RSS

Arsip Tag: sabdo palon

Berita baik di Jaman Kali

Berita baik di Jaman Kali

Om siva sada siva narayanam ya hare kalky namo namastha swaha..
image

Jaman Kali..semua secara umum memahami dan mengetahui bahwa saat ini adalah jaman kaliyuga..Jaman goro-goro, jaman yg meniupkan aroma adharmik yg lebih besar dan massif daripada dharma itu sendiri..Jaman dimana seseorang lebih banyak dan fasih untuk mencari suatu celah berbuat adharmik, daripada sekedar mencari cara dharma itu sendiri…

Jaman dimana matsarya irsya lobha kama menjadi bagian dalam duniawi hedonistis..Jaman dimana satya lima..panca satya ..satya hredaya (setia pada kata hati) satya laksana(setia pada laku) satya mitra(satya pada kawan) satya semaya( setia pada Tuhan) menjadi sebuah beban, dan menjadi sesuatu yg sulit..

Namun dari yuga Kali ini, maka terdapat satu berita gembira bagi seluruh mereka yg memberikan ruang pada dharmaNya..Yaitu adalah dgan melksanakan sedikit saja pahala, maka hal itu akan berlipat ganda sebagai suatu pemberkatan dan keinsafan itu sendiri kepada kekuatan Maya yg menjadi lingkup semesta..

Setiap insan dalam wahana melaksanakan panca yadnya..Yang dalam setahun tidak ada ruang dan waktu yg tidak terdapat berisikan kegiatan yadnya..Sebagai bagian dwapra yuhga di jaman kali, kmudian setiap dalam mlskankan karma marga dan jga bhakti marga..Maka bisa diberikan suatu fakta bahwa, betapa anugerah telah “dipersiapkan” oleh IA Hyang Kuasa Hyang wenang Widhi di jaman kali ini yg menuju sebuah keinsafan  kertha ning yuga.. Dan bahwa ktika setelah, sebelum dan sesaat ktika hidup telah “dipersiapkan”olehNya, maka tentu sebuah makna kelepasan-pembebasan adalah hal yg menjadi keniscayaan..
“Telah-dipersiapkan”..

Kemudian bagaimana mereka yg mlksanakan japa pujam serta memberi makna jnana sebagai kecintaan dan kerinduan padaNya..sbagai bagian traita yuga pada jaman kali, tentu bagaimana IA sang Hyang Wenang akan mempersiapkan begitu banyak pahala dan juga bagian jaman Kali ini yg mmberi segala umat menuju pencerahan..Tentu ini adalah sebuah makna kesejatian kebaikan buddhi
.Jnana Buddhi, dharma buddhi, vairaghya Buddhi, Aiswrya Buddhi yg tentu menuju pahala dan kewasktiaan sbagai janji Ia Hyang Kuasa..Betul sebuah Kebaikan dan kebenaran di jaman Kali ini..

Pada pemahaman kebaikan buddhi sesuai dgn wrspatti tattwa, maka dharma buddhi adalah mlakukan dharma yg tercermin dalam meditasi semadhi serta yoga dan disiplin pda pengekangan hawa nafsu untuk bertemu pada rasa keilahian. Dikatakan pula pahala dalam mnjalani ini adalah mndapatkan ketenangan dan menuju kemoksaan serta tercapai pemahaman sidhi wisesa sbagai berkat keilahian..

Jnana buddhi adalah laku untuk memahami kebenaran yg hakiki dan sejati, kebenaran akan dharma yg membebaskan..Kerinduan yg sangat dalam memahami berkat dewata serta pensifatannya yg pada akhirnya berpahala bahagia moksa dan mndapatkan keindahan surga serta mncapai sidhi wisesa jnana dlam kehidupan..

Vairagya budhi adlah pengekangan trhadap makan minum dan materi materi dunia..Sbagai upawasa yg disiplin mngurangi nafsu2 materialitas..pahala yg ada adalah mncapai surga dan numitis mnjadi bhatara yoni yg berkelimpahan..Dan yg terakhir adalah aiswarya buddhi yg artinya hidup berkeseimbangan yg tidak terlalu terikat dan juga brusaha mnuju kelepasan..yg berpahala surga dan hidup tidak berkesusahan.Jalan2 yg bijak dan pnuh kebahagiaan..

Dan ini seprti bagian cerita tentang kertha Ning Yuhga..Bahwa tentu tiada pun mereka yg tidak mendapat pahala..Sebuah kebebasan Kelepasan dan pada mereka yg apakah tidak ada dari mereka yg tidak melaksanakan itu…
Tidak ada di mereka yg terhindar dari pahala baik..Itu adalah sebuah kedudukan keilahian yg memang telah mereka lksanakan..
LAlU….??
Apakah masih ada kedustaan??

Tentu tidak..

Om shanti shanti rahayu raharja bhuana kertha samasta..om
Salam..
Gwar..mei..

Edit: catur buddhi des 2015

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2015 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , ,

Panca satya jalan terpilih untuk Kertha Yuga..

Om sembah hning hring swarga rahsa..
Om sembah hring hning lelata jnana..
Om rahayu shanti satyam evam jahyatam..

Swastyastu
Satyam eva jayate..

Dalam menuju suatu idealitas sebagai manusia yang beradab dan adil, tentunya ada jalan atau pemahaman tentang sebuah bahasa manusia ideal itu sendiri..Seperti pula bahasan yg mengungkap informasi rasa untuk berusaha menjalani hidup dengan prinsip-prinsip kebenaran (baca:dharma). Hal ini adalah sebagai cermin diri untuk bisa mengarungi bahtera kehidupan dgn cara yg penuh kewibawaan dan keberanian jiwa untuk jua menolong diri dan juga sesamanya..Yang terlahirkan sebagai rahmat dan anak-anak bangsa..

Seperti jua dapat dilihat sebagai konsep mendetail dari sebuah kepemimpinan yang agung, yaitu astabrata yg dapati dilihat pada link berikut :
https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/12/06/dewa-yang-memanusiakan-dirinya-konsep-astabrata/

Maksudnya adalah bahwa untuk menuju idealnya manusia purusha yg mampu mnjadi pemimpin di mana saja, dri terkecil hingga memimpin sebuah organisasi yg besar, maka itu menuju pada sebuah keniscayaan dan disiplin diri jiwa..

Konsep susila sebagai sebuah praktek atas plaksanaan dharma itu sendiri, mrupakan sebuah etika yg berprinsip memiliki idealitas dan berani mnghadapi tantangan jaman yg kali ini..Pada dasarnya itu tidak lepas dari jiwa2 ksatria yg mau membela dan mampu melaksanakan serta berani untuk menegakkan ajaran dharma itu sendiri..

Yg pertama adalah satu dari bagian panca yama brata yaitu satya..Satya sendiri berarti sebuah kesetiaan, sebuah loyalitas, sebagai pengabih Sang Hyang Dharma itu sendiri…
Patut disadari bahwa saat ini dkatakan sebagai jaman yg kali, namun ada sebuah persepsi serta pengandika oleh Ida Alm (sugra titiang) Pedanda Made Gunung, bahwa untuk menuju jaman baru, hendaknya manusia bisa menentukan pilihan2 ke jaman apa ia layak berada.. 

Pada masa atau persepsi Kertha maka tapa adalah yg utama, dimana tidak adanya sebuah rasa benci, dan akhirnya tiada kata lara, tentu menuju pada sunia kesuniaan yg membahagiakan..

Pada masa atau persepsi dari Traita Yuga adalah ketika jnana lah yg utama, hal ini diperlukan untuk menambah sebuah wawasan dan penenggelaman diri menuju pada pengethuan yg membebaskan..

Pada persepsi dri Dwapara Yuga, maka yadnya upacara adlah hal yg utama, keberpikiran bahwa setelah melangsungkan yadnya, maka terbebaslah ia dari kewajiban, namun ktika memahami jnananya tentu akan sangat mulia..

Persepsi kaliyuga adalah dimana semua terjebak pada pencarian Dana, tentunya ini tidak bisa dilepaskan namun dasar utama pada keiklasan serta jnana dalam yadnya adalah aebuah pembebasan pula..

Untuk satya maka adalah sebuah kesetiaan sebuah laku sebuah pembiasaan yg juga kebiasaan dalam memaparkan kecintaan terhadap budhi dharma itu sendiri..Tentunya disebutkan pula manusia hadir kdunia akan selalu diberikan berbagai pilihan2 untuk menapaki jalan menuju pembebasan..Jalan itu sudah hadir, ktika manusia lahir ke dunka dgn membawa bekal tri guna (satwik rajas tamas) yg seimbang, maka persiapkanlah diri pada gejolak Maya tersebut..

Cek juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/02/15/tiga-maya-guna-beserta-hubungannya-dgn-cakra-cakra/
Pentingnya satya adlah sebagai jalan pembebasan dan tentu memberikan petunjuk untuk menuju menjadi insan yg berpersepsi Kertha Yoga…Maka swadarma dan satya adalah sebuah kebaikan atas idealitas diri itu sendiri..

Dalam hal ini satya adalah terbagi menjadi lima..

Panca Satya
1. SATYa wacana..yaitu setia pada kata kata..terutama kata2 yg berlandaskan dharma..berlandaskan kebenaran…dalam hal ini adalah sattwika wacika Guna..

2.Satya  hredaya..jujur pada diri sendiri, yang berarti jujur mengakui bahwa diri adalah manusia yg sedang hidup dan belajar menuju laksana pembebasan itu sendiri..Dan mngthui bahwa yg salah adalah salah dalam kedharmaan serta kewajiban..

3.Satya Laksana..Setia akan perbuatan yg artinya setia dalam mempertanggung jawabkan apa yg telah dilaksanan, dan tidak lari dari tanggung jawab itu sendiri..

4.Satya mitra..Setia kepada kawan sahabat yg telah hadir membantu, menemani, dan memberikan pengaruh positif serta pembelajaran hidup..

5.Satya Semara..jujur terhadap janji, bahwa dalam berjanji akan sesuatu hendaknya dilaksanakan, dan pada akhrinya mnjadi sesuatu penghargaan bagi orang lain..

Satya adalah sbuah konsep yg sangat penting, simpel namun sepertinya sulit untuk dilaksanakan, dan mungkin saja ini terjadi karena persepsi kali yoga (sya menyebut yoga, krna menjdi persepsi saja).. Dimana semua seakan tunduk akan Dana itu sendiri, dan atau masuk ke Dwapara Yoga yg mengarah pada yadnya akan tetapi bisa mengerdilkan makna jnana Yadnya tersebut..(rajasik tamasik yadnya)..Dalam persepsi Traita Yoga maka jnana yg utama, namun tentu jnana tanpa budhi akan seperti lupa menginjakkan diri di bumi serta sembari merenungi akan ketapaan itu sendiri.. Pada akhirnya stya dalam menuju kertha yoga adalah sebuah jalan dimana pembelajaraan diri bahwa untuk menuju itu dilakoni khasanah satya yoga itu sendiri…
Sekedar persepsi..

Gwar..des 2016…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 April 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Realitas Kebenaran…Maujud Apa Itu?

Om hare kalkyantara hare kalkyantra ya namo nama swaha

hare kalkya hare kalkya
kalkya hare kalkya hare
hare hare

Salam Kebangkitan..

..Om Paramasiwa,Sadasiwa,SiwaNarayana, Om Namasiwaya..

Maaf kelancangan hamba, ku-persembahkan ini hanya pada-Mu..

Sering mendengar sebuah frase yang Maha, itu seperti mendengar balutan kata “Realitas Kebenaran”. Apa itu sebuah Realitas Kebenaran? Apakah Sebuah fakta tentang idealnya “diri’ sekaligus “dunia”? Atau bagaimana kenyataan di “sini” di dunia dalam bentuk sebagai unit “diri” dan tentunya semesta yang sedianya terjadi di sini..Awalnya yang mendasari semua adalah kekosongan, sebuah kehampaan, ketiadaan, kediaman. Yang menjadi awal dari segala-galaNya, dan menjadi suatu permulaan yang mengaktif sehingga berisi…

Lalu, beranjak jauh kepada realitas dari kenyataan di dunia ini. Apa yang kita telah lihat melalui indera kita (anumana pramana), dan kita rasakan dengan alam pikiran kita(prtyaksa pramana), dan pula dari berbagai pengetahuan hyang lalu (agama pramana), apakah kita merasakan akan suatu kenyataan realita yang “Benar”?Jika sudah “Benar” maka itu berarti kita memberikan berkat bahwa realitas yang ada itu adalah Kenyataan yang diharapkan, atau memasrahkan diri pada Nyata(Maya) ini….Jika akan “Benar” maka bahwa kita mengharapkan ini bukanlah suatu yang ideal dan seharusnya, tetapi ada keharusan dari kita untuk selalu mem”Benar”kannya dan kita yakin nanti pasti “Benar”.

Di balik penceritaan dan pemahaman realitas-kebenaran yang ada, perlu dilihat dari apakah itu merupakan suatu idealnya dunia ini, atau idealnya diri sebagai pemilik dunia yang mampu berpikir (idep). Di dasari awalnya adalah ketika dunia ini adalah suatu maya (acetana) ketidak sadaran akan realitas-kebenaran itu sendiri. Maka sehendaknya dengan kesadaran akan maya,membawa manusia menuju pengetahuan akan maya dunia.

Kembali pada kehampaan, kediaman, kekosongan sebelum adanya dunia dan kenyataan ini, maka sebuah Realitas-Diam yang disebut sebagai Kekuatan energi yang penuh, memulai sebuah aksi dan aktivitas. KeMauanNya(Brahman) itu merupakan kekuasaanNya sendiri. Dari sebuah keadaan tanpa sifat (Nirguna Brahman-Parama Siwa), yang tidak terlacak, tidak bisa dibingkai, diam, tidak terpikirkan, mengaktifkan diriNya dengan sifat (guna). Guna sattwam (terang,bijak), guna Rajas(aktif bergerak), guna Tamas (gelap,diam). Dengan guna itu maka Brahman sebagai realitas tertinggi merealisasikan diriNya menjadi Berpribadi (Saguna Brahman-SadaSiwa). Beliau memiliki empat Kemahaan Utama (Cadu Sakti) ..Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Wibhu Sakti (Maha ada), Jnana Sakti (Maha Tahu), Krya Sakti (Maha Membuat)..

Dengan Krya Sakti Ia Membuat Dunia beserta segala isinya, dengan Jnana Sakti Ia berikan pengetahuan kepada semestaNya untuk bisa hidup dan menikmati diriNya, dengan Wibhu Sakti Ia memberikan diriNya sebagai tempat perlidungan di mana pun dan menyaksikan semuaNya, dan Prabhu Sakti sekaligus menjadi raja IA di dunia ini, memberikan waktu yang tepat untuk hadiah dan hukuman.

Dengan itu IA membuat dunia dari persatuanNya (purusa) dan Guna (prakerti).i Lahir panca maha butha dari kekosongan yng menjadi bagian ruang panca maha butha. Air, Api, Tanah, Udara, dan Ether menyusun bumi. Kemudian mencipta Ia kehidupan yang mengambil bagian seperti eka pramana (tumbuhan me-Bayu) dwi pramana (hewan Ber-Sabda,berBayu), Manusia terakhir dengan IdepNya untuk berpikir. Kekuatan pikir manusia adalah wadah atman ditambah dengan persatuan panca maha butha. Atman yang diselubungi pikiran adalah terdiri dari citta, budhi ahamkara. Ketika kesatuan unit(atman) mampu memberikan ruang jawab bagi indera (panca budhhindriya) dan laku (panca karmendrya) akan menjadikan dunia ini seperti “REALITAS YANG DAPAT MAUJUDKAN KEBENARAN”..

Secara bahasa filsafati, bahwa realitas adalah apa yang ada di sini,di dunia..atau apa yang dipikirkan dan menjadikan kita ada. Realitas adalah saat ini yang berasal dari masa lalu dan menjadi masa depan. Realitas yang terjadi berdasarkan AKSI di masa lalu, dan BEREAKSI menjadi kenyataan realita saat ini. Hasil reaksi itu akan memberi bahan bakar AKSI selanjutnya dan begitu seterusnya (KArmaPhala). Dan itu melintas menuju generasi selanjutnya dan sampai berketurunan dan keturunan selanjutnya (Samsara). Tiada terputus itu sebagai suatu Realitas yang Berkebenaran, sebagai suatu jalan yang abadi (Sanatana Dharma).Di saat terakhir IA akan menuju suatu Kesatuan UNIT tertinggi Hyang Paramatman, dan Mengalami Nikmat Hari Brahman, setersnya sampai sloka bhgwdgita Praritranaya Sadhunam ,Vinashaya Cha Dushkritam, 
Dharamasansthapnaya, Sambhavami Yuge-Yuge.”
Untuk melindungi Dharma (kebaikan), untuk meleburkan adharma (keburukan), AKU (Realitas KEBEnaran) lahir dari jaman ke jaman…………………………..Terlaksana…………………………..

Bukan suatu mistis atau suatu spiritualitas tanpa logika, pada dasarnya etika, sebagai “bagaimana sebagai suatu spontanitas diri yang etis”, menjadi ditegakkan dengan susila yang bersumber dari teologis atau filosofis. Pada dasarnya spontanitas etis itu adalah bagaimana buddhi (kemampuan membedakan baik dan salah) menjadi sebuah wiweka yang terlaksana pada manas(cara berpikir), wacika (kata), dan kayika (sebuah perbuatan).Ini yang mencipta sebuah sisi damai di dunia. Artinya Dharma yang dalam wadah apa pun, adalah Unit Kolektif yang menjadi sebuah kekuatan REALITAS KEBENARAN. Yang benar-benar terpendam di dalam “diri” masing-masing unit, yang bisa terbuka, melaksana, demi keutuhan keabadian dharma itu sendiri. Refleksi dari kemampuan mengenali diri sendiri sebagai bagian buana agung, REALITAS KEBENARAN sebagai tempat tinggal, adalah membawa pedang yang mampu membunuh ketidaksempurnaaNya dengan cara yang lembut, halus, sekaligus menyayat, mengikis kematian kemelekatan akan MAYA dan adharma.

Sangat logis juga ketika dikatakan bahwa filsafat sebagai pengametahuan berpikir akan diriNya atau Wujud ciptaanNya, mampu mengikis ahamkara ego, buddhi yang terpancar,sampai rmenuju sebuah pegetahuan suci tentangNya..Menjadi semua guru kepada murid, dan refleksi dari murid terhadap guru (mirip sikhism). Sebuah kontemplatif yang selalu menuju perubahan dari alam pikir, menjadi energi tanpa batas akan ide sebuah idealnya ini (maya) dan dekat memahami (Maha Pencipta Maya). Apakah itu akan menuju jurang akhir (Maha Pralaya) sebuah kehampaan kembali (akhri malam brahma)..

Dan menyambung pada kata2 BG di atas, sebagai sambhawami yuge yuge..dari jaman ke jaman…Maka sesunguhNya adalah pedang itu akan terasah pada “diri” sendiri..Sebagai sebuah kemanunggalan, sebagai sebuah satria pinandita yg telah dipingit, ratu yg sejatinya adil bijak,sbagai imam yg memiliku nurNya…sebagai seorang “diri” sejati, dimana pun yang menjalankan dharma (kebenaran) masing2..Untuk mendapat tugas besar lahirnya TUHAN pada diri mereka(aku)kalian(dia)mereka(kita) masing-masing, YANG pada akhrinya Maujudkan REALITAS KEBENARAN itu secara otomatis spontan suci dan indah….

 

gwar…

mar 2014..

santi rahayu..

.

….Hyang Sabdo Palon…

 

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2014 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Hubungan Fungsional Atas Pensifatan Tuhan pada Tri murti (Hindu) dengan Asma ul Husna (islam)

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Apa yang kita hadapi pada jaman sekarang. Tidaklah bisa dipungkiri bahwa dunia memang sudah terasa sesak dengan berbagai kekerasan serta pembunuhan, caci maki dan fitnahan, serta pola pikir yang cenderung pesimis dan memiliki nilai negatif atas apa-apa yang menjadi pedoman keyakinan itu sendiri. Padahal bahwa suatu keyakinan itu, sangatlah sakral dan sungguh pun merupakan perwujudan atas nasib dan takdir manusia sebagai mahluk sempurna yang berhubungan dengan kehidupan dan kematian itu sendiri. Seperti saat kita lihat bahwa kemanusiaan (kematian), menjadi hal yang lazim jika ditelisik pada arah pemahaman suatu keyakinan yang mengabaikan lainnya (kemanusiaan).

Apakah memang itu yang terjadi semestinya, atau ada yang salah pada penafsiran akan ayat-ayat suci tersebut Sebagai misal, jika dihadapkan pada ayat yang berkata “potong kepalanya dan halal darahnya”. Apakah itu harus diibaratkan secara nyata dengan memotong kepala yang berbeda keyakinan? Ataukah itu adalah bisa diterjemahkan sebagai pemotongan ego di kepala, baik yang dianggap berbeda dengan mereka yang dianggap seratus persen suci. Padahal jika masuk lingkaran mereka, apakah bisa lebih baik kehidupannya?

Sebagaimana bisa ditelaah pada fenomena ramalan-ramalan tertentu, maka suatu jaman akan berubah menjadi suatu jaman yang lain. Susahkah dipercaya?, atau memang wilayah akademis tidak bisa terlingkupi suatu kekuatan agung metafisika secara menyeluruh. Sebagai suatu definisi pun dapat dikatakan oleh E.B. Taylor bahwa agama berasal dari suatu kekuatan agung yang kemudian diyakini sedemikian rupa. Maka alangkah bijaknya bila ilmu bisa menerjemahkan fenomena akan adanya ramalan-ramalan itu. Ramalan-ramalan tersebut antara lain adalah:

  1. Ramalan jaman Kaliyuga
  2. Ramalan Sabdo Palon
  3. Ramalan dari Kalender Maya yang menceritakan kiamat pada tahun 2012.
  4. Ramalan Jayabaya
  5. Ramalan tentang satrio piningit, imam mahdi, ratu adil, buddha maitreya, kalki avatar.
  6. Dan sebagainya.

Lalu ramalan tetaplah ramalan, namun bijak atau tidaknya memberikan ruang keyakinan pada suatu kekuatan agung ramalan itu adalah merupakan suatu pilihan tersendiri. Fenomena yang terjadi baik secara abstrak atau pun yang teryakini nyata, adalah berunsur dari pemahaman dalam tingkat spirit yang mungkin berbeda-beda pada setiap individu secara subjektif. Lalu apakah pemahaman dari ego menjadi suatu konstribusi pada super ego secara kolektif, berdasarkan jelas pada sifat serta psikologi masing-masing secara perorangan atau individu.

Kembali juga di atas tentang nilai-nilai yang tergerus pada suatu masa, bahwa Pancasila yang disebut sebagai ideologi bangsa, serasa berseberangan antara sila pertama dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Contoh nyata adalah bahwa kesempurnaan dari suatu keyakinan menjadi membabi buta, apa pun yang berbeda malah menjadi bulan-bulanan mereka. Hal itu sepertinya ditujukan kepada telinga para pembela fanatik dan fundamentalis yang telah ditutup dan bahkan menuju suatu pembenaran diri sendiri. Tidak ada yang sanggup dilakukan, kecuali dengan tegas untuk menerobos, mendekontruksikan moralitas yang sesuai dengan ideologi bangsa yang harus tidak pernah akan bisa dihancurkan oleh sekelompok kecil manusia-manusia yang mungkin salah dalam penafsiran kitab suciNya. Dipastikan pula memang benar bahwa bangsa ini masih terjajah dari sisi ideologinya. Dan pada dasarnya kemenangan seperti yang disyaratkan oleh beberapa kitab suci, seperti bhagawadgita dan sarasamuscaya menyebutkan kemenangan dharma yang agung itu adalah suatu hal yang pasti. Kemana pun suatu jaman itu tertuju, intinya adalah dharma pasti menang pada akhirnya. Namun proses menuju ke sana adalah suatu hal yang sejalan dengan paham Karl Marx tentang utopia di masa nanti. Bukan hal yang mustahil rasanya, karena tidak mungkin Tuhan sebagai keagungan semesta membiarkan mereka-mereka yang ikhlas sujud tidak mendapatkan karma yang sesuai. Pada saat akhri jaman itulah bagaimana keyakinan masing-masing diuji sedemikian rupa untuk bersama-sama menuju suatu akhir yang sayangnya indah bagi yang memuja keagungan-Nya.

Pada intinya adalah paham yang diyakini oleh umat hindu yang terangkum pada Panca Sraddha, bahwa karmapala itu tetaplah terjadi baik yang teryakini, atau pun yang kurang teryakini. Termasuk samsara dan tujuan akhir kemoksaan. Dasar dari suatu pemikiran tentang agama yang dituduhkan selalu brutal dan mengancam kehidupan, sebenarnya memiliki sesuatu keilmubatinan yang hampir mirip dengan apa yang diyakini oleh  filsafat moksa dari Hindu itu sendiri. Keilmuan atau pembelajaran batin dari seorang islam (muslim) sangat dekat keterjadiaannya dengan moksa itu sendiri. Pembelajaran itu adalah filsafat Mahrifat yang diperkenalkan atau disebarluaskan oleh Syeh siti Jenar dengan juga oleh Sunan Kalijaga. Mengapa dikatakan mirip, karena pada dasarnya bagaimana persatuan raga dengan Sang Khalik hampir sama dengan moksa yaitu pengetahuan tentang “diri” itu sendiri.  Dan bisa disandingkan dengan “Sangkan Paraning Dumadi”, atau bisa juga dihubungkan dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”.

Seperti yang diceritakan oleh Ngakan Putu Putra tentang Tuhan masa depan, maka sebagai suatu paham monotheisme, islam sudah menjadi suatu agama yang mengerikan. Di mana karena disangka mempersekutukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, maka agama lain (baca: agama bumi) dianggap sebagai agama yang lebih rendah dari yang mereka anut (islam). Padahal terdapat beberapa istilah bagaimana ayat Quran yang menyebutkan  “Agamamu agamamu, agamaku agamaku”.  Itu adalah salah satu ayat yang menjadi tameng terakhir jika suatu ayat pengislaman dilakukan suatu waktu di saat ini. Sebagaimana pula oleh Ngakan putu Putra, menyebutkan kelemahan-kelemahan dari paham transendensialisme dari Sang Khalik. Paham yang lain seperti Monisme atau pun paham pantheism sebenarnya bisa ditelisik kepada bahwa yang Kuasa mengimanensikan diri-Nya ke pada suatu alam semesta. Seperti juga yang disebutkan pada filsafat “tat twam asi” yang menyamaratakan manusia dan bahkan mahluk lainnya.

Pantheisme atau sebagai suatu paham semua adalah Tuhan, menyebutkan bahwa Tuhan berada di mana-mana sesuai dengan apa yang IA inginkan sendiri, atau bahkan apa yang diinginkan penganutNya. Sebagaimana disebutkan pelangi atau perbedaan antar umat-Nya, sebenarnya telah membebaskan bagaimana cara untuk menjadi abdi-Nya. Kerusuhan akibat keyakinan yang berbeda adalah suatu musuh dan bahkan penjajahan atas ke” Bhineka Tunggal Ika”an itu sendiri. Hal mutlak yang dilupakan adalah sila Ketuhanan yang Maha Esa sangat berseberangan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang seharusnya berlaku secara menyeluruh dengan sila-sila lainnya. Di saat keyakinan dijadikan senjata dalam memborbadir bangsa sendiri sebagai upaya menegakkan segala yang dianggap pembenaran dogma, maka Keadilan Sosial sebagai tujuan akhir dari suatu bangsa akan terjerembab dengan buruknya moralitas Pengkhidmat Kebijaksanaan yang sesungguhnya dipilih oleh rakyat itu sendiri. Apa yang salah dalam hal ini adalah mengingatkan pada suatu dekontruksi moralitas yang memerlukan suatu revolusi dari cara berpikir dan cara merasa.

Setelah melihat berbagai persoalan yang didapat secara gamblang di atas, maka terbesit suatu pemikiran yang mungkin diilhami oleh beberapa cendekiawan religi termasuk pula almarhumah Gusdur, maka didapat sebuah kata yaitu “universalitas”. Kata itu sendiri bisa dianggap memiliki suatu kesakralan yang tinggi seperti juga bahwa agama memiliki wilayah sakral dan juga profan yang dipahami oleh Durkheim sebagai bentuk psikologi kolektif di suatu lingkungan sosial.  Universalitas adalah berarti apa yang terdapat di setiap agama, baik agama apa pun itu jika ditelaah secara mendalam, dan bukan hanya dari fisiknya saja, maka filsafat berbagai agama itu bisa diperbandingkan dan pula bisa diakulturasi sedemikian rupa menjadi suatu pemahaman yang baru. Sebagai contoh seperti agama Shiva dan agama Budha yang telah terbukti menjadi suatu akulturasi filsafat yang masih ada sampai sekarang ini.

Perkembangan lainnya yang telah terbukti adalah bagaimana persatuan serta akulturasi antara Islam dan Hindu yang terbukti masih tampak di lombok (Islam Watu telu).  Dan pula di wilayah di Bali, terdapat pelinggih Ida Bhatara Mekkah pada Pura Negara Gamblung Anglayang yang memang lah sebagai simbol keislaman yang dihindukan atau bisa sebagai penghormatan atas islam itu sendiri.  Di samping pula berbagai penyamaan antara Syeh Jenar dengan leluhur Hindu Dang Hyang Nirartha (fenomena). Di samping itu pula bahwa suatu filsafat atau tattwa suatu agama, pada dasarnya akan secara otomatis sesuai dengan perkembangan jaman menuju pada akulturasi itu sendiri. Penyatuan ini juga tampak secara gamblang di daerah India, di mana Guru Nanak menakdirkan dirinya menyatukan Islam dengan keHinduan dan melebur menjadi Agama Sikh.

Seperti yang dituduhkan oleh yang lainnya, bahwa Hindu adalah sebagai agama yang politheism, sebenarnya adalah bahwa hindu memiliki berbagai sudut pandang atas apa-apa yang dituduhkan. Sebagaimana misal bahwa dewa yang dipuja, adalah sebenarnya memiliki fungsi tersendiri. Hal itu juga terdapat pada fungsi-fungsi Allah(baca:Tuhan) yang terangkum pada Asma Ul Husna, yaitu 99 nama Allah yang menjelaskan fungsi dari Allah itu masing-masing. Jika diibaratkan sebagai suatu universalitas, perlu digaris bawahi makna kata dari “menyekutukan” Allah adalah bahwa Allah diserang bersama-sama (sekutu) untuk memperoleh suatu kemenangan atas Allah tersebut.  Padahal dalam berbagai kesempatan adalah bahwa Allah yang disekutukan oleh beberapa pengikut fanatisnya dan memberikan sembari kasta kafir dan non kafir yang membuat perbedaan tinggi rendahnya manusia yang bahkan tidak sesuai dengan maha keadilan Allah tersebut. Kembali ke kata-kata Gusdur dengan pluralismenya, menyebutkan bahwa “Orang tidak akan melihat engkau dari agama apa, dari suku apa, kelahiran apa, jika engkau bermanfaat bagi manusia lainnya”, seperti itu kira-kira pernyataan Beliau.

Penalaran dalam memberi suatu penggambaran atau bayangan terhadap Yang Kuasa, sebenarnya tergantung dari bagaimana memandang Tuhan secara filsafati atau lebih mendalam. Maksudnya adalah wilayah abstrak Tuhan (Allah) dapat dikatakan bersifat melalui penggambaran 99 nama Asma ul Husna. Hal ini bisa juga ditelaah oleh tiga fungsi Tuhan dalam Tri murti yang transendensial yang mirip pula dengan sifat Asma ul husna yang juga transenden. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk membuka suatu jalan yang mungkin penuh makna di masa yang akan datang.

Secara fungsi dari Tuhan yang diagungkan oleh siapa pun itu, maka dalam hindu disepakati bahwa Utpeti, Sthiti, Pralina sebagai Tri murti, yaitu Brahma , Wisnu, Siwa, maka fungsi vital dan sakral itu sebenarnya pula terdapat pada agama-agama yang lainnya baik secara nyata atau secara terbersit. Dan bagi islam, maka Zikir Asma ul Husna dengan japa apakah itu Mahamrytunjaya, atau Japa thiruu neelam kantam, sebenarnya bisa dan sangat boleh disandingkan secara bersama-sama untuk bisa menjadi suatu ketidakberdayaan di hadapan Brahma Al-khalik yang menunjukkan fungsi tersendiri. Dan apakah ada suatu jawaban tersendiri dari pembenaran atau kebenaran itu nantinya, maka kembalikan dari bahwa jaman kaliyuga tidak selamanya akan ada. Dan teryakini bahwa jaman lain yang terhubung dengan kaliyuga seperti jaman Kertha Yuga yang merupakan jaman keemasan manusia akan terjadi  di kemudian hari.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: