RSS

Arsip Tag: tri guna

Tiga temperamen manusia menurut Mahanirwana Tantra

Om hyang parama kawi namastute..mahatantra ya ja mahe..sweca rahayu sanjiwani..sinampura hring manah..succi buddhi citta ahamkara..dumogi sirna duka larra rogha..om

Dalam konsep mahanirwana Tantra, dimana dikatakan adalah bahwa tantra diajarkan layak pada jaman kali ini, maka terdapatlah beberapa konsep tentang sifati manusia yang membedakan satu dengan yg lainnya. Ini adalah tetap menjadi kuasa tri guna untuk memperlihatkan bagian mana yg paling aktif di antara itu. Tentunya bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memahami diri untuk menuju pada kebajikan sebagai cermin dalam kehidupan yang menuju ke-shanti-an..

Tiga temperamen itu yang bisa dijelaskan adalah..

Pashu bhawa yaitu temperamen yang berkarakter sebagai binatang. Dalam hal ini adalah bahwa raja guna atau rajas sbagai sesuatu sifati yang aktif, bekerja kepada tamasa guna yaitu menggerakkan kegelapan. Jadi bahwa rajas mengaktifkan sisi tamasik atau kegelapan..Ia yg bersifati atau bertemperamen ini akan menampilkan sisi bharanti(berbuat kesalahan), tandra (lesu dan malas), dan kecerobohan (alasya). Pashu adalah mereka yg terlalu terikat akan keduniawian, dan jga banyak diliputi ketidakmengertian, tidak menyukai akan jnana. Ia yg tidak mau menyentuh yantra (wewantenan-bali), tidak melakukan japa jga mantra, enggan melaksanakan yadnya(pengorbanan) atau tantra, tidak yakin terhadap guru, tidak menyakralkan arca pratima, membeda2kan dewata, puja tanpa tahu artinya, berbicara buruk ttg orang lain, dan sifati buruk manusia yg lainnya. Semoga bisa menghindari temperamen ini..

Wira bhawa adalah temperamen berikutnya dimana secara tri guna adalah rajasnya banyak mendorong guna sattwika, namun masih banyak guna rajas itu bebas, sehingga dapat menimbulkan kedukkaan. Rajas yg tidak terkendalikan itu, bisa menjadi sebuah kejahatan saja, karena sattwika guna belum mampu menguasainya. Orang ini sangat mudah sekali tersinggung, terpacu, atau terangsang atas sesuatunya, akibat dari rajasnya yg berlebih dan dominan. Pada suatu waktu ktika Ia terlalu terlewat akan guna rajasnya, bisa terlempar menuju temperamen pashu bhawa. Ibaratnya ia keberaniannya bisa menjadi suatu kesalahan yg membuat dirinya terlepas atas sattwika guna. Keterbiasaan atas prilaku itu membuatnya gelap. Sehingga bisa memasuki alam sapta timira. Penyadaran diri atas kebajikanNya jga jnana dan pengakuan atas mantra yantraNya adalah yg bisa membuat temperamen sifatiNya meningkat.

Diwya bhawa adalah bagaimana ia bisa membuat suatu sattwika guna menarik rajasika larut ke dalam sattwika guna itu.. Dalam tattwa disebutkan bahwa ketika bicara tentang kamoksaan, tujuan kita maka sattwika guna adalah bagian yg menjadi hal utama itu menuju tujuan itu. (wrsptti tattwa). Disebutkan ciri2 dari diwya bhawa adalah selalu menyucikan diri setiap hari, berbuat amal setiap hari, keyakinan tinggi akan weda, sastra, guru, dewata, melakukan puja atas dewa juga pitra, pengetahuan mantra yg mendalam, menghindari perbuatan kejam dan buruk, memandang lawan dan kawan sama, selamanya bicara kebenaran, tidak bersahabat dan berkumpul dgn mereka yg mencerca dewata, melakukan meditasi, menghormati wanita, dan susila yg lainnya..

Semoga kita menjadi yg sebaik-baiknya manusia berbudhi itu, dalam kehidupan saat ini..

Swaha..shanti rahayu..

Gwr..2018 apr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 April 2018 in agama, doa

 

Tag: , , , , , ,

Tiga waktu (sandhya tiga) dan Konsep Tri Dosha..

Om swastyastu..
Saraswati pradnya paramita nitya..
Sanatana suhci ganapatya swaha..
Ekam eva adityam brhman..
Bhur bwah swah papa hning nirmala..
Nama siwa namo buddha ya..
Swaha..
image

Konsep kala atau waktu adalah suatu wilayah etheris dan wilayah yg akan selalu beradaptasi dgn ruang2 dunia..Ruang yg mmberikan tmpat etheris akasa yang juga berhadapan dgn kekuasaan Kala maya dimana sudah tergariskan dlam satu hitungan hari wuku bulan sasih dan tarikh tarikh yg berbeda..Sebuah kewaskiitaan sendiri dari para keleluhuran pada keyakinan apa pun itu ktika membicarakan tata wakti dan ruang yg selalu berhubungan signifikan dengan psikologi dan jam tubuh manusia…

Pada bahasa hindu, maka ada konsep dewasa, wuku, hari baik, hari pantanganm astronomi dan sbagainya..Dalam konsepmruang ada tata letak wilayah utara timur hulu, barat selatan hilir serta dewata nawa sangha, atau juga tata letak karang yg di bahasa tao itu mnjadi feng shui..Dan Maya tentu saja mengambil bagian penuh di sini ktika dibahasakan hindu..Untuk Maya dipersilakan melihat link ini…

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/02/15/tiga-maya-guna-beserta-hubungannya-dgn-cakra-cakra/

Mengenai keberadaan waktu dalam hari2 nya, maka terdapat jam tubuh dunia, dimana sngat berhubungan dgn maya di tri dosha ini..Tri dosha tentunya adalah vata, pitta, kapha yg brhubungan dgn maya tri guna..sprti yg dapat dicek pada link berikut..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/03/24/maya-yg-memasuki-di-sapta-serta-tri-dosha/

Vata dalam konsepnya etheris dan vayu sngst berperan pada pagi dan sore hari..serta musim2 yg sejuk..pitta berperan pada siang hari kapha pada saat malam yg lembab krna brisikan air dan tanah pertiwi…Ini sngat terlihat pada jam2 tertentu perpindahannya, namun disesuaikan pada wilayah masing-masing..Di suasana yg ekstrim sprti di gurun dan di tmpat bersalju, maka kombinasi waktu vata pitta kappa akan benar berbeda..

Di indonesia sendiri (baca nusantara) maka dlam bahasa Hindu dikatakan ada tiga waktu yg sngat baik untuk mengusahakan keseimbangan tri dosha ini..Seperti juga ttg bahasa jiwa yg mampu memberi “sarapan asupan energi baik” bagi suasana hati dan motivasi diri, yg berhubungan juga dgn cakra2 utama sbagai yg menuju keseimbangan mentalitas..Dengan mengumandangkan rinai ilahi di mantram dan pujam, sbagai sadhana seorang yg mengabil jalan baik menyempurnakan hubungan dgn parahyangan..Maka tiga waktu itu adalah sbuah disiplin yg mgkin akan simpel dan nyaman ktika telah sering dilaksanakan dan mnjadi sadhana spiritual untuk pndasi diri dan jiwa..

Dengan itu maka dibentuklah dikonsepkanlah tiga waktu yg mnjadi waktu vata pitta kapha dan berhubungan jua pada maya tringuna satwik rajas tamas…
Konsep maya yg seimbang di esensi bhagawagita wrspatti tattwa disebutkan:
“Maya adalah bahan membuat semesta AKU mencipta Maya dan semua terlingkupi olehNya, Namun Aku tidak berada di itu dan itu tidak berada di AKu, terkadang satwika akan merajai rajas tamas, trkadang rajas melampaui tamas sattwika, dan juga tamas bisa merajai sattwika rajasika, manusia pun lahir dan bersifat krna keseimbangan maya itu”
1.waktu jam enam pagi sebagai waktu vatta sedang baiknya di semesta, maka berpujam bergayatri bertri sandhya adalah untuk menarik vatta dri semesta serta memengaruhi pondasi mentalitas jihwa itu sendiri..Dan pula menarik positifnya semesta itu sbagai bekal dalam keseharian sattwika guna..

2.waktu jam 12 siang adalah waktu pitta yg senantiasa rajasik dan panas terik, shingga memengaruhi aktivitas agar seimbng kualitasnya..Rajas yg bergejolak akan membuat diri bisa limbung dan ktika tanpa sattwika bersama sama di pagi hari membuat kala waktu yg ada mmbri tekanan mental akan musuh di diri..Dalam hal ini pujam akan menetralisir itu semua dan mmbri keseimbagan yg sahih..Tanpa itu maka emosi mnjadi tinggi, dan perut akan mnjadi cenderung aktif ygnjuga mmbuat emosi dan ambisi meliar serta perlu dijinakkan agar akal masih bisa dipegang secara sehat.. Tentu scara psikis juga sbagai jalan restuNya untuk membiasakan sattwika rajasika beriringan..Waktu trkdanf jdi masqlah dn aktivitas trkadang tidak bisa ditnggalkan, konsep desa kala patra hndaknya dapat berhening dan merapal pujam pada posisi tertentu untuk agar tetap berkonsep sadhana juga…

3.waktu sore jam 6 , maka ini adalah waktu vatta yg beriiringian dng tamasika guna yaitu kappha..setelah waktu ini adalah waktu kappha dimana tubuh telah agak lelah dan kala sudah condong ke arah amlam dan barat..Ini membuat badan malas dan ogah2an serta gegeodaan kala sbagai waktu bermain untuk kala adalah saat kaphha ini mengada dan gelap adalah pasti ttg kappha dosha..Dalam hal ini akan lebih bijak ketika juga merespon itu dnag hening dan mlksanakan pujam..hal ini scra akal sehat adalah untuk tetap bervatta dan sattwika guna sbagai pedoman untuk berisitirahat(tamas) dan atau juga menguasai diri yg menuju aktivitas yg dilaksanakan dgn bermodal tetap sattwika guna dan atau vatta yg mngendalikan kappa agar tidak berlebih dan saling seimbang..(aktivitas pkrjaan malam hari tntu ada)…

Dalam keadaan yg sesuai dgn maya semesta, maka ini hndaknya dijadikan salah satu pedoman pada plaksanaan keseharian..Psikis akan memengaruhi fisik dan mmengaruhi juga kerja hormonal saraf jantung gerak metabolisme tubuh pembelahan sel serta pencegahan atas penyakit2 yang akan muncul..Dalam musim panca roba dimana kombinasi itu sedikit kompleks, maka bisa muncul pnyakit penyakit musiman, entah vatta yg ada pada prntian musim serta gugur dan semi, atau kappa yg ada pada musim dingin ahir musim gugur, atau pitha yg ada pada musim panas gugur kering kemarau…ketidakseimbangan ini bisa diseuaikan dan distabilkan..

Untuk mantram sbagai guna dan pengaruhnya dapat dicek disini..
https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/08/26/kegunaan-mantra-atau-japa-dalam-bentuk-psikologi-pemantra/

Om bhur bwah swah tat savitur varenyam..
Bhrgo dewasya dimahi dhyoyonah pracodayat..
Sarva prani hitankarah..
Palayasva sadah sivah..
Tat pramadat ksma svanam..
Kswtyah kayiko waciko manaso dosah..
Shantii shanti shantii rahayu om..

Guswar maret 2015..

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Maret 2015 in agama, doa

 

Tag: , , , , , , ,

Sivaratri..Malam Memahami Dosa, Menganalisa Maya (Tri Guna)

shiva buddha concept

Sivaratri..

Secara umum, maka sivaratri adalah dikenal malam peleburan dosa. Sesuai dengan cerita Lubdaka yang tidak tidur, dan melempar daun Bila, maka malam ini memiliki suatu energi berbeda untuk memahami dan (mungkin) melebur dosa-dosa yang ada.

Sebelum jauh memandang tentang melebur dosa, hendaknya perlu disadari tentang apakah arti dosa itu, darimana sesuatu itu berasal, dan mengapa itu bisa terjadi? Tentunya pemikiran dan konsep dosa sudah banyak dianalisa, namun sesuai dengan tulisan ini, maka perlu dosa dianalisa dengan konsep Maya (Tri Guna)..

Maya (Tri Guna) atau prakerti, adalah sebuah sifati semesta yang hadir bersamaan dengan hadirnya purusha, atau penciptaan dunia ini. Maya hadir saat Nirguna Brahman (Paratman-Parama Siva) memanifestasikan kehendakNYA untuk menhadirkan dunia serta memiliki Sifati, yaitu Saguna Brahman. Saguna Brahman sendiri terdiri dari Cadu Sakti yaitu Prabhu,Wibhu, Jnana, Krya Sakti. Dan dengan kuasaNya itu, maka Purusha mengadopsi dan mengolah Maya menjadi dunia beserta isinya. Maka sumber dari Tiga Sifati Semesta itu adalah berasal dari Brahman saat memiliki sifatiNYA.

Prakerti atau Maya itu sendiri terdiri dari tiga bentuk(kualitas), yaitu Sattwika, Rajasika, Tamasika. Yang berturut-turut adalah Kebijaksanaan, Aktif, dan Pasif dari semesta. Dalam Bhagawadgita disebutkan :

Bhagawadgita III-27..

Prkertih kryamani gunaih karmani sarwasah,

ahankara-wimudhatma kartaham iti manyate

Artinya : Sementara segala kegiatan kerja dilakukan oleh guna (sifat) dari prakerti,

Ia yang dibingungkan oleh rasa keakuannya berpendapat bahwa .”Akulah si pelakunya”.

Kemudian di Bhagawadgita VII-12

ye caiwa sattwika bhawa rajasas tamasas ca ye,

matta eweti tan widdhi na tw aham tesu te mayi

Artinya : Dan sebagaimana pun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattwik), penuh nafsu (rajas), atau pun malas (tamasa) ketahuilah semua berasal dari AKU, AKU tak disana, tetapi mereka ada pada (KU.

Maka betul sekali ketika dikatakan bahwa tidak ada satu pun mahluk di dunia yang dapat terlepas dari Maya, karena itu berasal dari Prakerti dan pula mempengaruhi purusha itu sendiri. Seperti yang juga dijelaskan pada

Bhagawadgita XIV-5

sattwam rajas tama iti gunah prkrtisambhawah,

nibadhnanti mahabaho dehe dehinam awyayam.

Artinya : Tiga sifat (Guna),Sattwam (kebaikan), rajas (bernafsu), dan tamas (kelembaman) berasal dari alam (prkerti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabaho (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam di badan.

Berdasarkan keseluruhan konsep Tri Guna(Maya), sebagai prakerti yang akan selalu membelenggu jasmani. Membelenggu jasmani dan merupakan suatu kesadaran bahwa manusia atau mahluk hidup, tidak bisa lepas dari tiga sifati semesta itu sendiri. Dalam upanishad sendiri disebutkan bahwa Manusia yang ingin menuju kelepasan, yang notabene adalah tujuan akhir, untuk mendapatkan sebuah pencerahan adalah dengan cara memahami tri guna (maya) itu sendiri.

Dosa atau suatu karma buruk, adalah terjadi karena pengaruh guna rajas atau tamas yang membelenggu. Seperti guna rajas yang cenderung keras aktif penuh hawa nafsu, maka akan membawa karma buruk, karma buruk yang menghasilkan hasil dari karma yang buruk pula. Tamas sendiri yang berarti gelap, adalah guna yang ktika terlalu dihirup, maka akan menghasilkan kesengsaraan belaka. Hal ini adalah mutlak, bahwa ketika suatu prilaku atau pikiran atau perbuatan yang mengarah pada guna-guna itu, maka secara otomatis semesta(yang terdiri dari Maya Prakerti) akan menyimpan itu dan bereaksi atas tri guna yang dilaksanakan.. Kemudian akan memberi pengaruh kembali sesuai guna yang ada/dilaksanakan. Tidak ada yang sanggup sembunyi dari itu..

Karma atau Perbuatan, adalah tentu akan terliputi pula oleh Maya, ktika melaksanakan sesuatu itu, maka Maya akan bereaksi seusai aturan2 semesta itu sendiri. Rekaman-rekaman tentang Hasil Karma, entah buruk atau baik, akan selalu menjadi memori yang tersimpan di Maya semesta..

Ketika masuk dalam konsep Suksma Sarira, maka mencapai kelepasan , (kesadaran Atma-Antahkarana sarira), maka pemahaman akan seluruh pikiran, perkataan, dan prilaku itu akan sangat mempengaruhi jalan kelepasan (pengetahuan ttg Atman Brahman Aikyam) dimana suksma sarira yang terdiri dari Citta Buddhi Manas Ahamkar akan menjadi memori-memori untuk menuju tempat pengadilan (di mana pun itu) di semesta. Bentuk pengadilan di semesta dapat dikatakan sebagai Karmapala, Sancita, Pradabda, Kryamana. Apa yang ditabur, itu yang dituai.

Dalam hal ini, ahamkara (ego) sangat terpengaruhi oleh Maya, ketika tanpa Buddhi yang mengembangkan guna Sattwika, maka Ego akan dipengaruhi guna Rajas dan tamas. Dan Manas atau pikiran atau penguasa Inderawi akan menyesuaikan dengan Tri guna yang tersampaikan itu. Citta itulah mengandung unsur memori apa pun tentang Hasil Karma itu sendiri. Prakerti sangat mempengaruhi suksma sarira, yang menjadi awal terciptanya dosa itu sendiri.

Pemahaman akan Tri Guna sebagai garis besar penentuan karma, adalah dapat dipahami sesuai dengan Wraspatti Tattwa. Di mana manusia itu lahir dari keseimbangan perbuatan Sattwika rajasika Tamasika, dan seperti sloka sarasamuscya yang mennyebutkan :

Sarasamasucaya 2

Manusah sarwabhutesu varttate vai subhasubhe,

asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah,

yang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk; leburlah dalam perbuatan baik,

segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahala) jadi manusia.

Dikatakan pula bahwa di saat menjadi manusia, maka ketika melaksakan tri guna, yaitu berturut-turut:

1.Sattwika dominan, maka akan menuju kelepasan.

2.Rajasika dan Sattwika dominan, maka akan mendapat sorga.

3.Rajasika dominan maka akan menuju Neraka.(tanpa Sattwika).

4.Tamasika Rajasika dominan maka akan numitis menjadi hewan dan tumbuhan.

Jadi jelaslah bahwa dosa itu sebenarnya berasal dari karma buruk yang dipengaruhi guna Rajas serta Tamasikam. Seperti pula Sarasamucaya di atas, bahwa melebur karma buruk adalah dengan melaksanakan perbuatan baik. Perbuatan yang Sattwikam adalah perbuatan bajik, bijak dan memberikan pencerahan kepada yang lainnya. Kemudian secara garis besar perbuatan Rajasik adalah perbuatan aktif penuh nafsu jahat dan keras. Namun ketika Sattwika jua memengaruhi, maka Ambisi yang besar dari Rajasikam akan dikendalikan untk melaksanakan dharma itu sendiri. Tentu dalam swadarma sebagai jalan karma marga, bahwa Kama dan Artha yang didasari dharma adalah konsep Sattwik yang mendasari Rajasika Guna. Kemudia tamasikam adalah gelap lembam dan malas, artinya lebih baik aktif dan berambisi, namun dikendalikan sattwika guna. Ketika kegelapan(Tamas) didasari dengan Rajas, maka yang terjadi adalah kekerasan karena hawa nafsu tinggi, dan ego yang melenyapkan kebenaran dharma itu sendiri.. Hakikat manusia tidak disadari pada kondisi seperti itu, maka sepantasnyalah IA sesuai dengan pikirannya yg tidak digunakan (bagai hewan), akan membuat dirinya menjadi hewan itu sendiri..Ini adalah konsep karmapala dosa berdasarkan tri guna (maya)Prakerti..

Disadari juga sebagai kesimpulan, bahwa Karma Buruk tentunya sangat disadari ada. Namun bahwa seluruh perbuatan buruk akan dilebur dengan perbuatan baik. Karma buruk itu sendiri “yang terdaftar” di Maya duniawi, akan pula terkoneksi dengan pola pikiran dan kesadaran dari individu itu sendiri. Tidak ada konsep yang pasti bahwa perbuatan A akan mendapat karma B, namun perbuatan yang Sattwik akan menghasilkan karma baik, bahkan hasil karma itu sendiri, tidak menjadi pikiran, dan diserahkan kepada Hyang Kuasa. Karena ketika guna Sattwik telah mengada dan selalu ada, menjadi keseharian dan bahkan menjadi pola pikir, maka tentunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ke masa yang akan datang. Sembari memberikan energi pada rasa syukur sepanjang masa yang berkenan diberikan..

Om tyambakam ya ja mahe, sugandhim pusthi wardhanam,

uvarikamiva bhandanat, mrityormuksiyas mamrtat..

Om santi santi santi Om..

Salam Guswar

Siwaratri Jan 19 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Sad Ripu dalam Bhagawadgita dan Hubungannya pada Maya..

Om saba ta a i na ma siwaya..

Om tryambakam ya jamahe.sugandhim pusti wardhanam.Uvarikmwa Bandanhat Mrtyormuksiyah mamrtat..

Semua ujian ini, Hanya padaMu Aku brsujud untuk diberi kekuatan menyingkapNYA…

trimurti4

Sad ripu, adalah enam golongan atau sifati dari diri yang menjadi musuh utama dan selalu menjadi bagian kehidupan sampai itu menuju kematian itu sendiri..Hal ini sangat sekali berhubungan dengan bagaimana Maya dari IA Sang Penguasa tiga Alam, sattwika rajasika tamasika, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, kecuali menyadari Nya dan memilah mana yang akan menuju jalan kebijaksanaan dan kebahagiaan yang sejati.

Mengenali diri dan mengenal Sang Pencipta adalah jalan yang sungguh pun semakin menyadari bahwa musuh-musuh utama itu adalah sangat mengikat dan menjadi halangan dan rintangan untuk menapaki tahapan tangga untuk ke tujuan.Atma widya serta Brahma widya akan semakin mempurifikasi ahamkara menuju buddhi yang jnana dan menyatukan atman serta brahman..

Ketika atman sebagai ananda maya kosa yang suci atau antakarana sarira badan bahagia, maka terlingkupi IA sebagai suksma sarira badan halus yang terdiri dari Vijnana Maya Kosa badan kecerdasan (citta buddhi), Mano maya kosa badan mental sebagai buddhi manas ahamkar, Prana maya kosa badan etheris yang berhubungan dengan dunia luar tri guna serta ahamkara ego yg terjebak tri guna, yang terakhir adalah badan kasar stula sarira annamayakosa..

Sebagai bagian itu maka skemanya sbagai berikut- Panca Maya Kosa dan selubung Atman

(Brahman)Atman(Aikyam)–> Antakarana Sarira / Ananda maya kosa..

*Suksma Sarira*

Citta (Buddhi yg cerah), Intuisi,–> Vijnana Maya Kosa (badan intelek cerdas, memahami Wiweka secara benar baik.

Buddhi (awal) terpengaruhi tri guna + Ahamkara yg Sattwika-> Manomaya Kosa, Badan Mental,Akal pikiran mulai mengenal keterikatan diri atas Maya dunia… 

Ahamkara Ego (rajasik tamasik->pengaruh acetana (ketidaksadaran) –> Prana Maya Kosa, Badan etheris bruhubungan langsung dengan kegiatan kekuatan hidup,..berhubungan dengan indera pada dunia

*Stula Sarira –>Annamaya Kosa ..terdiri dari Panca Buddhindriya Panca Karmendrya 5 indera pengenal dunia, serta indera melakukan kerja karma di dunia..

Dan ketika pemahaman itu sudah menjadi lebih dimengerti, maka kesadaran akan musuh diri yang terliputi Maya dunia dan menjadi energi yang menjauhkan diri yg “Sadar”.maka Sad ripu adalah bagaimana manusia kalah oleh pengendalian Diri akan keterikatan duniawi..Hanya pengetahuan SuciNYA yang membebaskan dari keterikatan itu untuk menuju pada AnAnda Maya Kosa badan yang berbahagia..

Sad Ripu adalah enam yang perlu disadari dan dikontrol sehingga mampu menjadi energi yang lebih baik.. Kama, Mada, Moha, Lobha, Matsarya, Krodha adalah yang dipengaruhi oleh MAYA yang bersifat Rajasikam penuh nafsu dan tamasikam yang bodoh tidak mengenal pengetahuan yang suci..Ketika Satttikam hadir di rajasikam, maka itu menjadi keoptimisan dan ambisi yg terkontrol, namun ktika tanpa kebaikan kebijaksaan kebenaran (sattwika), maka itu hanya menuju tamasikam, maka rajasikam akan dipngruhi oleh kegelapan(tamasik bodoh)..

–Kama-– adalah hawa nafsu, itu juga termasuk dalam catur purusa artha, maka kama yang bisa diterapkan sebagai kebaikan adalah mereka yang mendasariNYa dengan Dharma. Kama sendiri hendaknya dikatakan sebagai suatu bahan bakar untuk menuju pada tujuan Manusia itu sendiri,Keterikatan akan objek-objek dari dunia (maya) hanya akan tidak menuju kepada kebahagiaan itu sendiri, ananda maya kosa..tubuh yang berbahagia karena telah kembali menuju kesejatian, ya brahman atman aikyam..

-Krodha– adalah kemarahan, maka ketika marah menjadi tidak terkotrol, hancur ia nanti pada penyesalan.. Karena kesabaran akan menuju pada mereka yang benar2 tidak terikat oleh dunia itu sendiri..

**Bhagawadgita sloka 2.62**

dhyayato visayan pumsah, sangas tesupajayate, 

sangat sanjayate kamah,kamat krodho bhijayate..

Artinya : Selama seseorang merenungkan objek2 indria indria, ikatan terhadap objek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itulah berkembangnya hawa nafsu, dari hawa nafsu timbullan amarah..

Dari sloka diatas dikatakan, mengetahui subjek panca buddhindrya dan karmendrya, maka dunia adalah sebuah objek-objek itu sendiri.. Secara berlebih ketika mereka tidak menggunakan indria sebagaimana mestinya,maka terikat dan ketika tidak mendapatkan sebuah kepuasan karmendriya atau buddhindrya maka Krodha menjadi itu, dan akan membawa hawa nafsu menjadi jawaban atas pesona objek tersebut..

–Moha—.. adalah sebuah kebingungan, kebingungan terjadi karena pada tahap pengurangan ego ahamkar, terlalu banyak mengambil pengetahuan berdasarkan kebenaran atau pembenaran.. Hal ini  terjadi kembali pada badan mental atau Mano Maya Kasa yang berisikan jnana buddhi yang mulai mengenal wiweka namun belum mampu memisahkannya.. Dewa iya Bhuta Iya..Memang rwa bhineda akan selalu ada sebagai isi bumi, namun jalan dharma raksaka adalah seorang yang lengkap tunduk sebagai abdi dharma, dan telah memahami bibit-bibit adharma di dalam diri..Saat itu IA menjadi kan dirinya seorang bijak bajik dan tidak menyerah pada kuantitas dharma yg selalu lebih sediikit di jaman kali yuga ini..Tetapi sebuah evolusi mental yg menggenapi diri sebagai manusa yang tidak bingung karena kekuatan jnana atas panca sraddha, bgitu pula mantap dalam bhakti kepada panca yadnya itu sendiri..

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Maka awal utamanya adalah kemarahan atas kendali hawa nafsu, ketika marah merajalela maka moha atau kebingungan atas yang SEHarusnya terjadi, membuat khyalan-khayalan itu membuat kecerdasan akan menurun menyusut, Kecerdasan adalah bagian dari VIjanan maya Kosa atau ciitta yang mencakup buddhi yang telah menenal wiweka kebaikan dan ketidak baiikan..Kesadaran akan itu, maka buddhi memiliki dua pilihan.

Sattiwka ning buddhi Dharma Citta, akan membawa kecerdasan itu sebagai guru yg memiliki idep yang mantap yang mengetahui dharma, baik yang bijak atau bajik, baik yang siap sebagai maha guru atau pun murid dari semesta..Yang tahu bahwa nanti ketika pengetahuan tentang kebebasan diungkap, akan menyucikan lainnya..Dalam tapa semadi dan sadhana(diam)

Sattwika Rajasikam Citta Buddhi Dharma Rakhsaka..Adalah saat pilihan kedua bagi mereka yang mengetahui Kebaikan Kebenaran (Dharma), dan berjiwa sebagai pembela dharma, maka mereka adalah bagian-bagian dari pasukan penyebar dharma..Apakah sebagai seorang jnana dharma yang mampu menghilangkan adharma di diri serta membuat mereka (musuh) dharma takluk. Mereka adalah kalangan nastika, yang menyepelekan dan merendahkan weda serta keagungan dharma.. Mereka adalah diibaratkan sebagai padi tanpa isi.. Artinya mereka bodoh dan kurang cerdas akan pengetahuan agama baik agamanya mereka sendiri, atau kebenaran kebaikan universal itu..

–Matsarya-– Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”. Apalagi jika iri ini menutup hati atau panca maya kosa yang menambah bahan bakar ahamkar sehingga buddhi citta akan terbungkus egoisme rajasikam tamasikam untuk mencapai Brahman Atman Aikyam.. Buddhi sebagai wiweka kecerdasan yg terhubung dengan Citta akan semakin jauh..Dan apalagi tidak melakukan yadnya panca yang telah diturunkan leluhur..Karena Maya yg massif dan menjadi belenggu setiap mahluk, akn tidak membawa kedamaian itu sendiri.. Lekat dengan duniawi seperti hedonisitas atau carwaka, adalah sangat lekat dengan nastika itu sendiri.. Membuat harta tahta dan berlindung di tamasika,hanya akan membuat akhir perjalanan hidup hanya kehancuran..Sesuai dngan wrspatti tattwa, satwik lekat dengan moksah, rajasik satwik lekat dengan surga, rajasik dan tamasik saja lekat dengan neraka dan reinkarnasi yang buruk..

–Lobha– Adalah kerakusan atau ketidakpernahpuasan atas apa yang dimilikinya. Menginginkan lebih lebih dan lebih.. Yang lekat pada keterikatan materi dunia. Mereka seperti dipermainkan oleh dunia, tetapi mereka sadar atau tak sadar.. Ketika sadar maka mereka tidak mampu lepas, karena pegangan mereka untuk itu tidak ada..Maka kebebasan itu adalah ada pada mereka yang baik bijak dan senang akan pengetahuan rohani yang suci serta kebebasan kebahagiaan yang suci.. Mereka yang tidak sadar, maka bagaimana mungkin mereka akan lepas dari kerja yang selalu mengharapkan hasil lebih, lebih, dan memompa amarah ketika hasil yang tidak sesuai..Ambisi dari ahamkar yang rajasikam, akan baik bila dipengaruhi sattwikam sebagai dasar dharma..Namun ketika mereka menggunakan cara kurang baik, adhaarma, dan melenyapkan pengetahuan suci itu sendiri, Mereka hanya akan hidup dan seperti gila oleh kemabukan harta tahta dan nafsu duniawi..Ketika mereka menyangkal mereka terikat dan tidak sadar akan keagungan Dharma yg membebaskan, maka mereka hanya akan masuk ke dalam jurang reinkarnasi, kepada kerja yang harus menghasilkan dan terikat akan hasil itu.. Maka yadnya apakah yang bisa menyadarkan? kecuali mereka giat berpunia, namun tetap kesadaran itu hanya ada pada mereka yang tahu akan MAYA(KU)

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan..

Dari dua sloka di atas maka disebutkan bahwa, kebebasan dari rasa iri,akan membawa diri menjadi terlepas dari MAYA itu sendri, artinya adalah bahwa Maya yang merupakan kekuatan prkrti Brahman, akan memberikan balasan pahala atas iklas itu sebagai suatu hadiah pahala pada mereka yang mengabdi secara tulus dan iklas serta insaf.. Semakin terikat maya, terutama atas pencarian artha kesejahteraan dengan cara yang kurang baik, maka IA atau mereka hanyalah akan mendapatkan dosa, dan jauh dari pengetahuan suciNYA tuhan brahman dalam ketidakbrsyukuran, kelobhaan serta berasal dari rasa iri yang tidak pernah puas..Maka mereka akan selalu terikat dari hasil dan pahala, kecuali keiklasan akan membawa Tuhan turun ke ranah pahala di dunia..Ketika mereka melakukan yadnya, maka saat itu sebenarnya Diri yang berpribadikan Atman yg suci menuju pada sebuah kesempurnaan itu sendiri.. Bagi mereka yang paham akan mendapatkan hasil dari yadnya, yang mereka sadari sebagai keiklasan atas yadnya panca itu sendiri…

Sloka 3-27

Prkerteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah, ahankara-vimudhatma kartaham iti manyati..

Sang Roh yang dibingunkan oleh pengaruh Keakuan Palsu menganggap dirinya pelaku kegiatan yang sebenarnya diakukan oleh tiga sifat (tri guna) alam material..

–MADA- Kemabukan, yang membuat manusia lupa diri, manusia yang terbelenggu oleh kenikmatan dari keterikatan materi dunia, yang juga tanpa sattwika,akan berasal dari loba kerakusan yang dimabukkan oleh belenggu rasa iri, tentu saja dari kroda yang membuat hayalan serta kebingungan tetapi tidak merasa bingung.. Artinya mereka mabuk akan keterpengaruhan alam tiga sifati itu.. Maya itu melupakan diri, memabukkan IA pada kebahagiaan semu, apalagi jika mereka menikmati kemenangan mereka dari kemarahan, iri, kerakusan yang menyenangkan yang membuat bingung itu sendiri..

Keakuan palsu adalah mereka yang berada pada kendali tri guna, namun mereka mnyatakan ia adalah pelaku kegiatan, bukan dari tri guna. Namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda bahwa mereka mencari keuntungan karena diri mereka yang pintar, mereka mengungkapkan kebenaran karena diri mereka yang tahu segalanya, atau bahwa karena keakuan palsu itulah yang menyebabkan kebahagiaan (keakuan semu) yg mereka sadari.. Mereka mabuk bahwa hanya mereka yang mendapatkan semua berkat ini, namun sabda Tuhan, pun mereka ketahui dengan amarah, dan kerakusan akan pembenaran.. Pada hal Sabda Tuhan yang paling perlu diingat selain panca sraddha yang sattwika dan rajasika atau tentang filsafat etika upacara, adalah memahami mereka hanya sebagai abdi dari kekuatan Tri MayaGuna itu sendiri..

Maka kepribadian Tuhan menyatakan Aku mencipta kebaikan keburukan sattwika rajasika tamasikam, namun Aku tidak berada pada “itu” dan “itu” tidak berada pada AKU…

Hare kalkya Kalkya Hare Hare

Asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir  gamaya, Mrtoyrma AMrtam gamaya

Om santi rahayu raharja Om

salam gwar

lihat juga..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

sumber :bhgwadgita, wraspatti tattwa, meditasi sathya baba

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Emas , Permata, Berlian di “diri” sebagai KesucianNYa

image

Om sa ba ta a i na ma si wa ya,,
Om parama siwa, siwa narayanam , om nama siwaya..

Dharma sastra 74
Yatha caturbhih kanakam pariksitam
Nigharsanathadanacchedhatapanaih
Tattha catrubhih purusah pariksitam
Srutena silena gunena karmana..

Artinya bagaikan emas yg diuji dengan empat cara, dengan batu asah, ditempa, dipotong potong dan dipanaskan:maka demikian juha orang diuji dengan empat macam (ujian) Sruta (pengetahuan mengenai kitab suci weda), Sila (kesusilaan) Guna (kemahiran dan bakatnya)Karma (perbuatan dan pekerjaannya)..

Sebongkas emas adalah merupakan sesuatu yg berharga, dan dihargai oleh mereka yang mengenal emas iti sendiri.. Sebagaimana manusia yang memiliki harga yang tinggi seperti kemuliaan emas itu sendiri, adalah sangat pun harus melalui berbagai rintangan rintangan yg tentunya menuju sebuah singgasana, dunia, kenikmatan , pahala yang baik pula sprti emas itu sendiri..

Bagaimama mereka yg diuji sebagai penuntun menuju kemuliaan manusia di jaman satya yuga nantinya, adalah mereka yg menuju empat jalan utama kepada HYAng maha Kuasa itu… Seperti mereka yang ditempa oleh Sruta…artinya bahwa weda yang agung akan membuka DiriNYA sebagai sebuah kelepasan ktika mereka yg melaksanakan membaca memahami weda adalah seorang dimuliakan sebagai bhakta hyang widhi.. sbagai pengabdi, sebagai seorang jnana yg mnganalisa memberikan ulasan tntang kebenaran weda itu sendiri..apakah weda pun menyatakan, mereka “uttamam kanyadanam ca, vidya danamanantakam” ,mereka yang melimpahkan pengetahuan rohani(widya) adalah pemberian yang tiada taranya…dan sebagai idealitas manusia yg mmiliki kemuliaan, maka weda adalah sebagai pnghncur ahamkar rajas tamas dan melebur menuju pembersihan di lingkungan terkecil sampai terbesar..

Sila atau kesusilaan, bahwa mereka yg memiliki sifat pendamai, dan menyenangkan hati orang yg memperhatikannya, adalah seorang bhakta yang mumpuni, dimana segala sifat hormat dan mmberi suasana yg baru akan susilanya adalah salah satu anak suputra semesta bhapa angkasa.. dimana hal ini akan mndapatkan berbagai godaan godaan duniawi..seorang dharmaning buddhi akan mmbri aura yg indah positif dimana pun ia berada..itu kekuasaan susila yg satya, diujilah mereka yg memiliki itu sbagai dharma buddhi akan mndapat pahala yg sesuai dngan idealitasNYa..

Baca sdikit:
https://linggahindusblog.wordpress.com/buddhi-dharma/

Guna adalah bakat dan kemahiran.. artinya adalah bahwa bakat dan kemahiran saat dipngaruhi lingkungan diri serta pengalaman san juga sancita karmapalanya… mereka yg memiliki bakat musik akan menghibur mereka yg hatinya tertutup duka lara, ada pula yg memberikan keceriaan lewat senda gurau, ada pula dngan bakat manfaat bagi orang banyak sbagai peyakin sala satu ilmu pngetahuan..hanya lah takdir yh dapat menentukan manusia itu lulus dalam kehidupan, sbagaimana ia berhasil untuk menyadari takdirnya sebagai manusia yg bermanfaat, manusia yg brhasil menarik sattwikam rajasikam dibandingkan dengan tamasikam dari tri guna ini….bhakta raja marga adalah mereka yg tercerahkan(wibhuti) brsama dengan gunaNYa masing2…

Jalan karma adalah sebat akibat dri proses krja, tidak ada manusia yg lepas dari proses kerja, maka mereka yg brusaha melepas proses kerja, akan semakin dipaksakan sebagai prosesnya kerja oleh triguna kuasa..tidak ada yg bisa terlepas, ketika karma adalah juga sebuah reaksi aksi,..dan semua terbelenggu proses krja tri guna itu sendiri.. maka cara nya adalah bagaimana kerja hanyalah sebuah kerja, sebuah bagian DariNYA, yg artinya menjadi seorang dharma, bhakta, jnanas, raja marga, adalah sebuah krja yg utama, dan yang lainnya adalah sampingan, bukannya kita adalah pengabdiNYA?? Dan IA adalah pemberi anugerah(gaji)NYA…

Maka mereka yg memahami adalah mereka yg memiliki hati laksana emas yg berkilau..

Salam gwar
Mei 2014

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Sekilas tentang Atman yang Lekat pada Kemoksaan…

LotusYogaWomanArtYinYan

Om sadasiwa, siwa narayanam, om namasiwaya.. Semoga “ini” hanya sembah kepadaMu oh hyang kuasa..

….Atman….
Mendengar sederet kata atman, artinya adalah bahwa pemahaman tentang itu (atman) adalah menuju sebuah sraddha yang lekat pada 5 dasar keyakinan hindu. Hikayat atau hakikat tentang atman, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang kekekalan dari brahman (tuhan) sebagai sumber dari atman..

Membicarakan atman itu juga lekat dengan bagaimana tuhan sebagai nirguna serta sekaligus saguna brahman. Dalam wrspatti tattwa disebutkan bahwa nirguna brahman atau parama siwa adalah saat kekosongan kehampaan dari Tuhan itu sendiri dan tidak terlekat pada tiga sifat dasar yaitu sattwam rajas dan tamas triguna.

Tuhan dalam kehampaan ini sebagai acintya, IA yg tidak terpikirkan.Dikatakan Sifat dari Parama siwa tattwa adalah sebagai berikut :
Apremaya (tidak terbayangkan),
Ananta(tidak terbatas),
Anidesya (tidak dapat diberikan batasan),
Anaupamya (tidak dapat dibandingkan),
Anamaya (tidak dapat kena penyakit, suci),
Suksma(tidak dapat dilihat),
Sarwagita (memenuhi segalanya),
Dhruwa (kokoh tidak bergerak stabil),
Avyaya (utuh tidak pernah berkurang),
Iswara (guru yg mengatur segalanya).
Dan selanjutnya IA memberikan maujud pada diriNya sendiri, dengan memberikan pengaruh tri guna itu kepadaNYA. Pada saat dipengaruhi oleh guna, IA menjadi saguna brahman yang bersifat yang MAUJUd.

IA dikatakan saguna brhman atau sadasiwa adlah saat Tuhan sebagai Cetana melebur bersama acetana( ketidaksadaran) Ketika IA dalam wujud Saguna brahman, maka memiliki 4 sakti atau sifat, yaitu Cadu Sakti. Maka dengan ini Beliau memiliki :
1. Wibhu Sakti : Maha ada.
2. Prabhu Sakti : Maha Kuasa
3. Jnana Sakti : Maha tahu.
4. Kriya Sakti : Maha Karya
Dengan KemahaKaryaAnNya timbul pula mahluk hidup (manusia) yang berpikir, manusia yang terliputi tri guna dan terpengaruh, namun juga menciptakan tri guna itu sendiri. Timbullah alam pikiran yang menjadi dasar untuk berprilaku dan menjadi tolak ukur akan kemana nanti manusia setelah menjalani kehidupan yang sekejap ini. Atman yang berasal dari langsung cetana akan lupa asalnya dan terpengaruh oleh ketidak sadaran.

Atman sebagai tempat terdalam dan tersembunyi dilapisi beberapa lapisan, yaitu budhhitattwa, ahangkara tattwa… Buddhitattwa adalah bagian yang berada sebagai hasil dari tri guna..buddhi itu dibagi menjadi empat dengan pahalanya:
1.Dharma buddi adalah perbuatan mulya, tapa, yadnya, dana punia, yoga, meninggalkan keluarga hidup dari sedekah. Pahala dari dharma buddhi adalah ketika dharma lahir dari budhi maka orang mencapai surga dan bersenang-senang disana, IA menjadi dewa dan mendapatkan kekuatan lainnya.
2. Jnana Buddhi adalah pengindraan langsung, menarik kesimpulan, ajaran-ajaran agama dari orang yg telah mempelajarinya. Pahala dari Jnana budhi adalah melalui pengetahuan yang benar orang akan mencapai empat kekuatan dan mencapai moksah.
3. Vairagya Buddhi adalah ketidak terikatan terhadap kesenangan, baik yang dilihat, didengar pada badan yang sehat. Pahala dari Vairagya buddhi adalah mereka akan mencapai prakertiloka (dunia material) dan mengalami kesenangan seperti orang tidur dan setelah lama akan lahir sebagai dewayoni.
4. Aiswarya Buddhi adalah keseimbangan dalam kesenangan bhoga (makanan) kesenangan kecil, upabhoga (kesenangan sandang), paribhoga (memiliki istri) dengan asiwarya orang menikmati kesenangan tanpa gangguan. Dengan anima dan kekuatan lain orang lahir menjadi dewa sebagai pahala aiswarya .

Ahamkara(ego) adalah yang sangat melekat dan berpengaruh terhadap buddhi, apalagi dengan keterpengaruhan dari tri guna tattwa.
Ahamkaralah yang berhubungan langsung dengan indra dan memiliki serta membentuk keinginan-keinginan yang sesuai guna yg ada.
Ahamkara yang terliputi sattwa dominan akan memiliki keinginan untuk menjadi lebih bijak dan memikirkan dharma secara mendalam, ketika itu diliputi oleh keinginan rajasikam,maka apa yang diinginkannya menjadi sebuah perilaku atau perbuatan.
Ahamkara tamasikam, arttinya keinginan jahat dan kemalasan, gelap, ketika ditambahkan dengan rajasikam, maka ambisi untuk berbuat jahat dan culas akan terlaksana. Jadi dapat dipastikan bahwa pengaruh dari tri guna sangatlah tinggi untuk memperoleh hasil dari tujuan agama itu sendiri.

Atman yang lupa akan keberadaanNya sebagai bagian dari Paraatman, setidaknya akan memiliki buddhi dan lapisan ahamkara. Dijelaskan pula alam pikiiran yang terpengaruhi sattwam rajas tamas akan membawa atman menuju alam yang selayaknya ketika lepas dari badan wadag.

Sattwam yang mendominasi pikiran artinya dengan tekun melaksanakan dan memiliki jnana buddhi , maka akan mencapai wilayah kemoksaan dan bersatu dengan Parama siwa atau Kesadaran Siwa.

Sattwam yang dibarengi rajasika akan mencapai wilayah surga yang disesuaikan dengan Dharma buddhi, Vairagya buddi, Aiswarya buddhi. Selain itu maka tamas berpengaruh dibarengi dengan rajasika, artinya akan mencapai wilayah neraka dan reinkarnasi sebagai bukan manusia.

Maret awal 2014
salam Gwar

sumber :wrasppati tattwa

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Februari 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Manusia akan kemana?setelah “Kematian”..(wraspatti tattwa)..

ArmyCorpsOfHell_Hero

Dunia adalah sementara, semua tau itu. Dan sebagai seseorang yang memiliki suatu kata “yakin” dalam hati, maka Ia akan memberikan kehidupan itu sesuatu warna tersendiri dalam apa-apa yang Ia kerjakan dan laksanakan. Keyakinan itu menjadi sesuatu yang patut dilaksanakan atau diajarkan dalam hidup ini. Lalu tentu saja dalam berbagai yang Ia jalani memiliki kadar tersendiri bagaimana Ia menjalani kehidupan setelah “hidup” yang sementara ini selesai.

Lalu sebagai seseorang yang menjalankan pengetahuan akan “dharma”, maka dalam suatu kehidupan akan  ternilaikan oleh Ia dalam bentuknya sebagai Hyang Acintya, Hyang bhatara Siwa, dalam manifestNya sebagai Bhatara Yama untuk menilai mereka-mereka atau kita yang hidup di dunia serta kelakuan kita di dunia. Dan Ia Sang Acintya, menelorkan atau memberikan tiga sifat atau guna yang diberikan Sang Siwa dan dinilai oleh Yama itu sendiri. Tiga Guna itu adalah :

1.Sattwam : yaitu sifat terang, sifat bijaksana, sifat kebaikan, serta sifat menerangi, menyebabkan juga sifat kejujuran, kelembutan, kehalusan, keindahan, keagungan.

2. Rajas : Yaitu sifat dinamis, sifat aktif, sifat kemarahan, sifat panas, sifat bergerak, termasuk juga jika tanpa ada kontrol akan bersifat bengis, angkuh, amarah.

3. Tamas : Yaitu sifat malas, sifat gelap, sifat diam, sifat pengecut, sifat murung, sifat cenderung berbohong, tidak suci, ingin membunuh.

Dan bagaimana manusia hidup adalah dikualifikasi dan didasarkan oleh sifat-sifat itu yang “tercantum” dan tersiarkan pada hati, pikiran, kata, serta perbuatan itu sendiri. Dalam hal ini Sattwam, Rajas, Tamas dari manusia adalah sesuatu yang menyebabkan bagaimana nanti manusia itu setelah ia menuju yang dinamakan “Kematian”,,,Suatu pintu yang tidak bisa dijadikan jalan untuk kembali oleh manusia itu sendiri.

Jadi manusia diberikan penilaian, maka manusia itu pula mendapatkan suatu hasil tersendiri dari dirinya. Namun sebelum melangkah, bahwa sudah diingatkan bagi manusia tentang keagungan dharma yang layak, pantas, dan wajib untuk dilaksanakan oleh Ia sebagai pejuang “dharma” yaitu :

Sarasamuscaya 2…

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumayaken ikang subhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikangsubhakarma phalaning dadi wwang.

Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Sarasasmuscaya 4.

Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

link : https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/03/04/bersyukur-bagaimana-menjadi-manusia/

Nah dengan sedikit ingatan di atas maka akhrinya manusia akan memilih jalannya sendiri untuk bisa hidup di dunia. Maka pilihan-pilihannya akan terpancar pada apa-apa yang ia jalani di kehidupan sampai juga kepada pikiran-pikirannya, yang terlampir pada setiap kata dan lakunya. Dari tiga guna itu maka dapatlah disadurkan pada akhir dari perjalanan itu sendiri. Hasil-hasil itu adalah sebagai berikut :

1.Moksa : Jika manusia dengan tekun melaksanakan Sattwam maka Ia akan mencapai moksa.

2 Sorga : Jika manusia dengan laksana Rajas namun dibarengi dengan pikiran Sattwam maka ia akan mencapai ke wilayah sorga.

3. Neraka : Jika manusia hanya dikaitkan dengan sifat rajas, tanpa sattwam maka ia cenderung bengis, pemarah, dan lepas dari perbuatan “dharma”. Maka ia akan mencapai neraka.

4.Reinkarnasi menjadi Manusia : Jadi ia reinkarnasi menjadi manusia adalah jika ketiga guna itu berimbang.

5. Menjadi Hewan dan Tumbuhan : Jika tamas mejadi sesuatu yang dominan dari kehidupannya.

Itulah sebagai suatu penilaian dari Hyang Kuasa dalam manifestnya Sang Hyang Yamadipati dalam menilai kelakuan, perkataan, serta pikiran manusia. Dan itu semua terekam di hati. Hati yang tidak akan berbohong dan memberikan suatu bahwasanya karma dan pahala dari tentu saja pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.

(sumber wraspatti tattwa).

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Desember 2012 in filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: