RSS

Arsip Tag: sapta timira

Dharma Menundukkan Adharma (Galungan) Konsep Awatara.. 

Dharma Menundukkan Adharma (Galungan) Konsep Awatara.. 

Sarasamuscaya 47..ye tu dharmmasuyante,  bhuddimohanwita janah,  apatha gacchatam tesam-anuyatapi pidyate.. Dan orang yg ingkar dalam pelaksanaan dharma serta cenderung berbuat jahat,  pasti neraka akan ditemuinya.. 

Begitu agungNya kedharmaan itu,  IA tak akan pernah kalah,  dan IA akan selalu menang yg ditandai dengan adaNya kemunculan pelbagai utusan juga hadirat dari sang Ilahi hyang widdhi itu sendiri.. 

Sebagaiamana galungan hari kemenangan dharma yg didahului dengan munculnya sang kala tiga yg menguji dengan membawa ujian kegelapan,  dasa mala sad ripu juga sapta timira sebagai bahan perenungan diri.. 

Seperti bagian dasa mala.. 

  1. Tandri, artinya orang yang malas, suka makan, dan tidur saja. Tidak tulus hanya ingin melakukan kejahatan.
  2. Kledaartinya berputus asa, suka menunda dan tidak mau memahami maksud orang lain.
  3. Leja, artinya berpikir gelap, bernafsu besar, dan gembira melakukan kejahatan.
  4. Kutila, artinya menyakiti orang lain, pemabuk dan penipu.
  5. Kuhaka, artinya pemarah, suka mencari-mencari kesalahan orang lain, berkata sembarangan, dan keras kepala.
  6. Metraya, artinya berkata menyakiti hati, sombong, iri, dan suka menggoda istri orang.
  7. Megata, artinya berbuat jahat, berkata yang manis tetapi pamrih.
  8. Ragastri, artinya bernafsu dan suka memperkosa.
  9. Bhaksa Bhuana, artinya suka menyakiti orang lain, penipu dan hidup berfoya-foya melewati batas.
  10. Kimburu, artinya penipu dan pencuri terhadap siapa saja tak pandang bulu, pendengki dan irihati.

Sad ripu,  kama moha mada matsarya krodha lobha.. 

https://linggashindusbaliwhisper.com/2014/05/25/sad-ripu-dalam-bhagawadgita-dan-hubungannya-pada-maya/

Atau sapta timira yg merupakan tujuh kegelapan secara detail adalah

Dhana timiram dimana materi adalah hal utama dalam hidup,  bukan dharma.. 

Guna timiram dimana hanya kepintaran yg diakui sebagai yg utama, bukan dharma

Kulina timiram,  keturunanlah yg paling utama.. 

Sura timiram,  karena minuman keraslah orang dihormati dan melupakan keluarga

Kasuran timiram,  karena keberanianlah yg utama, bukan dharma.. 

Yowana karena umurlah paling utama,  bukan kebijaksanaan dharma..

Surupa,  karena rupalah yg paling utama.. 

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Kesadaran akan ujian itu akan membawa manusia pada kesadaran diriNya tentang dharma itu sendiri.. Di mana dharma adalah yg akan selalu menang pada akhirnya dan setiap harinya,  walau sang adharma merasa menang,  karena pada dasarnya tidak ada rasa menang dari seorang yg dharma.. Itu adalah sebuah kepastian saja.. 

Sarasamuscaya 48 ..adharmarucayo mandastiryaggatiparayanah,  kroccham yonimamuprapyana windanti sukham. Janah.. Selain itu orang yg angkuh dan adharma,  setelah pergi ke alam neraka ia akan menjelma menjadi binatang seperti kerbau kambing,  jika penjelmaannya meningkat, ia bisa menjadi orang nista menderita dibelenggu penyakit menyedihkan jauh dari kesenangan.. 

Maka bgitu disebutkan pula dharma lah yg membuat manusia menuju pada kebahagiaan kekal juga terlepas dari kedukkaan dunia.. 

Seseorang yg menjadikan dharma sebagai tamengnya,  jalan hidupnya,  juga sebagai diriNya sendiri,  maka IA disebut sebagai utusan bhatara dharma itu sendiri,  sbegaimana juga para leluhur2 yg telah hadir dan ada pada berbagai kesempatan memberikan penjelasan tentang tattwa juga kedigjayaan dharma itu sendiri.. 

Mpu bharadah pernah menghancurkan keadharmaan Nyai girah,  Mpu kuturan yg menyatukan pelbagai aliran dalam bentuk wewantenan yg dirumuskan maha rishi markandeya.. Dibawah mpu bahradah ada mpu tantular tentang persatuan siwa budha,  dan juga dang hyang sidhimantra yang mnyuarakan pengabdian di basukihan bersama anakNya ida Sangkul Putih yg mengalahkan keadharmaan MayaDanawa..atau juga dang hyang Asmranatha yg menyebutkan sabdo palwan,  juga sidakarya oleh dang hyang astapaka,  dan sampai universalitas pemahaman dharma pada wetu telu oleh dang hyang nirartha.. Bhagawan wararuci dengan sarasamuscayaNYa dan sebagaiNya.. 

Pada dasarnya beliau2 itu,  atau yg lainnya disebut bhatara lelangit adalah awatara yg telah terdeteksi oleh sejarah nusantara,  yg memberi prmbelajaran tentang dharma.. Dan karena pembelajaran itulah,  bisa kita mengucapkan dengan yakin dan lantang.. 

Satyam eva jayatyam.. 

Gwar.. Selamat galungan kuningan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Oktober 2017 in agama, budaya

 

Tag: , , , ,

Korelasi sapta patala maha bali, susila hindu, Sapta loka dan Trisula Wedha.. Juga Awataram.. 

Korelasi sapta patala maha bali, susila hindu, Sapta loka dan Trisula Wedha.. Juga Awataram.. 

Om jagatham natha laksanam buddhi dharma charita.. Syahajanaka kawula tinunggal gusti mahajnanatantranika..Kashadram Kalkayi mahadevam tat sat Ang Ung Mang Namaha.. Pujam puji sang sadhu bhatani brahmina khalikamaya.. Om

Sapta patala adalah ibarat neraka loka dalam khasanah kehinduan itu sendiri, di mana tempat itu dihuni oleh para Ashurya yg siap menghukum para pelaknat Nya itu sendiri. Dalam hal ini berbeda pula ketika berbicara pada makna sapta loka. Dikatakan bahwa sapta loka adalah tujuh lapisan dari semesta sebagai cerminan ekspresi refleksi surga itu sendiri..

Berbicara tentang sapta patala,  maka tidak lepas dari wiracharita awatara2 Wisnu yg brhubungan dengan Maha Bali itu sendiri sbagai pnguasa sapta patala. Dikatakan Wisnu waisnawa devam menjelma sebagai wamana awataram untuk menguji Sang Maha Bali raja Asyurha,  yg mrupakan cucu Prahlada..Prhlada sendiri adalah seorang pemuja Waisnawa wisnu dewam dimana Ia hadir pada saar Narasingha Awataram muncul yg hendak dibunuh oleh ayaNya Hiaranyakasipu yg mndapat berkat Dewa Brahma.. Namun dpat dihncurkan oleh Hyang Waisnawa Narashimha Jayantam akibat kelalaian mnggunakan Kesaktiannya..

Cucu Prahlada sendiri adalah Raja MahaBali ashyura hyang Agung,  sangat perkasa dan adil,  dengan penasehat spiritualnya adalah SukraYacarya..Suatu waktu maka Sang Maha bali akan memberikan suatu hadiah kepada Para Brahmana,  dan saat itu wisnu ingin mengetesnya dalam hal mnyangkut sapta timiramNya guna dhana sura kasuran Nya.. Kesombongan mgkin mengada, namun Maha Bali akan siap dalam ujian Nya.. Maka Waisnawa mncul sebagai wamana Awataram datang dgn maujud pendeta cebol,  yg datang saat pembrian hadiah.. Kemudian bgitu mudahNya MahaBali mmbrikan hadiah kepada para pandita,  namun ktika Wamana Awataranikam hadir,  dan pada akhrinya dipertanyakan oleh Maha Bali tntang apa2 yg akan diminta,  tanah materi ternak makanan atau apa saja,  ktika Ia Maha Bali mampu mbrikanNya maka akan diberikan..

Pendeta Sukra-acaryam sbtulnya curiga ttg gerak gerik pandita itu,  kmudian menasehati agar waspada.. Maha bali. Pun bertnya ttg apa yg Ia Minta.. Lalu Sang Wamana Pandita mngtakan,  aku hanya meminta tiga tanah tiga langkah untuk mndapatkan tanah milikKu.. Sedikit tertawa kemudian Maha Bali sedia bersabda.. Baiklah pandita,  maaf sedikit menjumawakan diri Hamba, Hamba persilakan Brahmin yang Agung..

Kemudian sang Awataranikawamana melangkahkan kakiNya.. Satu langkah semesta Ia langkahi dgn alam bhur bwah swaha,  kmudian pratiwi bumi Ia dapati dan yg terakhir satu kaki lagi tak mampu Ia dapatkan jejak,  karena semua telah habis.. Karena takjub Sang Hyang Syhura MahaBali, maka diberikanlah kepalaNya untuk diinjak oleh Sang Brahmin awataranika,  hancur ktika lgi satu langkah itu Ia tak dapati.. Maka Wicaksana betul Sang Mahabali sbagai juga cucu Prhlada sang Pemuja Waisnawa KakekNya dahulu saat bertemu Narasimha..

Maka dihadiahkan lah oleh Sang Brahmin sapta patala lokha yg mengapresiasikan kewilayahan neraka loka itu sendiri pada Sang Maha Bali bserta keturunanNya.. (bandingkan kisah Brhmana Keling Dang Hyang Astapaka-topeng sidakarya)..

Sapta patala sendiri adalah tempat yg dibawahi dibagi mnjdi tujuh bagian,  yaitu :(sumber hindulukta blogspot)

1.  Atala.

Dimensi alam atala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri. Artinya dalam satu dimensi yang sama disana ada banyak alam. Dimensi alam atala ini adalah “tetangga” kita paling dekat. Penghuninya adalah para wong samar. Mereka secara fisik cukup mirip dengan manusia, dengan beberapa perbedaan, seperti salah satu misalnya tidak adanya cekukan di bawah hidung diatas mulut. Ada juga penghuninya yang berupa mahluk yang sama seperti manusia. Pada beberapa dunia disini, lingkungan mereka juga hampir mirip dengan kita, seperti ada perkampungan [desa, pemukiman], tempat-tempat suci, dsb-nya.

Hanya suasananya cenderung remang-remang, seperti sore hari menjelang malam atau pada saat mendung tebal. Pada dasarnya mereka bukan mahluk mahluk yang jahat, hanya saja tingkat tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya. Akan tetapi wong samar ini juga ada yang mengenal ajaran dharma, sehingga mereka tetap berusaha berkarma baik

untuk bisa keluar dari alam ini. Mereka yang masuk alam ini biasanya disaat kematian, karma buruknya lebih dominan dibandingkan dengan karma baiknya dan pikiran buruknya lebih dominan dibandingkan dengan pikiran luhurnya. Sehingga saat kematian tiba dia akan gagal menemukan jalan terang.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan rasa bersalah, rasa tersinggung [marah], rasa tidak terima, rasa sakit fisik, dsb-nya. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan kasih sayang dan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan.

Tmbahan…

Kesadaran rendah akan Budhi dharma akan masuk pada wilayah2 ini. Dharma masih ada namun itu belum cukup.. Semoga yadnya akan membawa mereka lepas dari “asuhan bumi” ini..

2. Sapta Petala dimensi kedua : Witala.

Alam witala ini memiliki banyak sekali dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Penghuni dimensi alam witala ini sangat beragam, yaitu berbagai macam mahluk-mahluk yang wujudnya ganjil dan aneh-aneh, seperti wujud dengan badan rusak atau tidak lengkap, kepala berkaki tanpa tubuh dan tangan, berwujud bola dengan lidah-lidah api, wujud yang menjijikkan, berwujud bola mata merah menyala, dsb-nya. Mereka yang masuk alam ini biasanya yang disaat kematian ada

memendam banyak kekecewaan, dendam atau sakit hati, selain juga tidak punya tabungan karma baik yang mencukupi. Juga mereka yang mati mendadak dalam kondisi sengsara atau salah pati seperti misalnya karena : kecelakaan, dibunuh, dsb-nya. Tanpa punya akumulasi karma baik yang mencukupi. Sehingga saat kematian tiba dia akan gagal menemukan jalan terang.

Termasuk mereka yang mati bunuh diri juga akan cenderung masuk alam ini. Pada dasarnya mereka bukan mahluk-mahluk yang jahat, hanya saja tingkat tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya, sehingga pikiran mereka penuh kekalutan. Selain itu, proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam witala ini juga ikut mendorong mereka seperti itu. Sumber utama kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai kekecewaan, ketidakpuasan dan keinginan-keinginan pikiran yang tidak terpenuhi. Juga berbagai dendam dan sakit hati yang menurut mereka harus dilampiaskan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan cinta yang didambakan, keinginan yang terpenuhi, kemarahan

yang terlampiaskan, dsb-nya.

Tambahan: kekecewaan dalam ketidakiklasan menerima takdir sbagai manusia dpat mnumpulkan budhi.. Tentunya ini memngaruhi idep yg smakin jauh dri wicaksana manacikam..

Cek juga.. Ttg samsara menuju dwi eka pramana

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/05/04/logika-tentang-reinkarnasi-atas-dwi-dan-eka-pramana/


3. Sapta Petala dimensi ketiga : Sutala.

Penghuni alam ini adalah para preta, mahluk berwujud manusia kurus, berwajah pucat dan suara melengking atau suara histeris. Ada juga mahluk yang wujudnya manusia kumal, dengan rambut kusut kotor. Selain itu ada juga mahluk-mahluk mirip seperti manusia di alam ini yang terus mengejar hasrat-hasrat duniawi palsu, tapi semuanya akan berujung kepada siksaan dan kesengsaraan. Kejadian ini, yaitu mengejar hasrat-hasrat duniawi palsu yang kemudian berujung kepada siksaan dan kesengsaraan, akan terus terjadi berulang-ulang dan berulang kembali di alam ini.

Alam sutala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Dinamika alam, pengalaman dan wujud para penghuninya juga ada beberapa perbedaan satu sama lain.

Mereka yang masuk alam ini biasanya yang dimasa kehidupan gemar sekali mengumbar hawa nafsu indriya [hedonis] dan serakah mengejar berbagai macam kenikmatan dan kepuasan-kepuasan lainnya. Selain juga tidak punya akumulasi karma baik yang mencukupi. Pada dasarnya mereka bukan mahluk-mahluk yang jahat, hanya saja tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya, sehingga mereka tidak mampu mengendalikan dirinya.

Dan proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam sutala ini juga mempengaruhi dan membuat mereka seperti itu. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak terpenuhi, seperti nafsu seks yang dilampiaskan sepuas-puasnya sampai maksimal, makan enak yang dilampiaskan sepuas-puasnya sampai maksimal, dsb-nya. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan

[kenangan] akan keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak pernahn terpuaskan.

Tambahan :

Artha tanpa dharma akan mnuju pada hedonisitias carwaka darshanam.. Biasanya mereka terjebak pada gelapnya dhana timiram lan guna timiram.. Dan akhirnya lobha matsaryam merasuki kehidupan mereka..

Cek juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

4. Sapta Petala dimensi ke-empat : Talatala.

Penghuni alam ini adalah para mahluk yang mudah berubah menjadi beragam wujud. Sering disebut para siluman. Dari wujud yang sangat buruk sampai wujud yang sangat indah. Kadang wujudnya seperti manusia, kadang wujudnya binatang, kadang wujudnya naga, kadang wujud lainnya. Kalau mereka hadir di dimensi halus alam marcapada [alam manusia]biasanya hadir dalam wujud binatang seperti ular, harimau, dsb-nya.

Alam talatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Suasana alam dan wujud para penghuninya juga ada beberapa perbedaan satu sama lain. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang punya ego dan sifat manipulatif yang kuat serta banyak melakukan kesalahan-kesalahan berbahaya bagi banyak orang.

Mungkin pernah dalam masa kehidupannya dia baik secara fisik maupun melalui perkataan dan pikiran [hinaan, fitnah, penipuan, manipulasi, ajaran spiritual palsu, hasutan, dsb-nya], menyebabkan seseorang atau sekelompok orang mengalami kesengsaraan atau kebingungan panjang dan mendalam. Misalnya saja [hanya contoh] : meracuni makanan atau obat-obatan [formalin, methanol, zat berbahaya, obat dengan dosis tidak sehat], memproduksi narkoba, melakukan korupsi dengan dampak besar, melakukan penipuan besar kepada sekelompok orang, mengeksploitasi tenaga kerja, berpura-pura menjadi guru spiritual padahal ajarannya tidak benar [misalnya ajarannya membuat orang menjadi fanatik, menjadi bertengkar, konsep ajaran yang rawan konflik] padahal tujuan sesungguhnya hanya untuk kepentingan pribadi, memuaskan ego dan keserakahan religiusnya, dsb-nya.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai pemuasan ego yang tidak terpenuhi. Serta proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam ini yang semakin menekan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai pemuasan ego yang terpenuhi.

Tambahan : ibarat mereka yg kehilangan BudhiNya rasaNya dan hanya bergerak brdasarkan sabda bayu tanpa idep.. Dalam bahwasanya hidup berdasarkan rajas tamasika guna tanpa satwika guna..

Krna jerat Maya ..

Cek..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/08/surga-dan-neraka-dalam-karma-serta-reinkarnasi/

5. Sapta Petala dimensi kelima : Mahatala.

Penghuni alam ini adalah para rakshasa, makhluk bertubuh tinggi-besar, berkulit hitam, berwajah sangar dan seram. Ini adalah lapisan alam gelap yang menjadi habitat bagi jiwa-jiwa yang hanya sedikit saja punya rasa welas asih dan dominan punya bathin gelap seperti : iri hati, kemarahan, ketidakpuasan, dendam dan kebencian.

Alam mahatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Wujud para rakshasa ini juga berbeda-beda, misalnya kulitnya ada yang tidak berbulu, ada yang berbulu seperti rambut, ada yang berbulu duriduri tajam seperti jarum, dsb-nya. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang jiwanya dominan dengan rasa iri hati, serakah, tidak puas, kemarahan, dendam dan kebencian. Sering melakukan kekerasan dan teror fisik maupun mental kepada orang lain. Lihatlah pada manusia-manusia yang pikirannya jarang welas asih, mementingkan diri sendiri, cenderung suka mengintimidasi dan menyebarkan jejak-jejak kemarahankebencian dimana-mana.

Termasuk mereka yang semasa hidupnya belajar ilmu hitam atau ilmu-ilmu kesaktian lainnya dan menggunakannya untuk menyakiti dan menyiksa orang lain. Kecenderungan bathin mereka selalu ingin lebih hebat [lebih sakti] dari yang lain, tidak punya toleransi kepada yang lebih lemah, penuh prasangka buruk, rasa curiga, iri hati, serakah, tidak puas, marah, dendam dan benci. Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah siksaan mental yang mendalam akibat dari siksaan mental yang ekstrim [iri hati, marah, benci, dendam, dsb-nya]. Serta proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam ini yang semakin menekan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan puasnya melampiaskan kebencian, ketidak-puasan, dendam dan amarah yang menyebabkan orang lain menderita.

Tambahan: hal ini terjadi karena gelap timiram dari Sura Kasuran Kulina Yowana Timiram..

Bisa dicek :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/26/sandingan-konsep-seven-deadly-sins-konsep-sad-ripu-serta-sad-atatayi/

.

6. Sapta Petala dimensi ke-enam : Rasatala.

Penghuni alam ini adalah para mahluk yang tidak mewujud, hanya berwujud bayangan halus atau kabut yang lembut. Sering disebut para lelembut. Kehadiran mereka akan menghabiskan energi yang hidup bagi lingkungan sekitar maupun bagi mahluk lain [termasuk manusia]. Sesama makhluk-mahluk alam bawah pun juga tidak tahan berdekatan dengan mereka. Hanya mereka yang memiliki kemampuan supranatural tinggi yang bisa berhadapan dengan mereka tanpa terhisap energi hidupnya.

Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang jiwanya dominan dengan rasa iri hati, serakah, tidak puas, kemarahan dendam dan kebencian. Umumnya yang masuk alam ini adalah mereka yang aktif menyebarkan propaganda yang memecah-belah manusia. Terutama mereka yang pernah melakukan kesalahan-kesalahan berbahaya bagi banyak orang seperti menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dsb-nya] yang sampai pada terjadinya aksi kekerasan fisik kepada sekelompok orang atau bahkan memicu peperangan antar wilayah. Lihatlah pada manusia-manusia yang haus darah, senang dengan

kekacauan, serta puas melihat ketakutan, kepedihan, dan penderitaan. Alam rasatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah akan merasakan kesengsaraan mental yang sangat berat, akibat proyeksi energi negatif dan kondisi alam berat yang tidak terhingga di alam ini. Hampir tidak ada kebahagiaan di alam ini. Termasuk tersiksa akibat perbudakan mental dan manipulasi dari jiwajiwa gelap yang menjadi raja atau penguasa di alam ini, serta sang jiwa merasa demikian putus asa akibat kecilnya peluang untuk bisa keluar atau bebas dari alam ini. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah setitik harapan kecil bahwa suatu hari akan ada mahluk suci yang menolong keluar dari kesengsaraan panjang dan mendalam ini.

Tambahan:

Org yg guna timiram dan melakukan sad atatayi akan hadir di wilayah ini.. Trutama yg mmbuat kekacauan

Raja pisuna agnida.. Membakar rumah apalagi tmpat ibadah,  memfitnah juga..

7. Sapta Petala dimensi ketujuh atau paling negatif dan gelap : Patala.

Ini adalah dimensi alam bawah yang paling mengerikan. Sulit untuk diceritakan. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk dan melakukan kesalahankesalahan fatal. Dimensi alam ini adalah apa yang disebut sebagai Naraka Loka [neraka]. Di alam ini berlaku hukum rimba, dimana yang kuat yang berkuasa. Alam patala atau Naraka Loka ini memiliki banyak sekali dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.

Sumber kesengsaraan di alam ini adalah akan merasakan kesengsaraan mental yang sangat berat, akibat proyeksi energi negatif yang ekstrim dan kondisi alam berat ektrim yang tidak terhingga di alam ini. Termasuk tersiksa akibat penyiksaan, konflik, persaingan dan peperangan abadi antar sesama mereka. Tidak ada kebahagiaan sedikitpun di alam ini. Sangat sulit untuk keluar dari alam ini.

Kemudian masuk pada wilayah sapta loka yg juga disebut sbagai alam bhur bwah swah jana tapa maha sunia lokam..

Dmana di jaman ini bhur bwah swah adalah sekala niskala dan bisa sahanirahkala jugya… Dengan kesadaran..

Kemudian ada selanjutnya tapa maha jana loka..yg dikuasai oleh  Sang Hyang Murti Maya Mudhra..dalam ini maka Jana loka adalah Brahmika Iswaraham Rajasika Murti Mayaka.. Dmana Jnana adalah jalan menujuNya..

Lalu ada Tapa loka sang Hyang Murti ShidantaShiva tamasa Murti Mayaka yg jalan menujuNya adalah Raja Marga..

Kemudian ada juga Maha lokha dmana jalan menujuNya adalah Mahadevaka waisnawatha Satwikah juga jalan Karma MargaNya..

Dan Sunia Loka tmpat Hyang Embang Sunia Acintya lokham samastham.. Tmpa kamoksan para awataram yang akan lagi Turun ke dunia dmana ke depan ada bernama Sang Hyang Kakia Awataram..

Itu trisula wedha dalam wujud seluruhnya sbagai bhakti marga..

Sekedar wibhuti marga

Gwr manis waisak..

Mei 2017

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2017 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Sapta Timira, Tujuh Kegelapan yang Berdasarkan Sarasamuscaya..

Om swstyastu..
Teja hning ring pasupatya..
Suryaatma meluwih suhci nirmala..
Om nama siwaya sivanarayam
Om shanti2 om
image

Sapta Timira berdasarkan niti sastra berasal dari dua kata yaitu sapta yang berarti Tujuh, dan Timira yang berarti kegelapan atau kesuraman serta awidya (tanpa pengetahuan).. Pada dasarnya widya awidya adalah kata kunci terbaik dari bagaimana pengetahuan suci (Pure Supreme Knowledge) adalah membuka sebuah pembebasan dari penderitaan itu sendiri. Widya adalah suatu pengetahuan yang membebaskan, dimana bahwa manusia agar bisa menuju pada suatu kesadaran yang membebaskan, maka sesungguhNya pengetahuan suci tentang brahman atman aikyam adalah selalu mnjadi tujuan akhir..

Timira atau kegelapan, adalah sifati tamasik atau kegelapan dan kemalasan diri untuk menuju dan beranjak kepada sebuah evolusi kesadaran itu sendiri, namun bahkan bahan-bahan dari seluruh pembelajaran atas pengetahuan yang supreme itu, sesungguhnya bisa menjadi sarana penggelapan juga, yang menghambat evolusi tinggi dari kesadaran itu sendiri..

Timira adalah diawali dengan sebuah penguasaan diri serta selalu melaksanakan hakikat diri sebagai manusia, yang senantiasa tersadarkan untuk selalu melaksanakan dharma.. Dharma yang agung, yang menjadi dasar pondasi untuk memberikan lilin penerang yang menghalau segala kegelapan di diri serta memberikan penerangan bagi yang lain, sebagai dharma raksaka, para pembela dan penegak dharma..

Sarasamsucaya adalah sebuah kitab yang memberikan gambaran tentang sari-sari dari ithiasa mahabrata(bhgwan byasa), yang disarikan bhgwan wararuci. Dimana sarasamuscaya menitikberatkan pada keagungan dharma sbagai moralitas tertinggi dari etika serta sangat dalam sbagai filsafat, dan tentunya pedoman untuk mlaksanakan ritualitas hindu (kerangka hindu). Dan etika yang berdasarkan dharma, menuju pula pada sebuah tuntunan tersendiri untuk mencapai penerangan dan memperlihatkan bahwa kegelapan-kegelapan yang ada seperti sapta timira adalah sesuatu yangk buruk bagi evolusi kesadaran diri..

Secara garis besar maka bagian-bagian sapta timira adalah sebagai berikut:

1. Surupa timira : Adalah kegelapan karena ketampanan atau kecantikan serta rupa yg menawan. Artinya adalah kegelapan itu menuju pada sebuah kepuasan berlebih atas rupa itu, serta melupakan kewajiban sbagai diri manusia, atau pula merendahkan yang lain yang memiliki rupa kurang dari dirinya sendiri.. Dengan kegelapan ini, maka seseorang bisa lupa untuk melakukan olah rasa dan iman serta terlempar dari ruang terang pengetahuan yang membebaskan. Dan mereka yg sering melihat dari kulitnya, maka tiada ingat akan kekurangan diri..
Sesungguhnya dalam sarasamuscaya disebutkan bahwa ketampanan wajah rupawan adalah kelahiran dari surga, hal ini dapat dilihat pada sloka :

Sarasamuscaya 21..
Surupatamatmagunam ca vistaram kulanvayam,
Drvyasamred-dhisancayam, naro hi sarvam labhate,
Yathakretam sadasubhenatmakrtena karmana.
Artinya: maka orang yang melakukan perbuatan baik, kelahiran nya dari sorga kelak menjadi orang yg rupawan, gunawan, muliawan, hartawan, dan berkekuasaan; buah hasil perbuatan baik, didapat olehnya..

Maka karena berbuat baiklah Ia mendapatkan kerupawanan, namun ketika itu diliputi kegelapan tamasikam, maka tentunya tidak mendapatkan karma baik dan menuju surgawi. Dan itu mengakibatkan ia menurun derajatnya di masa mendatang.

Ketika kegelapan karena ketampanan itu ada, bahkan bisa digunakan untuk mencela yang tidak sempurna seperti dirinya sendiri, hal ini adalah berasal dari pikiran yang mengandung sifat kesombongan itu sendiri, dan jauh dari prilaku seseorang yg sadhu. Dalam sarasamsucaya disebutkan :

Srsamuscaya 307..
Na smarantyaparaddhani smaranti sukrtani ca,
Asambhinnaryamary sadhavah purussotamah.
Artinya : dan lagi (sang sadhu) tidak memikirkan dosa atau cacat orang lain, pun tidak mengeluarkan kata-kata apapun tentang celaan atau teguran dari pihak lain, hanya kebajikan dan perbuatan phak lain saja dipikirkan beliau, dan sama sekali tidak ada kemungkinannya sang sadhu itu menyimpang dari prilaku orang arif, melainkan tetap sopan santun dan susila, dmikian laksana sadhu sbagai manusia yg utama..

Maka tentu saja ktika mencela orang lain yang lebih tidak sempurna, baik itu dalam ucapan apalagi perbuatan yg berasal dari pikiran yg dipengaruhi kegelapan, tentunya itu merupakan sesuatu kepribadian yang jauh dari kemuliaan dan bukan laksana seorang sadhu(berbudi luhur).

2. Guna timira : disebutkan bahwa guna, yaitu kepandaian merupakan suatu yg bisa menimbulkan kemabukan dan juga kegelapan. Hal ini merupakan buah pikiran yang cerdas, namun tidak dilandasi dgn sattwika guna dan juga tidak mengindahkan dharma. Guna timira kemudian mengakibatkan kesombongan serta pula bisa kesengsaraan bagi yg dikuasai, tentunya rajasik yg berperan untuk menunjukkan ambisi yg tinggi serta berlebihan. Inilah yang mengakibatkan dunia hancur, dan kecerdasan itu menjadi sebuah kelicikan semata.
Seseorang yang guna timira, sungguh bisa dinyatakan sebagai seseorang yg tidak meyakini akan kebenaran dharma. Mereka terlalu sibuk akan kepintaran duniawi saja, dan tidak menyeimbangkan pada pemahaman jiwa itu sendiri.
Seseorang yg tidak mempercayai atau meyakini kebenaran agama, disebut nastika. Dalam sarasamsucya disebutkan :

Sarasamuscya 113
Apramayam ca vedanam sastranam catilanghanam,
Sarvatra canavasthanamrtannacanamatmanah.
Artinya : lagi pula, jika tidak mempercayai ajaran suci weda pun tidak menaati akan ajaran dharmasastra serta tidak mengikuti ketentuan-ketentuan ajaran agama, pasti setelah meninggal dunia akan kembali berulang2 hidup sengsara.

Walaupun dengan kepintran dan kecerdasan yg tinggi, tapi tanpa menyadari akan sebuah keyakinan dan susila yg baik, maka itu seperti padi yang tidak berisi. Yang mendongak, namun tanpa berisikan kebijaksanaan yang sattwikam.

3. Dhana timira …adalah kegelapan yg ditimbulkan karena materi serta kekayaan duniawi..Sesungguhnya pula artha yg didapat tanpa dharma adalah sebuah kebodohan yg nyata..Dan ktika tnpa diberikan kendali, maka sebuah keterikatan akan duniawi, akan sanggup mengikat untuk tidak bisa menuju pulau tujuan..

Tentu di jaman kali ini, adalah sangat mudah menemukan mereka yg menuhankan kekayaan dan mengesampingkan dharma itu sendiri..Terpuruk itu sebagai suatu kenyataan hidup, akan cepat atau lambat menjadi kryamana karmapala di kehidupan mendatang..

Sarasamuscaya 267..
Jatasya hi kule mukhye paravittesu grdhyatah lobhasca
Prajnamahanti prajna hanti hata sriyam..
Artinya : Biarpun orang keturunan MUlia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain, maka hilanglah kearifannya karena kelobhaannya; apabila telah hilang kearifannya itu, itulah yg menyebabkan hilangnya kemuliaannya, keindahannya, dan seluruh kemegahannya..

Maka tentu saja, bahwa karma buruk akan selalu mengikuti keadharmaan, dimana dharma akan selalu dijalani dgn kegelapan yg nyata dan menutup mata hati akan kebertuhanan dan berkemanusiaan..

4. Kulina timira..adalah kegelapan karena keturunan.. sesungguhnya bahwa keturunan dri seorang bangsawan atau yang terhormat, belum berarti membuat keturunannya bisa seperti yg diharapkan oleh keturunan itu.. Sebagaimana seekor angsa tentu harus belajar mencari ikan kecil dalam proses yg tidak mudah dilalui.. Dan tentu saja dharma yg ada, menjadi suatu dasar yg mutlak untuk bisa berada pada jalur-jalur yg sesuai dgn yg telah tergariskan..Sebagaimana jua yg tersirat di sarasamuscya..

Sarasamuscya 63..
Arjavam cancramsyam ca damaccendriyanigrahah,
Esa sadharano dharmascaturpvarnye bravinmanuh..
Artinya : inilah prilaku empat golongan yg patut dilaksanakan :arjawa jujur dan terus terang, anrcangsya tidak mementingkan diri sendiri, dama yaiti menasehati diri sendiri, indriyanigraha mengekang hawa nafsu..keempat itulah yg harus dibiasakan oleh empat itu sprti sabda bhatara manu…

Maka dlam beberapa bgian penggologna itu yg baik berasal dari keturunan atau dari kecintaan akan ilahi, maka tentu saja kegelapan karena keturunan adalah yg menjadikan manusiamlupa akan kebenaran itu sendiri..

5. Yohana timira ….adalah kegelapan karena usia muda..
Usia muda yg bergejolak dan memberi pengaruh buruk akan pola pikri dan kedewasaan dalam memengaruhi keputusan yg ada.Tentu saja pertemanan dan kawan serta loyalitas semu dalam pergaulan, adalah salah satu sifat anak muda yg dikuasai rajasik guna.Dalam sarasamuscya disebutkan..

6. Sura timira yaitu kegelapan krana berlebihan minuman keras..Kedua timira itu dapat dijelaskan pada sloka ini..

Sarasamuscya 325..
Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktinam ca, vicitaragam bahumayinam ca naitan niseveta naradhaman sat..

Artinya : inilah orang yg tidak layak dijadikan kawan bergaul, orang yg selalu mengusahakan kesedihan terhada orang lain, serta buruk laku, yg sangat alpa, yg kata2nya bohong dusta, orangnyg terikat hstinya kepada minuman keras, keenam orang yg sangat keji itulah yg dihindarkan

7.Kasuran timira yaitu kegelapan karena keberanian..Tentu saja sebuah kegelapan yg nyata, ktika mata tidak mampu memberikan suatu caranyg bijak utnuk tidak mengobral keberanian kemana-mana..Hal ini menjadikan diri berpedoman pada emosi yg rajas dan tamasik..
Dalam sarasamuscya disebutkan..

Sarasamuscya 149..
Ye dhananyapakarthashantii narah svabalamasritah,
Na hared dharmakamam ca pramusanti na samsayah..
Artinya : jika ada orang yg merampas kekayaan orang lain denfan berpegamg pada kekuatannya dan punya pngikut banyak, malahan nukan hamya kekayaan hasil curiannya saja yg terempas darinya, tetapi juga dharma artha kamanya itu turut sirna atas krena perbuatannya…

Maka tentulah kegelapan krna keberanian adalah sesuatu yg tisal layak dilakukan..

Demikian kiranya setitik tinta untuk me nulis semesta..Karena semesta akan senantiasa menepatinjanji sesuai yg diberikan oleh kesadaran kita ini..

Salam gwar april 1 2015

 

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 2 April 2015 in agama, budaya

 

Tag: , , ,

 
%d blogger menyukai ini: