RSS

Arsip Tag: saraswati

Perwujudan dan Sujud pada Suatu Kekuatan Agung Akhir Jaman “Kalvatar”..

Seperti yang telah kita tahu, bahwa sekarang hari ini esok dan kemarin kita telah menapaki sebuah jaman yang memang sangat berat dan sangat melelahkan, bagi mereka yang benar-benar menjalaninya secara berbudi dharma. Yaitu sebuah jaman kaliyuga. Jaman di mana memang kejahatan (adharma) memiliki lebih banyak pengikut dari pada mereka yang melakukan dan membela dharma itu sendiri. Persentase yang ada menyatakan bahwa 75 % berbanding dengan adharma 25%. Sebuah pertanyaan yang meneguhkan adalah adharma tidak pernah akan sampai ke angka 100%. Dan sebagai suatu keyakinan bahwa 25% dharma, masih mampu untuk hidup dan bahkan mengalahkan 75% adharma itu sendiri. Dan jika memang itu terjadi atau pasti akan terjadi, maka jaman keemasan atau Satya Yuga akan tercapai di jaman mendatang dan bahkan sesuai keyakinan tentang kekuatan spiritulitas bahwa itu telah mengalami proses tersendiri dan telah dimulai.

Sebagai fakta yang tiada bisa dibantah adalah kemunculan pencerah-pencerah yang sudah lelah pada kemunduran “nilai” jaman, dan berbagai bencana, serta semesta mulai bergejolak sedemikian rupa. Dan nantinya juga akan sampai pada titik keseimbangan di mana Budi luhur Dharma akan mencapai kesunyatan abadi.

Beberapa hal di atas maka akan sampailah pada suatu pertanyaan Siapa yang ditunggu? atau siapa yang patut dinanti pada masa yang penuh goro-goro ini?? Sedikitnya pasti terbersit bahwa berbagai ramalan yang belum teridentifikasi nilai kebenarannya, atau belum dianggap karena tidak berlogika, maka sebenarnya dari mereka yang mengagungkan kekuatan selain duniawi itu sendiri (baca:intuisi). Bahwa telah saatnya datang keperkasaan dharma yang mencipta, melindungi, melebur, serta menghukum dan mengembalikan budi dharma menuju suatu keemasan yang tiada ternilai. Menurut hemat saya adalah bahwa telah atau akan lahir suatu kekuatan ilahi sebagai inkarnasi dari Wisnu yang berupa penunggang kuda dan membawa sebuah pedang terhunus yang siap mematikan mereka yang menentang, meluruskan serta memberi penghukuman sendiri atas adharma yang mereka lakukan. Dan Beliau adalah disebut sebagai Kalki Avatara.

Dari simbolisme kalki avatar di samping, maka makna-makna yang tergambar dari Kalki avatar adalah sebagai berikut :

1. Pedang : Pedang sebagai simbol senjata yang digunaka oleh kalki avatar adalah sebagai pemaknaan akan ketajaman pikiran atau kekuatan dari ilmu pengetahuan yang mampu menghancurkan permasalahan dan memberikan solusi atau meninggalkan ketidakberdayaan dari apa-apa yang menggoda dan menghadang manusia. Pentingnya sebuah ilmu pengetahuan dapat dilihat pada,  Bhagavadgita Percakapan IV Sloka (33) dikemukakan : “ Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa lebih bermutu daripada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini, berpusat pada Ilmu Pengetahuan, oh Parta”. Selanjutnya dalam Sloka (42) dikemukakan: “Sebab itu, setelah memotong keraguan dalam hatimu karena ketidaktahuan dengan pedangnya ilmu pengetahuan, berpegang pada yoga, bangkitlah, oh Barata”.  

Pengetahuan akan Dharma itu pun melindungi mereka2 yang mengemban ketajaman pikiran itu sendiri. Maka seperti yang tercantum pada sloka sarasamuscya 18, “Dan kekuatan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, ;lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.”

Dan pedang sebagai suatu idep suatu pikiran yang tajam termsuk intuisi yang diasah dengan empat marga itu, akan menjadi seuatu yang bershadja sesuai proses karma pala dan kekuatan dharma yang agung. Apa pun jalan yang anda laku, maka akhirnya akan sampai pada “KU”, apakah itu bhakta, Karmin, Jnanin, Rahja maka nantinya akan menjadi kesucian dalam Wibhuti Marga, yaitu suatu “pencerahan”. Dan tidak ada jarak lagi antara Tuhan dan Suksma, Rahga, dan Sahadja.

Kekuasaan akan ilmu pengetahuan dan melalui lindungan Budi Dharma, telah pula dirayakan dan diperingati pada hari raya Tumpek Landep sebagai peringatan mempertajam ilmu, yang telah turun sebelumnya pada peringatan Hari raya Saraswati pada wuku watugunung. Yang juga telah dihayati sedemikian rupa pada keseharian.

2. Kuda. Kuda yang liar adalah sebagai suatu catur purusha artha, yang termasuk pula dharma di sampingnya, Dasar-dasar yang ada untuk menghancurkan musuh manusia yaitu kebodohan adalah, dharma, artha, kama ,moksa yang telah menjadi dasar itu sendiri. Selain pula Tri kaya parisudha sebagai lelaku etika yang berpikir, berbicara, berbuat dharmaning ksatrya mahottama. Dan kuda yang liar adalah mewakili sad ripu dan sad atatayi, atau mungkin seperti seven deadly sins, yang telah terbit pemahamannya. Maka jika kuda liar itu dapat dikelola dengan laksana satya, maka akan mewakili kecepatan intuisi untuk menelaah “putih” kesucian tuhan dalam menanggulangi setiap permasalahan yang ada.

3. Orang yang kalah, adalah ia yang bergerak pada adharma, ia yang bergerak dan mendasarkan dirinya pada jaman kali, mereka yang bersifat raksasa raksasi dan yang tiada berjiwa budi dharma.. mereka akan terkalahkan oleh pedang ketajaman ilmu pengetahuan, dan tergerus oleh kuda catur purusha artha yang akan tetap menang sepanjang masa. Dan ini telah dirayakan pada galungan dan kuningan. Dan keabadian itu akan menjadi kenyataan.

Sedikit dan yang terakhir, Japa atau semadi akan persujudan kepada titisan Waishnam Al Muaimin dapat dilaksanakan dengan mahantra berikut :

“Hare Krushna Hare Krushna, Krushna Krushna Hare Hare”
“Hare Râma Hare Râma, Râma Râma Hare Hare” (Japa Kalki Avatar)

“Om BiswaGuru KalkiRâma Sudarshana Hare Hare
GadâPadma ShankhaShyâma RâmaKrushna Hare Hare” (japa Kalki Avatar).

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/04/24/ngiring-sesuhunan-ida-hyang-kalki-avatar/

gwar 30 10 2012

 

 

 

 

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, Tak Berkategori

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Saraswati dalam Weda (Hindu)

            Saraswati sebagai dewi di dalam hindu, memiliki peran penting dalam perkembangan serta pemahaman hindu bahkan di dunia sendiri. Saraswati diibaratkan sebagai dewi yang menggambarkan pengetahuan. Pengetahuan yang cantik dan indah seperti paras dewi Saraswati dan keibuan yang melindungi serta mengasuh umat manusia. Dalam reg weda dan purana Dewi Saraswati dianggap sebagai dewi pengetahuan dan seni serta dewi kebijaksanaan . Sebagai pemahaman bahwa seni serta ilmu pengetahuan dapat membawa manusia pada kemoksaan (kebebasan) bagi yang meyakininya.

            Arti penting dari pengetahuan dapat dilihat pada sloka berikut :

Canakya Niti Sastra Bab IV. Sloka 5 yaitu :

“Ilmu pengetahuan ibaratnya bagaikan kamadhenu, yaitu yang setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di Negara lain, ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihata kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta yang tak kelihatan.”

Sebagaimana pula bahwa disebutkan kebodohan adalah musuh dunia,  seperti yang tercantum pada Sarasamuscaya sloka 399, yaitu :

”Hanya satulah yang sesungguhnya yang bernama musuh, tak lain hanya kebodohan saja; tidak ada yang menyamai pengaruh kebodohan itu, sebab orang yang dicengkram kebodohan itu, niscaya, ia akan melakukan perbuatan buruk”.

Selanjutnya Sarasamuscaya 400, disebutkan bahwa :

“Sebab suka duka yang dialami; pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karenanya kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu”

Demikian pula pentingnya ilmu pengetahuan yang terdapat pada Bhagawadgita percakapan IV Sloka (33) dikemukakan :

“ Ilmu pengetahuan sebagai yajna, lebih unggul dari pada yajna material apa pun, wahai Paramtapa (arjuna), karena segala kegiatan kerja tanpa kecuali memuncak pada kebijaksanaan, wahai Partha (Arjuna)”

Selanjutnya dalam Sloka (42) dikemukakan: “ Oleh sebab itu, setelah memotong keragu-raguan dengan pedangnya ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dalam hati yang berasal dari ketidaktahuan,berlindunglah pada yoga dan bangkitlah, wahai Bharata (Arjuna)”.

Maka pengetahuan adalah sebagai pedang yang berharga yang dimiliki untuk memotong keragu-raguan yang berasal dari kebodohan itu sendiri untuk bisa lepas dari kesengsaraan. Yang merupakan harta serta kekayaan yang rahasia dan tidak kelihatan.

Begitu pentingnya pengetahuan itu, maka dewi saraswati dipuja sebagai pengejewantahan Brahman dalam manifestasinya serta sakti dari Dewa Brahma untuk menghormati pengetahuan itu sendiri.  Saraswati berasal dari kata sr yang berarti mengalir dan dalam reg weda disebut sebagai dewi sungai. Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati.Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:

  • Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.
  • Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
  • Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
  • Damaru (kendang kecil).

Angsa merupakan semacam simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.

Saraswati sendiri diperingati oleh umat Hindu di Bali pada Saniscara Umanis wuku Watugunung yang dirayakan berselang 210 hari sekali. Hari raya Saraswati adalah hari lahirnya atau turunnya ilmu pengetahuan di dunia. Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh  lewat tengah hari.

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan

Di dalam upakara yang disebut Banten Saraswati salah satu unsurnya ada disebut jajan Saraswati. Jajan ini dibuat dari tepung beras berwarna putih dan berisi lukisan dua ekor binatang cecak. Mata cecak itu dibuat dari injin (beras hitam) dan di sebelahnya ada telur cecak. Dalam banten Saraswati itu mempunyai arti yang cukup dalam. Menurut para ahli Antropologi, bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang melata seperti cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual. Jajan Saraswati yang berisi gambar cecak memberi pelajaran bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja, tetapi harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran rohani. Dalam lontar Saraswati juga memakai daun beringin. Daun beringin adalah lambang kelanggengan atau keabadian serta pengayoman. Ini berarti ilmu pengetahuan itu bermaksud mengantarkan kepada kehidupan yang kekal abadi. Ilmu pengetahuan juga berarti pengayoman.

Secara jelasnya mantra saraswati yang dapat dirangkum dalam weda adalah sebagai berikut :

“Yaste stanah Sasyo yo mayobhuyemma visva pushyasi. Varyani yo ratnadha vasuvidyah sudatrah. sarasvati tamiha dhatave kah” (Rg-Weda 1. 164. 49). Artinya adalah :  “Oh Saraswati anugrahilah susu kehidupanmu untuk kehidupan di sini yang ada di dalam tubuhmu, yang menaburkan kebahagiaan yang engkau berikan kepada (mereka yang memujamu) dengan semua bendabenda terpilih, ia yang memegang semua benda-benda indah, yang mengetahui kekayaan musuh dan yang menawarkan hadiah-hadiah baik”.

“Pavaku nah Sarasvati vajebhirvajini-vati Yajnam vasthu dhiyavasuh” (Rg-Weda 1.3.10). Artinya : “Mudah-mudahan Dewi Saraswati menjadi penyuci, mudah-mudahan ia yang  memiliki makanan menganugrahkan kepada kami, yang memiliki kekayaan mudah-mudahan menginginkan yajna”.

“Codayitri sunrtanam cetani sumatinam Yajnam dadle saraswati” (Rg-Weda 1.3.13). Atinya : “ Saraswati memberikan inspirasi perbuatan baik dan pikiran baik memegang yajna”.

“Maho arnah Saraswati pra cetayati ketuna Dhiyo visva vi rajati” (Rg-Weda 1.13.12). Artinya :” Saraswati dikenal, melalui gerakan air yang maha besar. Semoga doa pujaan memancarkan cahaya sangat banyak”.

“Sarasvati tvamasmam aviddhi marutvati jeshi Satrun Tyam cicchardhantam tavishiyamanamindro hanti Vrshabham Sandikanam” (Rg-Weda 2.30.8). Artinya : “Oh Sarasvati engkau melindangi kami. Engkau yang dihubungkan dengan para Marut, yang merupakan petarung agung menakiukan musuh-musuh kami. Indra membunuh para Shandika yang kuat yang terkenal yang membenci kami”.

“Vivasema Iyam sush mebhirvisaka ivarujat sanu girinam tavashebhirurmibhih Paratva taghnimavase survrktibhih Sarasvatima dhitibhih” (Rg-Weda 6.61.2). Artinya “Saraswati menghancurkan puncakpuncak gunung dengan arus gelombangnya yang kuat seperti begitu gampangnya menghancurkan kembang-kembang. Kami mengagungkan dia sebagai penghancur gunung-gunung dan memujanya dengan pengabdian yang agung demi perlindungan kami”.

Ekacetat Sarasvati nadinam suciryati giribhya a samudrat” (Rg-Weda, 7.95.2). Artinya “Sarasvati saja yang memiliki vitalitas di antara sungai-sungai dan ia yang paling suci mengalir dari gunung-gunung menuju laut”.

“Imam me gange yamune sarasvati Satudri stomam Sacata parushnya Asikanya marudvrdhe citastayarjikiye Srnutdya Sushomaya” (Rg-Weda 10.75.5). Atinya :” Oh Gangga, Yamuna, Sarsvati, Satudri dengan Parshi, Marudvridhan dengan Asikini; Arjikiya dengan Visastra dan Sushnoma mendengar doa mu.”

“Ayat sakam yasaso vavasnah sarasvati sap tathi sindhumata. Yah sushvayanta sudughah sudhara abhisvena payasa pip yanah” (Rg-Weda 7. 36.6).Artinya “ Mudah-mudahan (sungai) ketujuh, Sarasvati, ibu sungai Sindhu dan sungai-sungai yang mengalir deras dan menyuburkan memberikan makanan berlimpah, dan memberikan makanan (kepada orang-orang) dengan air mereka, datang pada suatu saat bersama-sama.”

Pada hari saraswati, maka mantra atau puja saraswati dilaksanakan pada saat panca sembah setelah melakukan puja kepada ciwa raditya serta kepada Tri purusha. Mantra saraswati yang diucapkan adalah sebagai berikut :

Om, Saraswati namostu bhyam,

Warade kama rupini,

Siddha rastu karaksami,

Siddhi bhawantume sadam.

Artinya : Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.

Itulah pentingnya pengetahuan dalam kehidupan ini. Maka dengan menjadikan saraswati sebagai sarana puja, tercapainya suatu kegunaan dari pengetahuan itu sendiri akan menolong manusia dari kesengsaraan dunia ini. Dan dengan penghormatan serta puja pada Saraswati ini berarti bahwa Hindu menyatakan dirinya sebagai agama yang memberikan ilmu pengetahuan sebagai komponen untuk mencapai suatu tujuan tertinggi, bersatu dengan Brahman sebagai pemilik pengetahuan.

 

Daftar Pustaka

Kadjeng, I Nyoman dkk. 1997.  Sarasamuscaya dengan teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Penerbit Paramita Surabaya.

Linggawardanasahajakers. 2009. Saraswati dalam Makna. Pada website https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/08/01/saraswati-dalam-makna/

Maswinara, I Wayan. 1997. Srimad Bhagawadgita dalam Bahasa Inggris dan Indonesia . Penerbit Paramita Surabaya.

Oka Mahendra,A.A.2007. Prinsip Dasar. Pada website http: //okamahendra.wordpress.com/l/

Raka Mas, AA. 2011. Ilmu Pengetahuan untuk Kesejahteraan Hidup Umat Manusia menurut Perspektif Hindu. STAH DharmaNusantara Jakarta di website http://stahdnj.ac.id

Wikipedia.____. Saraswati. Pada website http://id.wikipedia.org/wiki/Saraswati

_____.____. Hari Raya Saraswati. Pada website http://www.babadbali/piodalan/srs-wati.html

______.______. Hari Raya Saraswati. Parisada Hindu Dharma Indonesia di Website http://www.parisada.org

_____.______. Hari Raya Saraswati. Hindu Batam di website http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2012 in agama, budaya, doa

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Makna Hari Saraswati sampai dengan SOma RIbek

Makna Hari Saraswati

Saniscara umanis Watugunung adalah hari raya Saraswati. Yaitu hari turunnya ilmu pengetahuan, yang dimana pengetahuan itu adalah cikal bakal kehidupan manusia.  Kehidupan manusia yang perlu menelorkan suatu peradaban.

Adab adalah suatu kata dimana kehidupan manusia berkembang sedemikian rupa menjadi suatu sistem yang terorganisir dan terdapat unsur-unsur modernitas di sana. Modernitas dalam hal ini adalah suatu keadaan yang mengarah pada sistem-sistem berisikan pengetahuan.

Hari Saraswati adalah cikal bakal turunnya ilmu pengetahuan itu. Ilmu pengetahuan yang mengubah cara pandang berpikir manusia menjadi “lebih manusia”. Itu menjadi suatu hal yang dapat dikatakan sebagai kesejatian hidup, dan kesejatian hidup membuat manusia menjadi beradab.

Makna Hari Banyu Pinaruh

Redite Pahing Sinta adalah hari Banyu pinaruh. Yaitu bagaimana setelah ilmu pengetahuan itu turun saatnyalah menerima dengan rasa bangga pada diri bahwa kita telah memiliki pengetahuan tentang kesejatian hidup itu.

Banyu pinaruh yang berarti air “kaweruh” atau air pengetahuan yang mengalir. Kenapa air? Dalam hal ini diharapkan manusia berperan sebagai air yang mengalir dalam menjalani kehidupan.

Banyu pinaruh adalah sebagai pensucian diri telah didapatkan atau teraliri pengetahuan yang ada untuk dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran khalayak. Dan awal diterimanya pengetahuan itu berbarengan dengan awal bergantinya wuku menjadi awal kembali. Jadi pengetahuan itu digunakan untuk sewaktu wuku itu kembali menemukan awalnya kembali di masa yang akan ada nanti.

Makna Hari Soma Ribek

Soma Pon Sinta adalah hari raya Soma Ribek. Soma ribek masih berhubungan erat dengan Hari raya Saraswati. Dimana Soma Ribek adalah hari bagaimana pengetahuan itu paling tidak bisa digunakan untuk tetap membuat “dapur tetap ngebul”.  Dalam hal ini adalah bagaimana pengetahuan itu diisyaratkan bisa digunakan untuk kemakmuran diri serta keluarga.

Pengetahuan yang berguna bagi khalayak akan berguna pula menciptakan kemakmuran bagi yang berpengetahuan itu. Untuk itu sekehendaknya manusia mau mencari pengetahuan serta belajar pengetahuan itu sedemikian rupa agar kehidupannya tidak kekurangan. Tidak kekurangan artinya bagaimana pengetahuan itu dipergunakan untuk membuat sekarung beras tetap ada di dapur sebagaimana kemakmuran hidup itu tercipta pada dasarnya.

Pakem-pakem yang ada adalah agar pengetahuan itu digunakan sesuai dengan kebenaran atau dharma serta berhubungan dengan swadarma masing-masing pemilik pengetahuan itu. Pengetahuan tentang bagaimana swadarma itu terbentuk adalah bagian dari bagaimana pemilihan bagian diri

Makna Hari Sabo Mas

Anggara Wage Sinta adalah hari Sabo Mas yang juga bagian dari hari saraswati. Hari Sabo Mas adalah hari dimana mas itu menjadi suatu kemuliaan diri ini dengan menggunakan pengetahuan. Pengetahuan itu adalah yang membuat suatu kemuliaan diri itu sendiri. Ini adalah sambungan dari Soma Ribek yang menjadikan diri suatu kebahagiaan lahir, yaitu adalah suatu saat batin itu terpenuhi dengan pengetahuan itu sendiri.

Batin yang tersendiri menjadi kemuliaan sejati, raja sebagai yang mengatur keadilan terhadap jiwa. Disebut juga Siwa Dwara,sebagai mahkota yang berarti juga suatu kemuliaan itu sendiri. Pengetahuan yang diberikan dan dimanfaatkan langsung atau tidak langsung  mendirikan suatu kemuliaan yang meraja pada diri sendiri.

Batin yang termanifestasikan menjadi suatu yang terpenuhi dengan mendapatkan suatu kemuliaan. Dari lahir kita lahir mulia, jadi Sabo mas adalah memperingatkan bahwa pengetahuan itulah yang membuat kita mulia apa adanya seperti pengetahuan itu sendiri.

Makna Hari Pagerwesi

Setelah mencapai kebahagiaan lahir batin, maka sampailah kita pada bagaimana “mengajegkan” hal tersebut. Mejadikan itu tonggak kehidupan yang tiada pernah tergerus oleh jaman dan waktu. Pager dari besi yang berarti suatu bagian perlindungan dari apa-apa yang telah dicapai.

Buda Kliwon Sinta merupakan jatuhnya hari Pagerwesi. Pagerwesi merupakan juga arti dari deretan-deretan Hari raya Saraswati menuju hari Tumpek Landep. Setelah pada akhirnya sampai ke Pagerwesi, maka kemuliaan serta kebahagiaan lahir menjadi suatu yang tetap ada pada jiwa-jiwa manusia yang tercahayakan pada hari raya Saraswati tersebut.

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 24 April 2011 in agama

 

Tag: , , , , ,

Saraswati dalam makna..

berdalam dalamnya makna ilmu pengetahuan insani,…
dewi suci nan cantik bagai ilmu itu sendiri…
mengembang sarira dalam segenap jiwa…
menyeruput makna dalam segenap sarira..

mengendalikan pikiran dalam jiwa atma…
segenap rasa tandingkan segera…
mengundang aksara dalam serupa kata….
.ilmu itu akan mengendalikan dunia….

dalam jiwa berantahkan sebab akibat….
jiwa termurnikan oleh karena serekat…
hakikat hidup terlaksana murni dan suci…
dalam untaian tirta saraswati…

buku dan sajak tersucikan…
bergerumul makna dalam buku itu…
wahai syairan kau tersucikan…
dalam sucian buku itu…..

ilmu pengetahuan turun ke dunia…
hari inilah maka syaratilah…
bersemedilah dalam segala nikmatnya….
karena hari inilah kau ada…

dalam saraswati…
dalam saraswati…
dalam saraswati…
saraswati dalam….

saniscara kliwon watugunung…
hari raya saraswati….

gwar…

diambil dari blog sajak penulis..

Saraswati merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi dalam bidang ilmu pengetahuan..dilukiskan Beliau memiliki kecantikan yang luar biasa, yang sama dengan arti dari pengetahuan itu sendiri…yang cantik dan luar biasa….diibaratkan ilmu pengetahuan memiliki daya tarik tersendiri untuk siapa pun yang berniat mempelajarinya.. dan pula sesungguhnya akan terlihat kecantikan dan kewibawaan pada manusia yang mau mempelajari ilmu pengetahuan tersebut..

Dewi saraswati sendiri dilukiskan pula membawa genitri sebagai lambang ilmu pengetahuan tiada habis-habisnya, lontar sebagai lambang sumber dari pengetahuan itu sendiri, wina (rebab) bahwa ilmu pengetahuan memiliki suatu keindahan, teratai sebagai makna bahwa yang memiliki ilmu pengetahuan itu memiliki pula bhuana agung dan bhuana alit, angsa sebagai unggas yang pintar dalam membedakan makanan seperti juga manusia yang mampu memahami baik dan buruk jika berpengetahuan, serta merak sebagai lambang kewibawaan..

mantra saraswati yang terkandung dalam reg weda..:

“Yaste stanah Sasyo yo mayobhuyemma visva pushyasi
Varyani yo ratnadha vasuvidyah sudatrah
sarasvati tamiha dhatave kah” (Rg-Weda 1. 164. 49).

 [Oh Saraswati anugrahilah susu kehidupanmu untuk kehidupan di sini yang ada di dalam tubuhmu, yang menaburkan kebahagiaan yang engkau berikan kepada (mereka yang memujamu) dengan semua bendabenda terpilih, ia yang memegang semua benda-benda indah, yang mengetahui kekayaan musuh dan yang menawarkan hadiah-hadiah baik].

“Pavaku nah Sarasvati vajebhirvajini-vati Yajnam vasthu dhiyavasuh” (Rg-Weda 1.3.10).

[Mudah-mudahan Dewi Saraswati menjadi penyuci, mudah-mudahan ia yang memiliki makanan menganugrahkan kepada kami, yang memiliki kekayaan mudah-mudahan menginginkan yajna].

“Codayitri sunrtanam cetani sumatinam Yajnam dadle saraswati” (Rg-Weda 1.3.13). [Saraswati memberikan inspirasi perbuatan baik dan pikiran baik memegang yajna].

“Maho arnah Saraswati pra cetayati ketuna Dhiyo visva vi rajati (Rg-Weda 1.13.12)”. [Saraswati dikenal, melalui gerakan air yang maha besar. Semoga doa pujaan memancarkan cahaya sangat banyak]

“Sarasvati tvamasmam aviddhi marutvati jeshi Satrun
Tyam cicchardhantam tavishiyamanamindro hanti
Vrshabham Sandikanam (Rg-Weda 2.30.8)”.
[Oh Sarasvati engkau melindangi kami. Engkau yang dihubungkan dengan para Marut, yang merupakan petarung agung menakiukan musuh-musuh kami. Indra membunuh para Shandika yang kuat yang terkenal yang membenci kami].

“Vivasema Iyam sush mebhirvisaka ivarujat sanu girinam tavashebhirurmibhih
Paratva taghnimavase survrktibhih Sarasvatima dhitibhih” (Rg-Weda 6.61.2). [Saraswati menghancurkan puncakpuncak gunung dengan arus gelombangnya yang kuat seperti begitu gampangnya menghancurkan kembang-kembang. Kami mengagungkan dia sebagai penghancur gunung-gunung dan memujanya dengan pengabdian yang agung demi perlindungan kami].

Ekacetat Sarasvati nadinam suciryati giribhya a samudrat” (Rg-Weda, 7.95.2) [Sarasvati saja yang memiliki vitalitas di antara sungai-sungai dan ia yang paling suci mengalir dari gunung-gunung menuju laut.

 
“Imam me gange yamune sarasvati Satudri stomam Sacata parushnya
Asikanya marudvrdhe citastayarjikiye Srnutdya Sushomaya” (Rg-Weda
10.75.5). [Oh Gangga, Yamuna, Sarsvati, Satudri dengan Parshi, Marudvridhan dengan Asikini; Arjikiya dengan Visastra dan Sushnoma mendengar doa mu.

“Ayat sakam yasaso vavasnah sarasvati sap tathi sindhumata.
Yah sushvayanta sudughah sudhara abhisvena payasa pip yanah” (Rg-Weda
7. 36.6). [Mudah-mudahan (sungai) ketujuh, Sarasvati, ibu sungai Sindhu dan sungai-sungai yang mengalir deras dan menyuburkan memberikan makanan berlimpah, dan memberikan makanan (kepada orang-orang) dengan air mereka, datang pada suatu saat bersama-sama].

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Agustus 2009 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: