Om Shiva suci nirmala ya namo nama swaha, Maha Brahma Prajapati uttpeti ya namah, Shanti Wisnu cakra sahanjata laksana, rahayu kala sukha bagya raharja pahala..

Semoga selalu dalam kebahagiaan. Manusia hadir ke dunia adalah atas berkat semesta raya. Dalam hal ini manusia ditentukan oleh berbagai pola-pola energi ruang dan waktu. Energi ruang dan waktu yang dapat dikatakan sebagai bagian Prakerti Tuhan. Prakerti Tuhan itu disebut dengan Maya Guna sebagai bahan untuk mencipta semesta raya ini. Semesta raya ini adalah lahir dari kekuatan Cadu Shakti Hyang Purusha, dalam kondisi Saguna Brahman. Cadu Shakti itu adalah Prabhu Shakti, Wibhu Shakti, Jnana Shakti, dan Krya Shakti.

Kedudukan semesta yang dikendalikan Sang Purusha (Tri Murti) sangat mutlak adanya. Fungsi Uttpeti, Sthiti, Pralina, penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan, adalah suatu hal yang terjadi setiap saat. Itu berlaku secara nitya sanatana, abadi dan seterusnya. Manusia sendiri tidak akan pernah luput dari itu, dan seluruh mahluk hidup dan mati juga terliputi itu.

Manusia saat diciptakan atau pun dilahirkan memilki takdir tersendiri, dan perjalanan hidup yang khas. Semua itu berdasarkan atas pengaruh Sancita karmapalanya. Di kehidupan masa lalu reinkarnasi sebelumnya, karena pada dasarnya manusia lahir ke alam Bhur loka (baca : Dunia) adalah untuk menjalani sisa karmanya dan itu ditentukan oleh Sang Purusha pemilik semesta yang menentukan juga waktu dan ruang, Sang Kala Maha Karma Mayapada menjadi patokan bagaimana manusia itu menjalani kehidupannya. Tentunya manusia masih memiliki kehendak tersendiri dari kelahiran itu. Yang membentuk pula Pradabda Karmapala, karmapala dalam kehidupan ini, sampai nanti kelak hadir Kryamana Karmapala. Karmapala di kehidupan mendatang.

Kelahiran manusia itu menurut konsep Ageman Hindu Dharma Bali, dipengaruhi oleh Waktu yang disebut juga konsep pola Pawukon (Wuku), Sasih, Pelelintangan, Dauh, Wewaran. Ini membuat setiap manusia yang lahir akan berbeda sifat-sifat yang ditunjukkan. Ini juga digunakan sebagai pola yang digunakan untuk melaksanakan upacara Manusa Yadnya. Pawukon adalah kelahiran berdasarkan wuku yang berjumlah 30 buah yang berganti setiap minggu. Sasih adalah kelahiran berdasarkan konsep bulan purnama atau tilem. Pelelintangan adalah berjumlah 35 yang berisikan pola-pola tertentu dari lahirnya seseorang. Dauh adalah waktu seharinya, serta Wewaran yang terdiri dari Eka Wara, sampai dengan Dasa Wara. Wewaran merupakan konsep hari di mana hari dalam Hindu Bali memiliki kumpulan sampai dengan Sepuluh hari, tidak hanya tujuh hari saja. Pawukon, Panca Wara, dan Sapta Wara itu adalah kombinasi dasar melakukan upacara Manusa Yadnya orang tersebut saat lahir.

Wewaran itu sendiri memiliki sifat-sifat tersendiri untuk manusia, agar mengetahui tentang “dasar” dirinya lahir. Seperti juga konsep sifat Zodiak, atau juga Sifat melalui Shio, dan lainnya. Wewaran sendiri hampir bermakna juga selain konsep sifat (psikologi) diri berdasarkan pawukon, pelelintangan, dan lainnya. Ini memberikan pemahaman baru tentang pembahasan psikologi diri berdasarkan Local Genious Ageman Hindu Dharma Bali.

  1. Eka Wara – Luang kosong.
  2. Dwi Wara –
    • Menga – Mudah Bersosialisasi.
    • Pepet – Tertutup orangnya.
  3. Tri Wara-
    • Pasah – Senang Berbicara, mudah berbohong.
    • Beteng – Senang dalam Pemujaan.
    • Kajeng – Senang bicara, susah memegang uang, boros.
  4. Catur Wara-
    • Shri – Suka kedamaian, suka kebersihan.
    • Laba – Hatinya Baik, rajin dalam bekerja, banyak bicara, tau kesusilaan.
    • Jaya – Tetap pendirian, keras kepala, punya rasa iri, susah mencari kepuasannya.
    • Mandala – Suka bersenang-senang, kurang cerdas harus banyak belajar.
  5. Panca Wara –
    • Umanis – senang berbicara, terkadang sewenang-wenang.
    • Pahing – Rajin, sering merenung.
    • Pon – Senang guyon, dan suka mencari kawan.
    • Wage – Lain mulut dan hatinya, kurang setia, tidak bisa hidup sengsara, namun rajin bekerja.
    • Kliwon- Senang bekerja, dan membangun.
  6. Sad Wara –
    • Tungleh – Sering berbohong, terkadang bikin malu serta bimbang.
    • Aryang – Sering lupa akan sesuatu.
    • Urukung- Pikun.
    • Paniron – Tau akan tata susila.
    • Was – Orangnya ceria, serta banyak punya pengalaman.
    • Maulu – Sering marah.
  7. Sapta Wara –
    • Redite ( Minggu) -marah sekali ketika ada yang merendahkan, senang berpunia, dermawan.
    • Soma (Senin) – polos, setia, dicintai oleh orang lain, sering sedih, senang bercocok tanam.
    • Anggara (Selasa)- rajin bekerja, dan tekun ketika melakukan sesuatu yang penting.
    • Budha (Rabu) – orangnya polos, suka kebersihan, tau susila, dan pintar menabung.
    • Wraspati (Kamis) – orangnya adil, apa pun tugasnya akan diselesaikan, dermawan, tidak sayang dengan hartanya.
    • Sukra (Jumat)- senang bercocok tanam.senang bermeditasi, orangnya susila dan santun, namun agak malas.
    • Saniscara (sabtu) – cerdas, bisa sebagai tempat perlindungan, cepat belajar.
  8. Asta Wara-
    • Srhi – Punya niat baik, sejahtera, tidak kekurangan.
    • Indra- Punya niat tersembunyi, berpangkat.
    • Guru- Niatnya tulus, empati terhadap orang lain, perkataannya dituruti.
    • Yama- Niatnya kurang baik, perkataannya menusuk, dan membuat orang sedih.
    • Rudra- Sering marah, dan sering sakit.
    • Brahma-Sering marah, dan tidak suka direndahkan, diejek.
    • Kala- Serakah, dan membuat orang sedih.
    • Uma- Sering Iri, pendiam, tetapi tau tentang firasat.
  9. Sanga Wara
    • Dangu – Kurang cerdas
    • Jangur- kasar dan sombong.
    • Gigis – rendah hati, sederhana
    • Nohan-Suka kedamaian, tidak suka ribut.
    • Ogan- senang dengan barang orang lain, ulet orangnya.
    • Erangan – Pintar namun sering marah.
    • Urungan- Sering marah, yang membuat dirinya susah.
    • Tulus- apa yang diinginkan biasanya didapat.
    • Dadi – Apa yang diinginkan didapatkan, serta beruntung.
  10. Dasa Wara
    • Pandita – Senang kebersihan, cerdas, dan berwibawa.
    • Pati-Sering mendapat kesusahan
    • Suka – Bersyukur dan mendapatkan bahagia.
    • Duka- Sering sedih.
    • Sri- Suka menolong, dan cinta kasih.
    • Manuh – pendiam , dan gampang percaya dengan omongan orang.
    • Manusa – Sering bersedih.
    • Raja- Cerdas dan senang mengobrol.
    • Dewa – Berwibawa, dan cerdas.
    • Raksasa- kurang cerdas. serakah, dan sembrono.

Ini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia berdasarkan wewaran atau pengelompokan hari-harinya. Saat lahir manusia telah memiliki sifat yang notabene menempel dan menjadi kepribadian dari dirinya. Ada berbagai sifat yang mungkin bertolak belakang. Pada dasarnya sifat yang bertolak belakang bisa dapat mengurangi sisi negatif dari orang tersebut. Begitu juga ketika sifatnya bertambah atau dikuatkan oleh hari lainnya. Maka sifatnya akan lebih menguat sesuai sifat-sifat yang dimaksud.

Sebagai contoh penulis lahir dengan wewaran sebagai berikut :

  • Luang –
  • Menga – orang yang sosial
  • Beteng – senang melakukan pemujaan.
  • Laba – rajin, niat baik, senang berbicara,sopan
  • Wage – Lain mulut dan hatinya, kurang setia, tidak bisa hidup sengsara, namun rajin bekerja.
  • Aryang – Sering lupa akan sesuatu.
  • Soma-polos, setia, dicintai oleh orang lain, sering sedih, senang bercocok tanam
  • Brahma-Sering marah, dan tidak suka direndahkan, diejek.
  • Tulus-apa yang diinginkan biasanya didapat.
  • Dewa -Berwibawa, dan cerdas.

Dapat disimak dari sifat psikologi yang positif di atas adalah senang bergaul, senang melakukan puja, rajin, sopan, setia, polos, berwibawa cerdas dan apa yang diinginkan didapat. Kemudian dari sisi negatif ada lain mulut dan hatinya, kurang setia, sengsara, sering sedih dan marah, tidak suka direndahkan, sering lupa akan sesuatu.

Ada beberapa catatan yang dapat menutup menetralisir sifat negatif, seperti kurang setia ada sifat setia di wewaran lain, sopan dan polos apa adanya. Lalu sering lupa misalnya dapat direduksi dengan bahasa rajin dan cerdas. Sengsara bisa ditutup oleh rajin bekerja dan wewaran “Tulus-Sanga Wara”. Sering marah bisa ditutup dengan niat baik, walau masih ada sifat Brahma Asta wara yang dominan.

Untuk mencari hari kelahiran masing-masing, biasanya untuk yang telah melakukan upacara panca yadnya, akan mengetahui panca wara-serta sapta waranya dan menjadi urip. Namun untuk wewaran lain, dipersilakan untuk mencari dengan menggunakan aplikasi kalender bali yang tersebar di Application Store.

Gus Lingga Kalvatar Bali

Kalvatar Tastra Aksara

April 2024

Dari berbagai sumber….


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca