RSS

Arsip Tag: sufi

Neti-neti..bahwa Definisi-Nya tidak dapat dibingkai

Tuhan…Tuhan yang memiliki semesta serta merupakan poros perputaran Sthiti, Utpetti, dan Pralina adalah yang segalanya.Artinya adalah Ia saking besar serta maha luasnya, tidak dapat terbingkai oleh satu definisi mutlak akan diriNya. Dan bahwa Ia yang penguasa, tidak dapat dibingkai oleh sederet kata-kata yang pas.

Neti-Neti, bahwa Brahman, Sang Hyang Widhi wasa dikatakan bukan ini bukan itu, artinya adalah saat suatu penggambaran atau definisi melibatkan IA,maka Ia adalah bukan yang didefinisikan,dan Ia juga bukan yang tidak didefinisikan. Seperti seorang    yang mencari “pikiran” secara material dan berbentuk. Jelaslah mustahil memperlihatkan atau memandang pikiran sebagai benda. Merupakan sebuah metafisis atau abstrak. Saat kita berpikir, dan mungkin materi pikiran akan dapat diduga dan diberi “nilai” saat dilisankan atau dituliskan atau didiskusikan. Namun bentuk yang ada masih abstrak yang tidak bisa dinilai secara sangat tepat.

Seperti itu pikiran, seperti itu lebihNya yang kuasa, dimana tidak bisa dilingkupi suatu yang disebut penyebutan. Sehingga Acintya (tak terpikirkan) menjadi suatu yang pasti dan dibatasi oleh Neti-neti. Tuhan apakah berada di sebuah batu?Lalu dengan itu kita definiskan keberhalaan??maka “nilai” sebuah batu menjadi lenyap. Karena kembali bukan batu. Namun apakah Ia berada di atas di langit ke tujuh? Maka bisa saja, namun neti neti, IA kembali dikatakan dekat sedekat urat lehermu.

Sebagai sebuah kekuatan Nirguna, tidak memiliki suatu sifat tertentu, maka saat kesifatan dileburkan ke Ia, menjadi Ia Saguna Brahman, yang sesuai dengan keinginan PenyembahNya yang memang merindukan dan mencintaiNya sebagai pengabdi. Sifat Sarwagatah ada dimana-mana. Jika terungkapkan Ia, maka “penilaian” akan Ia kembali lenyap, dan transenden ke Kuasa diriNya. Ia Paraatman, tempat kembalinya atman-atman. Ia tidak berhak diberikan “nilai”, karena kemutlakannya itu lebur bersama Ia yang Ia mau, namun tetap Ia adalah Ia brahman yang Agung yang tetap suci dan tetap (sanatana) dan Nitya(abadi).

Dan bagaimana dengan falsafah Aham Braman Asmi, atau pula moksartham jagadihta,serta mungkin manunggaling Kawulo Gusti? Dimana menyatakan aku adalah tuhan (brahman), serta persatuan antara Kawula(abdi) dengan Gusti (para atman). Ekstasi itu yang terjadi, seperti pada saat melakukan semadhi atau tapa brata, adalah pengalaman paling pribadi,pengalaman yang memiliki makna tersendiri dan subjektif, yang tidak bisa disamaratakan kepada setiap subjek atau kepala. Jadi kenikmatan yang tiada terkatakan, dan membuat kebahagiaan (ananda) tertinggi tercapai. Kegilaan pada suatu kekuatan agung, namun kesubjektifannya atau pengalaman (prtyaksa pramana) itu menjadikan itu tidak berlaku secara universal, mengingat bahwa Ia pun tidak dapat digambarkan sama oleh hati seseorang. Tetapi tetap Ialah Ia, yang menaungi jagat raya Sang Paraatman.

Lalu maka Ia yang agung memberikan dasar-dasar tertentu untuk dipahami lewat jalan Dharma, jalan kebenaran hakiki dan jalan yang Agung. Dengan pengetahuan akan dharma, maka jalan yang terbuka dan bahagia akan terbentang dalam menapaki kebenaranNya yang hakiki. Etika dan susila adalah jalan yang patut dilalui dan seiringnya memberi pemahaman dunia akan keagungan dharma.Seperti pada : Sarasamuscaya 18 dharmah sada hitah pumsam dharmascaicasrayah satam, dharmallokastrayastata pravttah sacaracarah,  Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 November 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Hindu bertemu dengan Islam dalam Tingkat Kesufian…

Sufi yaitu ilmu Islam tingkat tinggi adalah ilmu tentang jiwa , ilmu tentang cinta kepada Dzat ALlath, ilmu tentang bagaimana kesatuan dengan Yang Kuasa..Ilmu pasrah terhadap bagaimana ALlah itu menjadi sesuatu yang nikmat dalam menjalani kesehariannya…itu adalah hal yang sungguh nikmat dalam menapaki kehidupan mnusia dimana diri berserah sepenuhnya pada apa-apa yang menjadi hakikat dalam KemaHa kuasaan ALlah ta;ala….

Dalam hIndu atma atau jiwa sangat dipuja sebagai sinaran suci brahman dimana brahman menyatu bersama manusia di dalam kehidupannya sebagai sesuatu yang menyinari setiap insan-insan dalam sisi yang menjadikan ia bersatu dengan SAng Acintya dan pasrah terhadap apa-apa yang menjadikan Ia bermakna….”Tat twam asi”, menyatu bersama “Brahman Atman Aikyam”…untuk itu sufi adalah bagaiamna manusia menjadi suatu zat kuasa dan menyatu bersamanya…

 

OH sang Hyang Acintnya oh cahaya yang Tercerahkan…

Aku bergumul dalam setiap jeritan takdir-takdirmu yang mengangkasa bersama diri…

diri ini hanyalah Alat BagiMu sebagai bagaimana aku menjadi AbdiMu…

Oh Allah, aku menjadikan diriku sebagai pesuruhMu.sebagai sang Khalifah yang menjunjung tinggi budhiMu..

Menuju suatu kejayaan ABadi kjayaan CINTA terhadap segala hakikat-hakikat jiwa yang menyatu BersamaMu…

Oh Gusti ALlah gusti Acintya…Gusti Brhman…Aku memujaMu sepenuh Jiwaku dalam menapaki segala kenikmatan dunia yang benar-benar nikmat dalam segala ujian-ujianMu…

 

Basmallah Jaya DImahi…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Tingkatan tingkatan sufi dalam islam..

Mungkin untuk membagi pemikiran ideologi (madzhab) sufiyah ekstrim kepada tiga 3 kategori, yaitu: (1) kategori pertama: Pengikut sekolah isyroqi filosofi. Mereka adalah orang yang memberikan perhatian terbesar tehadap gagasan filosof melebihi dari yang lainnya bersamaan dengan sikap menjauhi kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan Isyroqi (penerangan) adalah penerangan jiwa yang diterangi dengan cahaya, dan merupakan hasil dari latihan jiwa, pelatihan ruh dan menghukum badan untuk membersihkan dan menyucikan jiwa. Ini mungkin merupakan ciri semua orang sufi. Namun orang sufi kategori (pertama) ini berhenti pada batasan ini saja, dan tidak terjatuh pada pendapat yang menyatakan Alloh bersemayam didalam ciptaan-Nya (al-hulul), atau yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu adalah Alloh (wihdatul wujud). Namun jalan mereka ini bertentangan dengan ajaran Islam dan diambil dari agama-agama yang menyimpang seperti ajaran budha dan semisalnya.

 

(2) ideologi kedua adalah ideologi orang yang meyakini hulul, yang mengatakan bahwa Alloh bersemayam dan merupakan perwujudan ingkarnasi dari kejadian manusia, Maha tinggi Alloh dari yang mereka sifatkan. Seruan ini dinyatakan secara terang-terangan oleh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj yang dicap kafir oleh ulama. Mereka para ulama memerintahkan untuk mengeksekusi dan menyalibnya pada tahun 309 H. Al-Hallaj berkata: “Maha suci Allah yang nasuut-Nya telah menampakkan rahasia cahaya laahuut (ilahiyah)-Nya, Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan dan minum, Sehingga ciptaan-Nya bisa melihat-Nya secara jelas seperti pandangan mata dengan pandangan mata” (Ath Thawaasin hal. 129) Dia juga berkata: “Saya adalah seorang yang mencintai dan seseorang yang dicintai adalah aku, kami adalah dua jiwa yang mendiami pada badan tunggal. Maka ketika kamu melihatku, kamu melihat Dia, dan ketika kamu melihat Dia, kamu melihat kami berdua.” Al-Hallaj ini adalah penganut pemahaman hulul. Dia mempercayai tentang dualisme alam ketuhanan (ilahiyah), dan bahwa Ilah (tuhan) itu mempunyai alam ketuhanan (lahuut) dan alam manusia (nasuut). Ketuhanan bersemayam di dalam manusia, sehingga jiwa manusia adalah hakekat alam ketuhanan, sedang badannya adalah bentuk alam manusianya (nasuutnya). Meskipun dia dibunuh karena kezindiqannya (kemurtadan munafik) dan beberapa kalangan sufi menyatakan diri mereka terbebas dari dia, namun masih ada kalangan orang sufi yang menganggapnya sebagai seorang sufi, membenarkan keyakinannya, dan mengambil pendapatnya. Diantara mereka adalah Abdul-’Abbas bin ‘Ata Al-Baghdadiy, Muhammad bin Khafif Ash-Shirazi dan Ibrahim An-Nasrabadzi, sebagaimana dinukilkan Al-Khatib Al-Baghdadiy.

 

(3) ideologi ketiga adalah wihdatul wujud, yaitu bahwa semua wujud adalah hakekat tunggal, dan bahwa segala sesuatu yang kami lihat hanyalah sisi keberadaan Alloh. Pentolan yang menyatakan keyakinan ini adalah Ibnu ‘Arobi Al-Hatimi At-Thoi, yang dikubur di Damaskus, mati tahun 638 H. Dia sendiri mengatakan keyakinannya ini di Kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah: Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba Duhai siapa yang dibebani (ibadah)? Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul. Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani? Dia juga berkata di Al-Futuhat: “Orang-orang yang mengibadahi anak sapi, mereka ini tidak mengibadahi kecuali Alloh.” Ibn ‘Arabi ini disebut sebagai Al-‘Arif billaah (orang yang mempunyai ma’rifat tentang Alloh) oleh Orang-orang sufi. Dia juga disebut Al-Qutub Al-Akbar’ (poros terbesar), Al-Misk Al-Azhfar (Misik terharum), Al-Kibrit Al-Ahmar (belerang merah), padahal dia menyerukan wihdatul wujud dan perkataan celaka yang lain. Dia memuji Fir’aun dan menyatakan bahwa Fir’aun meninggal di atas keimanan! Dia juga mencela Nabi Harun yang mengingkari kaumnya ketika mereka menyembah patung anak sapi, yang ini jelas menyelisihi nas Al-Qur’an. Dia juga berpendapat hanya kaum nasrani (Kristen) saja yang kafir, karena mereka mengkhususkan uluhiyah (pengibahan) hanya kepada Nabi Isa, namun jika mereka menjadikannya umum (mengibadahi semua makhluk) mereka tidak kafir. Meskipun sangat jelas kesesatan Ibnu ‘Arobi dan pernyataan para ulama bahwa dia kafir, namun orang-orang sufi senantiasa mensucikannya. Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi tadi, juga berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !” (Fushushul Hikam). Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah orang-orang sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?! Ibnu ‘Arabi juga berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al Futuhat Al Makkiyyah). Padahal Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56). “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93). Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zorodoaster, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala. Padahal Allah Ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran : 85)

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: