RSS

Matsarya juga Lobha dalam Sloka (Seri Sad Ripu)

Om swastyastu.

Awighnam astu namo sidham

Ksama sampurna ya namo nama swaha..

Kembali membahas tentang Susila dalam sloka, maka sad ripu adalah pengetahuan tentang kesusilaan itu sendiri. Sebagai enam hal yg hendaknya dikendalikan agar mampu meningkatkan kualitas diri sebagai insan Hindu yg menjunjung dharma sebagai pandangan hidup.

Saat ini mari membahas tentang Matsarya juga Lobha dalam beberapa sloka yg terdapat pada kitab-kitab yang beraroma KeHinduan itu sendiri. Maka sad ripu sendiri terdiri dari enam sifati yg hendaknya bisa dikekang agar itu mampu bernilai positif bukan sebagai musuh.

Pada dasarnya enam musuh itu adalah moha, mada, matsarya, Lobha, kama, krodha. Yaitu bingung, mabuk, iri, serakah, hawa nafsu, dan kemarahan. Ada beberapa sloka dri teks-teks suci weda yaitu sarasamuscya dan juga bhagawadgita sbagai weda dlam konsep bagian itihasa. Yaitu epos yg dikatakan sbagai awal pertama untuk mempelajari memahami weda itu sendiri.

Untuk saat ini, mari membahas tentang Matsarya, yaitu sifat keirihatian seseorang terhadap yg lainnya, yang sehingga membuat orang itu menjadi membenci dan sampai juga memfitnah (raja pisuna) sehingga membuat dirinya jatuh ke dalam kesakitan hati, duka lara rogha dan kualitas dirinya menurun menuju keadharmaan

Hal ini dapat kita simak pada sloka sarasamsucya yg digubah oleh bhagawan Wararuci yg menjelaskan tentang kesusilaan yg berasal dari Epos Mahabrata..

* Matsarya*

Matsarya disebut juga iri hati. Manusia yang memiliki sifat seperti ini, dalam Sarasamuscaya adalah manusia yang tidak mengalami kebahagiaan abadi dan menimbulkan hanya kesengsaraan dalam kehidupannya. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 88

Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham.

Hana ta mangke kramanya, engin ring drbyaning len, madengki ing suhkanya, ikang wwang mangkana, yatika pisaningun, temwang sukha mangke, ring paraloka tuwi, matangnyan aryakena ika, sang mahyun langgeng anemwang sukha.

Artinya : Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh dengki iri hati akan kebahagiannya; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

Jadi iri hati hanya menghasilkan ketidaktenangan dalam hidup. Yang harus manusia lakukan agar terhindar dari iri hati dapat dilihat pada sloka berikut.

Sarasamuscaya 89

Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat

Nyanyeki kadeyakenaning wwang ikag buddhi masih ring sawaprani, yatika pagehankena, haywa ta humayamakam ikang wastu tan hana, wastu tan yukti kuneng, haywa ika inangenangen.

Artinya : Nah inilah yang hendaknya orang perbuat, perasaan hati cinta kasih kepada segala mahluk hendaklah tetap dikuatkan, janganlah menaruh dengki iri hati, janganlah menginginkan dan jangan merindukan sesuatu yang tidak ada, ataupun sesuatu yang tidak halal; janganlah hal itu dipikir-pikirkan.

Kesengsaraan juga menjadi akibat yang ditimbulkan iri hati kepada sesama. Hal tersebut ada pada sloka berikut :

Sarasamuscaya 91

Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah

Ikang wwang irsya ri padanya janma tumon masnya, rupanya, wiryanya, kasujanmanya, sukhanya kasubhaganya, kalemanya, ya ta amuhara irsya iriya, ikang wwang mangkana kramanya, yatika prasiddhaning sanngsara ngaranya, karaket laranya tan patamban.

Artinya : Orang yang irihati kepada sesanya manusia, jika melihat emasnya, wajahnya, kelahirannya yang utama, kesenangannya, keberuntungannya dan keadaannya yang terpuji; jika hal itu menyebabkan timbulnya iri hati pada dirinya; maka orang demikian keadaannya itulah sungguh-sungguh sengsara namanya, terlekati kedukaan hatinya yang tak terobati

Jadi jika ingin di dunia berbahagia, maka manusia hendaknyalah menghindari sifat iri hati ini. Karena iri hati hanya akan menimbulkan kesengsaraan semata bagi siapa-siapa yang terjangkiti olehnya.

Kemudian bisa dijelaskan tentang matsarya melalui sloka bhagawadgita yang merupakan intisari dari epos Mahabrata.

Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”.

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan.

Maka iri hati sangat menjadi hal yg membuat seseorang itu tidak bisa maju dalam kehidupannya. Lebih sibuk melihat orang lain, kemudian lupa atas apa yg telah ia miliki dan dapatkan.

Demikian yang bisa disimak dari beberapa sloka dari bhagawadgita atau pun sarasamuscaya mengenai matsarya ripu.

Kemudian selanjutnya adalah tentang lobha atau keserakahan. Maka ini merupakan jurang manusia menuju pada keadharmaan dimana ia bisa lupa dalam kebersyukuran, serta bisa menuju pada prilaku adharma, seprti penggelapan, pencurian, atau perampokan (asteya), dan juga melakukan penipuan. Dimana ini menjauh dari sifati kedharmaan itu sendiri.

*Lobha*

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

Artinya : Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

Ini disebutkan orang yang terlalu rakus dan loba akan kepemilikan orang lain, maka ia akan kehilangan kemuliannya dimulai dari kehilangan kearifannya, karena ia sudah berlaku buruk. Jadi rugi akan segala yang telah ia punya akibat kelobaannya itu.

Apalagi jika rakus sampai menyerobot kekayaan orang lain. Kemiskinan dan hasil buruk di kehidupan yang akan datang akan jadi balasannya. Seperti tercantum dalam:

Sarasamuscaya 360

Musnam daridratyabhihanyate ghnan pujyunamasampujya bhavatyapujyah, yat karmavijam vapate manusyah tasyanurupani phalani bhumkte.

Ikang akelit ring paradrwya nguni ring purwajanma, daridra janma nika ring dlaha, ikang amati nguni pinatyan ika dlaha, sangksepanya, salwining karma wija inipuk nguni, ya ika kabhukti phalanya dlaha.

Artinya : Yang menyerobot kepunyaan orang lain waktu hidupnya dulu, dilahirkan menjadi orang miskin di kemudian hari ; yang membunuh pada waktu hidupnya dulu akan dibunuh dalam hidupnya kemudian; singkatnya, semua benih perbuatan yang ditabur dan dibiakkan dulu, buahnya itulah yang dinikmati kemudian.

Hal tersebut adalah hukum kamarphala. Maka dihindarilah sebaiknya loba atau rakus akan hak milik orang lain yang mengakibatkan buah hasil perbuatan menjadi buruk di kemudian hari.

Loba dalam sarasamuscaya disebutkan juga sebagai penyebab dari kebodohan. Kebodohan yang juga akan membawa manusia ke jurang kesengsaraan tanpa batas dan tiada bisa mengartikan dan membedakan antara baik dan buruk itu sendiri. Slokanya adalah :

Sarasamuscaya 400

Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca

Apan ikang sukhadukha kabhukti, punggung sankanika, ikang punggung, kalobhan sangkanika, ikang kalobhan, punggung sangkanika, matangyan punggung sangkaning sangsara

Artinya : Sebab suka duka yang dialami, pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba, sedang loka (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karena itu kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu.

Maka begitulah Lobha Ripu ketika disimak dalam sloka-sloka Sarasamuscaya. Kemudian juga dalam bhagawadgita disebutkan beberapa sloka tentang kelobhaan yaitu :

*Bhagawadgita 16-13,14,15*

idam adya mayā labdham
imaḿ prāpsye manoratham
idam astīdam api me
bhaviṣyati punar dhanam

asau mayā hataḥ śatrur

haniṣye cāparān api
īśvaro ‘ham ahaḿ bhogī
siddho ‘haḿ balavān sukhī

āḍhyo ‘bhijanavān asmi

ko ‘nyo ‘sti sadṛśo mayā
yakṣye dāsyāmi modiṣya
Ity ajñāna-vimohitāḥ

Artinya :
Orang jahat berpikir: Sekian banyak kekayaan kumiliki hari ini, dan aku akan memperoleh kekayaan lebih banyak lagi menurut rencanaku. Sekian banyak kumiliki sekarang, dan jumlah itu bertambah semakin banyak pada masa yang akan datang.

Dia musuhku, dan dia sudah kubunuh, dan musuh-musuhku yang lain juga akan terbunuh. Akulah penguasa segala sesuatu. Akulah yang menikmati. Aku sempurna, perkasa dan bahagia. Aku manusia yang paling kaya, diiringi oleh keluarga yang bersifat bangsawan.

Tiada seorang pun yang seperkasa dan sebahagia diriku. Aku akan melakukan korban suci, dan memberi sumbangan, dan dengan demikian aku akan menikmati.” Dengan cara seperti inilah, mereka dikhayalkan oleh kebodohan.

Maka mereka yg lobha akan selalu dibarengi sbuah kata kebodohan yg rajas tamas, gelap dan lekat dengan keadharmaan. Pada akhirnya tiada sempat ia menuju sebuah peningkatan diri dalam sisi kerohanian, juga spiritualitas, atau menjadi seseorang yg berbudi pekerti. Sebuah kesia-siaan dalam hidupnya..

Begitulah beberapa sloka yg berhubungan dengan sad ripu Matsarya dan Lobha. Semoga bisa disimak dan dijadikan pedoman, atau mungkin dipahami sbagai pengetahuan yang diberikan kepada siapa saja ke depannya.

Om shanti shanti shanti om

Rahayu shanti raharja

Salam

Guswar.

 
 

Moha dan Mada, Kebingungan Kemabukan (Sad Ripu) dalam Sloka..

Om swastyastu,

Om awighnam astu namo sidham..Om Puja bhatara dharma ya nama swaha, winasaya sarwa papa rogha klesa..Sarwa prani hitankarah..Om..

Dalam kehidupan yang lahir sbagai manusia ini, tentu begitu banyak berbagai permasalahan yg ada. Di mana itu dapat dianggap masuk dalam konsep karmapala yang agung..Yaitu Sancita Pradbada Kryamana Karmapala..Maka tentulah dikatakan dharma adalah sbagai sebuah kebenaran yg dapat melebur karma buruk agar kuat terjalani, serta mencipta karma baik di kehidupan mendatang..Maka gegodaan yg hadir bisa disebut dgn sad ripu yaitu yg terdiri dari kama, krodha, lobha, matsarya, moha, dan mada..

Berturut2 itu adalah hawa nafsu, kemarahan, keserakahan, iri hati, kebingungan, kemabukan..Semua hendaknya dikekang agar kelak mendapatkan pahala baik, juga kebersadaran yg akhrinya mengubah persepsi pandangan diri, mnuju pada kesadaran Atman..Membuat pribadi yg lebih baik jga berguna bagi kemanusiaan, kehidupan, lingkungan..

Saat ini, izinkan untuk membahas tentang Moha dan Mada, yaitu ripu atau musuh yg dapat diartikan sebagai Kebingungan dan juga Kemabukan.. Moha pada dasarnya hadir dalam sebuah kekalutan atau pikiran yg tidak mampu menilai sbuah kebenaran dari suatu permasalahan yg ada.. Dimana kebersadaran atas sesuatu yg dianggap sebagai hal yg benar itu, yaitu kondisi kedharmaan..Tidak mampu dipahami sbagai sesuatu yg mutlak adanya dan menuju kebaikan kebajikan jga kebijaksanaan..

Kemudian ada jga tentang Mada yaitu kemabukan..Dimana ini adalah suatu keinginan yg berlebih atas sesuatu hal, shingga tiada mampu mengontrolnya dan bahkan menjdi sbuah permasalahan atas diri juga orang lain, bahkan lingkungan. Dimana membuat orang itu (yg berMada) jauh dari konsep kedharmaan itu sendiri.. Membuat masuknya diri kepada kemelekatan atas sesuatu yang terlalu diinginkannya itu..

Untuk Moha Ripu, ada beberapa penjelasan yg terdapat pada sloka Sarasamuscaya..Maka Sloka itu adalah sebagai berikut :

Sarasamuscaya 81

Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca.

Nihan ta kramaningkang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangenangenya, dadi prathana, dadi sangsaya, pinakawaknya, hana pwa wwang’ikang wenang humrt manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh.

Arti : Keadaan pikiran itu demikianlah; tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakan, terkadang berkeinginan, terkadang penuh kesangsian; demikianlah kenyataannya; jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu beroleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia yang lain.

Jadi kebingungan dan keinginan berlebih akan hilang. Yaitu dengan mengendalikan pikiran sedemikian rupa sehingga nantinya akan tercapai kebahagiaan di dunia mana pun. Seperti juga dijelaskan bahwa manusia yang tidak goyah hatinya akan memperoleh amerta sebagai kemuliaan. Hal tersebut tercantum dalam sloka berikut :

Sarasamuscaya 128

Amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe prastititam, mrtyurapadyate mohat satyenapaddyate’mrtam

Tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring carira kahananya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kastyan, mapageh ring dharma, katemung amrta.

Arti : Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta; di sinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya jika orang itu bodoh atau senang kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang pada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar pada dharma, maka amrtalah diperolehnya..

Pada bhagawadgita disbtukan sebagai berikut :

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Untuk Mada yaitu kemabukan atas sesuatu itu, bisa menyebabkan ketergantungan yg membuat org itu lupa atas apa yg seharusnya dilakukan dalam kehidupan ini..Melupakan kewajiban dan selalu menuntut hak, atau jga meninggalkan swadarmanya sendiri demi kesenangan yg memabukkan..

Sarasamuscaya 325

Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktikam ca, vicitaragam bahumayinam na ca naitan niseveta naradhaman sat.

Nihan lwirning tan sangsargan, wwang mangulahaken pisakit, parapida duracara, wwang gong pramada, wwang mithyawada, wwang tan apangeh kabhatinya, wwang gong raga, wwang sakta ring madya, nahan tang nem kanistanin wwang, tan yogya siwin.

Arti :Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang sangat alpa, orang yang kata-katanya bohong dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan

Moha juga Mada bisa disebabkan oleh timira2 atau kegelapan2 yg berjumlah tujuh itu..Disebut Sapta timira, Dhana,Guna, Surupa, Kulina, Sura, Kasuran, Yowana..Maka berturut2 Kebingungan dan juga kemabukan bisa disebabkan secara berturut2 oleh Uang, Kepintaran, Rupa, Keturunan, Miras, Keberanian, Dan Usia muda….

Seseorang yg inginnya hanya uang dan melepaskan moralitasnya sbagai manusia atas itu, akan moha jga mada selalu dalam hidupnya..Begitu jga ktika guna kepintaran yg tanpa moral akan mnjdi suatu keguncangan besar pada kehidupan masyarakat yg harusnya aman dan damai..

Seseorang yg merasa rupa parasnya cantik tampan akan menggunakan itu untuknhal yg kurang baik dan merendahkan yg lainnya..Kemudian ada yg lupa bingung serta jumawa atas keturunannya, akan membuat Ia terjebak pada prestise yg semu, harga diri yg terkadang berbeda dari harapan yg seharusnya..Begitu juga yowana timira dimana selalu merasa muda dan tidak mengalami perkembangan akan kedewasaan, juga evolusi jiwa menuju manusia yg bertanggung jawab ..

Lalu ada yg bingung dan mabuk atas keberanian seseorang..bahkan karena keberanian itu membuat ia kehilangan nyawanya dan jga bisa menghilangkan nyawa org lain pada kesesatan ketidakbenaran..

Semua seperti menuju pada kehancuran akan diri..Semoga tulisan ini bermakna..

Sekedar teori saja yg mngkin ada sedikit ruang untuk menciptakan kebersadaran diri..Untuk menuju suatu evolusi dalam kedharmaan..

Om Rahayu Shanti Raharja..

SalamGwr..

Mei 2019

 
 

Manusia (bukan hewan) yang Beragama

Manusia (bukan hewan) yang Beragama

Om Suci Nirmala ya namo namah..

Sirna papa lara rogha winasaya..

Mahacintya hyang murtining shaktii..

Mogi ksama sahmpurna ya namo nama swaha..

Agama dan manusia,

Religi dan humanisme, sesungguhnya adalah bagian yg tidak terpisahkan. Agama sendiri pada dasarnya memberikan pemahaman atas kesusilaan atau moralitas yang sejatinya meningkatkan derajat manusia sebagai mahluk yang berakal dan penuh cinta juga kasih.

Kesusilaan sendiri atau akal budi yang memahami etis, etika sebagai manusia untuk senantiasa berbuat bajik, bijak demi kelangsungan hidup yg terlingkupi dalam kedamaian. Kesusilaan selalu ada dalam tiap agama dan menjadi bagian terpenting untuk membentuk manusia tersebut menjadi manusia yang sungguh berguna.

Dalam agama hindu mungkin secara umum ada konsep tat twam asi (engkau adalah aku) konsep vasudhewa kutumbhakam (semua adalaha saudara). Atau konsep islam dengan rahmatan lil alamin, kristen dengan cinta kasih,buddha dengan dhamma, Sikh yg mngatakan hubungan antar manusia adalah murid dan guru, Tao dengan kebijaksaan Lao Tzu, dan lainnya. Adalah kekayaan yg sangat besar, dan ketika diterapkan dalam dunia nyata, maka kelak dunia ini menjadi atau mencapai kebahagiaan yang kekal. Sungguh pun luar biasa.

Mengkhusus pada konsep Jiwa dalam kehinduan, maka dapat dipahami bahwa manusia adalah merupakan hasil dari keseimbangan atas prilaku yg satwik rajas tamas dan jihwatman itu (wraspatti tattwa), sehingga lahirlah manusia. Kemudian juga disebutkan manusia adalah yang lahir dan mendapatkan berkah sabda, bayu, idep. Maka karena idep (akal budi) itulah ia manusia memiliki kemampuan memilah mana yg baik dan buruk, bukan hanya sabda (bersuara) saja, atau bayu (daya hidup) hanya sekedar hidup saja.

Dalam sarasamuscaya disebutkan bahwa manusia itu dilahirkan untuk menjadi yang utama, karena kesadaran yg utama itu (memiliki sabda bayu idep) akan membuat ia melaksanakan dharma (agama) untuk meningkatkan dirinya kelak. Inilah yg membuat manusia sbagai yang utama dgan melaksanakan kebajikan agar dunia ini menjadi tempat yang penuh kebahagiaan yang kekal..

Namun patut diberi gambaran bahwa, dikatakan manusia lahir dari keseimbangan tri guna yaitu satwik rajas tamas. Artinya bahwa ada unsur sattwika guna yg membuat manusia itu memiliki “idep” atau akal jga buddhi yg membedakan manusia dri mahluk lainnya, seperti scra garis besar hewan atau tumbuhan. Dalam konsep yg tercantum pada wraspatti tattwa adalah bahwa mahluk lain seperti hewan dan tumbuhan adalah bisa berasal dari manusia yg tidak mencantumkan sattwika guna di dalam kehidupannya, yang artinya hanya melaksanakan rajasika guna dan sekaligus tamasika guna. Kelak manusia yg melupai sattwika guna, maka ia akan samsara turun derajatnya mnjdi yg bukan manusia.

Sattwika guna apakah itu? Sattwika guna bisa dikatakan sebagai sifati yg penuh cahaya, kebijaksanaan, kebajikan, juga penuh pengetahuan dharma di mana akal budhi berkembang baik yg pada akhirnya mereduksi sifat2 bawahan atau kebinatangan itu sendiri, disebut sebagai manusia yg mampu memanusiakan dirinya juga jiwanya sendiri. Agen-agen hyang maha kuasa, sebagai bhakta yang taat kepada Tuhan Hyang Widhi Wasa. Serta memberikan cahaya kepada dunia tempat hidupnya. Mereka-mereka inilah yang mampu menciptakan kedamaian di semesta ini.

Dalam segi kesusilaan, maka manusia yang sattwika adalah manusia yang mampu serta mau melaksanakan berbagai konsep kesusilaan, seperti Tri Kaya Parisudha, Panca Yama Bratha,Panca nyama brata, Catur Paramita, dan sebagainya.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2017/02/26/susila-panca-yamanyama-bratha-dari-nitisastra/

https://linggashindusbaliwhisper.com/2011/06/11/catur-paramitha-dan-catur-aiswarya-sebagai-penerapan-tat-twam-asi/

Dan juga senantiasa menjauhi sad ripu, sad atatayi, sapta timira, agar bisa memvibrasikan cahaya2Nya di dunia ini.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/03/31/panca-yama-niyama-bratha-pengendali-sad-ripu/

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Dengan bekal inilah dikatakan jga manusia kelak akan mendapatkan tempat baik ke swarga loka (jana maha tapa sunya loka) atau jga mendapatkan kamoksan (samipya sayujya salokya sarupya). Seperti jga yg tersebut dalam sloka wrspatti tattwa. Bahwa manusia yg banyak melakukan sattwika guna, menuju Ia alam kemoksaan, dan ktika dibarengi dgn keaktifan rajas yg didasari sattwika, maka mnujulah IA ke swarga loka menikmati hasil buah karma baiknya.

Mengapa manusia bisa turun derajatnya, jga melupai keutamaannya? Dikatakan jga manusia walaupun sebagai mahluk utama, maka ia juga lahir berisikan sifati rajasika dan tamasika. Tamasika adalah kebebalan, kemalasan, dan jga menuju pada kegelapan, ketidakaktifan, kepasifan, sprti sifat2 tumbuhan yg pasif. Serta jga sifat rajasika yg artinya bahwa manusia memiliki sifat aktif untuk selalu bergerak, dan juga keras, tegas, yg terpengaruhi sifati kedua itu. Saling tarik menarik antara tamasika jga rajasika. Dikatakan bahwa manusia walaupun memiliki karakteristik sattwika, namun ktika ia malah cenderung berada pada tamas rajas yg meniadakan keutamaan manusia itu, maka tentu buah karma yg dihasilkan adalah tidak menuju pahala yg baik. Dikatakan kelak IA akan bersamsara mnjdi mahluk bukan manusia, dan turun derajatnya. Hal ini masuk akal, karena manusia yg berbudhi mnggunakan akal pikiran jga rasa manusianya untuk hidup. Ketika tanpa logika, sia2lah IA lahir karena berkatNya sebagai manusia tidak digunakan secara baik.

Begitu banyak manusia yang saat ini menuju pada ketumpulan atas sifati kemanusiaannya, akalnya tidak digunakan dengan baik, mengejar ambisi, ego, jga terlekat pada duniawi tidak seimbang kepada konsep jiwanya. Menggunakan malah kekerasan, homo homoni lupus, memakan manusia lainnya, jga bahkan menggunakan konsep2 agama dan merasa didukung oleh Tuhan katanya. Begitu baik dikatakan sebuah jargon tentang itu..

“Sebelum beragama, maka jadilah manusia terlebih dahulu”

Rahayu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2019 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tiga temperamen manusia menurut Mahanirwana Tantra

Om hyang parama kawi namastute..mahatantra ya ja mahe..sweca rahayu sanjiwani..sinampura hring manah..succi buddhi citta ahamkara..dumogi sirna duka larra rogha..om

Dalam konsep mahanirwana Tantra, dimana dikatakan adalah bahwa tantra diajarkan layak pada jaman kali ini, maka terdapatlah beberapa konsep tentang sifati manusia yang membedakan satu dengan yg lainnya. Ini adalah tetap menjadi kuasa tri guna untuk memperlihatkan bagian mana yg paling aktif di antara itu. Tentunya bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memahami diri untuk menuju pada kebajikan sebagai cermin dalam kehidupan yang menuju ke-shanti-an..

Tiga temperamen itu yang bisa dijelaskan adalah..

Pashu bhawa yaitu temperamen yang berkarakter sebagai binatang. Dalam hal ini adalah bahwa raja guna atau rajas sbagai sesuatu sifati yang aktif, bekerja kepada tamasa guna yaitu menggerakkan kegelapan. Jadi bahwa rajas mengaktifkan sisi tamasik atau kegelapan..Ia yg bersifati atau bertemperamen ini akan menampilkan sisi bharanti(berbuat kesalahan), tandra (lesu dan malas), dan kecerobohan (alasya). Pashu adalah mereka yg terlalu terikat akan keduniawian, dan jga banyak diliputi ketidakmengertian, tidak menyukai akan jnana. Ia yg tidak mau menyentuh yantra (wewantenan-bali), tidak melakukan japa jga mantra, enggan melaksanakan yadnya(pengorbanan) atau tantra, tidak yakin terhadap guru, tidak menyakralkan arca pratima, membeda2kan dewata, puja tanpa tahu artinya, berbicara buruk ttg orang lain, dan sifati buruk manusia yg lainnya. Semoga bisa menghindari temperamen ini..

Wira bhawa adalah temperamen berikutnya dimana secara tri guna adalah rajasnya banyak mendorong guna sattwika, namun masih banyak guna rajas itu bebas, sehingga dapat menimbulkan kedukkaan. Rajas yg tidak terkendalikan itu, bisa menjadi sebuah kejahatan saja, karena sattwika guna belum mampu menguasainya. Orang ini sangat mudah sekali tersinggung, terpacu, atau terangsang atas sesuatunya, akibat dari rajasnya yg berlebih dan dominan. Pada suatu waktu ktika Ia terlalu terlewat akan guna rajasnya, bisa terlempar menuju temperamen pashu bhawa. Ibaratnya ia keberaniannya bisa menjadi suatu kesalahan yg membuat dirinya terlepas atas sattwika guna. Keterbiasaan atas prilaku itu membuatnya gelap. Sehingga bisa memasuki alam sapta timira. Penyadaran diri atas kebajikanNya jga jnana dan pengakuan atas mantra yantraNya adalah yg bisa membuat temperamen sifatiNya meningkat.

Diwya bhawa adalah bagaimana ia bisa membuat suatu sattwika guna menarik rajasika larut ke dalam sattwika guna itu.. Dalam tattwa disebutkan bahwa ketika bicara tentang kamoksaan, tujuan kita maka sattwika guna adalah bagian yg menjadi hal utama itu menuju tujuan itu. (wrsptti tattwa). Disebutkan ciri2 dari diwya bhawa adalah selalu menyucikan diri setiap hari, berbuat amal setiap hari, keyakinan tinggi akan weda, sastra, guru, dewata, melakukan puja atas dewa juga pitra, pengetahuan mantra yg mendalam, menghindari perbuatan kejam dan buruk, memandang lawan dan kawan sama, selamanya bicara kebenaran, tidak bersahabat dan berkumpul dgn mereka yg mencerca dewata, melakukan meditasi, menghormati wanita, dan susila yg lainnya..

Semoga kita menjadi yg sebaik-baiknya manusia berbudhi itu, dalam kehidupan saat ini..

Swaha..shanti rahayu..

Gwr..2018 apr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 April 2018 in agama, doa

 

Tag: , , , , , ,

Kekuatan dewata (asta bratha) untuk Menundukkan Sad Ripu..

Kekuatan dewata (asta bratha) untuk Menundukkan Sad Ripu..

Meminjam kekuatan dewata untuk menundukkan Sad Ripu..

Sangat perlu diketahui dan sudah dikenal jga secara umum, bahwa kita memiliki enam musuh yg berada dalam diri kita..dan itu sungguh membuat kita bisa menjauh dari sisi kedharmaan itu sendiri..musuh2 itu mengikuti kita selalu, bahkan sampai menuju jurang kematian, dan semoga saja hidup kita selalu bermakna..

Musuh2 itu antara lain, lobha matsarya krodha moha mada jga kama..Ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dalam diri manusia, namun hanya sebagai musuh dalam diri, yg akan membuat manusia itu terjatuh dalam lubang kenestapaan..

Falsafah hindu sendiri, telah memiliki sejumlah cara2 yg baik, dalam mencoba mengenal lalu mengontrol juga mengendalikan gejolak dari sad ripu ini..Kemudian ada juga konsep tentang bahwa manusia bisa saja meminjam kekuatan dari dewata (atau menjadiNya) dalam ruang lingkup penguatan diri jga melaksanakan keswadarmaan masing2 dalam lingkungannya..Menjadi pemimpin atas diri dan juga kepada lingkungan sekitarnya, adalah salah satu cara memberikan ruang untuk mengontrol musuh2 itu..

Laku asta brata adalah konsep kepemimpinan atas diri, agar diri mampu mengendalikan diri itu sendiri, dan menjadi tauladan di masyarakat atau keluarga terkecil..laku asta bratha, sekiranya dapat membentuk kepribadian diri agar mampu menjadi panutan atau menjadi kekuatan yg besar dalam diri itu sendiri..

Asta brata adalah..
Seperti laku bhtra Surya yg memberikan pencerahan, dan penerangan sekitar dengan sinar kebijaksanaannya, dengan ini maka moha atau kebingungan, tidak akan menjdi sesuatu yg menakutkan, atau jga Kama atau hawa nafsu mampu dikekang, atas dasar kebijaksanaan itu sendiri..

Sepert laku bhatari chandra yg menyejukkan dan memberikan cinta kasihnya kepada siapa pun, hal ini sangat pasti dapat mengontrol jiwa yg krodha atau dalam kemarahan, tentunya cinta kasih dan kesejukan adalah bagian antonim dari keadaan krodha itu sndiri..

Seperti laku bhatara kubera..yg memberikan keberkahan pada semua mahluk dan sekitarnya, bahwa memberi adalah bagian dri yadnya yg sangat penting, tentu saja dgn memberi, maka diri memberikan ruang untuk menciptakan kesejahteraan bersama yg pada akhrinya mengikis matsarya dan juga kelobhaan, bahwa diri telah diberikan banyak, maka gunakanlah hidup untuk memberikan pelayanan dan pembelajaran atas hidup itu sndiri kepada orang lain atau mahluk lain..

Laku bhatara indera yg jga sbagai pelindung dan lambang keberanian, juga memberikan amertha, maka itu ia berani untuk memberikan pembelajaran hidup atau dharma, shingga tidak bingung atau moha, juga tidak akan mabuk (mada) atas sesuatu sifat duniawi, krna Ia adalah lamban keberanian untuk mempertahankan dharma itu sendiri..

Laku bhatara bayu..dimana sprti angin yg memberikan kabar yg benar secara nyata, tanpa melebihkan tanpa mengurangi, apa adanya, dimana IA akan memberikan kekuatan diri untuk selalu tidak jatuh pada kebingungan atau moha..bahwa informasi adalah bagian yadnya pula, dalam memberitakan suatu kebenaran itu (dharma)..

Laku bhatara baruna, bahwa laut adalah sbuah tempat segalaNya, dimana smua berakhir di laut, dan menelan apa pun, artinya.bahwa laut mampu memberikan ruang keluh kesah atau apa pun itu yg membuat diri terlepaskan segala bebannya…maka Kama kmudian mnjdi stabil dan tidak terlalu bergejolak, kebingungan mnjdi sirna, dan juga mada kemabukan atas sesuatu bisa terkurangi, karena telinga jga hati jga kesabaran, serta kebijaksanaan adalah laku laut. Yg tidak habis ruang di dalam diriNya menerima keluh kesah sesamanya..

Laku bhatara yama yg selalu adil, dmana saja ada keadilan yg tercapai, maka kepuasan diri mengada, akan membuat kelobhaan dan jga mastsarya menjadi berkurang..

Laku bhatara Agni, dmana membakar semua keangkara murkaan, dan juga melebur diri pada laku tapa brata, dan memberikan ruang jnana untuk melebur mala, dan ketidakadilan…Sangat baiklah ketika sang Kama diberikan tempat untuk dilebur dgn jalan yg sesuai atas kedharmaan, dan jga mengintropeksi diri bahwa segala ripu adalah seharusnya kita mengendalikannya..

Salam
Gwr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2018 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Jenis moksah dalam kerangka Hindu pada empat jaman yg ada..

Om jagathanatakam maha sidhi widhi ya nama stute.. Om hyang narayana shivanti buddhanti brahma ya prajapatyam pujamkha..om nawa sangha pradnya paramita pujam ..om

Disebutkan bahwa dalam keyakinan agama hindu, terdapat empat jaman yg berbeda, yang juga berisikan pemaknaan atau ciri-ciri spesifik atas jaman tersebut..Jaman satya yuga yaitu jaman keemasan dimana kebahagiaan adalah yg terlihat dalam kesehariaanNya dan tidak ada musuh sama sekali..Kemudian jaman traita yuga yang merupakan jaman dimana jnana berkembang pesat dan musuh berada di dalam diri, kemudian ada jaman dwapara yang berarti bahwa yadnya adalah yang utama, kemudian jaman kali yuga, dimana kaki dari sang dharma hanya ada satu yaitu kaki satya, kesetiaan yang terus dibombardir oleh sang kali..

Disebutkan pula ada tujuan akhir dari kehinduan itu sendiri, dalam hal ini mencapai kemoksaan..Kemoksaan sendiri dibagi menjadi empat bagian yaitu salokya, samipya, sarupya, sayujya.. Secara kebersadaran bahwa jaman2 yg ada itu adalah sesuai kesadaran manusia belaka, agar senantiasa ia bisa menaikkan tingkatan dirinya untuk mencapai keadaan yg satya yugya..dalam hal ini adalah bisa terjadi dalam suatu lingkungan, bahwa di tempat itu secara holistik menyeluruh dan sporadis, merupakan tempat terjadinya jaman2 itu..Jaman kali akan banyak terdapat di wilayah yg memang kental akan kejahatan, jaman traita akan terjadi pada tempat dimana jnana mnjdi hal penting, termasuk juga selanjutnya jaman yg lainnya..Namun secara makna krseluruhan berdasar tri guna, manusia mengimani bahwa ini adalah jaman kali, karena hal itu lah yg banyak bahkan membuat seseorang menyerah pada Kali..

Kembali lagi pada konsep moksah, maka salokya adalah moksah dimana seseorang telah dalam kesadaran bebas dari kematian dan kelahiran, artinya ia berada pada titik dimana ia tidak melekat lgi pada alam material atau pun dalam keadaan nanti bagaiamana ia mati, ia hanya berkesadaran bahwa ia hidup dalam takdirNya sbagai abdiNya dan cuma numpang “minum” di tempat loka ini, maka ia sudah dalam keadaan SALOKya moksah..

Kemudian ada kesadaran moksah atas nama samipya moksah yaitu tinggal satu planet dengan Tuhan yang maha esa atau manifestasiNya, dalam hal ini IA adalah yg berbhakti juga bersatya padaNya dan mendapatkan kelak loka2 dngan sesiapa manifestasiNya itu, seperti menuju Maha Jana Tapa Loka, maha loka bersama Hyang yaksa rajaksa, jana bersama maha brahma atau tapa loka bersama wisnu atau di alam satya bersama shiva dan bisa menuju indera loka, brahma loka, wisnu loka, shiva loka, surya loka, dan sebagainya..Hal ini juga menunjukkan kesadaranNya atas sesiapa manifestasiNya itu, karena dalam kematian alam pikiran akan membawa IA kemana tempat ia tuju..dalam kesadaran di alam materi, maka IA bisa jadi akan bersama sarupya rupyam hring lokanatha, dan itu bisa bersama sesiapa yg sudah “diksitah ning sarupyam pujamkha”

Kemudian lalu masuk pada sarupyam moksah maka IA merupa sbagai tuhan atau dewata sbagai manifestasinya, dalam hal ini IA berkesadaran sbagai awitram yg numadi atas kehendakNya juga sbagai bhatara dimana IA bermanifest atas kesadaran Tuhan yang maha esa di loka2 ini..Ini adalah sebuah kebersadaran yg didapat melalui hal rahasia yg dimana berdefinisi bahwa IA lah menjadi hyang tri purusha, panca rshi, sapta rshi, dewarshi, dewata, nawa sangha (agastya parwa-jnanatattwa)atau yg lainnya..dalam hal ini ia bisa mengetahui atas laku catur aiswarya dalam wrspatti tattwa yaitu dharma, jnana, vairaghya, Aiswarya budhi, yg nanti Ia akan menemukan bahwa IA adalah itu jua di loka ini..

Kemudian ada kesadaran sayujya adalah persatuan dgn Ida hyang widhi wasa, kebertuhanan yg maha esa dimana IA kmudian bersatu atas padaNYA, berada di dalamNya, dan IA mndapatkan kebahagian tertinggi mnjdi satu dgn tuhan itu sendiri..Moksartham ya natakham ya dharmika sayujya namastute…om

Om ksama sampurna ya namo nama swaha om

Guswar feb 2

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Februari 2018 in Tak Berkategori

 

Cetana dan acetana kesadaran dan ketidaksadaran atas manusia dan hewan…

Om pasupatya pujamkha ya namo namaha..agastya ning parwa ya namo namah..sahadjanataka dewarshi pujamkha aum om tat sat..

Cetana acetana..cetana artinya kesadaran..kesadaran yg membuat manusia sadar akan idepnya yg diberikan bhatara hyang untuk mengenal diriNya sendiri, dan juga mengenal atma tattwa, yaitu mengenal sangkan paraningMya..idep itu sendiri yg dianugerahkan kepada manusia shingga mengenal IA yg nanya suka duka lara bagya juga rogha dan terakhir pati..ini dikuasai oleh sattwika guna yg membuat manusia berbeda dari pashu atau hewan jga tumbuhan..
Dan acetana sndiri adalah brasal dri guna rajas tamas dimana hewan tidak akan mengenal adanya kesadaran akan diriNya sendiri..tidak mampu mengethui sangkan paran atau asal muasalNya dan susah sekali Ia jihwatman yg berada pada acetana mngthui “jalan pulangnya”..
Dalam srsmsucya disbutkan sungguh kebersyukuran terlahir menjadi manusia, krna dapat menigkatkan hidupNya dan sadar akan diriNya sndiri sbagai yg berkesadaran Tuhan..berbeda lah ktika sbagai binatang yg lahir dgn sifati guna rajas tamas tanpa sattwika, shingga manasNya tidak dibrikan kesadaran buddhi tattwa jga tidak dibri kesadaran akan wijnana maya kosa atau kecerdasan..maka ia tak akan mengenal namanya jnana yg membawa pada kelepasan dan hnya menunggu sesuatu (bisa juga manusia) untuk menyelamatkan dirinya agar naik derajatnya menjadi manusia..
Dalam agastya parwa disebutkan bahwa manusia yg telah sampai sbagai manusia uttama ning uttama, mampu dengan mudah untuk meningkatkan derajat binatang sampai ke taraf cetana kesadaran manusia pada kehidupan selanjutnya..dikatakan bahwa manusia suci uttama ning utama, apa yg ia makan, apa yg ia sentuh dan bahkan manusia lain yg berbicara atau disentuhnya bisa terlebur dosanya2nya, ini disebut sbagai sang maha rishi yg telah mengenal kesadaran atman cetana ning buddhi dharma kawisesan, minab smpun meraga Shiva (dewa panca rshi sapta rsi dewarsi dsb)..maka saat Ida mlkukan pemujaan, bahkan lingkungan yg mendengarkan mantra Nya itu tersomyakan atas berkat atma ning suhci itu…beryogalah Beliau agar mantra suciNya mampu menyupat acetana mnjadi cetana..pasupatya pujam.
Ini yg membuat wewantenan yg dipuput oleh Ida memberikan vibrasi juga energi besar yg melukati sekitarNya, bahkan juga yg mendengar dentingan genta Ida..sebagaimana juga bebantenan yg berisikan hewan2 yg ada niscaya akan juga termanifestasikan untuk naik tingkat bersama sattwika guna mnjdi yg lebih tinggi..diantara manusia ada mahluk lain yg juga dgn kecerdasan sama bhkan lebih tinggi, sperti yaksa gandharwa widyadara daitya aditya danawa rakasha paisacha dan sebagainya, mereka adalah abdi juga dri Ida hyang bhatara…
Kemudian para hewan itu (yg terdiri dri rajas tamas yg acetana) bersama guna sattwika akan mnuju pada kehidupan yg lebih tinggi dimana acetana mereka terlebur mnjdi cetana sattwika guna, dan rajas tamas mreka dikubur dgn sattwika guna yg dimana tidak dikenallah mereka lagi dalam kehidupan selanjutnya..dlam bhagawadgita disbutkan AKU mengenal kelahiran2Ku sebelumNya, tetapi tidak engkau wahai arjuna yg melupakan kelahiran2mu”…

Karena itulah kelahiran seblumnya yg dikenal oleh beliau yg wikan adalah sattwika gunaNya, (pitara sane samsara) bukan rajas tamasNya..namun kmbali bhagawadgita menyebutkan ” Diantara ikan AKU adalah seekor Hiu” maka kesadaran Tuhan sendiri ada dalam hewan juga..
Binatang apakah Aku di masa lalu? Mudah saja untuk melihat itu, tapi memastikanNya adalah berlakukah dgn meninggalkan sattwika guna, maka tertinggal rajas tamaz saja, niscaya kelak engkau akan lahir sebagai hewan yg meminta untuk kembali menjadi manusia (wrspatti tattwa)
Shanti rahayu om

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2018 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: