RSS

Arsip Tag: transenden

Aktualitas Sila Pertama Pancasila..(membungkam intoleransi)..

Sahadja pancasila jaya negara samastha..amin

20131028-234625.jpg

Seperti diketahui bahwa Pancasila adalah bukan sekedar ideologi tanpa makna..Tapi merupakan kendaraan atau wahana untuk mencapai suatu kedaulatan tertinggi berdasarkan moralitas harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan…

Tuhan menciptakan menusia dengan keniscayaan serta keadaan yang pelangi,yang berbeda yang bermacam – macam warna apa pun itu..Lalu bagaiman itu berjalan dengan seimbang damai dan berkelanjutan sebagai dasar pemahaman spiritualitas yang kuasa, maka itu perlu menjadi sugestifitas kelayakan hidup sebagai manusia yang bertuhan baik secara etika secara filsafati dan keluhuran berkehidupan.

Maka sebuah keberharusan namun menuju kebijaksanaan hati bahwa privasi hubungan antara tuhan dan umatnya adalah keniscayaan dan daulat dari tuhan serta semesta juga. Hal itu sudah terdapat secara sahih fakta dan diamanatkan oleh pancasila sendiri, melalui butir-butirnya. Ini adalah sebuah keharusan ketika malah penjajahan dari ideologi itu sprti sebuah garis kehidupan yang suram pula dan menutup mata hati batin para pemegang jabatan pemerintahan. DOsa-dosa itu masih diingat dan tak akan pernah lenyap. Karena ketika itu tidak menjadi suatu bahasan filsafati dan prilaku yg baik pancasilais, maka mereka adalah sebenarnya benalu penjajah kekuatan bangsa indonesia sendiri..

Untuk penjajah yang menjajah sila pertama adalah ini:

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atas Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mutlak. Namun taqwa artinya adalah disesuaikan dengan apa yang dipercayai. Taqwa atas etika atas ritualitas adalah berbeda. Karena Sakralitas dan profanitas dari setiap agama berbeda.DI satu sisi sajadah adalah sakral, di satu sisi dupa adalah baik dibutuhkan , namun ketika sakralitas itu direndahkan dengan mencemooh apa pun sesuai pemahaman dari kitab2, maka kitab adalah sebuah sakarilats di tempat agama A tetapi tidak di agama B. Maka jangan ketika itu berbeda membuat keyakinan menjadi berkurang dan malah lenyap atau menuju ketidak beradaban. Ketika seni dan budaya adalah soal rasa, maka tidak ada lebih bermakna bagi rasa dari seni budaya menuju kepada rasa yang cinta akan tuhan itu sendiri. Bukankah rasa itu lahir dari cinta atas sifat kedamaian akan Tuhan? itu aktualitas makna kebersamaandan memperbesar bangsa secara sekaligus.

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Maka ketika ini adalah sebuah hambatan akan keberadaban, maka biadab adalah aktualitas manusia penjajah. Mereka tutup mata akan itu, ketika seni sebagai keberadaban dan adil akan kebebasan beritual, tanpa merendahkan sakralitas agama lainnya, maka DURkheim pun mengiyakan surga damai itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan. Sangat mudah, ketika memberi selamat memberi kebebasan sebagai saudara sebangsa setanah air dengan ilmu filsafati, haqiqat, cinta kasih tuhan, ilmu syariat dan minggu kebaktian dengan waisak, atau tarekat serta japa, dan pula moksah mahrifat, maka ketika itu berkembang dengan sakralitas yg dijaga, apakah manusia indonesia nusantara akan terjadi kekerasan agama??

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Maka aktualisasi itu adalah privasi, dan apakah itu menjadi kenyataan, maka kebijaksaaan dari yg melakukan ritualitas yg beretika berfilsafati tinggi serta menghormati adalah sebuah sikap mulia yg dibalikkan dengan rasa hormat yg lebih tinggi..

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sikap fundamentalis serta menghanguskan atau menganggap rendah yang lainnya adalah bagian yg dikembalikan dengan sikap yang sama pada akhrinya..Ketika aktualisasi itu sngatlah mudah, memberi selamat saat hari raya, maka mengurangi ego keagamisan yg bengis, menjadi sikap hormat menghormati serta meniadakan kebodohan yang membelenggu dari kualitas manusia yang bertuhan.. Tidak ada tuhan pada manusia yang mengmban misi penghancuran. Secara logis dan mudah adalah, manusia akan mendapat apa yang dia tanam, tidak ada menanam nanas tumbuh rambutan, tidak ada yang menanam benci tumbuh kedamaian kecintaan kesukaan, tidak ada yg menanam dukha lalu mendapatkan cita suka ria, itu tidak logis dalam agama apa pun..Ketika ada yg menghancurkan kedamaian, maka ada beberapa kesimpulan.

1. Apakah mereka menghabiskan WAKTU untuk mmpelajari kedalaman keramahan kedamaian kitab sendiri, atau cuma belajar menebar kebencian, dan prasangka, lalu berharap surga….itu parah dan gila yang telah medogmatis mereka, ajaran agama tidak cukup dipejari dengan satu kali kehidupan dan lalu dengan mudah mendapat surga serta meninggalkan jejak kehancuran di yang ditinggalkan…itu bukan agama…itu setan…

2. Lalu evolusi keagamaan, bukan saja dari ritualitas, tapi dari etika moralitas akhlak (islam) susila (hindu) buddhi(kjawen) manusia nusantara juga, dan ritualitas – syariat (islam), yadnya (hindu) kebaktian (nasrani), serta dari filsafati itu sndiri tattwa (hindu), haqiqat( islam), dan menuju kebersatuan illah dan manusia ..mahrifat(islam) moksartham (hindu) manunggal kawula gusti (kjawen)..Itu adalah evolusi yg saya rasa universal dan spirit..Itu tidak hanya menjadi senjata akan mentalitas moral yg tinggi dan melihat setiap manusia sebagai saudara sedarah seperjuangan..

3. Kemudian dari pihak pemerintah yang cenderung mnjadikan pembiaran karena apa??apa karena takut, atau karena kedangkalan dari pemahaman mereka tentang moral itu sendiri.. FIlsafat moral adalah harus diterapkan dimengerti dari para pemimin jabatan.. Ketika agama sebagai moralitas tertinggi, tentunya adalah kebobrokan mental dan evolusi yang rendah atas pemahaman spirituaitas mereka.. Dan sangat terbukti dari kasus2 korup dari para petinggi agama.. Itu memalukan bangsa, memalukan negara memalukan umat, dan memalukanrakyat dan Tuhan itu sendiri.. Maka Keadilan tuhan bisa jadi mnjadi keadilan rakyat dan bahkan bisa dipaksakan.. Bukankah revolusi sudah sering dan pernah terjadi??namun mental yang direvolusi dengan cermin serta kontemplasi akan membawa kesadaran serta keniscayaan.. TIADA ADA YANG BISA MELAWAN KETETAPAN DAN KEADILAN TUHAN ESA

 

DAn Itu adalah kemutlakan serta keniscayaan indah damai di masa depan, Aktualisasi yang paling hakiki adalah menerapkan hukum pancasila sebagai media kontemplasi dan bercermin UNTUK MENCARI KEBENARAN BERKEBANGSAAN. Lalu ketika itu telah dilaksanakan, maka KETETAPAN TUHAN LAINNYA adalah disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing..TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR, DAN TUHAN PASTI ADALAH KEADILAN..

Maka selayaknya kedamaian itu hadri, dari “DIRI” yang laksana Illah, dan kemudian menuju KETERWUJUDAN Lingkungan ILLAH di keluarga, masyarakat, dan Bangsa bernegara..

 

SALAM

TAPI “AKU” TAK PERNAH MATI

TAK AKAN BERHENTI

 

“Kami tidak TAKUT”..

gwar juni 2014

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2014 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Mengejawantahkan Takdir, Nasib, Misteri Ilahi dengan Sebutan Pahala dari Karma

Sebuah renungan…..

Takdir…..

Apakah rahasia diri…Yang terbelenggu…oleh

Rasa Benci, Kesusahan, dan Terlahir…

Sebagai sesuatu yang memiliki “Nilai”….

Bagaimana misteri itu terjadi, jika sebenar-benarnya…

Sukma melingkupi kehadirat Transendensial Khalik yang Memiliki…

Nama Waishnam Al Basit…(maha pemurah wahai Wisnu)…

Bahwa itu adalah apakah Sancita Karmapala….

dan itu wahai semua adalah bagian dari..

Kemutlakan Shaiwa Al Azim (Maha Agung Wahai Siva)…

Nasib…

Bagaimanakah beban kehidupan…

Seperti lelah letih dan tamasika menyapa…

Lalu bagaimanakah Indah Keimanan??

Tiada terkata sengsara lemah dan terkulai..

Apakah kejadian nyata ini tergambarkan hina??

Nasib dan kenyataan akan riuh rendah roda di bawah…

Jika memang Kryamana Karma berpahala…

Maka janji keagungan Semesta (dharma) menjadi..

Bagian tanpa nestapa jika keyakinan terlaksana..

Bersama Tattwa Susila dan Keritualan..

Memohonlah pada Waisnham Al Hafiz (Maha memelihara wahai Wisnu)..

dan jalan Pahala akan menjadi kesampurnaan “diri”…

Misteri Ilahiah..

Apapun yang terasa sampai saat jaman berakhir..

adalah bagaimana suatu cita rasa dan karsa..

Terkumpul pada Saiwa Al Aliy..(Saiwa Maha Tinggi serta Mulia)..

menuju suatu Kepahaman dan Kesunyatan Imanensia…

Yang sungguh tercerahkan…

Bahwa Saiwa ALghafur (Saiwa Maha Pengampun)..

terinsafkan sebagai …

Zikir dan Japa…

Maka Kehakikian Manunggaling Gusti Kamoksaan,,

Mahrifatuallah tercapai bukan hanya mendalam..

tapi Menyata secara Realita..

Pada Keagungan dan Kebenaran Dharma..

Yang Mutlak dan Abadi…

atas berkat

Saiwa Al Muthakabir…(Siwa pelengkap yang Agung)..

santi styam eva jayate…

GWAR Oktober 2012,,

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , ,

Pantheisme…Imanen….coba resapi, benar damai..

Pantheisme dapat dikatakan sebagai suatu pemahaman dimana Tuhan meresapi segala mahluk…hal ini dapat dihubungkan pada sisi bagaimana membahas atman sebagai percikan dari Tuhan…

Yapz atman adalah memang sebagai bagian dari Tuhan…jadi ada Tuhan dalam diri setiap mahluk hidup, yang menghidupi dan menjadikan mahluk hidup itu berhayat..Jika sebenarnya diresapi, manusia yang menyayangi Tuhannya (beragama) tentu pula menyayangi mahluk hidup tersebut…karena dalam penalarannya ada percikan Tuhan dalam diri mahluk hidup itu…menyakitinya??berarti menyakiti Tuhan itu sendiri..hmmmm…

Imanen dimana Tuhan adalah hadir dalam diri setiap mahluk, tiada jauh kok..dekat sedekatnya…disamping kiri, disamping kanan…seseorang anak ayah adalah terhadiri Tuhan disana…tahu yang dilakukan adalah menyayangi dan mencintai itu gampangnya….jika paling tidak separuh lebih satu dari manusia melakukannya…hmmmm…damai bukan suatu impian…

pertanyaan yang terbersit….baru saja adalah jadi semua adalah Tuhan dong…Tuhan ada dimana-mana mungkin benar, namun apakah kita menerapkan sembah kepada setiap mahluk hidup?jadi kita menyembah belalang, singa, manusia…kembali ke jaman itu yaa…

waaah….

di saat semua rasa menjadi suatu ego tanpa cinta…

di saat semua rahasia menjadi asa yang tanpa kasih…

mungkin di saat itu pensifatan(AUM)  hilang menuju…

Transendensi…….dalam hening..

salam gwar..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , ,

 
%d blogger menyukai ini: