RSS

Arsip Bulanan: Juni 2014

Aktualitas Sila Pertama Pancasila..(membungkam intoleransi)..

Sahadja pancasila jaya negara samastha..amin

20131028-234625.jpg

Seperti diketahui bahwa Pancasila adalah bukan sekedar ideologi tanpa makna..Tapi merupakan kendaraan atau wahana untuk mencapai suatu kedaulatan tertinggi berdasarkan moralitas harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan…

Tuhan menciptakan menusia dengan keniscayaan serta keadaan yang pelangi,yang berbeda yang bermacam – macam warna apa pun itu..Lalu bagaiman itu berjalan dengan seimbang damai dan berkelanjutan sebagai dasar pemahaman spiritualitas yang kuasa, maka itu perlu menjadi sugestifitas kelayakan hidup sebagai manusia yang bertuhan baik secara etika secara filsafati dan keluhuran berkehidupan.

Maka sebuah keberharusan namun menuju kebijaksanaan hati bahwa privasi hubungan antara tuhan dan umatnya adalah keniscayaan dan daulat dari tuhan serta semesta juga. Hal itu sudah terdapat secara sahih fakta dan diamanatkan oleh pancasila sendiri, melalui butir-butirnya. Ini adalah sebuah keharusan ketika malah penjajahan dari ideologi itu sprti sebuah garis kehidupan yang suram pula dan menutup mata hati batin para pemegang jabatan pemerintahan. DOsa-dosa itu masih diingat dan tak akan pernah lenyap. Karena ketika itu tidak menjadi suatu bahasan filsafati dan prilaku yg baik pancasilais, maka mereka adalah sebenarnya benalu penjajah kekuatan bangsa indonesia sendiri..

Untuk penjajah yang menjajah sila pertama adalah ini:

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atas Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mutlak. Namun taqwa artinya adalah disesuaikan dengan apa yang dipercayai. Taqwa atas etika atas ritualitas adalah berbeda. Karena Sakralitas dan profanitas dari setiap agama berbeda.DI satu sisi sajadah adalah sakral, di satu sisi dupa adalah baik dibutuhkan , namun ketika sakralitas itu direndahkan dengan mencemooh apa pun sesuai pemahaman dari kitab2, maka kitab adalah sebuah sakarilats di tempat agama A tetapi tidak di agama B. Maka jangan ketika itu berbeda membuat keyakinan menjadi berkurang dan malah lenyap atau menuju ketidak beradaban. Ketika seni dan budaya adalah soal rasa, maka tidak ada lebih bermakna bagi rasa dari seni budaya menuju kepada rasa yang cinta akan tuhan itu sendiri. Bukankah rasa itu lahir dari cinta atas sifat kedamaian akan Tuhan? itu aktualitas makna kebersamaandan memperbesar bangsa secara sekaligus.

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Maka ketika ini adalah sebuah hambatan akan keberadaban, maka biadab adalah aktualitas manusia penjajah. Mereka tutup mata akan itu, ketika seni sebagai keberadaban dan adil akan kebebasan beritual, tanpa merendahkan sakralitas agama lainnya, maka DURkheim pun mengiyakan surga damai itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan. Sangat mudah, ketika memberi selamat memberi kebebasan sebagai saudara sebangsa setanah air dengan ilmu filsafati, haqiqat, cinta kasih tuhan, ilmu syariat dan minggu kebaktian dengan waisak, atau tarekat serta japa, dan pula moksah mahrifat, maka ketika itu berkembang dengan sakralitas yg dijaga, apakah manusia indonesia nusantara akan terjadi kekerasan agama??

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Maka aktualisasi itu adalah privasi, dan apakah itu menjadi kenyataan, maka kebijaksaaan dari yg melakukan ritualitas yg beretika berfilsafati tinggi serta menghormati adalah sebuah sikap mulia yg dibalikkan dengan rasa hormat yg lebih tinggi..

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sikap fundamentalis serta menghanguskan atau menganggap rendah yang lainnya adalah bagian yg dikembalikan dengan sikap yang sama pada akhrinya..Ketika aktualisasi itu sngatlah mudah, memberi selamat saat hari raya, maka mengurangi ego keagamisan yg bengis, menjadi sikap hormat menghormati serta meniadakan kebodohan yang membelenggu dari kualitas manusia yang bertuhan.. Tidak ada tuhan pada manusia yang mengmban misi penghancuran. Secara logis dan mudah adalah, manusia akan mendapat apa yang dia tanam, tidak ada menanam nanas tumbuh rambutan, tidak ada yang menanam benci tumbuh kedamaian kecintaan kesukaan, tidak ada yg menanam dukha lalu mendapatkan cita suka ria, itu tidak logis dalam agama apa pun..Ketika ada yg menghancurkan kedamaian, maka ada beberapa kesimpulan.

1. Apakah mereka menghabiskan WAKTU untuk mmpelajari kedalaman keramahan kedamaian kitab sendiri, atau cuma belajar menebar kebencian, dan prasangka, lalu berharap surga….itu parah dan gila yang telah medogmatis mereka, ajaran agama tidak cukup dipejari dengan satu kali kehidupan dan lalu dengan mudah mendapat surga serta meninggalkan jejak kehancuran di yang ditinggalkan…itu bukan agama…itu setan…

2. Lalu evolusi keagamaan, bukan saja dari ritualitas, tapi dari etika moralitas akhlak (islam) susila (hindu) buddhi(kjawen) manusia nusantara juga, dan ritualitas – syariat (islam), yadnya (hindu) kebaktian (nasrani), serta dari filsafati itu sndiri tattwa (hindu), haqiqat( islam), dan menuju kebersatuan illah dan manusia ..mahrifat(islam) moksartham (hindu) manunggal kawula gusti (kjawen)..Itu adalah evolusi yg saya rasa universal dan spirit..Itu tidak hanya menjadi senjata akan mentalitas moral yg tinggi dan melihat setiap manusia sebagai saudara sedarah seperjuangan..

3. Kemudian dari pihak pemerintah yang cenderung mnjadikan pembiaran karena apa??apa karena takut, atau karena kedangkalan dari pemahaman mereka tentang moral itu sendiri.. FIlsafat moral adalah harus diterapkan dimengerti dari para pemimin jabatan.. Ketika agama sebagai moralitas tertinggi, tentunya adalah kebobrokan mental dan evolusi yang rendah atas pemahaman spirituaitas mereka.. Dan sangat terbukti dari kasus2 korup dari para petinggi agama.. Itu memalukan bangsa, memalukan negara memalukan umat, dan memalukanrakyat dan Tuhan itu sendiri.. Maka Keadilan tuhan bisa jadi mnjadi keadilan rakyat dan bahkan bisa dipaksakan.. Bukankah revolusi sudah sering dan pernah terjadi??namun mental yang direvolusi dengan cermin serta kontemplasi akan membawa kesadaran serta keniscayaan.. TIADA ADA YANG BISA MELAWAN KETETAPAN DAN KEADILAN TUHAN ESA

 

DAn Itu adalah kemutlakan serta keniscayaan indah damai di masa depan, Aktualisasi yang paling hakiki adalah menerapkan hukum pancasila sebagai media kontemplasi dan bercermin UNTUK MENCARI KEBENARAN BERKEBANGSAAN. Lalu ketika itu telah dilaksanakan, maka KETETAPAN TUHAN LAINNYA adalah disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing..TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR, DAN TUHAN PASTI ADALAH KEADILAN..

Maka selayaknya kedamaian itu hadri, dari “DIRI” yang laksana Illah, dan kemudian menuju KETERWUJUDAN Lingkungan ILLAH di keluarga, masyarakat, dan Bangsa bernegara..

 

SALAM

TAPI “AKU” TAK PERNAH MATI

TAK AKAN BERHENTI

 

“Kami tidak TAKUT”..

gwar juni 2014

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2014 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , ,

Ciri ciri manusia berdasarkan Tri Guna..

Om tyambakam jayamahe..

Snthi sahajahtra ning eling…

Mahajaya devantara jagat …

Rahayu raharja saktya amartha Sanjihwani…

Jahya om..

Maya dari ilhaiah adalah sesuatu yang sangat mendasar. Sehingga dengan mengenalnya, maka dikatakan dalam Upanishad bahwa akan mendapati dirinya keberpahaman untuk mengelola Maya itu menjadi sarana pembebasan, penyadaran tentang “diri”.

Diri adalah suatu kondisi yang berada pada keseimbangan atau berisikan suatu ketidakseimbangan, sesuai dengan wicara,fikir, serta laksana.. Maka ketika itu menjadi suatu perwujudan atmanikam (pancer), Citta, Buddhi, Ahamkar (sedulur papat). Maka itu sebagai bagian Atman yang meliputi dirinya dengan bhakt, kebaktian, bhakta serta kejayaan akan mengenal Diri sebagai buana Alit, Buana Agung yang menyatu bagai atman brahman aikyam..

Maka Maya, seprti dalam bhgawadgita menyabdakan adalah Tuhan menciptakan Tri GUna sifati alamiah dunia, namun Tuhan tiada ada di sana dan Itu tiada ada di Tuhan. Seperti itu sampai mereka semua memahamiNya, sesampai mereka menyadarinya, dan hidup dalam ketersadaran ilahiah.. Namun ketika mereka menyadari, maka itu membuka pintu karma pahala, entah itu baik atau buruk. Dan itu sebagai bagian penyucian lahirian dn batiniah, atau penghancuran karma yang buruk..

Maya sendiri terdiri dari tiga..Yaitu Sattiwka, Rajahsika, Tamasikah…

***Sattwika sendiri adalah sifat kebijaksanaan, kebaikan, kebajikan.. sehingga ketika badaniah yang mengikuti suksmaning rahsa sajadha akan membawa mereka pada keluhuran buddhi, dan membuka citta menjadi memori yang mengindah dari kekuasaan Atmaning Jahya Manikam, dimana sedari dulu tanpa pernah pergi berasal dari brahman.. Maka mereka yang memiliki sifati sattwika dibagi sebagai berikut :

Sattwika Prakerti

1.Sattwika Brahma : Kepribadian manusia yang suci, cinta kebenaran, tulus dalam berbagai usaha, rajin sembahyang memuja Tuhan, ramah tamah terhadap tamu, senang giat belajar untuk menambah ilmu.

2. Sattwika Mahendra : Yang memiliki kepribadian yang masyur dan berani, sabar, setia kepada pelajaran veda, bersikap baik terhadap para sahabat atau pun kepada lawan.

3. Sattwika Varuna : Menyukai dingin, toleran, warna rambut kurang hitam, dan suka berbicara. Maka mereka menyerap “guna” baik dari alam buana agung sehingga mengubah pencirian mereka.

4. Sattwika Kaubera : Senang jadi perantara, toleran, kaya, mempunyai kemampuan untuk berdagang (menyalurkan barang).

5. Sattwika Gandharwa : Menyenangi wewangian, gemar musik seni dan tari, suka berpindah tempat kerja dan memberikan suasana keindahan di tempat yg telah ditinggalinya.

6. Sattwika Yama : taat melakukan yadnya ibadah, kuat dalam beraktivitas, tidak kenal takut, ingatan dan kesucian kuat, bebas dari keterikatan dan ketakutan.

7. Sattwika Arsa : Taat menjalankan upacara keagamaan, membujang, tidak kawin, mengetahui spiritualitas, dan materialnya tinggi.

**Rajasikam Prakerti adalah sifat yang dengan prilaku keras, agresif, agak rakus, energik, dan mendahulukan kemenangan tanpa pikiran dan kebijaksanaan.. Maka rajasikam ini ketika tanpa dibarengai sattwam, akan membawa dan menjauhi kedamaian itu sendiri. Mengapa??karena pada dalam dirinya akan menyebarkan ketakutan dari pada alam..Ketika mereka menyuarakan itu tanpa kebenaran adalah menjadi sesuatu yang membibitkan kehancuran dan ketidakdamaian..Namun dengan sattwikam, maka ini bisa menjadi sesuatu bekal dan perisai bagi kebenaran itu sendiri..

1. Rajasikam Ashura : sifat berani, kejam, iri hati, menakutkan, menyendiri senang, senang mengisi perut..

2. Rjaikam Sarpa : seprti ular, bermulut tajam, suka memperdayai orang, tetapi penakut, cerdas, senang bergerak dan makan..

3. Rajasikam Sakuna : seperit burung, suka seks, sering makan, pemarah, dan tidak stabil..

4. Rajasikam raksasa : berpikri individualitis, pemarah, iri hati, tidak gemar religiusitas, gemar memuji diri sendiri..

5. Rajasikam Paisaca : SUka mencuri makanan, senang dengan keberanian sehingga puas akan kemenangan tapi tidak kebenaran, cinta pada wanita, tetapi pemalu..

6. Rajasikam Praita : tidak suka membagi kesenangan, agak pemalas, watak sedih, pencemburu, tamak, kurang suka beramal

Menyadari itu akan membawa mereka yang rajasikam menuju neraka, baik di dunia maupun nanti di tempat lain (tegal penangsaran, titi ugalagil, dsb. Namun ketika itu kepribadian membiasakan diri berlaku dharma dan sattwikam, maka secara otomatis akan membalikan kepridian diri menjadi tameng kebenaran,, Dan karma akan dibersikan dan disucikan sesuai dengan apa yg telah dilakukan digariskan..

** Tamasikam Prakerti ..adalah tipe cuek bebek dan pemalu, pencemburu, agak kurang cerdas..

1. Pasava : seperti binatang tidak beradab, dan biadab.. kurang cerdas melempem, gemar berseksualitas, tidak taat pada aturan..

2.Matsya : seperti ikan, mental kurang stabil, tidak bijak, pengecur, gemar merusak milik orang lain..

3. Vanapatya : seperti tanaman, tinggal di satu tempat saja, gemar hanya mengambil makanan tapi tidak suka memberi , (beryadnya)..kurang paham akan catur purusha artha (dharma) artha kama moksah..

Maka ketika itu menjadi kepribadian karena daya guna mereka sendiri, bhgawadgita bersabda… Maka Diri Yang telah mengenaliNyA akan tiada berpikir bahwa mereka melakukan sesuatunya secara sadar, karena sebenarnya adalah AKU (ruh utama) serta pengaruh dari Maya yang melakukannya.. Mereka yang berpikir telah melakukan kegiatan karena dia sendiri yang melakukannya, sebenarnya telah merosot, kecuali mereka tahu bahwa maya adlaha yang membuat mereka bergerak.. Dan AKU(kepribadian Yang Maha KuASA ESA), yang menghubungkannya itu sebagai pemahaman yang mutlak..

Salam gwar…
image

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2014 in Tak Berkategori

 

Tag: , , , , ,

Tri sadhaka(wedha) dalam Korelasi dengan Catur Wa(r)hana..

image

Sebuah konsep ini yg dileburkan oleh batin yang pinihin suhci maka,

Tri sadhaka terdiri dari pinihandita saiwa sidhanta yg menyomyakan swah sajian menuju alam hyang utama shiwa lokya kamoksan ning suhci..

Pinihanditya yg menyomyakan bhuwah ke swah adalah pinihandita buddha buddhi saktya sahadaning sahadja..

Pinihandita bhujangga waisnawa bahruna IKa adalah pinihandita yang menyomyakan bhur ke bwah, makaningka satu IA mereka dan ketika tiada satu maka merosotlah itu kesucian dirhgayusa rahayu raharja…

Kemudia catur wahana adalah
Sudhraha, sahdra sahudara…adalah sidhaning karya…ten wnten ina ika rahga suci, maka itu mereka tiada karya yang sidha…

Waisnawasya shri jagat rambut sadhana….adalah ketika mereka tiada melaksana, maka kesusahan pada bahan2 yg menuju kesucian artha

Mereka membawa ksucian bhwana bhujngga waisnwaning dwijati..

Kstria buddhi lan pinihandita brhman brhmana laku saktya adalah satu namun berdua adalah kesatuan yg mutlak ada…
Maka kstrhya ning mahotamma di pandu oleh bhasma bhismaning dharma…menuju widhara widura widhari…tanpa mata bhatin maka hanha mnjadi dasarksyatha…sepulu ketidak bijaksanaan..

Maka buddhining raga mnjadi ia pinihandita buddha…untuk membudikam hati batin kshtrya hyang agung…untuk tidak buta dan mengrluarkan bijak bajik mereka..itu ritual yg agung…

Maka mahadev shaivaning pinihandita ksrtya,,,adlaah perpaduan antara itu berdua tapi satu ika…esa dan mereka satu tapi dua namun tiga makna tri kona…maka hnya dngan ksucian hyang dinikmati turun menurun hrus mereka jaga…krna mereka ada di kepala brhamning waisnawa prjapatya…dan hati ning manunggal rind dewata nawa sangha adalah ida pinihandiya saiwa sidhanta..

Smoga ada berguna wibhuti ini..

Slam gwar
raditya langkir juni 2014

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juni 2014 in agama, budaya

 

Tag: , ,

 
%d blogger menyukai ini: