RSS

Arsip Tag: wraspati tattwa

Cetana dan acetana kesadaran dan ketidaksadaran atas manusia dan hewan…

Om pasupatya pujamkha ya namo namaha..agastya ning parwa ya namo namah..sahadjanataka dewarshi pujamkha aum om tat sat..

Cetana acetana..cetana artinya kesadaran..kesadaran yg membuat manusia sadar akan idepnya yg diberikan bhatara hyang untuk mengenal diriNya sendiri, dan juga mengenal atma tattwa, yaitu mengenal sangkan paraningMya..idep itu sendiri yg dianugerahkan kepada manusia shingga mengenal IA yg nanya suka duka lara bagya juga rogha dan terakhir pati..ini dikuasai oleh sattwika guna yg membuat manusia berbeda dari pashu atau hewan jga tumbuhan..
Dan acetana sndiri adalah brasal dri guna rajas tamas dimana hewan tidak akan mengenal adanya kesadaran akan diriNya sendiri..tidak mampu mengethui sangkan paran atau asal muasalNya dan susah sekali Ia jihwatman yg berada pada acetana mngthui “jalan pulangnya”..
Dalam srsmsucya disbutkan sungguh kebersyukuran terlahir menjadi manusia, krna dapat menigkatkan hidupNya dan sadar akan diriNya sndiri sbagai yg berkesadaran Tuhan..berbeda lah ktika sbagai binatang yg lahir dgn sifati guna rajas tamas tanpa sattwika, shingga manasNya tidak dibrikan kesadaran buddhi tattwa jga tidak dibri kesadaran akan wijnana maya kosa atau kecerdasan..maka ia tak akan mengenal namanya jnana yg membawa pada kelepasan dan hnya menunggu sesuatu (bisa juga manusia) untuk menyelamatkan dirinya agar naik derajatnya menjadi manusia..
Dalam agastya parwa disebutkan bahwa manusia yg telah sampai sbagai manusia uttama ning uttama, mampu dengan mudah untuk meningkatkan derajat binatang sampai ke taraf cetana kesadaran manusia pada kehidupan selanjutnya..dikatakan bahwa manusia suci uttama ning utama, apa yg ia makan, apa yg ia sentuh dan bahkan manusia lain yg berbicara atau disentuhnya bisa terlebur dosanya2nya, ini disebut sbagai sang maha rishi yg telah mengenal kesadaran atman cetana ning buddhi dharma kawisesan, minab smpun meraga Shiva (dewa panca rshi sapta rsi dewarsi dsb)..maka saat Ida mlkukan pemujaan, bahkan lingkungan yg mendengarkan mantra Nya itu tersomyakan atas berkat atma ning suhci itu…beryogalah Beliau agar mantra suciNya mampu menyupat acetana mnjadi cetana..pasupatya pujam.
Ini yg membuat wewantenan yg dipuput oleh Ida memberikan vibrasi juga energi besar yg melukati sekitarNya, bahkan juga yg mendengar dentingan genta Ida..sebagaimana juga bebantenan yg berisikan hewan2 yg ada niscaya akan juga termanifestasikan untuk naik tingkat bersama sattwika guna mnjdi yg lebih tinggi..diantara manusia ada mahluk lain yg juga dgn kecerdasan sama bhkan lebih tinggi, sperti yaksa gandharwa widyadara daitya aditya danawa rakasha paisacha dan sebagainya, mereka adalah abdi juga dri Ida hyang bhatara…
Kemudian para hewan itu (yg terdiri dri rajas tamas yg acetana) bersama guna sattwika akan mnuju pada kehidupan yg lebih tinggi dimana acetana mereka terlebur mnjdi cetana sattwika guna, dan rajas tamas mreka dikubur dgn sattwika guna yg dimana tidak dikenallah mereka lagi dalam kehidupan selanjutnya..dlam bhagawadgita disbutkan AKU mengenal kelahiran2Ku sebelumNya, tetapi tidak engkau wahai arjuna yg melupakan kelahiran2mu”…

Karena itulah kelahiran seblumnya yg dikenal oleh beliau yg wikan adalah sattwika gunaNya, (pitara sane samsara) bukan rajas tamasNya..namun kmbali bhagawadgita menyebutkan ” Diantara ikan AKU adalah seekor Hiu” maka kesadaran Tuhan sendiri ada dalam hewan juga..
Binatang apakah Aku di masa lalu? Mudah saja untuk melihat itu, tapi memastikanNya adalah berlakukah dgn meninggalkan sattwika guna, maka tertinggal rajas tamaz saja, niscaya kelak engkau akan lahir sebagai hewan yg meminta untuk kembali menjadi manusia (wrspatti tattwa)
Shanti rahayu om

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2018 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

Manusia akan kemana?setelah “Kematian”..(wraspatti tattwa)..

ArmyCorpsOfHell_Hero

Dunia adalah sementara, semua tau itu. Dan sebagai seseorang yang memiliki suatu kata “yakin” dalam hati, maka Ia akan memberikan kehidupan itu sesuatu warna tersendiri dalam apa-apa yang Ia kerjakan dan laksanakan. Keyakinan itu menjadi sesuatu yang patut dilaksanakan atau diajarkan dalam hidup ini. Lalu tentu saja dalam berbagai yang Ia jalani memiliki kadar tersendiri bagaimana Ia menjalani kehidupan setelah “hidup” yang sementara ini selesai.

Lalu sebagai seseorang yang menjalankan pengetahuan akan “dharma”, maka dalam suatu kehidupan akan  ternilaikan oleh Ia dalam bentuknya sebagai Hyang Acintya, Hyang bhatara Siwa, dalam manifestNya sebagai Bhatara Yama untuk menilai mereka-mereka atau kita yang hidup di dunia serta kelakuan kita di dunia. Dan Ia Sang Acintya, menelorkan atau memberikan tiga sifat atau guna yang diberikan Sang Siwa dan dinilai oleh Yama itu sendiri. Tiga Guna itu adalah :

1.Sattwam : yaitu sifat terang, sifat bijaksana, sifat kebaikan, serta sifat menerangi, menyebabkan juga sifat kejujuran, kelembutan, kehalusan, keindahan, keagungan.

2. Rajas : Yaitu sifat dinamis, sifat aktif, sifat kemarahan, sifat panas, sifat bergerak, termasuk juga jika tanpa ada kontrol akan bersifat bengis, angkuh, amarah.

3. Tamas : Yaitu sifat malas, sifat gelap, sifat diam, sifat pengecut, sifat murung, sifat cenderung berbohong, tidak suci, ingin membunuh.

Dan bagaimana manusia hidup adalah dikualifikasi dan didasarkan oleh sifat-sifat itu yang “tercantum” dan tersiarkan pada hati, pikiran, kata, serta perbuatan itu sendiri. Dalam hal ini Sattwam, Rajas, Tamas dari manusia adalah sesuatu yang menyebabkan bagaimana nanti manusia itu setelah ia menuju yang dinamakan “Kematian”,,,Suatu pintu yang tidak bisa dijadikan jalan untuk kembali oleh manusia itu sendiri.

Jadi manusia diberikan penilaian, maka manusia itu pula mendapatkan suatu hasil tersendiri dari dirinya. Namun sebelum melangkah, bahwa sudah diingatkan bagi manusia tentang keagungan dharma yang layak, pantas, dan wajib untuk dilaksanakan oleh Ia sebagai pejuang “dharma” yaitu :

Sarasamuscaya 2…

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumayaken ikang subhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikangsubhakarma phalaning dadi wwang.

Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Sarasasmuscaya 4.

Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

link : https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/03/04/bersyukur-bagaimana-menjadi-manusia/

Nah dengan sedikit ingatan di atas maka akhrinya manusia akan memilih jalannya sendiri untuk bisa hidup di dunia. Maka pilihan-pilihannya akan terpancar pada apa-apa yang ia jalani di kehidupan sampai juga kepada pikiran-pikirannya, yang terlampir pada setiap kata dan lakunya. Dari tiga guna itu maka dapatlah disadurkan pada akhir dari perjalanan itu sendiri. Hasil-hasil itu adalah sebagai berikut :

1.Moksa : Jika manusia dengan tekun melaksanakan Sattwam maka Ia akan mencapai moksa.

2 Sorga : Jika manusia dengan laksana Rajas namun dibarengi dengan pikiran Sattwam maka ia akan mencapai ke wilayah sorga.

3. Neraka : Jika manusia hanya dikaitkan dengan sifat rajas, tanpa sattwam maka ia cenderung bengis, pemarah, dan lepas dari perbuatan “dharma”. Maka ia akan mencapai neraka.

4.Reinkarnasi menjadi Manusia : Jadi ia reinkarnasi menjadi manusia adalah jika ketiga guna itu berimbang.

5. Menjadi Hewan dan Tumbuhan : Jika tamas mejadi sesuatu yang dominan dari kehidupannya.

Itulah sebagai suatu penilaian dari Hyang Kuasa dalam manifestnya Sang Hyang Yamadipati dalam menilai kelakuan, perkataan, serta pikiran manusia. Dan itu semua terekam di hati. Hati yang tidak akan berbohong dan memberikan suatu bahwasanya karma dan pahala dari tentu saja pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.

(sumber wraspatti tattwa).

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Desember 2012 in filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: