Nyepi, Mendalami Keadaan Sunya (Sepi) dengan Menganalisa Sang Timira (Kegelapan) Diri..

Om Hyang Suci Hring Nirmala, Sujud Iriki Sang Jadma Tan Uning ring Jnana lan Sidhi, Sinah Ngastiti Raos Tan Hana Guna, Dumogi Sang Wit Ngemargiang Amrta ning Kanista Jihwatman Riki, Nuju Wijnana Mahnyaning Kosha lan Shanti…

Om Ksama Sampurna Ya Namo Nama Swaha..

(Sloka yang ada berasal dari Bhagawadgita, terbitan Paramita oleh G.Pudja MA.SH

Semoga semua dalam kebahagiaanNya. Hari raya Nyepi telah hadir kembali dalam kesekian waktu kita. Di mana merupakan bagian dari sejarah memperingati Tahun Caka, yang jatuh pada tilem kesanga. Nyepi lekat sekali dengan Brata Penyepian, juga sebagai hari yang disambut dengan keadaan Sunya yaitu kesunyian yang menuju pada pencarian kedamaian diri.

Brata Penyepian juga keadaan Nyepi, merupakan hari yang tepat untuk pembersihan dari makrokosmos keadaan dunia, dan juga pembersihan mikrokosmos, keadaan di dalam diri. Suatu perenungan yang hadir pada malam Sunya itu, memberikan suasana yang sangat tepat untuk mengembalikan kesucian, kebersihan dari jiwa makrokosmos serta mikrokosmos.

Hari yang tidak melakukan suatu apa pun, dapat secara signifikan mampu membawa kembali kebersihan makrokosmos dari segala polusi yang ada. Kebersihan mikrokosmos sebagai suatu perenungan atas apa yang telah terjadi, terlaksanakan. Semoga dengan itu, ada mulat sarira atas diri yang dapat menjadi acuan ke depannya sebagai perkembangan menuju kebaikan Dharma.

Sunya atau sepi yang penuh kesucian dan kesakralan, sebetulnya dekat sekali dengan konsepsi Timira yaitu kegelapan. Kegelapan yang menimbulkan kebingungan dalam diri. Namun pada dasarnya itu dapat menjadi bahasa perenungan atas diri, untuk mencapai suatu Wijnana Kebijaksanaan atas Dharma, ketika itu diperhatikan dan dianalisa dengan baik.

Timira atau kegelapan itu pada dasarnya dapat dibagi menjadi tujuh bagian. Sapta Timira adalah tujuh kegelapan dalam diri yang patut diperhatikan. Maka Nyepi pada sisi lain, dapat memberikan ruang untuk menelusuri sang Timira dalam diri, agar diketahui, dianalisa, kemudian diperbaiki untuk mencapai suatu Ananda Maya Kosha, kesadaran atas Sang Atman. Dengan mengetahui itu, maka kita mengetahui Kegelapan diri dan mencapai pencerahan menuju insan Dharma Raksitah.

Untuk memahami Sapta Timira, maka dapat menyimak beberapa kutipan sloka dari Bhagawadgita (G.Pudja-Paramita), sehingga dengan ini semoga yang gelap menjadi tercerahkan.

1. Guna Timira : Guna Timira adalah kegelapan yang terjadi karena suatu pengetahuan atas sesuatuNya. Di mana mereka yang tergelapkan atas Guna, merasa bahwa tinggi rendahnya seseorang dibatasi oleh ia yang pintar dan ia yang bodoh. Dan juga merasa bahwa diri adalah yang lebih tau dari yang lain, sehingga merasa egonya (ahamkaranya) tidak menerima pendapat dari seseorang yang ia rasa tidak lebih tau dari dirinya. Kemudian ia yang menganggap suatu pengetahuan itu tidak penting adanya, dan malas akan mencari suatu pengetahuan itu. Hal ini menjadikan kegelapan guna menjadi nyata.

Sloka XVI – 1.. Abhayam sattwa-samsuddhir jnana-yoga-vyavasthitih, danam damas ca yajnas ca svadhyayas tapa arjavam. ( Tak gentar, kemurnian hati, bijaksana, mantap dalam mencari pengetahuan dan melakukan yoga, dermawan, menguasai indra, berkurban, dan mempelajari kitab suci, melakukan tapa dan kejujuran.

Maka Ia yang mantap dalam pengetahuan, serta mampu menguasai indra dengan tetap bijaksana serta murni hatinya, sehingga tanpa suatu kesombongan. Dan ia disebut sang bijaksana yang memiliki sifat dewa (Daiwa Sampat). Yang mampu memberikan jalan keluar bagi yang memerlukan serta menjadi panutan dengan tetap menjaga kerendahan hati.

2. Dhana Timira yaitu gelap yang disebabkan karena harta. Menyombongkan diri karena memiliki harta yang berlebih, dan memandang seseorang bukan karena kebaikan hatinya, tetapi melihat dari apa yang ia punyai saja. Tidak menghormati sesama, atau yang memerlukan bantuan. Serta mereka yang hidupnya menghambur-hamburkan uang saja, lobha dan bahkan senang menjadi pencuri atau korupsi serta merampok dengan kekuatannya.

Sloka XVI-12 : Asa-pasa-satair baddhah, kama-krodha-parayanah, ihante kama-bhogartham anyayenartha-sancayan. (Dibelenggu oleh ratusan ikatan harapan, menyerahkan diri kepada nafsu dan kemarahan, mereka berusaha mengumpulkan kekayaan demi kepuasan nafsu dengan jalan yang tidak benar)

Maka mereka yang karena harapan dan keinginan berlebih, dan mengakibatkan kemarahan. Akhirnya mereka mencari kekayaan karena keinginan mereka itu, dengan cara yang tidak baik. Mereka itu tidak mampu mengelola keinginan dan kebutuhan mereka. Sehingga karena itu yang akan membuat mereka terpuruk kelak, mendapatkan karma buruk dari buat keinginan berlebih mereka.

3. Kulina Timira, yaitu gelap diri karena keturunan. Ini terjadi pada mereka yang melihat orang lain karena dari keturunan mereka saja. Tidak melihat apakah orang lain itu dalam lingkup kebaikan dharma atau tidak. Mereka juga membenamkan diri pada kesombongan karena keturunan mereka itu, tanpa menyadari suatu tanggung jawab dan kewajiban yang seharusnya mereka lakukan dalam kehidupan. Ini juga terliputi oleh orang yang senang pulan merendahkan orang lain karena memiliki keturunan tertentu, tanpa melihat bagaimana mereka dalam ruang kebaikan dan kebijaksanaan Dharma.

Sloka XVI – 15 Adhyo bhijanavan asmi ko ‘nyo ‘sti sadrso maya, yaksye dasyami modisya itu ajnana-vimohitah . ( Aku kaya raya dan kelahiran bangsawan, siapakah yang bisa menyamaiku ? Aku mengadakan upacara, aku berderma, aku bergembira, demikian mereka menghayal pada suatu kebodohan.)

Begitulah mereka yang merasa sebagai keturunan yang baik, mampu katanya melaksanakan yadnya besar (namun rajas tamas), pada dasarnya mereka adalah orang yang kurang pandai dan bijak pada kehidupan. Bukan karena suatu keturunan saja seseorang itu mendapatkan cahaya menuju pembebasan. Namun dengan melaksanakan dharma serta melakukan yadnya yang sattwika sebagai daiwa sampat (sifat dewata). Semoga mereka yang telah melakukan dharma diberkati semesta.

4. Surupa Timira adalah suatu kegelapan yang terjadi karena pengaruh penilaian berlebih diri atas rupa wajah saja. Diri yang selalu merias dan merasa bahwa rupa serta tubuh sebagai saja yang perlu dikelola, yang lain tidak. Melihat orang lain hanya dari rupa dan wajah saja, tidak dari sifat baiknya. Dan bahkan semakin jauh, ia rela menggunakan itu untuk mendapatkan sesuatu hal yang tidak pantas didapatkan. Menjadi prilaku yang adharma dan melupai kewajiban diri, swadharma grehasta misalnya. Memupuk karma buruk pada akhirnya.

Sloka XVI – 8 : Asatyam apratistham te jagad ahur anisvaram, aparaspara-sambhutam kim anyat kama-haitukam. (Mereka mengatakan “dunia ini tidak nyata, tanpa dasar, tanpa moral, tanpa Tuhan, yang timbulnya hanya karena hubungan yang disebabkan oleh hawa nafsu birahi, lain tidak”).

Pada dasarnya pandangan ini adalah pandangan nastika, yang merasa bahwa karma itu tidak ada. Dan semua di dunia cuma dibatasi oleh pemuasan hawa nafsu saja. Ini menimbukan karma wasana yang sangat buruk dan mempengaruhi dirinya dan swadarmanya. Mungkin saja masih hidup ia menjalani karma baik yang dahulu. Semua itu masih membuat ia berada pada ruang yang ia kira akan selamat pada akhirnya. Namun karma buruk tetap hadir pada adharma laku. Begitulah surupa timira lekat sekali dengan nafsu-nafsu birahi saja.

5. Kasuran Timira adalah kegelapan yang berasal dari keberanian diri. Ia yang terliputi ini adalah orang yang melihat, menilai diri orang lain dari nyalinya saja. Dari keberaniannya dan ia yang tidak berani atau takut terhadap sesuatu, dianggap sebagai seseorang yang tidak layak dihormati, dihargai. Ini mengakibatkan bahaya dekat dengan dirinya, dan tidak mampu mengetahui batas diri. Resiko suatu cedera atau bahkan suka memprovokasi untuk tujuan yang kurang baik, hadir di sifat orang timira ini. Dan mereka melihat yang lemah harus ditundukkan, dan yang lebih kuat darinya menjadi musuh.

Sloka XVI – 14 Asau maya hatah satrur, hanisye caparan api, isvaro ham aham bhogi siddho ham balavan sukhi. (Musuh ini telah kubunuh dan yang lain akan kubunuh pula, aku adalah penguasa, aku adalah penikmat, aku berhasil, berkuasa dan bahagia.

Dalam sloka ini disebutkan orang yang melibatkan kekuatan di seluruh hidupnya, berkuasa adalah keinginannya dan yang lain layak ditundukkan. Sloka ini hadir sebagai cermin sifat Ashura Sampat, yaitu sifat keraksasaan.

6. Sura Timira adalah kegelapan karena kemabukan kepada minuman (atau makanan). Ini adalah kegelapan karena seseorang itu tidak mampu mengelola keinginan atau nafsunya untuk menyantap, menikmati sesuatu yang memabukkan dan berbahaya ketika dikonsumsi berlebihan. Dapat menimbulkan penyakit serta adiktif menimbulkan ketergantungan. Minuman keras termasuk pada makanan rajas yang ketika berlebihan akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik.

Sloka XVII – 9 Katv-amla-lavanaty-usna tiksna-ruksa vidahinah, ahara rajasyesta duhkha-sokamaya-pradah. (Makanan yang pahit, asam, asin, pedas, banyak rempah, keras, dan hangus, serta menyembabkan kesusahan kesedihan dan penyakit, disukai oleh orang yang bersifat rajas.

Rajas, rajasika adalah salah satu tri guna, yaitu tiga sifat kualitas dari segala hal d iseluruh alam semesta. Maya guna disebut itu, merasuk kepada segala hal dan disebut sebagai prakerti dari Tuhan. Dalam konsep Maya guna (wraspatti tattwa) yaitu sattwika rajasika tamasika, maka sattwika yang berdiri di kebijaksanaan, keseimbangan, akan membawa manusia kepada kebebasan. Rajasika sebaliknya mereka akan menuju neraka loka, kecuali dibarengi dengan sifat sattwika guna, maka dikatakan mereka akan menuju tempat swarga loka untuk menikmati karma baik mereka. Tamasika adalah yang terburuk karena membuat manusia lahir menjadi binatang atau tumbuhan. Jadi dengan dibarengi kebijaksanaan tidak berlebihan, maka rajasika masih baik untuk dinikmati.

7. Yowana Timira adalah kegelapan yang timbul dari ia yang merasa selalu muda, dan tidak mau mengemban tanggung jawab seperti dalam swadarmanya di dunia. Yang ingin selalu bebas dan malas melakukan kegiatan seperti yang telah dewasa, dan mengatakan hidup itu harus muda dan terus bersenang-senang. Sifat yang tak ingin mengemban tanggung jawab seperti anak kecil, adalah suatu kegelapan dalam kehidupan.

Sloka III-35 . Sreyan sva -dhanno vigunah, para -dharmat sv-anusthitat, sva-dharme nidhanam sreyah para-dharmo bhayavahah. (Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tidak sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan, lebih baik mati dalam tugas sendiri, daripada tugas orang lain yang sangat berbahaya.

Maksudnya adalah seorang yang bijaksana dan dalam naungan dharma, akan memahami swadharmanya dan melakukannya. Usia muda yang penuh kebebasan dan tanpa tanggung jawab, akan tidak mungkin dijalani seumur hidup. Karena pada hakikatnya, kedewasaan dalam mengemban tanggun jawab adalah juga jalan dharma yang sangat terpuji. Seperti kewajiban seorang brahmacari, yang ilmunya kelak digunakan untuk keluarganya sebagai yang menjalani grehasta asrama. Sebagai pendidik anak- anaknya dan mendapatkan keturunan, serta menjaga keluarganya.

Begitu yang bisa terungkapkan pada pemahaman belenggu kegelapan yang berada pada setiap manusia. Timira itu ketika direnungi dalam pencarian jati diri kita, sangkan paran ing dumadi, pada keadaan sunya juga akhirnya memberikan bias cahaya yang membebaskan. Sang Timira yang menggoda, kemudian menjadi dasar untuk dicerahkan dengan Sunya yang suci. Terkuak bahwa IA Sang Siwa Sidhanta Iswara Devam, penguasa yang melebur dosa juga duka, berkenan memberikan kekuatan untuk tetap berupaya melaksanakan rangkaian Dharma dalam kehidupan.

Cek juga judul lainnya di https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Semoga renungan ini bisa bermanfaat. Om ksama sampurna ya namo nama swaha, sweca Ida Hyang Widhi ngicen kerahayuan lan pemargi nuju Kamoksayanatha.

Gus Lingga Kalvatar Bali ( Pengrupukan Mar 2023)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.