Om swastiastu awighnam astu namo sidham, wijnana ning atma lokhantam, suci hring dharmika guna mana-wak-kayika parisudha, ksama sampurna ya namo nama swaha..

Sancita karmapala manusia menggambarkan bahwa suatu kelahiran memiliki bibit pola kesadaran di masa kehidupan yang lalu. Pola-pola kehidupan sang diri yang terlahir, menjadi bagian sang diri, menjadi bakat-bakat tertentu, serta setidak ketika diketahui dapat mengungkap potensi diri. Ruang refleksi yang dapat memberikan solusinya sendiri pada kebiasaan kehidupannya.

Pewatekan wariga adalah pola konsepsi kepribadian berdasarkan hari kelahiran. Meskipun ini hanya memberikan suatu perspektif kepribadian, namun watak manusia yang abstrak saat lahir dapat dipahami untuk menjadi landasan awal perkembangan kehidupan. Tipe kepribadian banyak dibahas pada teori-teori psikologi, seperti mbti turunan dari psikoanalisa jung, 12 arketipe pearson, 4 temperamen hippokrates, enneagram dan lainnya. Pewatekan wariga dalam hal ini wewaran, sepertinya bisa memberikan informasi awal tentang kepribadian seseorang.

1.Arketipe berdasarkan Tattwa Jnana

Hereditas atau bawaan lahir, belum mampu dipahami secara mutlak, akan tetapi pola awal itu bisa didefinisikan untuk memberikan ruang konstrukstif terhadap perkembangan mental dan jiwa. Ranah moralitas, etika sosial, termasuk injeksi universitas dharma secara internal menuju kebijaksaan hidup. Kebersadaran sedari awal menciptakan ruang waktu yang lebih banyak untuk menawarkan bahasa perjalanan kehidupan seseorang memahami sang diri.

Kemudian mengenai tentang jiwa, atau pengetahuan tentang tubuh halus (psike) manusia, psikoanalisa memberikan bagian-bagian kesadaran. Kesadaran yang berisikan bagian lapisan-lapisan tertentu. Oleh Jung menyebutkan tentang alam sadar, alam bawah sadar individu, serta alam bawah sadar kolektif, yang memberikan gambaran bagaimana jiwa berisikan posisi  struktural. Alam bawah sadar kolektif memberikan konsep struktur jiwa yang secara umum memiliki karakteristik yang mirip dari berbagai lintas budaya. Disebut sebagai arketipe, yang pada jiwa manusia secara umum,tampak memiliki kemiripan tertentu. Simbolisme tentang ibu divinitas, karakter hero, antagonis, the fool, trickster, iblis, anima animus, dan seterusnya. Arketipe itu dikuatkan kembali pada ruang kehidupan, pada berbagai kisah, ritual religi, cerita turun-temurun, etika normatif di setiap budaya yang ada. Hal itu pun memberikan pemaknaan bahwa konsep hereditas pewatekan wariga dapat menggambarkan arketipe terkait.

Dalam tattwa kearifan lokal, yaitu tattwa jnana, ada konseptual suatu arketipe yang bisa menunjukkan karakteristik individu. Kembali lagi dalam Jnana Tattwa disebutkan pada slokanya tentang sifati yang memengaruhi jiwa manusia. Maka dapat disebutkan sifat Dewata di manusia itu seperti barisan sloka berikut :

“Bila ada buddhi sattwa, sangat menekankan pada hakikat kebijaksanaan, mengamati baik2 sastra, melaksanakan kesamyagjnanan, Sang Hyang Tri Purushalah kelahiran Sattwa yang demikian.

Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat Brata tapa yoga samadhi, maka Pancarsilah kelahiran yang demikian. Bila buddhi sattwa sangat menekankan pada hakikat puja,arcana, japa, mantra dan puji2an terhadap bhatara, maka saptarsi lah kelahiran Sattwa yg demikian.

Apabila buddhi sattwa tidak mengindahkan baik dan buruk, namun kasih sayang pada semua mahluk, Dewarsi kelahiran sattwa yang demikian. Apabila sattwika sangat menekankan terhadap hakikat dharma, kirti yasa kebajikan, maka Dewalah kelahiran Sattwa yang demikian.

Apabila buddhi sattwa sangat menekankan pada keberanian, keperwiraan, ketangkasan, tidak mempedulikan bahaya, sangat rela iklas pada jiwanya, sombong hendak membunuh mengalahkan dirinya sendiri dengan kasih sayangnya, bhaktinya, tak bingung dalam berprilaku, hanya tenang pikirannya, pikirannya semata mata jernih, bila akan melaksanakan ketetapan hatinya keberaniannya, maka Widyadaralah kelahiran sattwa yang demikian,

Apabila buddhi sattwa menekankan pada hakikat keindahan ,senang bunyi-bunyian yg menyebabkan telinga senang, setiap yg indah didatanginya maka ghandarwalah kelahiran sattwa itu”…

Jadi dapat disebutkan psikologi sifati dewata pada manusia dapat disimpulkan sebagai berikut :

Arketipe kebijaksanaan pada Manusia adalah:

1. Sang Hyang Tri Purusha sifatnya senang mempelajari sastra, melaksanakan hakikat kebijaksaan, serta mempraktikkan pula jnana yang memberikan keseimbangan dan keserasian, itu sifati dewata di dalam diri.

2. Sifati Sang Pancarsi yaitu tekun dalam melaksanakan hakikat tapa brata yoga samadhi.

3.Sifati Sapta Rsi adalah tekun akan pelaksanaan puja, arcana, japa, mantra, dan pelantunan puji-pujian terhadap bhatara bhatari.

4.Sifati Dewarsi adalah sifat yang tidak mengindahkan baik buruk, namun memiliki kasih sayang terhadap semua mahluk.

5.Sifati Dewa adalah sifat yang tekun dalam melaksanakan dharma, dan kebajikan.

Kemudian ada disebutkan sifati yang lekat dengan sang jiwa manusia.

1. Sifati Widyadara adalah sifat pemberani tanpa takut, rela berkorban, namun menunjukkan kasih sayang.

2.Sifati Gandharwa adalah sifati yang menyenangi keindahan, senang akan bunyi-bunyian dan seni.

Lalu ada sifati manusia yang mengarah ke rajas tersebutkan dalam sloka ini :

“Danawa rajah adalah buddhi rajah ketika ia diberi kata2 tak layak ia marah, dan ia menahan itu karena ada orang lain dan kemudian menangis maka ia kelahiran danawa rajah namanya
Daitya rajah adalah ketika buddhi rajah diberi kata tidak baik ia marah namun kemudian ia menjauh dan sambil berkata “paling hebat seharusnya aku ini” ia dapat merendahkanku, ia mengira aku penakut, hanya karena enggan bertengkar, krna aku sayang kebaikan..
Raksasa rajah ktika budhi rajah diberikan kata tidak baik kemudian ia marah, gemetar badannya, seketika ia menyerang, lancang kata2nya, lancang tangan, kaki menjerit meraung, dan berkata seenaknya saja

3. Sifati Danawa yang ketika kesal namjn menahan diri, kemudian bisa menutupi kemarahannya itu.

4. Sifati Daitya yang ketika ada yang membuatnya marah lalu ia bisa menjauh menghindari konflik, namun dalam hati masih mendongkol.

5. Sifati Raksasa yang ketika ada yang membuatnya marah, kemudian ia pun kesal dan menyerang, mengumpat yang marah.

Ini adalah sifati yang dipenuhi rajasika guna.

Lalu ada disebutkan pula sifati yang diliputi bhuta tamah.

Dan buddhi tamah adalah sebagai berikut :

Bhutayaksa tamah adalah ia tidak resah pada apa yg dimakan, kenyang dengan secabik sayur dan sekepal nasi, seteguk air, atau tuak maka puas hatinya..
Kelahiran bhutadengen tamah adalah memilih apa yg dimakan, bukan emas yg diinginkan, gemerlapan ditolaknya namun ktika bertemu makanan sejuklah hatinya..
Kelahiran bhutakala tamah dimana tidak memilih apa yg diingininya, smua daging yg dipandang tak layak dimakan asal membuat kenyang.
Kelahiran bhuta paisacha mau makan makanan yg tidak enak gelisah resah ke barat ke timur, dan tertipu lesu namun masih tergila-gila, dan dipasang telingannya ktika mendengar ada makanan“

Sifati Bhuta Bhuti yang terdapat dalam Jnana Tattwa adalah :

1. Sifati Bhuta Yaksa adalah ia bisa menjaga rasa laparnya, dan puas dengan apa yang ada.

2. Sifati Bhuta Dengen adalah Ia yang lebih memilih makanan dari pada gemerlapan dunia, dengan makanan saja ia sudah cukup puas.

3.Sifati Bhuta Kala memakan apa saja, apa pun itu walaupun tidak layak belum tentu bisa dimakan, asal ia bisa kenyang.

4.Sifati Bhuta Paisacha ia yang makan apa saja, sampai hanya itu yang di pikirannya, sampai makan yang tidak enak, dan telinganya pun sensitif dengan kata makanan.

Konsep dari tattwa jnana menyebutkan tentang kelahiran manusia memiliki karakteristik paling tidak tiga kondisi. Yaitu sifat dewa, sifat manusia, dan sifat bhuta. Kombinasi terbaik dari itu akan menciptakan kehidupan yang berpahala ke depannya.

2.Pewatekan Wewaran Koneksinya dengan Arketipe Psikoanalitik

Konsep pewatekan wewaran terdiri dwi wara sampai dasa wara. Penggunaan wewaran sebetulnya hanya salah satu bagian dari pewatekan wariga, disamping itu ada menggunakan pawukon, pranata mangsa (sasih), atau konsep kelahiran lainnya. Namun secara mendetail dan secara empiris, menunjukkan bahwa pola dasar kepribadian sebagai landasan awal untuk pemahaman tentang sang jiwa tersebut.

Kemudian ada suatu definisi yang similaritas dengan arketipe psikoanalitik untuk mendefisinikan kebersadaran, dengan pewatekan wewaran. Sebagai contoh pepet yang introvert atau menga yang ekstrovert, atau kala wewaran melambangkan antagonisitas, brahma yang melambangkan energi penciptaan. Untuk ini penggunakan 12 arketipe dari Pearson bisa memberikan pemahaman lebih konkrit yang terintegrasi dengan pewatekan wewaran.

12 Arketipe Pearson
1. Innocent (Si Polos)
Motto: Hidup itu sederhana dan baik
Keinginan: Bahagia, aman
Takut: Dihukum, melakukan kesalahan
2.Orphan / Regular Guy or Girl (Si Biasa)
Motto: Semua orang setara
Keinginan: Terhubung dengan orang lain
Takut: Ditolak atau ditinggalkan
3.Hero (Pahlawan)
Motto: Jika ada kemauan, ada jalan
Keinginan: Membuktikan nilai diri melalui aksi
Takut: Kelemahan, kegagalan
4.Caregiver (Pengasuh)
Motto: Cintai sesamamu
Keinginan: Melindungi dan merawat
Takut: Egoisme atau ketidakpedulian
5.Explorer (Petualang)
Motto: Jangan terkurung
Keinginan: Kebebasan dan menemukan jati diri
Takut: Kehilangan kebebasan
6.Rebel / Outlaw (Pemberontak)
Motto: Aturan dibuat untuk dilanggar
Keinginan: Mengubah sistem
Takut: Tidak berdaya
7.Lover (Pecinta)
Motto: Ikuti hatimu
Keinginan: Kedekatan dan hubungan
Takut: Kesepian atau ditolak
8.Creator (Pencipta)
Motto: Jika bisa dibayangkan, bisa diciptakan
Keinginan: Menciptakan sesuatu yang bernilai
Takut: Mediokritas
9.Jester (Penghibur)
Motto: Nikmati hidup
Keinginan: Bersenang-senang
Takut: Membosankan
10.Sage (Bijak)
Motto: Kebenaran akan membebaskan
Keinginan: Memahami dunia
Takut: Ketidaktahuan
11.Magician (Penyihir/Transformator)
Motto: Segalanya mungkin
Keinginan: Transformasi
Takut: Konsekuensi negatif dari perubahan
12.Ruler (Penguasa)
Motto: Kendalikan segalanya
Keinginan: Stabilitas dan kekuasaan
Takut: Kekacauan.

Kemudian tentang bakat yang bisa termaknai dari kearifan lokal, keadaan
tersebut bisa ditemukan dari konsepsi kelahiran yang membawa sancita karma dari
pemaknaan pewatekan wariga-nya. Pewatekan artinya adalah suatu watak atau
kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Dalam Pewatekan Wewaran maka dapat
dijelaskan sebagai suatu watak atau kepribadian yang didasarkan oleh hari lahirnya,
yang mengarah pada siklus wewaran sampai dengan dasa wara. Dapat dijelaskan
pada hari kelahiran seseorang, maka pewatekan atau watak yang dibawa adalah
sebagai berikut (Wardana, 2025 : 58):

  1. Eka Wara – Luang kosong.
  2. Dwi Wara –
    • Menga – Mudah Bersosialisasi.
    • Pepet – Tertutup orangnya.
  3. Tri Wara-
    • Pasah – Senang Berbicara, mudah berbohong.
    • Beteng – Senang dalam Pemujaan.
    • Kajeng – Senang bicara, susah memegang uang, boros.
  4. Catur Wara-
    • Shri – Suka kedamaian, suka kebersihan.
    • Laba – Hatinya Baik, rajin dalam bekerja, banyak bicara, tau kesusilaan.
    • Jaya – Tetap pendirian, keras kepala, punya rasa iri, susah mencari kepuasannya.
    • Mandala – Suka bersenang-senang, kurang cerdas harus banyak belajar.
  5. Panca Wara –
    • Umanis – senang berbicara, terkadang sewenang-wenang.
    • Pahing – Rajin, sering merenung.
    • Pon – Senang guyon, dan suka mencari kawan.
    • Wage – Lain mulut dan hatinya, kurang setia, tidak bisa hidup sengsara, namun rajin bekerja.
    • Kliwon- Senang bekerja, dan membangun.
  6. Sad Wara –
    • Tungleh – Sering berbohong, terkadang bikin malu serta bimbang.
    • Aryang – Sering lupa akan sesuatu.
    • Urukung- Pikun.
    • Paniron – Tau akan tata susila.
    • Was – Orangnya ceria, serta banyak punya pengalaman.
    • Maulu – Sering marah.
  7. Sapta Wara –
    • Redite ( Minggu) -marah sekali ketika ada yang merendahkan, senang berpunia, dermawan.
    • Soma (Senin) – polos, setia, dicintai oleh orang lain, sering sedih, senang bercocok tanam.
    • Anggara (Selasa)- rajin bekerja, dan tekun ketika melakukan sesuatu yang penting.
    • Budha (Rabu) – orangnya polos, suka kebersihan, tau susila, dan pintar menabung.
    • Wraspati (Kamis) – orangnya adil, apa pun tugasnya akan diselesaikan, dermawan, tidak sayang dengan hartanya.
    • Sukra (Jumat)- senang bercocok tanam.senang bermeditasi, orangnya susila dan santun, namun agak malas.
    • Saniscara (sabtu) – cerdas, bisa sebagai tempat perlindungan, cepat belajar.
  8. Asta Wara-
    • Srhi – Punya niat baik, sejahtera, tidak kekurangan.
    • Indra- Punya niat tersembunyi, berpangkat.
    • Guru- Niatnya tulus, empati terhadap orang lain, perkataannya dituruti.
    • Yama- Niatnya kurang baik, perkataannya menusuk, dan membuat orang sedih.
    • Rudra- Sering marah, dan sering sakit.
    • Brahma-Sering marah, dan tidak suka direndahkan, diejek.
    • Kala- Serakah, dan membuat orang sedih.
    • Uma- Sering Iri, pendiam, tetapi tau tentang firasat.
  9. Sanga Wara
    • Dangu – Kurang cerdas
    • Jangur- kasar dan sombong.
    • Gigis – rendah hati, sederhana
    • Nohan-Suka kedamaian, tidak suka ribut.
    • Ogan- senang dengan barang orang lain, ulet orangnya.
    • Erangan – Pintar namun sering marah.
    • Urungan- Sering marah, yang membuat dirinya susah.
    • Tulus- apa yang diinginkan biasanya didapat.
    • Dadi – Apa yang diinginkan didapatkan, serta beruntung.
  10. Dasa Wara
    • Pandita – Senang kebersihan, cerdas, dan berwibawa.
    • Pati-Sering mendapat kesusahan
    • Suka – Bersyukur dan mendapatkan bahagia.
    • Duka- Sering sedih.
    • Sri- Suka menolong, dan cinta kasih.
    • Manuh – pendiam , dan gampang percaya dengan omongan orang.
    • Manusa – Sering bersedih.
    • Raja- Cerdas dan senang mengobrol.
    • Dewa – Berwibawa, dan cerdas.
    • Raksasa- kurang cerdas. serakah, dan sembrono.

Kemudian terlihat bahwa ada suatu spesifikasi tersendiri dari karakteristik yang lahir pada hari tertentu. Itu tercantum dalam pewatekan wewaran, yang pada dasarnya menjadi pola dasar dan landasan awal untuk memahami psikologi kepribadian, dan pengembangan diri, sebagai ruang reflektif terhadap pengetahuan mentalitas diri.

Selanjutnya informasi awal ini dapat berintegrasi dengan makna yang ada pada arketipe Pearson. Integrasi itu memberikan bahasa yang konstruktif terhadap pemahaman jiwa dari segi budaya sehingga lebih adaptif. Dan relevan terhadap perkembangan jaman generasi selanjutnya.

Tabel 12 Arketipe Pearson dengan Pewatekan Wewaran

Jadi integrasi yang bisa dimaknai secara mendalam adalah bahwa ada ruang adaptif yang positif, untuk menguatkan posisi pengetahuan wariga pada pengembangan yang konstruktif khususnya di psikologi kepribadian. Arketipe-arketipe tersebut dapat menjadi pola yang relevan terhadap perkembangan pengetahuan yang ada. Dan tentu menjadi landasan awal untuk membentuk konsep hereditas pembawaan kelahiran secara integratif.

Terakhir adalah konsep hereditas yang masih abstrak sebagai bagian bakat tertentu yang secara individu memberikan internalisasi yang positif pada kehidupannya. Hereditas dalam konteks arketipe-arketipe diri, dapat menjadikan landasan untuk memberikan ruang reflektif diri dan penemuan aktualisasi sang diri untuk bisa menjadi manusia yang seutuhnya.


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca