RSS

Arsip Tag: sarasamuscaya

Korelasi antara Catur Warna dan Catur Marga..

tara yantra

Seperti telah diketahui bahwa Warna yang ada di setiap mahlukNYA di bagi menjadi empat yang utama. Artinya adalah itu menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada

manawadharmasastra II-18 :

tasmidece ya acarah parampyakramagatah,

warnamam santralanam sa sadacara ucyate..

Artinya adalah bahwa Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”..

Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri..

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran..

Sarasamuscaya 61.

raja bhirur brahmanah sarvahakso vaicyo’nihavan, hinahvarno’lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta

Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waica nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alemen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila

Artinya adalah Jika hal yang demikian keadaannya ; raja yang pengecut, brahmana yang doyan makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi pada tri warna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.

Tetapi filsafat tat twam asi akan trus mengumandangkan kebersamaan yang indah dan mendamai, sprti disebutkan bhagawadgita..

Bhagawadgita V-18..

widya-winaya-sampanne brahmane gawi hastini suni caiwa swa pake ca panditah sama-darsinah..

artinya adalah Oati, orang bijak melihat dengan pandangan sama. baik seorang brahmana yang terpeajar dan rendah seekor sapi seekor gajah atau bahkan seekor anjing atau seseorang yang berkelahiran hina..

silakan cek link ini untuk memperjelas..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/06/03/warna-yang-terdapat-pada-setiap-diri-umat/

Lalu dalam hindu sendiri,dikatakan terdapat 4 jalan atau catur marga yang disesuaikan dengan siapa bagaimana serta apa yang cocok bagi IA itu. Tentu saja Maya dunia (sattwika rajasik tamasik) akan selalu ikut ambil bagian mempengaruhi setiap jalan jejak langkah penuh makna manusia itu sendiri..

Marga yang pertama adalah

****Bhakti Marga****,—–Secara jelas bahwa seorang bhakta adalah pengabdi sejati yang artinya melayani tuhan secara tulus iklas

Seorang bhakta secara jelas di sunting pada percakapan suci bhagwadgita XII..Dan dijelaskan di itu adalah bahwa seorang bhakta dikatakan sebagai berikut :

Bhagawadgita XII-10

abhyase ‘py asamartho’si mat-karma-paramobhawa, ma-artham api karmani siddhim awapsyasi..

Artinya : Bila engkau juga tak mampu melakukan ini, maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang melayani diri_KU; bahkan dengan melakukan kegiatan demi untuk-ku saja, engkau akan mencapai kesempurnaan..

Dalam hal ini adalah bahwa seorang bhakta akan melayani tuhan sesembahannya dengan tulus iklas, tentu saja itu akan dipengaruhi oleh Sattwikam shingga menjadi kebahagiaan yang bajik dan bijak..

Setiap dari sebuah yadnya akan ada berbagai tinjauan akan struktur sosial, alam itu akan memilij semua itu dalam yadnya..Melayani semua itu terluapkan pada keseluruhan warna, dan seorang brahmana adalah seorang bhakta yang menyomyakan sarana upacara menuju yang dituju. Dan semua itu akan memiliki berbagai kedudukan sesuai yang tergenerasikan dan tertuju pada penghormatan di seluruh makna yang ada…

****Karma Marga**,**

Secara jelas bahwa karma marga disunting pada bhagawadgita bagian III..Karma Marga adalah jalan yang diibaratkan seperti seorang pekerja yang meleburkan hasil kerjaNya kepada yang menjaga dan menjadi sesembahan para Karmin. Di bhagawadgita disebutkan :

BG-III-8

niyatam kuru karma twam karma jyayo hyakarmanah,sarira yatrapi ca te na prasidhyed akarmanah.

Artinya : Lakukan kegiatan yang diperuntukkan bagimu, karena kegiatan kerja lebih baik dari pada tanpa kegiatan (pngruh tamasika) dan memelihara kehidupan fisik sekalipun tak dapat dilakukan tanpa kegiatan kerja..

Maka seorang karmin akan sangat dekat denga waisya ketika melaksanakan itu untuk mencari menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi yang dicari dengan baik dan benar untuk mencapai karma yang baik.. Dan selain golongan waisya, maka tiga golongan lain tentu saja tetap untuk mencari amertha,mertha dari seluruh kewajiban mereka..Hal ini juga sangat erat hubungannya dengan catur asrma grehasta. Dimana tanggung jawab untuk menjaga kebahagiaan adalah denggan mencari artha dengan sokongan dharma itu sendiri.Tidak ada yang sebenarnya lepasdari kegiatan kerja karmin..

****Jnana Marga****

Jalan pengetahuan suci untuk mengenal panca sraddha secara mendalam.. Bagaimana panca sraddha itu diwujudkan sebagai filsafat hindu yang mendalam dan wajib oleh seorang jnanin mengupasnya untuk kemudian diberikan pemahamannya kepada seluruh umat yg memerlukan. Maka seorang jnanin juga seorang bhakta yang melayani untuk memberikan pengetahuan suci itu kepada yang semuanya.Jnana marga dapat dipahami bhgwdtita bagian IV..

BG. IV-19

yaysa sarve samarambhah kama sankalpa warjitah,

jnanagni dadha karmanam tam ahuh panditam buddha.

Artinya : Ia yang melakukan kegiatan yang seluruhnya bebas dari pamrih, yang kegiatan kerjanya dibakar oleh apai kebijaksanaan (jnana), oleh para bijak disebut Ia sebagai orang yang terpelajar..

Maka bahwa seorang jnanin yang memahami panca sraddha akan masuk pada wilayah masing-masing dari itu. Brahman maka diketahui oleh jnanin tentang pelajaran brahma widya, Atman kemudian diketahui oleh IA sebagai pengetahuan Atma Widya, ter masuk sampai manunggalnya Moksah di dunia dan di alam nanti..Semua itu adalah selayaknya dimiliki seorang jnani dengan pengetahuan itu sendiri.

Ada tiga cara untuk mengetahui pengetahuan suci, yaitu anumana pramana prtyaksa pramana agama pramana, maka ketika itu dikombinasikan, akan menjadi suatu bahan tersendiri untuk senantiasa membuat NYA tersenyum bahagia..

Seorang Jnanin adalah pula seorang Brahmana yang melayani umatnya,dan Weda yang dikatakan sebagai aje wera, sebenarnya tidak terlalu perlu ditakuti. Karena bagi mereka yang telah menerima eka jati atau pewintenan saraswati dan pewintenan lainnya,Hendaknya senantiasa mempelajari weda itu sendiri, dan bahkan sambil lalu mengagumi keagunganNYA mengamali ajaran sucinya dan menjadi tauladan dari seluruh lingkungan terdekat bahkan ke luar lingkungan..

Ilmu lain seperti ilmu artha sastra sangat layak dipertimbangkan sebagai bagian ekonomi umat, cara untuk mempertahankan diri, serta kebersamaan yang berkeadilan sosial..Manawdhramsastra dan kitab2 suci lelontaran lain, akan sangat bermanfaat ketika moral makna dalamnya dikombinasikan diakulturasi kan di sikretiskan untuk kejayaan hindu itu sendiri..

*****Raja Marga*****

Raja marga adalah sebuah jalan kontemplasi, ini biasanya dikatakan sebagai jalan dri sanyasin bhiksuka, Namun belakangan ini jalan meditasi serta jalan kontempasli adalaha jalan indah untuk melepaskan diri dari belenggu MAYA(KU) itu sendiri. Jalan ini sangatlah baik, namun selayaknya dilaksanakan di ruangan yang tenang dan ruangan yang sunyi senyap, agar panca tan matra tidak ditangkap oleh panca buddhindriya dan tidak mempengaruhi panca karmendrya.Dan khusyuk menemukan atmaning rahsya di sekeliling citta sebagai alam bawah sadar yang dalam. Raja marga seperti tapa yoga samadhi adalah jalan menuju kemoksaan itu sendiri. Di saat menyatu IA pada hyang disembahnya, akan menuju pada kewaskitaan itu sendiri..

Jalan ini adalah jalan berkat, dan sungguh harus mengalami pengalaman mental yg tidaklah mudah..Maka berbagai itu maya yg mereka lampaui, maka pengalaman itu akan mencapai kepada planet-planet keindahan surga di ketiga dunia. Menurut sloka bgwadgita 8-8 sbagai berikut :

BG 8-8

abyasa yoga yuktina, cetasa nanya-gamina, patamam purusam divyam yati parthanucintayam…

Artinya adalah Orang yang bersemadi kepada KU sebagai Kepribadian Tuhan yang maha esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-KU, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dia lah yang pasti mencapai kepadaKU wahai partha..

Maka dari ini, dikatakan bahwa raja marga adalah jalan yang menuju kewasikataan dan persatuan pula kepadaNYA hyang ilahiah. Jalan ini dapat dilihat pada para pelaku spiritual, yang supranatural dan dekat dengan alam ghaib serta mampu menggunakan itu untuk kebermafaatan. Wilayah ini termasuk pada para balian atau yg memiliki berkat-berkat keindahaan para Hyang mereka suhun, dan ngiring. Dalam berbagai warna, ini ada dimana mereka diberikan jalan yang tentunya dirasa berat bagi yang lain, tetapi sangat penuh iklas dan insyaf pada seluruh kualitas yang disembah itu..

Mereka terlepas dari warna apa pun, dan mereka melayani tuhanNYA sebagai bhakta, melakukan kerja karmin yng iklas, secara intuisi mngalami jnana yg sesuai serta dekat dengan pengetetahuan suciNYa..Weda sendiri sangatlah dianjurkan untuk membacanya dengan dasar yang kuat, namun itu bukanlah halangan yang besar..Ketika ingin mencari kebenaran dari weda, apakah itu kebenaran yang suci, yang benar atau yang melepaskan diri dari Maya(ku), maka sesungguhnya pun niat suci itu terus menerus akan memberikan kedamaian dari purifikasi atma widyaning rahasya…

Sarasamuscya…niat suci dikatakan sebagai berikut..

Ketika mereka yang mencari kama artha moksa kadangkalanya tiada berhasil, namun ketika mereka bermanacika berdasarkan dharma, maka itu akan terlaksana walau hanya diimajinasikan sahaja..

Artinya adalah bahwa niat suci untuk melakukan dan melaksanakan dharma di weda atau menyebarkan dan mengkontemplasikan diri pada saat mewacakang weda maka itu adalah sebuah kebercukupan. Dan niat suci itu dikalikan berlipat-lipat jua, bahwa mereka yang meyakini weda dan bisa memahaminya adalah sebuah kebahagiaan paling sejati. Namun weda sendiri akan menantang mereka untuk tidak percaya dahulu, tetapi menyerahkan semua pada KALA (waktu) untuk membersihkan hati menuranikan rahsa untuk menjadikan mereka sebagai wedantis yang diagungkan alam semesta..

Maka berbahagialah wahai para dharma raksaka.Berbahagialah wahai itu yang meyakini (KU)-Weda. Bahwa dengan itu engkau mendapatkan berkat, kejayaan, kerahayuan, kesejatian sebagai pejuang Dharma, dan sebagai para Bijaksanawan yang hakiki…

Satywam eva Jayate..

Gwar…Sang penyair…

sumber bhgwdgita

sarasamuscaya

wrsapatti tattwa

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2014 in agama, doa

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Sebuah catatan Debit Kredit dalam Kehidupan…(setitik tentang karma)

Karma...

Seperti sebuah siklus akuntansi. hahaha.yaps…sebuah perhitungan yang diketemukan sebelum jaman posmodern ini, bisa juga diberikan suatu catatan penting yang ada pada teori-teori kehidupan (baca:agama) yang sebenarnya masih cukup relevan untuk memandang lebih jauh ke depan serta konsep kekinian. Namun ada beberapa asumsi-asumsi yang patut diberikan sedikit keberpahaman masing-masing.

Bahwa asumsi yang ada adalah bahwa keyakinan akan sancita karmapala di mana karma saat ini adalah dari kehidupan terdahulu apakah itu suatu yang baik atau pun karma buruk. Namun setelah itu, lebih jauh berdasarkan keberlakuan yang memiliki rasio sattwam, rajas, serta tamas, maka manusia akan mendapatkan kelahiran yang sesuai. Hal tersebut terdapat pada wrespatti tattwa di mana Sattwam yang lebih banyak akan moksa tidak lahir kembali. dan lainnya bahwa manusia dengan rajas dibarengi sattwam akan menuju surga, serta rajas saja akan menuju neraka. Yan digarisbawahi adalah semua manusia itu lahir kedunia akibat keseimbangan sattwam rajas tamas. Dan dengan itu manusia sekarang akan mengemban tamas rajas dan sattwam yang sama, apa pun itu.

Melanjut dari itu, bahwa saldo debit kredit manusia lahir di dunia, di pastikan akan seimbang atau sama dengan satu sama dengan nol kesemuanya. Tapi tidak sepenuhnya seperti itu, karena pada dasarnya kelahiran manusia ke dunia adalah telah membawa karma yang dari keseimbangan itu dan masih ada kelebihan sedikit atas tri guna tersebut. Apakah itu sattwam atau rajas serta tamas. Bisa menjadi suatu sifat bisa pula menjadi suatu hal yang mempengaruhi tempat dan kondisi kelahiran. Sebagai contoh apa yang dikatakan sarasamuscaya 21..

Sarasamuscaya 21.

Kunang Ikang wwang gumawayikang subhakarma, janmanyan sangke rig swarga delaha,litu hayu maguna, sujanma, sugih, mawiirya, phalaning subhakarmawasana tinemuya.

Artinya: Maka orang yang melakukan perbuatan baik, kelahirannya dari sorga kelak menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan, hartawan, dan, berkekuasaan :buah hasil perbuatan yang baik, didapat olehnya.

Jadi dengan itu dapat dikatakan kehidupannya dimulai dengan saldo debit positif pada bagian sattwam yg mempengaruhi rajasnya. Saldo debit pada kas karma baik. Seperti pula disebutkan bahwa keberuntungan untuk menjadi manusia, walaupun Ia memiliki saldo karma buruk. Hal tersebut disebutkan dalam sloka berikut :

Sarasamuscaya 3.

Matangnyan hawya juga wwang manastapa,an tan paribhawa, si dadi wwang ta pwa kagongakena ri ambek apayapan paramadurlabha iking si janmamanusa ngaranya, yadyapi candalayoni tuwi.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-sekali bersedih hati; skalipun hidupmu tidak makmur, dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjad manusia, meskipun kelahiran hina sekalipun.

Dengan sloka di atas, maka dapat dikatakan bahwa karma itu dibawa sampai ia hidup kembali, mungkin saja dengan bersaldo kredit negatif pada sisi karma baiknya. Namun dengan berbuat suatu dharma, maka tentu saja karma buruk itu akan semakin berkurang-berkurang dan sampai pada menambah suatu saldo positif di sisi akun karma.

Keterikatan akan karma baik itu buruk atau sebaliknya, akan menjadi suatu perjalanan tersendiri dalam kehidupan manusia itu. Dalam kehidupan,maka baiknya adalah bagaimana untuk membentuk dan berpikir secara “kekinian”. Kekinian yang memberikan kita sedikit renungan bahwa kita  hidup di sini, sekarang, saat ini untuk tetap berpijak pada bumi “saat ini”. Maka kita akan menyadari bahwa kita adalah hari ini yang dibentuk dari kumpulan-kumpulan karma masa lalu yang masih menjadi saldo untuk dinikmati atau  masih harus dirasakan sedemikian rupa. Dengan “sadar”itu maka kita bisa masuk dalam keadaan bahwa kita “bukan siapa-siapa” dan kita hanya setitik debu di angin yang hanya menginginkan “lenyap” agar tidak lagi menapaki “maya” dunia serta segenap kesakitan, kesengsaraan, termasuk pula kesenangan (pemaksaan rasa yg menghasilkan karma). Jadi memberikan suatu “rasa” bahwa kedua kutub itu memberikan sensasi yang sama—>(kesakitan=pembelajaran-karma yg belum dinikmati),kesenangan (ujian kelepasan-karma yg belum dinikmati) – maka persiapan selanjutnya adalah untuk memikirkan, mengatakan, melaksanakan Keagungan Dharma. Sedikit tentang itu :

Sarasamuscaya 18.

Mwang kottaman ikang dharma, prasiddha sangkaning hitawasana, irikan mulahaken ya, mwang pinakasraya sang pandita,sangksepanya, dharma mantasakenikang triloka.

Artinya : Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumbernya darang kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu, tegasnya hanya dharma yg dapat melebur dosa triloka atau jagat tiga ini.

Jadi dengan mengurangi keberpikiran, keterikatan, serta keternikmatan atas karma yang lalu, kita akhrinya hidup dalam masa kini dan melebut “itu” sendiri, walaupun masih akan terasa di hidupan. Dengan memberi start atau memulai melaksanakan dharma, maka lambat laun karma buruk akan lenyap walaupun kita merasakan masih itu, tapi keterlupaan karena menyibukkan diri pada dharma akan membuat ujian melaksanakan dharma adalah sebagai pembelajaran tersendiri.

Dan jika karma baik ditambah oleh suatu dharma, tidak bisa membayangkan akan apa nanti kebahagiaan yang ada pada saat nanti. Saldo surplus karma baik akan tercapai. Semoga.

 

Astu_/\_ngkara

sumber:

Sarasamuscaya.

Bukan siapa-siapa..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2013 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Ego manusia yang memberi takdir kepada manusia lainnya…

Apa teriakan bermakna??

Di saat menyata pada emosi…

Yang lebih besar dari takdir manusia itu sendiri..

Takdir sebagai mahluk budi dharma ???

——————————————————————-

Apa kau bisa membuat mereka yang telah tiada??

Apa kah akan kau katakan, ..ini air mani , mana telurnya??

Lalu siapa itu yang kau takdirkan, Mati??

Siapa yang menjamin engkau menjadi malaikat maut yang benar??…

Lalu apa yakinmu jika itu menjadi pahala burukmu,

kemana kau mendapat tempat mengadu??

Mati itu tiada akan guna sesal….

Kembalkan mati itu saja?? bisa kah??

——————————————————-

Emosi yang memBABI buta…

Dan “punggung” itu masih ada di dirimu..

Bawa saja beban itu??

Toh kau sudah tahu sudah mendapat tempat di alam sana…

abadikah??

—————————————————————————-

Ya sudah lah,

terjadi terjadi ya begitulah….

terkadang tersenyum miris, melihat merasa…

bahwa kengerian di alamNya…terngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang…

———————————————————————

gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Perwujudan dan Sujud pada Suatu Kekuatan Agung Akhir Jaman “Kalvatar”..

Seperti yang telah kita tahu, bahwa sekarang hari ini esok dan kemarin kita telah menapaki sebuah jaman yang memang sangat berat dan sangat melelahkan, bagi mereka yang benar-benar menjalaninya secara berbudi dharma. Yaitu sebuah jaman kaliyuga. Jaman di mana memang kejahatan (adharma) memiliki lebih banyak pengikut dari pada mereka yang melakukan dan membela dharma itu sendiri. Persentase yang ada menyatakan bahwa 75 % berbanding dengan adharma 25%. Sebuah pertanyaan yang meneguhkan adalah adharma tidak pernah akan sampai ke angka 100%. Dan sebagai suatu keyakinan bahwa 25% dharma, masih mampu untuk hidup dan bahkan mengalahkan 75% adharma itu sendiri. Dan jika memang itu terjadi atau pasti akan terjadi, maka jaman keemasan atau Satya Yuga akan tercapai di jaman mendatang dan bahkan sesuai keyakinan tentang kekuatan spiritulitas bahwa itu telah mengalami proses tersendiri dan telah dimulai.

Sebagai fakta yang tiada bisa dibantah adalah kemunculan pencerah-pencerah yang sudah lelah pada kemunduran “nilai” jaman, dan berbagai bencana, serta semesta mulai bergejolak sedemikian rupa. Dan nantinya juga akan sampai pada titik keseimbangan di mana Budi luhur Dharma akan mencapai kesunyatan abadi.

Beberapa hal di atas maka akan sampailah pada suatu pertanyaan Siapa yang ditunggu? atau siapa yang patut dinanti pada masa yang penuh goro-goro ini?? Sedikitnya pasti terbersit bahwa berbagai ramalan yang belum teridentifikasi nilai kebenarannya, atau belum dianggap karena tidak berlogika, maka sebenarnya dari mereka yang mengagungkan kekuatan selain duniawi itu sendiri (baca:intuisi). Bahwa telah saatnya datang keperkasaan dharma yang mencipta, melindungi, melebur, serta menghukum dan mengembalikan budi dharma menuju suatu keemasan yang tiada ternilai. Menurut hemat saya adalah bahwa telah atau akan lahir suatu kekuatan ilahi sebagai inkarnasi dari Wisnu yang berupa penunggang kuda dan membawa sebuah pedang terhunus yang siap mematikan mereka yang menentang, meluruskan serta memberi penghukuman sendiri atas adharma yang mereka lakukan. Dan Beliau adalah disebut sebagai Kalki Avatara.

Dari simbolisme kalki avatar di samping, maka makna-makna yang tergambar dari Kalki avatar adalah sebagai berikut :

1. Pedang : Pedang sebagai simbol senjata yang digunaka oleh kalki avatar adalah sebagai pemaknaan akan ketajaman pikiran atau kekuatan dari ilmu pengetahuan yang mampu menghancurkan permasalahan dan memberikan solusi atau meninggalkan ketidakberdayaan dari apa-apa yang menggoda dan menghadang manusia. Pentingnya sebuah ilmu pengetahuan dapat dilihat pada,  Bhagavadgita Percakapan IV Sloka (33) dikemukakan : “ Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa lebih bermutu daripada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini, berpusat pada Ilmu Pengetahuan, oh Parta”. Selanjutnya dalam Sloka (42) dikemukakan: “Sebab itu, setelah memotong keraguan dalam hatimu karena ketidaktahuan dengan pedangnya ilmu pengetahuan, berpegang pada yoga, bangkitlah, oh Barata”.  

Pengetahuan akan Dharma itu pun melindungi mereka2 yang mengemban ketajaman pikiran itu sendiri. Maka seperti yang tercantum pada sloka sarasamuscya 18, “Dan kekuatan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, ;lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.”

Dan pedang sebagai suatu idep suatu pikiran yang tajam termsuk intuisi yang diasah dengan empat marga itu, akan menjadi seuatu yang bershadja sesuai proses karma pala dan kekuatan dharma yang agung. Apa pun jalan yang anda laku, maka akhirnya akan sampai pada “KU”, apakah itu bhakta, Karmin, Jnanin, Rahja maka nantinya akan menjadi kesucian dalam Wibhuti Marga, yaitu suatu “pencerahan”. Dan tidak ada jarak lagi antara Tuhan dan Suksma, Rahga, dan Sahadja.

Kekuasaan akan ilmu pengetahuan dan melalui lindungan Budi Dharma, telah pula dirayakan dan diperingati pada hari raya Tumpek Landep sebagai peringatan mempertajam ilmu, yang telah turun sebelumnya pada peringatan Hari raya Saraswati pada wuku watugunung. Yang juga telah dihayati sedemikian rupa pada keseharian.

2. Kuda. Kuda yang liar adalah sebagai suatu catur purusha artha, yang termasuk pula dharma di sampingnya, Dasar-dasar yang ada untuk menghancurkan musuh manusia yaitu kebodohan adalah, dharma, artha, kama ,moksa yang telah menjadi dasar itu sendiri. Selain pula Tri kaya parisudha sebagai lelaku etika yang berpikir, berbicara, berbuat dharmaning ksatrya mahottama. Dan kuda yang liar adalah mewakili sad ripu dan sad atatayi, atau mungkin seperti seven deadly sins, yang telah terbit pemahamannya. Maka jika kuda liar itu dapat dikelola dengan laksana satya, maka akan mewakili kecepatan intuisi untuk menelaah “putih” kesucian tuhan dalam menanggulangi setiap permasalahan yang ada.

3. Orang yang kalah, adalah ia yang bergerak pada adharma, ia yang bergerak dan mendasarkan dirinya pada jaman kali, mereka yang bersifat raksasa raksasi dan yang tiada berjiwa budi dharma.. mereka akan terkalahkan oleh pedang ketajaman ilmu pengetahuan, dan tergerus oleh kuda catur purusha artha yang akan tetap menang sepanjang masa. Dan ini telah dirayakan pada galungan dan kuningan. Dan keabadian itu akan menjadi kenyataan.

Sedikit dan yang terakhir, Japa atau semadi akan persujudan kepada titisan Waishnam Al Muaimin dapat dilaksanakan dengan mahantra berikut :

“Hare Krushna Hare Krushna, Krushna Krushna Hare Hare”
“Hare Râma Hare Râma, Râma Râma Hare Hare” (Japa Kalki Avatar)

“Om BiswaGuru KalkiRâma Sudarshana Hare Hare
GadâPadma ShankhaShyâma RâmaKrushna Hare Hare” (japa Kalki Avatar).

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/04/24/ngiring-sesuhunan-ida-hyang-kalki-avatar/

gwar 30 10 2012

 

 

 

 

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, Tak Berkategori

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Saraswati dalam Weda (Hindu)

            Saraswati sebagai dewi di dalam hindu, memiliki peran penting dalam perkembangan serta pemahaman hindu bahkan di dunia sendiri. Saraswati diibaratkan sebagai dewi yang menggambarkan pengetahuan. Pengetahuan yang cantik dan indah seperti paras dewi Saraswati dan keibuan yang melindungi serta mengasuh umat manusia. Dalam reg weda dan purana Dewi Saraswati dianggap sebagai dewi pengetahuan dan seni serta dewi kebijaksanaan . Sebagai pemahaman bahwa seni serta ilmu pengetahuan dapat membawa manusia pada kemoksaan (kebebasan) bagi yang meyakininya.

            Arti penting dari pengetahuan dapat dilihat pada sloka berikut :

Canakya Niti Sastra Bab IV. Sloka 5 yaitu :

“Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan.”

Sebagaimana pula bahwa disebutkan kebodohan adalah musuh dunia,  seperti yang tercantum pada Sarasamuscaya sloka 399, yaitu :

”Hanya satulah yang sesungguhnya yang bernama musuh, tak lain hanya kebodohan saja; tidak ada yang menyamai pengaruh kebodohan itu, sebab orang yang dicengkram kebodohan itu, niscaya, ia akan melakukan perbuatan buruk”.

Selanjutnya Sarasamuscaya 400, disebutkan bahwa :

“Sebab suka duka yang dialami; pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karenanya kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu”

Demikian pula pentingnya ilmu pengetahuan yang terdapat pada Bhagawadgita percakapan IV Sloka (33) dikemukakan :

“ Ilmu pengetahuan sebagai yajna, lebih unggul dari pada yajna material apa pun, wahai Paramtapa (arjuna), karena segala kegiatan kerja tanpa kecuali memuncak pada kebijaksanaan, wahai Partha (Arjuna)”

Selanjutnya dalam Sloka (42) dikemukakan: “ Oleh sebab itu, setelah memotong keragu-raguan dengan pedangnya ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dalam hati yang berasal dari ketidaktahuan,berlindunglah pada yoga dan bangkitlah, wahai Bharata (Arjuna)”.

Maka pengetahuan adalah sebagai pedang yang berharga yang dimiliki untuk memotong keragu-raguan yang berasal dari kebodohan itu sendiri untuk bisa lepas dari kesengsaraan. Yang merupakan harta serta kekayaan yang rahasia dan tidak kelihatan.

Begitu pentingnya pengetahuan itu, maka dewi saraswati dipuja sebagai pengejewantahan Brahman dalam manifestasinya serta sakti dari Dewa Brahma untuk menghormati pengetahuan itu sendiri.  Saraswati berasal dari kata sr yang berarti mengalir dan dalam reg weda disebut sebagai dewi sungai. Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati.Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:

  • Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.
  • Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
  • Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
  • Damaru (kendang kecil).

Angsa merupakan semacam simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.

Saraswati sendiri diperingati oleh umat Hindu di Bali pada Saniscara Umanis wuku Watugunung yang dirayakan berselang 210 hari sekali. Hari raya Saraswati adalah hari lahirnya atau turunnya ilmu pengetahuan di dunia. Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh  lewat tengah hari.

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan

Di dalam upakara yang disebut Banten Saraswati salah satu unsurnya ada disebut jajan Saraswati. Jajan ini dibuat dari tepung beras berwarna putih dan berisi lukisan dua ekor binatang cecak. Mata cecak itu dibuat dari injin (beras hitam) dan di sebelahnya ada telur cecak. Dalam banten Saraswati itu mempunyai arti yang cukup dalam. Menurut para ahli Antropologi, bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang melata seperti cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual. Jajan Saraswati yang berisi gambar cecak memberi pelajaran bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja, tetapi harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran rohani. Dalam lontar Saraswati juga memakai daun beringin. Daun beringin adalah lambang kelanggengan atau keabadian serta pengayoman. Ini berarti ilmu pengetahuan itu bermaksud mengantarkan kepada kehidupan yang kekal abadi. Ilmu pengetahuan juga berarti pengayoman.

Secara jelasnya mantra saraswati yang dapat dirangkum dalam weda adalah sebagai berikut :

“Yaste stanah Sasyo yo mayobhuyemma visva pushyasi. Varyani yo ratnadha vasuvidyah sudatrah. sarasvati tamiha dhatave kah” (Rg-Weda 1. 164. 49). Artinya adalah :  “Oh Saraswati anugrahilah susu kehidupanmu untuk kehidupan di sini yang ada di dalam tubuhmu, yang menaburkan kebahagiaan yang engkau berikan kepada (mereka yang memujamu) dengan semua bendabenda terpilih, ia yang memegang semua benda-benda indah, yang mengetahui kekayaan musuh dan yang menawarkan hadiah-hadiah baik”.

“Pavaku nah Sarasvati vajebhirvajini-vati Yajnam vasthu dhiyavasuh” (Rg-Weda 1.3.10). Artinya : “Mudah-mudahan Dewi Saraswati menjadi penyuci, mudah-mudahan ia yang  memiliki makanan menganugrahkan kepada kami, yang memiliki kekayaan mudah-mudahan menginginkan yajna”.

“Codayitri sunrtanam cetani sumatinam Yajnam dadle saraswati” (Rg-Weda 1.3.13). Atinya : “ Saraswati memberikan inspirasi perbuatan baik dan pikiran baik memegang yajna”.

“Maho arnah Saraswati pra cetayati ketuna Dhiyo visva vi rajati” (Rg-Weda 1.13.12). Artinya :” Saraswati dikenal, melalui gerakan air yang maha besar. Semoga doa pujaan memancarkan cahaya sangat banyak”.

“Sarasvati tvamasmam aviddhi marutvati jeshi Satrun Tyam cicchardhantam tavishiyamanamindro hanti Vrshabham Sandikanam” (Rg-Weda 2.30.8). Artinya : “Oh Sarasvati engkau melindangi kami. Engkau yang dihubungkan dengan para Marut, yang merupakan petarung agung menakiukan musuh-musuh kami. Indra membunuh para Shandika yang kuat yang terkenal yang membenci kami”.

“Vivasema Iyam sush mebhirvisaka ivarujat sanu girinam tavashebhirurmibhih Paratva taghnimavase survrktibhih Sarasvatima dhitibhih” (Rg-Weda 6.61.2). Artinya “Saraswati menghancurkan puncakpuncak gunung dengan arus gelombangnya yang kuat seperti begitu gampangnya menghancurkan kembang-kembang. Kami mengagungkan dia sebagai penghancur gunung-gunung dan memujanya dengan pengabdian yang agung demi perlindungan kami”.

Ekacetat Sarasvati nadinam suciryati giribhya a samudrat” (Rg-Weda, 7.95.2). Artinya “Sarasvati saja yang memiliki vitalitas di antara sungai-sungai dan ia yang paling suci mengalir dari gunung-gunung menuju laut”.

“Imam me gange yamune sarasvati Satudri stomam Sacata parushnya Asikanya marudvrdhe citastayarjikiye Srnutdya Sushomaya” (Rg-Weda 10.75.5). Atinya :” Oh Gangga, Yamuna, Sarsvati, Satudri dengan Parshi, Marudvridhan dengan Asikini; Arjikiya dengan Visastra dan Sushnoma mendengar doa mu.”

“Ayat sakam yasaso vavasnah sarasvati sap tathi sindhumata. Yah sushvayanta sudughah sudhara abhisvena payasa pip yanah” (Rg-Weda 7. 36.6).Artinya “ Mudah-mudahan (sungai) ketujuh, Sarasvati, ibu sungai Sindhu dan sungai-sungai yang mengalir deras dan menyuburkan memberikan makanan berlimpah, dan memberikan makanan (kepada orang-orang) dengan air mereka, datang pada suatu saat bersama-sama.”

Pada hari saraswati, maka mantra atau puja saraswati dilaksanakan pada saat panca sembah setelah melakukan puja kepada ciwa raditya serta kepada Tri purusha. Mantra saraswati yang diucapkan adalah sebagai berikut :

Om, Saraswati namostu bhyam,

Warade kama rupini,

Siddha rastu karaksami,

Siddhi bhawantume sadam.

Artinya : Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.

Itulah pentingnya pengetahuan dalam kehidupan ini. Maka dengan menjadikan saraswati sebagai sarana puja, tercapainya suatu kegunaan dari pengetahuan itu sendiri akan menolong manusia dari kesengsaraan dunia ini. Dan dengan penghormatan serta puja pada Saraswati ini berarti bahwa Hindu menyatakan dirinya sebagai agama yang memberikan ilmu pengetahuan sebagai komponen untuk mencapai suatu tujuan tertinggi, bersatu dengan Brahman sebagai pemilik pengetahuan.

 

Daftar Pustaka

Kadjeng, I Nyoman dkk. 1997.  Sarasamuscaya dengan teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Penerbit Paramita Surabaya.

Linggawardanasahajakers. 2009. Saraswati dalam Makna. Pada website https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/08/01/saraswati-dalam-makna/

Maswinara, I Wayan. 1997. Srimad Bhagawadgita dalam Bahasa Inggris dan Indonesia . Penerbit Paramita Surabaya.

Oka Mahendra,A.A.2007. Prinsip Dasar. Pada website http: //okamahendra.wordpress.com/l/

Raka Mas, AA. 2011. Ilmu Pengetahuan untuk Kesejahteraan Hidup Umat Manusia menurut Perspektif Hindu. STAH DharmaNusantara Jakarta di website http://stahdnj.ac.id

Wikipedia.____. Saraswati. Pada website http://id.wikipedia.org/wiki/Saraswati

_____.____. Hari Raya Saraswati. Pada website http://www.babadbali/piodalan/srs-wati.html

______.______. Hari Raya Saraswati. Parisada Hindu Dharma Indonesia di Website http://www.parisada.org

_____.______. Hari Raya Saraswati. Hindu Batam di website http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2012 in agama, budaya, doa

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Agama Damai di Masa Depan

Agama yang Damai di Masa Depan

            Agama sebagai suatu kata yang dapat berarti pedoman seseorang untuk berperilaku, terutama dengan hubungannya kepada Tuhan sebagai pemilik semesta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berasal dari kata sansekerta yaitu sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan  dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Agama disebut juga religi  yang berasal dari bahasa latin, religio dan berakar  pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Artinya adalah seseorang mengikatkan dirinya kepada Tuhan.

Dalam hindu sendiri disebutkan bahwa ajaran hindu sebagai suatu Sanatana Dharma yang mengandung arti kebenaran yang abadi. Hal ini mengatakan secara jelas bahwa sampai kapan pun dharma akan menjadi suatu kebenaran entah apa pun itu keadaan jamannya. Abadi juga berarti bahwa tidak akan pernah dharma itu hilang sampai kapan pun dunia ini ada. Namun sebagaimana kita lihat pada saat ini, apakah jaman modern ini mampu dilingkupi oleh agama? Atau modernitas yang melingkupi agama itu sendiri? Agama itu sendiri sebenarnya telah diterjemahkan oleh beberapa teori dari beberapa ahli. Teori-teori itu bisa menjadi titik awal bagaimana agama itu bisa dimengerti secara ilmu.

  1. Teori-teori tentang Agama.

E.B. Tylor (1832-1917) menyebutkan bahwa agama berarti adalah “keyakinan terhadap sesuatu yang spiritual”. Hal ini dikatakan sebagai suatu yang mirip dimiliki oleh seluruh agama, yaitu adanya keyakinan terhadap roh-roh berpikir, berprilaku, dan berperasaan seperti manusia. Esensi dari setiap agama adalah animisme (anima) yang berarti roh. Jadi pertanyaan oleh Tylor untuk menjelaskan agama yang pertama adalah “Bagaimana dan kenapa awal mulanya manusia mulai mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh?” Pernyataan ini diterjemahkan oleh E.B. Tylor dengan menyebutkan “filosof liar” pada saat jaman primitif yang bisa mengklasifikasikan manusia itu hidup atau mati, serta memiliki jiwa dan roh sebagai bayang-bayang jiwa sehingga berhasil mendapatkan konsep tentang Jiwa yang Memiliki Pribadi. Itu berkembang menjadi bentuk yang lebih besar di luar tubuh, seperti dewa-dewa yang ada di sekeliling manusia tersebut. Akhir dari Tylor menyimpulkan bahwa takdir agama sebenarnya adalah sekedar memperlambat kemajuan pemikiran manusia yang masih saja memegang teguh agama dari keuntungan mereka (hal 49; Daniel;2011).

J.G. Frazer (1854-1941)memberikan pemahaman tentang agama berhubungan dengan istilah magis dari jaman primitif. Di mana pada saat itu, yang memiliki predikat penguasa magis adalah dukun, tabib, atau tukang sihir yang dianggap mendapatkan kekuatan sosial dan bahkan menjadi penguasa karena kekuatannya tersebut. Magis adalah suatu kekuatan yang pada saat itu dapat menguasai alam. Seperti halnya mampu menurunkan hujan atau mendapatkan cahaya pada saat petani membutuhkan. Magis disebutkan sebagai sesuatu pengetahuan yang salah dan pada akhirnya digantikan oleh agama saat kemundurannya (magis) walaupun memiliki kemiripan tersendiri. Jadi antara E.B. Tylor dan Frazer menyebutkan asal usul agama dari pra sejarah serta evolusinya dalam perkembangannya sebagai penyelesaian masalah pada waktu itu. Dan E.B. Tylor serta Frazer tidak mencantumkan permasalahan agama yang turun dengan cara wahyu, namun kesimpulan yang terpenting adalah agama memang merupakan suatu evolusi pemikiran dari manusia yang pada akhirnya mengalami kemunduran akibat kedatangan suatu ilmu pengetahuan dan perannya akan tergantikan.

Sigmund Freud (1856-1939) merupakan ahli psikologi yang memberikan pemahaman akan psikoanalisa serta alam bawah sadar. Ketertarikannya akan pikiran manusia serta bagaimana hal tersebut bekerja membawanya pula pada pemahaman yang menyentuh bidang-bidang lainnya sebagaimana pula bidang agama. Dalam pemahaman alam bawah sadar menyebutkan bahwa kumpulan emosi dan angan-angan serta dorongan biologis paling dasar masuk dari alam sadar dan menjadi suatu gunung es. Masuknya emosi-emosi tersebut bisa terjadi dengan dua cara, yaitu masuk secara diam-diam sebagai transkrip masa lalu, serta masuk dengan cara dipaksa akibat sesuatu kejadian yang kompleks. Untuk yang kedua itulah yang mengakibatkan ketertekanan yang bisa mengakibatkan pengaruh penyakit syaraf (neurosis) dan dapat disembuhkan oleh psikoanalisa. Ia menyebutkan manusia terdiri dari Id yang merupakan insting hewaniyah (makan, membunuh, seksualitas), super ego (kepribadian yang dimasukkan dari luar seperti keluarga, harapan masyarakat, negara) serta ego (sebagai penyeimbang keduanya). Pemahaman agama dari Freud berasal dari istilah Oedious Kompleks yang berasal dari cerita seorang raja yang baik dan bijaksana namun membunuh ayahnya serta menikahi ibunya sendiri. Karena menyesalnya ia membunuh ayahnya, akhirnya ia mencari cara bagaimana membunuh rasa sesalnya dengan memuja ayahnya tersebut. Hal ini berhubungan dengan pemujaan totemisme dimana binatang totem dianggap sebagai ayah mereka yang telah mati dan menahan hasrat seksual mereka, seperti pula ketabuan dalam menikahi seorang ibu sendiri (totem and taboo 1913). Agama disebutkan oleh Freud sebagai sebuah yang lahir dari emosi-emosi serta konflik-konflik yang lahir dan semenjak kanak-kanak dan terletak jauh di bawah kesadaran rasional, permukaan sadar dalam kepribadian dan dipandang sebagai gangguan neurotis.

Lain halnya dengan pandangan Emile Durkheim(1815-1917) yang menjelaskan tentang kesakralan masyarakat, di mana agama dan masyarakat tidak dapat dipisahkan, dan bahkan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Terdapat dua bagian dari suatu masyarakat, yaitu “Yang Sakral” serta “Yang Profan”. Hal yang sakral selalu diartikan sebagai sesuatu yang superior, berkuasa, dan dalam kondisi normal ia tidak tersentuh dan selalu dihormati. Sebaliknya pula yang profan berarti sesuatu yang biasa-biasa dan menjadi keseharian masyarakat. Seperti pada totem-totem yang memiliki kesakralan, di mana binatang selain yang ditotemkan bersifat biasa dan dapat dibunuh atau dimakan yang berbeda dengan binatang “sakral” pada totem tersebut. Durkheim berpendapat sebelum masyarakat mendapatkan keyakinan terhadap tuhan, terdapat sesuatu yang impersonal maha kuasa (prinsip-prinsip totem) yang menjadi fokus utama dalam keyakinan tersebut. Dari Durkheim dapat disimpulkan agama adalah bagian yang paling berharga dalam kehidupan sosial. Dia menyediakan ide, ritual dan perasaan-perasaan yang menuntun seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai suatu masyarakat yang eksis, maka segala ide-ide, ritual-ritual upacara akan selalu ada, hal tersebutlah yang menyebabkan agama tetap ada.

Karl Marx (1818-1883) berpandangan agama itu adalah sebagai bentuk alienasi. Marx memunculkan  dua titik tolak pemikiran, yaitu bahwa ekonomi sebagai hal yang mempengaruhi perilaku manusia serta yang kedua adalah dalam sejarahnya manusia memiliki konflik pertentangan kelas yang terjadi secara terus-menerus antara yang memiliki barang dan yang harus bekerja membanting tulang agar tetap bertahan hidup. Seperti pula bahwa kebutuhan hidup manusia adalah sandang, papan, dan pangan yang setelah mampu didapatkan akan menuju keinginan lainnya, seperti seks misalnya. Manusia membutuhkan hal dasar tersebut terlebih dahulu, hal itu dilakukan dengan kegiatan ekonomi yang notebene di satu sisi dimiliki oleh pihak pemegang kapital (modal). Pada masa modern yang mengarah pada industrialisme, para pekerja (proletar) mau tidak mau bekerja pada pemilik modal industrial. Itu pun semakin membuat pertentangan kelas antara proletar serta kapital. Dan hanya dengan jalan revolusi atau kekerasan nekad menghancurkan sistem ekonomi yang ada serta membentuk pemerintahan proletar yang membawa pada perubahan kedamaian serta kebebasan yang tidak terdapat pertentangan kelas. Alienasi menurut Marx adalah suatu keterasingan dari manusia itu sendiri, hal tersebut terjadi karena perbuatan manusia itulah yang menyebabkan terjadinya alienasi. Dan tentu saja alienasi ada yang “dilekatkan” secara sengaja kepada manusia termasuk ide-idenya sendiri padahal manusia adalah yang pemilik sebenarnya. Itulah alienasi yang paling riil dan menjadi penyebab kesengsaraan manusia. Namun kritik mengatakan bahwa pemahaman Marx terhadap agama sebagai candu masyarakat dan tempat pelarian masyarakat miskin dari kesengsaraan dan penindasan, sebenarnya dalam benaknya adalah menjelaskan tentang agama kristen. Hal itu akan berbeda jika menjelaskan kebahagiaan hidup setelah mati dan reinkarnasi agama hindu atau kesabaran hidup dalam agama buddha.

Mircea Elliade (1907-1986) yang juga memiliki pengalaman mempelajari yoga di wilayah india selama beberapa waktu, mempergunakan istilah Yang sakral dan Yang Profan seperti yang dipergunakan Durkheim, namun istilah ini lebih mengarah kepada spritualitas atau supernatural dibandingkan mengarah kepada sosial. Yang sakral oleh Elliade digambarkan sebagai suatu perjumpaan dengan sesuatu yang menyentuh satu realitas yang belum pernah dikenal sebelumnya, sesuatu yang nir-duniawi sebagai sebuah dimensi yang maha kuat, sangat berbeda dan merupakan realitas abadi yang tiada tandingannya. Hal ini terdapat pada semua agama, baik pada agama arkhais atau pula pada yahudi dan kristen yang mendasarkan dirinya pada nabi-nabi serta wahyu-wahyu yang ada. Disebutkan bahwa pada akhirnya mereka (yahudi,kristen) menginginkan suatu turunnya manusia tuhan (mesias) yang memberikan suatu dunia dambaan pada akhirnya. Hal tersebut sejalan kembali sesuai pemikiran arkhais yang menerima sejarah sebagaimana itu ada dan akhirnya akan hancur kembali menuju dunia yang sempurna.

Dari beberapa pemikiran di atas yang paling mencengangkan adalah Frederich Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati”. Hal ini tidak diartikan secara harfiah, namun merupakan gagasan dari Nietzsche yang menyatakan bahwa Tuhan tidak lagi mampu berperan sebagai sumber moral atau teologi. Gagasan ini pada akhirnya akan membawa kepada Nihilisme di mana terjadi suatu ketidakpengakuan lagi pada tatanan kosmis termasuk pula penolakan keyakinan akan suatu hukum moral yang objektif dan universal, yang mengarah pada evaluasi kembali dasar-dasar dari nilai manusia.

Ini adalah beberapa pemahaman tentang agama itu sendiri, di samping pula beberapa teori lainnya dari beberapa ahli lain. Asal-usul dari agama tersebut paling tidak bisa menggambarkan bagaimana agama itu terbentuk serta bagaimana bentuk agama ke depannya.

2.  Era modernitas tempat agama saat ini.

Pada era modernitas ini, maka agama yang ada akan berpacu pada suatu kondisi keduniaan itu sendiri. Era modern terbentuk dari suatu era industrial yang mengarah pada berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai suatu pengambil keputusan serta alat untuk mengenal dunia itu sendiri via penelitian empiris. Ini yang membedakan modern dari era pra modern yang menyatakan bahwa sesuatu pengetahuan didapat dari alasan (reason) dan pengetahuan bawaan (innate knowledge). Pra modern juga berarti pemahaman yang didapat dengan kepercayaan mitos serta keyakinan akan sesuatu yang lebih “tinggi”.

Era modernitas juga berarti sesuatunya tidak terlepas dari science dan teknologi, media massa yang berperan cukup tinggi, gerakan sosial yang berkembang, demokrasi, individualitas, industrisasi, dan urbanisasi. Modernitas juga sangat berhubungan dengan berkembangnya paham kapitalisme yang sangat erat dengan revolusi industri. Kemunculan ekonomi yang berarti sebagai ilmu untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, juga sebagai salah satu yang muncul di era modern.

Hal tersebut memunculkan pertanyaan, apa yang dicari manusia pada saat ini? Apakah manusia menjadi objek yang mengikuti perkembangan jaman modern tersebut? Menjadi manusia yang harus tetap setia dalam memunculkan kehidupan sesuai dengan teknologi yang ada? Bagaimanakah menjadi manusia yang sejahtera? Secara ekonomi kah atau kebahagiaan batin atau apa? Lalu agama berada di posisi mana dalam hal ini, seperti juga disebutkan agama sebagai produk dari era pra modern dengan berbagai mitos serta keyakinannya.

Era modern serta segala yang menjadikan seluruh dunia saat ini, di samping pula ilmu pengetahuan, sebenarnya telah sangat banyak memberikan kenikmatan serta kebahagiaan dan kesejahteraan yang memberikan bantuan manusia untuk kehidupan. Peradaban yang selalu berkembang serta informasi yang sangat bebas beredar, memberikan banyak sisi positif di samping pula sisi negatif dari kehidupan era modern tersebut. Seperti pula yang dikritik oleh para ahli di atas Karl Marx contohnya yang mengangkat sisi pertentangan kelas yang juga penuh konflik. Di sisi lain Tuhan sepertinya telah kehilangan daya atau pengaruhnya untuk membentuk moralitas serta kemanusiaan sehingga Nietzsche menceritakan tentang kematian Tuhan itu sendiri. Seperti pula munculnya paham hedonistis yang mirip dengan Carwaka di mana kepuasan pribadi adalah hal yang paling utama. Hal itu memberikan suatu sikap individualitas dan mengurangi keinginan untuk menanamkan sikap yang peduli pada sekitarnya.

Ilmu pengetahuan pun selalu berkembang dengan peran filsafat ilmu bagian aksiologi untuk menjawab bahwa ilmu yang baik berisikan suatu etika dan moralitas. Ini yang bisa menjawab bagaimana suatu pengetahuan pada nantinya akan menjadi suatu ilmu yang memiliki tanggung jawab moralitas serta tanggung jawab etika kepada sosial serta dunia itu sendiri.  Agama dalam hal ini sebagai sesuatu yang memberikan pemahaman etika serta moralitas menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan, sebagaimana Durkheim juga berkata bahwa agama menjadi identitas suatu masyarakat dan dengan mengetahui identitas tersebut suatu permasalahan dapat diselesaikan jika terjadi gesekan di masyarakat tersebut. Eksisnya suatu masyarakat adalah berasal dari agamanya yang terbentuk dari ide, filsafat, serta ritual yang ada. Agama sebagai sesuatu yang membentuk psikologi seseorang, dikatakan sebagai suatu kesakitan oleh Freud sendiri. Namun ia pun tidak bisa menjawab kenapa orang masih beragama dan bersifat kolektif. Tylor pada kesimpulannya, agama dikatakan akan mengalami kemunduran akibat kemajuan ilmu pengetahuan. Tetapi ilmu pengetahuan pun pada akhirnya dibatasi oleh segi kemanusiaan, moralitas, serta etika yang notabene berasal dari sumsum agama itu sendiri.

Terlepas dari beberapa hal di atas, dunia sekarang pun masih memiliki titik-titik sejarah kelam dari agama itu sendiri. Di mana agama dalam penyebarannya atau pun dari suatu pembelaannya memiliki sifat keras tersendiri dengan darah atau pun kehancuran suatu peradaban. Seperti pula terorisme, pembunuhan etnis, brainwash, perang tanpa akhir di suatu wilayah, penghancuran tempat suci, atau mungkin konflik kecil antar umat beragama sendiri. Apakah agama yang salah dalam hal ini? Ataukah pemahaman dan penafsirannya?  Seperti juga John Lennon menyanyikan sebuah lagu “Imagine”  di mana dikatakan “bagaimana dunia tanpa agama, tidak ada yang terbunuh dan mati karenanya”. Namun di akhir ia berkata, yang diinginkan adalah “peace” yaitu suatu kedamaian. Jadi agama yang bagaimana diperlukan di masa depan?

3. Agama yang Damai, Agama yang Pluralis.

Sebelum beranjak pada agama di masa depan, maka semua sepakat bahwa kata damai menjadi suatu yang didambakan oleh siapa pun. Konflik memang pasti terjadi karena manusia memiliki kepala sendiri-sendiri, namun jika itu terjadi pasti ada langkah bijaksana untuk menjadikan sesuatu lebih punya nilai yang baik. Jaman ini masih terjadi suatu agama memberikan pemahaman dengan jalan kekerasan serta mengambil ayat-ayat secara setengah-setengah, serta menganggap kebenaran itu ada padanya sendiri.

Ilmu pengetahuan memiliki peran tersendiri di sini untuk memberikan suatu pandangan yang berbeda terhadap konflik-konflik berdasarkan agama. Humanisme menjadi suatu kaca mata sendiri terhadap kekerasan tersebut. Ilmu pengetahuan hendaknya menjadi hal yang tidak dianggap sebagai penghambat agama, baiknya dianggap sebagai hal yang memajukan manusia itu sendiri.  Karena ada beberapa penganut (bukan agamanya) yang alergi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan ini. Tetapi masih menggunakan hasil pengetahuan itu.

Kedamaian hanya bisa hadir jika paham keeklusifan suatu agama bisa ditiadakan dengan memberikan suatu pemberian kebebasan atas keyakinan lain itu ada. Manusia itu lahir dengan perbedaan, bukan suatu kesamaan dari kelahirannya. Seperti juga pelangi yang berwarna-warni dan bukan pelangi jika hanya berwarna hitam atau biru saja. Kedamaian itu hadir dengan menelaah kembali ayat-ayat pada kitab suci masing-masing dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Seperti misalkan ada ayat tentang “memotong kepala umat lain”, apakah ditafsirkan dengan memotong kepalanya? Mungkin saja bisa ditafsirkan dengan memotong ego sebagai isi kepala darinya.

Dalam Hindu sendiri, dikatakan memiliki kitab sruti dan kitab smerti. Kitab sruti adalah kebenaran sejati, di mana smreti dimaksudkan untuk berubah dan diaplikasikan seperti kasus hukum dengan perhatian besar terhadap setiap konteks untuk menetapkan aplikabilitas serta adaptasi yang diminta (hal 157, Morales,2006). Jadi disesuaikan dengan jaman serta kebutuhan yang ada. Dharma yang abadi (Sanatana Dharma) dari Hindu tersendiri, merupakan suatu yang memang menjadi tuntunan dan kewajiban bagi dunia sampai akhir jaman atau abadi.

Agama masa depan adalah agama yang memandang pluralitas sebagai sesuatu takdir, keharusan atau sesuatu yang dimaklumi. Agama yang mampu memberikan rumah bagi yang tertekan pada suatu kehidupan ini. Agama sebagai tempat pulang dari umat-umat yang memeluknya. Karena agama sebagai wilayah rumah Tuhan yang diyakini merupakan akhir dari perjalanan manusia, memberikan suatu kedamaian batiniah dari sisi negatif keinginan tidak terbatas manusia.

Kedamaian secara realita akan dicapai dengan memberikan pluralitas itu sebagai junjungan dalam beragama, sehingga paling tidak kekerasan dari suatu agama bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Jika kekerasan telah lenyap, maka suatu kesejahteraan akan lebih bisa terfokuskan. Katakanlah idealisme dari Marx tentang agama sebagai candu masyarakat dan masyarakat tanpa kelas, akan lenyap dengan kesejahteraan yang merata. Agama yang damai serta plural adalah jawaban bagi agama yang bermakna di masa depan. Seperti pula Hindu di Bali mengucapkan salam terakhir “Om santi, santi, santi, Om”.

 

 

Daftar Pustaka

Daniel L.Pals. 2011. Seven Theories of Religion. Penerbit IRCiSoD Jogjakarta cetakan pertama.  

Lyrics 007 .___ . John Lennon Lyrics, di website http://www.lyrics007.com/

Morales, Frank G dkk. 2007. Semua Agama Tidak Sama. Penerbit Media Hindu cetakan kedua. Editor Ngakan Made Mandrasuta

Wikipedia .__. Hedonism. di website http://en.wikipedia.org/wiki/Hedonism

Wikipedia. ___. Modern History.di website http://en.wikipedia.org/wiki/Modern_history

Wikipedia,___, Tuhan sudah Mati, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_sudah_mati

Wikipedia,___, Axiology, di website http://en.wikipedia.org/wiki/Axiology

Wikipedia, ___, Agama, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

Wikipedia,___, Alienasi, di website http://id.wikipedia.org/wiki/Alienasi

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah (Upacara)

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah Upacara

 A.Pola Pikir tentang Sampah (upacara)

Saat kita dihadapkan dengan kata sampah, maka yang ada dalam pikiran adalah kata “jijik” dan “kotor”. Hal itulah sebenarnya yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap sampah itu sendiri menjadi meningkat. Padahal sampah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri, sebagai sesuatu hasil dari pekerjaan tertentu yang tidak bernilai atau ampas-ampas yang tidak digunakan lagi.  Sampah adalah keseharian hidup manusia, bahkan sampah adalah tidak terpisahkan pula pada hubungan dengan kekuasaan Ilahi itu sendiri. Seperti pula bagaimana Tri Hita Karana, yaitu Parahyangan, Pawongan, Palemahan.

Dalam hubungan yang selaras dengan lingkungan (alam) atau Palemahan, maka hendaknya disadari bahwa untuk menjaga suatu lingkungan agar tetap bersih dan senantiasa asri yang mencakup sebagai suatu kebersihan diri itu sendiri. Dalam mitos-mitos tentang Betara Kala, disebutkan bahwa saat itu Dewa Kumara dikejar-kejar dan lolos karena bersembunyi di dalam gundukan sampah. Maka Betara Kala pun mengutuk orang-orang yang membuang sampah sembarangan agar mendapatkan penyakit menular (www.balipost.co.id). Hal itu secara logika bisa dikatakan onggokan sampah adalah sumber penyakit yang membahayakan manusia sekitarnya. Di samping itu menurut pemahaman Tri Guna (Sattwam, Rajas, Tamas), maka manusia yang berlebihan dalam tabiat tamasnya, akan bersifat atau berkepribadian awut-awutan, tidak terurus, dan malas (http://www.hukumhindu.or.id/susila-dalam-agama-hindu/), hal ini sangat berhubungan dengan tingkat kepedulian kebersihan akan lingkungan itu sendiri.

Jika dilihat pada Tiga Kerangka Agama Hindu, maka Tattwa serta Susila diangkat atau dijalankan melalui Upacara. Upacara yang ada adalah sebagai bagian dari pembayaran tiga utang (Tri Rna) yaitu kepada Dewa, kepada Pitara, serta kepada Rsi. Dan kewajiban yang ada dalam pembayaran hutang itu, dijalankan dengan Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Maka Panca Yadnya ini jika dilaksanakan memerlukan berbagai sarana-sarana, dalam hal ini adalah bebantenan itu sendiri.  Dan pada akhir dari upacara, maka lungsuran atau prasadam sisa upacara akan dinikmati oleh yang menghaturkan yadnya tersebut.  Hal ini seperti juga dikatakan pada Bhagawadgita sloka III-13 yaitu,

 

Bhagawadgita III-13

“yajna-sistasinah santo mucyante sarwa-kilbisaih,

Bhunjate te tw agham papa ye pacanty atma-karanat”

Artinya : Orang-orang baik yang makan sisa persembahan kurban akan terlepas dari segala dosa, tetapi orang-orang jahat yang mempersiapkan makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya mereka itu makan dosa”

Jadi pada intinya adalah bahwa sisa-sisa persembahan dari kurban jika dimanfaatkan sebenarnya akan terlepas dari segala dosa. Maka hasil dari upacara pun sebenarnya adalah akan menjadi suatu manfaat tertentu jika dengan sadar kita pahami bahwa tidak ada satu apa pun yang tidak bernilai, walaupun itu adalah dalam bentuk sampah.

Dalam Manawa Dharmasastra IV.56 juga disebutkan bagaimana hendaknya agar tidak membuang sampah sembarangan yang dijelaskan sebagai berikut :

Manawa Dharmasastra IV.56

Napsu mutram purisam wa sthiwanam wa samutrsjet, amedhya lipya     menyadwa lohitam wa wisaniwa”.

Artinya : Hendaknya ia jangan kencing atau berak dalam air sungai, danau, dan laut, tidak pula meludah, juga tidak boleh berkata-kata kotor, tidak pula melemparkan sampah, darah, atau sesuatu yang berbisa atau beracun.

Sloka ini juga menyarankan bagaimana baiknya untuk tetap menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah.

  1. Sampah Upacara serta Nilai yang Terkandung di dalamnya.

Dalam pelaksanaan upacara Yadnya, terdapat sindiran dari umat lain yang menyatakan bahwa cara persembahyangan umat hindu hanya menghasilkan sampah yang menggunung. Hal itu sebenarnya tidak dapat disanggah jika melihat berapa jumlah volume sampah sisa dari hasil upacara itu sendiri. Sebagai contoh pada berita di salah satu stasiun TV  menyebutkan bahwa sampah yang dihasilkan pada hari raya galungan adalah sebanyak 5000 meter kubik atau setara dengan 714 sampah yang diangkut oleh truk. Coba diperkirakan bagaimana pertambahan jumlah sampah pada hari raya yang lain. Memang dalam hal ini sudah dilakukan pembuangan sampah menuju TPA-TPA yang ada. Namun mari kita lihat bagaimanakah sampah-sampah yang ada di pantai misalnya, semakin tidak terlihat manis di mata.

Sebagai gambaran data biro pusat statistik yang menyebutkan bahwa di kawasan perkotaan baru 11,25 % sampah yang dihasilkan diangkut oleh petugas pemerintah, sisanya 63,35 % sampah ditimbun/dibakar, 6,35 % sampah dibuat kompos, dan 19,05% sampah dibuang ke kali secara sembarangan. Sementara itu, di kawasan pedesaan, sebanyak 19 % sampah diangkut petugas, 54 % ditimbun atau dibakar, 7% dibuat kompos, dan 20 % dibuang di kali sembarangan. Dari statistik di atas menggambarkan bahwa pengelolaan sampah secara salah sekitar 20% masih dilakukan, yang artinya sebagai cikal bakal penyakit (kutukan Bhatara Kala) serta sifat ketamasan. Namun jika diletakkan suatu pikiran bahwa sampah, dalam hal ini sampah upacara sebagai juga suatu yang dapat dimanfaatkan atau sebagai lungsuran(prasadham), maka sebenarnya sudah terdapat 7 % yang secara sadar menyebutkan sampah bisa bernilai guna sebagai pupuk kompos untuk melestarikan kehidupan serta lingkungan itu sendiri.

Sampah upacara pada dasarnya dapat dimasukkan sebagai sampah organik dan sedikit pula terdiri dari sampah yang anorganik. Sampah organik adalah sampah yang bisa terurai dan mudah membusuk, yang diantaranya sisa makanan, sayur, daun-daun kering, bunga, dan sebagainya. Pada upacara maka sampah organik adalah bunga, janur, buah, dupa, serta bagian yang bisa membusuk lainnya. Lain pula dengan sampah unorganik yang tidak dapat terurai. Sebagai contohnya adalah plastik, kertas, plastik mainan, kaleng, dan sebagainya (wikipedia). Pada intinya yang diperlukan untuk mendapatkan suatu nilai tambah dari suatu sampah adalah dengan melakukan pemisahan terdahulu antara sampah organik dan sampah unorganik tersebut.

Pemanfaatan sampah organik yang diubah menjadi pupuk yang juga bernilai tambah, adalah hal yang bisa dilakukan. Karena pada dasarnya penggunaan pupuk dari organik lebih bermanfaat dan mengurangi sifat-sifat kimiawi yang membahayakan daripada menggunakan pupuk kimia itu sendiri. Dan permintaan yang cukup tinggi di pasar, menyebabkan harga dari pupuk ini per kilonya mencapai Rp.10.000,00. Dan dalam jumlah banyak (sekitar 1 ton) harganya juga menyesuaikan menjadi Rp.5.000,00.  Pupuk juga bisa digunakan sendiri untuk perkebunan atau taman. Jadi nilai tambah dari sampah yang diyakini adalah nol, menjadi lebih bermakna secara ekonomis, serta bernilai pula dari sisi kebersihan dan menuju Bali go-green 2013 sesuai dengan program pemerintah.

Untuk awalnya, maka pemanfaatan sampah ini bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut (Susetya) :

  1. Pengumpulan sampah organik : Semua sampah organik berbentuk dedaunan, sampah sayur, buah dikumpulkan. Untuk sampah yang berukuran besar, dipotong-potong terlebih dahulu agar bisa masuk ke dalam kantong plastik.
  2. Pemasukan sampah ke dalam kantong : Setelah selesai dipotong, secara bertahap masukkan sampah ke dalam kantong. Selanjutnya siramkan larutan promi secara merata. Masukkan kembali selapis sampah 10 cm, siramkan kembali larutan promi. Ulangi langkah sampai kantong plastik penuh.
  3. Inkubasi : Proses inkubasi dengan menutup rapat kantong plastik dengan tali plastik. Biarkan kurang lebih 3-6 minggu hingga kompos matang.
  4. Panen kompos : Setelah matang, bisa langsung digunakan. Namun untuk hasil lebih berkualitas, sebaiknya kompos matang dikeringkan, dicacah, dan diayak. Sehingga pupuk yang dihasilkan tidak berbau dan layak jual.

Jadi penggunaan atau pemanfaatan menjadi kompos adalah suatu yang termasuk dalam wilayah melestarikan palemahan (lingkungan), sebagaimana pula jika dilakukan secara profesional, maka akan menambah atau membantu perekonomian selain pula membantu pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang asri.

  1. Manfaat dari Budaya Pengelolaan Sampah

Sampah sebenarnya adalah suatu yang memiliki nilai jika bisa dilakukan pengolahannya menjadi sesuatu yang berguna. Dalam hal ini di daerah denpasar sendiri sudah berdiri bank sampah di jalan Noja. Sebagamana telah berjalan dua tahun (2010) dan menjadi tempat pengubahan sampah menjadi suatu yang bernilai ekonomis. Selain itu pula seperti namanya yaitu “bank”, ada sebagai tempat menabung sampah secara berkala, dan diuangkan sehingga bernilai ekonomis baik bagi yang menyetorkan sampah serta bagi yang manajemen yang mengelolanya.

Lain pula bagaimana pengembangan pengelolaan sampah di temesi. Di samping pula sebagai tempat yang memproduksi pupuk kompos serta biodiesel, Temesi juga mengambil bagian sebagai pusat pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang lebih indah baik itu di daerah Gianyar, atau keseluruhan Bali pada umumnya. Dan kompos yang dihasilkan di Temesi ini juga diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan para petani secara keseluruhan.

Profesionalitas pengelolaan itu pun, bisa dicontoh dari sekeliling wilayah masyarakat, apakah itu banjar, desa, atau bisa dalam pengorganisasian tempat persembahyangan suatu daerah di Bali. Selain pula dibantu dari swasta, pemerintah untuk menunjang kebersihan serta keasrian seperti pula pemberdayaan desa adat itu sendiri.

Dalam suatu pola pikir masyarakat, maka sampah adalah dianggap sebagai suatu yang terpinggirkan dan menjadi posisi tersudut atau marginal. Padahal sampah dalam hal ini bisa jadi merupakan suatu anugerah pula bagi masyarakat itu sendiri. Baik itu seperti sampah sebagai akibat hasil dari upacara yang dilakukan oleh umat dalam melaksanakan prosesi panca yadnya-nya. Sekehendaknya adalah posisi marginal itu diberikan ruang pemikiran untuk menjadi suatu yang berguna di kedepannya. Manfaat untuk lingkungan dalam hal ini Bali itu sendiri adalah menjadi tujuannya.Di samping pula menyongsong Bali untuk menjadi Bali yang selalu bersih, aman, lestari, dan indah.

 

 

Daftar Pustaka

Arifin, Togar Silaban. 2008. Memaknai Nilai Ekonomis Sampah. Pada website http://togarsilaban.wordpress.com

Gede Dharma Putra. 2010. Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan yang Berasal dari sampah, . Pada website http://kgdharmaputra.blogspot.com/

Handayani Trisakti. 2010. Dekonstruksi dalam Penelitian Cultural Studies. Pada website trisakti.staff.umm.ac.id/files/2010/03/Dekonstruksi1.pps

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuscaya (dalam teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna). Penerbit Paramita Surabaya.

Maswinara, I Wayan (penyadur). 1997. Bhagawadgita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Penerbit Paramita Surabaya.

Pudja G.,M.A. , Rai Sudharta, Tjokorda, M.A. 1996. Manawa Dharmacastra (Weda Smreti Compendium Hindu). Penerbit Hanuman Sakti Jakarta.

Putrawan. 2010. Permasalahan Sampah Sisa Upacara. Pada Website http://majalahhinduraditya.blogspot.com/

 

Susetya Darma,S.P. ____. Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik (untuk tanaman Pertanian Perkebunan). Penerbit Pustaka Baru Press.

Sumada Ketut. 2012. Pemanfaatan Limbah “Canang” (Bunga) di Pura. Pada Website http://ketutsumada.blogspot.com/

Syahyuti. 2011. Teori Dekontruksi Derrida. Pada website  http://kuliahsosiologi.blogspot.com/

___________. 2012.  Volume Sampah Galungan Setara dengan 714 Truk, www.balipost.co.id

___________.____. Susila dalam Agama Hindu. Pada website http://www.hukumhindu.or.id/

___________.____.  About Our Compost. Pada website http://www.temesirecycling.org/

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Agustus 2012 in agama, budaya

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: