RSS

Arsip Tag: Upacara

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah (Upacara)

Pengelolaan serta Pemanfaatan Sampah Upacara

 A.Pola Pikir tentang Sampah (upacara)

Saat kita dihadapkan dengan kata sampah, maka yang ada dalam pikiran adalah kata “jijik” dan “kotor”. Hal itulah sebenarnya yang menyebabkan ketidakpedulian terhadap sampah itu sendiri menjadi meningkat. Padahal sampah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri, sebagai sesuatu hasil dari pekerjaan tertentu yang tidak bernilai atau ampas-ampas yang tidak digunakan lagi.  Sampah adalah keseharian hidup manusia, bahkan sampah adalah tidak terpisahkan pula pada hubungan dengan kekuasaan Ilahi itu sendiri. Seperti pula bagaimana Tri Hita Karana, yaitu Parahyangan, Pawongan, Palemahan.

Dalam hubungan yang selaras dengan lingkungan (alam) atau Palemahan, maka hendaknya disadari bahwa untuk menjaga suatu lingkungan agar tetap bersih dan senantiasa asri yang mencakup sebagai suatu kebersihan diri itu sendiri. Dalam mitos-mitos tentang Betara Kala, disebutkan bahwa saat itu Dewa Kumara dikejar-kejar dan lolos karena bersembunyi di dalam gundukan sampah. Maka Betara Kala pun mengutuk orang-orang yang membuang sampah sembarangan agar mendapatkan penyakit menular (www.balipost.co.id). Hal itu secara logika bisa dikatakan onggokan sampah adalah sumber penyakit yang membahayakan manusia sekitarnya. Di samping itu menurut pemahaman Tri Guna (Sattwam, Rajas, Tamas), maka manusia yang berlebihan dalam tabiat tamasnya, akan bersifat atau berkepribadian awut-awutan, tidak terurus, dan malas (http://www.hukumhindu.or.id/susila-dalam-agama-hindu/), hal ini sangat berhubungan dengan tingkat kepedulian kebersihan akan lingkungan itu sendiri.

Jika dilihat pada Tiga Kerangka Agama Hindu, maka Tattwa serta Susila diangkat atau dijalankan melalui Upacara. Upacara yang ada adalah sebagai bagian dari pembayaran tiga utang (Tri Rna) yaitu kepada Dewa, kepada Pitara, serta kepada Rsi. Dan kewajiban yang ada dalam pembayaran hutang itu, dijalankan dengan Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Maka Panca Yadnya ini jika dilaksanakan memerlukan berbagai sarana-sarana, dalam hal ini adalah bebantenan itu sendiri.  Dan pada akhir dari upacara, maka lungsuran atau prasadam sisa upacara akan dinikmati oleh yang menghaturkan yadnya tersebut.  Hal ini seperti juga dikatakan pada Bhagawadgita sloka III-13 yaitu,

 

Bhagawadgita III-13

“yajna-sistasinah santo mucyante sarwa-kilbisaih,

Bhunjate te tw agham papa ye pacanty atma-karanat”

Artinya : Orang-orang baik yang makan sisa persembahan kurban akan terlepas dari segala dosa, tetapi orang-orang jahat yang mempersiapkan makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya mereka itu makan dosa”

Jadi pada intinya adalah bahwa sisa-sisa persembahan dari kurban jika dimanfaatkan sebenarnya akan terlepas dari segala dosa. Maka hasil dari upacara pun sebenarnya adalah akan menjadi suatu manfaat tertentu jika dengan sadar kita pahami bahwa tidak ada satu apa pun yang tidak bernilai, walaupun itu adalah dalam bentuk sampah.

Dalam Manawa Dharmasastra IV.56 juga disebutkan bagaimana hendaknya agar tidak membuang sampah sembarangan yang dijelaskan sebagai berikut :

Manawa Dharmasastra IV.56

Napsu mutram purisam wa sthiwanam wa samutrsjet, amedhya lipya     menyadwa lohitam wa wisaniwa”.

Artinya : Hendaknya ia jangan kencing atau berak dalam air sungai, danau, dan laut, tidak pula meludah, juga tidak boleh berkata-kata kotor, tidak pula melemparkan sampah, darah, atau sesuatu yang berbisa atau beracun.

Sloka ini juga menyarankan bagaimana baiknya untuk tetap menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah.

  1. Sampah Upacara serta Nilai yang Terkandung di dalamnya.

Dalam pelaksanaan upacara Yadnya, terdapat sindiran dari umat lain yang menyatakan bahwa cara persembahyangan umat hindu hanya menghasilkan sampah yang menggunung. Hal itu sebenarnya tidak dapat disanggah jika melihat berapa jumlah volume sampah sisa dari hasil upacara itu sendiri. Sebagai contoh pada berita di salah satu stasiun TV  menyebutkan bahwa sampah yang dihasilkan pada hari raya galungan adalah sebanyak 5000 meter kubik atau setara dengan 714 sampah yang diangkut oleh truk. Coba diperkirakan bagaimana pertambahan jumlah sampah pada hari raya yang lain. Memang dalam hal ini sudah dilakukan pembuangan sampah menuju TPA-TPA yang ada. Namun mari kita lihat bagaimanakah sampah-sampah yang ada di pantai misalnya, semakin tidak terlihat manis di mata.

Sebagai gambaran data biro pusat statistik yang menyebutkan bahwa di kawasan perkotaan baru 11,25 % sampah yang dihasilkan diangkut oleh petugas pemerintah, sisanya 63,35 % sampah ditimbun/dibakar, 6,35 % sampah dibuat kompos, dan 19,05% sampah dibuang ke kali secara sembarangan. Sementara itu, di kawasan pedesaan, sebanyak 19 % sampah diangkut petugas, 54 % ditimbun atau dibakar, 7% dibuat kompos, dan 20 % dibuang di kali sembarangan. Dari statistik di atas menggambarkan bahwa pengelolaan sampah secara salah sekitar 20% masih dilakukan, yang artinya sebagai cikal bakal penyakit (kutukan Bhatara Kala) serta sifat ketamasan. Namun jika diletakkan suatu pikiran bahwa sampah, dalam hal ini sampah upacara sebagai juga suatu yang dapat dimanfaatkan atau sebagai lungsuran(prasadham), maka sebenarnya sudah terdapat 7 % yang secara sadar menyebutkan sampah bisa bernilai guna sebagai pupuk kompos untuk melestarikan kehidupan serta lingkungan itu sendiri.

Sampah upacara pada dasarnya dapat dimasukkan sebagai sampah organik dan sedikit pula terdiri dari sampah yang anorganik. Sampah organik adalah sampah yang bisa terurai dan mudah membusuk, yang diantaranya sisa makanan, sayur, daun-daun kering, bunga, dan sebagainya. Pada upacara maka sampah organik adalah bunga, janur, buah, dupa, serta bagian yang bisa membusuk lainnya. Lain pula dengan sampah unorganik yang tidak dapat terurai. Sebagai contohnya adalah plastik, kertas, plastik mainan, kaleng, dan sebagainya (wikipedia). Pada intinya yang diperlukan untuk mendapatkan suatu nilai tambah dari suatu sampah adalah dengan melakukan pemisahan terdahulu antara sampah organik dan sampah unorganik tersebut.

Pemanfaatan sampah organik yang diubah menjadi pupuk yang juga bernilai tambah, adalah hal yang bisa dilakukan. Karena pada dasarnya penggunaan pupuk dari organik lebih bermanfaat dan mengurangi sifat-sifat kimiawi yang membahayakan daripada menggunakan pupuk kimia itu sendiri. Dan permintaan yang cukup tinggi di pasar, menyebabkan harga dari pupuk ini per kilonya mencapai Rp.10.000,00. Dan dalam jumlah banyak (sekitar 1 ton) harganya juga menyesuaikan menjadi Rp.5.000,00.  Pupuk juga bisa digunakan sendiri untuk perkebunan atau taman. Jadi nilai tambah dari sampah yang diyakini adalah nol, menjadi lebih bermakna secara ekonomis, serta bernilai pula dari sisi kebersihan dan menuju Bali go-green 2013 sesuai dengan program pemerintah.

Untuk awalnya, maka pemanfaatan sampah ini bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut (Susetya) :

  1. Pengumpulan sampah organik : Semua sampah organik berbentuk dedaunan, sampah sayur, buah dikumpulkan. Untuk sampah yang berukuran besar, dipotong-potong terlebih dahulu agar bisa masuk ke dalam kantong plastik.
  2. Pemasukan sampah ke dalam kantong : Setelah selesai dipotong, secara bertahap masukkan sampah ke dalam kantong. Selanjutnya siramkan larutan promi secara merata. Masukkan kembali selapis sampah 10 cm, siramkan kembali larutan promi. Ulangi langkah sampai kantong plastik penuh.
  3. Inkubasi : Proses inkubasi dengan menutup rapat kantong plastik dengan tali plastik. Biarkan kurang lebih 3-6 minggu hingga kompos matang.
  4. Panen kompos : Setelah matang, bisa langsung digunakan. Namun untuk hasil lebih berkualitas, sebaiknya kompos matang dikeringkan, dicacah, dan diayak. Sehingga pupuk yang dihasilkan tidak berbau dan layak jual.

Jadi penggunaan atau pemanfaatan menjadi kompos adalah suatu yang termasuk dalam wilayah melestarikan palemahan (lingkungan), sebagaimana pula jika dilakukan secara profesional, maka akan menambah atau membantu perekonomian selain pula membantu pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang asri.

  1. Manfaat dari Budaya Pengelolaan Sampah

Sampah sebenarnya adalah suatu yang memiliki nilai jika bisa dilakukan pengolahannya menjadi sesuatu yang berguna. Dalam hal ini di daerah denpasar sendiri sudah berdiri bank sampah di jalan Noja. Sebagamana telah berjalan dua tahun (2010) dan menjadi tempat pengubahan sampah menjadi suatu yang bernilai ekonomis. Selain itu pula seperti namanya yaitu “bank”, ada sebagai tempat menabung sampah secara berkala, dan diuangkan sehingga bernilai ekonomis baik bagi yang menyetorkan sampah serta bagi yang manajemen yang mengelolanya.

Lain pula bagaimana pengembangan pengelolaan sampah di temesi. Di samping pula sebagai tempat yang memproduksi pupuk kompos serta biodiesel, Temesi juga mengambil bagian sebagai pusat pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang lebih indah baik itu di daerah Gianyar, atau keseluruhan Bali pada umumnya. Dan kompos yang dihasilkan di Temesi ini juga diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan para petani secara keseluruhan.

Profesionalitas pengelolaan itu pun, bisa dicontoh dari sekeliling wilayah masyarakat, apakah itu banjar, desa, atau bisa dalam pengorganisasian tempat persembahyangan suatu daerah di Bali. Selain pula dibantu dari swasta, pemerintah untuk menunjang kebersihan serta keasrian seperti pula pemberdayaan desa adat itu sendiri.

Dalam suatu pola pikir masyarakat, maka sampah adalah dianggap sebagai suatu yang terpinggirkan dan menjadi posisi tersudut atau marginal. Padahal sampah dalam hal ini bisa jadi merupakan suatu anugerah pula bagi masyarakat itu sendiri. Baik itu seperti sampah sebagai akibat hasil dari upacara yang dilakukan oleh umat dalam melaksanakan prosesi panca yadnya-nya. Sekehendaknya adalah posisi marginal itu diberikan ruang pemikiran untuk menjadi suatu yang berguna di kedepannya. Manfaat untuk lingkungan dalam hal ini Bali itu sendiri adalah menjadi tujuannya.Di samping pula menyongsong Bali untuk menjadi Bali yang selalu bersih, aman, lestari, dan indah.

 

 

Daftar Pustaka

Arifin, Togar Silaban. 2008. Memaknai Nilai Ekonomis Sampah. Pada website http://togarsilaban.wordpress.com

Gede Dharma Putra. 2010. Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan yang Berasal dari sampah, . Pada website http://kgdharmaputra.blogspot.com/

Handayani Trisakti. 2010. Dekonstruksi dalam Penelitian Cultural Studies. Pada website trisakti.staff.umm.ac.id/files/2010/03/Dekonstruksi1.pps

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuscaya (dalam teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna). Penerbit Paramita Surabaya.

Maswinara, I Wayan (penyadur). 1997. Bhagawadgita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Penerbit Paramita Surabaya.

Pudja G.,M.A. , Rai Sudharta, Tjokorda, M.A. 1996. Manawa Dharmacastra (Weda Smreti Compendium Hindu). Penerbit Hanuman Sakti Jakarta.

Putrawan. 2010. Permasalahan Sampah Sisa Upacara. Pada Website http://majalahhinduraditya.blogspot.com/

 

Susetya Darma,S.P. ____. Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik (untuk tanaman Pertanian Perkebunan). Penerbit Pustaka Baru Press.

Sumada Ketut. 2012. Pemanfaatan Limbah “Canang” (Bunga) di Pura. Pada Website http://ketutsumada.blogspot.com/

Syahyuti. 2011. Teori Dekontruksi Derrida. Pada website  http://kuliahsosiologi.blogspot.com/

___________. 2012.  Volume Sampah Galungan Setara dengan 714 Truk, www.balipost.co.id

___________.____. Susila dalam Agama Hindu. Pada website http://www.hukumhindu.or.id/

___________.____.  About Our Compost. Pada website http://www.temesirecycling.org/

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Agustus 2012 in agama, budaya

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Alit (nista) madya Utama adalah jawaban atas segala permasalahan upacara..

Permasalahan utama di jaman sekarang di Bali adalah dalam hal upacara , dimana terkadang secara materi, umat hindu merasa bahwa terkadang upacara menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan…Bahkan secara ekstrim itu dipakai sebagai alasan untuk meninggalkan Kehinduannya….hal itu sangat disayangkan karena pada dasarnya para leluhur dahulu telah menetapkan upacara itu bisa dilakukan sesuai dengan keuangan dari sang pelaksana upacara itu…

Tiga tingkatan itu adalah alit Madya Utama….Hal hal itu berhubungan dengan keiklasan dan ketepatan dari seorang umat untuk melkasankan yadnya nya..Karena pada dasarnya Tuhan menghendaki umatnya untuk iklas dalam melaksanakan yadnyanya sebagai umat…

Alit adalah kata lain dari nista (namun karena nista kurang bagus rasanya maka dibuatlah kata alit)..itu untuk orang yang memiliki keuangan aga menengah ke bawah…

madya adalah tengah tengah…

utama adalah besar ….

Analoginya adalah hal itu harus juga sesuai dengan apa2 yang benar-benar ada di masyarakat berdasarkan Tri hita karana palemahan pawongan dan parahyangan…orang yang kaya jika menggunakan upacara alit maka akan dipandang pelit dari masyarakat…dan orang alit menggunakan upacara utama sampai pinjem ke bank dengan alasan bahwa itu untuk prestise juga salah di mata orang-orang….

Keiklasan adalah hal penting dalam Yadnya…itu yang dipandang oleh Beliau sang Acintya dalam memandang amal baktinya kepada umat…

Untuk tentang bagaimana teknis dari upacara itu, maka peran seorang sulinggihlah yang bisa menjadi solusi dari pertanyaan umat itu….jangan sampai ada umat merasakan berat dalam melaksanakan yadnya…dan sulinggih haruslah kompeten karena Beliau adalah sulinggih….untuk tingkat keyakninan maka saya pernah baca di kitab tapi saya lupa apa sarasamuscaya atau manawa dharma sastra tapi intinya adalah…bahwa sulinggih harus mempertanggung jawabkan jawaban atas solusinya terhadap pertanyaan umat pada Tuhan Yang Kuasa…karena jika salah maka neraka adalah jawabannya….

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Being Spiritual is Being Natural..

kata-kata yang sangat indah dalam menjalani suatunya dalam pemujaanNya…di bidang spiritual dalam menjalani berbagai ritual-ritual sebagai suatu yang dapat dilihat, adalah tercantum suatu sifat atau sikap toleransi terhadap segala berbagai perbedaan…

Hal ini terutama dilaksanakan pada suatu pemahaman-pemahaman natural dari berbagai ritual tersendiri di Hindu..Sebagai contoh ada perbedaan signifikan antara pemujaan dalam ruang lingkup Hindu di India dan di Bali..Di Bali banyak digunakan berbagai simbol-simbol penting yang menautkan tattwa (filsafat) atau kebenaran dalam mengupayakan suatu ritual-ritual tertentu…di India hal itu belum tentu ada dalam penerapannya..Itulah yang membuat Hindu kaya sebagai suatu sifat-sifat toleransi di dalam Hindu sendiri…

Timbulnya simbol-simbol yang ada berasal dari kedatangan para orang-orang suci Hindu pada masa lalu..Beliau memberikan suatu ajaran-ajaran yang menjadikan Hindu di Bali memiliki ciri-ciri sendiri yang ada..Beliau-beliau tersebut adalah sebagai berikut..:

1. DANGHYANG MARKANDEYA

Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegal lalang – Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.

Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.

Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.

Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.

Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.

Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN

Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.

Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).

4. MPU MANIK ANGKERAN

Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.

Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA

Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).

Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain : Mpu / Danghyang Nirarta, dan dijuluki : Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.

Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.

Dan dari kemajuan teknologi serta media yang berlimpah, pada jaman ini semakin banyak cara-cara mengkhusus yang menjadi suatu kekayaan dari Hindu itu di Bali sendiri..seperti kalimat yang berjudul “Being Spiritual is Being Natural”..yang dapat diartikan sebagia cara-cara untuk memahami dan menjalankan Hindu tersebut secara tersendiri….

Seperti juga dijelaskan pada sloka manawa dharmasastra serta kutipan dari http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2009/06/perbedaan-hindu-india-dan-hindu.html

Penerapan agama Hindu agar berhasil harus disesuaikan dengan tujuan (Iksha), kemampuan (Sakti), aturan setempat (Desa) dan waktu (Kala). Namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan Tattwa atau kebenaran Veda. Hal inilah yang menyebabkan Hindu di India dan Hindu di Bali atau di mana saja selalu berbeda-beda bentuk penampilan luarnya. Lima pertimbangan ini sebagaimana dutuliskan dalam Manawa Dharma Sastra:

Karyam so’veksya saktimca
Desakaala ca tattvatah
Kurute dharmasiddhiyartham
Visvaruupam punah punah.
(Manawa Dharmasastra VIII.10)

Maksudnya:
Setelah mempertimbangkan iksha (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), kala (waktu) dan tattwa (kebenaran) untuk menyukseskan tujuan agama (Dharmasiddhiyartha) maka ia wujudkan dirinya dengan bermacam macam wujud.
Di Bali sinergi Agama Hindu dengan budaya Bali mampu meningkatkan dan mengembangkan kualitas budaya Bali. Dalam sinergi itu tampak Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat) yang menjiwai semua aspek budaya Bali.

Yang pasti dalam melaksanakan berbagai ritual dan penjiwaan Hindu tersebut, hendaknya disadari bahwa betapa pentingnya unsur tattwa (kebenaran) dalam menjalani berbagainya tersebut..Hal itu sebagai tuntunan dasar untuk menyatakan bahwa segala ritual itu adalah mengandung kebenaran yang bersumber dari ajaran atau sloka sloka Hindu yang ada…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juli 2009 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: