RSS

Arsip Tag: susila hindu

Sad Paramita Enam jalan Pencerahan dalam Sang Hyang Kamahayanikan

Om shiva buddhanta ya namastute.. ksama sampurna ya namo nama swaha.. 

Dalam kitab sang hyang kamahayanikan disebutkan tentang sad paramita,  atau enam jalan menuju kebuddhaan atau pencerahan.. Pada sloka 51 yaitu :

“Aum anaku kitang jina putra, mene kami awaraha irikang aji,  anung yogya gegonta.  Ana sad paramita ngaranya,  ya tika parama Boddhi margga,  ya tika warahakena mami ri kita rumuhun,  marapwan kita tan anghel mangabhyasa ring kapanguhan ika ka-hyang-Buddhan.  Nihan lwuirnya,  sad ikang paramita,  Dana silanca ksantisca,  wirya dhyananca prajnanca,  sad paramita mucyate,  dana tri widha laksanam.  Kalinganya,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita, prajna paramita,  ya tika awan abener marerikang maha Boddhi.  Dana tri wadha laksanam,  tiga prakaraning laksananing dana,  lwirya dana,  ati dana,  mahati dana”

Artinya hai anakku engkau penganut buddha (dharma),  kini Aku menasehatimu tentang suatu ajaran yg mrupakan jalan pertama menuju keBudhaan (pencerahan)  sebaiknya hal itu Kuajarkan terlebih dahulu agar tidak susah payah menuju keTuhanan.  Itu disebut enam paramita yaitu,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita,  prajna paramita.  Itulah disebut enam paramita,  jalan kencang menuju sang maha Buddha. Dana itu ada tiga macamnya yaitu dana,  ati dana,  mahati dana… 

Dijelaskan dana paramita adalah dana disebutkan sbagai barang yg mengandung rasa,  nasi yg ebak,  minum2an, air yg segar,  kain sutera,  emas, harta permata ternak,  hendaknya itu diberikan kepada orang2 yg mementingkan dan jangan meminta balasan,  juga iklas-itu adalah dana.. 

Kemudian ati dana adalah dimana orang engkau sayangi,  ktika ada yg memintanya dan saat engkau berpisah padanya,  maka iklaskan lah karena cinta kasih itu juga sbagai tabir penghalang dalam mendapatkan keHyang Buddhaan (bersatu dengan Tuhan).. 

Mahati dana adalah dimana seperti buddha sakyamuni,  seseorang itu memberikan dagingnya,  darahnya,  matanya,  badannya,  atau organ tubuh lainnya sebagai keiklasan untuk kepada yg memerlukan,  bahkan kepada binatang buas atau pun raksasa.. Ini adalah hal yg paling utama dalam menyerahkan diriNya sendiri.. Seperti juga menyumbangkan organ tubuh ke orang lain yg memerlukan. 

Sloka 55

“sila paramita ngaraniya,  niwrttir ashubat krhsnat prawrttir asubhat tatha,  iti silasya sangkepah kayawanmanasakramat. Kalinganya, ikang kaya wak citta. Kaya ngaran sariea,  solahning tangan suku,  ya kaya ngaranya. Wak ngaranya sabda,  salwiring wuwus,  ya sabda ngaranya. Citta ikang idep ya citta ngaranya. Sangsiptanya,  ikang kaya wak citta, ya tika tah pagayawa papa,  sapkarani inaran papa karma,  tan wineh mahabhyapare rika. Ikang tri-kaya ngaranika,  kaya,  wak,  citra. Apa pwanung utsahanen ikang tri kaya,  ikang gawe hayu,  salwiring inaranan subha karma,  ya hayu pawayakena de ning trikaya.  Apa lwir nikang asubha karma,  anung tan utsahanen denikang kaya”

Artinya Yang dinamai sebagai sila paramita adalah segala pekerjaan baik yg dilakukan oleh kaya,  wak,  citta. Yang disebut kaya adalah gerak tangan dan kaki dari badan jasmani.  Yang dinamai wak adalah sekalian kata-kata.  Yang dinamai citta adalah jalan pikiran,  tegasnya ke semua itu janganlah diberi untuk berbuat papa,  janganlah tersesat kesana.  Kaya,  wak,  citta itu disebut tri kaya. Adalah perbuatan pekerjaan baik,  yang buruk janganlah diperbuat .

Kaya dibagi tiga,  yaitu pranati pati wirati yang artinya tidak membunuh mahluk yg berdosa atau pun tidak berdosa (kecuali yang diperbolehkan agama seperti untuk yadnya,  atau dharmayuddha), ketika melakukan bisa mendapatkan duka yang besar serta mendapat karma menjadi binatang lintah dan semut (S.H.Kamahayanikan sloka 56)

Adatta dana wirati adalah tidak mengambil barang yang bagus atau tidak tanpa seijin yg memiliki,  akan mendapat neraka loka (SHK sloka 57).

Kama Mithyacar Wirati adalah tidak boleh berbuat tidak suci pada perempuan, segala perempuan, ibu anak, istri seseorang suci, perempuan guru,  yang telah bertunangan dan yang lainnya,  ini ketika dilakukan akan menyebabkan musnah semua hasil yoga bratha samadhinya juga akhirnya mendapat neraka. (SHK 58)

Kemudian yang harus diusahakan oleh Wak atau mulut maka ada beberapa yang perlu disimak, yaitu jangan melakukan kebohongan dan curang atas sesuatu hal,  dilarang memfitnah,  dilarang berkata keras dan kasar atau mencaci maki,  dilarang mencela serba benda seperti mencela keadaan orang lain,  makanan, atau, mungkin cara orang lain melakukan sesuatu dan sebagainya,  lalu yang terakhir jangan memakan sesuatu yg terhidang untuk persembahan kepada sang Buddha. 

Kemudian yang hendaknya dilakukan oleh pikiran citta yaitu,  janganlah besar nafsu,  jangan menuruti hati jahat,  jangan suka mabuk,  jangan sombong,  jangan iri hati, jangan dengki, jangan marah keras,  jangan tamak,  jangan sangat sedih,  berpegang kepada hati yang tenang dan suci, setia kepada hutang (janji), jangan ingkar kepada kenyataab,  besar kasih pada segala mahluk Tuhan dan berbakti kepada Buddha (bhatara) Tuhan. 

Sloka 62 “Ksanti paramita ngaraniya,  mitra mitra samanam cittanam apujah pujah,  yoh sakam kruddesu santi soratyam ksanti paramitam wadet. Kalinanya,  ikang citta klan ring parawamana,  kaya tan yukti sabda tanyukti,  citta tan yukti,  tatan malara,  tan kagyat,  pisaningun ahyun malesa ring ahita,  kewala tumarima ikang purbwa karma paradha,  tan pahuwusan manganeng nganeng pwa kita,  tatan gemen-gemen,  tan harsa, tan girahyasen,  mwan sama buddhinta, ring sarbwa sattwa.  Sangsiptanya,  tan hana wikaranu buddhinta ri sedengyan inawamanan mwang kinagorawan. Ika tang gati mangkana, ya sinanggah ksanti paramita ngaraniya”

Artinya yanf dinamai ksanti paramita adalah pikiran yang tenang serta tahan terhadap durhaka manusia,  beraneka ragam jenis penyakit (yang menyebabkan sakit hati)  disampaikan oleh orang yang dengki iri hati padamu,  seperti pikiran yang tidak benar,  kata tidak benar,  pikiran palsu,  namun demikian janganlah hendaknya sakit hati, jangan terkejut,  jangan sekali bermaksud membalas dengan yang tidak baik juga,  hanya terimalah betapa keadaan purwa karma yang terjadi ini,  janganlah henti-hentinya memikirkan keselamatan dan kebaikan semua mahluk. Demikian ketika engkau disanjung dan dibaik-baikkan, jangan terlalu bersuka cita, jangan terlalu senang,  jangan sangat gembira,  samakan batinmu terhadap semua mahluk. Jadi jangan berubah pikiran atau batin ketika mendapat hinaan dan sanjungan.  Hal itu disebut ksanti paramita. 

Kemudian selanjutnya dalam sloka 63. “Wirya paramira,  ngaranya,  wirya rembho diwa rato sattwanam,  hita karanam,  karotina srawam kincit wirya paramita smrto.  Kalingaya,  ikang kaya,  wak, citta,  ya tika byamara tadangluh,  tan alisuh gumawayaken ri rahina,  sad dharma lokana,  mamuja,  mawe angaya,  manulis sanghyang akara pallawa,  manasu,  sad dharma wacana,  umaca sanghyang dharma pustaka,  athupopakarana,  mangarembha sanghyang sthupa tataghata pratiwimba,  mangarcanakena sarbwopakriya,  mahoma, mwang maka buddhyang gorawa ring tamuy.  Nahan lwir ni kusala gawayakena dening kaya,  wak, citta,  ring rahina ika” 

Artinya yang dinamai Wirya paramita  iu adalah dengan tidak bosan2nya,  tidak merasa payah mengerjakan kusala karma atau pekerjaan, jasa yg suci. Baik siang maupun malam. Pekerjaan kusala yg dilakukan siang hari disebut sad dharma lokanta  yaitu memuja,  memberi nasehat serta ajarab ajaran,  menulis sesuatu pustaka dan sebagainya,  sad dharma wacana  yaitu membaca ajaran kitab suci,  ajaran dhaema,  memberi upakara pada stupa (arca suci),  membicarakan merencanakan peneyelenggaraan upacara dhyani buddha (bhatara), berhoma,  berbatin ramah kepada tamu,  itu yg baik dilakukan pada waktu siang.  

Kemudian pada malam hari (sloka 64) melakukan japa,  yoga,  berpikir suci,  menghubungkan jiwa kepada Tuhan,  mengucapkan mantera pada Budha dewa dewi,  mendoakan keselamatan serba mahluk,  terlepasnya dari rencana buruk,  batin agar terlepas dari cengkraman pengaruh dunia, agar menemui tingkah laku yang suci, mencapai alam kesenangan yang tinggi. 

Selanjutnya adalah dhyani paramita dalam sloka 65 “dhyana paramita ngaranya, sresta madhyama kaniste satye nityam dayamati,  yoginan yogasa marsyat dhyana paramita smrto.  Kalinganya,  ikang ngambek mangekantanken takwan-takwan,  nitya masih ring sabrhwa sattwa,  kanista madhyamottama,  inangen-angen kita suka wasananya,  ring ihatra paratra dwnira.  Umapa denira umanusmaranahi ta suka wasananya ika sarbhwa sattwa,  inakni denira tumungalakena waknya.  Mapa lwir nikang ambek,  ya ewa sattwah ah ewa ham,  sa aham sah sarbwa sattwa,  awaku ika,  awaku awakni sarbwa sattwa ika,  apayapan awibha geka shabhawah,  ikang sarbwa wastu tan haneka bheda ri sarbwa dharma,  mangkana karana ikang ambek,  ya tika dhyana paramita ngaranya”

Artinya bahwa yang dinamai dhyana paramita ialah mempersatukan pikiran untuk menelaah mncari jawaban dari pertanyaan (tentang kehidupan) selalu kasih sayang terhadap semua mahluk tuhan yg menurun derajatna kanista madhya uttama,  dipikirkan keselamatan dan kesenangan akhirnya sampai kepada dunia swmua,  dipujakan keselamatannya dan kesenangan akhir serba mahluk itu. Yaitu dengan mempersatukan batinnya terhadap mahluk itu.  Badan mahluk itu adalah badanku dan badanku ini adalah badan segala mahluk itu,  apalagi tidak ada bedanya serba mahluk itu dengan serba dharma. Pikiran yang itu disebut dhyana paramita. 

Yang terakhir adalah prajna paramita, maka disebutkan dalam sloka 66. Prajna paramita ngaraniya,  yawanti sarbwa wastuni dasa diksan kashitani catani sunya swabhawani prajna paramita smrto. Kalinganya,  sakwehnikang sinanguh hana ring loka,  dasa diksan shitah,  ikang umungguh ring Desa sapuluh, purwa,  daksina, pascima,  uttara, agneya,  nrtti,  wyawya,  airsanya,  urdhwa, adhah,  yatika kawruhana teka ring sarira wahyadyatmika,  mwang sarbwa sattwa, sarbwa widya, sarbwa wihdya, sarbwa kriya, sarbwa kabwatan, sarbwa paksa, ya tika kaweruhana, sakaranya nirakaranya an makatattwan yan inenget ingeten, pakawakang eka neka swabhawa,  apang tunggal mapupul matemu sinanggu,  akwe ngaranya”

Yang dinamai prajna paramita adalah demikian yg disebutkan ada di dunia ini disegala penjuru timur selatan barat utara tenggara barar daya barat laut timur laut,  atas bawah,  semuanya harus diketahui dalam badan lahir atau batin dan juga seluruh serba mahluk, pengetahuan, aerba kerja,  bentuk dan lainnya,  bahwasanya kebenaran yang terkandung di dalamnya jika diperhatikan berbadan esa bersifat banyak,  sebab yang satu itu berkumpul bertemu merupakan banyak. 

Demikian tentang sad paramita, dumogi sarwa prani hitankarah.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Korelasi sapta patala maha bali, susila hindu, Sapta loka dan Trisula Wedha.. Juga Awataram.. 

Korelasi sapta patala maha bali, susila hindu, Sapta loka dan Trisula Wedha.. Juga Awataram.. 

Om jagatham natha laksanam buddhi dharma charita.. Syahajanaka kawula tinunggal gusti mahajnanatantranika..Kashadram Kalkayi mahadevam tat sat Ang Ung Mang Namaha.. Pujam puji sang sadhu bhatani brahmina khalikamaya.. Om

Sapta patala adalah ibarat neraka loka dalam khasanah kehinduan itu sendiri, di mana tempat itu dihuni oleh para Ashurya yg siap menghukum para pelaknat Nya itu sendiri. Dalam hal ini berbeda pula ketika berbicara pada makna sapta loka. Dikatakan bahwa sapta loka adalah tujuh lapisan dari semesta sebagai cerminan ekspresi refleksi surga itu sendiri..

Berbicara tentang sapta patala,  maka tidak lepas dari wiracharita awatara2 Wisnu yg brhubungan dengan Maha Bali itu sendiri sbagai pnguasa sapta patala. Dikatakan Wisnu waisnawa devam menjelma sebagai wamana awataram untuk menguji Sang Maha Bali raja Asyurha,  yg mrupakan cucu Prahlada..Prhlada sendiri adalah seorang pemuja Waisnawa wisnu dewam dimana Ia hadir pada saar Narasingha Awataram muncul yg hendak dibunuh oleh ayaNya Hiaranyakasipu yg mndapat berkat Dewa Brahma.. Namun dpat dihncurkan oleh Hyang Waisnawa Narashimha Jayantam akibat kelalaian mnggunakan Kesaktiannya..

Cucu Prahlada sendiri adalah Raja MahaBali ashyura hyang Agung,  sangat perkasa dan adil,  dengan penasehat spiritualnya adalah SukraYacarya..Suatu waktu maka Sang Maha bali akan memberikan suatu hadiah kepada Para Brahmana,  dan saat itu wisnu ingin mengetesnya dalam hal mnyangkut sapta timiramNya guna dhana sura kasuran Nya.. Kesombongan mgkin mengada, namun Maha Bali akan siap dalam ujian Nya.. Maka Waisnawa mncul sebagai wamana Awataram datang dgn maujud pendeta cebol,  yg datang saat pembrian hadiah.. Kemudian bgitu mudahNya MahaBali mmbrikan hadiah kepada para pandita,  namun ktika Wamana Awataranikam hadir,  dan pada akhrinya dipertanyakan oleh Maha Bali tntang apa2 yg akan diminta,  tanah materi ternak makanan atau apa saja,  ktika Ia Maha Bali mampu mbrikanNya maka akan diberikan..

Pendeta Sukra-acaryam sbtulnya curiga ttg gerak gerik pandita itu,  kmudian menasehati agar waspada.. Maha bali. Pun bertnya ttg apa yg Ia Minta.. Lalu Sang Wamana Pandita mngtakan,  aku hanya meminta tiga tanah tiga langkah untuk mndapatkan tanah milikKu.. Sedikit tertawa kemudian Maha Bali sedia bersabda.. Baiklah pandita,  maaf sedikit menjumawakan diri Hamba, Hamba persilakan Brahmin yang Agung..

Kemudian sang Awataranikawamana melangkahkan kakiNya.. Satu langkah semesta Ia langkahi dgn alam bhur bwah swaha,  kmudian pratiwi bumi Ia dapati dan yg terakhir satu kaki lagi tak mampu Ia dapatkan jejak,  karena semua telah habis.. Karena takjub Sang Hyang Syhura MahaBali, maka diberikanlah kepalaNya untuk diinjak oleh Sang Brahmin awataranika,  hancur ktika lgi satu langkah itu Ia tak dapati.. Maka Wicaksana betul Sang Mahabali sbagai juga cucu Prhlada sang Pemuja Waisnawa KakekNya dahulu saat bertemu Narasimha..

Maka dihadiahkan lah oleh Sang Brahmin sapta patala lokha yg mengapresiasikan kewilayahan neraka loka itu sendiri pada Sang Maha Bali bserta keturunanNya.. (bandingkan kisah Brhmana Keling Dang Hyang Astapaka-topeng sidakarya)..

Sapta patala sendiri adalah tempat yg dibawahi dibagi mnjdi tujuh bagian,  yaitu :(sumber hindulukta blogspot)

1.  Atala.

Dimensi alam atala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri. Artinya dalam satu dimensi yang sama disana ada banyak alam. Dimensi alam atala ini adalah “tetangga” kita paling dekat. Penghuninya adalah para wong samar. Mereka secara fisik cukup mirip dengan manusia, dengan beberapa perbedaan, seperti salah satu misalnya tidak adanya cekukan di bawah hidung diatas mulut. Ada juga penghuninya yang berupa mahluk yang sama seperti manusia. Pada beberapa dunia disini, lingkungan mereka juga hampir mirip dengan kita, seperti ada perkampungan [desa, pemukiman], tempat-tempat suci, dsb-nya.

Hanya suasananya cenderung remang-remang, seperti sore hari menjelang malam atau pada saat mendung tebal. Pada dasarnya mereka bukan mahluk mahluk yang jahat, hanya saja tingkat tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya. Akan tetapi wong samar ini juga ada yang mengenal ajaran dharma, sehingga mereka tetap berusaha berkarma baik

untuk bisa keluar dari alam ini. Mereka yang masuk alam ini biasanya disaat kematian, karma buruknya lebih dominan dibandingkan dengan karma baiknya dan pikiran buruknya lebih dominan dibandingkan dengan pikiran luhurnya. Sehingga saat kematian tiba dia akan gagal menemukan jalan terang.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan rasa bersalah, rasa tersinggung [marah], rasa tidak terima, rasa sakit fisik, dsb-nya. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan kasih sayang dan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan.

Tmbahan…

Kesadaran rendah akan Budhi dharma akan masuk pada wilayah2 ini. Dharma masih ada namun itu belum cukup.. Semoga yadnya akan membawa mereka lepas dari “asuhan bumi” ini..

2. Sapta Petala dimensi kedua : Witala.

Alam witala ini memiliki banyak sekali dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Penghuni dimensi alam witala ini sangat beragam, yaitu berbagai macam mahluk-mahluk yang wujudnya ganjil dan aneh-aneh, seperti wujud dengan badan rusak atau tidak lengkap, kepala berkaki tanpa tubuh dan tangan, berwujud bola dengan lidah-lidah api, wujud yang menjijikkan, berwujud bola mata merah menyala, dsb-nya. Mereka yang masuk alam ini biasanya yang disaat kematian ada

memendam banyak kekecewaan, dendam atau sakit hati, selain juga tidak punya tabungan karma baik yang mencukupi. Juga mereka yang mati mendadak dalam kondisi sengsara atau salah pati seperti misalnya karena : kecelakaan, dibunuh, dsb-nya. Tanpa punya akumulasi karma baik yang mencukupi. Sehingga saat kematian tiba dia akan gagal menemukan jalan terang.

Termasuk mereka yang mati bunuh diri juga akan cenderung masuk alam ini. Pada dasarnya mereka bukan mahluk-mahluk yang jahat, hanya saja tingkat tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya, sehingga pikiran mereka penuh kekalutan. Selain itu, proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam witala ini juga ikut mendorong mereka seperti itu. Sumber utama kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai kekecewaan, ketidakpuasan dan keinginan-keinginan pikiran yang tidak terpenuhi. Juga berbagai dendam dan sakit hati yang menurut mereka harus dilampiaskan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan cinta yang didambakan, keinginan yang terpenuhi, kemarahan

yang terlampiaskan, dsb-nya.

Tambahan: kekecewaan dalam ketidakiklasan menerima takdir sbagai manusia dpat mnumpulkan budhi.. Tentunya ini memngaruhi idep yg smakin jauh dri wicaksana manacikam..

Cek juga.. Ttg samsara menuju dwi eka pramana

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/05/04/logika-tentang-reinkarnasi-atas-dwi-dan-eka-pramana/


3. Sapta Petala dimensi ketiga : Sutala.

Penghuni alam ini adalah para preta, mahluk berwujud manusia kurus, berwajah pucat dan suara melengking atau suara histeris. Ada juga mahluk yang wujudnya manusia kumal, dengan rambut kusut kotor. Selain itu ada juga mahluk-mahluk mirip seperti manusia di alam ini yang terus mengejar hasrat-hasrat duniawi palsu, tapi semuanya akan berujung kepada siksaan dan kesengsaraan. Kejadian ini, yaitu mengejar hasrat-hasrat duniawi palsu yang kemudian berujung kepada siksaan dan kesengsaraan, akan terus terjadi berulang-ulang dan berulang kembali di alam ini.

Alam sutala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Dinamika alam, pengalaman dan wujud para penghuninya juga ada beberapa perbedaan satu sama lain.

Mereka yang masuk alam ini biasanya yang dimasa kehidupan gemar sekali mengumbar hawa nafsu indriya [hedonis] dan serakah mengejar berbagai macam kenikmatan dan kepuasan-kepuasan lainnya. Selain juga tidak punya akumulasi karma baik yang mencukupi. Pada dasarnya mereka bukan mahluk-mahluk yang jahat, hanya saja tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya lebih rendah dari manusia pada umumnya, sehingga mereka tidak mampu mengendalikan dirinya.

Dan proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam sutala ini juga mempengaruhi dan membuat mereka seperti itu. Sumber kesengsaraan di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak terpenuhi, seperti nafsu seks yang dilampiaskan sepuas-puasnya sampai maksimal, makan enak yang dilampiaskan sepuas-puasnya sampai maksimal, dsb-nya. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan

[kenangan] akan keinginan-keinginan badan dan pikiran yang tidak pernahn terpuaskan.

Tambahan :

Artha tanpa dharma akan mnuju pada hedonisitias carwaka darshanam.. Biasanya mereka terjebak pada gelapnya dhana timiram lan guna timiram.. Dan akhirnya lobha matsaryam merasuki kehidupan mereka..

Cek juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

4. Sapta Petala dimensi ke-empat : Talatala.

Penghuni alam ini adalah para mahluk yang mudah berubah menjadi beragam wujud. Sering disebut para siluman. Dari wujud yang sangat buruk sampai wujud yang sangat indah. Kadang wujudnya seperti manusia, kadang wujudnya binatang, kadang wujudnya naga, kadang wujud lainnya. Kalau mereka hadir di dimensi halus alam marcapada [alam manusia]biasanya hadir dalam wujud binatang seperti ular, harimau, dsb-nya.

Alam talatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Suasana alam dan wujud para penghuninya juga ada beberapa perbedaan satu sama lain. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang punya ego dan sifat manipulatif yang kuat serta banyak melakukan kesalahan-kesalahan berbahaya bagi banyak orang.

Mungkin pernah dalam masa kehidupannya dia baik secara fisik maupun melalui perkataan dan pikiran [hinaan, fitnah, penipuan, manipulasi, ajaran spiritual palsu, hasutan, dsb-nya], menyebabkan seseorang atau sekelompok orang mengalami kesengsaraan atau kebingungan panjang dan mendalam. Misalnya saja [hanya contoh] : meracuni makanan atau obat-obatan [formalin, methanol, zat berbahaya, obat dengan dosis tidak sehat], memproduksi narkoba, melakukan korupsi dengan dampak besar, melakukan penipuan besar kepada sekelompok orang, mengeksploitasi tenaga kerja, berpura-pura menjadi guru spiritual padahal ajarannya tidak benar [misalnya ajarannya membuat orang menjadi fanatik, menjadi bertengkar, konsep ajaran yang rawan konflik] padahal tujuan sesungguhnya hanya untuk kepentingan pribadi, memuaskan ego dan keserakahan religiusnya, dsb-nya.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai pemuasan ego yang tidak terpenuhi. Serta proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam ini yang semakin menekan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan berbagai pemuasan ego yang terpenuhi.

Tambahan : ibarat mereka yg kehilangan BudhiNya rasaNya dan hanya bergerak brdasarkan sabda bayu tanpa idep.. Dalam bahwasanya hidup berdasarkan rajas tamasika guna tanpa satwika guna..

Krna jerat Maya ..

Cek..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/08/surga-dan-neraka-dalam-karma-serta-reinkarnasi/

5. Sapta Petala dimensi kelima : Mahatala.

Penghuni alam ini adalah para rakshasa, makhluk bertubuh tinggi-besar, berkulit hitam, berwajah sangar dan seram. Ini adalah lapisan alam gelap yang menjadi habitat bagi jiwa-jiwa yang hanya sedikit saja punya rasa welas asih dan dominan punya bathin gelap seperti : iri hati, kemarahan, ketidakpuasan, dendam dan kebencian.

Alam mahatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Wujud para rakshasa ini juga berbeda-beda, misalnya kulitnya ada yang tidak berbulu, ada yang berbulu seperti rambut, ada yang berbulu duriduri tajam seperti jarum, dsb-nya. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang jiwanya dominan dengan rasa iri hati, serakah, tidak puas, kemarahan, dendam dan kebencian. Sering melakukan kekerasan dan teror fisik maupun mental kepada orang lain. Lihatlah pada manusia-manusia yang pikirannya jarang welas asih, mementingkan diri sendiri, cenderung suka mengintimidasi dan menyebarkan jejak-jejak kemarahankebencian dimana-mana.

Termasuk mereka yang semasa hidupnya belajar ilmu hitam atau ilmu-ilmu kesaktian lainnya dan menggunakannya untuk menyakiti dan menyiksa orang lain. Kecenderungan bathin mereka selalu ingin lebih hebat [lebih sakti] dari yang lain, tidak punya toleransi kepada yang lebih lemah, penuh prasangka buruk, rasa curiga, iri hati, serakah, tidak puas, marah, dendam dan benci. Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah siksaan mental yang mendalam akibat dari siksaan mental yang ekstrim [iri hati, marah, benci, dendam, dsb-nya]. Serta proyeksi energi negatif dan kondisi berat alam ini yang semakin menekan. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah pikiran dan ingatan [kenangan] akan puasnya melampiaskan kebencian, ketidak-puasan, dendam dan amarah yang menyebabkan orang lain menderita.

Tambahan: hal ini terjadi karena gelap timiram dari Sura Kasuran Kulina Yowana Timiram..

Bisa dicek :

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/26/sandingan-konsep-seven-deadly-sins-konsep-sad-ripu-serta-sad-atatayi/

.

6. Sapta Petala dimensi ke-enam : Rasatala.

Penghuni alam ini adalah para mahluk yang tidak mewujud, hanya berwujud bayangan halus atau kabut yang lembut. Sering disebut para lelembut. Kehadiran mereka akan menghabiskan energi yang hidup bagi lingkungan sekitar maupun bagi mahluk lain [termasuk manusia]. Sesama makhluk-mahluk alam bawah pun juga tidak tahan berdekatan dengan mereka. Hanya mereka yang memiliki kemampuan supranatural tinggi yang bisa berhadapan dengan mereka tanpa terhisap energi hidupnya.

Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk. Yang jiwanya dominan dengan rasa iri hati, serakah, tidak puas, kemarahan dendam dan kebencian. Umumnya yang masuk alam ini adalah mereka yang aktif menyebarkan propaganda yang memecah-belah manusia. Terutama mereka yang pernah melakukan kesalahan-kesalahan berbahaya bagi banyak orang seperti menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain [melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dsb-nya] yang sampai pada terjadinya aksi kekerasan fisik kepada sekelompok orang atau bahkan memicu peperangan antar wilayah. Lihatlah pada manusia-manusia yang haus darah, senang dengan

kekacauan, serta puas melihat ketakutan, kepedihan, dan penderitaan. Alam rasatala ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.

Sumber kesengsaraan utama di alam ini adalah akan merasakan kesengsaraan mental yang sangat berat, akibat proyeksi energi negatif dan kondisi alam berat yang tidak terhingga di alam ini. Hampir tidak ada kebahagiaan di alam ini. Termasuk tersiksa akibat perbudakan mental dan manipulasi dari jiwajiwa gelap yang menjadi raja atau penguasa di alam ini, serta sang jiwa merasa demikian putus asa akibat kecilnya peluang untuk bisa keluar atau bebas dari alam ini. Sumber kebahagiaan utama di alam ini adalah setitik harapan kecil bahwa suatu hari akan ada mahluk suci yang menolong keluar dari kesengsaraan panjang dan mendalam ini.

Tambahan:

Org yg guna timiram dan melakukan sad atatayi akan hadir di wilayah ini.. Trutama yg mmbuat kekacauan

Raja pisuna agnida.. Membakar rumah apalagi tmpat ibadah,  memfitnah juga..

7. Sapta Petala dimensi ketujuh atau paling negatif dan gelap : Patala.

Ini adalah dimensi alam bawah yang paling mengerikan. Sulit untuk diceritakan. Mereka yang masuk alam ini biasanya semasih hidup punya akumulasi karma buruk yang bertumpuk-tumpuk dan melakukan kesalahankesalahan fatal. Dimensi alam ini adalah apa yang disebut sebagai Naraka Loka [neraka]. Di alam ini berlaku hukum rimba, dimana yang kuat yang berkuasa. Alam patala atau Naraka Loka ini memiliki banyak sekali dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.

Sumber kesengsaraan di alam ini adalah akan merasakan kesengsaraan mental yang sangat berat, akibat proyeksi energi negatif yang ekstrim dan kondisi alam berat ektrim yang tidak terhingga di alam ini. Termasuk tersiksa akibat penyiksaan, konflik, persaingan dan peperangan abadi antar sesama mereka. Tidak ada kebahagiaan sedikitpun di alam ini. Sangat sulit untuk keluar dari alam ini.

Kemudian masuk pada wilayah sapta loka yg juga disebut sbagai alam bhur bwah swah jana tapa maha sunia lokam..

Dmana di jaman ini bhur bwah swah adalah sekala niskala dan bisa sahanirahkala jugya… Dengan kesadaran..

Kemudian ada selanjutnya tapa maha jana loka..yg dikuasai oleh  Sang Hyang Murti Maya Mudhra..dalam ini maka Jana loka adalah Brahmika Iswaraham Rajasika Murti Mayaka.. Dmana Jnana adalah jalan menujuNya..

Lalu ada Tapa loka sang Hyang Murti ShidantaShiva tamasa Murti Mayaka yg jalan menujuNya adalah Raja Marga..

Kemudian ada juga Maha lokha dmana jalan menujuNya adalah Mahadevaka waisnawatha Satwikah juga jalan Karma MargaNya..

Dan Sunia Loka tmpat Hyang Embang Sunia Acintya lokham samastham.. Tmpa kamoksan para awataram yang akan lagi Turun ke dunia dmana ke depan ada bernama Sang Hyang Kakia Awataram..

Itu trisula wedha dalam wujud seluruhnya sbagai bhakti marga..

Sekedar wibhuti marga

Gwr manis waisak..

Mei 2017

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2017 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Emas , Permata, Berlian di “diri” sebagai KesucianNYa

image

Om sa ba ta a i na ma si wa ya,,
Om parama siwa, siwa narayanam , om nama siwaya..

Dharma sastra 74
Yatha caturbhih kanakam pariksitam
Nigharsanathadanacchedhatapanaih
Tattha catrubhih purusah pariksitam
Srutena silena gunena karmana..

Artinya bagaikan emas yg diuji dengan empat cara, dengan batu asah, ditempa, dipotong potong dan dipanaskan:maka demikian juha orang diuji dengan empat macam (ujian) Sruta (pengetahuan mengenai kitab suci weda), Sila (kesusilaan) Guna (kemahiran dan bakatnya)Karma (perbuatan dan pekerjaannya)..

Sebongkas emas adalah merupakan sesuatu yg berharga, dan dihargai oleh mereka yang mengenal emas iti sendiri.. Sebagaimana manusia yang memiliki harga yang tinggi seperti kemuliaan emas itu sendiri, adalah sangat pun harus melalui berbagai rintangan rintangan yg tentunya menuju sebuah singgasana, dunia, kenikmatan , pahala yang baik pula sprti emas itu sendiri..

Bagaimama mereka yg diuji sebagai penuntun menuju kemuliaan manusia di jaman satya yuga nantinya, adalah mereka yg menuju empat jalan utama kepada HYAng maha Kuasa itu… Seperti mereka yang ditempa oleh Sruta…artinya bahwa weda yang agung akan membuka DiriNYA sebagai sebuah kelepasan ktika mereka yg melaksanakan membaca memahami weda adalah seorang dimuliakan sebagai bhakta hyang widhi.. sbagai pengabdi, sebagai seorang jnana yg mnganalisa memberikan ulasan tntang kebenaran weda itu sendiri..apakah weda pun menyatakan, mereka “uttamam kanyadanam ca, vidya danamanantakam” ,mereka yang melimpahkan pengetahuan rohani(widya) adalah pemberian yang tiada taranya…dan sebagai idealitas manusia yg mmiliki kemuliaan, maka weda adalah sebagai pnghncur ahamkar rajas tamas dan melebur menuju pembersihan di lingkungan terkecil sampai terbesar..

Sila atau kesusilaan, bahwa mereka yg memiliki sifat pendamai, dan menyenangkan hati orang yg memperhatikannya, adalah seorang bhakta yang mumpuni, dimana segala sifat hormat dan mmberi suasana yg baru akan susilanya adalah salah satu anak suputra semesta bhapa angkasa.. dimana hal ini akan mndapatkan berbagai godaan godaan duniawi..seorang dharmaning buddhi akan mmbri aura yg indah positif dimana pun ia berada..itu kekuasaan susila yg satya, diujilah mereka yg memiliki itu sbagai dharma buddhi akan mndapat pahala yg sesuai dngan idealitasNYa..

Baca sdikit:
https://linggahindusblog.wordpress.com/buddhi-dharma/

Guna adalah bakat dan kemahiran.. artinya adalah bahwa bakat dan kemahiran saat dipngaruhi lingkungan diri serta pengalaman san juga sancita karmapalanya… mereka yg memiliki bakat musik akan menghibur mereka yg hatinya tertutup duka lara, ada pula yg memberikan keceriaan lewat senda gurau, ada pula dngan bakat manfaat bagi orang banyak sbagai peyakin sala satu ilmu pngetahuan..hanya lah takdir yh dapat menentukan manusia itu lulus dalam kehidupan, sbagaimana ia berhasil untuk menyadari takdirnya sebagai manusia yg bermanfaat, manusia yg brhasil menarik sattwikam rajasikam dibandingkan dengan tamasikam dari tri guna ini….bhakta raja marga adalah mereka yg tercerahkan(wibhuti) brsama dengan gunaNYa masing2…

Jalan karma adalah sebat akibat dri proses krja, tidak ada manusia yg lepas dari proses kerja, maka mereka yg brusaha melepas proses kerja, akan semakin dipaksakan sebagai prosesnya kerja oleh triguna kuasa..tidak ada yg bisa terlepas, ketika karma adalah juga sebuah reaksi aksi,..dan semua terbelenggu proses krja tri guna itu sendiri.. maka cara nya adalah bagaimana kerja hanyalah sebuah kerja, sebuah bagian DariNYA, yg artinya menjadi seorang dharma, bhakta, jnanas, raja marga, adalah sebuah krja yg utama, dan yang lainnya adalah sampingan, bukannya kita adalah pengabdiNYA?? Dan IA adalah pemberi anugerah(gaji)NYA…

Maka mereka yg memahami adalah mereka yg memiliki hati laksana emas yg berkilau..

Salam gwar
Mei 2014

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: