RSS

Arsip Kategori: agama

Manusia (bukan hewan) yang Beragama

Manusia (bukan hewan) yang Beragama

Om Suci Nirmala ya namo namah..

Sirna papa lara rogha winasaya..

Mahacintya hyang murtining shaktii..

Mogi ksama sahmpurna ya namo nama swaha..

Agama dan manusia,

Religi dan humanisme, sesungguhnya adalah bagian yg tidak terpisahkan. Agama sendiri pada dasarnya memberikan pemahaman atas kesusilaan atau moralitas yang sejatinya meningkatkan derajat manusia sebagai mahluk yang berakal dan penuh cinta juga kasih.

Kesusilaan sendiri atau akal budi yang memahami etis, etika sebagai manusia untuk senantiasa berbuat bajik, bijak demi kelangsungan hidup yg terlingkupi dalam kedamaian. Kesusilaan selalu ada dalam tiap agama dan menjadi bagian terpenting untuk membentuk manusia tersebut menjadi manusia yang sungguh berguna.

Dalam agama hindu mungkin secara umum ada konsep tat twam asi (engkau adalah aku) konsep vasudhewa kutumbhakam (semua adalaha saudara). Atau konsep islam dengan rahmatan lil alamin, kristen dengan cinta kasih,buddha dengan dhamma, Sikh yg mngatakan hubungan antar manusia adalah murid dan guru, Tao dengan kebijaksaan Lao Tzu, dan lainnya. Adalah kekayaan yg sangat besar, dan ketika diterapkan dalam dunia nyata, maka kelak dunia ini menjadi atau mencapai kebahagiaan yang kekal. Sungguh pun luar biasa.

Mengkhusus pada konsep Jiwa dalam kehinduan, maka dapat dipahami bahwa manusia adalah merupakan hasil dari keseimbangan atas prilaku yg satwik rajas tamas dan jihwatman itu (wraspatti tattwa), sehingga lahirlah manusia. Kemudian juga disebutkan manusia adalah yang lahir dan mendapatkan berkah sabda, bayu, idep. Maka karena idep (akal budi) itulah ia manusia memiliki kemampuan memilah mana yg baik dan buruk, bukan hanya sabda (bersuara) saja, atau bayu (daya hidup) hanya sekedar hidup saja.

Dalam sarasamuscaya disebutkan bahwa manusia itu dilahirkan untuk menjadi yang utama, karena kesadaran yg utama itu (memiliki sabda bayu idep) akan membuat ia melaksanakan dharma (agama) untuk meningkatkan dirinya kelak. Inilah yg membuat manusia sbagai yang utama dgan melaksanakan kebajikan agar dunia ini menjadi tempat yang penuh kebahagiaan yang kekal..

Namun patut diberi gambaran bahwa, dikatakan manusia lahir dari keseimbangan tri guna yaitu satwik rajas tamas. Artinya bahwa ada unsur sattwika guna yg membuat manusia itu memiliki “idep” atau akal jga buddhi yg membedakan manusia dri mahluk lainnya, seperti scra garis besar hewan atau tumbuhan. Dalam konsep yg tercantum pada wraspatti tattwa adalah bahwa mahluk lain seperti hewan dan tumbuhan adalah bisa berasal dari manusia yg tidak mencantumkan sattwika guna di dalam kehidupannya, yang artinya hanya melaksanakan rajasika guna dan sekaligus tamasika guna. Kelak manusia yg melupai sattwika guna, maka ia akan samsara turun derajatnya mnjdi yg bukan manusia.

Sattwika guna apakah itu? Sattwika guna bisa dikatakan sebagai sifati yg penuh cahaya, kebijaksanaan, kebajikan, juga penuh pengetahuan dharma di mana akal budhi berkembang baik yg pada akhirnya mereduksi sifat2 bawahan atau kebinatangan itu sendiri, disebut sebagai manusia yg mampu memanusiakan dirinya juga jiwanya sendiri. Agen-agen hyang maha kuasa, sebagai bhakta yang taat kepada Tuhan Hyang Widhi Wasa. Serta memberikan cahaya kepada dunia tempat hidupnya. Mereka-mereka inilah yang mampu menciptakan kedamaian di semesta ini.

Dalam segi kesusilaan, maka manusia yang sattwika adalah manusia yang mampu serta mau melaksanakan berbagai konsep kesusilaan, seperti Tri Kaya Parisudha, Panca Yama Bratha,Panca nyama brata, Catur Paramita, dan sebagainya.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2017/02/26/susila-panca-yamanyama-bratha-dari-nitisastra/

https://linggashindusbaliwhisper.com/2011/06/11/catur-paramitha-dan-catur-aiswarya-sebagai-penerapan-tat-twam-asi/

Dan juga senantiasa menjauhi sad ripu, sad atatayi, sapta timira, agar bisa memvibrasikan cahaya2Nya di dunia ini.

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/03/31/panca-yama-niyama-bratha-pengendali-sad-ripu/

https://linggashindusbaliwhisper.com/2015/04/02/sapta-timira-tujuh-kegelapan-yang-berdasarkan-sarasamuscaya/

Dengan bekal inilah dikatakan jga manusia kelak akan mendapatkan tempat baik ke swarga loka (jana maha tapa sunya loka) atau jga mendapatkan kamoksan (samipya sayujya salokya sarupya). Seperti jga yg tersebut dalam sloka wrspatti tattwa. Bahwa manusia yg banyak melakukan sattwika guna, menuju Ia alam kemoksaan, dan ktika dibarengi dgn keaktifan rajas yg didasari sattwika, maka mnujulah IA ke swarga loka menikmati hasil buah karma baiknya.

Mengapa manusia bisa turun derajatnya, jga melupai keutamaannya? Dikatakan jga manusia walaupun sebagai mahluk utama, maka ia juga lahir berisikan sifati rajasika dan tamasika. Tamasika adalah kebebalan, kemalasan, dan jga menuju pada kegelapan, ketidakaktifan, kepasifan, sprti sifat2 tumbuhan yg pasif. Serta jga sifat rajasika yg artinya bahwa manusia memiliki sifat aktif untuk selalu bergerak, dan juga keras, tegas, yg terpengaruhi sifati kedua itu. Saling tarik menarik antara tamasika jga rajasika. Dikatakan bahwa manusia walaupun memiliki karakteristik sattwika, namun ktika ia malah cenderung berada pada tamas rajas yg meniadakan keutamaan manusia itu, maka tentu buah karma yg dihasilkan adalah tidak menuju pahala yg baik. Dikatakan kelak IA akan bersamsara mnjdi mahluk bukan manusia, dan turun derajatnya. Hal ini masuk akal, karena manusia yg berbudhi mnggunakan akal pikiran jga rasa manusianya untuk hidup. Ketika tanpa logika, sia2lah IA lahir karena berkatNya sebagai manusia tidak digunakan secara baik.

Begitu banyak manusia yang saat ini menuju pada ketumpulan atas sifati kemanusiaannya, akalnya tidak digunakan dengan baik, mengejar ambisi, ego, jga terlekat pada duniawi tidak seimbang kepada konsep jiwanya. Menggunakan malah kekerasan, homo homoni lupus, memakan manusia lainnya, jga bahkan menggunakan konsep2 agama dan merasa didukung oleh Tuhan katanya. Begitu baik dikatakan sebuah jargon tentang itu..

“Sebelum beragama, maka jadilah manusia terlebih dahulu”

Rahayu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2019 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tiga temperamen manusia menurut Mahanirwana Tantra

Om hyang parama kawi namastute..mahatantra ya ja mahe..sweca rahayu sanjiwani..sinampura hring manah..succi buddhi citta ahamkara..dumogi sirna duka larra rogha..om

Dalam konsep mahanirwana Tantra, dimana dikatakan adalah bahwa tantra diajarkan layak pada jaman kali ini, maka terdapatlah beberapa konsep tentang sifati manusia yang membedakan satu dengan yg lainnya. Ini adalah tetap menjadi kuasa tri guna untuk memperlihatkan bagian mana yg paling aktif di antara itu. Tentunya bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memahami diri untuk menuju pada kebajikan sebagai cermin dalam kehidupan yang menuju ke-shanti-an..

Tiga temperamen itu yang bisa dijelaskan adalah..

Pashu bhawa yaitu temperamen yang berkarakter sebagai binatang. Dalam hal ini adalah bahwa raja guna atau rajas sbagai sesuatu sifati yang aktif, bekerja kepada tamasa guna yaitu menggerakkan kegelapan. Jadi bahwa rajas mengaktifkan sisi tamasik atau kegelapan..Ia yg bersifati atau bertemperamen ini akan menampilkan sisi bharanti(berbuat kesalahan), tandra (lesu dan malas), dan kecerobohan (alasya). Pashu adalah mereka yg terlalu terikat akan keduniawian, dan jga banyak diliputi ketidakmengertian, tidak menyukai akan jnana. Ia yg tidak mau menyentuh yantra (wewantenan-bali), tidak melakukan japa jga mantra, enggan melaksanakan yadnya(pengorbanan) atau tantra, tidak yakin terhadap guru, tidak menyakralkan arca pratima, membeda2kan dewata, puja tanpa tahu artinya, berbicara buruk ttg orang lain, dan sifati buruk manusia yg lainnya. Semoga bisa menghindari temperamen ini..

Wira bhawa adalah temperamen berikutnya dimana secara tri guna adalah rajasnya banyak mendorong guna sattwika, namun masih banyak guna rajas itu bebas, sehingga dapat menimbulkan kedukkaan. Rajas yg tidak terkendalikan itu, bisa menjadi sebuah kejahatan saja, karena sattwika guna belum mampu menguasainya. Orang ini sangat mudah sekali tersinggung, terpacu, atau terangsang atas sesuatunya, akibat dari rajasnya yg berlebih dan dominan. Pada suatu waktu ktika Ia terlalu terlewat akan guna rajasnya, bisa terlempar menuju temperamen pashu bhawa. Ibaratnya ia keberaniannya bisa menjadi suatu kesalahan yg membuat dirinya terlepas atas sattwika guna. Keterbiasaan atas prilaku itu membuatnya gelap. Sehingga bisa memasuki alam sapta timira. Penyadaran diri atas kebajikanNya jga jnana dan pengakuan atas mantra yantraNya adalah yg bisa membuat temperamen sifatiNya meningkat.

Diwya bhawa adalah bagaimana ia bisa membuat suatu sattwika guna menarik rajasika larut ke dalam sattwika guna itu.. Dalam tattwa disebutkan bahwa ketika bicara tentang kamoksaan, tujuan kita maka sattwika guna adalah bagian yg menjadi hal utama itu menuju tujuan itu. (wrsptti tattwa). Disebutkan ciri2 dari diwya bhawa adalah selalu menyucikan diri setiap hari, berbuat amal setiap hari, keyakinan tinggi akan weda, sastra, guru, dewata, melakukan puja atas dewa juga pitra, pengetahuan mantra yg mendalam, menghindari perbuatan kejam dan buruk, memandang lawan dan kawan sama, selamanya bicara kebenaran, tidak bersahabat dan berkumpul dgn mereka yg mencerca dewata, melakukan meditasi, menghormati wanita, dan susila yg lainnya..

Semoga kita menjadi yg sebaik-baiknya manusia berbudhi itu, dalam kehidupan saat ini..

Swaha..shanti rahayu..

Gwr..2018 apr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 April 2018 in agama, doa

 

Tag: , , , , , ,

Kekuatan dewata (asta bratha) untuk Menundukkan Sad Ripu..

Kekuatan dewata (asta bratha) untuk Menundukkan Sad Ripu..

Meminjam kekuatan dewata untuk menundukkan Sad Ripu..

Sangat perlu diketahui dan sudah dikenal jga secara umum, bahwa kita memiliki enam musuh yg berada dalam diri kita..dan itu sungguh membuat kita bisa menjauh dari sisi kedharmaan itu sendiri..musuh2 itu mengikuti kita selalu, bahkan sampai menuju jurang kematian, dan semoga saja hidup kita selalu bermakna..

Musuh2 itu antara lain, lobha matsarya krodha moha mada jga kama..Ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dalam diri manusia, namun hanya sebagai musuh dalam diri, yg akan membuat manusia itu terjatuh dalam lubang kenestapaan..

Falsafah hindu sendiri, telah memiliki sejumlah cara2 yg baik, dalam mencoba mengenal lalu mengontrol juga mengendalikan gejolak dari sad ripu ini..Kemudian ada juga konsep tentang bahwa manusia bisa saja meminjam kekuatan dari dewata (atau menjadiNya) dalam ruang lingkup penguatan diri jga melaksanakan keswadarmaan masing2 dalam lingkungannya..Menjadi pemimpin atas diri dan juga kepada lingkungan sekitarnya, adalah salah satu cara memberikan ruang untuk mengontrol musuh2 itu..

Laku asta brata adalah konsep kepemimpinan atas diri, agar diri mampu mengendalikan diri itu sendiri, dan menjadi tauladan di masyarakat atau keluarga terkecil..laku asta bratha, sekiranya dapat membentuk kepribadian diri agar mampu menjadi panutan atau menjadi kekuatan yg besar dalam diri itu sendiri..

Asta brata adalah..
Seperti laku bhtra Surya yg memberikan pencerahan, dan penerangan sekitar dengan sinar kebijaksanaannya, dengan ini maka moha atau kebingungan, tidak akan menjdi sesuatu yg menakutkan, atau jga Kama atau hawa nafsu mampu dikekang, atas dasar kebijaksanaan itu sendiri..

Sepert laku bhatari chandra yg menyejukkan dan memberikan cinta kasihnya kepada siapa pun, hal ini sangat pasti dapat mengontrol jiwa yg krodha atau dalam kemarahan, tentunya cinta kasih dan kesejukan adalah bagian antonim dari keadaan krodha itu sndiri..

Seperti laku bhatara kubera..yg memberikan keberkahan pada semua mahluk dan sekitarnya, bahwa memberi adalah bagian dri yadnya yg sangat penting, tentu saja dgn memberi, maka diri memberikan ruang untuk menciptakan kesejahteraan bersama yg pada akhrinya mengikis matsarya dan juga kelobhaan, bahwa diri telah diberikan banyak, maka gunakanlah hidup untuk memberikan pelayanan dan pembelajaran atas hidup itu sndiri kepada orang lain atau mahluk lain..

Laku bhatara indera yg jga sbagai pelindung dan lambang keberanian, juga memberikan amertha, maka itu ia berani untuk memberikan pembelajaran hidup atau dharma, shingga tidak bingung atau moha, juga tidak akan mabuk (mada) atas sesuatu sifat duniawi, krna Ia adalah lamban keberanian untuk mempertahankan dharma itu sendiri..

Laku bhatara bayu..dimana sprti angin yg memberikan kabar yg benar secara nyata, tanpa melebihkan tanpa mengurangi, apa adanya, dimana IA akan memberikan kekuatan diri untuk selalu tidak jatuh pada kebingungan atau moha..bahwa informasi adalah bagian yadnya pula, dalam memberitakan suatu kebenaran itu (dharma)..

Laku bhatara baruna, bahwa laut adalah sbuah tempat segalaNya, dimana smua berakhir di laut, dan menelan apa pun, artinya.bahwa laut mampu memberikan ruang keluh kesah atau apa pun itu yg membuat diri terlepaskan segala bebannya…maka Kama kmudian mnjdi stabil dan tidak terlalu bergejolak, kebingungan mnjdi sirna, dan juga mada kemabukan atas sesuatu bisa terkurangi, karena telinga jga hati jga kesabaran, serta kebijaksanaan adalah laku laut. Yg tidak habis ruang di dalam diriNya menerima keluh kesah sesamanya..

Laku bhatara yama yg selalu adil, dmana saja ada keadilan yg tercapai, maka kepuasan diri mengada, akan membuat kelobhaan dan jga mastsarya menjadi berkurang..

Laku bhatara Agni, dmana membakar semua keangkara murkaan, dan juga melebur diri pada laku tapa brata, dan memberikan ruang jnana untuk melebur mala, dan ketidakadilan…Sangat baiklah ketika sang Kama diberikan tempat untuk dilebur dgn jalan yg sesuai atas kedharmaan, dan jga mengintropeksi diri bahwa segala ripu adalah seharusnya kita mengendalikannya..

Salam
Gwr

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2018 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Cetana dan acetana kesadaran dan ketidaksadaran atas manusia dan hewan…

Om pasupatya pujamkha ya namo namaha..agastya ning parwa ya namo namah..sahadjanataka dewarshi pujamkha aum om tat sat..

Cetana acetana..cetana artinya kesadaran..kesadaran yg membuat manusia sadar akan idepnya yg diberikan bhatara hyang untuk mengenal diriNya sendiri, dan juga mengenal atma tattwa, yaitu mengenal sangkan paraningMya..idep itu sendiri yg dianugerahkan kepada manusia shingga mengenal IA yg nanya suka duka lara bagya juga rogha dan terakhir pati..ini dikuasai oleh sattwika guna yg membuat manusia berbeda dari pashu atau hewan jga tumbuhan..
Dan acetana sndiri adalah brasal dri guna rajas tamas dimana hewan tidak akan mengenal adanya kesadaran akan diriNya sendiri..tidak mampu mengethui sangkan paran atau asal muasalNya dan susah sekali Ia jihwatman yg berada pada acetana mngthui “jalan pulangnya”..
Dalam srsmsucya disbutkan sungguh kebersyukuran terlahir menjadi manusia, krna dapat menigkatkan hidupNya dan sadar akan diriNya sndiri sbagai yg berkesadaran Tuhan..berbeda lah ktika sbagai binatang yg lahir dgn sifati guna rajas tamas tanpa sattwika, shingga manasNya tidak dibrikan kesadaran buddhi tattwa jga tidak dibri kesadaran akan wijnana maya kosa atau kecerdasan..maka ia tak akan mengenal namanya jnana yg membawa pada kelepasan dan hnya menunggu sesuatu (bisa juga manusia) untuk menyelamatkan dirinya agar naik derajatnya menjadi manusia..
Dalam agastya parwa disebutkan bahwa manusia yg telah sampai sbagai manusia uttama ning uttama, mampu dengan mudah untuk meningkatkan derajat binatang sampai ke taraf cetana kesadaran manusia pada kehidupan selanjutnya..dikatakan bahwa manusia suci uttama ning utama, apa yg ia makan, apa yg ia sentuh dan bahkan manusia lain yg berbicara atau disentuhnya bisa terlebur dosanya2nya, ini disebut sbagai sang maha rishi yg telah mengenal kesadaran atman cetana ning buddhi dharma kawisesan, minab smpun meraga Shiva (dewa panca rshi sapta rsi dewarsi dsb)..maka saat Ida mlkukan pemujaan, bahkan lingkungan yg mendengarkan mantra Nya itu tersomyakan atas berkat atma ning suhci itu…beryogalah Beliau agar mantra suciNya mampu menyupat acetana mnjadi cetana..pasupatya pujam.
Ini yg membuat wewantenan yg dipuput oleh Ida memberikan vibrasi juga energi besar yg melukati sekitarNya, bahkan juga yg mendengar dentingan genta Ida..sebagaimana juga bebantenan yg berisikan hewan2 yg ada niscaya akan juga termanifestasikan untuk naik tingkat bersama sattwika guna mnjdi yg lebih tinggi..diantara manusia ada mahluk lain yg juga dgn kecerdasan sama bhkan lebih tinggi, sperti yaksa gandharwa widyadara daitya aditya danawa rakasha paisacha dan sebagainya, mereka adalah abdi juga dri Ida hyang bhatara…
Kemudian para hewan itu (yg terdiri dri rajas tamas yg acetana) bersama guna sattwika akan mnuju pada kehidupan yg lebih tinggi dimana acetana mereka terlebur mnjdi cetana sattwika guna, dan rajas tamas mreka dikubur dgn sattwika guna yg dimana tidak dikenallah mereka lagi dalam kehidupan selanjutnya..dlam bhagawadgita disbutkan AKU mengenal kelahiran2Ku sebelumNya, tetapi tidak engkau wahai arjuna yg melupakan kelahiran2mu”…

Karena itulah kelahiran seblumnya yg dikenal oleh beliau yg wikan adalah sattwika gunaNya, (pitara sane samsara) bukan rajas tamasNya..namun kmbali bhagawadgita menyebutkan ” Diantara ikan AKU adalah seekor Hiu” maka kesadaran Tuhan sendiri ada dalam hewan juga..
Binatang apakah Aku di masa lalu? Mudah saja untuk melihat itu, tapi memastikanNya adalah berlakukah dgn meninggalkan sattwika guna, maka tertinggal rajas tamaz saja, niscaya kelak engkau akan lahir sebagai hewan yg meminta untuk kembali menjadi manusia (wrspatti tattwa)
Shanti rahayu om

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2018 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , ,

Bhatara kubera Sang Pemberi Rejeki

Om hyang kuwera ya namo nama sidhantaka..maha danti dantya dana prani hitankarana..maha sidhi hring jagatha dewatanaka..wisrawana namastute mahajayanta..dharma santana pujam om

Kubera disebut sebagai dewaNya keberkahan, yang merupakan penguasa arah utara bersama wisnu di dewata surya majapahit .. Merupakan saudara dari rahwana namun lain ibu, dan berkedudukan sebagai bendahara para dewata..

Beliau adalah  yaksa, yg mrupakan mahluk mitologi setengah dewa dan dekat dgn ras raksasa..Yaksa raja adalah yg pernah menguji yudistira saat di hutan dalam pelariannya..juga diangkat sebagai raja di alengka, selain itu dalam konsep astabrata ramayana, maka kubera masuk sbagai brata kepemipinan, agar pemimpin selalu memberi berkah kepada rakyatnya..

Dapat digunakan sbagai japa untuk memperlancar rejeki dan dapat dijadikan amulet atau pegangan untuk mencari keberkahan itu sendiri..japanya yaitu :

Om kubera ya namo namah swaha om..

Terkenal dalam kebudayaan jaina dan juga buddha, atau juga di hindu termasuk majapahit..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2017 in agama, doa

 

Tag: , , ,

Pengaruh Tri Guna Maya terhadap Buddhi dalam Jnana Tattwa..

Om jnana yoga yantranamakha om

Disebutkan bahwa sattwika yang memengaruhi manusia, maka hal itu akan membawa manusia pada peningkatan kualitas kelahirannya..Dalam wraspatti tattwa dikatakan akan menuju kamoksan yg merupakan kebahagiaan tanpa batas..

Dalam hal ini sattwika merupakan bagian dari tri guna maya, yaitu yg lainnya adalah Rajas tamas yang dikatakan akan membuat manusia terlahir menjadi hewan tumbuhan atau masuk dalam neraka yang kelam..

Buddhi sendiri adalah disebut sebagai akal, yg bersama2 dgn ahamkara sebagai ego juga citta adalah wujud kasar purusha yg dikatakan sbagai intuisi..manah dimasukkan kepada buddhi..maka buddhi adalah dasar untuk menuju pada sebuah keadaan yg terbahagiakan ktika mengenal dan dimasuki sattwika, yg lain sprti rajas dan tamas maka bisa membuat manusia turun derajatnya..

Dalam jnana tattwa, pengaruh tri guna sangat besar bagi evolusi manusia untuk menuju kelepasan..dan pengaruh itu dibagi menjadi tiga ruang lingkup besar atas nama tri guna tersebut..Jnana tattwa menyebutkan sebagai berikut :

bila ada buddhi sattwa, sangat menekankan pada hakikat kebijaksanaan, mengamati baik2 sastra, melaksanakan kesamyagjnanan, Sang Hyang Tri Purushalah kelahiran Sattwa yang demikian. Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat Brata tapa yoga samadhi, maka Pancarsilah kelahiran yang demikian. Bila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat puja,arcana, japa, mantra dan puji2an terhadap bhatara, maka saptarsi lah kelahiran Sattwa yg demikian. Apabila buddhi sattwa tidak mengindahkan baik dan buruk, namun kasih sayang pada semua mahluk, Dewarsi kelahiran sattwa yang demikian. Apabila sattwika sangat menekankan terhadap hakikat dharma, kirti yasa kebajikan, maka Dewalah kelahiran Sattwa yang demikian. Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak mempedulikan bahaya, sangat rela iklas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam berprilaku, hanya tenang pikirannya, pikirannya semata mata jernuh, bila akan melaksanakan ketetapan hatinya keberaniannya, maka Widyadaralah kelahiran sattwa yang demikian, apabila buddhi sattwa menekankan pada hakikat keindahan ,senang bunyi-bunyian yg menyebabkan telinga senang, setiap yg indah didatanginya maka ghandarwalah kelahiran sattwa itu…

Disebutkan juga buddhi yg terpengaruhi rajah adalah sebagai berikut :

  • Danawa rajah adalah buddhi rajah ketika ia diberi kata2 tak layak ia marah, dan ia menahan itu karena ada orang lain dan kemudian menangis maka ia kelahiran danawa rajah namanya
  • Daitya rajah adalah ketika buddhi rajah diberi kata tidak baik ia marah namun kemudian ia menjauh dan sambil berkata “paling hebat seharusnya aku ini” ia dapat merendahkanku, ia mengira aku penakut, hanya karena enggan bertengkar, krna aku sayang kebaikan..
  • Raksasa rajah ktika budhi rajah diberikan kata tidak baik kemudian ia marah, gemetar badannya, seketika ia menyerang, lancang kata2nya, lancang tangan, kaki menjerit meraung, dan berkata seenaknya saja..

Dan buddhi tamah adalah sebagai berikut :

  • Bhutayaksa tamah adalah ia tidak resah pada apa yg dimakan, kenyang dengan secabik sayur dan sekepal nasi, seteguk air, atau tuak maka puas hatinya..
  • Kelahiran bhutadengen tamah adalah memilih apa yg dimakan, bukan emas yg diinginkan, gemerlapan ditolaknya namun ktika bertemu makanan sejuklah hatinya..
  • Kelahiran bhutakala tamah dimana ttidak memilih apa yg diingininya, smua daging yg dipandang tak layak dimakan asal membuat kenyang..
  • Kelahiran bhuta paisacha mau makan makanan yg tidak enak gelisah resah ke barat ke timur, dan tertipu lesu namun masih tergila-gila, dan dipasang telingannya ktika mendengar ada makanan.

Dijelaskan selanjutnya adalah sebagai berikut tentang bagaimana sang atman akhrinya mnuju moksah, surga , neraka, atau jatuh menjadi binatang..

  • Ketika bhutayaksa bertemu dengan Dewarsi, Saptarsi, Pancarsi, Tri purusa terang bercahaya buddhi itu maka atman akan mencapai kamoksaan.. 
  • Ketika.bhuta dengen bertemu dengan daitya, widyadara, dewata terang bercahaya buddhi itu, maka iru mnyebabkan mencapai surga..
  • Ketika bhutakala bertemu raksasa, gandharwa bercahaya buddhi itu maka menyebabkan ia lahir menjadi manusia..
  • Namun apabila bhutapaisaca bertemu dengan raksasa terang bercahaya buddhi itu maka atma jatuh ke neraka..
  • Dan ktika hanya.bhutapaisaca yg bercahaya buddhi itu, maka akan menjadi binatang..

Begitulah yang terjelaskan di jnana tattwa, semoga bisa menjadi cermin diri untuk selalu meningkatkan diri sebagai manusia yang memahami arah tujuan akhir pdaNYA..

Guswar des 2017

Kalvatar regions books..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Desember 2017 in agama, sastra

 

Tag: , , , , ,

Catur aiswarya buddi dan neraka loka tattwa

Catur aiswarya buddi dan neraka loka tattwa

Om yamapati pujamkha.. Asvina sarira puja samastanakha.. Mahadewa shanti jayantakha.. Loka samsthana amritam sanjiwani..

Kenikmatan itu memiliki harga,  dalam hal ini bukan dalam hal duniawi,  tapi dalam hal karma.. Setiap kenikmatan dari indriya sejatinya ktika dilaksanakan tanpa satwika guna dan kesadaran dharma,  maka itu hanyalah sementara dan akan mendapatkan balasan nantinya.. 

Dikatakan dalam wraspatti tattwa adalah bahwa terdapat pengendalian atas diri itu agar mencapai buddhi yg waskita juga utama.. Disebutkan bahwa itu terdiri dari empat yaitu catur aiswarya budhi.. Yang mana yang pertama disebut dharma buddhi yg artinya tekun dalam melakukan tapa brata yoga mantra samadhi juga japa..Yang kedua adalah jnana budhi yaitu tekun dalam mencari mempelajari juga memahami akan pengetahuan suci rohani,  Yang ketiga adalah vairaghya budhi yaitu tekun dalam melaksanakan brata atau pengekangan hawa nafsu juga indriya,  yg terakhir adalah aiswarya budhi yaitu hidup dalam keseimbangan.. 

Disbutkan pula pengendalian indriya sejatinya adalah sebuah hal yg dapat membebaskab diri dari jerat neraka loka,  dalam tattwa tentang neraka loka disebutkan bahwa,  mereka yang menggunakan indriyanya secara sembarangan atau juga mengumbar krodha sad ripu,  juga tidak melakukan panca yama niyama brata,  maka akan trrganjar hukuman di beberapa neraka loka sapta patala loka.. 

Seperti neraka dimana ada dicongkel matanya karena tidak menggunakan mata secara benar,  lalu juga karena melihat sesuatu yg tak layak,  maka akan dicongkel matanya di neraka oleh bala tentara yamapati.. Disebutkan itu selama beberapa tahun dan setiap hari dilalukan,  kemudian setelah menjerit kesakitan dipasang lagi matanya setelah minum air tirtha penyembuhan,  dan lagi dicongkel sampai waktunya selesai.. 

Ada tattwa lagi yg menyebutkan tangan dipotong karena mencuri korupsi atau juga melakukan kekerasan,  ada yg juga lidah dipotong karena senang mengadu,  ada dikuliti karena tidak tahu malu,  atau mungkin ada dipotong kelamin karena tidak bsik menggunakannya atau selingkuh,  ada yg ditusuk telinganya karena senang mendengar hal yg tidak benar, ada yg ditusuk mulutnya karena selalu marah marah, ada yg dimakan oleh kumbang2 menjijikkan karena menyebarkan ajaran yg sesat dan meramal untuk mendapatkan uang saja,  atau seorang penyembuh yg berbohong untuk uang dan menjerumuskan.. 

Ketika diri sudah mengetahui tentang tattwa itu,  lalu kemudian menyangkalnua,  bisa jadi akan ada hal yg lebih buruk diterima lagi ktika tidak mampu mengendalikan indriya..Dalam hal ini ktika telah mengethui,  maka cara menebusnya bisa dengan melaksanakan catur aiswarya buddhi itu.. Karena tidak mudah melaksanakan brata dan yoga catur aiswarya.. Melaksanakan tapa brata sbagai dharma buddhi bisa jadi akan melenyapkan kotoran2 jiwa yang mungkin akan terselamatkan di alam kematian nanti.. Selain itu pengetahuan rohani atau jnana juga membebaskan,  dan pelaksanaan panca yama niyama bratha.. 

 https://linggashindusbaliwhisper.com/2017/02/26/susila-panca-yamanyama-bratha-dari-nitisastra/

Melaksanakan catur aiswarya buddhi adalah sebuah perjalanan menuju kelepasan dalam hal2 duniawi yg menjerumuskan,  keseimbangan itu perlu namun jangan lupa atas kebenaran hukum karmapala yang agung.. Ktika seseorang tau akan itu,  namun tetap menyangkalnya karena egonya karena ksenangan duniawinya,  maka bisa jadi Ia akan mendapatkan sengsara di kehidupan nanti kelak.. Dan semoga kita semua terselamatkan.. 

Swaha shanti guswar.. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 November 2017 in agama, doa

 

Tag: , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: