RSS

Arsip Kategori: filosofi

Sad Paramita Enam jalan Pencerahan dalam Sang Hyang Kamahayanikan

Om shiva buddhanta ya namastute.. ksama sampurna ya namo nama swaha.. 

Dalam kitab sang hyang kamahayanikan disebutkan tentang sad paramita,  atau enam jalan menuju kebuddhaan atau pencerahan.. Pada sloka 51 yaitu :

“Aum anaku kitang jina putra, mene kami awaraha irikang aji,  anung yogya gegonta.  Ana sad paramita ngaranya,  ya tika parama Boddhi margga,  ya tika warahakena mami ri kita rumuhun,  marapwan kita tan anghel mangabhyasa ring kapanguhan ika ka-hyang-Buddhan.  Nihan lwuirnya,  sad ikang paramita,  Dana silanca ksantisca,  wirya dhyananca prajnanca,  sad paramita mucyate,  dana tri widha laksanam.  Kalinganya,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita, prajna paramita,  ya tika awan abener marerikang maha Boddhi.  Dana tri wadha laksanam,  tiga prakaraning laksananing dana,  lwirya dana,  ati dana,  mahati dana”

Artinya hai anakku engkau penganut buddha (dharma),  kini Aku menasehatimu tentang suatu ajaran yg mrupakan jalan pertama menuju keBudhaan (pencerahan)  sebaiknya hal itu Kuajarkan terlebih dahulu agar tidak susah payah menuju keTuhanan.  Itu disebut enam paramita yaitu,  dana paramita,  sila paramita,  ksanti paramita,  wirya paramita,  dhyana paramita,  prajna paramita.  Itulah disebut enam paramita,  jalan kencang menuju sang maha Buddha. Dana itu ada tiga macamnya yaitu dana,  ati dana,  mahati dana… 

Dijelaskan dana paramita adalah dana disebutkan sbagai barang yg mengandung rasa,  nasi yg ebak,  minum2an, air yg segar,  kain sutera,  emas, harta permata ternak,  hendaknya itu diberikan kepada orang2 yg mementingkan dan jangan meminta balasan,  juga iklas-itu adalah dana.. 

Kemudian ati dana adalah dimana orang engkau sayangi,  ktika ada yg memintanya dan saat engkau berpisah padanya,  maka iklaskan lah karena cinta kasih itu juga sbagai tabir penghalang dalam mendapatkan keHyang Buddhaan (bersatu dengan Tuhan).. 

Mahati dana adalah dimana seperti buddha sakyamuni,  seseorang itu memberikan dagingnya,  darahnya,  matanya,  badannya,  atau organ tubuh lainnya sebagai keiklasan untuk kepada yg memerlukan,  bahkan kepada binatang buas atau pun raksasa.. Ini adalah hal yg paling utama dalam menyerahkan diriNya sendiri.. Seperti juga menyumbangkan organ tubuh ke orang lain yg memerlukan. 

Sloka 55

“sila paramita ngaraniya,  niwrttir ashubat krhsnat prawrttir asubhat tatha,  iti silasya sangkepah kayawanmanasakramat. Kalinganya, ikang kaya wak citta. Kaya ngaran sariea,  solahning tangan suku,  ya kaya ngaranya. Wak ngaranya sabda,  salwiring wuwus,  ya sabda ngaranya. Citta ikang idep ya citta ngaranya. Sangsiptanya,  ikang kaya wak citta, ya tika tah pagayawa papa,  sapkarani inaran papa karma,  tan wineh mahabhyapare rika. Ikang tri-kaya ngaranika,  kaya,  wak,  citra. Apa pwanung utsahanen ikang tri kaya,  ikang gawe hayu,  salwiring inaranan subha karma,  ya hayu pawayakena de ning trikaya.  Apa lwir nikang asubha karma,  anung tan utsahanen denikang kaya”

Artinya Yang dinamai sebagai sila paramita adalah segala pekerjaan baik yg dilakukan oleh kaya,  wak,  citta. Yang disebut kaya adalah gerak tangan dan kaki dari badan jasmani.  Yang dinamai wak adalah sekalian kata-kata.  Yang dinamai citta adalah jalan pikiran,  tegasnya ke semua itu janganlah diberi untuk berbuat papa,  janganlah tersesat kesana.  Kaya,  wak,  citta itu disebut tri kaya. Adalah perbuatan pekerjaan baik,  yang buruk janganlah diperbuat .

Kaya dibagi tiga,  yaitu pranati pati wirati yang artinya tidak membunuh mahluk yg berdosa atau pun tidak berdosa (kecuali yang diperbolehkan agama seperti untuk yadnya,  atau dharmayuddha), ketika melakukan bisa mendapatkan duka yang besar serta mendapat karma menjadi binatang lintah dan semut (S.H.Kamahayanikan sloka 56)

Adatta dana wirati adalah tidak mengambil barang yang bagus atau tidak tanpa seijin yg memiliki,  akan mendapat neraka loka (SHK sloka 57).

Kama Mithyacar Wirati adalah tidak boleh berbuat tidak suci pada perempuan, segala perempuan, ibu anak, istri seseorang suci, perempuan guru,  yang telah bertunangan dan yang lainnya,  ini ketika dilakukan akan menyebabkan musnah semua hasil yoga bratha samadhinya juga akhirnya mendapat neraka. (SHK 58)

Kemudian yang harus diusahakan oleh Wak atau mulut maka ada beberapa yang perlu disimak, yaitu jangan melakukan kebohongan dan curang atas sesuatu hal,  dilarang memfitnah,  dilarang berkata keras dan kasar atau mencaci maki,  dilarang mencela serba benda seperti mencela keadaan orang lain,  makanan, atau, mungkin cara orang lain melakukan sesuatu dan sebagainya,  lalu yang terakhir jangan memakan sesuatu yg terhidang untuk persembahan kepada sang Buddha. 

Kemudian yang hendaknya dilakukan oleh pikiran citta yaitu,  janganlah besar nafsu,  jangan menuruti hati jahat,  jangan suka mabuk,  jangan sombong,  jangan iri hati, jangan dengki, jangan marah keras,  jangan tamak,  jangan sangat sedih,  berpegang kepada hati yang tenang dan suci, setia kepada hutang (janji), jangan ingkar kepada kenyataab,  besar kasih pada segala mahluk Tuhan dan berbakti kepada Buddha (bhatara) Tuhan. 

Sloka 62 “Ksanti paramita ngaraniya,  mitra mitra samanam cittanam apujah pujah,  yoh sakam kruddesu santi soratyam ksanti paramitam wadet. Kalinanya,  ikang citta klan ring parawamana,  kaya tan yukti sabda tanyukti,  citta tan yukti,  tatan malara,  tan kagyat,  pisaningun ahyun malesa ring ahita,  kewala tumarima ikang purbwa karma paradha,  tan pahuwusan manganeng nganeng pwa kita,  tatan gemen-gemen,  tan harsa, tan girahyasen,  mwan sama buddhinta, ring sarbwa sattwa.  Sangsiptanya,  tan hana wikaranu buddhinta ri sedengyan inawamanan mwang kinagorawan. Ika tang gati mangkana, ya sinanggah ksanti paramita ngaraniya”

Artinya yanf dinamai ksanti paramita adalah pikiran yang tenang serta tahan terhadap durhaka manusia,  beraneka ragam jenis penyakit (yang menyebabkan sakit hati)  disampaikan oleh orang yang dengki iri hati padamu,  seperti pikiran yang tidak benar,  kata tidak benar,  pikiran palsu,  namun demikian janganlah hendaknya sakit hati, jangan terkejut,  jangan sekali bermaksud membalas dengan yang tidak baik juga,  hanya terimalah betapa keadaan purwa karma yang terjadi ini,  janganlah henti-hentinya memikirkan keselamatan dan kebaikan semua mahluk. Demikian ketika engkau disanjung dan dibaik-baikkan, jangan terlalu bersuka cita, jangan terlalu senang,  jangan sangat gembira,  samakan batinmu terhadap semua mahluk. Jadi jangan berubah pikiran atau batin ketika mendapat hinaan dan sanjungan.  Hal itu disebut ksanti paramita. 

Kemudian selanjutnya dalam sloka 63. “Wirya paramira,  ngaranya,  wirya rembho diwa rato sattwanam,  hita karanam,  karotina srawam kincit wirya paramita smrto.  Kalingaya,  ikang kaya,  wak, citta,  ya tika byamara tadangluh,  tan alisuh gumawayaken ri rahina,  sad dharma lokana,  mamuja,  mawe angaya,  manulis sanghyang akara pallawa,  manasu,  sad dharma wacana,  umaca sanghyang dharma pustaka,  athupopakarana,  mangarembha sanghyang sthupa tataghata pratiwimba,  mangarcanakena sarbwopakriya,  mahoma, mwang maka buddhyang gorawa ring tamuy.  Nahan lwir ni kusala gawayakena dening kaya,  wak, citta,  ring rahina ika” 

Artinya yang dinamai Wirya paramita  iu adalah dengan tidak bosan2nya,  tidak merasa payah mengerjakan kusala karma atau pekerjaan, jasa yg suci. Baik siang maupun malam. Pekerjaan kusala yg dilakukan siang hari disebut sad dharma lokanta  yaitu memuja,  memberi nasehat serta ajarab ajaran,  menulis sesuatu pustaka dan sebagainya,  sad dharma wacana  yaitu membaca ajaran kitab suci,  ajaran dhaema,  memberi upakara pada stupa (arca suci),  membicarakan merencanakan peneyelenggaraan upacara dhyani buddha (bhatara), berhoma,  berbatin ramah kepada tamu,  itu yg baik dilakukan pada waktu siang.  

Kemudian pada malam hari (sloka 64) melakukan japa,  yoga,  berpikir suci,  menghubungkan jiwa kepada Tuhan,  mengucapkan mantera pada Budha dewa dewi,  mendoakan keselamatan serba mahluk,  terlepasnya dari rencana buruk,  batin agar terlepas dari cengkraman pengaruh dunia, agar menemui tingkah laku yang suci, mencapai alam kesenangan yang tinggi. 

Selanjutnya adalah dhyani paramita dalam sloka 65 “dhyana paramita ngaranya, sresta madhyama kaniste satye nityam dayamati,  yoginan yogasa marsyat dhyana paramita smrto.  Kalinganya,  ikang ngambek mangekantanken takwan-takwan,  nitya masih ring sabrhwa sattwa,  kanista madhyamottama,  inangen-angen kita suka wasananya,  ring ihatra paratra dwnira.  Umapa denira umanusmaranahi ta suka wasananya ika sarbhwa sattwa,  inakni denira tumungalakena waknya.  Mapa lwir nikang ambek,  ya ewa sattwah ah ewa ham,  sa aham sah sarbwa sattwa,  awaku ika,  awaku awakni sarbwa sattwa ika,  apayapan awibha geka shabhawah,  ikang sarbwa wastu tan haneka bheda ri sarbwa dharma,  mangkana karana ikang ambek,  ya tika dhyana paramita ngaranya”

Artinya bahwa yang dinamai dhyana paramita ialah mempersatukan pikiran untuk menelaah mncari jawaban dari pertanyaan (tentang kehidupan) selalu kasih sayang terhadap semua mahluk tuhan yg menurun derajatna kanista madhya uttama,  dipikirkan keselamatan dan kesenangan akhirnya sampai kepada dunia swmua,  dipujakan keselamatannya dan kesenangan akhir serba mahluk itu. Yaitu dengan mempersatukan batinnya terhadap mahluk itu.  Badan mahluk itu adalah badanku dan badanku ini adalah badan segala mahluk itu,  apalagi tidak ada bedanya serba mahluk itu dengan serba dharma. Pikiran yang itu disebut dhyana paramita. 

Yang terakhir adalah prajna paramita, maka disebutkan dalam sloka 66. Prajna paramita ngaraniya,  yawanti sarbwa wastuni dasa diksan kashitani catani sunya swabhawani prajna paramita smrto. Kalinganya,  sakwehnikang sinanguh hana ring loka,  dasa diksan shitah,  ikang umungguh ring Desa sapuluh, purwa,  daksina, pascima,  uttara, agneya,  nrtti,  wyawya,  airsanya,  urdhwa, adhah,  yatika kawruhana teka ring sarira wahyadyatmika,  mwang sarbwa sattwa, sarbwa widya, sarbwa wihdya, sarbwa kriya, sarbwa kabwatan, sarbwa paksa, ya tika kaweruhana, sakaranya nirakaranya an makatattwan yan inenget ingeten, pakawakang eka neka swabhawa,  apang tunggal mapupul matemu sinanggu,  akwe ngaranya”

Yang dinamai prajna paramita adalah demikian yg disebutkan ada di dunia ini disegala penjuru timur selatan barat utara tenggara barar daya barat laut timur laut,  atas bawah,  semuanya harus diketahui dalam badan lahir atau batin dan juga seluruh serba mahluk, pengetahuan, aerba kerja,  bentuk dan lainnya,  bahwasanya kebenaran yang terkandung di dalamnya jika diperhatikan berbadan esa bersifat banyak,  sebab yang satu itu berkumpul bertemu merupakan banyak. 

Demikian tentang sad paramita, dumogi sarwa prani hitankarah.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Galeri

Hubungan Antara Maya dengan Jiwa

Maya sangat membantu dalam pembebasan jiwa dari keterikatan. Anava (kebodohan/ketidaktahuan/kegelapan), karma dan maya (Prakirti/materi/tubuh) dikatakan sebagai “malas” dari Sang jiwa. Dari ketiga hal tersebut, anava adalah penyebab kelahiran berulang jiwa, dengan mengikis ketidaktahuan sedikit demi sedikit, Maya membantu jiwa terbebas dari ketidaktahuan dan terbebas dari kelahiran berulang. Yang mendorong jiwa melalui selimut kegelapan (Anava) setiap jiwa akan memiliki maya dan karma.

Bagaimana maya membantu jiwa digambarkan oleh kitab kitab Siddhanta sebagai berikut :

“Maya, menurut karma dari masing-masing jiwa, akan menjadi tubuh, alam materi dll. Sampai jiwa mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan Anugrah Tuhan, maya membantu jiwa seperti lampu yang memberi terang kepada manusia mengarungi kegelapan hingga matahari kesadarannya terbit”

Saat Anugrah Tuhan tercapai, kegelapan /anava akan lenyap sama sekali. Hingga saat itu, “lampu” maya membantu jiwa untuk tidak menderita dalam kegelapan anava.

Karena maya (tubuh) membantu jiwa, maka maya bukanlah penghambat namun justru memiliki ‘hubungan baik’ dengan Sang Jiwa . Menganggap maya sebagai penyebab kelahiran berulang kuranglah tepat.
Jadi, meskipun maya membantu jiwa, dengan mengetahui sifatnya yang tidak nyata, maka Maya tidaklah abadi dan pada waktunya akan musnah dan ditinggalkan. Ketika matahari sudah terbit dan menerangi jalan maka lampu lentera tidak diperlukan lagi dan baru kemudian pembebasan bisa tercapai. Apa yang menyebabkan lampu lentera/ Maya/ tubuh / dunia materi sulit untuk ditinggalkan adalah karena ketidaktahuan; dan ketidaktahuan ini disebabkan oleh anava (kegelapan) dan bukan maya. Dimanapun dan kapanpun ada ketidaktahuan, itu harus dipahami sebagai efek anava. Oleh karena itu, maya tidak sempurna; anava-lah yang menahannya sehingga terselimuti kegelapan.

Jiwa mengambil tubuh tertentu hanya karena karma. Apapun bentuk tubuh, pada karma yang semakin menipis dan habis maka jiwa pada akhirnya akan mencapai pembebasan. Oleh karena itu, jumlah kelahiran bergantung pada karma sang jiwa. Jiwa yang memiliki sedikit karma bisa mencapai pembebasan bahkan dalam satu atau dua kelahiran. Tapi jika karma tidak habis – habis bahkan setelah mengalami kelahiran jutaan kali jiwa – jiwa akan tetap mengalami kelahiran kembali.

Seorang siswa di Kelas 3 dapat naik ke Kelas 5 dengan terlebih dulu naik ke Kelas 4, ada juga yang terjadi secara langsung dari 3 ke 5. Dia juga bisa turun kelas, semuanya bergantung pada kecerdasannya. Demikian pula, jiwa yang lahir sebagai tanaman bisa mendapatkan kelahiran Deva, dan seorang Deva mungkin dapat terlahir sebagai seekor anjing atau rubah. Semua tergantung pada perbuatan baik-buruk.

Tanpa tubuh, jiwa tidak bisa eksis. Dan tidak ada tubuh tanpa karma. Bahwa jiwa mendapatkan tubuh yang sesuai dengan karma-karmanya. Karena itu, tidak ada tubuh (bagi setiap jiwa) tanpa karma.

Mungkin aja ada yang bertanya , Jika demikian, jiwa dari kondisinya yang halus, saat akan menempati tubuhnya yang pertama kali, tergantung seperti apa yang tubuhnya , Itu juga tergantung pada Karmas-nya! Bila jiwa berada dalam kondisi halus karena di dalam jiwa juga ada badan halus, anava (kegelapan) yang menguasainya akan merubah keinginan di dalamnya. Keinginan itu menjadi karma dan, sebagai akibatnya, jiwa memperoleh tubuh pada kelahiran pertamanya.
Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa karma hanya diperoleh di tingkat manusia dan bukan kelahiran kelahiran yang lain tidaklah tepat.

Jiwa karena terselimuti oleh Anava, Maya dan karma tidak memiliki kebebasan dalam kelahiran apapun. Satu-satunya Hal di Semesta Raya yang memiliki kebebasan adalah Tuhan. (Ini adalah salah satu kebenaran mendasar dari ajaran Saiva Siddhanta). Ciri khas jiwa adalah bahwa ia mengambil bagian dari sifat yang terbawa dengannya menjadi satu kesatuan. Dengan demikian, ketika jiwa mencoba menyatukan dirinya dengan Pati, ia mendapat sedikit pencerahan dan melakukan perbuatan baik; Saat bergabung dengan Pasas, ia akan melakukan perbuatan jahat. Bergabungnya jiwa dan seberapa banyak kecenderungan dia bersama (Pati atau Pasam) juga disebabkan karena karma masa lalu. Karena itu, jiwa jiwa yang lahir kembali tidaklah memiliki kebebasan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2017 in filosofi

 
Galeri

Salah Satu Percakapan Terindah Sepanjang Masa

Sebelum perang Kurukhetra terjadi, telah tumbuh kegelisahan pada diri Shri Krishna karena kehadiran Karna di pihak Kaurava. Krishna tidak takut dengan Bhisma yang perkasa, karena dia tahu bahwa Bhisma telah melakukan dosa (dengan menculik tiga putri, yaitu putri Kashi – Amba, Ambika, Ambalika) dan apa yang telah dilakukan oleh Bhisma telah memberinya sebuah bentuk buah Karma dalam wujud Shrikhandi (reinkarnasi – Dewi Amba, dia berjanji agar kelak menjadi alasan kematian Bhisma).
Krishna pun tidak takut dengan kehadiran Drona , karena dia tahu bahwa Raja Drupada telah melakukan sebuah Yagna dan melahirkan Dhristyadhumna, yang akan membunuh Drona di medan perang.
Krishna bagaimanapun merasa khawatir dengan kehadiran Karna , karena Karna hampir tidak pernah melakukan dosa. Jadi Sri Krisna hampir tidak memiliki cara untuk menggunakan buah Karma, dari dosa Karna . Dan karena Karna memiliki shakti Vasava, ini adalah sebuah penghalang besar menuju kemenangan Dharma. Jika Karna menggunakan Vasava Shakti, Arjuna sudah dipastikan akan mati dan jika Arjuna sudah mati, maka kekalahan Pandawa adalah sebuah keniscayaan.
Percakapan antara Krisna dan Karna, mungkin percakapan terbaik yang terjadi diantara manusia selain percakapan antara Krisna dengan Arjuna. Krisna mencoba membujuk dan merayu Karna agar dapat kembali kepada pangkuan Pandawa.
Krishna :
“Tahukah kau, bahwa kau adalah Putra tertua Kunti . Engkau pantas menjadi raja Hastinapura. Ayo, bergabunglah dengan kami. Semua Pandawa akan menyambutmu. Draupadi akan menjadi ratumu dan mengapa engkau berpihak pada Duryodhana?”
Karna :
“Mereka bukan saudara laki-lakiku, dan aku tidak ingin menjadi raja. Terima kasih telah mengatakan bahwa aku adalah Putra tertua Kunti , Aku telah mencari jawaban ini sepanjang hidupku.
Krishna :
Saat ini engkau telah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya , mengapa dirimu tidak ikut bersamaKu, bersama Pandawa ?
Karna :
Dengan segala hormat kepadamu, Khrisna, siapakah engkau, hingga kau berani menentukan dharma apa yang pantas buatku?Aku menyadari dharmaku dan aku melakukannya setiap hari.
Krishna :
Dan apa dharmamu, bolehkah aku tahu?
Karna :
Dharmaku adalah untuk melindungi temanku saat dia sangat membutuhkanku.
Krishna :
Bahkan dengan berpihak dengan kekuatan yang dilakukan Adharma terhadap ratusan ribu pria? Tahukah kau bahwa kehadiranmu di pihak Kaurava memastikan bahwa Dharma harus berjuang lebih keras untuk meraih kemenangan?
Karna :
“Kekuatan itu memiliki alasan tersendiri, aku punya alasan sendiri. Dimana kau berada, ketika Drona menolakku untuk mengajar pelajaran karena aku bukan anggota keluarga kerajaan? Dimana Dharma ketika aku tidak diizinkan untuk bersaing di Swayamvar Draupadi dan aku dihina karena menjadi orang yang berasal dari kasta rendah? Dimana dharma ketika aku harus menjawab pertanyaan setiap orang bagaimana putra seorang sudra menjadi raja? Dharma atau kebenaran dalam hal ini tidak pernah menjadi temanku. Aku hanya punya satu teman dan hanya satu dharma. Yang disebut Duryodhana.
Krishna :
Apakah kau setuju bahwa Duryodana telah melakukan kesalahan dan bahwa dia satu-satunya yang bertanggung jawab atas perang ini?
Karna :
Aku tahu…..
Krishna :
Lalu apa motivasimu, apa yang mendorongmu hingga kau bersedia ikut terlibat dalam perang ini? Pandawa punya alasan, Duryodana punya, lalu apa alasanmu? Apa yang akan kamu dapatkan dari perang ini?
Karna :
Aku ikut perang ini tidak untuk mendapatkan apapun. Setelah Bhisma Putra Gangga, Aku adalah pejuang tunggal yang paling malang di medan perang ini. Aku Berjuang bukan untuk apa-apa . Bhisma harus memenuhi sumpahnya , ia memiliki Pratigya dan karenanya dia terikat dan seolah tak berdaya. Tapi Aku bukanlah orang yang tidak berdaya. Aku bisa pergi kapan saja dari perang ini. Tapi tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak bisa meninggalkan temanku saat dia sangat membutuhkan diriku. Aku tahu dia salah , tapi hal itu tidak ada hubungannya dengan rasa syukur dan terimakasihku padanya.
Krishna :
Bagaimana jika kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan kedamaian? Bagaimana jika perang tidak pernah dimulai? Bagaimana kau akan membayar kembali hutang pertemananmu?
Karna :
Apakah kau bercanda, Krisna? Bahwa ketika Tuhan berdiri tepat di depan pintuku untuk membujukku dalam mengubah pendirian, yakinlah bahwa perang ini tidak akan bisa dihindari. Mengapa Tuhan datang ke pintuku jika pintu damai dapat terbuka?
Krishna :
Baik. Bagaimana jika Pandawa menang dan mereka mengundangmu untuk menjadi raja Hastinapura? Kau harus menikahi Draupadi saat itu, maukah kau melakukannya?
Karna :
Tidak, hal itu bahkan tidak mungkin terjadi. Di akhir perang ini, entah aku yang akan hidup ataupun Arjuna, tidak peduli siapa yang memenangkan perang ini, salah satu dari kami akan mati. Dan sejauh menyangkut Draupadi, itulah satu-satunya penyesalan terhadap dosa yang aku miliki. Aku telah salah menghina dia, memanggilnya pelacur di ruang pengadilan. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Jadi, bahkan jika dia mendekati diriku, aku sangat tidak layak untuknya sekarang. Pada satu titik, mungkin, tapi tidak sekarang dan selamanya. Semua Sudah terlambat.
Percakapan antara Krisna dan Karna adalah sebuah momentum yang penuh keharuan dan dipenuhi oleh aspek indah dari kemanusiaan , untuk dipahami dan digunakan sebagai bahan perenungan. Peecakapan diatas dimulai dari sebuah pertanyaan Siapakah sebenarnya orang tua / Ibunda Karna sebenarnya dan kemudian diikuti oleh pertanyaan paling menyakitkan yang membuat dia kesakitan sepanjang hidupnya
Karna :
“Ibu meninggalkan diriku saat aku dilahirkan. Apakah salahku hingga aku harus terlahir sebagai anak tanpa orang tua? “
Krishna :
Aku dilahirkan di penjara dan kematianku ditakdirkan bahkan sebelum aku sempat membuka mataku di dunia ini…
Hidup itu bisa saja terasa tidak adil bagi siapapun. Sebenarnya, hal itu akan sangat mungkin bisa terjadi karena dalam bentuk manusia inilah, kita semua ada di sini untuk belajar pelajaran tertentu dan penting bagi kita.
Krisna :
Engkau tidak bisa bertindak hanya karena hidup tidak adil bagimu dan karena ada orang yang telah baik menolong dirimu, yang pada dasarnya merupakan ancaman bagi seluruh masyarakat;Dan Pada akhirnya, kau harus memilih antara hati nuranimu di atas orang tersebut. Ini adalah dharma yang benar. Itulah satu-satunya jalan.
Faktanya adalah, baik Karna ataupun Krishna, pada dasarnya mereka mengekspresikan diri mereka dalam bentuk manusia. Dunia ini adalah panggung dan kita semua hanyalah karakter yang memenuhi takdir permainan terbesar sepanjang masa yang kita sebut Hidup. Alam semesta memiliki cara untuk mewujudkan sesuatu dan kita semua selaras dengan jalan jiwa kita.

Mereka yang menyadari dan menyesuaikan diri dengan jalan mereka, dibebaskan dari perbudakan Karma mereka, mereka kembali lagi untuk menyelesaikan pelajaran dan pengetahuan yang masih belum tersedia atau sebagian tersedia bagi mereka.

Dialog antara Krishna dan Karna adalah contoh klasik untuk memahami perbedaan antara ketidaktahuan dan kesadaran. Terlarut dalam rasa penyesalan dan mengasihani diri sendiri tidak akan pernah memberikan solusi apapun. Namun, ketika kita berdiri berkali-kali untuk menahan diri tegak dan mengatakan kebenaran, Anda melepaskan diri dari semua drama yang tidak perlu.

Hidup adalah pelajaran dan seseorang harus menerima semua yang harus mereka alami.
SANG KARNA
Aku bukanlah orang yang jahat,
juga bukan orang yang tak bermartabat,
Pun aku adalah orang yang berhasrat,
Akan hal yang aku yakini dengan erat….
Walau Dunia akan berperang melawanku dengan hebat,
layaknya seekor semut terkepung oleh air bah yang dahsyat,
hingga habis tetes darah dan menjadi mayat
Aku akan tetap menantang Sangkakala dan berdiri dengan kuat,
Walau dirimu sekumpulan Agung para kesatria,
yang mampu membumi hanguskan kurusetra,
Aku kan menghadapi mu tanpa takut dan jera,
Bagiku kehidupan atau kematian adalah hal bisa kukecup dengan mesra….
Aku bukanlah orang yang hina,
yang sebisanya engkau injak layaknya manusia tanpa guna,
Aku hanya memegang teguh sumpah yang kuucapkan disana,
tanpa ragu dan tanpa nyana….
Sumpahku bagiku bukan sebuah masalah…,
Ku tak peduli akan baik dan salah…..,
yang aku tahu bahwa itu adalah hal wajib dan sah,
hingga datang waktu saat aku menyerah kalah…
Ku tak sesali keputusanku…..,

Aku

telah berserah diri pada Penciptaku,
Apapun yang telah aku ambil sebagai jalanku,
Akan ku Raup dan rasa dalam cecapku….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2017 in filosofi

 

Atma tattwa dan Psikologi Modern (ala Carl Jung) 

Atma tattwa dan Psikologi Modern (ala Carl Jung) 

Om namaste om.. 

Hindu dalam pemahaman atma tattwa,  sebetulnya secara tersadarkan merupakan konsep pembelajaran atas psikologi manusia itu yg dikembangkan secara gamblang oleh freud atau carl gustav jung.. Dalam hal ini melalui psikoanalisa yg memberi pemahaman tentang apa yg terjadi di “dalam” manusia itu.. 

Atma tattwa berdasarkan konsep citta budhi manas ahamkara,  mengajarkan tentang bagaimana keadaan “luar” ibarat fenomena gunung es yg menjelaskan “persona”(jung)  yaitu keadaan yg diperlihatkan oleh seseorang itu kepada dunia.. Persona yg merupakan topeng sebagai alat2 sandiwara manusia yg diperlihatkan kepada sesamanya.. 

Dan jung mengatakan,  bahwa yg “tidak terlihat” itu adalah seperti samudra besar yg berisi “penuh” atas kesadaran manusia yg kompleks juga arketipe arketipe manusia yg universal.. Arketipe yg berupa kesadaran kolektif atau universal yg ajaibnya hampir sama di setiap belahan negara.. Ini seperti juga sejalan dgn konsep dri kebijaksanaan hindu tentang keadaan jagra,  svapvna, susupta atau pun turiya pada yg berhubungan erat dgn keadaan sadar,  mimpi (sebagai simbol arketipe manusia),  tidur pulas,  juga diantaranya (yg nanti akan diulas pda tulisan selanjutnya)  

Arketipe itu misalnya konsep IBU mother,  Child anak kecil,  The creator, The Sidekick,  the wise old man,  the explorer,  the snake, the hero yg terdefinisikan seperti myth yg telah lama ada dan selalu ada,  sprti utusan tuhan awatara,  anak tuhan (ganesha atau kristus), bapa the father Shiva,  the mother Theresha pratiwi atau legenda Kanjeng ibu juga mahenjo daro harappa terracota,  bhisma sang pahlawan dan sebagainya.. INi adalah arketipe arketipe yg membentuk kesadaran supra atau ketidaksadaran personal akan “diri” itu sendiri.. 

Kembali pada atma tattwa,  maka kebersadaran di “dalam” terbagi atas citta buddhi manas ahamkara,  yg (mungkin)  akan terkombinasikan secara kompleks atas arketipe2 tersebut.. Dalam hal ini,  kebersadaran “dalam” terbentuk atas dunia luar (ego ahamkara)  lalu terbentuk atas memori masa lalu juga tradisi (citta atas dasar samsara) kmudian itu akan membukakan persona atas keberpahaman dalam buddi dan manas.. Buddi sendiri adalah rasa atau juga intelektualitas yg berkembang atas dasar jnana juga dharma keberagungan arketipe simbol Ilahi seperti the father the mother the creator the hero the wise old man the mentor yg merupakan arketipe hyang agung.. Semakin lekat manusia akan jnanaNya atau ilmuNya,  maka IA akan semakin sering mengumandangkan wacana visualisasi keilahian di atas.. 

Di bagian lain adalah manas atau mahat ada “alat” dari atman untuk mengambil atau mendapatkan informasi dari ahamkara atau pun dari citta yg akan diolah oleh buddhi jnana,  ini adalah “Sidekick” yg mengolah the shadow itu sendiri yg selalu hadir untuk menguji, menganalisa juga sebagai alat untuk memperdayai membuat persona,  sampai dalam pengetahuan akan bahwa citta dan ahamkara (ego)  adalah sesuatu hal yg sama sahadja.. 

Kebersadaran lampau tentang the creator adalah IA yg mencipta,  IA yg sebagai IBU IA yg sebagai juga guru dan anak, dan yg lainnua  adalah yg “sejatinya” bisa digali dgn jnana itu sendiri.. Ini sendiri juga merupakan simbolisasi akan kekuatan atman jihwantam yg layak ditandai sebagai “persona” sesungguhnya,  perjalanan atas “hidup” manusia itu sendiri.. 

Aham brhman asmi, brhman atman aikyam,  agung alitan buana aikyam adalah (bisa jadi)  perjalanan akhir manusia.. 

Bacaan : art &jung Buntje harbunangin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Sang buddhi (dharma)  Penyaring Pikiran dalam Ranah Atma Tattwa

Sang buddhi (dharma)  Penyaring Pikiran dalam Ranah Atma Tattwa

Om sahadjanathaka buddhi dharmika,  mayapada sarwa aji karma yamatakha sabda,  tinanduk manacika sudha amritam, tatujonipun jagaditha kamoksan.. Aum.. 

Manusia lahir pada dasarnya adalah diberi tugas tertentu untuk bisa melepaskan diri dari jasad manusia itu sendiri,  dalam kashanah jiwanya menuju kelepasan.. Kelepasan yg berarti ketidakterikatan akan sisi materialitas semesta yg berisikan suka bagya duka lara rogha,  smpai nanti bertemu (yama) pati.. 

Manusia lahir dari sancita karmaNya,  sancita karma yang terkandung dalam maya guna tattwa,  satwik rajas tamas.. Dan melinkupi seluruh semesta dan srcara adil memberikan karma pahala itu kepada aeaeorang itu.. 

Secara konsep,  manusia secara universal terdiri dari citta budhi manas(mahat) ahamkara.. Yg paling dekat dengan dunia luar adalah ahamkara atau ego itu sendiri yg masuk pada penerimaan manas atau pikiran sebagai penguasa indriya.. Ego adalah diri yg masih terbelenggu keinginan,  yg dapat dikendalikan melalui vairaghya sesana..dgn melalui brata panca yama niyama…. 

Buddhi sebagai penyaring itu,  akan berkembang dngan baik ktika “rasa” telah memberikan prilaku yg ksama,  mudita,  karuna,  upeksa,  maitri (catur pramita),  dan memahami kebenaran jnana dalam pencapaian atas Sang Mutlak itu sendiri..Hal ini akan membuat buddhi berkembang dan menjadi penyaring yg kokoh atas kehendak manas (mahat)  pikiran.. 

Buddi kemudian dianggap sebagai intelektualitas dari itu,  yg menuju pada kesadaran atman,  intelektualitas yg lebih besar dari pikiran itu sendiri.. Pikiran lahir karena belenggu maya pada lewat tri gunaNya satwik rajas tamas.. Dalam konsep awatara,  maka dijelaskan awatara setelah kalki lahir adalah maya guna itu sendiri.. Maya guna yg brisikan satwik rajas tamas sbagai pemisah antara kebajikan,  keaktivan dan kegelapan atau tamasik.. Ini yg akan selalu menguji manusia akibat dari hasil perbuatan mereka terdahulu.. 

Ktika energi maya kemudian bisa disaring melalui buddhi,  maka yg tercantumkan pada citta (tabungan karma) adalah pahala baik saja,  ktika buddhi berkembang.. Dan akhirnya mengikis karmapala buruk itu sendiri. Dharmika Budhi tercatat pada srsmsucya adalah bahwa hnya dharma lah yg melebur dosa tri loka ini.. Maka ktika habis,  smpailah pada kesadaran turyapada.. Memahami atman.. 

Atman yg telah terpahami,  maka tersadarkanlah IA itu pada peleburan karma2 buruk,  dan muncul khasanah intuitif yg memberikan pembelajaran semesta.. Karena persatuan penyadaran atman itu,  ibarat brhman atman aikyam juga lalu mahaguru rishi yg memberikan contoh kesadaran2 akan hal itu.. Juga sbagai kesadaran bhuana agung alitan yang aikyam pula.. Dan hidup ini hnya sebuah tugas mulia sbagai sang maha guru itu sndiri.. 

Om ksama sahampurnam jayathakam mahaguna tattwa pujamkha.. Aum.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Oktober 2017 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Dewata nawa sangha dalam Sapta Cakra.. 

Dewata nawa sangha dalam Sapta Cakra.. 

Om ya cakra natakha pujamkha,  wasudhewaki pashupatakha mahayantrakha,  waisnawakha brahmin sidhanta yanatakha,  mahakalkiya mahantrakhi pujamkha.. Niya Aum..

Patut sekali disadari ketika dalam memahami cakra bersama dengan karakteristiknya juga, adalah sebuah kesatuan yg universal dalam keberpahamanNya,  sebagaimana ktika dihubungkan dalam konsep dewata nawa sangha.. Atau pun berdasarkan materi atau ruangNya yg mampu divisualisasikan dan bahkan dapat diimplementasikan dalam metode yantra tantra mudra itu sendiri..

Disadari kembali dewata nawa sangha adalah suatu kesatuan tentang arah2 mata angin yg dimaknai juga sebagai dasa aksaraNya yg berkumandang penuh pada arah2 yg berada pada sapta cakra yang terpusat..

Mengenai juga pembalutan ida pinggala sumsumha adalah juga mengandung konsep dari sapta cakra sendiri..

Dari bawah adalah pertiwi yg berwarna merah adalah brahma prajapati yg menguasai hidup dan juga kematian beserta semua di dalamNya sebagai tempat hidupNya,  ini juga berkuasa maha jnana saraswati mahadewi prawati sebagai pratiwi itu sendiri.. Dalam aksara adalah bang di arah selatan.. Cakra muladhara..

Dari itu ke atas bernama cakra manipura air. Yg berkuasa adalah hyang rudra dan menguasai hormon2 yg ada di daerah seluruh tubuh,  dalam hal ini juga bhtra waruna waisnawa yg menguasai air..dan dari cakra muladhara kluar juga Ida nadi yg dikuasai oleh maheswara berkuasa atas cahaya cinta kasih dri bhtara surya.. Manipura sendiri beraksara mang berada di arah naritri..

Kemudian naik lagi berwarna kuning adalah mahadewa yg berisikan cakra swadisthana dengan aksara Tang,  bersama dgn agni IA merupakan penguasa arah barat sebagai lambang pengharapan dan motivasi..

Kemudian naik lagi berwarna Hijau itu adalah anahata yg berisikan dewata sangkara dewam dan juga bhatara wayu dgn lambang nang..   angin brisikan cinta juga kasih yg disebrkan bersama benih kebajikan,  dan akhirnya dri swadisthana kluarlah sumsumha pujamkha yg menuju kebawah dan ke atas yg dibalut oleh bhatara Iswara yg bersuara sang..

Kemudian naik lagi menuju namaNya aksara Sing adalah bhtra shywambu pasupatya dgn suara kosong sunia atau om yg dimaknai dalam mantra juga Japa.. Dari ini (ketika berjapam) maka kluarlah pinggala yg dibalut oleh warna hitam bercakra senjataNya disebut juga wisnu waisnawa dewam dgn aksara Ang,  maka lengkap itu berputar di dalam tubuh yg bernama sumsumha ida pinggala juga lima cakra utama..

Kemudian naik lagi ke atas ke wilayah Ing dan Yang,  maka ktika mengthui bahwa ida pinggala dikuasai oleh dua bhatara chandra dan surya,  maka terbukalah cakra di antara lelata (kedua alis)  yg disebut Ajna mata ketiga yg berisikan aksara Yang berwarna ungu,  adalah penyatuan dri sumsumha ida pingala..pink putih hitam yg artinya mengetahui sesuatu yg belum diketahui.. Lalu……….. …

Terakhir masuk ke atas dan menyebar ke seluruh cakra,  dan diberkati oleh cakra mahkota yg beraksara ING di “pintuNya”, maka berwarna warnilah sumsumha dan bergeraklah ida pinggala sbagai shiva sidha ananta.. Ang Ung Mang Namah dan juga seluruh dasa aksara,  sa ba ta a i na ma si wa ya..
Om kstantwyah kayiko waciko manaso dosah,  tat pramadat ksma swhamam,  prema ksma ya mudita karuna upeksa shantii om..

Guswar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Oktober 2017 in budaya, doa, filosofi

 

Tag: , , , ,

Nihilisme Zaratustra, Tuhan telah mati

Sunya lokham pujamkha.. Aum.. 

Nietczhe dalam buku filsafatNya yaitu tuhan telah mati,  mengisyaratkan banyak makna mndalam tentang suatu hal.. Bagaimana IA menggambarkan bahwa Tuhan dianggap sebagai pembawa bencana atas kemanusiaan,  dan pada akhirnya IA tiada lagi.. 

Dalam konsep nirguna brhman,  memang semua berasal dari ketiadaan dari nihil dari kosong,  bahwa dari kosong itulah nirguna,  maka potensi tetap ada (TAO) beryoga IA menjadikan sesuatu itu ada.. 

Namun dalam konsep NIHilisme zaratustra,  disebutkan Ia berteriak2 di pasar dan mengatakan Tuhan telah mati, tuhan telah mati,  ditertawakan IA.. Lalu kemana manusia berdoa dan menyuarakan isi hatinya,  dan memang Tuhan adalah moralitas itu sendiri yg dimana para pencariNya para penebar paham kemanusiaan,  mnyatakan Tuhan itu ada dalam moralitas.. 

Sangat benar sekali ktika mengatakan (di jaman ini)  tuhan telah mati..Lebih baik tidak ada Tuhan yg dipergunakan nama2Nya untuk kekuasaan dan disalahgunakan sebagai perlindungan atas nama agama.. Agama sendiri sangat berbeda dri Tuhan.. Agama adalah jalan untuk menujuNya dgn berbagai kisah buruk bijak baik upacara mitos dan sebagaiNya..Itu yg terjadi di semesta ini, moralitas atas keburukan adalah bagian agama, sbagai percontohan janganlah dilakukan..

Ketika di pasar atau tempat lain,  yg penuh kebobrokan moral,  Tuhan memang telah mati,  tak ada Tuhan dalam kejahatan,  tak ada pelindung bagi mereka yg terlibat amoralitas.. Bersumpah atas agama (atas kitab suci)  malah akan membuat hari pembalasan menjadi semakin nyata.. 

Tuhan adalah pelindung yg adil,  tak pernah ada cerita ketidakadilan Tuhan atas ciptaanNya.. Dan amoralitas adalah keadaan tanpa Tuhan,  juga memberikan celah ruang untuk “waktu-kala” membereskan mereka,  cepat lambat lama atau selamanya.. 

Bhgwadgita mnyebutkan ttg keadilanNya sbagai bhakta,  Injil menyatakan ttg berita baik agar kuat akan ujian2Nya,  quran mnyatakan hari pembalasan akan tiba.. Tuhan itu mgkin diangga tiada,  dan memang tak ada,  namun ada pada mereka yg pantas terlindungi,  ketika suatu gerakan kala yg menyiarkan menyuarakan hari pembalasan.. 

Gwar sept 2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 September 2017 in filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: