RSS

Arsip Tag: sattwam. rajas. tamas

Sad Ripu dalam Bhagawadgita dan Hubungannya pada Maya..

Om saba ta a i na ma siwaya..

Om tryambakam ya jamahe.sugandhim pusti wardhanam.Uvarikmwa Bandanhat Mrtyormuksiyah mamrtat..

Semua ujian ini, Hanya padaMu Aku brsujud untuk diberi kekuatan menyingkapNYA…

trimurti4

Sad ripu, adalah enam golongan atau sifati dari diri yang menjadi musuh utama dan selalu menjadi bagian kehidupan sampai itu menuju kematian itu sendiri..Hal ini sangat sekali berhubungan dengan bagaimana Maya dari IA Sang Penguasa tiga Alam, sattwika rajasika tamasika, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, kecuali menyadari Nya dan memilah mana yang akan menuju jalan kebijaksanaan dan kebahagiaan yang sejati.

Mengenali diri dan mengenal Sang Pencipta adalah jalan yang sungguh pun semakin menyadari bahwa musuh-musuh utama itu adalah sangat mengikat dan menjadi halangan dan rintangan untuk menapaki tahapan tangga untuk ke tujuan.Atma widya serta Brahma widya akan semakin mempurifikasi ahamkara menuju buddhi yang jnana dan menyatukan atman serta brahman..

Ketika atman sebagai ananda maya kosa yang suci atau antakarana sarira badan bahagia, maka terlingkupi IA sebagai suksma sarira badan halus yang terdiri dari Vijnana Maya Kosa badan kecerdasan (citta buddhi), Mano maya kosa badan mental sebagai buddhi manas ahamkar, Prana maya kosa badan etheris yang berhubungan dengan dunia luar tri guna serta ahamkara ego yg terjebak tri guna, yang terakhir adalah badan kasar stula sarira annamayakosa..

Sebagai bagian itu maka skemanya sbagai berikut- Panca Maya Kosa dan selubung Atman

(Brahman)Atman(Aikyam)–> Antakarana Sarira / Ananda maya kosa..

*Suksma Sarira*

Citta (Buddhi yg cerah), Intuisi,–> Vijnana Maya Kosa (badan intelek cerdas, memahami Wiweka secara benar baik.

Buddhi (awal) terpengaruhi tri guna + Ahamkara yg Sattwika-> Manomaya Kosa, Badan Mental,Akal pikiran mulai mengenal keterikatan diri atas Maya dunia… 

Ahamkara Ego (rajasik tamasik->pengaruh acetana (ketidaksadaran) –> Prana Maya Kosa, Badan etheris bruhubungan langsung dengan kegiatan kekuatan hidup,..berhubungan dengan indera pada dunia

*Stula Sarira –>Annamaya Kosa ..terdiri dari Panca Buddhindriya Panca Karmendrya 5 indera pengenal dunia, serta indera melakukan kerja karma di dunia..

Dan ketika pemahaman itu sudah menjadi lebih dimengerti, maka kesadaran akan musuh diri yang terliputi Maya dunia dan menjadi energi yang menjauhkan diri yg “Sadar”.maka Sad ripu adalah bagaimana manusia kalah oleh pengendalian Diri akan keterikatan duniawi..Hanya pengetahuan SuciNYA yang membebaskan dari keterikatan itu untuk menuju pada AnAnda Maya Kosa badan yang berbahagia..

Sad Ripu adalah enam yang perlu disadari dan dikontrol sehingga mampu menjadi energi yang lebih baik.. Kama, Mada, Moha, Lobha, Matsarya, Krodha adalah yang dipengaruhi oleh MAYA yang bersifat Rajasikam penuh nafsu dan tamasikam yang bodoh tidak mengenal pengetahuan yang suci..Ketika Satttikam hadir di rajasikam, maka itu menjadi keoptimisan dan ambisi yg terkontrol, namun ktika tanpa kebaikan kebijaksaan kebenaran (sattwika), maka itu hanya menuju tamasikam, maka rajasikam akan dipngruhi oleh kegelapan(tamasik bodoh)..

–Kama-– adalah hawa nafsu, itu juga termasuk dalam catur purusa artha, maka kama yang bisa diterapkan sebagai kebaikan adalah mereka yang mendasariNYa dengan Dharma. Kama sendiri hendaknya dikatakan sebagai suatu bahan bakar untuk menuju pada tujuan Manusia itu sendiri,Keterikatan akan objek-objek dari dunia (maya) hanya akan tidak menuju kepada kebahagiaan itu sendiri, ananda maya kosa..tubuh yang berbahagia karena telah kembali menuju kesejatian, ya brahman atman aikyam..

-Krodha– adalah kemarahan, maka ketika marah menjadi tidak terkotrol, hancur ia nanti pada penyesalan.. Karena kesabaran akan menuju pada mereka yang benar2 tidak terikat oleh dunia itu sendiri..

**Bhagawadgita sloka 2.62**

dhyayato visayan pumsah, sangas tesupajayate, 

sangat sanjayate kamah,kamat krodho bhijayate..

Artinya : Selama seseorang merenungkan objek2 indria indria, ikatan terhadap objek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itulah berkembangnya hawa nafsu, dari hawa nafsu timbullan amarah..

Dari sloka diatas dikatakan, mengetahui subjek panca buddhindrya dan karmendrya, maka dunia adalah sebuah objek-objek itu sendiri.. Secara berlebih ketika mereka tidak menggunakan indria sebagaimana mestinya,maka terikat dan ketika tidak mendapatkan sebuah kepuasan karmendriya atau buddhindrya maka Krodha menjadi itu, dan akan membawa hawa nafsu menjadi jawaban atas pesona objek tersebut..

–Moha—.. adalah sebuah kebingungan, kebingungan terjadi karena pada tahap pengurangan ego ahamkar, terlalu banyak mengambil pengetahuan berdasarkan kebenaran atau pembenaran.. Hal ini  terjadi kembali pada badan mental atau Mano Maya Kasa yang berisikan jnana buddhi yang mulai mengenal wiweka namun belum mampu memisahkannya.. Dewa iya Bhuta Iya..Memang rwa bhineda akan selalu ada sebagai isi bumi, namun jalan dharma raksaka adalah seorang yang lengkap tunduk sebagai abdi dharma, dan telah memahami bibit-bibit adharma di dalam diri..Saat itu IA menjadi kan dirinya seorang bijak bajik dan tidak menyerah pada kuantitas dharma yg selalu lebih sediikit di jaman kali yuga ini..Tetapi sebuah evolusi mental yg menggenapi diri sebagai manusa yang tidak bingung karena kekuatan jnana atas panca sraddha, bgitu pula mantap dalam bhakti kepada panca yadnya itu sendiri..

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Maka awal utamanya adalah kemarahan atas kendali hawa nafsu, ketika marah merajalela maka moha atau kebingungan atas yang SEHarusnya terjadi, membuat khyalan-khayalan itu membuat kecerdasan akan menurun menyusut, Kecerdasan adalah bagian dari VIjanan maya Kosa atau ciitta yang mencakup buddhi yang telah menenal wiweka kebaikan dan ketidak baiikan..Kesadaran akan itu, maka buddhi memiliki dua pilihan.

Sattiwka ning buddhi Dharma Citta, akan membawa kecerdasan itu sebagai guru yg memiliki idep yang mantap yang mengetahui dharma, baik yang bijak atau bajik, baik yang siap sebagai maha guru atau pun murid dari semesta..Yang tahu bahwa nanti ketika pengetahuan tentang kebebasan diungkap, akan menyucikan lainnya..Dalam tapa semadi dan sadhana(diam)

Sattwika Rajasikam Citta Buddhi Dharma Rakhsaka..Adalah saat pilihan kedua bagi mereka yang mengetahui Kebaikan Kebenaran (Dharma), dan berjiwa sebagai pembela dharma, maka mereka adalah bagian-bagian dari pasukan penyebar dharma..Apakah sebagai seorang jnana dharma yang mampu menghilangkan adharma di diri serta membuat mereka (musuh) dharma takluk. Mereka adalah kalangan nastika, yang menyepelekan dan merendahkan weda serta keagungan dharma.. Mereka adalah diibaratkan sebagai padi tanpa isi.. Artinya mereka bodoh dan kurang cerdas akan pengetahuan agama baik agamanya mereka sendiri, atau kebenaran kebaikan universal itu..

–Matsarya-– Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”. Apalagi jika iri ini menutup hati atau panca maya kosa yang menambah bahan bakar ahamkar sehingga buddhi citta akan terbungkus egoisme rajasikam tamasikam untuk mencapai Brahman Atman Aikyam.. Buddhi sebagai wiweka kecerdasan yg terhubung dengan Citta akan semakin jauh..Dan apalagi tidak melakukan yadnya panca yang telah diturunkan leluhur..Karena Maya yg massif dan menjadi belenggu setiap mahluk, akn tidak membawa kedamaian itu sendiri.. Lekat dengan duniawi seperti hedonisitas atau carwaka, adalah sangat lekat dengan nastika itu sendiri.. Membuat harta tahta dan berlindung di tamasika,hanya akan membuat akhir perjalanan hidup hanya kehancuran..Sesuai dngan wrspatti tattwa, satwik lekat dengan moksah, rajasik satwik lekat dengan surga, rajasik dan tamasik saja lekat dengan neraka dan reinkarnasi yang buruk..

–Lobha– Adalah kerakusan atau ketidakpernahpuasan atas apa yang dimilikinya. Menginginkan lebih lebih dan lebih.. Yang lekat pada keterikatan materi dunia. Mereka seperti dipermainkan oleh dunia, tetapi mereka sadar atau tak sadar.. Ketika sadar maka mereka tidak mampu lepas, karena pegangan mereka untuk itu tidak ada..Maka kebebasan itu adalah ada pada mereka yang baik bijak dan senang akan pengetahuan rohani yang suci serta kebebasan kebahagiaan yang suci.. Mereka yang tidak sadar, maka bagaimana mungkin mereka akan lepas dari kerja yang selalu mengharapkan hasil lebih, lebih, dan memompa amarah ketika hasil yang tidak sesuai..Ambisi dari ahamkar yang rajasikam, akan baik bila dipengaruhi sattwikam sebagai dasar dharma..Namun ketika mereka menggunakan cara kurang baik, adhaarma, dan melenyapkan pengetahuan suci itu sendiri, Mereka hanya akan hidup dan seperti gila oleh kemabukan harta tahta dan nafsu duniawi..Ketika mereka menyangkal mereka terikat dan tidak sadar akan keagungan Dharma yg membebaskan, maka mereka hanya akan masuk ke dalam jurang reinkarnasi, kepada kerja yang harus menghasilkan dan terikat akan hasil itu.. Maka yadnya apakah yang bisa menyadarkan? kecuali mereka giat berpunia, namun tetap kesadaran itu hanya ada pada mereka yang tahu akan MAYA(KU)

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan..

Dari dua sloka di atas maka disebutkan bahwa, kebebasan dari rasa iri,akan membawa diri menjadi terlepas dari MAYA itu sendri, artinya adalah bahwa Maya yang merupakan kekuatan prkrti Brahman, akan memberikan balasan pahala atas iklas itu sebagai suatu hadiah pahala pada mereka yang mengabdi secara tulus dan iklas serta insaf.. Semakin terikat maya, terutama atas pencarian artha kesejahteraan dengan cara yang kurang baik, maka IA atau mereka hanyalah akan mendapatkan dosa, dan jauh dari pengetahuan suciNYA tuhan brahman dalam ketidakbrsyukuran, kelobhaan serta berasal dari rasa iri yang tidak pernah puas..Maka mereka akan selalu terikat dari hasil dan pahala, kecuali keiklasan akan membawa Tuhan turun ke ranah pahala di dunia..Ketika mereka melakukan yadnya, maka saat itu sebenarnya Diri yang berpribadikan Atman yg suci menuju pada sebuah kesempurnaan itu sendiri.. Bagi mereka yang paham akan mendapatkan hasil dari yadnya, yang mereka sadari sebagai keiklasan atas yadnya panca itu sendiri…

Sloka 3-27

Prkerteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah, ahankara-vimudhatma kartaham iti manyati..

Sang Roh yang dibingunkan oleh pengaruh Keakuan Palsu menganggap dirinya pelaku kegiatan yang sebenarnya diakukan oleh tiga sifat (tri guna) alam material..

–MADA- Kemabukan, yang membuat manusia lupa diri, manusia yang terbelenggu oleh kenikmatan dari keterikatan materi dunia, yang juga tanpa sattwika,akan berasal dari loba kerakusan yang dimabukkan oleh belenggu rasa iri, tentu saja dari kroda yang membuat hayalan serta kebingungan tetapi tidak merasa bingung.. Artinya mereka mabuk akan keterpengaruhan alam tiga sifati itu.. Maya itu melupakan diri, memabukkan IA pada kebahagiaan semu, apalagi jika mereka menikmati kemenangan mereka dari kemarahan, iri, kerakusan yang menyenangkan yang membuat bingung itu sendiri..

Keakuan palsu adalah mereka yang berada pada kendali tri guna, namun mereka mnyatakan ia adalah pelaku kegiatan, bukan dari tri guna. Namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda bahwa mereka mencari keuntungan karena diri mereka yang pintar, mereka mengungkapkan kebenaran karena diri mereka yang tahu segalanya, atau bahwa karena keakuan palsu itulah yang menyebabkan kebahagiaan (keakuan semu) yg mereka sadari.. Mereka mabuk bahwa hanya mereka yang mendapatkan semua berkat ini, namun sabda Tuhan, pun mereka ketahui dengan amarah, dan kerakusan akan pembenaran.. Pada hal Sabda Tuhan yang paling perlu diingat selain panca sraddha yang sattwika dan rajasika atau tentang filsafat etika upacara, adalah memahami mereka hanya sebagai abdi dari kekuatan Tri MayaGuna itu sendiri..

Maka kepribadian Tuhan menyatakan Aku mencipta kebaikan keburukan sattwika rajasika tamasikam, namun Aku tidak berada pada “itu” dan “itu” tidak berada pada AKU…

Hare kalkya Kalkya Hare Hare

Asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir  gamaya, Mrtoyrma AMrtam gamaya

Om santi rahayu raharja Om

salam gwar

lihat juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

sumber :bhgwadgita, wraspatti tattwa, meditasi sathya baba

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Sekilas tentang Atman yang Lekat pada Kemoksaan…

LotusYogaWomanArtYinYan

Om sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya.. Semoga “ini” hanya sembah kepadaMu oh hyang kuasa..

….Atman….
Mendengar sederet kata atman, artinya adalah bahwa pemahaman tentang itu (atman) adalah menuju sebuah sraddha yang lekat pada 5 dasar keyakinan hindu. Hikayat atau hakikat tentang atman, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang kekekalan dari brahman (tuhan) sebagai sumber dari atman..

Membicarakan atman itu juga lekat dengan bagaimana tuhan sebagai nirguna serta sekaligus saguna brahman. Dalam wrspatti tattwa disebutkan bahwa nirguna brahman atau parama siwa adalah saat kekosongan kehampaan dari Tuhan itu sendiri dan tidak terlekat pada tiga sifat dasar yaitu sattwam rajas dan tamas triguna.

Tuhan dalam kehampaan ini sebagai acintya, IA yg tidak terpikirkan.Dikatakan Sifat dari Parama siwa tattwa adalah sebagai berikut :
Apremaya (tidak terbayangkan),
Ananta(tidak terbatas),
Anidesya (tidak dapat diberikan batasan),
Anaupamya (tidak dapat dibandingkan),
Anamaya (tidak dapat kena penyakit, suci),
Suksma(tidak dapat dilihat),
Sarwagita (memenuhi segalanya),
Dhruwa (kokoh tidak bergerak stabil),
Avyaya (utuh tidak pernah berkurang),
Iswara (guru yg mengatur segalanya).
Dan selanjutnya IA memberikan maujud pada diriNya sendiri, dengan memberikan pengaruh tri guna itu kepadaNYA. Pada saat dipengaruhi oleh guna, IA menjadi saguna brahman yang bersifat yang MAUJUd.

IA dikatakan saguna brhman atau sadasiwa adlah saat Tuhan sebagai Cetana melebur bersama acetana( ketidaksadaran) Ketika IA dalam wujud Saguna brahman, maka memiliki 4 sakti atau sifat, yaitu Cadu Sakti. Maka dengan ini Beliau memiliki :
1. Wibhu Sakti : Maha ada.
2. Prabhu Sakti : Maha Kuasa
3. Jnana Sakti : Maha tahu.
4. Kriya Sakti : Maha Karya
Dengan KemahaKaryaAnNya timbul pula mahluk hidup (manusia) yang berpikir, manusia yang terliputi tri guna dan terpengaruh, namun juga menciptakan tri guna itu sendiri. Timbullah alam pikiran yang menjadi dasar untuk berprilaku dan menjadi tolak ukur akan kemana nanti manusia setelah menjalani kehidupan yang sekejap ini. Atman yang berasal dari langsung cetana akan lupa asalnya dan terpengaruh oleh ketidak sadaran.

Atman sebagai tempat terdalam dan tersembunyi dilapisi beberapa lapisan, yaitu budhhitattwa, ahangkara tattwa… Buddhitattwa adalah bagian yang berada sebagai hasil dari tri guna..buddhi itu dibagi menjadi empat dengan pahalanya:
1.Dharma buddi adalah perbuatan mulya, tapa, yadnya, dana punia, yoga, meninggalkan keluarga hidup dari sedekah. Pahala dari dharma buddhi adalah ketika dharma lahir dari budhi maka orang mencapai surga dan bersenang-senang disana, IA menjadi dewa dan mendapatkan kekuatan lainnya.
2. Jnana Buddhi adalah pengindraan langsung, menarik kesimpulan, ajaran-ajaran agama dari orang yg telah mempelajarinya. Pahala dari Jnana budhi adalah melalui pengetahuan yang benar orang akan mencapai empat kekuatan dan mencapai moksah.
3. Vairagya Buddhi adalah ketidak terikatan terhadap kesenangan, baik yang dilihat, didengar pada badan yang sehat. Pahala dari Vairagya buddhi adalah mereka akan mencapai prakertiloka (dunia material) dan mengalami kesenangan seperti orang tidur dan setelah lama akan lahir sebagai dewayoni.
4. Aiswarya Buddhi adalah keseimbangan dalam kesenangan bhoga (makanan) kesenangan kecil, upabhoga (kesenangan sandang), paribhoga (memiliki istri) dengan asiwarya orang menikmati kesenangan tanpa gangguan. Dengan anima dan kekuatan lain orang lahir menjadi dewa sebagai pahala aiswarya .

Ahamkara(ego) adalah yang sangat melekat dan berpengaruh terhadap buddhi, apalagi dengan keterpengaruhan dari tri guna tattwa.
Ahamkaralah yang berhubungan langsung dengan indra dan memiliki serta membentuk keinginan-keinginan yang sesuai guna yg ada.
Ahamkara yang terliputi sattwa dominan akan memiliki keinginan untuk menjadi lebih bijak dan memikirkan dharma secara mendalam, ketika itu diliputi oleh keinginan rajasikam,maka apa yang diinginkannya menjadi sebuah perilaku atau perbuatan.
Ahamkara tamasikam, arttinya keinginan jahat dan kemalasan, gelap, ketika ditambahkan dengan rajasikam, maka ambisi untuk berbuat jahat dan culas akan terlaksana. Jadi dapat dipastikan bahwa pengaruh dari tri guna sangatlah tinggi untuk memperoleh hasil dari tujuan agama itu sendiri.

Atman yang lupa akan keberadaanNya sebagai bagian dari Paraatman, setidaknya akan memiliki buddhi dan lapisan ahamkara. Dijelaskan pula alam pikiiran yang terpengaruhi sattwam rajas tamas akan membawa atman menuju alam yang selayaknya ketika lepas dari badan wadag.

Sattwam yang mendominasi pikiran artinya dengan tekun melaksanakan dan memiliki jnana buddhi , maka akan mencapai wilayah kemoksaan dan bersatu dengan Parama siwa atau Kesadaran Siwa.

Sattwam yang dibarengi rajasika akan mencapai wilayah surga yang disesuaikan dengan Dharma buddhi, Vairagya buddi, Aiswarya buddhi. Selain itu maka tamas berpengaruh dibarengi dengan rajasika, artinya akan mencapai wilayah neraka dan reinkarnasi sebagai bukan manusia.

Maret awal 2014
salam Gwar

sumber :wrasppati tattwa

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebuah catatan Debit Kredit dalam Kehidupan…(setitik tentang karma)

Karma...

Seperti sebuah siklus akuntansi. hahaha.yaps…sebuah perhitungan yang diketemukan sebelum jaman posmodern ini, bisa juga diberikan suatu catatan penting yang ada pada teori-teori kehidupan (baca:agama) yang sebenarnya masih cukup relevan untuk memandang lebih jauh ke depan serta konsep kekinian. Namun ada beberapa asumsi-asumsi yang patut diberikan sedikit keberpahaman masing-masing.

Bahwa asumsi yang ada adalah bahwa keyakinan akan sancita karmapala di mana karma saat ini adalah dari kehidupan terdahulu apakah itu suatu yang baik atau pun karma buruk. Namun setelah itu, lebih jauh berdasarkan keberlakuan yang memiliki rasio sattwam, rajas, serta tamas, maka manusia akan mendapatkan kelahiran yang sesuai. Hal tersebut terdapat pada wrespatti tattwa di mana Sattwam yang lebih banyak akan moksa tidak lahir kembali. dan lainnya bahwa manusia dengan rajas dibarengi sattwam akan menuju surga, serta rajas saja akan menuju neraka. Yan digarisbawahi adalah semua manusia itu lahir kedunia akibat keseimbangan sattwam rajas tamas. Dan dengan itu manusia sekarang akan mengemban tamas rajas dan sattwam yang sama, apa pun itu.

Melanjut dari itu, bahwa saldo debit kredit manusia lahir di dunia, di pastikan akan seimbang atau sama dengan satu sama dengan nol kesemuanya. Tapi tidak sepenuhnya seperti itu, karena pada dasarnya kelahiran manusia ke dunia adalah telah membawa karma yang dari keseimbangan itu dan masih ada kelebihan sedikit atas tri guna tersebut. Apakah itu sattwam atau rajas serta tamas. Bisa menjadi suatu sifat bisa pula menjadi suatu hal yang mempengaruhi tempat dan kondisi kelahiran. Sebagai contoh apa yang dikatakan sarasamuscaya 21..

Sarasamuscaya 21.

Kunang Ikang wwang gumawayikang subhakarma, janmanyan sangke rig swarga delaha,litu hayu maguna, sujanma, sugih, mawiirya, phalaning subhakarmawasana tinemuya.

Artinya: Maka orang yang melakukan perbuatan baik, kelahirannya dari sorga kelak menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan, hartawan, dan, berkekuasaan :buah hasil perbuatan yang baik, didapat olehnya.

Jadi dengan itu dapat dikatakan kehidupannya dimulai dengan saldo debit positif pada bagian sattwam yg mempengaruhi rajasnya. Saldo debit pada kas karma baik. Seperti pula disebutkan bahwa keberuntungan untuk menjadi manusia, walaupun Ia memiliki saldo karma buruk. Hal tersebut disebutkan dalam sloka berikut :

Sarasamuscaya 3.

Matangnyan hawya juga wwang manastapa,an tan paribhawa, si dadi wwang ta pwa kagongakena ri ambek apayapan paramadurlabha iking si janmamanusa ngaranya, yadyapi candalayoni tuwi.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-sekali bersedih hati; skalipun hidupmu tidak makmur, dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjad manusia, meskipun kelahiran hina sekalipun.

Dengan sloka di atas, maka dapat dikatakan bahwa karma itu dibawa sampai ia hidup kembali, mungkin saja dengan bersaldo kredit negatif pada sisi karma baiknya. Namun dengan berbuat suatu dharma, maka tentu saja karma buruk itu akan semakin berkurang-berkurang dan sampai pada menambah suatu saldo positif di sisi akun karma.

Keterikatan akan karma baik itu buruk atau sebaliknya, akan menjadi suatu perjalanan tersendiri dalam kehidupan manusia itu. Dalam kehidupan,maka baiknya adalah bagaimana untuk membentuk dan berpikir secara “kekinian”. Kekinian yang memberikan kita sedikit renungan bahwa kita  hidup di sini, sekarang, saat ini untuk tetap berpijak pada bumi “saat ini”. Maka kita akan menyadari bahwa kita adalah hari ini yang dibentuk dari kumpulan-kumpulan karma masa lalu yang masih menjadi saldo untuk dinikmati atau  masih harus dirasakan sedemikian rupa. Dengan “sadar”itu maka kita bisa masuk dalam keadaan bahwa kita “bukan siapa-siapa” dan kita hanya setitik debu di angin yang hanya menginginkan “lenyap” agar tidak lagi menapaki “maya” dunia serta segenap kesakitan, kesengsaraan, termasuk pula kesenangan (pemaksaan rasa yg menghasilkan karma). Jadi memberikan suatu “rasa” bahwa kedua kutub itu memberikan sensasi yang sama—>(kesakitan=pembelajaran-karma yg belum dinikmati),kesenangan (ujian kelepasan-karma yg belum dinikmati) – maka persiapan selanjutnya adalah untuk memikirkan, mengatakan, melaksanakan Keagungan Dharma. Sedikit tentang itu :

Sarasamuscaya 18.

Mwang kottaman ikang dharma, prasiddha sangkaning hitawasana, irikan mulahaken ya, mwang pinakasraya sang pandita,sangksepanya, dharma mantasakenikang triloka.

Artinya : Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumbernya darang kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu, tegasnya hanya dharma yg dapat melebur dosa triloka atau jagat tiga ini.

Jadi dengan mengurangi keberpikiran, keterikatan, serta keternikmatan atas karma yang lalu, kita akhrinya hidup dalam masa kini dan melebut “itu” sendiri, walaupun masih akan terasa di hidupan. Dengan memberi start atau memulai melaksanakan dharma, maka lambat laun karma buruk akan lenyap walaupun kita merasakan masih itu, tapi keterlupaan karena menyibukkan diri pada dharma akan membuat ujian melaksanakan dharma adalah sebagai pembelajaran tersendiri.

Dan jika karma baik ditambah oleh suatu dharma, tidak bisa membayangkan akan apa nanti kebahagiaan yang ada pada saat nanti. Saldo surplus karma baik akan tercapai. Semoga.

 

Astu_/\_ngkara

sumber:

Sarasamuscaya.

Bukan siapa-siapa..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2013 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Manusia akan kemana?setelah “Kematian”..(wraspatti tattwa)..

ArmyCorpsOfHell_Hero

Dunia adalah sementara, semua tau itu. Dan sebagai seseorang yang memiliki suatu kata “yakin” dalam hati, maka Ia akan memberikan kehidupan itu sesuatu warna tersendiri dalam apa-apa yang Ia kerjakan dan laksanakan. Keyakinan itu menjadi sesuatu yang patut dilaksanakan atau diajarkan dalam hidup ini. Lalu tentu saja dalam berbagai yang Ia jalani memiliki kadar tersendiri bagaimana Ia menjalani kehidupan setelah “hidup” yang sementara ini selesai.

Lalu sebagai seseorang yang menjalankan pengetahuan akan “dharma”, maka dalam suatu kehidupan akan  ternilaikan oleh Ia dalam bentuknya sebagai Hyang Acintya, Hyang bhatara Siwa, dalam manifestNya sebagai Bhatara Yama untuk menilai mereka-mereka atau kita yang hidup di dunia serta kelakuan kita di dunia. Dan Ia Sang Acintya, menelorkan atau memberikan tiga sifat atau guna yang diberikan Sang Siwa dan dinilai oleh Yama itu sendiri. Tiga Guna itu adalah :

1.Sattwam : yaitu sifat terang, sifat bijaksana, sifat kebaikan, serta sifat menerangi, menyebabkan juga sifat kejujuran, kelembutan, kehalusan, keindahan, keagungan.

2. Rajas : Yaitu sifat dinamis, sifat aktif, sifat kemarahan, sifat panas, sifat bergerak, termasuk juga jika tanpa ada kontrol akan bersifat bengis, angkuh, amarah.

3. Tamas : Yaitu sifat malas, sifat gelap, sifat diam, sifat pengecut, sifat murung, sifat cenderung berbohong, tidak suci, ingin membunuh.

Dan bagaimana manusia hidup adalah dikualifikasi dan didasarkan oleh sifat-sifat itu yang “tercantum” dan tersiarkan pada hati, pikiran, kata, serta perbuatan itu sendiri. Dalam hal ini Sattwam, Rajas, Tamas dari manusia adalah sesuatu yang menyebabkan bagaimana nanti manusia itu setelah ia menuju yang dinamakan “Kematian”,,,Suatu pintu yang tidak bisa dijadikan jalan untuk kembali oleh manusia itu sendiri.

Jadi manusia diberikan penilaian, maka manusia itu pula mendapatkan suatu hasil tersendiri dari dirinya. Namun sebelum melangkah, bahwa sudah diingatkan bagi manusia tentang keagungan dharma yang layak, pantas, dan wajib untuk dilaksanakan oleh Ia sebagai pejuang “dharma” yaitu :

Sarasamuscaya 2…

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumayaken ikang subhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikangsubhakarma phalaning dadi wwang.

Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Sarasasmuscaya 4.

Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

link : https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/03/04/bersyukur-bagaimana-menjadi-manusia/

Nah dengan sedikit ingatan di atas maka akhrinya manusia akan memilih jalannya sendiri untuk bisa hidup di dunia. Maka pilihan-pilihannya akan terpancar pada apa-apa yang ia jalani di kehidupan sampai juga kepada pikiran-pikirannya, yang terlampir pada setiap kata dan lakunya. Dari tiga guna itu maka dapatlah disadurkan pada akhir dari perjalanan itu sendiri. Hasil-hasil itu adalah sebagai berikut :

1.Moksa : Jika manusia dengan tekun melaksanakan Sattwam maka Ia akan mencapai moksa.

2 Sorga : Jika manusia dengan laksana Rajas namun dibarengi dengan pikiran Sattwam maka ia akan mencapai ke wilayah sorga.

3. Neraka : Jika manusia hanya dikaitkan dengan sifat rajas, tanpa sattwam maka ia cenderung bengis, pemarah, dan lepas dari perbuatan “dharma”. Maka ia akan mencapai neraka.

4.Reinkarnasi menjadi Manusia : Jadi ia reinkarnasi menjadi manusia adalah jika ketiga guna itu berimbang.

5. Menjadi Hewan dan Tumbuhan : Jika tamas mejadi sesuatu yang dominan dari kehidupannya.

Itulah sebagai suatu penilaian dari Hyang Kuasa dalam manifestnya Sang Hyang Yamadipati dalam menilai kelakuan, perkataan, serta pikiran manusia. Dan itu semua terekam di hati. Hati yang tidak akan berbohong dan memberikan suatu bahwasanya karma dan pahala dari tentu saja pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.

(sumber wraspatti tattwa).

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Desember 2012 in filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: