RSS

Arsip Tag: syeh siti jenar

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Hubungan Fungsional Atas Pensifatan Tuhan pada Tri murti (Hindu) dengan Asma ul Husna (islam)

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Apa yang kita hadapi pada jaman sekarang. Tidaklah bisa dipungkiri bahwa dunia memang sudah terasa sesak dengan berbagai kekerasan serta pembunuhan, caci maki dan fitnahan, serta pola pikir yang cenderung pesimis dan memiliki nilai negatif atas apa-apa yang menjadi pedoman keyakinan itu sendiri. Padahal bahwa suatu keyakinan itu, sangatlah sakral dan sungguh pun merupakan perwujudan atas nasib dan takdir manusia sebagai mahluk sempurna yang berhubungan dengan kehidupan dan kematian itu sendiri. Seperti saat kita lihat bahwa kemanusiaan (kematian), menjadi hal yang lazim jika ditelisik pada arah pemahaman suatu keyakinan yang mengabaikan lainnya (kemanusiaan).

Apakah memang itu yang terjadi semestinya, atau ada yang salah pada penafsiran akan ayat-ayat suci tersebut Sebagai misal, jika dihadapkan pada ayat yang berkata “potong kepalanya dan halal darahnya”. Apakah itu harus diibaratkan secara nyata dengan memotong kepala yang berbeda keyakinan? Ataukah itu adalah bisa diterjemahkan sebagai pemotongan ego di kepala, baik yang dianggap berbeda dengan mereka yang dianggap seratus persen suci. Padahal jika masuk lingkaran mereka, apakah bisa lebih baik kehidupannya?

Sebagaimana bisa ditelaah pada fenomena ramalan-ramalan tertentu, maka suatu jaman akan berubah menjadi suatu jaman yang lain. Susahkah dipercaya?, atau memang wilayah akademis tidak bisa terlingkupi suatu kekuatan agung metafisika secara menyeluruh. Sebagai suatu definisi pun dapat dikatakan oleh E.B. Taylor bahwa agama berasal dari suatu kekuatan agung yang kemudian diyakini sedemikian rupa. Maka alangkah bijaknya bila ilmu bisa menerjemahkan fenomena akan adanya ramalan-ramalan itu. Ramalan-ramalan tersebut antara lain adalah:

  1. Ramalan jaman Kaliyuga
  2. Ramalan Sabdo Palon
  3. Ramalan dari Kalender Maya yang menceritakan kiamat pada tahun 2012.
  4. Ramalan Jayabaya
  5. Ramalan tentang satrio piningit, imam mahdi, ratu adil, buddha maitreya, kalki avatar.
  6. Dan sebagainya.

Lalu ramalan tetaplah ramalan, namun bijak atau tidaknya memberikan ruang keyakinan pada suatu kekuatan agung ramalan itu adalah merupakan suatu pilihan tersendiri. Fenomena yang terjadi baik secara abstrak atau pun yang teryakini nyata, adalah berunsur dari pemahaman dalam tingkat spirit yang mungkin berbeda-beda pada setiap individu secara subjektif. Lalu apakah pemahaman dari ego menjadi suatu konstribusi pada super ego secara kolektif, berdasarkan jelas pada sifat serta psikologi masing-masing secara perorangan atau individu.

Kembali juga di atas tentang nilai-nilai yang tergerus pada suatu masa, bahwa Pancasila yang disebut sebagai ideologi bangsa, serasa berseberangan antara sila pertama dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Contoh nyata adalah bahwa kesempurnaan dari suatu keyakinan menjadi membabi buta, apa pun yang berbeda malah menjadi bulan-bulanan mereka. Hal itu sepertinya ditujukan kepada telinga para pembela fanatik dan fundamentalis yang telah ditutup dan bahkan menuju suatu pembenaran diri sendiri. Tidak ada yang sanggup dilakukan, kecuali dengan tegas untuk menerobos, mendekontruksikan moralitas yang sesuai dengan ideologi bangsa yang harus tidak pernah akan bisa dihancurkan oleh sekelompok kecil manusia-manusia yang mungkin salah dalam penafsiran kitab suciNya. Dipastikan pula memang benar bahwa bangsa ini masih terjajah dari sisi ideologinya. Dan pada dasarnya kemenangan seperti yang disyaratkan oleh beberapa kitab suci, seperti bhagawadgita dan sarasamuscaya menyebutkan kemenangan dharma yang agung itu adalah suatu hal yang pasti. Kemana pun suatu jaman itu tertuju, intinya adalah dharma pasti menang pada akhirnya. Namun proses menuju ke sana adalah suatu hal yang sejalan dengan paham Karl Marx tentang utopia di masa nanti. Bukan hal yang mustahil rasanya, karena tidak mungkin Tuhan sebagai keagungan semesta membiarkan mereka-mereka yang ikhlas sujud tidak mendapatkan karma yang sesuai. Pada saat akhri jaman itulah bagaimana keyakinan masing-masing diuji sedemikian rupa untuk bersama-sama menuju suatu akhir yang sayangnya indah bagi yang memuja keagungan-Nya.

Pada intinya adalah paham yang diyakini oleh umat hindu yang terangkum pada Panca Sraddha, bahwa karmapala itu tetaplah terjadi baik yang teryakini, atau pun yang kurang teryakini. Termasuk samsara dan tujuan akhir kemoksaan. Dasar dari suatu pemikiran tentang agama yang dituduhkan selalu brutal dan mengancam kehidupan, sebenarnya memiliki sesuatu keilmubatinan yang hampir mirip dengan apa yang diyakini oleh  filsafat moksa dari Hindu itu sendiri. Keilmuan atau pembelajaran batin dari seorang islam (muslim) sangat dekat keterjadiaannya dengan moksa itu sendiri. Pembelajaran itu adalah filsafat Mahrifat yang diperkenalkan atau disebarluaskan oleh Syeh siti Jenar dengan juga oleh Sunan Kalijaga. Mengapa dikatakan mirip, karena pada dasarnya bagaimana persatuan raga dengan Sang Khalik hampir sama dengan moksa yaitu pengetahuan tentang “diri” itu sendiri.  Dan bisa disandingkan dengan “Sangkan Paraning Dumadi”, atau bisa juga dihubungkan dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”.

Seperti yang diceritakan oleh Ngakan Putu Putra tentang Tuhan masa depan, maka sebagai suatu paham monotheisme, islam sudah menjadi suatu agama yang mengerikan. Di mana karena disangka mempersekutukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, maka agama lain (baca: agama bumi) dianggap sebagai agama yang lebih rendah dari yang mereka anut (islam). Padahal terdapat beberapa istilah bagaimana ayat Quran yang menyebutkan  “Agamamu agamamu, agamaku agamaku”.  Itu adalah salah satu ayat yang menjadi tameng terakhir jika suatu ayat pengislaman dilakukan suatu waktu di saat ini. Sebagaimana pula oleh Ngakan putu Putra, menyebutkan kelemahan-kelemahan dari paham transendensialisme dari Sang Khalik. Paham yang lain seperti Monisme atau pun paham pantheism sebenarnya bisa ditelisik kepada bahwa yang Kuasa mengimanensikan diri-Nya ke pada suatu alam semesta. Seperti juga yang disebutkan pada filsafat “tat twam asi” yang menyamaratakan manusia dan bahkan mahluk lainnya.

Pantheisme atau sebagai suatu paham semua adalah Tuhan, menyebutkan bahwa Tuhan berada di mana-mana sesuai dengan apa yang IA inginkan sendiri, atau bahkan apa yang diinginkan penganutNya. Sebagaimana disebutkan pelangi atau perbedaan antar umat-Nya, sebenarnya telah membebaskan bagaimana cara untuk menjadi abdi-Nya. Kerusuhan akibat keyakinan yang berbeda adalah suatu musuh dan bahkan penjajahan atas ke” Bhineka Tunggal Ika”an itu sendiri. Hal mutlak yang dilupakan adalah sila Ketuhanan yang Maha Esa sangat berseberangan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang seharusnya berlaku secara menyeluruh dengan sila-sila lainnya. Di saat keyakinan dijadikan senjata dalam memborbadir bangsa sendiri sebagai upaya menegakkan segala yang dianggap pembenaran dogma, maka Keadilan Sosial sebagai tujuan akhir dari suatu bangsa akan terjerembab dengan buruknya moralitas Pengkhidmat Kebijaksanaan yang sesungguhnya dipilih oleh rakyat itu sendiri. Apa yang salah dalam hal ini adalah mengingatkan pada suatu dekontruksi moralitas yang memerlukan suatu revolusi dari cara berpikir dan cara merasa.

Setelah melihat berbagai persoalan yang didapat secara gamblang di atas, maka terbesit suatu pemikiran yang mungkin diilhami oleh beberapa cendekiawan religi termasuk pula almarhumah Gusdur, maka didapat sebuah kata yaitu “universalitas”. Kata itu sendiri bisa dianggap memiliki suatu kesakralan yang tinggi seperti juga bahwa agama memiliki wilayah sakral dan juga profan yang dipahami oleh Durkheim sebagai bentuk psikologi kolektif di suatu lingkungan sosial.  Universalitas adalah berarti apa yang terdapat di setiap agama, baik agama apa pun itu jika ditelaah secara mendalam, dan bukan hanya dari fisiknya saja, maka filsafat berbagai agama itu bisa diperbandingkan dan pula bisa diakulturasi sedemikian rupa menjadi suatu pemahaman yang baru. Sebagai contoh seperti agama Shiva dan agama Budha yang telah terbukti menjadi suatu akulturasi filsafat yang masih ada sampai sekarang ini.

Perkembangan lainnya yang telah terbukti adalah bagaimana persatuan serta akulturasi antara Islam dan Hindu yang terbukti masih tampak di lombok (Islam Watu telu).  Dan pula di wilayah di Bali, terdapat pelinggih Ida Bhatara Mekkah pada Pura Negara Gamblung Anglayang yang memang lah sebagai simbol keislaman yang dihindukan atau bisa sebagai penghormatan atas islam itu sendiri.  Di samping pula berbagai penyamaan antara Syeh Jenar dengan leluhur Hindu Dang Hyang Nirartha (fenomena). Di samping itu pula bahwa suatu filsafat atau tattwa suatu agama, pada dasarnya akan secara otomatis sesuai dengan perkembangan jaman menuju pada akulturasi itu sendiri. Penyatuan ini juga tampak secara gamblang di daerah India, di mana Guru Nanak menakdirkan dirinya menyatukan Islam dengan keHinduan dan melebur menjadi Agama Sikh.

Seperti yang dituduhkan oleh yang lainnya, bahwa Hindu adalah sebagai agama yang politheism, sebenarnya adalah bahwa hindu memiliki berbagai sudut pandang atas apa-apa yang dituduhkan. Sebagaimana misal bahwa dewa yang dipuja, adalah sebenarnya memiliki fungsi tersendiri. Hal itu juga terdapat pada fungsi-fungsi Allah(baca:Tuhan) yang terangkum pada Asma Ul Husna, yaitu 99 nama Allah yang menjelaskan fungsi dari Allah itu masing-masing. Jika diibaratkan sebagai suatu universalitas, perlu digaris bawahi makna kata dari “menyekutukan” Allah adalah bahwa Allah diserang bersama-sama (sekutu) untuk memperoleh suatu kemenangan atas Allah tersebut.  Padahal dalam berbagai kesempatan adalah bahwa Allah yang disekutukan oleh beberapa pengikut fanatisnya dan memberikan sembari kasta kafir dan non kafir yang membuat perbedaan tinggi rendahnya manusia yang bahkan tidak sesuai dengan maha keadilan Allah tersebut. Kembali ke kata-kata Gusdur dengan pluralismenya, menyebutkan bahwa “Orang tidak akan melihat engkau dari agama apa, dari suku apa, kelahiran apa, jika engkau bermanfaat bagi manusia lainnya”, seperti itu kira-kira pernyataan Beliau.

Penalaran dalam memberi suatu penggambaran atau bayangan terhadap Yang Kuasa, sebenarnya tergantung dari bagaimana memandang Tuhan secara filsafati atau lebih mendalam. Maksudnya adalah wilayah abstrak Tuhan (Allah) dapat dikatakan bersifat melalui penggambaran 99 nama Asma ul Husna. Hal ini bisa juga ditelaah oleh tiga fungsi Tuhan dalam Tri murti yang transendensial yang mirip pula dengan sifat Asma ul husna yang juga transenden. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk membuka suatu jalan yang mungkin penuh makna di masa yang akan datang.

Secara fungsi dari Tuhan yang diagungkan oleh siapa pun itu, maka dalam hindu disepakati bahwa Utpeti, Sthiti, Pralina sebagai Tri murti, yaitu Brahma , Wisnu, Siwa, maka fungsi vital dan sakral itu sebenarnya pula terdapat pada agama-agama yang lainnya baik secara nyata atau secara terbersit. Dan bagi islam, maka Zikir Asma ul Husna dengan japa apakah itu Mahamrytunjaya, atau Japa thiruu neelam kantam, sebenarnya bisa dan sangat boleh disandingkan secara bersama-sama untuk bisa menjadi suatu ketidakberdayaan di hadapan Brahma Al-khalik yang menunjukkan fungsi tersendiri. Dan apakah ada suatu jawaban tersendiri dari pembenaran atau kebenaran itu nantinya, maka kembalikan dari bahwa jaman kaliyuga tidak selamanya akan ada. Dan teryakini bahwa jaman lain yang terhubung dengan kaliyuga seperti jaman Kertha Yuga yang merupakan jaman keemasan manusia akan terjadi  di kemudian hari.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Tauhid Asma wa sifat melalui Asma ul Husna serta kajian Mahrifat menuju syareat

Ini tulisan pertama tentang islam dan mudah2an membawa manfaat bagi para saudara muslim…taqqiyah adalah jalanku..

Asma wa sifat menurut apa-apa yang telah saya baca dan coba resapi adalah suatu bagian dari tauhid yang mana pula memiliki tiga jenis dimana dua jenis lainnya dihilangkan, kalau mau di wacanakan sebagai suatu nusantara bahasa dapat disebut sebagai Tri Tauhidyah…

yaitu

1.Rubbubiyah

2.Uluhiyah

3.Asma wa sifat…

dua lainnya yang dihilangkan adalah hakimiyah dan mulkiyah karena sudah memasuki wilayah pertama dan kedua..

dalam hal ini saya berbicara tentang asma wa sifat…seperti juga yang telah saya baca adalah iman terhadap bahwa pada dasarnya Allah memiliki suatu sifat dan atas dari nama-nama Allah…Nama-nama Allah itu maka dibagi menjadi 99 nama, maka disinilah kita dapat melihat dan mencermati bagaimana 99 nama Allah yang mulia…

Asma Al-Husna

No.         Nama    Arab      Indonesia

Allah      الله        Allah

1              Ar Rahman          الرحمن   Yang Maha Pengasih

2              Ar Rahiim             الرحيم Yang Maha Penyayang

3              Al Malik                الملك     Yang Maha Merajai/Memerintah

4              Al Quddus           القدوس                 Yang Maha Suci

5              As Salaam            السلام   Yang Maha Memberi Kesejahteraan

6              Al Mu`min           المؤمن    Yang Maha Memberi Keamanan

7              Al Muhaimin      المهيمن Yang Maha Pemelihara

8              Al `Aziiz                 العزيز Yang Memiliki Mutlak Kegagahan

9              Al Jabbar              الجبار   Yang Maha Perkasa

10           Al Mutakabbir   المتكبر              Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran

11           Al Khaliq               الخالق   Yang Maha Pencipta

12           Al Baari`                البارئ Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)

13           Al Mushawwir   المصور                Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)

14           Al Ghaffaar         الغفار Yang Maha Pengampun

15           Al Qahhaar          القهار     Yang Maha Memaksa

16           Al Wahhaab        الوهاب    Yang Maha Pemberi Karunia

17           Ar Razzaaq          الرزاق    Yang Maha Pemberi Rejeki

18           Al Fattaah            الفتاح                 Yang Maha Pembuka Rahmat

19           Al `Aliim                العليم Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)

20           Al Qaabidh          القابض               Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)

21           Al Baasith            الباسط                 Yang Maha Melapangkan (makhluknya)

22           Al Khaafidh         الخافض               Yang Maha Merendahkan (makhluknya)

23           Ar Raafi`               الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya)

24           Al Mu`izz              المعز      Yang Maha Memuliakan (makhluknya)

25           Al Mudzil             المذل      Yang Maha Menghinakan (makhluknya)

26           Al Samii`               السميع                 Yang Maha Mendengar

27           Al Bashiir              البصير             Yang Maha Melihat

28           Al Hakam             الحكم     Yang Maha Menetapkan

29           Al `Adl   العدل     Yang Maha Adil

30           Al Lathiif               اللطيف               Yang Maha Lembut

31           Al Khabiir             الخبير                Yang Maha Mengenal

32           Al Haliim               الحليم Yang Maha Penyantun

33           Al `Azhiim            العظيم Yang Maha Agung

34           Al Ghafuur          الغفور                 Yang Maha Pengampun

35           As Syakuur          الشكور                 Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)

36           Al `Aliy العلى    Yang Maha Tinggi

37           Al Kabiir                الكبير                Yang Maha Besar

38           Al Hafizh              الحفيظ               Yang Maha Memelihara

39           Al Muqiit              المقيت                 Yang Maha Pemberi Kecukupan

40           Al Hasiib               الحسيب               Yang Maha Membuat Perhitungan

41           Al Jaliil   الجليل                 Yang Maha Mulia

42           Al Kariim              الكريم Yang Maha Mulia

43           Ar Raqiib              الرقيب                Yang Maha Mengawasi

44           Al Mujiib              المجيب                 Yang Maha Mengabulkan

45           Al Waasi`              الواسع Yang Maha Luas

46           Al Hakiim             الحكيم Yang Maha Maka Bijaksana

47           Al Waduud          الودود    Yang Maha Mengasihi

48           Al Majiid              المجيد   Yang Maha Mulia

49           Al Baa`its              الباعث                 Yang Maha Membangkitkan

50           As Syahiid            الشهيد Yang Maha Menyaksikan

51           Al Haqq                الحق       Yang Maha Benar

52           Al Wakiil               الوكيل                 Yang Maha Memelihara

53           Al Qawiyyu         القوى    Yang Maha Kuat

54           Al Matiin              المتين                 Yang Maha Kokoh

55           Al Waliyy              الولى    Yang Maha Melindungi

56           Al Hamiid             الحميد   Yang Maha Terpuji

57           Al Muhshii           المحصى               Yang Maha Mengkalkulasi

58           Al Mubdi`            المبدئ Yang Maha Memulai

59           Al Mu`iid              المعيد   Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

60           Al Muhyii             المحيى                 Yang Maha Menghidupkan

61           Al Mumiitu          المميت Yang Maha Mematikan

62           Al Hayyu              الحي      Yang Maha Hidup

63           Al Qayyuum       القيوم Yang Maha Mandiri

64           Al Waajid             الواجد     Yang Maha Penemu

65           Al Maajid             الماجد     Yang Maha Mulia

66           Al Wahiid             الواحد     Yang Maha Tunggal

67           Al Ahad                الاحد       Yang Maha Esa

68           As Shamad          الصمد   Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta

69           Al Qaadir              القادر    Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan

70           Al Muqtadir        المقتدر                Yang Maha Berkuasa

71           Al Muqaddim     المقدم    Yang Maha Mendahulukan

72           Al Mu`akkhir      المؤخر   Yang Maha Mengakhirkan

73           Al Awwal             الأول      Yang Maha Awal

74           Al Aakhir              الأخر      Yang Maha Akhir

75           Az Zhaahir           الظاهر     Yang Maha Nyata

76           Al Baathin            الباطن Yang Maha Ghaib

77           Al Waali                الوالي   Yang Maha Memerintah

78           Al Muta`aalii       المتعالي             Yang Maha Tinggi

79           Al Barri البر      Yang Maha Penderma

80           At Tawwaab       التواب Yang Maha Penerima Tobat

81           Al Muntaqim      المنتقم                Yang Maha Pemberi Balasan

82           Al Afuww            العفو   Yang Maha Pemaaf

83           Ar Ra`uuf             الرؤوف                 Yang Maha Pengasuh

84           Malikul Mulk      مالك الملك            Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)

85           Dzul Jalaali Wal Ikraam   ذو الجلال و الإكرام             Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

86           Al Muqsith          المقسط                 Yang Maha Pemberi Keadilan

87           Al Jamii`                الجامع    Yang Maha Mengumpulkan

88           Al Ghaniyy          الغنى    Yang Maha Kaya

89           Al Mughnii          المغنى Yang Maha Pemberi Kekayaan

90           Al Maani              المانع    Yang Maha Mencegah

91           Ad Dhaar             الضار   Yang Maha Penimpa Kemudharatan

92           An Nafii`               النافع Yang Maha Memberi Manfaat

93           An Nuur               النور     Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)

94           Al Haadii               الهادئ     Yang Maha Pemberi Petunjuk

95           Al Baadii               البديع                 Yang Indah Tidak Mempunyai Banding

96           Al Baaqii               الباقي                 Yang Maha Kekal

97           Al Waarits            الوارث   Yang Maha Pewaris

98           Ar Rasyiid            الرشيد                 Yang Maha Pandai

99           As Shabuur         الصبور              Yang Maha Sabar

bagi suatu pembahasannya maka Asma wa sifat itu mungkin dan benar pula adalah bagaimana cara manusia yang teridhoi mampu mensifati Allah…dalam bahwasanya maka hal itu adalah tidak sangat mudah namun bukan hal yang mustahil..dan ini mungkin pula dapat diarahkan sebagai bagaimana dijaman lalu sya sadari sangat erat dengan bagaimana mahrifat itu bisa tercapai tidak dengan sembarang orang..syeh siti jenar mungkin pula menyadari hal ini, jika wali menyupat kanjeng syeh jenar maka bisa saja melupakan sifat Allah Al Qadiir…namunalangkah baiknya jika mahrifat itu dibarengidengan bagaimana syareat itu dilaksanakan sedemikian rupa…sungguh pun mungkin ada maknanya…

salam rahayu rahayu rahayu _/\_

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2011 in agama

 

Tag: , , , , ,

antara aliran syeh siti jenar, komunis, dan agnotisme..tinjauan terhadap konsep..

dalam pertautannya..maka dapat dijelaskan bagaimana posisi aku adalah Tuhan dari sisi syeh siti jenar…

dapat dijelaskan bahwa syeh siti jenar memiliki jiwa murni dan penuh kebijaksanaan dalam diri pribadinya…jika suatu rasa itu ada, maka sangguplah jika ia dapat mengatakan Sang Aku dalam dirinya…itu berarti bahwa Tuhan sudah menyatu dalam setiap raga dirinya…

Sang Aku itu adalah dimana setiap rasa dalam dirinya bersifat KeTuhanan..dan bagaimana Tuhan itu memiliki makna yang ranum untuk ditelaah kembali…

Sang Aku dan Aku aku yang lainnya..adalah suatu kata dimana diri adalah Tuhan individu yang nyatakan bahwa wess onok Tuhan dalam hatiku…yang nyatakan bahwa terdapat setiap kebenaran dalam diriku untuk berbuat berdasarkan kebenaran Hati yang murni, yang berisikan ajaran-ajaran tentang KeTuhanan…dan menerapkannya dengan selalu mencari arti dari keberadaan Beliau tersebut, di luar..sebagai Sang Aku yang sujati…

di manapun ada Beliau yang terpancar dari sikap individu perseorangan, yang memiliki sifat sifat KeTuhanan dalam dirinya…jadi Sang Aku dalam diri setiap manusia…

jika dihubungkan dengan akhir ajaran komunisme, maka utopia adalah suatu keadaan dimana kesejahteraan sosial telah tercapai serta keadilan sosial…hal itu jika ditelaah maka setiap orang harus paling tidaklah memiliki sifat atau sikap KeTuhanan dalam dirinya…karena dengan hal itu maka tiada orang miskin dan keadilan sosial tercapai baik rohani dan jasmani….

dan agnotisme…adalah sikap atau sifat mencari pembenaran bahwa ia adalah pencari jalan KeTuhanan…
http://www.religioustolerance.org/agnostic.htm

bahwa ia adalah pencari kenapa Ia tu exist ataupun tidak dan mengapakah kita masih sengsara…

dan ini jawaban dari semua jawaban bahwa kita sengsara karena tiadaNya Sang Aku dalam diri kita…

benarkah??

diambil dari blogs
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2009 in filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: