Om hyang parama kawi, suci nirmala tan hana dukka, dumogi rahayu ring ragha lan jihwani damuh iki, tan hana sidhi ring jnana, mapinunas tirtha suci sanjiwani, swaha shanti rahayu..

  1. Pendahuluan

Saat ini kesehatan jiwa sangatlah menjadi keterpenuhan yang sangat penting bagi seluruh manusia. Terutama ketika melihat berbagai kejadian-kejadian yang menyayat hati, bahwa begitu murahnya jiwa manusia sehingga terjadi menghilangkan nyawa sendiri. Tentunya ini menjadi sebuah sejarah yang sangat buruk di wilayah Bali, dan begitu banyak hal yang perlu dipahami dan dimaknai sangat mendalam dari berbagai pihak yang terkait. Sehingga ke depan hal ini paling tidak bisa dicari jalan keluarnya dari berbagai sudut pandang yang ada.

Depresi adalah keadaan di mana tidak adanya keinginan untuk menghadapi berbagai ranah kehidupan, sebagai kondisi putus asa dan sangat rentan sekali untuk mengambil langkah-langkah ekstrim yang tidak dapat dikembalikan seperti semula. Belum ada ilmu yang bisa mengembalikan jiwa manusia yang telah tiada, setidaknya dengan mencegah itu terjadi maka semoga ke depannya hal ini bisa diminalisir. Depresi juga adalah keadaan sedih yang secara terus-menerus terjadi, dan ketika pun ada yang perlu diceritakan, itu tidak bisa dilakukan. Karena terpendam dan menjadi trauma, atau bahkan lingkungan tidak mendukung kesembuhannya.

Dalam ranah agama bunuh diri merupakan hal yang tidak dibenarkan, karena pada konsep Sraddha Atman, hal itu menodai diri sebagai wadah sinar sucinya, percikan Tuhan Yang Maha Esa. Namun tentunya peran serta dari lingkungan dan juga pola asuh memberi bagian terpenting bagi kesembuhannya. Mentalitas seseorang perlu juga diketahui dengan baik, dan pengetahuan psikologis berdasarkan konsep-konsep jnana agama, sepertinya bisa sangat membantu untuk menemukan cara mengurangi kondisi depresi tersebut.

Salah satunya adalah konsep tentang psikologi di sapta cakra. Sapta Cakra adalah tujuh bagian energi dari tubuh (prana maya kosha), yang bisa memberikan suatu informasi tentang kondisi diri. Kondisi diri baik secara fisik atau pun secara psikis dari seseorang. Konsep Sapta Cakra adalah bagian dari pengetahuan Tantra, yang merupakan gambaran energi dari tubuh. Energi dari tubuh itu ketika dipersepsikan pada selubung tubuh manusia, maka merupakan bagian dari panca maya kosha. Panca Maya Kosha sendiri adalah lima bagian selubung tubuh manusia, yang tercantum pada upanishad.

1.1. Panca Maya Kosha

Panca maya kosha terdiri dari anna maya kosha, prana maya kosha, mano maya kosha, wijnana maya kosha, serta ananda maya kosha. Dalam Paingala Upansihad dijelaskan sebagai berikut :

Dalam Paingala Upanishad disebutkan sebagai berikut :

Athannamaya prana maya mano maya vijnana mayananda maya panca kosah, annarasenaiva bhutvannarsenabhuvrddahim prapyanna rasa maya prthivyambyad viliyate so nna maya kosha; tad eva sthula sariram, karmendriya saha pranadi pancakam prana maya kosha, jnanendriya saha mano maya kosha jnanendriyaih saha buddhir vijnana maya kosha etat kosa trayam linga sariram; swarupa jnanam ananda maya kosas tat karana sariram.

* Kemudian adalah lima sarung (lapisan tubuh) yang terbuat dari makanan (anna), udara vital (prana), pikiran (mano), akal budi (vijnana), dan sukacita (ananda). Apa yang diciptakan oleh sari makanan, apa yang berkembang dari sari makanan, dia akan mencapai kedamaian di bumi yang penuh dengan sari makanan, itulah sarung yang dibuat makanan. Itu sajalah yang merupakan badan kasar dibuat oleh prinsip udara vital. Pikiran bersama dengan organ-organ penerima adalah sarung yang dibuat oleh pikiran. Akal budi bersama dengan organ-organ penerima adalah sarung yang dibuat akal budi. Ketiga sarung ini membentuk badan halus. Pengetahuan seseorang membentuk sarung yang dibuat dari sukacita, ini disebut badan penyebab.

Sapta cakra kemudian adalah kondisi yang dapat terlihat pada prana maya kosha sebagai badan energi. Anna maya kosha adalah badan kasar yang terdiri dari panca budhindirya dan panca karmendriya beserta organ-organ yang ada. Ini diberikan suatu tenaga oleh makanan atau minuman yang disantap setiap harinya. Badan mano maya kosha adalah badan pikiran atau mentalitas. Dalam hal ini mano maya kosha menjadi kuasa atas prana maya kosha dan bagaimana lingkungan juga memberikan pengaruh terhadap kondisi pikiran tersebut. Secara mentalitas yang baik, mano maya kosha akan mengkondisikan juga bagaimana keadaan prana maya kosha sebagai badan energi. Ruang keseimbangan (Sattwika guna) atau ruang aktif (rajas) dan juga pasif (tamasika) akan sangat memengaruhi pola pikir secara mentalitas dari seseorang tersebut. Intinya adalah apa yang terkondisikan di energi atau prana maya kosha, merupakan cerminan dari mano maya kosha nya. Di sini akan terlihat bagaimana kondisi dari seseorang tersebut dalam ruang mentalitas yang akan baik bila dapat menjaga keseimbangan dari energi yang ada.

Selanjutnya adalah wijnana maya kosha, yaitu badan kebijaksanaan. Dalam ranah ini maka perlu diketahui kondisi terbaik dari mano maya kosha dan prana maya kosha telah berisikan suatu memori kebijaksanaan dari ananda maya kosha, yaitu badan kebahagiaan. Ketika suatu energi yang tidak seimbang dan memengaruhi mano maya kosha, maka secara keseimbangan perlu menggali kondisi kebijaksanaan pada wijnana maya kosha. Mendapatkan keseimbangan sattwika guna adalah dengan mendapatkan informasi tentang intuisi sang wijnana maya kosha. Wijnana maya kosha adalah cermin yang terdekat dengan ananda maya kosha yaitu badan kebahagiaan itu sendiri. Segala ketidakseimbangan akan mendapatkan pengaruh keseimbangan ketika mampu mengarahkan terapi atau obat afirmasi di wijnana maya kosha, dengan bantuan baik dari dalam atau pun dari luar.

1.2. Sapta Cakra yang Dipengaruhi Tri Guna Maya

Prana Maya Kosha yaitu badan halus Suksma sarira yang berisikan energi, atau bermakna nafas, dan menggambarkan kekuatan diri, terkoneksi dengan kondisi buana agung. Dapat diukur atau dimaknai dengan kondisi dari sapta cakra tersebut. Keseimbangan dari Cakra tersebut sangat dipengaruhi oleh suatu keadaan guna dari prakerti yaitu tiga kualitas yang meresap ke mana pun, dan tercantum sebagai bahan semesta. Tiga Guna itu tersebutkan dalam Bhagawadgita disebutkan :

Bhagawadgita VII-12

ye caiwa sattwika bhawa rajasas tamasas ca ye,

matta eweti tan widdhi na tw aham tesu te mayi

Artinya : Dan sebagaimana pun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattwik), penuh nafsu (rajas), atau pun malas (tamasa) ketahuilah semua berasal dari AKU, AKU tak disana, tetapi mereka ada pada (KU.

Maka betul sekali ketika dikatakan bahwa tidak ada satu pun mahluk di dunia yang dapat terlepas dari Maya, karena itu berasal dari Prakerti dan pula mempengaruhi purusha itu sendiri. Seperti yang juga dijelaskan pada

Bhagawadgita XIV-5

sattwam rajas tama iti gunah prkrtisambhawah,

nibadhnanti mahabaho dehe dehinam awyayam.

Artinya : Tiga sifat (Guna),Sattwam (kebaikan), rajas (bernafsu), dan tamas (kelembaman) berasal dari alam (prkerti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabaho (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam di badan.

•1. Cakra Muladhara. Dalam konteks pengaruh maya guna, maka dapat ditarik benang merahnya sebagai berikut :

•Seimbang Sattwika di mana cakra muladhara dalam keadaan baik, stamina bagus, metabolisme daerah usus baik, saluran kencing juga sehat, dalam keadaan psikologis ia tidak dalam keadaan paranoid, dan nyaman di mana saja.

•Keadaan Rajas maka dalam keadaan terlalu rajas aktif panas, maka cakra muladhara berkembang terlalu liar dan berpendar melebar, ini terjadi karena kelelahan fisik, kemudian usus bekerja keras karena mencerna makanan-makanan berlebihan. Dalam kondisi tamas artinya muladharanya dalam keadaan malas bergerak beraktivitas, bisa jadi kegemukan, Lelah lesu karena habit, usus juga bekerja lamban karena tubuh juga tidak menciptakan suasana yang seimbang dan akfif. Pada posisi psikologis rajas akan membuat ia Kasuran Timira preman, dan tamas akan cenderung menjadi paranoid.

2. Cakra Swadistana : .cakra svadisthana atau cakra sakral yg berada di kemaluan dan memberikan gambaran akan seksualitas serta daya tarik juga self confident dari sesiapa yg dianalisa. Elemen yg ada adalah apah atau air. Dan cakra ini diberi simbol warna jingga atau orange. Organ-organ yang dipengaruhi adalah organ reproduksi, ginjal, kantung kemih, panggul.

•Kondisi Sattwika guna, organ-organ berfungsi normal, ginjal, kantung kemih berfungsi baik, panggul kondisi prima tidak ada keluhan tertentu. Sisi psikologis inner beauty yang keluar, daya Tarik terpancar pada lawan jenis.

•Kondisi Rajas, Ginjal bekerja terlalu keras karena makanan yang sulit dicerna (alcohol kopi dll), kencing berwarna kuning pekat, kantung kemih panas, panggul Lelah. Psikologis posesif, konsep cinta yang tidak sehat, overseksualitas (Surupa Timira), terlalu merasa diri lebih mempesona dari yang lainnya, merendahkan yang lain.

•Kondisi Tamas ginjal bekerja lebih pelan dari biasanya, kemampuan ginjal berkurang, ketidak seimbangan elektrolit, penumpukan racun pada ginjal, panggul kaku karena jarang bergerak. Tidak percaya diri, membenci diri sendiri, kurangnya kecintaan pada lingkungan, daya Tarik rendah terhadap lawan jenis, depresi, keinginan bunuh diri.

•3. Cakra manipura navel  yang berada di pusar, disebut juga solar plexus. Cakra ini menunjukkan emosi dan ambisi dri sesiapa yang dianalisa. Cakra ini simbolkan berwarna kuning dan simbolisme api teja agni. Kelebihan cakra ini atau terlalu aktif akan memperlihatkan ambisi yg meliar tanpa etika. Organ-organ yang berhubungan dengan cakra ini adalah Perut, Usus kecil, Pankreas, Hati, Kantung Empedu, Sistem Pencernaan. Dalam sisi psikologis maka menunjukkan motivasi, rasa percaya diri, kebijaksanaan, kesesuaian kemampuan dan ambisi.

•Sattwika cakra manipura dalam keadaan seimbang pada ruang psikologis akan memperlihatkan motivasi yang tinggi, kepercayaan diri, serta ambisi yang sesuai dengan kemampuan, emosi yang stabil. Organ-organ yang ada berkembang dan berfungsi secara stabil menopang aktivitas yang ada

•Ketika Rajas berkembang terlalu besar, maka ambisi dan emosi menjadi lebih kuat, motivasi yang berlebih, dan tidak mengetahui kemampuan diri terhadap harapan yang ada, terlalu mengawang-ngawang memengaruhi emosi. Organ-organ yang ada akan melakukan tugasnya secara berlebih, perut dan usus kecil misalnya lebih rentan mendapatkan diare atau masalah perut, akibat gaya hidup. Pankreas, Hati, Empedu sibuk untuk menetralisir racun yang masuk pada orang-orang yang stress.

•Tamasika kurangnya nafsu makan, perut dan usus tidak mendapat asupan bergizi atau kurang serat, konstipasi, pancreas hati empedu akan sibuk mengolah lemak, karena karakter tamas adalah orang yang malas bergerak tidak melakukan apa-apa, sehingga metabolism berjalan lambat.

•4. Cakra anahata atau heart cakra, cakra jantung yg berisikan rasa kasih sayang dan cinta kasih pada semesta. Cakra ini disimbolkan dgn warna hijau dan berelemen bayu angin. Organ-organ yang berhubungan dengan Cakra Anahata adalah Jantung, Paru-paru, system peredaran darah, tulang dada tulang belakang atas, kelenjar timus. Untuk konsep psikologi cakra anahata memengaruhi rasa kasih sayang, penerimaan atas cinta, rasa kasih yang iklas, dan aura pengasuhan, serta empati, simpati terhadap sesama.

•Sattwika pada cakra anahata menunjukkan sehatnya organ-organ yang ada, rasa kasih saying mendalam, dan mudah untuk dicintai, disayangi oleh orang lain, empati, simpati yang terbentuk, kesabaran.

Rajasika pada cakra anahata di mana dada tegang atau merasa sesak karena keterbiasaan diri, rasa benci yang besar terhadap sesuatu, sehingga mempengaruhi kondisi paru-paru, atau habit di lingkungan yang rentan akan penyakit yang ada, nafas tidak stabil, trauma sehingga bisa menimbulkan gejala psikosomatis, dsb. Tamasika pada cakra anahata jantung lemah (bradikardia), kapasitas paru-paru tidak berkembang, himpitan ruang paru-paru atau jantung karena lemak, sirkulasi nafas terganggu, pada kebiasaan tamas dan juga perokok berat akan menambah resiko bronchitis atau pneumonia. Secara psikologis orang yang menarik diri, serta mengalami depresi.

•5. Cakra visudha yg berwarna biru adalah sbagai akasa atau ruang hampa. Ini melukiskan penggambaran kewibawaan dan sikap kepemimpinan, baik yg arogan atau yg bijaksana. Kesediaan mendengar dan berbicara cukup dan sistematis, adalah bagian dari cakra kerongkongan yg aktif. Cakra ini berhubungan dengan organ Tenggorokan, Tiroid Paratiroid, Leher dan Bahu, Sistem pernafasan bagian atas, rahang serta mulut.

•Pada kondisi sattwika guna : Keadaan dari tenggorokan, kelenjar tiroid, berfungsi baik, leher dan bahu tidak pada kekakuan atau lemas, rahang dan mulut dalam kondisi baik. Kemudian pada unsur psikologis yang berkembang, komunikasinya berjalan baik, tidak canggung dalam berkomunikasi, bijaksana, memahami kebutuhan mendengar dan berbicara serta sistematis tidak melompat-lompat.

•Kondisi rajasika guna : dalam sisi psikologis adalah orang yang terlalu banyak bicara, tidak mau mendengar, arogan, suka berteriak, sehingga terlihat penuh kesombongan (Guna Timira). Kondisi tenggorokan atau pita suara iritasi karena dipergunakan berlebihan, serak, hipertiroid, Lelah leher bahu karena terlalu lama aktivitas (tidak beristirahat cukup), mulut rahang atau gigi sariawan karena makanan pedas, berminyak, atau minuman bersoda terlalu banyak.

•Kondisi tamasika : Psikologinya tidak mau berbicara, dipendam, terlalu introvert, menarik diri dari lingkungan. Secara fisik tenggorokan serak kronis, amandel karena makanan tidak dipilih dengan baik, serta kebiasaan merokok atau minum-minuman keras, tiroid lemah, kakunya leher dan bahu karena jarang berolahraga, nafas lembat dan cepat Lelah.

•6.  Cakra ajna yaitu cakra di tengah-tengah alis sbagai simbol intelegensi, dan kesadaran yang intuitif. Sebagai seorang yang pemikir dan filsuf, maka dipastikan cakra ini aktif dan terbuka. Tidak disimbolkan dengan elemen, namun warna adalah seperti ungu indigo. Cakra ini memiliki kemampuan untuk memahami dan memberi komando kepada cakra lainnya. Organ-organ yang berhubungan bagian depan otak yang bertanggung jawab atas pemikiran, Analisa, pengambilan keputusan. Kelenjar Pineal, Kelenjar Hipofisis, Mata,Telinga bagian dalam, Sistem saraf pusat, Sinus.

•Ajna yang Sattwika : secara psikologis cenderung cerdas, dan mampu mengambil keputusan dengan baik, cepat mengambil kesimpulan, mengetahui gambaran sesuatu dengan cepat, intuisi tajam. Fisik yang sattwika adalah mata yang sangat baik berfungsi, ritme biologis tubuh berfungsi baik, telinga berfungsi baik, sinus tidak terhambat, saraf pusat berfungsi sesuai kebutuhan yang ada.

•Ajna yang rajas : sakit kepala, migrain, kurang tidur, ritme biologis tubuh terganggu, tidak bisa tidur dengan baik, telinga berdengung, mata Lelah., dst. Ajna yang rajas psikologi orang tersebut terlalu overthinking, tidak mampu bijak mencari solusi, dalam suatu kondisi ekstrim keadaan sakit psikis seperti bipolar, Adhd, Ocd dan gangguan lain, adalah bisa karena keadaan ajna yang berlebih.

•Ajna yang tamasik : lamban, malas, lesu, cenderung bebal, dan kurang cerdas, tidak mampu membedakan logis dan tidak logis, halusinasi, dan lain-lainnya.

•7. Cakra mahkota Sahasrara adalah yg menyimpan rahasia dan kedaulatan kosmis semesta. Mahkota adalah sebuah berkat bagi seluruh jiwa sesiapa itu, dan memberikan sebuah kesembuhan atas kesakitan duniawi. Ini merupakan cakra yg identik dngan ilahiah serta suci murni berasal langsung dgn koneksi semesta. Bagi penganut spiritualis yang waskita dan sudah memiliki pengalaman, maka ini adalah terbuka dan mempengaruhi lingkungannya. Organ-organ yang dipengaruhi adalah kepala, otak, tulang belakang.

•Cakra mahkota dalam keadaan sattwika: Sangat baik karena ini memberikan hubungan yang positif dengan leluhur, Tuhan, ManifestasiNya, semesta raya. Bijaksana dan sebagai berkat semesta untuk memberikan pemahaman religi, keagamaan, spiritualitas, serta bagi pengobat tradisional ini sebaiknya dikembangkan, agar dengan mudah dan bijak serta memiliki taksu untuk menyembuhkan. Sehat dan cerdas, biasanya memilliki kemampuan lebih pada kebijaksanaan semesta.

•Cakra Rajas Mahkota : Keadaan ada keinginan yang berlebih untuk mengenal energi semesta, energi spiritualitas, namun Susila etika tidak dijalani, atau jnana yang dipaksakan dengan egoisme yang ada, ajewera, tan aguron-guron, sakit kepala, kepongor, hidup susah sulit.

•Cakra Mahkota tamasika : keadaan sebaliknya di mana seseorang itu malas berhubungan dengan kekuatan Tuhan semesta, tidak tau kawitan, leluhur atau ajaran agama, hidup menjadi susah dan dijauhi oleh karma baik serta rejeki.

Kesimpulan yang didapat adalah bahwa suatu kondisi rajasika atau tamasika memiliki peluang besar untuk menciptakan kondisi mental yang kurang baik dari seseorang. Tingkat kenyamanan diri dan keadaan tentram merupakan kondisi stabil atau seimbang dari seseorang yang cakra muladharanya sangat baik. Tingkat kepercayaan diri untuk mencintai diri sendiri apa adanya adalah lingkup utama dari stabilitas cakra swadisthana. Kemudian selanjutnya keinginan untuk terus berkembang dan memiliki suatu pengharapan serta kekuatan hidup berada pada lingkup seimbang dari cakra manipura.

Pada cakra anahata tergambarkan bagaimana ada ranah cinta kasih tulus iklas secara timbal balik pada diri dan lingkungan. Cakra wisudha menunjukkan bagaimana ruang komunikasi terjalan baik dan mendapatkan timbal balik yang baik pula dari lingkungan. Cakra ajna adalah gambaran intelektualitas serta kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, sebagai juga simbolisme aktualisasi diri seseorang. Dan yang terakhir adalah kondisi keseimbangan dari Cakra Sahasraha di mana ini sangat berhubungan dengan kedekatan manusia dengan sang pencipta, hal ini menjadi tonggak utama kebersyukuran bahwa manusia itu perlu sekali diberikan afirmasi tentang megahnya suatu kehidupan. Ketika pula dalam sarasamuscaya disebutkan bahwa manusia lahir sebagai mahluk utama yang hidup dalam lingkup dharma (kebenaran), maka dengan itu sangat disyukuri karena bisa meningkatkan kehidupannya dalam ruang dharma.

Pada kondisi seseorang yang tertekan, atau mengalami keputus-asaan, maka keseimbangan cakra-cakra yang ada yang dicerminkan melalui kondisi psikologisnya, sangat terganggu. Sehingga dapat diupayakan suatu cara rehabilitatif, atau kuratif, serta pencegahan dan mengelola agar keadaan itu tidak terjadi. Hal ini perlu sekali diedukasikan agar kelak ke depan bisa membantu kondisi seseorang yang mengalami gejala-gejala depresi.

Sebagai contoh ketika keadaan cakra muladharanya tidak seimbang, maka secara psikologis dari habitnya memberikan suatu rasa tidak nyaman, serta paranoid. Hal ini ketika dibiarkan secara terus menerus akan membuat mentalitasnya terganggu. Di cakra swadisthana seseorang perlu sekali memiliki rasa percaya diri yang membuat ia yakin akan dirinya, serta menerima dirinya sendiri apa adanya. Cakra manipura menunjukkan bagaimana dirinya mampu untuk selalu mendapatkan cara untuk hidup sesuai norma yang ada, dengan itu ada harapan yang bisa digapai ke depannya.

Cakra anahata menunjukkan tingkat bagaimana seseorang itu merasa dicintai dan balik mencintai secara tulus. Hal ini perlu dikuatkan oleh lingkungan di tempat ia berada. Sekaligus juga ketika dalam ranah komunikasi yang menjadi hal penting. Ketika komunikasi terjalin secara empati dan simpati, maka cakra wisudha akan aktif dan berkembang. Ada suatu keadaan di mana seseorang cenderung memendam dan introvert secara berlebihan, akhirnya penumpukan energi yang ada mengubah kondisi seimbang di alam bawah sadarnya. Keadaan itu pun membuat kondisi dari intelegensi dan akal budi menjadi tidak berkembang sehingga cakra ajna yang kurang aktif. Cakra Sahasraha menjadi sangat penting, karena ini yang memegang secara penuh tentang kebersyukuran seseorang lahir menjadi manusia. Tidak dari orang itu saja harus berjuang, namun tentunya lingkungan serta pola asuh yang baik bisa menjadi sarana promotif untuk mencegah depresi itu terjadi.

1.3. Psikologi Humanis Maslow

Psikologi humanistik adalah aliran psikologi yang menitikberatkan pada ruang untuk kebebasan manusia mencari siapa dirinya, dan bagaimana dirinya mampu berkembang dengan potensi-potensi yang ia miliki. Konsep ini berbeda dari aliran-aliran sebelumnya, seperti aliran psikologi analitis yang memberikan persepsi alam bawah sadar pada ranah psikologi jiwa manusia. Lalu ada pula aliran behaviorisme yang melihat psikis manusia dari segala prilaku manusia itu sendiri. Aliran behaviorisme menitikberatkan pada sisi eksperimen psikologis berdasarkan prilaku manusia yang ada, untuk menyimak bagaimana memahami jiwa manusia itu. Psikologi humanis mengajak manusia untuk kembali mencari ke dalam kepada potensi jiwa masing-masing agar bisa berkembang sedemikian rupa untuk bisa hidup mengaktualisasikan dirinya. Bahwa aktualisasi diri berdasarkan konsep hierarki Maslow memberikan ruang besar untuk mengetahui diri, kemudian pula memberikan kebermaknaan diri itu pada kehidupan selanjutnya.

  1. Hierarki yang terbawah adalah kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan badaniah jasmani, atau kebutuhan makanan dan minuman. Pada dasarnya ini adalah hal yang sejatinya sudah ada di jaman saat ini. Di mana untuk makan seseorang sudah memiliki kemampuan yang mumpuni dan pun tidak akan kekurangan. Yang ada adalah malah kebutuhan akan makan yang menjadi suatu keinginan yang berlebih. Makanan dan minuman yang seharusnya menunjang kesehatan, bisa menjadi suatu keinginan yang malah memengaruhi kondisi kesehatan. Kebutuhan makanan yang penting dengan nilai gizi yang baik, sepertinya bisa dengan mudah didapatkan. Walaupun masih ada jenjang kemiskinan, namun sepertinya di jaman saat ini hal tersebut sangat bisa terlampau kalau untuk masalah fisiologis tubuh. Yang ada kebutuhan yang terlampaui keinginan.
  2. Kebutuhan rasa aman adalah hierarki selanjutnya. Kebutuhan ini mendorong manusia secara instingtif untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dalam keadaan lingkungannya (Hambali,2013:180). Rasa aman menciptakan suatu keadaan yang membentuk ketenangan diri dari seseorang. Hal ini sangat besar dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, atau bagaimana ia mendapatkan suatu empati sosial yang baik. Keadaan keluarga tentu sangat penting dalam memberikan khasanah tempat berlindung bagi seseorang tersebut.
  3. Kebutuhan cinta dan memiliki yaitu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan suatu ikatan emosional dengan individu lainnya, baik dengan sesama jenis atau dengan lain jenis dalam suatu lingkungan dan kelompok masyarakat. Ketika rasa keamanan sudah terpenuhi maka individu memiliki kemampuan untuk mersa diakui, disayangi, dicintai secara timbal balik.
  4. Kebutuhan rasa harga diri, oleh Maslow dibagi menjadi dua yaitu penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan yang kedua adalah suatu penghargaan dari orang lain. Bagian pertama adalah hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kemandirian dan kebebasan. Dan yang kedua adalah tentang prestasi, penghargaan dari orang lain meliputi suatu pengakuan, perhatian, prestise, respek dan kedudukan.
  5. Kebutuhan kognitif, disebut oleh Maslow adalah manusia memiliki hasrat untuk ingin tahu (memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang sesuatu). Hal ini berkembang dari sejak usia bayi sampai dengan awal anak-anak. Lingkungan sangat memengaruhi bagaimana kondisi ini terus berkembang, sehingga potensi itu bisa menjadi lebih bermakna sampai di dewasa. Kebutuhan ini contohnya adalah tentang kebutuhan akan menganalisa, memahami, mengevaluasi, menjelaskan, atau mencari sesuatu suasana baru dan meneliti.
  6. Kebutuhan Estetika, yaitu kebutuhan manusia yang sehat mentalnya di mana ia bisa mengembangkan kreativitasnya di bidang seni, arsitektur, tata busana, tata rias, dan kecendrungan untuk keteraturan, keserasian, dan keharmonisan. Hal ini terlihat dalam kondisi mental yang sehat dari seseorang, di mana kebutuhan estetika ini akan membentuk seseorang yang memerhatikan kebersihan lingungan, serta mengapresiasi keteraturan dan keindahan.
  7. Aktualisasi Diri adalah konsep puncak dari hierarki yaitu di mana merupakan perwujudan dan perkembangan potensi dan kapasitas secara penuh. Kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut ketika terpenuhi, namun tidak bisa memenuhi suatu aktualisasi diri, maka ini bisa menyebabkan suatu gangguan juga. Bakat-bakat serta potensi yang berkembang sejatinya bisa untuk diwujudkan dengan rasa keterpenuhan, sehingga mampu mencita ciptakan diri dalam keadaan nyata, yaitu ruang aktualisasi diri.

2. Hierarki Maslow, Sapta Cakra dan Kondisi Depresi

Dari berbagai konsep hierarki maslow yang ada, sebetulnya itu dikatakan sebagai suatu gambaran tentang bagaimana manusia itu sehat adanya. Sehat secara mental yang berarti segala kebutuhan akan dirinya itu bisa terpenuhi dengan baik. Ketika itu adalah keadaan sehat manusia, maka di posisi lawannya adalah bisa menjadi kecendrungan membentuk suatu penyakit mental dari manusia tersebut.

Kesehatan mental termasuk adalah dalam ranah depresi. Depresi dalam hal ini ketika dikaitkan dengan berbagai hierarki maslow tersebut, bisa terjadi karena suatu kebutuhan tidak terpenuhi dengan baik. Ada berbagai faktor keadaan itu bisa terjadi, seperti lingkungan, pola asuh, kondisi sosial, genetika, atau yang lainnya.

2.1. Cakra Dasar, Hierarki Maslow dan Depresi

Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan tentang makanan, minuman, seks, istirahat, oksigen (Hambali, 2013:180). Sebetulnya ini dalam ranah kehidupan saat ini, di jaman modernitas paling mudah sekali untuk didapatkan, seperti makanan, minuman dan kebutuhan istirahat. Namun suatu kebutuhan yang melebihi kapasitasnya memiliki suatu kecendrungan menjadi keinginan berlebih. Itu bisa menjadi penyakit secara fisik.

Cakra dasar secara seimbang (sattwika guna) memiliki karakter di mana ia merasa nyaman dalam kondisi apa pun. Ia tidak paranoid, dan juga ia pun tidak merasa memiliki kecemasan yang berlebih. Staminanya baik untuk menjaga kondisi psikologis tersebut. Pada ranah Maslow disebutkan tentang bahwa kondisi stamina yang baik tentunya hadir pada pemenuhan makanan dan minuman yang cukup. Faktor itu malah nantinya menjadi rusak ketika keinginan atas makanan dan minuman yang berlebih, dan juga menghambat sisi kesehatan (keseimbangan) dari cakra dasar itu. Depresi sangat rentan terjadi pada mereka yang lemah kondisi cakra dasarnya, hal ini bisa terjadi karena faktor keamanan dan kenyamanan mereka terganggu akibat berbagai faktor lingkungan atau juga pola pikir mereka.

Keseimbangan cakra dasar sangat penting untuk menjaga keterpenuhan dari hierarki maslow mengenai kebutuhan fisiologis serta kebutuhan akan kenyamanan dan keamanan. Di sisi lain ketika lingkungan malah cenderung memperlihatkan keaktifan berlebih cakra ini, seperti lingkungan yang terlalu menekan dan juga terlalu keras baik fisik dan mental (cakra dasar rajasika), maka akan memengaruhi kondisi mental seseorang yang menjadi bagian korban sehingga terjadi depresi dalam hidupnya.

Perlunya suatu keseimbangan dari kondisi cakra dasar dari seluruh lingkungan sangat membantu juga perkembangan cakra dasar ini, yang nantinya langsung berpengaruh pada keterpenuhan atas kebutuhan akan fisiologis dan kebutuhan rasa kenyamanan, keamanan tersebut. Pribadi yang sehat adalah pribadi yang memiliki cakra dasar yang seimbang, serta kebutuhan yang terpenuhi pula secara seimbang dari hierarki maslow tersebut. Kebutuhan yang tidak menjadi suatu keinginan yang berlebih dan secukupnya.

2.2. Cakra Sakral, Hierarki Maslow, dan Depresi

Cakra sakral atau swadisthana merupakan cakra yang mencerminkan keadaan psikologis tentang kepercayaan diri, dan menyayangi diri sendiri. Kondisi lainnya adalah kebutuhan yang didasarkan pada naluri seseorang terhadap seksualitas. Dari itu bisa tergambarkan kepercayaan dirinya terhadap lawan jenis, serta mentalitasnya dengan kama (hawa nafsu). Keadaan yang seimbang dari cakra ini adalah keadaan psikis seseorang yang penuh percaya diri, dan mampu mengendalikan dorongan seksualnya. Kepercayaan diri itu juga mentalitas tentang pengelolaan kebahagiaan diri agar tidak terbelenggu pada sifat terlalu mencintai seseorang, atau terlalu terikat dengan orang tertentu yang disukai.

Cakra sakral ini yang berkembang secara seimbang akan memberi pengaruh baik pada kebutuhan seksualitas yang terkontrol, serta kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki yang tidak berlebihan. Tentu pula ini memberikan rasa aman dan nyaman menjadi terpenuhi. Kebutuhan akan rasa cinta dalam hierarki maslow ketika dalam kondisi tidak berlebihan akan sangat membantu psikologis seseorang. Seseorang lahir untuk dicintai dan mencintai, terutama takdir manusia adalah untuk berpasangan dan mendapatkan keturunan. Oleh karena itu sudah naluri manusia memiliki kesan dan ketertarikan kepada lawan jenis.

Cakra sakral yang terlalu rajas aktif berlebih akan memberikan sifat terlalu posesif terhadap lawan jenis yang disukai, serta dalam keadaan sangat berlebih akan mencerminkan seseorang over dengan kondisi seksualitasnya. Hal ini ketika dibiarkan akan memengaruhi mentalitasnya. Seseorang yang dengan rajas ini akan mudah diperalat, dan cenderung akan mengorbankan harga dirinya. Ini kemudian menggagalkan kebutuhan selanjutnya tentang harga diri. Dalam dunia digital yang sangat berkembang saat ini, media sosial menjadi juga faktor yang merusak terutama ketika berhubungan dengan harga diri, serta pengumbaran vulgaritas seseorang.

Kerentanan dalam dunia yang bebas ini, akan menciptakan mentalitas yang destruktif dan mengarah pada depresi. Kontrol keluarga serta pola asuh yang menciptakan suasana cinta dan kenyamanan diri, membuat seseorang terutama remaja akan nyaman untuk pulang ke rumah dan tidak mencari pergaulan terlalu bebas di luar. Pertemanan yang benar dan cara mengenal lawan jenis dapat diperkenalkan oleh pendidikan di rumah saat remaja. Edukasi tentang seks, serta pengaruhnya ketika menyimpang pada masa depannya.

Edukasi ini dapat secara signifikan mengurangi kondisi patah semangat atau putus cinta yang mengarah pada keputusasaan hidup. Depresi karena cinta adalah hal yang sering terjadi pada masa remaja. Kondisi cakra sakralnya akan dapat memperlihatkan sisi psikologis dari seseorang terutama yang berhubungan dengan mentalitasnya pada sisi rasa suka kepada lawan jenis.

2.3. Cakra Manipura, Hierarki Maslow dan Depresi

Cakra manipura adalah cakra yang bertanggung jawab atas ambisi dan pengharapan diri. Keinginan untuk berkembang baik secara finansial atau secara prestise dan semua itu lebih cenderung kepada hal-hal duniawi. Itu pun merupakan kebutuhan hidup, dan dalam kondisi seimbang serta sehat ambisi serta motivasi seseorang tersebut sesuai dengan norma dan kemampuan.

Keadaan tidak dalam keseimbangan dari cakra ini adalah secara psikologis dalam keadaan rajas, seseorang itu terlalu berambisi dalam mencapai sesuatu dan bahkan melanggar berbagai norma yang ada, picik serta licik. Sebaliknya ketika berada dalam keadaan tamasika seseorang itu akan berada dalam malas melakukan sesuatu dan tanpa motivasi untuk pengharapan ke depannya. Hal inilah yang cenderung akan terlihat seperti gejala dari depresi.

Dalam hierarki kebutuhan maslow yang sehat, maka cakra ini berhubungan dengan ranah harga diri, pemenuhan rasa hormat, prestise serta kebutuhan duniawi lainnya. Ruang cakra duniawi ini sepertinya dekat pula pada suatu konsep aktualisasi diri, namun pada energi yang masih rendah. Pemenuhan kebutuhan itu dalam pemaknaan yang terlalu berlebih akan membawa manusia pada jurang kejahatan tanpa memikirkan norma-norma yang ada. Ini menambah kegiatan adharmik dan menciptakan karma buruk ke depannya.

Depresi terjadi sebaliknya ketika tamasika guna menyerang, yaitu cakra yang terlalu pasif dan menjadi tidak sehat. Keadaan kurang motivasi dari seseorang untuk bergerak maju, serta putus asa dengan mentalitas yang rendah. Faktor terkait bisa jadi sangat beragam, namun dalam pendeskripsian ruang cakra, maka keadaan ini bisa terlihat pada kondisi pasif cakranya. Kehilangan harga diri, pengharapan yang terlalu tinggi, standar kehidupan yang terlalu sulit digapai, atau penggunaan norma yang merendahkan diri, akan membawa kerusakan energi pada cakra solar plexus ini. Kerusakan atau cakra yang tidak seimbang akan menciptakan ranah keputusasaan dan depresi dari seseorang. Perlu untuk memperbaiki keadaan cakra-cakra terkait dengan teknik terapi tertentu sesuai dengan kualifikasi yang ada di bidang kesehatan.

2.4. Cakra Anahata, Hierarki Maslow, dan Depresi

Cakra anahata adalah cakra jantung yang memberikan deskripsi tentang rasa cinta kasih kepada sesama dan juga kepada lingkungan. Cakra ini sangat berpendar pada mereka yang welas asih, dan ramah kepada sesama. Orang-orang yang senang dalam kegiatan sosial serta tulus memberikan ruang cakra ini berpendar dengan seimbang. Cakra ini juga sebagai pengatur atau sebagai border batasan cakra-cakra di bawahnya. Konteks etika susila yang sesuai sebagai cermin keadaan keseimbangan cakra ini, akan memberikan batasan pada cakra perut untuk tidak berambisa berlebihan, cakra seks untuk tetap berpegang pada harga diri, atau cakra dasar agar tidak berlebihan menjadi destruktif.

Cakra anahata adalah self belonging yang paling dekat ketika dikorelasikan dengan hierarki maslow. Cakra ini sangat dipengaruhi oleh intelegensia yang ada, dan biasanya penuh ruang mencintai keindahan estetika. Cakra anahata yang seimbang dan berpendar adalah hasil dari pemupukan karma baik yang terakumulatif, di mana seseorang itu telah banyak melakukan kebaikan, dharmika dan penuh cinta kasih kepada lingkungan dan sesama. Namun dalam proses pembentukan pengembangan cakra anahata, sangat dipengaruhi oleh pola lingkungan dan keadaan tumbuh kembang seseorang.

Lingkungan yang keras dan penuh kendali cakra-cakra di bawah, seperti keadaan rajasika cakra dasar yang cenderung mengarah pada premanisme (bullying), cakra sakral yang mengarah pada pemenuhan seksualitas yang tinggi (pelecehan), atau keadaan lingkungan di mana seorang rupaka guru (orang tua) terlalu banyak meluangkan waktunya dengan mencari penghidupan, tanpa memerhatikan pola kembang anaknya. Hal ini bisa menciptakan suatu kecendrungan cakra anahata yang melemah dan pasif. Rasa cinta yang tidak diterima dan tidak tersalurkan dengan baik sebagai kebutuhan dalam hierarki maslow, akan menciptakan kondisi cakra anahata yang tidak aktif dan mengecil tercerminkan seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri, rasa keputusasaan, serta kemarahan pada alam bawah sadar dirinya.

Depresi ini merupakan kondisi akumulatif pada keadaan cakra-cakra terlalu aktif di bawahnya, akibat dari perilaku lingkungan sekitarnya. Seseorang yang terlalu mendapatkan perilaku buruk seperti tidak dicintai secara tulus oleh lingkungan, tidak diperhatikan karena waktu yang terlalu sibuk, atau keadaan keras dan kasar lingkungan, akan menciptakan keadaan di mana kebutuhan tertentu hierarki maslow seperti rasa aman nyaman, rasa kebutuhan dicintai berkurang dan menjadi kesakitan di kesadaran dirinya. Semua ini berkumpul pada alam bawah sadarnya, dan ditambah lagi ketika komunikasi tidak lancar, dan standar-standar sosial tertentu yang mengharuskan tercapai, menambah permasalahan depresi dari seseorang itu.

2.5. Cakra Wisudha, Hierarki Maslow, dan Depresi

Cakra wisudha atau tenggorokan adalah cakra yang memperlihatkan kekuatan komunikasi seseorang. Kemampuan dan skill berkomunikasi yang baik dari seseorang, terlihat pada kondisi cakra ini yang seimbang dan berkembang. Cakra wisudha adalah energi yang terakumulasi baik ketika komunikasi, rasa empati, rasa simpati menjadi hal yang mampu diaplikasikan pada kehidupan. Rasa seni yang indah adalah implementasi dari cakra wisudha yang baik dengan juga tersiratkan pengaruh cakra-cakra di atasnya.

Kemampuan komunikasi yang baik dalam hierarki maslow akan diimplementasikan kepada rasa kagum pada suatu estetika, keindahan serta dapat memenuhi kebutuhan akan estetika tersebut. Tersalurkannya saluran komunikasi terjadi karena lingkungan yang sangat mendukung untuk itu. Rasa empati, rasa cinta kasih, rasa keamanan kenyamanan pada hierarki kebutuhan tersebut bersumber dari baiknya sisi lingkungan.

Di sisi lain kemarahan yang terpendam, rasa trauma, tertekannya diri, pada suatu saat akan menciptakan energi destruktif yang berbeda, dan cenderung mengarah pada emosi rajasika dari cakra wisudha. Komunikasi dengan teriakan, komunikasi dengan gerak amarah, menjadi bagian sehari-hari. Ini menciptakan lingkungan kehidupan yang penuh amarah, timbal baliknya keadaan nyaman menjadi terganggu. Kebutuhan akan cinta akan menguras rasa kebahagiaan, depresi keputusasaan menjadi bagian dari kehidupan tersebut. Saluran komunikasi yang terbuka dengan pula memerhatikan empati simpati, akan menciptakan ruang besar untuk mendapatkan kebutuhan yang pantas.

Pada seseorang yang depresi, biasanya cakra ini akan pasif dan tidak aktif, akibat dari akumulasi terhambatnya saluran komunikasi ini. Seharusnya situasi yang kondusif dengan kebebasan berpendapat, menyalurkan apa yang tersimpan (curahan hati) baik secara lisan dan tulisan, akan memberikan terapi antidepresan secara alami.

2.6. Cakra Ajna, Hierarki Maslow, dan Depresi

Cakra ajna sangat berhubungan dengan intelektualitas dan akal buddhi. Bagaimana diri mampu mengambil keputusan dengan baik, serta sifat keingintahuan yang besar atas sesuatunya. Sebuah naluri manusia adalah untuk mengetahui tentang sesuatu, ketika mengetahui akan mendapatkan suatu kepuasan dalam dirinya. Cakra ajna terletak di sekitar alis menggambarkan kecerdasan dalam penyelesaian suatu permasalahan yang ada. Dan kekuatan untuk mendapatkan pengetahuan baru secara lebih mudah.

Pada hierarki maslow, jelas ini merupakan suatu pemenuhan kebutuhan kognitif bagi seseorang. Kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang secara naluri ada di setiap manusia, untuk mengetahui dan menganalisa tentang sesuatunya. Hal ini baik sekali dikembangkan dengan pola pendidikan yang tepat dan sesuai dengan bakat yang ada. Kebutuhan untuk berkembang secara intelektualitas sangat pula tergantung dari kondisi lingkungan yang memberikan akses terbaik pada pemahaman pentingnya suatu pendidikan.

Pendidikan sendiri dalam ranah kehinduan telah dijelaskan pada konsep empat guru yang utama (Catur Guru). Rupaka Guru adalah orang tua sebagai penuntun atau guru yang mengembangkan sikap pentingnya pendidikan karakter, serta kebiasaan yang baik di rumah. Sebelum masuk kepada lingkup guru pengajian yaitu guru di sekolah. Guru di sekolah mengambil peran penting dalam pendidikan karakter serta bakat-bakat yang ada dan bisa dipakai di kehidupan dewasa selanjutnya. Lingkungan sekolah yang baik tentunya mengurangi adanya masalah perundungan, atau masalah yang memberikan kontrol besar kepada situasi pergaulan yang ada di lingkungan sekolah. Pembelajaran etika yang baik di setiap murid serta budi pekerti.

Guru lainnya adalah guru wisesa yang artinya seorang pemimpin yang menjalankan pemerintahan. Berbagai regulasi yang membantu perkembangan pendidikan karakter, budi pekerti sangatlah penting. Termasuk pula menjaga hubungan dengan Tuhan, sebagai pemaknaan guru swadyaya. Dalam hierarki maslow faktor kognitif yang seimbang perlu dijaga dengan berbagai konsep regulasi, serta lingkungan yang baik. Depresi terjadi akibat hal ini tidak dikembangkan sebagaimana mestinya.

Kebutuhan akan pembelajaran budi pekerti, begitu pula pentingnya suatu pendidikan, akan membuat seseorang mampu memandang dunia sebagai sesuatu yang luas dan memiliki berbagai probabilitas untuk berkembang. Variasi-variasi kehidupan itu hadir ketika diri mau membuka diri akan keluasan variasi kehidupan itu, tentunya sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Depresi bisa hadir pada mereka yang menempatkan pendidikan tidak sebagai hal penting, yang secara seimbang seharusnya bisa membuka cakrawala berpikir seseorang, dan mampu survive di kehidupan saat ini.

Ketidaksehatan mental seseorang pada ruang kognitif serta cakra ajna ini adalah akibat rendahnya kesadaran untuk mengembangkan pendidikannya. Di sisi lain seseorang yang dipaksa untuk mengikuti sesuatu “perjalanan” pendidikan yang tidak sesuai dengan minatnya, atau bahkan dirundung secara batin untuk suatu yang tidak ia minatkan, akan menciptakan permasalahan baru dan keputusasaan dirinya. Keadaan yang seimbang akan itu, bisa membuat potensi dirinya berkembang baik, serta membuat ia bisa mendapatkan aktualitasi diri secara nyata, sebagai ranah keterpenuhan hierarki maslow yang terakhir.

2.6. Cakra Mahkota, Hierarki Maslow, dan Depresi

Cakra mahkota pada dasarnya adalah suatu keterhubungan jiwa seseorang dengan sesuatu yang lebih besar, yaitu dikatakan sebagai konsep parahyangan hubungan manusia dengan penciptanya. Religi berperan besar di wilayah ini, dan tentu saja perlu dibarengi dengan keseimbangan cakra-cakra lainnya. Riskan juga ketika berbicara tentang Tuhan pada mereka yang memiliki suatu depresi tanpa memikirkan tentang keseimbangan cakra yang lainnya. Konsep aktualisasi diri tentunya tetap memberikan pengaruh besar dengan keyakinan dirinya. Namun ketika kesehatan di sisi lainnya tidak bisa dikontrol untuk menuju titik seimbang, maka ini bisa menjadi bumerang atas mentalitasnya.

Seseorang yang penuh dengan rasa keterhubungan kepada Tuhan dengan tulus, iklas memiliki kecendrungan cakra anahatanya juga sesuai dengan karakter religinya di kehidupannya. Cakra anahata adalah pengaplikasian dari karakter religius serta memahami spiritualitas yang sesuai, rasa cinta kasih yang besar terhadap sesama, dan kepada lingkungan. Sebuah kecenderungan di jaman ini adalah rasa keterhubungan dengan Tuhan yang palsu, adalah bahwa ia menggunakan nama Tuhan sebagai penguatan atas cakra perut ambisinya untuk duniawi, atau pula terjebak dalam lingkup pelecehan seksualitas yang mengumbar cakra sakralnya. Yang lain adalah perasaan palsu di mana merasa memiliki kekuatan besar di cakra dasarnya, dan menggunakan nama Tuhan untuk melakukan intimidasi dan kerusakan destruktif kepada lingkungan. Ini terjadi karena kebutuhan kognitifnya tidak diberikan asupan untuk menggunakan cakra anahata mencintai sesama dengan tulus.

Hal tersebut di atas menjadikan seseorang itu menjadi berbahaya, karena mampu menghilangkan nyawanya untuk kepentingan yang ia tidak pahami sebagai kebenaran yang benar. Ini terlihat di cakra anahatanya yang sangat pasif dan gelap sehingga menjadikan pembenarana atas “rasa” keterhubungan yang palsu itu. Perlunya suatu aktualisasi diri dengan memberikan pembelajaran budi pekerti, etika dan susila untuk mendapatkan konsep keterpenuhan yang bersandar pada keyakinan yang benar.

Keadaan “rasa keterhubungan” yang palsu itu menciptakan manusia yang delusional, serta berhalusinasi, dan menjadikan waham sebagai kebenaran. Perlu sekali memilih suatu landasan penting pada seorang guru yang menyodorkan ranah swadyaya untuk bercermin kepada dirinya sendiri. Memilih guru yang telah teruji dengan baik dan memiliki kondisi cakra-cakra yang seimbang secara optimal untuk membimbing ke arah kehidupan yang lebih baik.

Seorang yang depresi harus lebih dahulu diberikan perbaikan atas cakra atau hierarki kebutuhan lainnya, agar bisa diselamatkan dari kondisi dan pola pikirnya saat itu. Kondisi cakra yang seimbang akan bisa dengan baik mendapatkan asupan tentang konsep keterhubungan manusia dengan Tuhan Hyang Agung. Ketika malah seseorang yang depresi diberikan pengetahuan bahwa kehidupan di tempat setelah mati itu lebih buruk dari sekarang, maka itu akan hanya menambah rasa depresinya. Perlu adanya komunikasi aktif yang empatik dan simpatik, sehingga ia mampu dulu memperbaiki kondisi psikisnya daripada secara gegabah menyalahkan ia pada ruang mendapatkan neraka dan penghukuman.

Mereka yang berasal dari kalangan religius tentunya perlu menambahkan pembelajaran tentang budi pekerti, dan etika sehingga bisa memberikan suatu lingkungan yang baik di seluruh tempat yang ada. Ketika suatu guru mampu memberikan ruang lingkungan yang penuh cinta dan kasih penuh empati, yang penuh dengan rasa aman serta nyaman. Lalu memberikan kesempatan untuk mengembangkan keingintahuan kognitifnya, meningkatkan harga dirinya, atau pun pengembangan bakat atas seni dan estetika, maka aktualisasi diri akan tercapai dan lingkungan menjadi ramah atas seseorang. Di saat itulah kondisi depresi yang mengarah pada bunuh diri bisa berkurang secara signifikan.

Daftar Pustaka

  • Atmaja, dkk. 2010. Etika Hindu. Surabaya: Penerbit Paramita. Cetakan Pertama 2010.
  • Jaenudin, Ujam (2012) Psikologi Kepribadian. Penerbit Pustaka Setia Bandung.
  • Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuscaya (dalam teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna). Surabaya: Penerbit Paramita
  • Maswinara, I Wayan (penyadur). 1997. Bhagawadgita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Surabaya:Penerbit Paramita
  • Pudja G.,M.A., Rai Sudharta, Tjokorda, M.A. 1996. Manawa Dharmasastra (Weda Smreti Compendium Hindu). Jakarta:Penerbit Hanuman Sakti
  • Palguna. IBM Dharma. 2008. Leksikon Hindu. Lombok: Penerbit SadampatyAksara
  • Suhardana Komang. 2010. Catur Marga Empat Jalan Menuju Brahman. Surabaya : Penerbit Paramita
  • Suhardana Komang. 2010. Karmaphala Menciptakan Karma Baik Menurut Kitab Suci Hindu. Surabaya: Penerbit Paramita Cetakan Pertama.
  • Wardana, Lingga I.B. (2021). Ke Mana Kita Setelah Mati (Menganalisa Mayaguna). Penerbit Kalvatar Tastra Aksara Denpasar
  • Wardana, Lingga I.B. (2022).  Susila Dalam Sloka. Penerbit Kalvatar Tastra Aksara
  • Wardana, Lingga I.B. (2024)Psikologi (kepribadian) dalam ruang dharma. Penerbit Kalvatar Tastra Aksara

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca