RSS

Bhatara Dharma Japa untuk Belajar dan Dilindungi Kebenaran

Om hyang namo nama dharma bhatara pujamkha, pradnya paramita sunya laksana ya namastute, yaksanatakha rajha om


Dewa bhatara dharma adalah dewa yg memberikan ruang kebenaran kepada setiap mahluknya, dewa yg mengajarkan tentang kebenaran juga keadilan dan dapat dikatakan sebagai yg menguji iman manusia sejauh mana ia telah menapaki keyakinannya..

Dalam kisah itihasa mahabrata, maka dewa dharma beberapa kali muncul kehadapan yudistira anaknya sebagaimana IA muncul sbgai Yaksa raja dan juga sbagai anjing hitam..Kenapa harus anjing, karena anjing melambangkan kesetiaan tanpa batas atas tuannya, yaitu kebenaran itu sendiri..

Dharma adalah sebuah kebenaran yg mutlak, disebut juga bhatara dharma adalah dewa keadilan yg hadir di kehidupan ini, (sedikit berbeda dgn yama yg sebagai pencabut nyawa) bisa jadi bhatara dharma yg akan juga mengadili seseirang setelah Ia mati (dicabut oleh yamapati) dan ktika itu sebuah kebenaran, maka mirip dengan konsep sang Suratma yg mempertanyakan asas kebenaran dan kebatilan yg dilakukan oleh manusia tersebut dan mengadilinya.. 

Di konsep dewa lainnya,ada yg bernama dewa Anubis mesir yg menjaga alam kematian, dewa ini berkepala anjing dan disangkutpautkan oleh dua dacin (timbangan) untuk mengadili manusia yg telah meninggal di masa hidupnya..Ketika dilihat bentuk kepalaNya, maka adalah anjing juga..Dalam hal ini bisa dikatakan ada arketipe yg sama dri hal tersebut untuk tentang kebenaran itu sendiri..

Bhatara dharma dapat dijapakan agar mereka yg dalam suatu pembelajaran bisa fokus atas apa yg dipelajari, ini yg bisa membuat mereka juga lebih mudah dalam memahami pembelajaran mereka itu..Dan ktika dalam ujian, mereka bisa lebih berani dalam melaksanakannya, hati menjdi lebih tenang krna mampu menegakkan bhatara dharma di dalam hatinya untuk menjadi tuntunan..Japamnya adalah 

“Om ya bhatara dharma pradnya widyastute ya namo namaha om”

Semoga ada maknanya..

Guswar 2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2017 in Tak Berkategori

 

Bhatara kubera Sang Pemberi Rejeki

Om hyang kuwera ya namo nama sidhantaka..maha danti dantya dana prani hitankarana..maha sidhi hring jagatha dewatanaka..wisrawana namastute mahajayanta..dharma santana pujam om

Kubera disebut sebagai dewaNya keberkahan, yang merupakan penguasa arah utara bersama wisnu di dewata surya majapahit .. Merupakan saudara dari rahwana namun lain ibu, dan berkedudukan sebagai bendahara para dewata..

Beliau adalah  yaksa, yg mrupakan mahluk mitologi setengah dewa dan dekat dgn ras raksasa..Yaksa raja adalah yg pernah menguji yudistira saat di hutan dalam pelariannya..juga diangkat sebagai raja di alengka, selain itu dalam konsep astabrata ramayana, maka kubera masuk sbagai brata kepemipinan, agar pemimpin selalu memberi berkah kepada rakyatnya..

Dapat digunakan sbagai japa untuk memperlancar rejeki dan dapat dijadikan amulet atau pegangan untuk mencari keberkahan itu sendiri..japanya yaitu :

Om kubera ya namo namah swaha om..

Terkenal dalam kebudayaan jaina dan juga buddha, atau juga di hindu termasuk majapahit..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2017 in agama, doa

 

Tag: , , ,

Pengaruh Tri Guna Maya terhadap Buddhi dalam Jnana Tattwa..

Om jnana yoga yantranamakha om

Disebutkan bahwa sattwika yang memengaruhi manusia, maka hal itu akan membawa manusia pada peningkatan kualitas kelahirannya..Dalam wraspatti tattwa dikatakan akan menuju kamoksan yg merupakan kebahagiaan tanpa batas..

Dalam hal ini sattwika merupakan bagian dari tri guna maya, yaitu yg lainnya adalah Rajas tamas yang dikatakan akan membuat manusia terlahir menjadi hewan tumbuhan atau masuk dalam neraka yang kelam..

Buddhi sendiri adalah disebut sebagai akal, yg bersama2 dgn ahamkara sebagai ego juga citta adalah wujud kasar purusha yg dikatakan sbagai intuisi..manah dimasukkan kepada buddhi..maka buddhi adalah dasar untuk menuju pada sebuah keadaan yg terbahagiakan ktika mengenal dan dimasuki sattwika, yg lain sprti rajas dan tamas maka bisa membuat manusia turun derajatnya..

Dalam jnana tattwa, pengaruh tri guna sangat besar bagi evolusi manusia untuk menuju kelepasan..dan pengaruh itu dibagi menjadi tiga ruang lingkup besar atas nama tri guna tersebut..Jnana tattwa menyebutkan sebagai berikut :

bila ada buddhi sattwa, sangat menekankan pada hakikat kebijaksanaan, mengamati baik2 sastra, melaksanakan kesamyagjnanan, Sang Hyang Tri Purushalah kelahiran Sattwa yang demikian. Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat Brata tapa yoga samadhi, maka Pancarsilah kelahiran yang demikian. Bila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat puja,arcana, japa, mantra dan puji2an terhadap bhatara, maka saptarsi lah kelahiran Sattwa yg demikian. Apabila buddhi sattwa tidak mengindahkan baik dan buruk, namun kasih sayang pada semua mahluk, Dewarsi kelahiran sattwa yang demikian. Apabila sattwika sangat menekankan terhadap hakikat dharma, kirti yasa kebajikan, maka Dewalah kelahiran Sattwa yang demikian. Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak mempedulikan bahaya, sangat rela iklas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam berprilaku, hanya tenang pikirannya, pikirannya semata mata jernuh, bila akan melaksanakan ketetapan hatinya keberaniannya, maka Widyadaralah kelahiran sattwa yang demikian, apabila buddhi sattwa menekankan pada hakikat keindahan ,senang bunyi-bunyian yg menyebabkan telinga senang, setiap yg indah didatanginya maka ghandarwalah kelahiran sattwa itu…

Disebutkan juga buddhi yg terpengaruhi rajah adalah sebagai berikut :

  • Danawa rajah adalah buddhi rajah ketika ia diberi kata2 tak layak ia marah, dan ia menahan itu karena ada orang lain dan kemudian menangis maka ia kelahiran danawa rajah namanya
  • Daitya rajah adalah ketika buddhi rajah diberi kata tidak baik ia marah namun kemudian ia menjauh dan sambil berkata “paling hebat seharusnya aku ini” ia dapat merendahkanku, ia mengira aku penakut, hanya karena enggan bertengkar, krna aku sayang kebaikan..
  • Raksasa rajah ktika budhi rajah diberikan kata tidak baik kemudian ia marah, gemetar badannya, seketika ia menyerang, lancang kata2nya, lancang tangan, kaki menjerit meraung, dan berkata seenaknya saja..

Dan buddhi tamah adalah sebagai berikut :

  • Bhutayaksa tamah adalah ia tidak resah pada apa yg dimakan, kenyang dengan secabik sayur dan sekepal nasi, seteguk air, atau tuak maka puas hatinya..
  • Kelahiran bhutadengen tamah adalah memilih apa yg dimakan, bukan emas yg diinginkan, gemerlapan ditolaknya namun ktika bertemu makanan sejuklah hatinya..
  • Kelahiran bhutakala tamah dimana ttidak memilih apa yg diingininya, smua daging yg dipandang tak layak dimakan asal membuat kenyang..
  • Kelahiran bhuta paisacha mau makan makanan yg tidak enak gelisah resah ke barat ke timur, dan tertipu lesu namun masih tergila-gila, dan dipasang telingannya ktika mendengar ada makanan.

Dijelaskan selanjutnya adalah sebagai berikut tentang bagaimana sang atman akhrinya mnuju moksah, surga , neraka, atau jatuh menjadi binatang..

  • Ketika bhutayaksa bertemu dengan Dewarsi, Saptarsi, Pancarsi, Tri purusa terang bercahaya buddhi itu maka atman akan mencapai kamoksaan.. 
  • Ketika.bhuta dengen bertemu dengan daitya, widyadara, dewata terang bercahaya buddhi itu, maka iru mnyebabkan mencapai surga..
  • Ketika bhutakala bertemu raksasa, gandharwa bercahaya buddhi itu maka menyebabkan ia lahir menjadi manusia..
  • Namun apabila bhutapaisaca bertemu dengan raksasa terang bercahaya buddhi itu maka atma jatuh ke neraka..
  • Dan ktika hanya.bhutapaisaca yg bercahaya buddhi itu, maka akan menjadi binatang..

Begitulah yang terjelaskan di jnana tattwa, semoga bisa menjadi cermin diri untuk selalu meningkatkan diri sebagai manusia yang memahami arah tujuan akhir pdaNYA..

Guswar des 2017

Kalvatar regions books..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Desember 2017 in agama, sastra

 

Tag: , , , , ,

Sad Paramita Enam jalan Pencerahan dalam Sang Hyang Kamahayanikan

Om shiva buddhanta ya namastute.. ksama sampurna ya namo nama swaha.. 

Dalam kitab sang hyang kamahayanikan disebutkan tentang sad paramita,  atau enam jalan menuju kebuddhaan atau pencerahan.. Pada sloka 51 yaitu :

“Aum anaku kitang jina putra, mene kami awaraha irikang aji,  anung yogya gegonta.  Ana sad paramita ngaranya,  ya tika parama Boddhi margga,  ya tika warahakena mami ri kita rumuhun,  marapwan kita tan anghel mangabhyasa ring kapanguhan ika ka-hyang-Buddhan.  Nihan lwuirnya,  sad ikang paramita,  Dana silanca ksantisca,  wirya dhyananca prajnanca,  sad paramita mucyate,  dana tri widha laksanam.  Kalinganya,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita, prajna paramita,  ya tika awan abener marerikang maha Boddhi.  Dana tri wadha laksanam,  tiga prakaraning laksananing dana,  lwirya dana,  ati dana,  mahati dana”

Artinya hai anakku engkau penganut buddha (dharma),  kini Aku menasehatimu tentang suatu ajaran yg mrupakan jalan pertama menuju keBudhaan (pencerahan)  sebaiknya hal itu Kuajarkan terlebih dahulu agar tidak susah payah menuju keTuhanan.  Itu disebut enam paramita yaitu,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita,  prajna paramita.  Itulah disebut enam paramita,  jalan kencang menuju sang maha Buddha. Dana itu ada tiga macamnya yaitu dana,  ati dana,  mahati dana… 

Dijelaskan dana paramita adalah dana disebutkan sbagai barang yg mengandung rasa,  nasi yg ebak,  minum2an, air yg segar,  kain sutera,  emas, harta permata ternak,  hendaknya itu diberikan kepada orang2 yg mementingkan dan jangan meminta balasan,  juga iklas-itu adalah dana.. 

Kemudian ati dana adalah dimana orang engkau sayangi,  ktika ada yg memintanya dan saat engkau berpisah padanya,  maka iklaskan lah karena cinta kasih itu juga sbagai tabir penghalang dalam mendapatkan keHyang Buddhaan (bersatu dengan Tuhan).. 

Mahati dana adalah dimana seperti buddha sakyamuni,  seseorang itu memberikan dagingnya,  darahnya,  matanya,  badannya,  atau organ tubuh lainnya sebagai keiklasan untuk kepada yg memerlukan,  bahkan kepada binatang buas atau pun raksasa.. Ini adalah hal yg paling utama dalam menyerahkan diriNya sendiri.. Seperti juga menyumbangkan organ tubuh ke orang lain yg memerlukan. 

Sloka 55

“sila paramita ngaraniya,  niwrttir ashubat krhsnat prawrttir asubhat tatha,  iti silasya sangkepah kayawanmanasakramat. Kalinganya, ikang kaya wak citta. Kaya ngaran sariea,  solahning tangan suku,  ya kaya ngaranya. Wak ngaranya sabda,  salwiring wuwus,  ya sabda ngaranya. Citta ikang idep ya citta ngaranya. Sangsiptanya,  ikang kaya wak citta, ya tika tah pagayawa papa,  sapkarani inaran papa karma,  tan wineh mahabhyapare rika. Ikang tri-kaya ngaranika,  kaya,  wak,  citra. Apa pwanung utsahanen ikang tri kaya,  ikang gawe hayu,  salwiring inaranan subha karma,  ya hayu pawayakena de ning trikaya.  Apa lwir nikang asubha karma,  anung tan utsahanen denikang kaya”

Artinya Yang dinamai sebagai sila paramita adalah segala pekerjaan baik yg dilakukan oleh kaya,  wak,  citta. Yang disebut kaya adalah gerak tangan dan kaki dari badan jasmani.  Yang dinamai wak adalah sekalian kata-kata.  Yang dinamai citta adalah jalan pikiran,  tegasnya ke semua itu janganlah diberi untuk berbuat papa,  janganlah tersesat kesana.  Kaya,  wak,  citta itu disebut tri kaya. Adalah perbuatan pekerjaan baik,  yang buruk janganlah diperbuat .

Kaya dibagi tiga,  yaitu pranati pati wirati yang artinya tidak membunuh mahluk yg berdosa atau pun tidak berdosa (kecuali yang diperbolehkan agama seperti untuk yadnya,  atau dharmayuddha), ketika melakukan bisa mendapatkan duka yang besar serta mendapat karma menjadi binatang lintah dan semut (S.H.Kamahayanikan sloka 56)

Adatta dana wirati adalah tidak mengambil barang yang bagus atau tidak tanpa seijin yg memiliki,  akan mendapat neraka loka (SHK sloka 57).

Kama Mithyacar Wirati adalah tidak boleh berbuat tidak suci pada perempuan, segala perempuan, ibu anak, istri seseorang suci, perempuan guru,  yang telah bertunangan dan yang lainnya,  ini ketika dilakukan akan menyebabkan musnah semua hasil yoga bratha samadhinya juga akhirnya mendapat neraka. (SHK 58)

Kemudian yang harus diusahakan oleh Wak atau mulut maka ada beberapa yang perlu disimak, yaitu jangan melakukan kebohongan dan curang atas sesuatu hal,  dilarang memfitnah,  dilarang berkata keras dan kasar atau mencaci maki,  dilarang mencela serba benda seperti mencela keadaan orang lain,  makanan, atau, mungkin cara orang lain melakukan sesuatu dan sebagainya,  lalu yang terakhir jangan memakan sesuatu yg terhidang untuk persembahan kepada sang Buddha. 

Kemudian yang hendaknya dilakukan oleh pikiran citta yaitu,  janganlah besar nafsu,  jangan menuruti hati jahat,  jangan suka mabuk,  jangan sombong,  jangan iri hati, jangan dengki, jangan marah keras,  jangan tamak,  jangan sangat sedih,  berpegang kepada hati yang tenang dan suci, setia kepada hutang (janji), jangan ingkar kepada kenyataab,  besar kasih pada segala mahluk Tuhan dan berbakti kepada Buddha (bhatara) Tuhan. 

Sloka 62 “Ksanti paramita ngaraniya,  mitra mitra samanam cittanam apujah pujah,  yoh sakam kruddesu santi soratyam ksanti paramitam wadet. Kalinanya,  ikang citta klan ring parawamana,  kaya tan yukti sabda tanyukti,  citta tan yukti,  tatan malara,  tan kagyat,  pisaningun ahyun malesa ring ahita,  kewala tumarima ikang purbwa karma paradha,  tan pahuwusan manganeng nganeng pwa kita,  tatan gemen-gemen,  tan harsa, tan girahyasen,  mwan sama buddhinta, ring sarbwa sattwa.  Sangsiptanya,  tan hana wikaranu buddhinta ri sedengyan inawamanan mwang kinagorawan. Ika tang gati mangkana, ya sinanggah ksanti paramita ngaraniya”

Artinya yanf dinamai ksanti paramita adalah pikiran yang tenang serta tahan terhadap durhaka manusia,  beraneka ragam jenis penyakit (yang menyebabkan sakit hati)  disampaikan oleh orang yang dengki iri hati padamu,  seperti pikiran yang tidak benar,  kata tidak benar,  pikiran palsu,  namun demikian janganlah hendaknya sakit hati, jangan terkejut,  jangan sekali bermaksud membalas dengan yang tidak baik juga,  hanya terimalah betapa keadaan purwa karma yang terjadi ini,  janganlah henti-hentinya memikirkan keselamatan dan kebaikan semua mahluk. Demikian ketika engkau disanjung dan dibaik-baikkan, jangan terlalu bersuka cita, jangan terlalu senang,  jangan sangat gembira,  samakan batinmu terhadap semua mahluk. Jadi jangan berubah pikiran atau batin ketika mendapat hinaan dan sanjungan.  Hal itu disebut ksanti paramita. 

Kemudian selanjutnya dalam sloka 63. “Wirya paramira,  ngaranya,  wirya rembho diwa rato sattwanam,  hita karanam,  karotina srawam kincit wirya paramita smrto.  Kalingaya,  ikang kaya,  wak, citta,  ya tika byamara tadangluh,  tan alisuh gumawayaken ri rahina,  sad dharma lokana,  mamuja,  mawe angaya,  manulis sanghyang akara pallawa,  manasu,  sad dharma wacana,  umaca sanghyang dharma pustaka,  athupopakarana,  mangarembha sanghyang sthupa tataghata pratiwimba,  mangarcanakena sarbwopakriya,  mahoma, mwang maka buddhyang gorawa ring tamuy.  Nahan lwir ni kusala gawayakena dening kaya,  wak, citta,  ring rahina ika” 

Artinya yang dinamai Wirya paramita  iu adalah dengan tidak bosan2nya,  tidak merasa payah mengerjakan kusala karma atau pekerjaan, jasa yg suci. Baik siang maupun malam. Pekerjaan kusala yg dilakukan siang hari disebut sad dharma lokanta  yaitu memuja,  memberi nasehat serta ajarab ajaran,  menulis sesuatu pustaka dan sebagainya,  sad dharma wacana  yaitu membaca ajaran kitab suci,  ajaran dhaema,  memberi upakara pada stupa (arca suci),  membicarakan merencanakan peneyelenggaraan upacara dhyani buddha (bhatara), berhoma,  berbatin ramah kepada tamu,  itu yg baik dilakukan pada waktu siang.  

Kemudian pada malam hari (sloka 64) melakukan japa,  yoga,  berpikir suci,  menghubungkan jiwa kepada Tuhan,  mengucapkan mantera pada Budha dewa dewi,  mendoakan keselamatan serba mahluk,  terlepasnya dari rencana buruk,  batin agar terlepas dari cengkraman pengaruh dunia, agar menemui tingkah laku yang suci, mencapai alam kesenangan yang tinggi. 

Selanjutnya adalah dhyani paramita dalam sloka 65 “dhyana paramita ngaranya, sresta madhyama kaniste satye nityam dayamati,  yoginan yogasa marsyat dhyana paramita smrto.  Kalinganya,  ikang ngambek mangekantanken takwan-takwan,  nitya masih ring sabrhwa sattwa,  kanista madhyamottama,  inangen-angen kita suka wasananya,  ring ihatra paratra dwnira.  Umapa denira umanusmaranahi ta suka wasananya ika sarbhwa sattwa,  inakni denira tumungalakena waknya.  Mapa lwir nikang ambek,  ya ewa sattwah ah ewa ham,  sa aham sah sarbwa sattwa,  awaku ika,  awaku awakni sarbwa sattwa ika,  apayapan awibha geka shabhawah,  ikang sarbwa wastu tan haneka bheda ri sarbwa dharma,  mangkana karana ikang ambek,  ya tika dhyana paramita ngaranya”

Artinya bahwa yang dinamai dhyana paramita ialah mempersatukan pikiran untuk menelaah mncari jawaban dari pertanyaan (tentang kehidupan) selalu kasih sayang terhadap semua mahluk tuhan yg menurun derajatna kanista madhya uttama,  dipikirkan keselamatan dan kesenangan akhirnya sampai kepada dunia swmua,  dipujakan keselamatannya dan kesenangan akhir serba mahluk itu. Yaitu dengan mempersatukan batinnya terhadap mahluk itu.  Badan mahluk itu adalah badanku dan badanku ini adalah badan segala mahluk itu,  apalagi tidak ada bedanya serba mahluk itu dengan serba dharma. Pikiran yang itu disebut dhyana paramita. 

Yang terakhir adalah prajna paramita, maka disebutkan dalam sloka 66. Prajna paramita ngaraniya,  yawanti sarbwa wastuni dasa diksan kashitani catani sunya swabhawani prajna paramita smrto. Kalinganya,  sakwehnikang sinanguh hana ring loka,  dasa diksan shitah,  ikang umungguh ring Desa sapuluh, purwa,  daksina, pascima,  uttara, agneya,  nrtti,  wyawya,  airsanya,  urdhwa, adhah,  yatika kawruhana teka ring sarira wahyadyatmika,  mwang sarbwa sattwa, sarbwa widya, sarbwa wihdya, sarbwa kriya, sarbwa kabwatan, sarbwa paksa, ya tika kaweruhana, sakaranya nirakaranya an makatattwan yan inenget ingeten, pakawakang eka neka swabhawa,  apang tunggal mapupul matemu sinanggu,  akwe ngaranya”

Yang dinamai prajna paramita adalah demikian yg disebutkan ada di dunia ini disegala penjuru timur selatan barat utara tenggara barar daya barat laut timur laut,  atas bawah,  semuanya harus diketahui dalam badan lahir atau batin dan juga seluruh serba mahluk, pengetahuan, aerba kerja,  bentuk dan lainnya,  bahwasanya kebenaran yang terkandung di dalamnya jika diperhatikan berbadan esa bersifat banyak,  sebab yang satu itu berkumpul bertemu merupakan banyak. 

Demikian tentang sad paramita, dumogi sarwa prani hitankarah.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Galeri

THE BIG BANG THEORY

Sebelum segalanya ada dan tercipta, tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah “sesuatu”. Sesuatu itu adalah bentuk energi kebiruan yang sangat dalam, serta memiliki kesadaran. Dalam dunia spiritual, Energi dengan kesadaran disebut sebagai JIWA. Jiwa ini tak berbentuk, tidak berbau, tanpa jenis kelamin, abadi, dan tak terbatas. Inilah yang disebut dalam Spiritualisme Hindu sebagai ” BHAGAWAN”.

Jiwa ini kemudian berkembang dengan sendirinya, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi semesta. Jika dilihat sebagai laki – laki / Ayah Semesta (Purusha) jiwa yang berwarna kebiruan ini kemudian disebut sebagai “MULA DATTA”. Sedangkan Jika dilihat sebagai perempuan / Ibu Semesta, jiwa ini disebut sebagai “ADI PARA SHAKTI”, atau, “Energi pertama dan Utama yang ada.”

MULA DATTA (mula adalah awal, DATTA adalah pemberi/ donor) kemudian terbelah menjadi dua. Paruh pertama adalah bentuk energi yang sangat stabil. Ini kemudian disebut sebagai “Sthanu Shakthi”. Bentuk energi yang sangat tenang dan stabil ini tiada lain adalah Siwa. Jika “Shava” atau sawa berarti, sesuatu yang tidak bisa bergerak (mayat). Sedangkan “Shiva” berarti sesuatu yang tidak pernah bisa dipindahkan (tetap) – “Energi Stabil”. Separuh energi yang kedua disebut “Renu Shakthi”. Energi Ini terus bergetar, terus bergerak dan bersifat sangat “Radio aktif”. Bentuk energi yang terus bergerak ini tiada lain adalah Wisnu. “Vish” atau “Vishw” berarti ada pada semua & dan ada dimana-mana. “Wisnu” berarti energi yang ada dalam segala hal dan ada dimana – mana.

Dengan demikian

energi yang stabil, dan energi yang sangat tidak stabil selalu mengalami gesekan. Pada suatu titik kedua Energi akan kembali Mula Datta, kemudian mengalami siklus pembelahan kembali ke dua bentuk energi yang berbeda, dan kemudian akan bersatu kembali. Saat itulah “Wisnu”, energi yang mengalir ke mana-mana dan dimana mana mulai memikirkan tentang ciptaan. Pergerakan energi ini berbentuk cairan dan disebut sebagai “Brahma”. Seorang anak mendapatkan kehidupan dari ibunya, melalui tali yang menghubungkan pusar ke ibunya. Dan teratai, adalah simbolisme kesadaran. Brahma sering digambarkan duduk di atas teratai bermunculan dari pusaran perut Vishnu.

Saat energi stabil dan tidak stabil menemukan keseimbangan atau dengan kata lain saat “Sthanu Shakthi”, dan “Renu Shakthi” mengalami keseimbangan, dan karena Renu shakti atau Bisnis adalah bentuk energi yang selalu bergerak dan ada dimana mana maka dengan demikian, Wisnu akan memiliki “Avatara” menduplikasi energinya , sementara Siwa tidak, Siwa tetap menjadi bentuk energi yang stabil. Wisnu tidak bisa, bertahan dalam satu bentuk / posisi untuk waktu yang lama. Karena dasar dari Renu Shakti bahwa energi ini akan terus bergerak dan berubah.

Dalam bahasa Sansekerta hal terkecil atau atom disebut sebagai Anu. Setiap benda dan makhluk hidup dan keseluruhan ciptaan memiliki Anu atau atom. Dan dalam Anu atau Atom terdapat 3 unsur pembentuk Atom yang disebut sebagai “paramanus”
1. Energi yang stabil (proton) yang berada di tengah inti Anu / Atom. Ini mengapa Siwa dalam konsep Nawa Sanga berada di tengah. Karena Proton ada dalam Inti Atom.
2. Energi yang tidak stabil (elektron) atau Renu Shakti.
3. Dan energi yang netral (neutron). Selain itu, ada (330 juta) bentuk energi, yang mewujud pada ketiga bentuk energi ini agar tetap stabil. Kumpulan wujud wujud bentuk energi ini kemudian menjadi “Maha Anu” dan kemudian dalam Hindu disebut sebagai Dewa / Dewi. Hal inilah yang menjadi konsep dan cara membedakan mengapa “Bhagawan” berbeda dengan “Dewa”.

Brahma, energi yang netral, akan melebur sekali dalam 100 tahun. Saat itulah kedua energi utama yakni Stanu dan Renu Shakti akan ini kehilangan keseimbangan, dan bersatu kembali menjadi Mula Datta. Dalam Veda disampaikan, ini adalah Brahma pertama yang pernah ada. Dan ia telah melewati 50 tahun pertamanya. Di Saat ini, merupakan hari 1 di pagi hari di tahun ke 51 … dan ada banyak waktu kuantum seperti Kalpa, manvantara, Yuga dan lain-lain. Kita berada di Kaliyuga dalam siklus yuga ke 28 dari “Manvantra ini. Meskipun, setiap kali Yuga berubah, terjadi gangguan kecil di antara energi yang terjadi, dan ada kerusakan ringan dalam proses penciptaan.

Bahkan dalam kutipan Sloka lontar Purusha Suktha beberapa baris berbunyi
“Athyadhishta dasaangulam. Purusha ye vedaguma Yath Bhootham Yath Bhavyam..”.
“Dia ada dimana-mana, dan Dia bisa sekecil sepuluh ANGULA, yaitu renu shakthi ini , dia ada di mana-mana, dan hadir bahkan di tingkat atom! Ia adalah Vishnu .

Dalam kutipan Shri Rudra Namakam tertuliskan :
“Namoooo Jyeshtacha Kanishtayacha” …”
Sthanushekthi ini adalah energi terbesar bahkan pada tingkat yang begitu kecil (atomik).”
Hal yang pasti tentang hal ini adalah tentang shiva. Kita tidak bisa memindahkan energi ini, jika kita mencoba melakukannya, hanya akan ada kehancuran saja.
“Mrutyave Swaha Mrutyavee SwahaaAA”
Tidak diragukan lagi bahwa hanya Dialah yang mengakhiri penciptaan, apakah itu satu kehidupan, ataukah seluruh alam semesta, energi stabil ini sendiri berhak mengambil apa yang telah diberikan (yaitu hidup)! Pada akhirnya, energi inilah yang akan menghancurkan ” Brahma” dan mengakhiri penciptaan, untuk semesta yang baru, untuk kehidupan yang lebih baik….

Referensi :

1. Speaking Trees ; Sarwagna Kumar

2. http://www.mediacenterimac.com/the-big-bang-genesis-of-lord-shiva-3/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

MENGAPA PELINGGIH SEBAGAI STANA PARAMASIWA PADA PADMA TIGA BERWARNA HITAM?

Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Paramasiwa.
Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988.
Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Paramasiwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan, keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Paramasiwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan.
Sementara busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Yang Maha Kuasa ParamaSiwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.
Siwa adalah dewata bagian dari Trimurti, yang bertanggung jawab terhadap penyerapan alam semesta. Beliau merupakan perwujudan dari sifat tamas, kelembaman sentrifugal. Kecenderungan menuju pelenyapan atau peleburan. Arti sebenarnya dari siwa adalah pada siapa alam semesta ini tertidur setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dilenyapkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar, prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Siwa jauh lebih banyak dari pada itu, keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, substratum dari segala keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang nampak tanpa batas ini, Kata “Siwa” secara harfiah dapat pula diartikan sebagai “Sesuatu yang tidak.” Dewasa ini, sains modern membuktikan kepada kita bahwa segala sesuatu berasal dari kekosongan atau tidak ada apa-apa dan kembali kekosongan .
Dasar keberadaan atau eksistensi Semesta dan Kualitas dasar makrokosmos sangatlah luas. Galaksi Bima Sakti yang kita tempati hanyalah bagaikan butiran debu diantara jutaan taburan galaksi dan bintang, Sisanya adalah semua ruang kosong yang luas, yang disebut sebagai ParamaSiwa. Itulah rahim dari mana semuanya, itulah tempat dimana Semesta lahir, dan itu adalah tempat terakhir dimana semuanya tersedot kembali. Tempat dimana semua akan melebur kembali
Semuanya berasal dari ParamaSiwa dan kembali ke ParamaSiwa.

Jadi

ParamaSiwa bukan digambarkan sebagai makhluk, bukan sebagai individu. ParamaSiwa tidak digambarkan sebagai cahaya, tapi sebagai Kekosongan / Kegelapan Total. Manusia yang lahir kedunia, Atma yang telah diseliputi Maya, telah membawa kodrat kelahiran dengan mata sebagai alat untuk melihat . Tanpa cahaya mata biasa tak dapat melihat. Cahaya bisa saja ada , bisa saja tidak. Yang selalu ada dan tetap ada adalah kegelapan. Gelap telah ada sebelum cahaya Ada. Ini berarti bahwa setiap sumber cahaya apakah itu lilin, bola lampu bahkan matahari, pada saatnya nanti, pada akhirnya akan kehilangan kemampuannya untuk memberikan cahaya. Cahaya itu tidaklah abadi, Cahaya lahir dan pada saatnya nanti akan berakhir. Kegelapan adalah kondisi yang jauh lebih besar daripada cahaya. Cahaya ada dalam selimut kegelapan . Cahaya ada karena ada dalam dekapan kegelapan. Kegelapan ada dimana-mana, karena Kegelapan total adalah kekosongan Mutlak dimana semesta akan kembali, dan dari kegelapan Semesta kan lahir kembali .
Kegelapan disini bukanlah kegelapan dalam arti konotasi yang kurang baik , jika kita mengatakan “kegelapan ilahi,” bukan berarti kita adalah pemuja setan atau

sesuatu

. Namun kegelapan disini adalah sebuah konsep, filsafat dan Tatwa, dan tiada konsep yang lebih cerdas di planet ini tentang keseluruhan proses penciptaan dan bagaimana hal itu terjadi, dan konsep ini telah dimiliki Hindu ribuan tahun….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

PARA KETURUNAN DHAKSA (1)

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 6)
KETURUNAN DHAKSA

Istri Daksha bernama Asikli, Asikli melahirkan lima ribu anak laki-laki. Mereka dikenal sebagai Haryashvas. Haryashvas ditakdirkan untuk menguasai dunia. Tapi Rsi Agung Narada menemui Haryashvas dan berkata, “Bagaimana kalian bisa memerintah dunia jika kalian bahkan tidak tahu seperti apa Dunia itu? Apakah kalian terbiasa dengan geografi dan batas-batasnya? Pertama cari tahu tentang hal-hal ini, sebelum kalian merenungkan keputusan atas dunia. “
Haryashvas pergi menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.
Daksha dan Asikli kemudian memiliki seribu anak laki-laki lain yang diberi nama Shavalashvas. Narada
Menceritakan kepada mereka apa yang dia katakan pada Haryashvas dan Shavalashvas juga pergi untuk menjelajah dunia dan tidak pernah kembali pula.
Daksha dan Asikli merasa tertekan bahwa anak-anak mereka harus menghilang dengan cara seperti ini. Daksha menyalahkan Narada atas dorongan tersebut dan berencana untuk membunuhnya. Tapi Brahma ikut campur dan membujuk Daksha untuk mengendalikan kemarahannya. Dakshapun setuju untuk melakukannya, asalkan syarat yang diajukannya terpenuhi. “Brahma harus menikahi putriku Priya,” katanya. “Dan Narada harus dilahirkan sebagai
Putra Priya. “
Syarat yang diajukan Dhaksapun ini diterima. Sebenarnya, Daksha dan Asikli memiliki enam puluh anak perempuan. (Dalam sumber selain
Brahma Purana menyebutkan lima puluh anak perempuan.) Sepuluh dari anak-anak perempuan ini menikah dengan Dewa Dharma dan tiga belas lainnya diperistri oleh Resi Kashyapa. Dua puluh tujuh anak perempuan menikah dengan Soma atau Dewa
Chandra. Anak perempuan yang tersisa menikah dengan beberapa Resi Arishtanemi, Vahuputra, Angirasa Dan Krishashva. Sepuluh anak perempuan yang menikah dengan dewa Dharma bernama Arundhati, Vasu, Yami, Lamba, Bhanu, Marutvati, Sankalpa, Muhurta. Sadhya dan Vishva.

Anak-anak Arundhati adalah benda (vishaya) dunia. Anak-anak Vasu adalah delapan dewa yang dikenal sebagai AsthaVasu Nama mereka adalah Apa, Dhruva, Soma, Dhara, Salila, Anala, Pratyusha dan Prabhasa. Putra Anala adalah Kumara. Karena Kumara dibesarkan oleh dewi yang dikenal sebagai Krittika, dia akan menjadi Disebut Kartikeya.

Putra Prabhasa adalah Vishvakarma. Vishvakarma ahli dalam bidang arsitektur dan pembuatan perhiasan. Ia menjadi arsitek para dewa. Anak-anak Sadhya adalah dewa-dewa yang dikenal sebagai Sadhyadevas dan anak-anak Vishva adalah dewa-dewa Dikenal sebagai Vishvadervas. Duapuluh tujuh anak perempuan Daksha yang menikahi Soma atau Dewa Bulan dikenal sebagai nakshatras (bintang). Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Maharesi Kashyapa menikahi tiga belas anak perempuan Daksha. Nama mereka adalah Aditi, Diti, Danu, Arishta, Surasa, Khasa, Surabhi, Vinata. Tamra, Krodhavasha, Ila, Kadru dan Muni.

Anak-anak Aditi adalah dua belas dewa yang dikenal sebagai adityas. Nama mereka adalah Indra, Dhata, Panjarnya, Tvastha, Pusha, Aryama, Bhaga, Vivasvana, Wisnu, Amshumana, Varuna dan Mitra. Dalam setiap bulannya, aditya yang berbeda yang akan bersinar. Sebagai Indra, Aditya menghancurkan musuh para dewa. Sebagai Dhata, dia menciptakan makhluk hidup. Sebagai Parjanya, dia menurunkan hujan. Sebagai Tvashta, dia tinggal di pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai Pusha, dia membuat makanan tumbuh. Seperti Aryama, dia tertiup angin. Sebagai Bhaga, dia ada di tubuh semua makhluk hidup. Sebagai Vivasvana, dia terbakar dan membantu memasak makanan. Sebagai Wisnu, dia menghancurkan musuh para dewa. Seperti Amshumana, dia kembali tertiup angin. Sebagai Varuna, aditya ada di perairan dan sebagai Mitra, dia berada di bulan dan di lautan
Anak laki-laki Diti adalah para daityas (setan). Mereka bernama Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, dan di antara keturunan mereka ada beberapa iblis yang sangat kuat antara lain Bali dan Banasura. Diti juga memiliki seorang putri bernama Simhika yang menikah dengan seorang danava (setan) bernama Viprachitti. Mereka keturunan adalah iblis yang mengerikan seperti Vatapi, Namuchi, Ilvala, Maricha dan nivatakavachas

(Bersambung)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
 
%d blogger menyukai ini: