Oleh A.A. Gde Agung Anom Arie Wiradana
Penanganan trauma vaskular melibatkan pengenalan tanda-tanda spesifik cedera dan penerapan strategi penanganan awal yang tepat. Cedera vaskular dapat muncul dengan tanda-tanda “hard” dan “soft“, masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dokter memainkan peran penting dalam penilaian awal dan manajemen cedera ini, yang dapat berdampak signifikan terhadap hasil akhir pasien.
Hard sign merupakan indikator definitif dari cedera vaskular dan meliputi perdarahan aktif, hematoma yang meluas, bruit atau sensasi di lokasi cedera, dan tanda-tanda iskemia distal seperti tidak berdenyut, pucat, parestesia, kelumpuhan, dan nyeri. Sementara itu, soft sign merupakan tanda-tanda ini kurang definitif dan mencakup riwayat perdarahan yang signifikan, hematoma yang tidak meluas, dan kedekatan cedera dengan pembuluh darah utama. Soft sign memerlukan evaluasi diagnostik lebih lanjut, sering kali melalui teknik pencitraan seperti computed tomography arteriography atau ultrasonografi dupleks, untuk memastikan adanya cedera pembuluh darah.
Pemeriksa harus melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk penggunaan indeks tekanan Doppler, untuk menilai keberadaan dan tingkat keparahan cedera pembuluh darah. Penilaian awal ini membantu menentukan apakah intervensi bedah segera diperlukan atau jika pencitraan diagnostik lebih lanjut diperlukan
Dalam kasus-kasus di mana terdapat tanda-tanda “soft”, dokter dapat menggunakan teknik pencitraan untuk mengevaluasi tingkat cedera. Arteriografi tomografi terkomputasi umumnya digunakan, sementara ultrasonografi dupleks berfungsi sebagai tambahan. Sementara pada pasien dengan tanda-tanda “hard” eksplorasi dan perbaikan bedah segera sangat penting. Teknik-teknik seperti anastomosis langsung, pencangkokan vena, dan penggunaan pirau intraluminal sementara digunakan untuk memulihkan kontinuitas vaskular dan mencegah komplikasi iskemik.
Buku terbitan Kalvatar Tastra Aksara



Tinggalkan komentar