RSS

Arsip Tag: tri murti

Tri Murti serta Tri Shakti sbagai Purusha Pradana

Om sada sivam shiva narayanam..
Om shanti shaktam pujam Hyang Murthi..
Purusha suhci saucam jihwam..
Pradanam prkerti sabda sunya..
Lokham samastha santhi rahayu..

image

Om swastyastu..

Dalam segala kejadian di dunia baik pada alam bhur bwah swah loka..Maka tentu tiada akan terlepas dari konsep tri kona ..Utpetti sthiti pralina..sebagai proses penciptaan, pemeliharaan serta proses peleburan..Sebagaimana pula dgn konsep G.O.D..
Generating, Operating, Destructing yg selalu meliputi oleh apa pun di dunia yg berisikan juga kendali Maya triguna itu sendiri..

Tentu juga sbagai bagian konsep murti tiga kualitasNYA..Maka terdiri Ia Hyang kuasa Hyang wenang widhi Pradnya Paramitham bahwa itu diwujudkan sedianya sbagai bhatara daivam suhci tiga yaitu :
1.Daivam bhatara brhma sbagai kualitasNYa dalam penciptaan..
2.Mahadiv bhatara waisnavam sbagai kualitasNYA dalam Pemelihara sthiti..
3. Sugra Hning Sunia bhataram Shivam sidhantam sbagai pemrelina dari seluruhNya..
Pada mantram dan mudram japam di keseharian, maka tentunya sbagai yg berwadah hindhu dharma bali, dapat ditelaah di bait ke tiga sandhya tiga..yaitu “om tvam sivah twam mahadevah iswarah parameswharah brhma wisnuscha rudhrascah purusah parikirtitah”..

Pada mntram pujam panca sembah..dapat ditelaah di
Om nama deva adhistanayah sarwa wyapi wai sivayah..padmasana eko pratistyah..ardenareswary ya namo namah swaha..
Brhma prajapatya ya namo namah swaha…..

Tentu sejalan dgn kajian pmahaman Nya sbagai avataram waisnwawam yaitu..hyang krhrisna, buddha avataram, rama dan terakhir kalky avataram.. narayanam ya naditwyo sti kascit..

Dan yg terakhir adalah sbagai pelebur tentu dgn mntram pujamNya shiva bhatram yg telah dikthui scara umum..
Mahartyun jaya mtram..atau jga purusha Beliau yaitu mtram japam gan ganapatya ya namo nama swaha…

Tentu saja dgn berbagai jalan menuju padaNYA sbagai pengenalan trhadap purusha itu sndiri, dapat dipahami bahwa IDa hYang wenang adalah sbagai ardenareswari jua..Hyang memiliki konsep prakerti pradana serta lekat dgn konsep maya duniawi dan sejalan kepada bait Ida sebagai murthining samastha bhuwana..

Tri shaktam shakti hning ida ring pradana prkerti loka ring bhur bwah swaha driki..
Secara konsep hal itu sangat sejalan dgn prjalanan dunia itu sendiri dalam tri kona utpettti sthiti pralina maya guna sabdha loka itu..

Dalam Utpeti penciptaan maka hadir ida sbagai pradana mewasta bhatari hyang saraswati..sbagai penguasa ratunya ilmu pengethuan jnana pradnyam paramitham..yang juga dipuja pada saniscara umanis watugunung sbagai hari lahirnya ilmu pengethuan..mantram yg lekat dapat ditelaah dri sloka ini :
“Om Saraswati Namasthubhyam
Varade Kamarupini
Vidhyarambam Karishyami
Siddhir Bavathume Sadha “..
Dalam hal ini sbagai yang menciptakan dunia beserta isinya, tidak lain dan tidak bukan berasal dari ilmu pengethuan itu sendiri…

Dalam segala kejadian yg berhubugan dgn kesejahteraan, maka hyang bhatari laksmi Shri Sidhi manik mas meketel adalah yg sbagai pemelihara kenyamanan kebaikan keberlangsungan manusia di alam ini, seperti yang hadir pada panca sembah sbagai berikut : .
laksmi siddhisça dirghàyuh nirwighna sukha wrddisca”,
Dewi berwujud suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.
Beliau juga Ibu yg disembah sebagai bhatri rambut sri sedana, atau sbagai Sang Hyang Galih, bhtari Danu, Bhatari Melanting..tentunya sesuai sabda dan titah dri purusha waisnawa Hyang wisnu pemelihara, maka dri itu akan hadir kesejahteraan serta kebaikan dan knyamanan hidup dri cara yg dharma dan baik untuk mlksanakan pngthuan saraswati pujam sbagai cara bersabuh mas demi kebahagiaan sejati di dunia ini…

Yang ketiga adalah sbagai pralayam sbagai pelebur sgala mala, sbagai khala sbagai waktu sbagai sabda yg mengakhiri yang pantas dan layak diakhiri, sbagai awal dan akhir dri nol itu sendiri…sebagai juga shivam sidhantam yg menuju pada keluwesan serta menuju pada paham terbarukan..dan atau jga sbagai dasar untuk penciptaan selanjutnya…
Saat tercipta terpelihara, tentu juga ada konsep keadaan yg sirna dan mnjadi pijakan yg selanjutnya..
Saat tidak sadar menjadi kesadaran..maka itu juga berarti ketidak sadaran sirna lenyap dan pralaya..

Dalam hal ini ada dua wajahNya sbagai hyang bhatari yang mengasihi meparab Hyang bhatari Uma … hyang pertiwi yang sbagai IBu pratiwi parwati yang telah memberikan selurhnya kesediaan atas apa yg ada..tempat berpijak dan tmpat nanti keturunan dalam segala kehidupan yang nyata ini..
Sebagai gmpangnya, “Engkau tak bgitu perlu mmbayar dgn darah, kau hanya perlu menanam melati dan mawar saja untuk menjaga seluruh dunia ini, seandainya pun kau menanam kaktus atau membiarkan rumput2 liar tidak tersiangi, tentunya kau mendapat kaktus pula dan jgn berharap melati mawar, seandainya pun kau pintar anakku tentu kau akan memelihara ternak untuk rumput2 liar itu”…

Dalam mantram dapat dilihat sbagai berikut:
Mantram : Om pertiwi sariram dewi, catur dewa mahadewi,
catur asrama batari, siwa bumi mahasidhi
Om ring purwa ksiti Basundari, siwa patni putra yoni,
Uma durga gangga dewi, brahma betari wisnawi
Om mahe swari hyang kumari, gayatri berawi gauri,
Arsa sidhi maha, Indra Nicambuni dewi
Om akasa siwa tattwa ya namah swaha
Om pertiwi dewi tattwa ya namah swaha..
Dalam hal ini menjelaskan bahwa mNtram sbagai diri agar tegteg dan selalu brterimakasih pada pertwi ..sbagai gangga dalam apah..sbagai kumari yg mengasuh dan juga bhairawi
..

Sejurusan dgn bhatari dalam wujud krodhaning samsastha sebagaimana ibu yang marah kpada semesta itu sndiri, yang maha adil yg ditakuti oleh seluruh anak2nya..apalagi yg bersalah pada diri semesta..

Dalam hal ini tentu IA sbagai Maha Kali yg mnguasai kala waktu bindu yg mnjadi jawaban akhir dan sebab musabab semuaNYA..
Mntram Jay Maha Kali, jay kalikhee..jay maha kali, jay kalikhe..
Tentu dalam nusantara ada tattwa tentang kanda pat sedulur papat..inggih lwir ipun :
*Adi ari2-getih-toyam-lamak..
Kanda pat bhutam :
*Anggapati-banaspati-mrajapati banaspati raja..
Kanda pat suksma minekadi..
*citta vanaspati raja-buddhi anggapati-manas mrjapati-ahamkarah banaspati…

Nggih niki mewasta wastu mepanugrahan durgha hning suci lokha..durgha pujam bhairawa yang membawa keadilan tersendiri dgn caraNya yg tentu memiliki keadilaan semesta sndiri..
Sbagaimana bhutam khala yg sprti kala yg mnhncurkan segala dan memakan segalaNYA…

Dan tentu tidak ada yg lepas dri karma dan pahala yg dikuasai oleh kali maya itu sndiri..

Sbagaimana juga pralaya pralina, tentu bahwa pnghncuran semesta adalah jua oleh cengkraman waktu sahaja..

image

Salam gwar
Swaha april 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 April 2015 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Ego manusia yang memberi takdir kepada manusia lainnya…

Apa teriakan bermakna??

Di saat menyata pada emosi…

Yang lebih besar dari takdir manusia itu sendiri..

Takdir sebagai mahluk budi dharma ???

——————————————————————-

Apa kau bisa membuat mereka yang telah tiada??

Apa kah akan kau katakan, ..ini air mani , mana telurnya??

Lalu siapa itu yang kau takdirkan, Mati??

Siapa yang menjamin engkau menjadi malaikat maut yang benar??…

Lalu apa yakinmu jika itu menjadi pahala burukmu,

kemana kau mendapat tempat mengadu??

Mati itu tiada akan guna sesal….

Kembalkan mati itu saja?? bisa kah??

——————————————————-

Emosi yang memBABI buta…

Dan “punggung” itu masih ada di dirimu..

Bawa saja beban itu??

Toh kau sudah tahu sudah mendapat tempat di alam sana…

abadikah??

—————————————————————————-

Ya sudah lah,

terjadi terjadi ya begitulah….

terkadang tersenyum miris, melihat merasa…

bahwa kengerian di alamNya…terngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang-ngiang…

———————————————————————

gwar…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Perwujudan dan Sujud pada Suatu Kekuatan Agung Akhir Jaman “Kalvatar”..

Seperti yang telah kita tahu, bahwa sekarang hari ini esok dan kemarin kita telah menapaki sebuah jaman yang memang sangat berat dan sangat melelahkan, bagi mereka yang benar-benar menjalaninya secara berbudi dharma. Yaitu sebuah jaman kaliyuga. Jaman di mana memang kejahatan (adharma) memiliki lebih banyak pengikut dari pada mereka yang melakukan dan membela dharma itu sendiri. Persentase yang ada menyatakan bahwa 75 % berbanding dengan adharma 25%. Sebuah pertanyaan yang meneguhkan adalah adharma tidak pernah akan sampai ke angka 100%. Dan sebagai suatu keyakinan bahwa 25% dharma, masih mampu untuk hidup dan bahkan mengalahkan 75% adharma itu sendiri. Dan jika memang itu terjadi atau pasti akan terjadi, maka jaman keemasan atau Satya Yuga akan tercapai di jaman mendatang dan bahkan sesuai keyakinan tentang kekuatan spiritulitas bahwa itu telah mengalami proses tersendiri dan telah dimulai.

Sebagai fakta yang tiada bisa dibantah adalah kemunculan pencerah-pencerah yang sudah lelah pada kemunduran “nilai” jaman, dan berbagai bencana, serta semesta mulai bergejolak sedemikian rupa. Dan nantinya juga akan sampai pada titik keseimbangan di mana Budi luhur Dharma akan mencapai kesunyatan abadi.

Beberapa hal di atas maka akan sampailah pada suatu pertanyaan Siapa yang ditunggu? atau siapa yang patut dinanti pada masa yang penuh goro-goro ini?? Sedikitnya pasti terbersit bahwa berbagai ramalan yang belum teridentifikasi nilai kebenarannya, atau belum dianggap karena tidak berlogika, maka sebenarnya dari mereka yang mengagungkan kekuatan selain duniawi itu sendiri (baca:intuisi). Bahwa telah saatnya datang keperkasaan dharma yang mencipta, melindungi, melebur, serta menghukum dan mengembalikan budi dharma menuju suatu keemasan yang tiada ternilai. Menurut hemat saya adalah bahwa telah atau akan lahir suatu kekuatan ilahi sebagai inkarnasi dari Wisnu yang berupa penunggang kuda dan membawa sebuah pedang terhunus yang siap mematikan mereka yang menentang, meluruskan serta memberi penghukuman sendiri atas adharma yang mereka lakukan. Dan Beliau adalah disebut sebagai Kalki Avatara.

Dari simbolisme kalki avatar di samping, maka makna-makna yang tergambar dari Kalki avatar adalah sebagai berikut :

1. Pedang : Pedang sebagai simbol senjata yang digunaka oleh kalki avatar adalah sebagai pemaknaan akan ketajaman pikiran atau kekuatan dari ilmu pengetahuan yang mampu menghancurkan permasalahan dan memberikan solusi atau meninggalkan ketidakberdayaan dari apa-apa yang menggoda dan menghadang manusia. Pentingnya sebuah ilmu pengetahuan dapat dilihat pada,  Bhagavadgita Percakapan IV Sloka (33) dikemukakan : “ Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa lebih bermutu daripada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini, berpusat pada Ilmu Pengetahuan, oh Parta”. Selanjutnya dalam Sloka (42) dikemukakan: “Sebab itu, setelah memotong keraguan dalam hatimu karena ketidaktahuan dengan pedangnya ilmu pengetahuan, berpegang pada yoga, bangkitlah, oh Barata”.  

Pengetahuan akan Dharma itu pun melindungi mereka2 yang mengemban ketajaman pikiran itu sendiri. Maka seperti yang tercantum pada sloka sarasamuscya 18, “Dan kekuatan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, ;lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.”

Dan pedang sebagai suatu idep suatu pikiran yang tajam termsuk intuisi yang diasah dengan empat marga itu, akan menjadi seuatu yang bershadja sesuai proses karma pala dan kekuatan dharma yang agung. Apa pun jalan yang anda laku, maka akhirnya akan sampai pada “KU”, apakah itu bhakta, Karmin, Jnanin, Rahja maka nantinya akan menjadi kesucian dalam Wibhuti Marga, yaitu suatu “pencerahan”. Dan tidak ada jarak lagi antara Tuhan dan Suksma, Rahga, dan Sahadja.

Kekuasaan akan ilmu pengetahuan dan melalui lindungan Budi Dharma, telah pula dirayakan dan diperingati pada hari raya Tumpek Landep sebagai peringatan mempertajam ilmu, yang telah turun sebelumnya pada peringatan Hari raya Saraswati pada wuku watugunung. Yang juga telah dihayati sedemikian rupa pada keseharian.

2. Kuda. Kuda yang liar adalah sebagai suatu catur purusha artha, yang termasuk pula dharma di sampingnya, Dasar-dasar yang ada untuk menghancurkan musuh manusia yaitu kebodohan adalah, dharma, artha, kama ,moksa yang telah menjadi dasar itu sendiri. Selain pula Tri kaya parisudha sebagai lelaku etika yang berpikir, berbicara, berbuat dharmaning ksatrya mahottama. Dan kuda yang liar adalah mewakili sad ripu dan sad atatayi, atau mungkin seperti seven deadly sins, yang telah terbit pemahamannya. Maka jika kuda liar itu dapat dikelola dengan laksana satya, maka akan mewakili kecepatan intuisi untuk menelaah “putih” kesucian tuhan dalam menanggulangi setiap permasalahan yang ada.

3. Orang yang kalah, adalah ia yang bergerak pada adharma, ia yang bergerak dan mendasarkan dirinya pada jaman kali, mereka yang bersifat raksasa raksasi dan yang tiada berjiwa budi dharma.. mereka akan terkalahkan oleh pedang ketajaman ilmu pengetahuan, dan tergerus oleh kuda catur purusha artha yang akan tetap menang sepanjang masa. Dan ini telah dirayakan pada galungan dan kuningan. Dan keabadian itu akan menjadi kenyataan.

Sedikit dan yang terakhir, Japa atau semadi akan persujudan kepada titisan Waishnam Al Muaimin dapat dilaksanakan dengan mahantra berikut :

“Hare Krushna Hare Krushna, Krushna Krushna Hare Hare”
“Hare Râma Hare Râma, Râma Râma Hare Hare” (Japa Kalki Avatar)

“Om BiswaGuru KalkiRâma Sudarshana Hare Hare
GadâPadma ShankhaShyâma RâmaKrushna Hare Hare” (japa Kalki Avatar).

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/04/24/ngiring-sesuhunan-ida-hyang-kalki-avatar/

gwar 30 10 2012

 

 

 

 

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, Tak Berkategori

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Hubungan Fungsional Atas Pensifatan Tuhan pada Tri murti (Hindu) dengan Asma ul Husna (islam)

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Apa yang kita hadapi pada jaman sekarang. Tidaklah bisa dipungkiri bahwa dunia memang sudah terasa sesak dengan berbagai kekerasan serta pembunuhan, caci maki dan fitnahan, serta pola pikir yang cenderung pesimis dan memiliki nilai negatif atas apa-apa yang menjadi pedoman keyakinan itu sendiri. Padahal bahwa suatu keyakinan itu, sangatlah sakral dan sungguh pun merupakan perwujudan atas nasib dan takdir manusia sebagai mahluk sempurna yang berhubungan dengan kehidupan dan kematian itu sendiri. Seperti saat kita lihat bahwa kemanusiaan (kematian), menjadi hal yang lazim jika ditelisik pada arah pemahaman suatu keyakinan yang mengabaikan lainnya (kemanusiaan).

Apakah memang itu yang terjadi semestinya, atau ada yang salah pada penafsiran akan ayat-ayat suci tersebut Sebagai misal, jika dihadapkan pada ayat yang berkata “potong kepalanya dan halal darahnya”. Apakah itu harus diibaratkan secara nyata dengan memotong kepala yang berbeda keyakinan? Ataukah itu adalah bisa diterjemahkan sebagai pemotongan ego di kepala, baik yang dianggap berbeda dengan mereka yang dianggap seratus persen suci. Padahal jika masuk lingkaran mereka, apakah bisa lebih baik kehidupannya?

Sebagaimana bisa ditelaah pada fenomena ramalan-ramalan tertentu, maka suatu jaman akan berubah menjadi suatu jaman yang lain. Susahkah dipercaya?, atau memang wilayah akademis tidak bisa terlingkupi suatu kekuatan agung metafisika secara menyeluruh. Sebagai suatu definisi pun dapat dikatakan oleh E.B. Taylor bahwa agama berasal dari suatu kekuatan agung yang kemudian diyakini sedemikian rupa. Maka alangkah bijaknya bila ilmu bisa menerjemahkan fenomena akan adanya ramalan-ramalan itu. Ramalan-ramalan tersebut antara lain adalah:

  1. Ramalan jaman Kaliyuga
  2. Ramalan Sabdo Palon
  3. Ramalan dari Kalender Maya yang menceritakan kiamat pada tahun 2012.
  4. Ramalan Jayabaya
  5. Ramalan tentang satrio piningit, imam mahdi, ratu adil, buddha maitreya, kalki avatar.
  6. Dan sebagainya.

Lalu ramalan tetaplah ramalan, namun bijak atau tidaknya memberikan ruang keyakinan pada suatu kekuatan agung ramalan itu adalah merupakan suatu pilihan tersendiri. Fenomena yang terjadi baik secara abstrak atau pun yang teryakini nyata, adalah berunsur dari pemahaman dalam tingkat spirit yang mungkin berbeda-beda pada setiap individu secara subjektif. Lalu apakah pemahaman dari ego menjadi suatu konstribusi pada super ego secara kolektif, berdasarkan jelas pada sifat serta psikologi masing-masing secara perorangan atau individu.

Kembali juga di atas tentang nilai-nilai yang tergerus pada suatu masa, bahwa Pancasila yang disebut sebagai ideologi bangsa, serasa berseberangan antara sila pertama dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Contoh nyata adalah bahwa kesempurnaan dari suatu keyakinan menjadi membabi buta, apa pun yang berbeda malah menjadi bulan-bulanan mereka. Hal itu sepertinya ditujukan kepada telinga para pembela fanatik dan fundamentalis yang telah ditutup dan bahkan menuju suatu pembenaran diri sendiri. Tidak ada yang sanggup dilakukan, kecuali dengan tegas untuk menerobos, mendekontruksikan moralitas yang sesuai dengan ideologi bangsa yang harus tidak pernah akan bisa dihancurkan oleh sekelompok kecil manusia-manusia yang mungkin salah dalam penafsiran kitab suciNya. Dipastikan pula memang benar bahwa bangsa ini masih terjajah dari sisi ideologinya. Dan pada dasarnya kemenangan seperti yang disyaratkan oleh beberapa kitab suci, seperti bhagawadgita dan sarasamuscaya menyebutkan kemenangan dharma yang agung itu adalah suatu hal yang pasti. Kemana pun suatu jaman itu tertuju, intinya adalah dharma pasti menang pada akhirnya. Namun proses menuju ke sana adalah suatu hal yang sejalan dengan paham Karl Marx tentang utopia di masa nanti. Bukan hal yang mustahil rasanya, karena tidak mungkin Tuhan sebagai keagungan semesta membiarkan mereka-mereka yang ikhlas sujud tidak mendapatkan karma yang sesuai. Pada saat akhri jaman itulah bagaimana keyakinan masing-masing diuji sedemikian rupa untuk bersama-sama menuju suatu akhir yang sayangnya indah bagi yang memuja keagungan-Nya.

Pada intinya adalah paham yang diyakini oleh umat hindu yang terangkum pada Panca Sraddha, bahwa karmapala itu tetaplah terjadi baik yang teryakini, atau pun yang kurang teryakini. Termasuk samsara dan tujuan akhir kemoksaan. Dasar dari suatu pemikiran tentang agama yang dituduhkan selalu brutal dan mengancam kehidupan, sebenarnya memiliki sesuatu keilmubatinan yang hampir mirip dengan apa yang diyakini oleh  filsafat moksa dari Hindu itu sendiri. Keilmuan atau pembelajaran batin dari seorang islam (muslim) sangat dekat keterjadiaannya dengan moksa itu sendiri. Pembelajaran itu adalah filsafat Mahrifat yang diperkenalkan atau disebarluaskan oleh Syeh siti Jenar dengan juga oleh Sunan Kalijaga. Mengapa dikatakan mirip, karena pada dasarnya bagaimana persatuan raga dengan Sang Khalik hampir sama dengan moksa yaitu pengetahuan tentang “diri” itu sendiri.  Dan bisa disandingkan dengan “Sangkan Paraning Dumadi”, atau bisa juga dihubungkan dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”.

Seperti yang diceritakan oleh Ngakan Putu Putra tentang Tuhan masa depan, maka sebagai suatu paham monotheisme, islam sudah menjadi suatu agama yang mengerikan. Di mana karena disangka mempersekutukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, maka agama lain (baca: agama bumi) dianggap sebagai agama yang lebih rendah dari yang mereka anut (islam). Padahal terdapat beberapa istilah bagaimana ayat Quran yang menyebutkan  “Agamamu agamamu, agamaku agamaku”.  Itu adalah salah satu ayat yang menjadi tameng terakhir jika suatu ayat pengislaman dilakukan suatu waktu di saat ini. Sebagaimana pula oleh Ngakan putu Putra, menyebutkan kelemahan-kelemahan dari paham transendensialisme dari Sang Khalik. Paham yang lain seperti Monisme atau pun paham pantheism sebenarnya bisa ditelisik kepada bahwa yang Kuasa mengimanensikan diri-Nya ke pada suatu alam semesta. Seperti juga yang disebutkan pada filsafat “tat twam asi” yang menyamaratakan manusia dan bahkan mahluk lainnya.

Pantheisme atau sebagai suatu paham semua adalah Tuhan, menyebutkan bahwa Tuhan berada di mana-mana sesuai dengan apa yang IA inginkan sendiri, atau bahkan apa yang diinginkan penganutNya. Sebagaimana disebutkan pelangi atau perbedaan antar umat-Nya, sebenarnya telah membebaskan bagaimana cara untuk menjadi abdi-Nya. Kerusuhan akibat keyakinan yang berbeda adalah suatu musuh dan bahkan penjajahan atas ke” Bhineka Tunggal Ika”an itu sendiri. Hal mutlak yang dilupakan adalah sila Ketuhanan yang Maha Esa sangat berseberangan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang seharusnya berlaku secara menyeluruh dengan sila-sila lainnya. Di saat keyakinan dijadikan senjata dalam memborbadir bangsa sendiri sebagai upaya menegakkan segala yang dianggap pembenaran dogma, maka Keadilan Sosial sebagai tujuan akhir dari suatu bangsa akan terjerembab dengan buruknya moralitas Pengkhidmat Kebijaksanaan yang sesungguhnya dipilih oleh rakyat itu sendiri. Apa yang salah dalam hal ini adalah mengingatkan pada suatu dekontruksi moralitas yang memerlukan suatu revolusi dari cara berpikir dan cara merasa.

Setelah melihat berbagai persoalan yang didapat secara gamblang di atas, maka terbesit suatu pemikiran yang mungkin diilhami oleh beberapa cendekiawan religi termasuk pula almarhumah Gusdur, maka didapat sebuah kata yaitu “universalitas”. Kata itu sendiri bisa dianggap memiliki suatu kesakralan yang tinggi seperti juga bahwa agama memiliki wilayah sakral dan juga profan yang dipahami oleh Durkheim sebagai bentuk psikologi kolektif di suatu lingkungan sosial.  Universalitas adalah berarti apa yang terdapat di setiap agama, baik agama apa pun itu jika ditelaah secara mendalam, dan bukan hanya dari fisiknya saja, maka filsafat berbagai agama itu bisa diperbandingkan dan pula bisa diakulturasi sedemikian rupa menjadi suatu pemahaman yang baru. Sebagai contoh seperti agama Shiva dan agama Budha yang telah terbukti menjadi suatu akulturasi filsafat yang masih ada sampai sekarang ini.

Perkembangan lainnya yang telah terbukti adalah bagaimana persatuan serta akulturasi antara Islam dan Hindu yang terbukti masih tampak di lombok (Islam Watu telu).  Dan pula di wilayah di Bali, terdapat pelinggih Ida Bhatara Mekkah pada Pura Negara Gamblung Anglayang yang memang lah sebagai simbol keislaman yang dihindukan atau bisa sebagai penghormatan atas islam itu sendiri.  Di samping pula berbagai penyamaan antara Syeh Jenar dengan leluhur Hindu Dang Hyang Nirartha (fenomena). Di samping itu pula bahwa suatu filsafat atau tattwa suatu agama, pada dasarnya akan secara otomatis sesuai dengan perkembangan jaman menuju pada akulturasi itu sendiri. Penyatuan ini juga tampak secara gamblang di daerah India, di mana Guru Nanak menakdirkan dirinya menyatukan Islam dengan keHinduan dan melebur menjadi Agama Sikh.

Seperti yang dituduhkan oleh yang lainnya, bahwa Hindu adalah sebagai agama yang politheism, sebenarnya adalah bahwa hindu memiliki berbagai sudut pandang atas apa-apa yang dituduhkan. Sebagaimana misal bahwa dewa yang dipuja, adalah sebenarnya memiliki fungsi tersendiri. Hal itu juga terdapat pada fungsi-fungsi Allah(baca:Tuhan) yang terangkum pada Asma Ul Husna, yaitu 99 nama Allah yang menjelaskan fungsi dari Allah itu masing-masing. Jika diibaratkan sebagai suatu universalitas, perlu digaris bawahi makna kata dari “menyekutukan” Allah adalah bahwa Allah diserang bersama-sama (sekutu) untuk memperoleh suatu kemenangan atas Allah tersebut.  Padahal dalam berbagai kesempatan adalah bahwa Allah yang disekutukan oleh beberapa pengikut fanatisnya dan memberikan sembari kasta kafir dan non kafir yang membuat perbedaan tinggi rendahnya manusia yang bahkan tidak sesuai dengan maha keadilan Allah tersebut. Kembali ke kata-kata Gusdur dengan pluralismenya, menyebutkan bahwa “Orang tidak akan melihat engkau dari agama apa, dari suku apa, kelahiran apa, jika engkau bermanfaat bagi manusia lainnya”, seperti itu kira-kira pernyataan Beliau.

Penalaran dalam memberi suatu penggambaran atau bayangan terhadap Yang Kuasa, sebenarnya tergantung dari bagaimana memandang Tuhan secara filsafati atau lebih mendalam. Maksudnya adalah wilayah abstrak Tuhan (Allah) dapat dikatakan bersifat melalui penggambaran 99 nama Asma ul Husna. Hal ini bisa juga ditelaah oleh tiga fungsi Tuhan dalam Tri murti yang transendensial yang mirip pula dengan sifat Asma ul husna yang juga transenden. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk membuka suatu jalan yang mungkin penuh makna di masa yang akan datang.

Secara fungsi dari Tuhan yang diagungkan oleh siapa pun itu, maka dalam hindu disepakati bahwa Utpeti, Sthiti, Pralina sebagai Tri murti, yaitu Brahma , Wisnu, Siwa, maka fungsi vital dan sakral itu sebenarnya pula terdapat pada agama-agama yang lainnya baik secara nyata atau secara terbersit. Dan bagi islam, maka Zikir Asma ul Husna dengan japa apakah itu Mahamrytunjaya, atau Japa thiruu neelam kantam, sebenarnya bisa dan sangat boleh disandingkan secara bersama-sama untuk bisa menjadi suatu ketidakberdayaan di hadapan Brahma Al-khalik yang menunjukkan fungsi tersendiri. Dan apakah ada suatu jawaban tersendiri dari pembenaran atau kebenaran itu nantinya, maka kembalikan dari bahwa jaman kaliyuga tidak selamanya akan ada. Dan teryakini bahwa jaman lain yang terhubung dengan kaliyuga seperti jaman Kertha Yuga yang merupakan jaman keemasan manusia akan terjadi  di kemudian hari.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Berjapa Shiwa pada jaman Akhir(kaliyuga)!!!…

shiva anataraja

Untuk pertama,disebutkanlah bagaimana bumi terbentuk dan berlanjut dengan berbagai perubahan jaman, menjadi jaman yang sekarang ini.

Diyakini pula bagi semua, bahwa jaman ini adalah jaman kaliyuga ..yaitu jaman dengan 75% negatif dan 25% positif.. Hal ini sungguh pun berbeda dengan jaman2 yang lainnya…Jika dilihat satu persatu ada jaman kertha yuga yaitu 100 persen baik..dan jaman dwapara yuga, 75 persen baik dan 25% tidak baik. Dan yang terakhir adalah jaman traita yuga keseimbangan..

Nah berdasarkn riwayat tahun yang ada di  purana memang bervariasi…tapi jika sudah berbivcara keyakinan bahwa kiamat telah dekat maka ..penghancuran adalah bukan hal yang mustahil bagi siapa pun saja dan golongan apa pun itu…Universalitas itu memang menjadi suatu kenyataan hidup sesungguhnya baik sekarang atau di kemudian harinya..Mengapa sekarang adalah suatu jaman penghabisan?Karena dalam keyakinan spirit bahwa dapat dikatakan rumor-rumor serta ramalan2 tentang akhri jaman baik dari suku maya ataupun dari ramalan seperti mama lauren, dpat disadari atau tidak memang semesta menuju ke arah tertentu. Barangkali sikap optimistis dari suatu jaman keemasan dapat dikatakan bukan suatu hal yang mustahil..

Namun sebagai seorang pengabdi saiwa atau pula sebagai seorang Hindu, maka dapat dijelaskan bagaimanakah cara yang indah untuk selalu menetapkan dan mempertahankan optimisme tersebut?..Dalam bukunya Bapak Jendra menyebutkn bgaimana cara mengurangi atau mempercepat karma baik pada jaman kaliyuga ini..Bisa dijelaskan pula pada jaman kaliyuga dikatakan walaupun banyak kejahatan (75%) namun karena berlebihnya kekirian menyebabkan perbuatan, perkataan, pemikiran (wak kay mana) sedikit dalam koridor subhakarma akan menjadi berlipat ganda.Jadi sedikit berbuat subha karma maka akan ditulis secara berkali-kali lipat.berpahalanya.

Japa sebenarnya adalah suatu cara untuk melakukan doa seterusnya baik diucapkan dan dihatikan.. Japa menjadi sedemikian bermakna, karena sesungguhnya japa bisa dilaksanakn oleh siapa pun juga dan sampai kapab pun juga. Banyak berbagai mantra yang bisa diambil atau dirapalkan yang sesuai dengan keyakinan ia sendiri..Sebagai misal japa Ganesha (om gan ganapataye), japa Gayatri mantram , dan ada juga japa yang mengagungkan Dewa Saiwa, yang lain juga japa Hare Khrisna atau hare rama…

Sesuai dengan judul yang ada, maka bertepatan denga kedatangan hari kiamat yang sudah di gerbang pintu kebenarn, maka sbagai pemuja Saiwa, bisa diisyratkan untuk bagaimana menjadi penyejuk dengan sujud kepada Saiwa dalam bentuk “Lingga” atau sebagai Pelebiur atas segalanya. Terdapat Japa yang diyakini akan menjadi suatu pembebasan di stiap harinya dari segala permasalahan hidup dan sekaligus mempercepat karma agar terealisasi.

Jadi japa yang bsa saya siarkan adalah dua mantra dari Saiwa.yaitu Mahamrytunjaya Mantram…

http://www.youtube.com/watch?v=ClxgIS-_X_g

Mantra ini adalah mantra yang jika dirapalkan berfungsi untu membebaskan diri dari permasalahan dann godaan-godaan serta mencari soluisi atas permasalahan itu sendiri….

Japa kedua adalah mantram Thiruuu neelaam kantam…Yaitu mantram saiwa yang berarti Leher hitam Saiwa, yang didapatkan karena mereguk racun di sebuah danau untuk menjernihkan danau itu sendiri dari kotoran yang dikotori kaum raksasa..

http://www.youtube.com/watch?v=8E0JwSl9f3k&feature=related

Dengan melakukan japa di setiap kesempatan, maka manfaat yang diperoleh adalah sesuai dengan apa2 yang teryakini..Mantram Thiruu neelam kantam memiliki fungsi sebagai peleburan karma..Bukan sebagai suatu yang menghilangkan karma, namun sebagai mempercepat datangnya hasil perbuatan itu sendiri..

Ada dua keputusan yang terjadi, Jika dahulu banyak berbuat buruk maka dengan mantram ini adalah dengan seterusnya akan memberikn pahala buruk itu sendiri (mempercepat), dan bisa membuat karma seebagai kekosongan dan iklas serta insyaf mengambl hasil buruk .

Keputusan yang kedua adalah jika banyak berbuat kebajikan dan kebaikan yang sesuai, maka mantram yang dijapakan ini bisa mempercepat datangnya muzijast dan rejeki yang sesuai dengan dharma atau kebaikan yang ada..

Yaps itu saja, semoga bermanfaat kedepannya sebagai pemuja Saiwa serta abdi Saiwa yang sempurna..

Om Siwa Narayana, Om sada Siwa, Om Ksama Sampurna ya Namo namah Swaha…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bagaimana Beliau bisa Banyak Nama..

bahasan ini dapat dinyatakan sebagai tuntunan bagaimana Beliau bisa disebut sebagai banyak nama..

Terutama dalam bahwasannya Beliau disebutkan sebagai unsur Tri Murti dunia..yang berartikan sebagai Brahma, Wisnu, Siwa…

seperti diketahui bahwa Brahma adalah sebagai pencipta, dimana manusia pun dalam penerapan kehidupannya merupakan suatu pencinpta dalam hidupnya, yaitu pencipta kedamaian…

disamping itu terdapat Sang Hyang Wisnu yang merupakan manifestasi Beliau sebagai pemelihara dunia…Adapun berbagai cerita atau suatu waktu Beliau turun ke dunia untuk menyelamatkan berbagai umat manusia dalam bentuk avatara. Avatara adalah suatu bentuk Tuhan yang berkepribadian dan menujukan diri pada suatu penyelamatan pada dunia sebagai pengajar atau penuntun manusia menuju kebebasan. Ada sepuluh avatar yang bahwasannya sebagai penyelamat dunia dalam suatu bentuk- bentuk tertentu. Avatar-avatar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Matsya Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Ikan yang besar yang menyelamatkan manusia pertama dari tenggelam saat dunia dilanda banjir yang maha besar.

2. Kurma Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai kura-kura besar yang menumpu dunia agar selamat dari bahaya terbenam saat pemutaran Gunung Mandara di Lautan Susu (Kesire Arnawa) oleh para Dewa untuk mencari Tirta Amertha (Air suci kehidupan)

3. Waraha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Badak Agung yang mengait dunia kembali agar selamat dari bahaya tenggelam

4. Nara Simbha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai manusia berkepala singa (Simbha/Sima) yang membasmi kekejaman Raja Hyrania Kasipu yang sangat lalim dan menindas Adharma

5. Wamana Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai orang kerdil berpengetahuan tinggi dan mulia dalam mengalahkan Maha Raja Bali yang sombong dan ingin menguasai dunia serta menginjak-injak Dharma.

6. Paracu Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Rama Parasu yaitu Rama bersenjatakan Kapak yang membasmi para ksatrya yang menyeleweng dari ajaran Dharma.

7. Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sang Rama putra raja Dasa Rata dari Ayodya untuk menghanncurkan kejahatan dan kelaliman yang ditimbulkan oleh Raksasa Rahwana dari negara Alengka.

8. Krisna Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sri Krisna raja Dwarawati untuk membasmi raja Kangsa, Jarasanda dan membantu Pandawa untuk menegakkan keadilan dengan membasmi Kurawa yang menginjak-injak Dharma.

9. Budha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai putra raja Sododana di Kapilawastu India dengan nama Sidharta Gautama yang berarti telah mencapai kesadaran yang sempurna. Budha Gautama menyebarkan ajaran Budha dengan tujuan untuk menuntun umat manusia mencapai kesadaran, penerangan yang sempurna atau Nirwana.

10. Kalki Awatara yaitu penjelmaan Hyang Widhi yang terakhir yang akan turun untuk membasmi penghinaan-penghinaan, pertentangan-pertentangan agama akibat penyelewengan umat manusia dari ajaran Hyang Widhi (Dharma). Menurut keyakinan umat Hindu, awatara terakhir akan turun apabila memuncaknya pertentangan-pertentangan agama di dunia ini.

Yang ketiga adalah Siva..sebagai pelebur, pengembalian dunia kepada Tuhan atau Sang Hyang Widhi…Titisan Siva pun ada yang mengikuti titisan Wisnu sebagai pendamping, sebagai contoh adalah Hanuman yang bersifat sebagai titisan Siva di Jaman Ramayana…

dari amalan itu terdapat tiga horisontalitas makna manifestasi Beliau..sebagai pencipta, pemelihara, pelebur..bisa dibandingkan dengan GOD yaitu Generator, Operating, Destruction..

Selain itu terdapat pula Ganesha sebagai anak Dewa Siva, Narayana, Shri, Gayatri dan sebagainya yang menyebutkan bahwa Ia adalah termanifestasi sesuai dengan keinginan umatnya..

yang salah satunya disebutkan pula kiasan yang berartikan :”Ekam Sat Viprah Bahuda Wadanti” yang berarti bahwa Hanya ada satu Beliau namun orang Bijaksana menyebutNya dengan banyak Nama..karena berbagai fungsi-fungsi tersendiri dari Beliau itu sendiri..

seseorang dalam menjalani berbagai ritual menyelami kehidupan ini, sangatlah memiliki berbagai sudut pandang yang berbeda pula…ada yang memuja Ganesha sebagai citraan Tuhan, ada pencinta Siva, ada pencinta Wisnu…pada dasarnya adalah sama memuja suatu Beliau sahaja…namun mereka dalam menyelami Beliau terdiri dari berbagai citra-citra tersendiri…hal itu menyebutkan bahwa HIndu memiliki suatu universalitas dalam menjalani berbagai sudut pandang tersebut…mana yang lebih cocok maka citra itu yang terpilih…

Sebagai awal pembentukan spiritual, disajikan bahwa citra Beliau bisa disimbolkan sebagai suatu wajah yang menyenangkan, penuh cinta kasih dan terlaksa sebagai pelindung..hal itu disiarkan dalam hati dan dipujam serta dijapam sedemikian rupa untuk mengikrarkan Beliau dalam hati masing-masing sampai seumur hidup….

ada juga yang disimbolkan sebagai suatu huruf atau ayat- ayat yang menyimbolkan Beliau..seperti Ongkara…hal itu kembali tergantung pemahaman masing-masing dalam penerapan citra Beliau…

tiada yang salah, bahkan dalam penerapan lain, Beliau bisa dipaparkan sebagai sesuatu yang tiada terjangkau namun memiliki cahaya pada setiap mahluk yang menyebabkan tiada yang tanpa berisikan Beliau baik mahluk hidup ataupun tidak…Ini pencitraan Beliau ada dimana-mana pada berbagai mahluk…

dalam bhagawadgita disebutkan sebagai berikut :

    Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham,
    mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah

(Bhagavad Gītā, 4.11)

Arti:

    Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku,
    Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku
    dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)

    Yo yo yām yām tanum bhaktah śraddhayārcitum icchati,
    tasya tasyācalām śraddhām tām eva vidadhāmy aham

(Bhagavad Gītā, 7.21)

Arti:

    Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang,
    Aku perlakukan mereka sama dan
    Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap

maka Beliau dalam banyak nama dan bentuk adalah jalan saja bagi diri nya masing-masing untuk mengenal Beliau Sang Maha Kuasa…

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: