Om Awighnam astu namo sidham, Ksama Sampurnah ya namo nama swaha

Di Bali dan tentu juga di berbagai wilayan di Nusantara, kita telah memiliki begitu banyak sumber berupa kitab – kitab dan juga lontar – lontar peninggalan nenek moyang kita, tentang pengobatan termasuk juga tentang pengobatan herbal. Namun secara umum, terutama mengenai pengobatan herbal, sumber – sumber tersebut memiliki beberapa kelemahan untuk masa kekinian, di antaranya sebagian besar tertulis dalam bahasa daerah dan bahkan dalam huruf daerah, dengan kemampuan pemahaman masyarakat akan bahasa serta huruf daerah yang sudah mulai berkurang pada dewasa ini, menyebabkan sumber – sumber tersebut sulit untuk dipelajari.

Kelemahan berikutnya adalah penyebutan nama tanaman dalam bahasa daerah tanpa menyertakan bahasa latin (bahasa botaninya) sehingga pada zaman “online searching” seperti sekarang ini, jika ada jenis atau nama tanaman tertentu yang tidak diketahui, maka menjadi sulit untuk melacaknya walaupun tanaman tersebut mungkin sudah sering kita lihat. Kelemahan lainnya adalah, umumnya penulisan resep tanpa penjelasan details seperti cara pengolahan, dosis, kapan mesti dikonsumsi dan lain sebagainya. Buku ini, semaksimum mungkin mencoba menjawab kelemahan – kelemahan tersebut.

Secara sekilas terdapat Kisah Tentang Keberadaan Usada Taru Pramana

Diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang dukun yang bernama Prabhu Mpu Kuturan. Beberapa lama beliau telah berhasil dalam mengobati, tiba-tiba datanglah masa surutnya, setiap orang yang berobat, tidak ada yang kembali sembuh, bahkan semuanya meninggal. Pikirannya menjadi prajurit dan alasan mengapa beliau pasrah dan mendukung pelaksanaan tapa di sebuah kuburan. Setelah genap satu bulan tujuh hari bersemedi di atas tempat pembakaran mayat, turunlah Bhatari dari kahyangan dan berkenaan memberikan anugerah. Mpu Kuturan memiliki kemampuan dan pengetahuan sehingga mampu memanggil dan menganyai pepohonan, tumbuhan melata, rerumputan dan semak-semak tentang khasiatnya masing-masing yang dapat dijadikan bahan-bahan obat-obatan.

Pertama-tama datanglah pohon beringin menghadap, disusul oleh silaguri, dedap, kelor, pohon maja, kepundung dan tetumbuhan lainnya. Percakapan Mpu Kuturan dengan tumbuh-tumbuhan terus berlanjut. Para pohon datang bergantian menyebutkan nama, kandungan zat, bagian-bagian pohon yang dapat dimanfaatkan dan kegunaannya untuk mengobati suatu jenis penyakit tertentu. Bermacam-macam bagian dari pohon, baik berupa umbi, akar, batang, kulit, daun, buah, dan sebagainya, disebutkan memiliki sifat kandungan tersendiri. Ada yang bersifat panas, hangat, dumalada (sedang-sedang), dingin, maupun tis (sejuk). Dari bagian-bagian pohon itu dapat dijadikan obat luar maupun obat dalam yang berupa boreh atau param, urap (A,18b), kompres, simbuh atau sembur (A, 21b), jamur, tuth atau tetes (A,19b), dan lain-lain. -lainnya.

Tiap-tiap pohonnya memiliki kekhasan untuk mengobati suatu jenis penyakit. Pohon kelor untuk mengobati sakit mata, delima untuk obat sakit perut, sotong (jambu biji) untuk obat mencret, belatung gada untuk mengobati kusta, pohon kemang untuk obat curek (telinga bernanah), dan lain sebagainya. Untuk dapat dijadikan obat maka bagian-bagian tertentu dari suatu jenis tumbuh-tumbuhan tersebut perlu dicampur lagi dengan mineral, bagian-bagian dari binatang dan bahkan bagian dari tumbuh-tumbuhan lainnya. Selain itu ada pula yang disertai dengan aksara dan rajah (gambar-gambar) dalam wujud tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Diantara mineral yang sering dicampurkan adalah garam dapur, air beserta bahan yang terlarut di dalamnya, kapur tohor, belerang, warangan, tawas, kemenyan, dan lain-lain. Sedangkan bagian-bagian dari binatang yang disebutkan seperti telur ayam hitam beserta darahnya, tulang ayam hutan, madu, minyak ular selan bukit, dan sebagainya. Bagian tumbuh-tumbuhan lainnya, diluar tumbuhan yang merupakan ramuan utama adalah berbagai jenis rempah-rempah, yaitu lada, ketumbar, bebolong, mesui, sari lungid, dan pulasari.

Beraneka ragam penyakit disebutkan dapat diobati dengan berbagai ramuan tumbuh-tumbuhan tersebut. Misalnya penyakit yang timbul karena terganggunya keseimbangan di dalam tubuh sebagai akibat pengaruh lingkungan dan faktor dalam tubuh manusia sendiri misalnya penyakit ayan, mejen (desentri), buh (perut membesar karena bengkak), lemah jantung, sesak nafas, rematik, dan lain-lain . Contohnya pula penyakit yang disebabkan oleh kausa personalistik yaitu berbentuk non manusia dan gaib seperti terkena bebai, kena guna-guna, kena murka oleh leluhur, dan sebagainya.

Telah banyak tetumbuhan yang datang ke hadapan Mpu Kuturan dan menyampaikan khasiatnya masing-masing. Macam-macam penyakit juga telah disebutkan dari yang bersifat ringan seperti kurang nafsu makan sampai penyakit yang dianggap cukup berat seperti kusta, penjualan ular berbisa, keruron (keguguran), dan sebagainya. Sampai kemudian diceritakan tumbuh-tumbuhan seperti ketimun uku, tebu malem, pohon tanjung yang semuanya datang memberikan keterangan. Semua hasil wawancara Mpu Kuturan dengan tumbuh-tumbuhan tersebut kemudian dicatat kembali oleh putra beliau yang bernama Prabhu Narayasa.

Buku ini akan diterbitkan oleh Penerbit Kalvatar Tastra Aksara selanjutnya. Buku yang sangat baik tentunya, yang memberikan berbagai tambahan pengetahuan tentang Usada Bali khususnya untuk bahan-bahan penyembuh herbal. Sebuah cahaya kesembuhan dari Taru Pramana yang berdasarkan kearifan lokal serta lontar yang diturunkan secara turun temurun di bumi Bali ini.

Tanaman yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan serta menguatkan sisi kehidupan kita dengan cara yang arif bijaksana. Lebih dari seratus tetanaman lontar taru pramana akan membuat wawasan menjadi semakin berkembang, serta peluang dalam mempertahankan kesehatan diri terbuka lebar untuk tentu saja menambah kebahagiaan kita.

Buku ini ditulis oleh seorang praktisi yang juga seorang doktor dalam bidangnya, Dr. I Nyoman Sridana, S.Kes.H., M.Si yang merupakan seorang dosen dan praktisi Gotra Pengusadha Bali. Pemahaman beliau, pengetahuan, serta pengalaman akan memberikan banyak kebermanfaatan dalam keseharian kita untuk mendapatkan kesehatan yang secara penuh dan holistik. Serta tentu saja sejuk dan bijak sebagaimana kearifan lokal itu termaknai secara mendalam di sanubari kita.

Judul : Usadha Bali Taru Pramana

Penulis : Dr.I Nyoman Sridana,S. Kes.H., M.Si. (Wa. 08123914438)

Halaman : 110

Penerbit : Kalvatar Tastra Aksara (Wa. 081999012570)


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan

  1. Kisah Tentang keberadaan Usada Taru Pramana

    Diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang dukun yang bernama Prabhu Mpu Kuturan. Beberapa lama beliau telah berhasil dalam mengobati, tiba-tiba datanglah masa surutnya, setiap orang yang diobati, tidak ada yang kunjung sembuh, bahkan semuanya meninggal. Pikirannya menjadi gusar dan itulah sebabnya beliau pasrah dan bertekad melaksanakan tapa di sebuah kuburan. Setelah genap satu bulan tujuh hari bersemedi di atas tempat pembakaran mayat, turunlah Bhatari dari kahyangan dan berkenaan memberikan anugerah. Mpu Kuturan memiliki kemampuan dan pengetahuan sehingga mampu untuk memanggil dan menanyai pepohonan, tumbuhan melata, rerumputan dan semak-semak tentang khasiatnya masing-masing yang dapat dijadikan bahan-bahan obat-obatan.

    Pertama-tama datanglah pohon beringin menghadap, disusul oleh silaguri, dedap, kelor, pohon maja, kepundung dan tetumbuhan lainnya. Percakapan Mpu Kuturan dengan tumbuh-tumbuhan terus berlanjut. Para pohon datang bergantian menyebutkan nama, kandungan zat, bagian-bagian pohon yang dapat dimanfaatkan dan kegunaannya untuk mengobati suatu jenis penyakit tertentu. Bermacam-macam bagian dari pohon, baik berupa umbi, akar, batang, kulit, daun, buah, dan sebagainya disebutkan memiliki sifat kandungan tersendiri. Ada yang bersifat panas, hangat, dumalada (sedang-sedang), dingin, maupun tis (sejuk). Dari bagian-bagian pohon itu dapat dijadiakan obat luar maupun obat dalam yang berupa boreh atau param, urap (A,18b), kompres, simbuh atau sembur (A, 21b), jamur, tuth atau tetes (A,19b), dan lain-lain.

    Tiap-tiap pohon memiliki kekhasan untuk mengobati suatu jenis penyakit. Pohon kelor untuk mengobati sakit mata, delima untuk obat sakit perut, sotong (jambu biji) untuk obat mencret, belatung gada untuk mengobati lepra, pohon kemang untuk obat curek (telinga bernanah), dan sebagainya. Untuk dapat dijadikan obat maka bagian-bagian tertentu dari suatu jenis tumbuh-tumbuhan tersebut perlu dicampur lagi dengan mineral, bagian-bagian dari binatang dan bahkan bagian dari tumbuh-tumbuhan lainnya. Selain itu ada pula yang disertai dengan aksara dan rajah (gambar-gambar) dalam wujud tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Diantara mineral yang sering dicampurkan adalah garam dapur, air beserta bahan yang terlarut didalamnya, kapur tohor, belerang, warangan, tawas, kemenyan, dan lain-lain. Sedangkan bagian-bagian dari binatang yang disebutkan seperti telur ayam hitam beserta darahnya, tulang ayam hutan, madu, minyak ular selan bukit, dan sebagainya. Bagian tumbuh-tumbuhan lainnya, diluar tumbuhan yang merupakan ramuan utama adalah berbagai jenis rempah-rempah, yaitu lada, ketumbar, bebolong, mesui, sari lungid, dan pulasari.

    Beraneka ragam penyakit disebutkan dapat diobati dengan berbagai ramuan tumbuh-tumbuhan tersebut. Misalnya, penyakit yang timbul karena terganggunya keseimbangan di dalam tubuh sebagai akibat pengaruh lingkungan dan faktor dalam tubuh manusia sendiri misalnya penyakit ayan, mejen (desentri), buh (perut membesar karena bengkak), lemah jantung, sesak nafas, rematik, dan lain-lain. Demikian pula penyakit yang disebabkan oleh kausa personalistik yaitu berbentuk non manusia dan gaib seperti terkena bebai, kena guna-guna, kena murka oleh leluhur, dan sebagainya.

    Telah banyak tetumbuhan yang datang menghadap Mpu Kuturan dan menyampaikan khasiat masing-masing. Macam-macam penyakit juga telah disebutkan dari yang bersifat ringan seperti kurang nafsu makan sampai penyakit yang dianggap cukup berat seperti lepra, digigit ular berbisa, keruron (keguguran), dan sebagainya. Sampai kemudian diceritakan tumbuh-tumbuhan seperti ketimun uku, tebu malem, pohon tanjung yang semua datang memberikan keterangan. Semua hasil wawancara Mpu Kuturan dengan tumbuh-tumbuhan tersebut kemudian dicatat kembali oleh putra beliau yang bernama Prabhu Narayasa.

    Suka

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca