RSS

Arsip Kategori: Tak Berkategori

Matsarya juga Lobha dalam Sloka (Seri Sad Ripu)

Om swastyastu.

Awighnam astu namo sidham

Ksama sampurna ya namo nama swaha..

Kembali membahas tentang Susila dalam sloka, maka sad ripu adalah pengetahuan tentang kesusilaan itu sendiri. Sebagai enam hal yg hendaknya dikendalikan agar mampu meningkatkan kualitas diri sebagai insan Hindu yg menjunjung dharma sebagai pandangan hidup.

Saat ini mari membahas tentang Matsarya juga Lobha dalam beberapa sloka yg terdapat pada kitab-kitab yang beraroma KeHinduan itu sendiri. Maka sad ripu sendiri terdiri dari enam sifati yg hendaknya bisa dikekang agar itu mampu bernilai positif bukan sebagai musuh.

Pada dasarnya enam musuh itu adalah moha, mada, matsarya, Lobha, kama, krodha. Yaitu bingung, mabuk, iri, serakah, hawa nafsu, dan kemarahan. Ada beberapa sloka dri teks-teks suci weda yaitu sarasamuscya dan juga bhagawadgita sbagai weda dlam konsep bagian itihasa. Yaitu epos yg dikatakan sbagai awal pertama untuk mempelajari memahami weda itu sendiri.

Untuk saat ini, mari membahas tentang Matsarya, yaitu sifat keirihatian seseorang terhadap yg lainnya, yang sehingga membuat orang itu menjadi membenci dan sampai juga memfitnah (raja pisuna) sehingga membuat dirinya jatuh ke dalam kesakitan hati, duka lara rogha dan kualitas dirinya menurun menuju keadharmaan

Hal ini dapat kita simak pada sloka sarasamsucya yg digubah oleh bhagawan Wararuci yg menjelaskan tentang kesusilaan yg berasal dari Epos Mahabrata..

* Matsarya*

Matsarya disebut juga iri hati. Manusia yang memiliki sifat seperti ini, dalam Sarasamuscaya adalah manusia yang tidak mengalami kebahagiaan abadi dan menimbulkan hanya kesengsaraan dalam kehidupannya. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 88

Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham.

Hana ta mangke kramanya, engin ring drbyaning len, madengki ing suhkanya, ikang wwang mangkana, yatika pisaningun, temwang sukha mangke, ring paraloka tuwi, matangnyan aryakena ika, sang mahyun langgeng anemwang sukha.

Artinya : Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh dengki iri hati akan kebahagiannya; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

Jadi iri hati hanya menghasilkan ketidaktenangan dalam hidup. Yang harus manusia lakukan agar terhindar dari iri hati dapat dilihat pada sloka berikut.

Sarasamuscaya 89

Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat

Nyanyeki kadeyakenaning wwang ikag buddhi masih ring sawaprani, yatika pagehankena, haywa ta humayamakam ikang wastu tan hana, wastu tan yukti kuneng, haywa ika inangenangen.

Artinya : Nah inilah yang hendaknya orang perbuat, perasaan hati cinta kasih kepada segala mahluk hendaklah tetap dikuatkan, janganlah menaruh dengki iri hati, janganlah menginginkan dan jangan merindukan sesuatu yang tidak ada, ataupun sesuatu yang tidak halal; janganlah hal itu dipikir-pikirkan.

Kesengsaraan juga menjadi akibat yang ditimbulkan iri hati kepada sesama. Hal tersebut ada pada sloka berikut :

Sarasamuscaya 91

Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah

Ikang wwang irsya ri padanya janma tumon masnya, rupanya, wiryanya, kasujanmanya, sukhanya kasubhaganya, kalemanya, ya ta amuhara irsya iriya, ikang wwang mangkana kramanya, yatika prasiddhaning sanngsara ngaranya, karaket laranya tan patamban.

Artinya : Orang yang irihati kepada sesanya manusia, jika melihat emasnya, wajahnya, kelahirannya yang utama, kesenangannya, keberuntungannya dan keadaannya yang terpuji; jika hal itu menyebabkan timbulnya iri hati pada dirinya; maka orang demikian keadaannya itulah sungguh-sungguh sengsara namanya, terlekati kedukaan hatinya yang tak terobati

Jadi jika ingin di dunia berbahagia, maka manusia hendaknyalah menghindari sifat iri hati ini. Karena iri hati hanya akan menimbulkan kesengsaraan semata bagi siapa-siapa yang terjangkiti olehnya.

Kemudian bisa dijelaskan tentang matsarya melalui sloka bhagawadgita yang merupakan intisari dari epos Mahabrata.

Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”.

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan.

Maka iri hati sangat menjadi hal yg membuat seseorang itu tidak bisa maju dalam kehidupannya. Lebih sibuk melihat orang lain, kemudian lupa atas apa yg telah ia miliki dan dapatkan.

Demikian yang bisa disimak dari beberapa sloka dari bhagawadgita atau pun sarasamuscaya mengenai matsarya ripu.

Kemudian selanjutnya adalah tentang lobha atau keserakahan. Maka ini merupakan jurang manusia menuju pada keadharmaan dimana ia bisa lupa dalam kebersyukuran, serta bisa menuju pada prilaku adharma, seprti penggelapan, pencurian, atau perampokan (asteya), dan juga melakukan penipuan. Dimana ini menjauh dari sifati kedharmaan itu sendiri.

*Lobha*

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

Artinya : Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

Ini disebutkan orang yang terlalu rakus dan loba akan kepemilikan orang lain, maka ia akan kehilangan kemuliannya dimulai dari kehilangan kearifannya, karena ia sudah berlaku buruk. Jadi rugi akan segala yang telah ia punya akibat kelobaannya itu.

Apalagi jika rakus sampai menyerobot kekayaan orang lain. Kemiskinan dan hasil buruk di kehidupan yang akan datang akan jadi balasannya. Seperti tercantum dalam:

Sarasamuscaya 360

Musnam daridratyabhihanyate ghnan pujyunamasampujya bhavatyapujyah, yat karmavijam vapate manusyah tasyanurupani phalani bhumkte.

Ikang akelit ring paradrwya nguni ring purwajanma, daridra janma nika ring dlaha, ikang amati nguni pinatyan ika dlaha, sangksepanya, salwining karma wija inipuk nguni, ya ika kabhukti phalanya dlaha.

Artinya : Yang menyerobot kepunyaan orang lain waktu hidupnya dulu, dilahirkan menjadi orang miskin di kemudian hari ; yang membunuh pada waktu hidupnya dulu akan dibunuh dalam hidupnya kemudian; singkatnya, semua benih perbuatan yang ditabur dan dibiakkan dulu, buahnya itulah yang dinikmati kemudian.

Hal tersebut adalah hukum kamarphala. Maka dihindarilah sebaiknya loba atau rakus akan hak milik orang lain yang mengakibatkan buah hasil perbuatan menjadi buruk di kemudian hari.

Loba dalam sarasamuscaya disebutkan juga sebagai penyebab dari kebodohan. Kebodohan yang juga akan membawa manusia ke jurang kesengsaraan tanpa batas dan tiada bisa mengartikan dan membedakan antara baik dan buruk itu sendiri. Slokanya adalah :

Sarasamuscaya 400

Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca

Apan ikang sukhadukha kabhukti, punggung sankanika, ikang punggung, kalobhan sangkanika, ikang kalobhan, punggung sangkanika, matangyan punggung sangkaning sangsara

Artinya : Sebab suka duka yang dialami, pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba, sedang loka (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karena itu kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu.

Maka begitulah Lobha Ripu ketika disimak dalam sloka-sloka Sarasamuscaya. Kemudian juga dalam bhagawadgita disebutkan beberapa sloka tentang kelobhaan yaitu :

*Bhagawadgita 16-13,14,15*

idam adya mayā labdham
imaḿ prāpsye manoratham
idam astīdam api me
bhaviṣyati punar dhanam

asau mayā hataḥ śatrur

haniṣye cāparān api
īśvaro ‘ham ahaḿ bhogī
siddho ‘haḿ balavān sukhī

āḍhyo ‘bhijanavān asmi

ko ‘nyo ‘sti sadṛśo mayā
yakṣye dāsyāmi modiṣya
Ity ajñāna-vimohitāḥ

Artinya :
Orang jahat berpikir: Sekian banyak kekayaan kumiliki hari ini, dan aku akan memperoleh kekayaan lebih banyak lagi menurut rencanaku. Sekian banyak kumiliki sekarang, dan jumlah itu bertambah semakin banyak pada masa yang akan datang.

Dia musuhku, dan dia sudah kubunuh, dan musuh-musuhku yang lain juga akan terbunuh. Akulah penguasa segala sesuatu. Akulah yang menikmati. Aku sempurna, perkasa dan bahagia. Aku manusia yang paling kaya, diiringi oleh keluarga yang bersifat bangsawan.

Tiada seorang pun yang seperkasa dan sebahagia diriku. Aku akan melakukan korban suci, dan memberi sumbangan, dan dengan demikian aku akan menikmati.” Dengan cara seperti inilah, mereka dikhayalkan oleh kebodohan.

Maka mereka yg lobha akan selalu dibarengi sbuah kata kebodohan yg rajas tamas, gelap dan lekat dengan keadharmaan. Pada akhirnya tiada sempat ia menuju sebuah peningkatan diri dalam sisi kerohanian, juga spiritualitas, atau menjadi seseorang yg berbudi pekerti. Sebuah kesia-siaan dalam hidupnya..

Begitulah beberapa sloka yg berhubungan dengan sad ripu Matsarya dan Lobha. Semoga bisa disimak dan dijadikan pedoman, atau mungkin dipahami sbagai pengetahuan yang diberikan kepada siapa saja ke depannya.

Om shanti shanti shanti om

Rahayu shanti raharja

Salam

Guswar.

 
 

Moha dan Mada, Kebingungan Kemabukan (Sad Ripu) dalam Sloka..

Om swastyastu,

Om awighnam astu namo sidham..Om Puja bhatara dharma ya nama swaha, winasaya sarwa papa rogha klesa..Sarwa prani hitankarah..Om..

Dalam kehidupan yang lahir sbagai manusia ini, tentu begitu banyak berbagai permasalahan yg ada. Di mana itu dapat dianggap masuk dalam konsep karmapala yang agung..Yaitu Sancita Pradbada Kryamana Karmapala..Maka tentulah dikatakan dharma adalah sbagai sebuah kebenaran yg dapat melebur karma buruk agar kuat terjalani, serta mencipta karma baik di kehidupan mendatang..Maka gegodaan yg hadir bisa disebut dgn sad ripu yaitu yg terdiri dari kama, krodha, lobha, matsarya, moha, dan mada..

Berturut2 itu adalah hawa nafsu, kemarahan, keserakahan, iri hati, kebingungan, kemabukan..Semua hendaknya dikekang agar kelak mendapatkan pahala baik, juga kebersadaran yg akhrinya mengubah persepsi pandangan diri, mnuju pada kesadaran Atman..Membuat pribadi yg lebih baik jga berguna bagi kemanusiaan, kehidupan, lingkungan..

Saat ini, izinkan untuk membahas tentang Moha dan Mada, yaitu ripu atau musuh yg dapat diartikan sebagai Kebingungan dan juga Kemabukan.. Moha pada dasarnya hadir dalam sebuah kekalutan atau pikiran yg tidak mampu menilai sbuah kebenaran dari suatu permasalahan yg ada.. Dimana kebersadaran atas sesuatu yg dianggap sebagai hal yg benar itu, yaitu kondisi kedharmaan..Tidak mampu dipahami sbagai sesuatu yg mutlak adanya dan menuju kebaikan kebajikan jga kebijaksanaan..

Kemudian ada jga tentang Mada yaitu kemabukan..Dimana ini adalah suatu keinginan yg berlebih atas sesuatu hal, shingga tiada mampu mengontrolnya dan bahkan menjdi sbuah permasalahan atas diri juga orang lain, bahkan lingkungan. Dimana membuat orang itu (yg berMada) jauh dari konsep kedharmaan itu sendiri.. Membuat masuknya diri kepada kemelekatan atas sesuatu yang terlalu diinginkannya itu..

Untuk Moha Ripu, ada beberapa penjelasan yg terdapat pada sloka Sarasamuscaya..Maka Sloka itu adalah sebagai berikut :

Sarasamuscaya 81

Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca.

Nihan ta kramaningkang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangenangenya, dadi prathana, dadi sangsaya, pinakawaknya, hana pwa wwang’ikang wenang humrt manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh.

Arti : Keadaan pikiran itu demikianlah; tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakan, terkadang berkeinginan, terkadang penuh kesangsian; demikianlah kenyataannya; jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu beroleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia yang lain.

Jadi kebingungan dan keinginan berlebih akan hilang. Yaitu dengan mengendalikan pikiran sedemikian rupa sehingga nantinya akan tercapai kebahagiaan di dunia mana pun. Seperti juga dijelaskan bahwa manusia yang tidak goyah hatinya akan memperoleh amerta sebagai kemuliaan. Hal tersebut tercantum dalam sloka berikut :

Sarasamuscaya 128

Amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe prastititam, mrtyurapadyate mohat satyenapaddyate’mrtam

Tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring carira kahananya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kastyan, mapageh ring dharma, katemung amrta.

Arti : Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta; di sinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya jika orang itu bodoh atau senang kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang pada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar pada dharma, maka amrtalah diperolehnya..

Pada bhagawadgita disbtukan sebagai berikut :

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Untuk Mada yaitu kemabukan atas sesuatu itu, bisa menyebabkan ketergantungan yg membuat org itu lupa atas apa yg seharusnya dilakukan dalam kehidupan ini..Melupakan kewajiban dan selalu menuntut hak, atau jga meninggalkan swadarmanya sendiri demi kesenangan yg memabukkan..

Sarasamuscaya 325

Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktikam ca, vicitaragam bahumayinam na ca naitan niseveta naradhaman sat.

Nihan lwirning tan sangsargan, wwang mangulahaken pisakit, parapida duracara, wwang gong pramada, wwang mithyawada, wwang tan apangeh kabhatinya, wwang gong raga, wwang sakta ring madya, nahan tang nem kanistanin wwang, tan yogya siwin.

Arti :Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang sangat alpa, orang yang kata-katanya bohong dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan

Moha juga Mada bisa disebabkan oleh timira2 atau kegelapan2 yg berjumlah tujuh itu..Disebut Sapta timira, Dhana,Guna, Surupa, Kulina, Sura, Kasuran, Yowana..Maka berturut2 Kebingungan dan juga kemabukan bisa disebabkan secara berturut2 oleh Uang, Kepintaran, Rupa, Keturunan, Miras, Keberanian, Dan Usia muda….

Seseorang yg inginnya hanya uang dan melepaskan moralitasnya sbagai manusia atas itu, akan moha jga mada selalu dalam hidupnya..Begitu jga ktika guna kepintaran yg tanpa moral akan mnjdi suatu keguncangan besar pada kehidupan masyarakat yg harusnya aman dan damai..

Seseorang yg merasa rupa parasnya cantik tampan akan menggunakan itu untuknhal yg kurang baik dan merendahkan yg lainnya..Kemudian ada yg lupa bingung serta jumawa atas keturunannya, akan membuat Ia terjebak pada prestise yg semu, harga diri yg terkadang berbeda dari harapan yg seharusnya..Begitu juga yowana timira dimana selalu merasa muda dan tidak mengalami perkembangan akan kedewasaan, juga evolusi jiwa menuju manusia yg bertanggung jawab ..

Lalu ada yg bingung dan mabuk atas keberanian seseorang..bahkan karena keberanian itu membuat ia kehilangan nyawanya dan jga bisa menghilangkan nyawa org lain pada kesesatan ketidakbenaran..

Semua seperti menuju pada kehancuran akan diri..Semoga tulisan ini bermakna..

Sekedar teori saja yg mngkin ada sedikit ruang untuk menciptakan kebersadaran diri..Untuk menuju suatu evolusi dalam kedharmaan..

Om Rahayu Shanti Raharja..

SalamGwr..

Mei 2019

 
 

Jenis moksah dalam kerangka Hindu pada empat jaman yg ada..

Om jagathanatakam maha sidhi widhi ya nama stute.. Om hyang narayana shivanti buddhanti brahma ya prajapatyam pujamkha..om nawa sangha pradnya paramita pujam ..om

Disebutkan bahwa dalam keyakinan agama hindu, terdapat empat jaman yg berbeda, yang juga berisikan pemaknaan atau ciri-ciri spesifik atas jaman tersebut..Jaman satya yuga yaitu jaman keemasan dimana kebahagiaan adalah yg terlihat dalam kesehariaanNya dan tidak ada musuh sama sekali..Kemudian jaman traita yuga yang merupakan jaman dimana jnana berkembang pesat dan musuh berada di dalam diri, kemudian ada jaman dwapara yang berarti bahwa yadnya adalah yang utama, kemudian jaman kali yuga, dimana kaki dari sang dharma hanya ada satu yaitu kaki satya, kesetiaan yang terus dibombardir oleh sang kali..

Disebutkan pula ada tujuan akhir dari kehinduan itu sendiri, dalam hal ini mencapai kemoksaan..Kemoksaan sendiri dibagi menjadi empat bagian yaitu salokya, samipya, sarupya, sayujya.. Secara kebersadaran bahwa jaman2 yg ada itu adalah sesuai kesadaran manusia belaka, agar senantiasa ia bisa menaikkan tingkatan dirinya untuk mencapai keadaan yg satya yugya..dalam hal ini adalah bisa terjadi dalam suatu lingkungan, bahwa di tempat itu secara holistik menyeluruh dan sporadis, merupakan tempat terjadinya jaman2 itu..Jaman kali akan banyak terdapat di wilayah yg memang kental akan kejahatan, jaman traita akan terjadi pada tempat dimana jnana mnjdi hal penting, termasuk juga selanjutnya jaman yg lainnya..Namun secara makna krseluruhan berdasar tri guna, manusia mengimani bahwa ini adalah jaman kali, karena hal itu lah yg banyak bahkan membuat seseorang menyerah pada Kali..

Kembali lagi pada konsep moksah, maka salokya adalah moksah dimana seseorang telah dalam kesadaran bebas dari kematian dan kelahiran, artinya ia berada pada titik dimana ia tidak melekat lgi pada alam material atau pun dalam keadaan nanti bagaiamana ia mati, ia hanya berkesadaran bahwa ia hidup dalam takdirNya sbagai abdiNya dan cuma numpang “minum” di tempat loka ini, maka ia sudah dalam keadaan SALOKya moksah..

Kemudian ada kesadaran moksah atas nama samipya moksah yaitu tinggal satu planet dengan Tuhan yang maha esa atau manifestasiNya, dalam hal ini IA adalah yg berbhakti juga bersatya padaNya dan mendapatkan kelak loka2 dngan sesiapa manifestasiNya itu, seperti menuju Maha Jana Tapa Loka, maha loka bersama Hyang yaksa rajaksa, jana bersama maha brahma atau tapa loka bersama wisnu atau di alam satya bersama shiva dan bisa menuju indera loka, brahma loka, wisnu loka, shiva loka, surya loka, dan sebagainya..Hal ini juga menunjukkan kesadaranNya atas sesiapa manifestasiNya itu, karena dalam kematian alam pikiran akan membawa IA kemana tempat ia tuju..dalam kesadaran di alam materi, maka IA bisa jadi akan bersama sarupya rupyam hring lokanatha, dan itu bisa bersama sesiapa yg sudah “diksitah ning sarupyam pujamkha”

Kemudian lalu masuk pada sarupyam moksah maka IA merupa sbagai tuhan atau dewata sbagai manifestasinya, dalam hal ini IA berkesadaran sbagai awitram yg numadi atas kehendakNya juga sbagai bhatara dimana IA bermanifest atas kesadaran Tuhan yang maha esa di loka2 ini..Ini adalah sebuah kebersadaran yg didapat melalui hal rahasia yg dimana berdefinisi bahwa IA lah menjadi hyang tri purusha, panca rshi, sapta rshi, dewarshi, dewata, nawa sangha (agastya parwa-jnanatattwa)atau yg lainnya..dalam hal ini ia bisa mengetahui atas laku catur aiswarya dalam wrspatti tattwa yaitu dharma, jnana, vairaghya, Aiswarya budhi, yg nanti Ia akan menemukan bahwa IA adalah itu jua di loka ini..

Kemudian ada kesadaran sayujya adalah persatuan dgn Ida hyang widhi wasa, kebertuhanan yg maha esa dimana IA kmudian bersatu atas padaNYA, berada di dalamNya, dan IA mndapatkan kebahagian tertinggi mnjdi satu dgn tuhan itu sendiri..Moksartham ya natakham ya dharmika sayujya namastute…om

Om ksama sampurna ya namo nama swaha om

Guswar feb 2

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Februari 2018 in Tak Berkategori

 

Bhatara Dharma Japa untuk Belajar dan Dilindungi Kebenaran

Om hyang namo nama dharma bhatara pujamkha, pradnya paramita sunya laksana ya namastute, yaksanatakha rajha om


Dewa bhatara dharma adalah dewa yg memberikan ruang kebenaran kepada setiap mahluknya, dewa yg mengajarkan tentang kebenaran juga keadilan dan dapat dikatakan sebagai yg menguji iman manusia sejauh mana ia telah menapaki keyakinannya..

Dalam kisah itihasa mahabrata, maka dewa dharma beberapa kali muncul kehadapan yudistira anaknya sebagaimana IA muncul sbgai Yaksa raja dan juga sbagai anjing hitam..Kenapa harus anjing, karena anjing melambangkan kesetiaan tanpa batas atas tuannya, yaitu kebenaran itu sendiri..

Dharma adalah sebuah kebenaran yg mutlak, disebut juga bhatara dharma adalah dewa keadilan yg hadir di kehidupan ini, (sedikit berbeda dgn yama yg sebagai pencabut nyawa) bisa jadi bhatara dharma yg akan juga mengadili seseirang setelah Ia mati (dicabut oleh yamapati) dan ktika itu sebuah kebenaran, maka mirip dengan konsep sang Suratma yg mempertanyakan asas kebenaran dan kebatilan yg dilakukan oleh manusia tersebut dan mengadilinya.. 

Di konsep dewa lainnya,ada yg bernama dewa Anubis mesir yg menjaga alam kematian, dewa ini berkepala anjing dan disangkutpautkan oleh dua dacin (timbangan) untuk mengadili manusia yg telah meninggal di masa hidupnya..Ketika dilihat bentuk kepalaNya, maka adalah anjing juga..Dalam hal ini bisa dikatakan ada arketipe yg sama dri hal tersebut untuk tentang kebenaran itu sendiri..

Bhatara dharma dapat dijapakan agar mereka yg dalam suatu pembelajaran bisa fokus atas apa yg dipelajari, ini yg bisa membuat mereka juga lebih mudah dalam memahami pembelajaran mereka itu..Dan ktika dalam ujian, mereka bisa lebih berani dalam melaksanakannya, hati menjdi lebih tenang krna mampu menegakkan bhatara dharma di dalam hatinya untuk menjadi tuntunan..Japamnya adalah 

“Om ya bhatara dharma pradnya widyastute ya namo namaha om”

Semoga ada maknanya..

Guswar 2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

THE BIG BANG THEORY

Sebelum segalanya ada dan tercipta, tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah “sesuatu”. Sesuatu itu adalah bentuk energi kebiruan yang sangat dalam, serta memiliki kesadaran. Dalam dunia spiritual, Energi dengan kesadaran disebut sebagai JIWA. Jiwa ini tak berbentuk, tidak berbau, tanpa jenis kelamin, abadi, dan tak terbatas. Inilah yang disebut dalam Spiritualisme Hindu sebagai ” BHAGAWAN”.

Jiwa ini kemudian berkembang dengan sendirinya, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi semesta. Jika dilihat sebagai laki – laki / Ayah Semesta (Purusha) jiwa yang berwarna kebiruan ini kemudian disebut sebagai “MULA DATTA”. Sedangkan Jika dilihat sebagai perempuan / Ibu Semesta, jiwa ini disebut sebagai “ADI PARA SHAKTI”, atau, “Energi pertama dan Utama yang ada.”

MULA DATTA (mula adalah awal, DATTA adalah pemberi/ donor) kemudian terbelah menjadi dua. Paruh pertama adalah bentuk energi yang sangat stabil. Ini kemudian disebut sebagai “Sthanu Shakthi”. Bentuk energi yang sangat tenang dan stabil ini tiada lain adalah Siwa. Jika “Shava” atau sawa berarti, sesuatu yang tidak bisa bergerak (mayat). Sedangkan “Shiva” berarti sesuatu yang tidak pernah bisa dipindahkan (tetap) – “Energi Stabil”. Separuh energi yang kedua disebut “Renu Shakthi”. Energi Ini terus bergetar, terus bergerak dan bersifat sangat “Radio aktif”. Bentuk energi yang terus bergerak ini tiada lain adalah Wisnu. “Vish” atau “Vishw” berarti ada pada semua & dan ada dimana-mana. “Wisnu” berarti energi yang ada dalam segala hal dan ada dimana – mana.

Dengan demikian

energi yang stabil, dan energi yang sangat tidak stabil selalu mengalami gesekan. Pada suatu titik kedua Energi akan kembali Mula Datta, kemudian mengalami siklus pembelahan kembali ke dua bentuk energi yang berbeda, dan kemudian akan bersatu kembali. Saat itulah “Wisnu”, energi yang mengalir ke mana-mana dan dimana mana mulai memikirkan tentang ciptaan. Pergerakan energi ini berbentuk cairan dan disebut sebagai “Brahma”. Seorang anak mendapatkan kehidupan dari ibunya, melalui tali yang menghubungkan pusar ke ibunya. Dan teratai, adalah simbolisme kesadaran. Brahma sering digambarkan duduk di atas teratai bermunculan dari pusaran perut Vishnu.

Saat energi stabil dan tidak stabil menemukan keseimbangan atau dengan kata lain saat “Sthanu Shakthi”, dan “Renu Shakthi” mengalami keseimbangan, dan karena Renu shakti atau Bisnis adalah bentuk energi yang selalu bergerak dan ada dimana mana maka dengan demikian, Wisnu akan memiliki “Avatara” menduplikasi energinya , sementara Siwa tidak, Siwa tetap menjadi bentuk energi yang stabil. Wisnu tidak bisa, bertahan dalam satu bentuk / posisi untuk waktu yang lama. Karena dasar dari Renu Shakti bahwa energi ini akan terus bergerak dan berubah.

Dalam bahasa Sansekerta hal terkecil atau atom disebut sebagai Anu. Setiap benda dan makhluk hidup dan keseluruhan ciptaan memiliki Anu atau atom. Dan dalam Anu atau Atom terdapat 3 unsur pembentuk Atom yang disebut sebagai “paramanus”
1. Energi yang stabil (proton) yang berada di tengah inti Anu / Atom. Ini mengapa Siwa dalam konsep Nawa Sanga berada di tengah. Karena Proton ada dalam Inti Atom.
2. Energi yang tidak stabil (elektron) atau Renu Shakti.
3. Dan energi yang netral (neutron). Selain itu, ada (330 juta) bentuk energi, yang mewujud pada ketiga bentuk energi ini agar tetap stabil. Kumpulan wujud wujud bentuk energi ini kemudian menjadi “Maha Anu” dan kemudian dalam Hindu disebut sebagai Dewa / Dewi. Hal inilah yang menjadi konsep dan cara membedakan mengapa “Bhagawan” berbeda dengan “Dewa”.

Brahma, energi yang netral, akan melebur sekali dalam 100 tahun. Saat itulah kedua energi utama yakni Stanu dan Renu Shakti akan ini kehilangan keseimbangan, dan bersatu kembali menjadi Mula Datta. Dalam Veda disampaikan, ini adalah Brahma pertama yang pernah ada. Dan ia telah melewati 50 tahun pertamanya. Di Saat ini, merupakan hari 1 di pagi hari di tahun ke 51 … dan ada banyak waktu kuantum seperti Kalpa, manvantara, Yuga dan lain-lain. Kita berada di Kaliyuga dalam siklus yuga ke 28 dari “Manvantra ini. Meskipun, setiap kali Yuga berubah, terjadi gangguan kecil di antara energi yang terjadi, dan ada kerusakan ringan dalam proses penciptaan.

Bahkan dalam kutipan Sloka lontar Purusha Suktha beberapa baris berbunyi
“Athyadhishta dasaangulam. Purusha ye vedaguma Yath Bhootham Yath Bhavyam..”.
“Dia ada dimana-mana, dan Dia bisa sekecil sepuluh ANGULA, yaitu renu shakthi ini , dia ada di mana-mana, dan hadir bahkan di tingkat atom! Ia adalah Vishnu .

Dalam kutipan Shri Rudra Namakam tertuliskan :
“Namoooo Jyeshtacha Kanishtayacha” …”
Sthanushekthi ini adalah energi terbesar bahkan pada tingkat yang begitu kecil (atomik).”
Hal yang pasti tentang hal ini adalah tentang shiva. Kita tidak bisa memindahkan energi ini, jika kita mencoba melakukannya, hanya akan ada kehancuran saja.
“Mrutyave Swaha Mrutyavee SwahaaAA”
Tidak diragukan lagi bahwa hanya Dialah yang mengakhiri penciptaan, apakah itu satu kehidupan, ataukah seluruh alam semesta, energi stabil ini sendiri berhak mengambil apa yang telah diberikan (yaitu hidup)! Pada akhirnya, energi inilah yang akan menghancurkan ” Brahma” dan mengakhiri penciptaan, untuk semesta yang baru, untuk kehidupan yang lebih baik….

Referensi :

1. Speaking Trees ; Sarwagna Kumar

2. http://www.mediacenterimac.com/the-big-bang-genesis-of-lord-shiva-3/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

MENGAPA PELINGGIH SEBAGAI STANA PARAMASIWA PADA PADMA TIGA BERWARNA HITAM?

Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Paramasiwa.
Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988.
Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Paramasiwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan, keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Paramasiwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan.
Sementara busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Yang Maha Kuasa ParamaSiwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.
Siwa adalah dewata bagian dari Trimurti, yang bertanggung jawab terhadap penyerapan alam semesta. Beliau merupakan perwujudan dari sifat tamas, kelembaman sentrifugal. Kecenderungan menuju pelenyapan atau peleburan. Arti sebenarnya dari siwa adalah pada siapa alam semesta ini tertidur setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dilenyapkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar, prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Siwa jauh lebih banyak dari pada itu, keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, substratum dari segala keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang nampak tanpa batas ini, Kata “Siwa” secara harfiah dapat pula diartikan sebagai “Sesuatu yang tidak.” Dewasa ini, sains modern membuktikan kepada kita bahwa segala sesuatu berasal dari kekosongan atau tidak ada apa-apa dan kembali kekosongan .
Dasar keberadaan atau eksistensi Semesta dan Kualitas dasar makrokosmos sangatlah luas. Galaksi Bima Sakti yang kita tempati hanyalah bagaikan butiran debu diantara jutaan taburan galaksi dan bintang, Sisanya adalah semua ruang kosong yang luas, yang disebut sebagai ParamaSiwa. Itulah rahim dari mana semuanya, itulah tempat dimana Semesta lahir, dan itu adalah tempat terakhir dimana semuanya tersedot kembali. Tempat dimana semua akan melebur kembali
Semuanya berasal dari ParamaSiwa dan kembali ke ParamaSiwa.

Jadi

ParamaSiwa bukan digambarkan sebagai makhluk, bukan sebagai individu. ParamaSiwa tidak digambarkan sebagai cahaya, tapi sebagai Kekosongan / Kegelapan Total. Manusia yang lahir kedunia, Atma yang telah diseliputi Maya, telah membawa kodrat kelahiran dengan mata sebagai alat untuk melihat . Tanpa cahaya mata biasa tak dapat melihat. Cahaya bisa saja ada , bisa saja tidak. Yang selalu ada dan tetap ada adalah kegelapan. Gelap telah ada sebelum cahaya Ada. Ini berarti bahwa setiap sumber cahaya apakah itu lilin, bola lampu bahkan matahari, pada saatnya nanti, pada akhirnya akan kehilangan kemampuannya untuk memberikan cahaya. Cahaya itu tidaklah abadi, Cahaya lahir dan pada saatnya nanti akan berakhir. Kegelapan adalah kondisi yang jauh lebih besar daripada cahaya. Cahaya ada dalam selimut kegelapan . Cahaya ada karena ada dalam dekapan kegelapan. Kegelapan ada dimana-mana, karena Kegelapan total adalah kekosongan Mutlak dimana semesta akan kembali, dan dari kegelapan Semesta kan lahir kembali .
Kegelapan disini bukanlah kegelapan dalam arti konotasi yang kurang baik , jika kita mengatakan “kegelapan ilahi,” bukan berarti kita adalah pemuja setan atau

sesuatu

. Namun kegelapan disini adalah sebuah konsep, filsafat dan Tatwa, dan tiada konsep yang lebih cerdas di planet ini tentang keseluruhan proses penciptaan dan bagaimana hal itu terjadi, dan konsep ini telah dimiliki Hindu ribuan tahun….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
Galeri

PARA KETURUNAN DHAKSA (1)

SERI PURANA
Brahma Purana (Bagian 6)
KETURUNAN DHAKSA

Istri Daksha bernama Asikli, Asikli melahirkan lima ribu anak laki-laki. Mereka dikenal sebagai Haryashvas. Haryashvas ditakdirkan untuk menguasai dunia. Tapi Rsi Agung Narada menemui Haryashvas dan berkata, “Bagaimana kalian bisa memerintah dunia jika kalian bahkan tidak tahu seperti apa Dunia itu? Apakah kalian terbiasa dengan geografi dan batas-batasnya? Pertama cari tahu tentang hal-hal ini, sebelum kalian merenungkan keputusan atas dunia. “
Haryashvas pergi menjelajahi dunia dan tidak pernah kembali.
Daksha dan Asikli kemudian memiliki seribu anak laki-laki lain yang diberi nama Shavalashvas. Narada
Menceritakan kepada mereka apa yang dia katakan pada Haryashvas dan Shavalashvas juga pergi untuk menjelajah dunia dan tidak pernah kembali pula.
Daksha dan Asikli merasa tertekan bahwa anak-anak mereka harus menghilang dengan cara seperti ini. Daksha menyalahkan Narada atas dorongan tersebut dan berencana untuk membunuhnya. Tapi Brahma ikut campur dan membujuk Daksha untuk mengendalikan kemarahannya. Dakshapun setuju untuk melakukannya, asalkan syarat yang diajukannya terpenuhi. “Brahma harus menikahi putriku Priya,” katanya. “Dan Narada harus dilahirkan sebagai
Putra Priya. “
Syarat yang diajukan Dhaksapun ini diterima. Sebenarnya, Daksha dan Asikli memiliki enam puluh anak perempuan. (Dalam sumber selain
Brahma Purana menyebutkan lima puluh anak perempuan.) Sepuluh dari anak-anak perempuan ini menikah dengan Dewa Dharma dan tiga belas lainnya diperistri oleh Resi Kashyapa. Dua puluh tujuh anak perempuan menikah dengan Soma atau Dewa
Chandra. Anak perempuan yang tersisa menikah dengan beberapa Resi Arishtanemi, Vahuputra, Angirasa Dan Krishashva. Sepuluh anak perempuan yang menikah dengan dewa Dharma bernama Arundhati, Vasu, Yami, Lamba, Bhanu, Marutvati, Sankalpa, Muhurta. Sadhya dan Vishva.

Anak-anak Arundhati adalah benda (vishaya) dunia. Anak-anak Vasu adalah delapan dewa yang dikenal sebagai AsthaVasu Nama mereka adalah Apa, Dhruva, Soma, Dhara, Salila, Anala, Pratyusha dan Prabhasa. Putra Anala adalah Kumara. Karena Kumara dibesarkan oleh dewi yang dikenal sebagai Krittika, dia akan menjadi Disebut Kartikeya.

Putra Prabhasa adalah Vishvakarma. Vishvakarma ahli dalam bidang arsitektur dan pembuatan perhiasan. Ia menjadi arsitek para dewa. Anak-anak Sadhya adalah dewa-dewa yang dikenal sebagai Sadhyadevas dan anak-anak Vishva adalah dewa-dewa Dikenal sebagai Vishvadervas. Duapuluh tujuh anak perempuan Daksha yang menikahi Soma atau Dewa Bulan dikenal sebagai nakshatras (bintang). Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Maharesi Kashyapa menikahi tiga belas anak perempuan Daksha. Nama mereka adalah Aditi, Diti, Danu, Arishta, Surasa, Khasa, Surabhi, Vinata. Tamra, Krodhavasha, Ila, Kadru dan Muni.

Anak-anak Aditi adalah dua belas dewa yang dikenal sebagai adityas. Nama mereka adalah Indra, Dhata, Panjarnya, Tvastha, Pusha, Aryama, Bhaga, Vivasvana, Wisnu, Amshumana, Varuna dan Mitra. Dalam setiap bulannya, aditya yang berbeda yang akan bersinar. Sebagai Indra, Aditya menghancurkan musuh para dewa. Sebagai Dhata, dia menciptakan makhluk hidup. Sebagai Parjanya, dia menurunkan hujan. Sebagai Tvashta, dia tinggal di pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai Pusha, dia membuat makanan tumbuh. Seperti Aryama, dia tertiup angin. Sebagai Bhaga, dia ada di tubuh semua makhluk hidup. Sebagai Vivasvana, dia terbakar dan membantu memasak makanan. Sebagai Wisnu, dia menghancurkan musuh para dewa. Seperti Amshumana, dia kembali tertiup angin. Sebagai Varuna, aditya ada di perairan dan sebagai Mitra, dia berada di bulan dan di lautan
Anak laki-laki Diti adalah para daityas (setan). Mereka bernama Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, dan di antara keturunan mereka ada beberapa iblis yang sangat kuat antara lain Bali dan Banasura. Diti juga memiliki seorang putri bernama Simhika yang menikah dengan seorang danava (setan) bernama Viprachitti. Mereka keturunan adalah iblis yang mengerikan seperti Vatapi, Namuchi, Ilvala, Maricha dan nivatakavachas

(Bersambung)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2017 in Tak Berkategori

 
 
%d blogger menyukai ini: