RSS

Arsip Kategori: ekonomi

Sebuah Kebersahajaan Hidup, Sekelumit Kemerdekaan sila ke-5..

images

Setelah dalam kurun waktu terjajah, kurun situasi yang tidak mengerti telah dijajah, dan apakah suatu “kesadaran” memerdekakan diri ada? atau bahkan memiliki kesiapan memerdekakan alam sekitarnya minimal, karena bukan pemerintah yang mengurusi kita sampai saat ini.  Pemerintah sibuk memberikan dirinya makan, yang padahal sudah kenyang, yang padahal sudah memiliki kendaraan mewah yang tak hanya satu. Seandainya itu diberikan ke perut yang memerlukan, toh tidak terjadi kesenjangan. Kesenjangan yang akibat pola hidup, pola pikir dan pola iman yang katanya sudah menyuci, tapi secara prilaku dan kata-kata sungguh sudah dekat. Dekat dengan rahwana, keraksasan, dan tanah mereka sudah sama2 banyak. Banyak di dunia, banyak di akhirat, tapi masak akhirat di surga. Iya betul kah(n)??(!!)

Soekarno, Harto, Habibie, Gusdur, Mega, SBY, dan yang selanjutnya, sebenarnya memiliki banyak kelebihan atau pula kelemahan. Soekarno sebagai penegak atau proklamator membebaskan dari penjajahan fisik, Soeharto memberikan kenyamanan stabilitas dan bertindak sebagai pemberi contoh :”Ini low namanya sejahtera”. Habibie yg menunjukkan “Ini low orang Indonesia bisa buat pesawat”. Gusdur yang pluralis, bahwa siapa pun layak dihargai. Mega yg penyabar (Hrusnya presiden tapi dimundurkan) yang membentuk KPK bahwa “Koruptor itu kayak babi”. Dan SBY sebagai pembuka “pintu” dengan kebebasannya, bahwa rakyat sekarang tau dan memiliki kesadaran “Begini lo baiknya pemerintah”. Terlepas dari para penya(u)mpah monas dan gorok leher, bahwa kita telah berada di tangga terakhir sebelum pintu taman firdaus utopia (sebagai tujuan akhir komunisme) menjadi nyata di dunia. Moralitas selain dari agama, logika, serta kebermanfaatan, pada dasarnya menjadi bagian penting akan keterciptaan atau kenyataan bahwa butir2 pancasila itu menjadi semakin mampu dilaksanakan…

Pemahaman atau perspektif apa yang tidak masuk di ideologi ini, liberalis masuk dengan batasan bahwa jangan apatis terhadao lingkungan sendiri. Agamis masuk dengan batasan bahwa pelangi itu indah dan di taman bunga firdaus tidak ada yang hanya bunga berwarna putih atau merah atau hanya biru saja. Komunis atau Sosialis yang memberikan persepsi perjuangan tanpa kelas, adalah bisa dilaksanakan dengan artian persepsi tanpa kelas tidak mungkin bisa diterapkan. Namun dengan agamis yang bermoral dengan tidak apatis akan sesamanya yang tidak mementingkan kelas (SARA) bahkan adalah sebagai tujuan akhir dari komunisme itu sendiri. Nasionalis humanis, adlah pejuang yang memberikan kontrol batasan tersendiri pada wadah ideologi, bahwa agamis agar bermanfaat tidak mementingkan kelas2 (lebih spiritualis), serta beradab untuk memajukan diri bahwa kita memang seorang manusia (humanis), dan tidak lupa pada pejuang ekologis yang berniat memberikan alam tempat bernafas dan mengurangi free will( penggunaan alam serampangan) dibatasi. Bahwa tanah air, pertiwi, laut udara tanah keamanan kenyamanan kebahagiaan kesejahteraan ada dan berhak kita mendapatkannya. Apakah kita mampu memberikan ruang untuk hak itu??

Ini secarik tujuan nusantara

5.    SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Keadilan sosial, sebuah keadilan yang mampu memberikan pembebasan bagi yang tidak bebas, memberikan kebebasan bagi privasi, memberikan kontrol bagi yang menginjak2, secara massif dan keseluruhan holistik megamankan, menyamankan, hak2 pribadi yang menjadi kenikmatan kedamaian kesejahteraan seluruhnya. Dasar dari itu adalah menelisik penjajahan yang ada di sila2 sebelumnya dan berjuang untuk memperlihatkan jati diri, harga diri, kecintaan diri sebagai identitas bangsa indonesia, bangsa nusantara…..

Butir2 yang ada

 1.    Mengembangkan perbuatan luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan

 2.    Mengembangkan sikap adil terhadap sesama

Gotong royong, kekeluargaan sebagai rasa bahwa kepedulian sosial itu ada. Tidak mungkin tidak dikatakan busuk, jika rumah sendiri paling besar dengan mobil mewah berderet sembilan, lalu jelas sudah tidak mau turun untuk sekedar gotong royong membersihan sampah di hari minggu dengan membawa sapu. Apa kah karena malu atau memang tahu diri, kalau diri hanya mengambil hak orang lain (baca : babi korup)..Itu saja sudah berarti bukan sikap adil, apalagi notabene para lawyer2 tangguh yang dengan mudahnya membenarkan membalikkan yang salah jadi benar. Sampai kapan ini terjadi, ini terjadi tergantung dari seberapa hati rakyat memiliki ruang kosong untuk sabar. Ruang kosong itu apakah sudah penuh atau malah sudah tidak cukup. Dan pada saat ini, jangan salahkan bila kembali kudeta atau revolusi dari RAKYAT bukan dari lainnya menjadi kenyataan cepat atau lambat. Itu sosialis dan revolusi.

 3.    Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban

 4.    Menghormati hak orang lain

Keseimbangan hak dan kewajiban, kemalasan bukan kewajiban menuntut hak saja. Kewajiban adalahpada saat lupa akan hal yang wajib itu telah dilakukan. Artinya karmany eva dikharaste ma phlasu kadacana..yaitu kerja keras tanpa mengharap hasil, krana hasil datang dari Tuhan.

Itu bersambung ke hak orang lain, ketika orang pemalas mengungkapkan haknya secara memaksa, pada saat itu hak orang lain terambil.Dan keberhakan yang telah melakukan  kewajiban terkadang menjadi suatu kepasrhan,  tiada keinginan untuk membela diri. Contoh 10 mobil mewah yg bisa dijual itu mampu memberikan makan setahun orang2 yg berhak atau memerlukan.

5.    Suka mem berikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri

Ini yang saya pribadi suka, dengan bantuan langsung yang bertaruh nyawa, dasarnya akan tidak memberi pelajaran berarti. Permasalahan lain adalah pajak dan pilihan dari kita untuk mereka (baca; babi korup) Jelas kita berhak untuk lebih, bukan hanya bantuan langsung, kecuali terjadi bencana alam yang kita bagi yng mampu pun tanpa disuruh pemerintah, mau melakukannya.

6.    Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain

7.    Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah

8.    Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum

Hak milik, sebagai misal backing, kedudukan, kekuasaan bisa jadi adalah dasar untuk memeras. Kita sebagai pemilih mereka, sebagai yang memberikan pajak tanpa target yang pas hanya menambah kebabian mereka.

Ketika hedonisme dan aptisme berlangsung dan terjadi, bukan saja berarti manusia atau rakyat hidup akan mendapat contoh yang baik. Tetapi contoh yang sangat menjerumuskan, rakyat akan berpikir ia mencari kekayaan dengan kerja keras hanya untuk menandingi gaya hidup perlente yang membusukkan, harga diri yang dilihat dari apa di punyai hanya akan membawa ke keduniawian semu. Boros untuk diri akan mengurangi kesejahteraan, bahkan boros tapi uang kita, akan cocok disediakan tali, parang, di wilayah monas.

 9.    Suka bekerja keras

 10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama

 11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial

Ini adalah tipe2 keberhasilan manusia nusantara (baca : bangsa) yang berbudaya, bersahaja dan berciri bijaksana. Mampu bekerja keras, menghargai karya yng bermanfaat (teringat : jarak yg mampu dimanfaatkan sbagai bahan bakar, pesawat yg bisa dibangun, mobil listrik, dll). Dan manusia indonesia yang paling berharga adlaha manusia yang peduli akan sesamanya.

 

Edisi terjajah lain…

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/01/05/edisi-terjajah-episode-keempat-_-mlawan/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2013/10/28/edisi-terjajah-episode-ketiga-_-i-m-lawan/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2013/02/23/edisi-terjajah-episode-kedua-_-m-lawann/

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2014 in budaya, ekonomi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode keempat (-_-”!)-(m)Lawan..

Edisi Terjajah Episode keempat (-_-”!)-(m)Lawan..

Kita terbelenggu dan kita tidak tahu telah kehilangan jati diri sebagai manusia indonesia. Manusia yg terjebak pada sikap hedonis, individual, dan suka menyelamatkan diri sendiri, tidak berkeinginan untuk berkorban. Bahkan suka mencemooh yg sbenarnya bersahaja, sebagai sifat dan idealnya manusia asli negeri ini.

Kita malah terlihat sbagai pahlawan moral yg penerapannya jauh dari moral itu sendiri. Kita bangga, tapi kita lupa pada siapa seharusnya kita. Intervensi asing jelas sudah masuk dengan secara langsung atau tidak langsung disadari atau tidak. Apakah salah dari seorang pemimpin, atau keseluruhannya?? Yang pasti kebebasan liberalis yg kebablasan merupakan wajah kita semua. Yang kuat yg menang, yg tidak kuat ya ga layak hidup. Begitukah.

Sebentar lagi ada ajang untuk mncari tampuk pemimpin, memilih yg tepat, atau melanjutkan pembodohan ini? Wakil wakil rakyat itu apa berguna, atau apa memang ga ada gunanya??Siapa yg mereka wakilkan. Pribadi golongan atau sekelompok kecil manusia, yg pasti bukan rakyat banyak faktanya.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.

Hak dan kewajiban yang sama. Seperti juga benar, namun harusnya korupsi sampai ke kalangan bawah sampainya. Dan dengan pula berebutan seperti bantuan langsung dan bagi bagi sembako. Jika ada yang meninggal itu resiko, nah yang memberikan kan tidak punya kewajiban atas nyawa yang lenyap. Yang penting hak sudah diberikan, beres. Yang pasti pajak yg dikumpulkan sudah semestinya jadi jalan raya. Kalau tidak ada jalan raya ya jalam pribadi yg berhak boleh.

(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Kehendak apa yang dipaksakan, semua iklas ,menjalani kenaikan bbm, menjalani kenaikan harga sembako, menjalani kenaikan lpg. Toh memaksaka kehendak pada pemerintah pula tidak layak. Mau apa yang dipaksakan, cuma menunggu tanggul yg semakin tinggi meninggi dan rumah yg telah lenyap. Ah iklas kok. Mending memikirkan sepak bola indonesia dgan paling dulu angkat tangan sebagai pencetus pembaharu kemenangan.

(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

Musyawarah sudah dilupaken. Demokrasi model liberal barat yang sedang  naik daun. Biaya tingga dan akan dikembalikan pda saat terpilih adalah bagian dari mekanisme masuk kantong,BEP, kembali modal. Politik pedagang. Kapan untuk merealisasikan ucapan? Itu nanti setelah dipilih kembali. Jadi semua yang dilantik itu lebih setia sumpahnya pada “pocong” daripada hyang kuasa saat sumpah jabatan dulu. Eh beneran sudah sumpah??

(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Kepentingan bersama,..bersama teman satu partai, bersama teman satu keyakinan, bersama teman sama satu kampung,…kepentingan indonesia ya setelah yang akhir di  nomer paling belakang.

(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Hati nurani yang luhur itu adalah sebanyak berapa amplop yg diperlukan saat ini, dihitung sesuai dgan jumlah penyumbang terbanyak. Dan hubungan nurani sudah luntur dari tidak berlakunya sumpah kepada (siapa ya tadi)..akal sehat saat ini ya tidak ada, mngkin disesuaikan dengan slogan amerika yg tepat. “IN GREED WE TRUST”

(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Ini butir terpenting dari semua. Moralitas yang tidak sesuai dengan hati nurani tuhan, hanya akan menghancurkan. Menghancurkan harkat dan martabat manusia. Jika hancur, bagaimana cara mempertanggung jawabkan kepada hyang kuasa.?. Jelas pula kebenaran dan keadilan tidak ada. Bagaimana mau melindungi bangsa dan warganya. Karena jika tidak bisa trlindungi dan hak dirampas, ya menunggu bubar NKRI ini. Mau tau kapan itu?

(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan

Ini butir tidak usah dibahas. Mending saya percaya pada anjing saya bahwa bisa menjaga rumah dengan baik, percaya sama sapi saya nanti hari raya bisa disembelih. Tapi saya masih percaya tuhan, kalau suatu saat nanti manusia akan bisa dipercaya di atas tampuk pimpinan sana..

Gwar….jan 2014

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2014 in ekonomi, pancasila, persatuan negara

 

Tag: , , , , , ,

Sebuah Wajah dari Upacara(ritualitas) di Bali (hindu)…

Sebuah Wajah dari Upacara(ritualitas) di Bali (hindu)…

image

Agama sebagai wajah dari perjalanan hidup manusia, tidak akan lepas dari upacara atau ritual. Dalam hal ini, identitas dari pemeluknya akan tergambar dengan sangat jelas di wilayah ritual tersebut.  Upacara merupakan pula bentuk akhir dari segala pemahaman filsafati adi luhung tentang keMahaKuasaanNya, sebagai bentuk ucapan terima kasih, sebagai persembahan, sekaligus sebagai permohonan keselamatan dan sebagainya.

Manusia pun tidak bisa lepas dari upacara, jka ia memang mengerti tentang kewajibannya. Dan di jaman modern ini, yg notabene tidak bisa tidak lepas dari sisi ekonomi, maka kecendrungan untuk menjadi manusia yg hedonis, manusia yg konsumtif dan homo homoni lupus (manusia makan manusia) adalah sebuah keterprosokan sendiri oleh perkembangan jaman.Seperti pula yg diketahui kebutuhan pokok dibagi menjadi tingkatan tingkatan. Primer yang utama (sandang papan pangan), sekunder, tersier dan kuarter. Pada jaman moderintas ini, maka disebutkan pengeluaran upacara akan cenderung dikatakan kebutuhan tersier (sukarsa). Jadi dapat disimpulkan upacara akan menjadi barang atau kejadian yg dilkukan setelah kebutuhan primer sekunder dipenuhi.

Agama hindu sendiri, memandang upacara sebagai bagian tiga kerangka hindu. Yaitu tattwa atau filsafat, susila etika, upacara. Lalu dasar dari upacara itu dilaksanakan adalah bahwa manusia lahir memiliki tiga hutang. Tri rna, dewa rna hutang kepada tuhan karena diberikan kesempatan hidup, pitra rna hutang kepada leluhur yang telah meninggalkan segala kebaikan mereka saat hidup, serta rsi rna hutang kepada guru yg mmberikan pembelajaran menjalani kehidupan. Karena kelahiran dengan tiga hutang itu, maka panca ydnya adalh jawaban unuk membayarnya dalam kehidupan. Panca yadny yaitu dewa, pitra, rsi, mnusa, bhuta yadnya. Melalui kesadaran diri, maka kewajiban itu akan terbayarkan selama hidup ini. Jadi makna upacara bagi umat hindu adalah sangat pen5ing sampai akhir kehidupan.

Dalam bhagawadgita disebutkan jenis yadnya sebagai berikut:
dravya-yajnas tapo-yajna yoga-yajnas thatapare, svadhyaya-jnana-yajnas ca yatayah samsita-vratah
(Bhgwadgita IV 28)

Artinya: namun, ada yang beryadnya harta, beryadnya tapa, beryadnya yoga, dan yang lain ada pula beryadmya dalam pengekangan diri, swadyaya dan yadnya dalam ilmu pengetahuan, demikianlah orang yg taat dalam tapanya dan terkendali.

Yadnya adalah termasuk apa yang telah tersebutkan di atas. Dan termasuk pula dalam melaksanakan upacara adalah bahwa disadari dengan ketaatan dan pengendalian diri.

Upacara pula akan diliputi oleh tri guna. Dalam hal ini tri guna adalah tiga sifat kehidupan, yaitu sifat satwika, rajasika, tamasika. Jika digandeng berbarengan dengan upacara, maka upacara yang sattwika (terang) yaitu upacara yg dilandasi sikap tulus, iklas, bijak, penuh makna dan sesuai kemampuan. Upacara yg diliputi sifat rajasik adalah Yadnya yang didorong oleh keinginan menonjolkan diri seperti kekayaan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat feodalisme: kebangsawanan, kesombongan, penonjolan soroh, dll. Dan terakhir adalah upacara tamasik, dmana tidak mengetahui arti upacara tersebut (sthiti dharma.org). Upacara pun dibagi lagi menjadi beberapa segi kemampuan peyadnya, yaitu alit,madya, utama.

Menyambung bahwa sikap modernitas mendudukkan upacara pada bagian tersier, namun apa yang terjadi di bali, bahwa ada kecendrungan pengeluaran upacara bergeser menuju wilayah sekunder bahkan primer(sukarsa). Hal ini dapat menunjukkan pula kenaikan kualitas religius dari umat hindu di Bali. Di mana kebutuhan untuk melaksanakan upacara bergeser dari kebutuhan tersier ke sekunder bahkan primer. Begitu baiknya pergeseran tersebut, namun alangkah sempurnanya jika dibarengi dengan pemahaman tulus iklas dan kesesuaian kemampuan yang menjadi ciri yadnya yang satwika.

Dari segi hubungan upacara dan filsafat, maka bahwa disebutkan semakin filsafat(tattwa) diketahui sebagai pedoman pelaksanaan susila, maka hal tersebut memiliki pengaruh negatif atas upacara (sukarsa) Maksudnya adalah dengan pemahaman filsafat, maka upacara cenderung akan semakin kecil. Mungkin adalah bahwa pengetahuan filsafat akan memberikan gambaran akan yadnya yang sattwik sehingga yadnya yang rajasik dan tamasik bisa dikurangi atau dihilangkan.

Berdasarkan pengetahuan di atas, maka sungguhlah sangat baik jika kecendrungan dari jaman modernitas yang kurang baik, seperti budaya hedonis dan konsumtif bisa ditekan dengan pemahaman tattwa dan susila. Tercermin pula dalam segi upacara di mana kebutuhan pemenuhan keinginan untuk melaksanakan atau membayar yadnya, menjadi kebutuhan yang penting seperti kebutuhan sekunder (pendidikan, trnsportasi, keamanan, masa depan) dan bahkan menuju kepentingan primer. Hal ini menunjukkan tingkat keberpamahaman agama yang tinggi dari umat hindu Bali itu sendiri. Di sisi lain adalah hal tersebut dapat ditingkatkan dengan tinjauan ke “dalam”, agar seyogyanya upacara tersebut ditinggikan menuju ke tingkatan satwika. Namun akhrinya dapat disadari bahwa kualitas dari keberhubungan umat hindu terhadap Sang Pencipta khususnya di Bali adalah unik karena mampu masuk menjadi kebutuhan utama. Ini juga mencerminkan bagaimana wajah dan hati dari keberpahaman umat.

Disadari bahwa upacara atau yadnya itu adalah suatu kebutuhan yg benar2 membuat perasaan berbahagia. Ibaratnya ketika itu menjadi kebutuhan primer, maka ketika makan tidak lengkaplah tanpa mlksanakan yadnya dahulu. Hal itu sudah sangat sejalan dengan sloka

bhgwadgita sloka III-13..orang orang baik yg makan sisa persembahan kurban, akan terlepas darindosa, tetapi orang2 jahat yg mempersiapkan makanan bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosa…
Maka bahkan sebelum makan mlksanakan yadnya, yg artinya itu bisa melepas segala dosa tri loka ini..dan sungguh pun itu adlah pelksanaan dan pengamalan dharma..seperti pada sloka..

Sarasamuscaya 1-18
Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber kebahagiaan bagi yg melaksanakan..lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang berilmu..tegasnya hanya dharma yg dapat melebur dosa triloka ini…

Jadi dharma adalah kebenaran, dan sebagai landasan untuk melebur dosa tri loka..manusia hindu memercayai bhwa tri rna atau tiga hutang, dapat dibayar dengan panca yadnya..Namun hendaknya bahwa memasukkan unsur etika susila serta dharma dalam melaksanakan ritual itu sendiri..Maka hal tersebut akan memberikan rasa yang sattwik atau terang, menerangi dan bijak laksana pada pelaksanaan yadnya itu sendiri.. Tentunya dengan rasa tulus iklas dan kebersyukuran, yg selalu dimunculkan…Yadnya yg baik adalah tentu saja akan membuat tri maya sattwik semakin menambah .. Di mana tujuan moksah itu sendiri adalah dgan mlksanakan dan menyerap tri guna sattwikam.. selain pula keberkahan keberkahan san kebahagiaan..Rasa damai serta keberpositivan dari plksanaan yadnya, akan dikmbalikan oleh semesta maya satwik rjsik tamasik sebanding dngan karma yg dilaksanakan..sprti juga bhwa dunia ini ada karena yadnya..dan karena yadnya kita mengada di dunia ini bhkan di alam sunia nanti..

Salam gwar
Akhir 2013-okt 2014(pnambahan)
Sumber bacaan
Made Sukarsa, Biaya Upacara Manusia Bali, 2009.
Bhagawan Dwija, Tattwa Susila, dan Upacara, 2009
Sarasamuscya, bhgwdgita…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Desember 2013 in agama, budaya, ekonomi

 

Tag: , , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode Kedua (-_-!! (m)..LAwann!!!

LAWAN!!!!!!!!!!

LAWAN………!!!!!!!!

LAWAN   !!!!!!

Setelah menapaki konteks edisi terjajah pertama, maka hendaknyalah bahwa kita memahami bagaimana ketidaktahuan kita akan keterjajahan bangsa itu sendiri. Seperti telah diketahui dalam dunia ide, ide yang ideal sebagai suatu karakteristik dan identitas dari Bangsa Indonesia (nusantara) itu sendiri, maka sampailah kita ke hadapan kontradiksi yang jelas terpampang pada suatu ideologi yang terpampang dalam Hati, suksma, nurani kita sendiri.

Sebuah bangsa yang beradab dan bukan suatu bangsa barbar yang mengagungkan sisi kemanusiaan itu sendiri yang seharusnya sebagai suatu super ego dari khalayak bangsa Nusantara ini. Di mana super ego itu seperti digulung atau disamarkan oleh dogmatisme yang putus asa, suatu bahasan untoleransi terhadap keagungan dari pelangi bhineka itu sendiri. Berbhineka namun hanya satu, berbhineka yang berwarna dan merupakan kekuatan bangsa, kekuatan negara kesatuan republik Indonesia (nusantara) ini. Yaps pancasila sila kedua yang perlu ditelaah dipahami serta diperjuangkan menuju suatu kelepaslandasan menjadi “Garuda Asia”.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Dilihat di atas bahwa, manusia yang bernusantara, berpancasila hendaknya memperlakukan manusia memiliki harkat dan martabat sebagai mahluk BerTuhan. Artinya secara mudah adalah bahwa kita, kami, mereka, semua berhak untuk hidup di bumi nusantara ini. Lalu yang terjadi adalah bahwa dengan mudahnya manusia-manusia yang berperilaku anjing dan hanya pantas dikatakan sebagai bukan manusia (baca: asu) membunuh, menyiksa, menghancurkan hak asasi bagi kami, mereka, kita, semua, dan bahkan sampai menyingkirkan filsafat ahimsa atau menuju kekerasan itu sendiri dan bahkan sampai menghilangkan nyawa. Apa itu suatu sifat manusia yang memiliki akal, budi, dan sifat hati sebagai manusia. Itu adalah keterjajahan kita karena nyawa dianggap sebagai suatu barang yang biasa. Yang padahal mereka tiada mampu untuk mengembalikannya atau menjadikan nyawa itu menjadi manusia seperti tuhan yang kita sama2 sembah. Lalu bagaimana kematian itu terjadi pada bom bali, di Madura, Ahmadyah, gereja2 poso, dsb. Sangat berbeda mungkin pada tsunami, gempa, dan yang lainnya. Dalam artian di atas adalah “Mengakui” artinya menghormati segala keberbedaan sebagai suatu identitias, kekayaan, atau bahkan sebuah kejeniusan lokal dari Indonesia (Nusantara) itu sendiri. Dalam keterjadian kekerasan di atas berarti adalah sikap tidak mengakui keberagaman itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Sikap-sikap di atas sangat dengan manusia itu sendiri, yang merupakan mahluk utama sebenarnya dari Tuhan. Namun kejatuhan manusia adalah mereka-mereka yang telah lupa dirinya sebagai manusia dan memangsa serta membunuh manusia lainnya. Seperti di atas dikatakan bahwa kekerasan adalah musuh kemanusiaan, maka saling cinta, saling tenggang rasa atau rasa empati terhadap penderitaan manusia lainnya, tepa selira, menjunjung nilai “diri’ sebagai manusia serta menjadi manusia yang berguna dan gemar melakukan kegiatan membantu yang lainnya dan jauh dari sikap ke”asu”an. Termasuk pula dalam sisi kesejahteraan dan sisi ekonomi, bahwa mereka2 yang jatuh pada keserakahan dan hanya menjadi budak investor, akan hanya menjadikan manusia lainnya sebagai korban. Terlihat sendiri bagaimana para pemimpin lebih memilih untuk mendukung freeport daripada masyarakat papua sendiri. Dan terlihat juga bahwa lumpur itu seakan2 menjadi cerita ketertenggelaman Jawa, khususnya Jawa timur (sidoarjo). Apakah itu sikap dan sifat manusia yang diangkat sebagai pemimpin yang memberhalakan uang dan harta serta kekuasaan lebih besar dari kepedulian terhadap masyarakatnya sendiri. Sungguh pun mereka lebih baik jika digantung ramai-ramai di monas dalam revolusi bangsa dan negara.

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.

Dan ini yang terpenting. Kebenaran, kebenaran yang mana, serta keadilan kepada siapa yang pantasnya diupayakan. Apakah suatu kebenaran yang dipaksakan, atau suatu keadilan yang hanya dinikmati oleh kau-kaum yang kapital yang sebenarnya menjual negeri Nusantara (indonesia). Menjual tanah, menjual harga diri, dan sebagai kambing congek yang mengabdi kepada kaum asing yang manut-manut serta tidak bisa lepas dari  atau tidak memiliki hak diri untuk mengelola sumber daya alam, serta sumber daya manusia terbengkalai sampai harus menjadi TKI, TKW, yang pulang hanya tinggal nama di arab, yang hanya menjadi orang gelap di malaysia, serta kaum pemimpin serta pejabat tolol tiada bisa mampu untuk melindungi rakyat mereka sendiri. Apakah sudah habis tempat di Nusantara (indonesia) yang katanya jaya ini untuk menghidupi rakyatnya?Keterjajahan pada kebodohan, dan kedunguan mereka kaum pejabat dan pemimpin yang menjadi budak-budak kaum asing. Termasuk pula penjajahan dari internal nusantara (indonesia) sendiri yang hidup seperti cacing-cacing parasit yang mungkin hanya bisa diambilkan obat pembunuh cacing atau pencahar perut dan habis sampai telur-telurnya. Cacing yang ada menjadi parasit hanya terdapat pada kebusukan atau kekotoran sampah-sampah tanah yang hanya bisa menjadi parasit dan mati sebagai parasit.

  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain

Dan ini adalah penetralisir dari kedua bahasan di atas. Bahwa saling hormat dan bekerjasama patut ditelaah sebagai suatu keberhagaan diri (bangsa) yang memiliki keberadaban tinggi dan layak dihormati. Seperti pula bahwa Indonesia bagian dunia, yang artinya pula secara etis Indonesia adalah bangsa yang universal dan memiliki sifat menghargai humanisme di atas dari segalanya. Karena manusia adalah mahluk tuhan paling mulia dan memiliki kewajiban menjaga kemanusiaannya dan berhak hidup dan menjunjung hak asasi itu sendiri tanpa pandang bulu. Lalu bahwa manusia yang beradab dan membentuk suatu idealitas peradaban sendiri, dan memfilter baik itu politik dunia, sosialitas dunia, ekonomi dunia, Budaya dunia, Pertahanan dan Keamanan. Yang pada akhrinya sebuah ideologi melindungi suatu hak asasi manusia( suku , agama, ras) beribadat,dan menjadi berani untuk membela sebuah kata “Kebenaran”, Suatu kebenaran Nusantara.

pustaka

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Februari 2013 in ekonomi, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , ,

Sekilas Risalah Makna Ekonomi (Artha) dalam Sarasamuscaya..

smith

Kata “Ekonomi” adalah sebuah kata yang mustahil dipisahkan dengan barisan kata Kesejahteraan, Kemakmuran, atau bahkan Kemahardikaan. Namun sebelum mencibir atau berprasangka buruk, akibat maraknya kewenang-wenangan yang berbuat seenak udel bodongnya, ya untuk mensejahterakan, memakmurkan kalangan sendiri, golongan sendiri, atau bahkan diri sendiri. Yang pasti sebuah kemahardikaan sepertinya tiada dirasakan bagi mereka tentunya.Sebuah kebebasan yang nyata dalam sekala serta niskala.

Apakah ekonomi itu, atau dalam sebutan Kitab Sarasamuscaya adalah Artha itu sendiri, yang tentunya telah diketahui menjadi bagian dalam catur purusa artha bersama Dharma sebagai dasar, Kama sebagai motivasi, dan Moksa sebagai tujuan Akhir. Sejak era Adam smith dalam menumbuhkan kata Kapitalisme sebagai keberlanjutan serta dekontruksi sosial atas Merkantilisme, maka hal terpenting dari PahamnNya (Adam Smith), yaitu Kapital itu dengan perlakuan yang sesuai adalah akan memberikan pemerataan yang sesuai dari lapisan atas sampai pula ke lapisan terbawah pada akhirnya. Jadi bahwa dengan pemerataan itu maka roda perekonomian dengan meningkatkan produksi di saat memiliki kapasitas pribadi akan berlanjut menuju kesejahteraan yang diusahakan secara merata baik diri sendiri, atau dengan berkelompok. Merata dalam artian itu adalah tingkat kesenjangan yang diusahakan diminalisir. Maksud Adam Smith adalah bahwa moralitas dalam bentuk “kasih” akan dilaksanakan diusahakan menuju suatu perbaikan sampai pada kesejahteraan itu sendiri. Itu inti yang diinginkan Adam SMith.

Kembali pada kata ekonomi sendiri, Maka teringat prinsip bahwa dengan pengeluaran sekecil2nya mendapatkan penghasilan sebesar2nya..atau kebutuhan(keinginan) manusia itu tidak terbatas dan alat pemuas kebutuhan terbatas.Sepertinya sedikit kontradiksi jika dihadapkan pada dunia adalah sebuah persinggahan dan “kemelekatan” akan dunia menghambat “santi”atau menuju ke arah “sunya” dalam kemoksaan atau mahardika itu sendiri. Lalu jika tanpa moralitas, maka apa yang terjadi adalah kelicikan, dan lobha(greed) keserakahan adalah keinginan yang tidak terbatas.

Lobha (Greed) Keserakahan sendiri adalah bagian dari Sad Ripu

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

Jadi hanya dengan berkeinginan saja sudah menyebabkan Ia mendapatkan hasil karma yang buruk.

Dan selanjutnya dapat dijelaskan:

Sarasamuscaya 266

Hana yartha ulihlning parikleca, ulihning anyanya kuneng,

Athawa kasembahaning catru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika

Artinya : Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum atau pun uang persembahan musuh, uang yang demikian halnya jangan hendaknya diinginkan.

Jadi Adharma adalah suatu hal yang hanya mendapatkan hasil karma yang tidak mungkin baik, atau seperti yang diketahui secara universal, neraka itu hasilnya. Reinkarnasi buruk hasilnya, atau yang benar-benar tidak diharapkan adalah karma wasana yaitu dosa yang diterima oleh keluarga, dosa diwarisi, turun temurun.

Satu lagi akan suatu pencurian artha. Yaitu :

Sarasamuscaya 149

Yapwan mangke kraman ikang wwang, angalap masning mamas, makapanghada kasaktinya, kwehning hambanya, tatan mas nika juga inalap nika, apa pwa dharma, artha , kama, nika milu kalap denika..

Artinya : Jika orang yang merampas kekayaan orang lain dengan berpegang teguh kepada kekuatannya dan banyak pengikutnya, malahan bukan haga kekayaan hasil curiannya saja yang terampas darinya, tetapi juga dharma, artha kamanya itu terampas oleh karena perbuatannya.

Dalam hal ini karmapala adalah sebagai dasar yang nyata, yang berarti bahwa ia akan Nantinya cepat atau lambat dan pasti bahwa kebaikan (dharma),harta, dan mimpinya (kama) akan lenyap.

Maka dengan berbagai saran serta peringatan atau pula sebuah hukum karma yang tercantum pada Sarasamuscya, maka dapat diselaraskan pada semangat moralitas dari Adam SMith tersebut yang tercantum pada awal tulisan ini.

Lalu dalam Sarasamuscaya juga terdapat bagaimana hendaknya Artha itu digunakan dalam menjalani sebuah lakon kehidupan.

Sarasamuscaya 262

Nuhan kramanyan pinatelu, ikang sabhaga, sadhana rikasiddhaning dharma, ikang kaping rwaning bhaga sadhanari kasiddhaning artha ika, wrddhyakena muwah, mangkanakramanya pinatiga, denika sang mahyun, manggihakenang hayu.

Demikian duduknya makan dibagi tiga (hasil usaha itu), satu bagian guna mencapai dharma, bagian yang kedua adalah untuk memenuhi kama, dan yang ketiga diuntukkan bagi melakukan kegiatan usaha di dalam bidang arhtha, ekonomi,agar berkembang kembali, demikian duduknya, maka dibagi tiga, oleh karena yang ingin beroleh kebahagiaan.

Seindah artinya bahwa melakukan dharma, keberhakan mendapatkan kama, serta melakukan kegiatan ekonomi adalah tiga hal yang disarankan dari sarasamucaya.

 

Daftar pustaka

Kadjeng I Nyoman, 1997, Sarasamuscaya dengan teks bahsa Sansekerta dan Jawa Kuno, Paramita.

Mark SKousen,2009, Sang Maestro “Teori-teori ekonomi modern”;Sejarah pemikiran sosial.

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Februari 2013 in agama, budaya, ekonomi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: