2. Rjaikam Sarpa : seprti ular, bermulut tajam, suka memperdayai orang, tetapi penakut, cerdas, senang bergerak dan makan..

3. Rajasikam Sakuna : seperit burung, suka seks, sering makan, pemarah, dan tidak stabil..

4. Rajasikam raksasa : berpikri individualitis, pemarah, iri hati, tidak gemar religiusitas, gemar memuji diri sendiri..

5. Rajasikam Paisaca : SUka mencuri makanan, senang dengan keberanian sehingga puas akan kemenangan tapi tidak kebenaran, cinta pada wanita, tetapi pemalu..

6. Rajasikam Praita : tidak suka membagi kesenangan, agak pemalas, watak sedih, pencemburu, tamak, kurang suka beramal

Menyadari itu akan membawa mereka yang rajasikam menuju neraka, baik di dunia maupun nanti di tempat lain (tegal penangsaran, titi ugalagil, dsb. Namun ketika itu kepribadian membiasakan diri berlaku dharma dan sattwikam, maka secara otomatis akan membalikan kepridian diri menjadi tameng kebenaran,, Dan karma akan dibersikan dan disucikan sesuai dengan apa yg telah dilakukan digariskan..

** Tamasikam Prakerti ..adalah tipe cuek bebek dan pemalu, pencemburu, agak kurang cerdas..

1. Pasava : seperti binatang tidak beradab, dan biadab.. kurang cerdas melempem, gemar berseksualitas, tidak taat pada aturan..

2.Matsya : seperti ikan, mental kurang stabil, tidak bijak, pengecur, gemar merusak milik orang lain..

3. Vanapatya : seperti tanaman, tinggal di satu tempat saja, gemar hanya mengambil makanan tapi tidak suka memberi , (beryadnya)..kurang paham akan catur purusha artha (dharma) artha kama moksah..

Maka ketika itu menjadi kepribadian karena daya guna mereka sendiri, bhgawadgita bersabda… Maka Diri Yang telah mengenaliNyA akan tiada berpikir bahwa mereka melakukan sesuatunya secara sadar, karena sebenarnya adalah AKU (ruh utama) serta pengaruh dari Maya yang melakukannya.. Mereka yang berpikir telah melakukan kegiatan karena dia sendiri yang melakukannya, sebenarnya telah merosot, kecuali mereka tahu bahwa maya adlaha yang membuat mereka bergerak.. Dan AKU(kepribadian Yang Maha KuASA ESA), yang menghubungkannya itu sebagai pemahaman yang mutlak..

Salam gwar…
image

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2014 in Tak Berkategori

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: