1.    Pendahuluan

Kebudayaan nusantara memiliki begitu banyak pemaknaan mendalam, serta dapat dipergunakan dalam berbagai konsep kehidupan. Kebudayaan yang sebagai peradaban adi luhung para leluhur, ketika diselami dengan seksama, tentunya berisikan simbol-simbol yang memberikan suasana penuh takjub tiada hentinya. Dari suatu perababan besar di masa lalu, yang sejatinya diperuntukkan kepada generasi selanjutnya untuk digunakan sebagai kebermanfaatan dalam kehidupan.

Salah satu jenis peninggalan kebudayaan itu adalah candi-candi besar yang menjadi saksi sejarah bahwa nusantara memiliki peradaban di masa lalu. Candi borobudur, candi mendut, candi prambanan, candi sukuh, atau candi-candi lainnya yang tersebar dalam berbagai wilayah nusantara itu sendiri. Candi-candi tersebut selain memiliki khasanah budaya tersendiri, secara mendalam memiliki suatu konsep jnana yang dapat kemudian diambil kebermanfaatannya untuk kehidupan generasi selanjutnya. Jnana atau pengetahuan itu tentunya perlu diteliti baik dari sisi simboliknya, pemaknaannya, tattwanya, susilanya, atau dalam berbagai persepektif yang ada.

Simbolisme dari suatu relief candi-candi tersebut, salah satunya relief di Candi Prambanan dapat memberikan manfaat yang dari perspektif penulis bisa digunakan untuk konsep pengobatan secara tradisional Bali, atau Usadha Bali. Simbolisme relief candi prambanan dikatakan berisikan berbagai konsep-konsep mudra yang pada dasarnya memiliki berbagai makna-makna tertentu yang berguna untuk peningkatan kesehatan baik secara rohani dan menguatkan sisi jasmaninya. Hal ini sangat berhubungan dengan berbagai metode meditasi mudra yang dapat nantinya memengaruhi sisi energi cakra yang ada pada mereka yang dengan tekun melaksanakannya. Energi cakra tersebut pun berlaku secara universal. Karena cakra itu setidaknya aktif baik secara seimbang, agresif, atau pasif yang menandakan manusia itu masih dalam keadaan hidup.

Mudra pada dasarnya adalah gerakan tangan yang bebas dan cenderung sakral sebagai sarana komunikasi nonverbal kepada sesuatu yang agung. Mudra oleh Adnyani (2023) disebutkan sebagai gerakan tangan yang digunakan sebagai media pemujaan. Gerakan tangan mudra ini pun tercantum pada Hatha Yoga Pradipika, 3.5 tasmāt sarva prayatnena prabodhayitumīśvarīm brahmadvāramukhe suptām mudrābhyaasam samācharet yang diterjemahkan secara bebas “dengan melakukan mudra secara menyeluruh, kesadaran yang tertidur terus menerus dibangunkan dengan segala upaya agar dapat memasuki pintu Brahma (Brahmadvara) (Adnyani,2023).

Candi Prambanan sendiri memiliki berbagai arca-arca yang cukup banyak. Arca-arca tersebut seperti Siwa Mahadewa, Arca Siwa Mahaguru (Agastya), Arca Ganesha, Arca Durga Mahisasuramardini (Rara Jongrang), Mahakala dan Nandiswara. Lokapala, Brahma, Wisnu, Wahana, dan arca lainnya. (Suryawan, 2024 : hal 42-62). Arca-arca lainnya adalah Arca penari dan pemusik, Arca Gana, Arca Brahma sebagai Resi, Arca Wisnu sebagai Pendeta, Relief Cerita Khrisna. Kesemuanya itu memiliki pemaknaan tersendiri. Khusus dalam konsep mudra ini, didapatkan bahwa itu terjewantahkan pada Arca Brahma sebagai Resi yang berjumlah 76 buah arca, serta Arca Wisnu sebagai Pendeta yang berjumlah 72 buah.

Mudra-mudra yang terangkum itu pun dalam sudut pandang kesehatan, memiliki suatu fungsi tersendiri. Fungsi-fungsi yang ada menuju pada peningkatan kualitas kesehatan dalam bingkai metode usadha. Mudra tersebut dapat menjadi cermin kesehatan psikologis, serta niscaya membentuk kekuatan di sisi kesehatan jasmani. Sapta cakra pun merupakan konsep penting yang berasal dari tradisi tantra dan sepenuhnya berisikan intuisi untuk mendisiplinkan diri menuju kesehatan mental yang lebih baik.

2.    Landasan Teori

2.1 Teori Semiotika

Kata Semiotik berasal dari kata Yunani yaitu semeion yang berarti tanda. Semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika sendiri merupakan cabang ilmu yang memperlajari tentang pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia, yang artinya bahwa semua yang hadir dalam kehidupan dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus diberi makna.

Konsep simbolisme Mudra di Candi Prambanan menggunakan Teori Semiotika Peirce yang merupakan ilmu atau metode analisis untuk membahas mengenai sistem tanda yang diciptakan ahli filsafat asal Amerika bernama Charles Sanders Pierce yang terkenal dalam bidang logika terhadap manusia dan penalarannya. Peirce mengemukakan bahwa dalam kehidupan manusia memiliki ciri yaitu adanya pencampuran tanda dan cara penggunaannya dalam aktivitas yang bersifat representatif.

 Tanda merupakan sesuatu yang tampak, merujuk pada sesuatu, mampu mewakili relasi antara tanda dengan penerima tanda yang bersifat representatif dan mengarah pada interpretasi. Adapun syarat agar sesuatu dapat disebut sebagai tanda yaitu apabila sesuatu itu dapat ditangkap, menunjuk pada sesuatu, menggantikan, mewakili, menyajikan dan dan memiliki sifat representatif, yang memiliki hubungan langsung dengan sifat interpretatif.

  1. Menurut Peirce, tanda merupakan sesutu yang berfungsi untuk mewakili sesuatu yang lain dengan mempresentasikan sesuatu yang diwakilinya.
  2. Peirce membagi sistem tanda (semiotik) menjadi tiga unsur yang telah dimuat dalam teori segitiga yaitu tanda atau representamen (sign), acuan tanda (object), dan penggunaan tanda (interpretant).
  3. Tanda merupakan sesuatu yang berbentuk fisik yang diterima oleh panca indera manusia dan dapat merepresentasikan hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari simbol, ikon dan indeks. Acuan dari tanda disebut objek. Objek ialah sesuatu yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara itu, interpretant merupakan konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan memberikan makna terhadap objek yang dirujuk sebuah tanda. Peirce menyebut tanda dengan sebutan semiosis, artinya setiap hal yang ada di dunia merupakan sebuah tanda yang merupakan suatu proses pemaknaan terhadap tiga tahap (triatidic).

Teori semiotika struktural dijelaskan pula oleh ahli yang bernama Levi-Strauss. Ciri-ciri Strukturalisme Levi-Strauss, di mana Levi-Strauss mengambil ide dari linguistik. Linguistik adalah studi tentang bahasa dan sangat berhubungan pula dengan pemaknaan simbolik yang tercantum dalam berbagai karya budaya. Ia mengatakan budaya bekerja seperti bahasa. Mitos, ritual, dan adat istiadat membentuk sistem makna. Sistem ini terstruktur melalui pertentangan biner. Strukturalisme Levi-Strauss mengusulkan cara-cara baru untuk mempelajari masyarakat dan budaya. Berikut ini adalah beberapa konsep utama dari Levi-Strauss :

  1. Levi Strauss berfokus pada struktur mental bawah sadar yang dimiliki bersama. Levi Strauss percaya bahwa di balik perbedaan budaya yang terlihat, terdapat struktur mendalam yang umum bagi semua pikiran manusia. Struktur yang mendasari ini membentuk cara kita mengatur pengalaman dan memahami dunia.
  2. Teori Levi Strauss menggambarkan persamaan antara bahasa dan masyarakat. Sama seperti bahasa yang memiliki unit-unit dasar (fonem) yang bergabung menjadi struktur yang lebih besar (kata dan kalimat), masyarakat juga memiliki unit-unit dasar (sistem kekerabatan, pantangan makanan) yang bergabung menjadi struktur budaya. Levi Strauss bertujuan untuk mengungkap ‘tata bahasa’ yang mendasari fenomena sosial.
  3. Teori Levi Strauss mencari pola dalam biner dan hal-hal yang berlawanan. Ia mempelajari cara budaya berpikir dengan menganalisis biner dan hal-hal yang berlawanan yang menyusun pikiran: mentah vs matang, alam vs budaya, pria vs wanita. Levi Strauss percaya bahwa memahami bagaimana budaya mengonseptualisasikan dan menyelesaikan hal-hal yang berlawanan akan mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang bagaimana mereka membuat makna.
  4. Pembahasan Levi Strauss menggunakan mitos untuk mengakses struktur mental bawah sadar. Levi Strauss menganalisis mitos dari berbagai budaya untuk mengungkap struktur biner mendalam yang membentuk pemikiran manusia. Ia berpendapat bahwa mitos membahas pertanyaan mendasar tentang eksistensi manusia dengan cara metaforis dan simbolis yang mengungkap struktur bawah sadar.
  5. Konsep Teori Levi Strauss melihat budaya sebagai sistem tanda. Bagi Levi Strauss, objek dan ritual dalam suatu budaya ibarat tanda dalam bahasa yang menyampaikan makna. Namun, maknanya berasal dari bagaimana mereka saling berhubungan dalam sistem budaya yang lebih luas.
  6. Pandangan Levi Strauss berfokus pada hubungan, bukan pada hal-hal yang berdiri sendiri. Alih-alih mempelajari unsur-unsur budaya secara terpisah, ia meneliti bagaimana unsur-unsur tersebut saling berhubungan dalam sistem budaya. Hubungan dan pola -seperti simetri, analogi, dan metafora- menyingkapkan struktur budaya yang mendalam.
  7. Levi Strauss tidak mengutamakan fungsi daripada bentuk. Tidak seperti teori fungsionalis, teori ini berpendapat bahwa bentuk itu sendiri bermakna. Bagaimana elemen budaya terstruktur dan saling berhubungan sama pentingnya dengan fungsi yang mereka jalankan.

Levi-Strauss memandang budaya sebagai sistem simbolik yang dimiliki bersama, dan merupakan ciptaan pikiran (creation of mind) secara kumulatif. Dia berusaha menemukan dalam penstrukturan bidang kultural (dalam mitologi, kesenian, kekerabatan, dan bahasa) prinsip-prinsip dari pikiran (mind) yang menghasilkan budaya itu. Kondisi material dari mata pencaharian hidup dan ekonomi memberi kendala (bukan menentukan) bentuk dunia yang kita hidupi ini. Khususnya dalam mitologi, kondisi material tersebut membiarkan pemikiran tentang dunia berkuasa secara bebas. Dunia fisik tempat manusia hidup memberikan bahan mentah yang diperdalam lebih jauh oleh proses pemikiran yang universal ke dalam pola-pola yang jauh berbeda secara substansif tetapi sama secara formal. (Keesing, pada Web Pusdikmin Polri,  login pada 16 Juli 2025).

Pemaparan dari Peirce dan Levi Strauss digunakan dalam tulisan ini untuk memahami tentang sistem tanda dari mudra pada Relief Candi Prambanan, dan bagaimana penanda dari Relief Candi Prambanan sebagai objek budaya yang dapat memiliki makna tertentu pada konsep alam bawah sadar manusia, serta bagaimana objek relief menjadi struktur mental manusia untuk diinterpretasikan sebagai konsep usadha.

 2.2 Teori Sapta Cakra dan Keseimbangan Maya Guna

Sapta cakra dikatakan sebagai suatu konsep energi yang berada dalam tubuh manusia. Dalam memahami energi serta spirit dalam jiwa manusia, tentu ada beberapa bagian yang menjadi pedoman untuk menganalisa energi itu, sebagai bagian pembelajaran diri. Bagian-bagian itu tentunya sudah dipelajari lintas generasi sebagai suatu kebenaran juga pengetahuan (Lingga, 2025: hal 36).

Seperti juga tentang pemahaman akan semesta, bahwa di saat brahman atau Tuhan sebagai yang nirguna (tidak terliputi guna) dalam keadaan diam, sunia, hening, tetapi berisikan potensi yang tidak terbatas; maka bahwa ketika Ia mencipta dan mengkreasikan dunia sebagai Saguna Brahman, pada saat itu maya guna akan selalu ikut dan berada di setiap celah letak, waktu di kehidupan atau alam setelah kematian mengada. Maya guna adalah sesuatu yang meliputi brahman , bagian dari guna itu terdiri dari guna sattwika, rajasika, dan tamasika guna.

Dalam bhagawadgita dijelaskan pada bab 14 tentang guna-guna itu. Seperti yang  pada Bhagawadgita :

Sloka XIV-5

Sattwam rajas tama iti gunah, prkrtisambhawah nibhadnanti mahabaho dehe dehinan awyayam.

Artinya : tiga sifati guna, yaitu kebaikan(sattwika), bernafsu (rajas), dan kelembaman (tamas) berasal dari alam prkerti yang membelenggu jasmani, wahai mahabaho (arjuna), sedgkan yang abadi bersemayam dalam badan..

Sloka-XIV-9

Sattwam sukhe sanjyanti rajah karmani bharata, jnanam awrtya tu tamah pramada sanjyaty uta

Artinya : sifat sattwika kebaikan mengikat orang pada kebahagiaan, sifat rajas dengan kegiatan kerja, wahai bharata, tetapi kebodohan(tamas), menyelubungi kebijaksanaan dan terikat pada kemalasan.

Sloka XIV-17

Sattwat sanjyate jnanam rajaso lobha ewa ca, pramada-mohau tamaso bhawato jnanam ewa ca

Artinya: dari sifat sattwika timbul pengetahuan dan dari sifat rajas muncul keserakahan(lobha) dan sifat tamasika muncul ketidakpedulian, kesalahan dan juga kebodohan.

Dan dari sloka di atas, sangat menunjukkan sifati dari alam semesta itu yang selalu melingkupi seluruh mahluk dan semesta. Dan pembagian itu bisa dikatakan mutlak kebenaranNya. Ketika tidak percaya atau percaya, maka itu tidak menjadi masalah. Karena illahi tuhan Om ang mang namah, ketika dikatakan tidak ada, dan tidak percaya. Tentu Ia akan selalu ada, walau dalam hampa ketiadaan semesta. Karena hampa itu adalah Ia jua.

Gambar Sapta Cakra

 Sumber : https://www.dreamstime.com/sapta-chakra-meditation-human-pose-illustration-les-sept-chakras-spiritual-practices-

Berhubungan dengan cakra, maka berdasarkan Yoga Patanjali, ada 7 cakra utama. Secara berurutan dari atas ke bawah, dan melingkupi sifati kesadaran atau sesuai dengan psikologis masing-masing. 7 cakra itu adalah sebagai berikut :

  1. Cakra Muladhara yaitu cakra dasar, kundalini yang brada di tulang ekor bawah. Secara umum ini berhubungan dengan laku “pembangkitan” energi, di sini adalah letak pertiwi atau bumi yang menyimpan potensi yang sunggu besar. Ini juga berhubungan dengan sifat atau rasa “feeling home” yang menimbulkan kenyamanan baik dimana pun berada. Cakra ini dismbolkan dengan warna merah.
  2. Cakra Svadisthana atau cakra sakral yang berada di kemaluan dan memberikan pemahaman akan seksualitas serta daya tarik juga self confident dari sesiapa yang dianalisa. Elemen yang ada adalah apah atau air. Dan cakra ini diberi simbol warna jingga atau orange.
  3. Cakra Manipura navel yang berada di pusar, disebut juga solar plexus. Cakra ini menunjukkan emosi dan ambisi dari sesiapa yang dianalisa. Cakra ini simbolkan berwarna kuning dan simbolisme api teja agni. Kelebihan cakra ini atau terlalu aktif akan memperlihatkan ambisi yang meliar tanpa etika.
  4. Cakra Anahata atau heart cakra, cakra jantung yang berisikan rasa kasih sayang dan cinta kasih pada semesta. Cakra ini disimbolkan dengan warna hijau dan berelemen bayu angin.
  5. Cakra Visudha yang berwarna biru adalah sebagai akasa atau ruang hampa. Ini melukiskan penggambaran kewibawaan dan sikap kepemimpinan, baik yang arogan atau yang bijaksana. Kesediaan mendengar dan berbicara cukup dan sistematis, adalah bagian dari cakra kerongkongan yang aktif.
  6. Cakra Ajna yaitu cakra di tengah-tengah alis sbagai simbol intelegensi, dan kesadaran yang intuitif. Sebagai seorang yang pemikir dan filsuf, maka dipastikan cakra ini aktif dan terbuka. Tidak disimbolkan dengan elemen, namun warna adalah seperti ungu indigo. Cakra ini memiliki kemampuan untuk memahami dan memberikan komando kepada cakra lainnya.
  7. Cakra mahkota Sahasrara adalah yang menyimpan rahasia dan kedaulatan kosmis semesta. Mahkota adalah sebuah berkat bagi seluruh jiwa sesiapa itu, dan memberikan sebuah kesembuhan atas kesakitan duniawi. Ini merupakan cakra yang identik dngan ilahiah serta suci murni berasal lngsung dengan koneksi semesta. Bagi penganut spiritualis yang waskita dan sudah memiliki pengalaman, maka cakra ini terbuka dan mempengaruhi lingkungannya.,

Seperti telah disebutkan bahwa maya adalah meliputi seluruhnya tanpa kecuali, jasmani dan juga semesta; maka tentu jiwa juga terliputi dan terbagi bagi menjadi tiga sifati maya itu. Bagian dari itu scara psikologis, maka sanggup memaknai dari cakra-cakra utama yang ada. Sattwika Rajasika Tamasika adalah konsep keseimbangan, konsep terlalu aktif dan berlebihan, yang ketiga adalah konsep lembam diam malas tidak aktif. Ketika menuju keseimbangan yang aktif dan stabil, maka cakra-cakra berada pada kondisi sattwika guna. Tentu berbeda ketika cakra tertentu itu berada pada kondisi tamasik rajasik, namun bahwa seluruhnya ini adalah tidak stagnan dan dinamis. Sesuai dengan kondisi psikologis serta rasa atau juga pengalaman dari sesiapa yang diperlihatkan cakra-cakra itu (Lingga,2025:hal 41)

Mudra dalam hal ini merupakan metode yang bisa digunakan dengan konsep keseimbangan sapta cakra tersebut. Mudra dalam ranah usadha memiliki manfaat untuk memberikan keseimbangan dari kondisi cakra yang ada. Mudra yang berada pada relief dari Candi Prambanan tentu saja memiliki pemaknaan tertentu yang bisa digunakan sebagai sarana usadha pengobatan tradisional Bali.

2.3. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

   Teori Kebutuhan Maslow merupakan bagian dari teori kepribadian yang bersifat Humanistik. Perspektif humanistik merupakan aliran kepribadian yang merupakan revolusi ketiga. Revolusi yang pertama adalah aliran psikoanalisa yang menekankan pada tingkah laku manusia dikendalikan oleh kekuatan tidak sadar dan irasional yang diperkenalkan pertama kali oleh Freud serta Carl Gustav Jung setelahnya. Yang kedua adalah perspektif behaviorisme yang mencirikan manusia sebagai korban yang fleksibel, pasif dan penurut terhadap stimulus lingkungan, atau sebagai bidak ketentuan lingkungan. Skinner, kemudian John Watsin serta Albert Bandura adalah tokok dari aliran kedua ini  (Hambali, 2013: hal.169).

   Aliran ketiga adalah psikologi humanistik yang menjadi kritik atas aliran sebelumnya. Aliran ini memberikan gambaran tentang manusia sebagai mahluk yang bermartabat serta selalu bergerak pada pengungkapan potensi yang dimilikinya, apabila lingkungan memungkinkannya. Aliran ketika ini memberikan suatu tema penting yaitu paham kebebasan, di mana sebelumnya prinsip-prinsip feodalitstik terutama gereja sangat membelenggu dan manusia pun harus tunduk kepadanya.

   Humanisme adalah suatu gerakan filsafat dan literatur yang bermula dari Italia pada paruh kedua abad ke -14 dan menjalar ke bagian eropa yang lainnya. Kaum Humanis bertekad mengembalikan kepada manusia spirit yang pernah dimiliki pada era klasik yaitu kebebasan dan sifat otonom manusia terhadap dirinya. Semua itu hilang pada jaman pertengahan karena pengaruh kekuatan gereja. Humanisme bertujuan untuk menghidupkan dan mengembangkan potensi serta kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang terdahulu yang terkungkung keyakinan masyarakat jaman pertengahan.

Tokoh-tokoh dari teori kepribadian humanisme di antaranya adalah Abraham Harold Maslow dan Carl Roger. Abraham Maslow merupakan pelopor aliran psikologi Humanisitik yang muncul pada tahun 1950-an. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teori yang terkenal dan digunakan dalam penelitian ini adalah Tujuh Tingkatan Kebutuhan Manusia (Seven Hierarchy of Needs) yang masih digunakan sampai sekarang. (Hambali, 2013: hal 179).

Gambar Hirarki Maslow

Pada Web https://linggashindusbaliwhisper.com/wp-content/uploads/2025/04

Tujuh tingkatan kebutuhan manusia itu adalah :

  1. Kebutuhan Fisiologis

Merupakan kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan tubuh manusia untuk mempertahankan hidup. Kebutuhan tersebut meliputi makanan, air, udara, rumah, pakaian dan seks (Bari,2022). Pemikiran Maslow akan kebutuhan fisik ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pasca Perang Dunia II. Saat itu, manusia berada dalam kondisi yang begitu memilukan. Salah satunya adalah dilandanya kelaparan. Oleh karena itu, Maslow menganggap kebutuhan fisik adalah yang utama melebihi apapun (Muazaroh, 2019).

  • Kebutuhan Rasa Aman

Merupakan kebutuhan tingkat kedua setelah kebutuhan dasar. Ini merupakan kebutuhan perlindungan bagi fisik manusia. Manusia membutuhkan perlindungan dari gangguan kriminalitas, sehingga ia bisa hidup dengan aman dan nyaman (Bari,2022).

  • Kebutuhan cinta dan memiliki.

Kebutuhan cinta dan memiliki yaitu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan suatu ikatan emosional dengan individu lainnya, baik dengan sesama jenis atau dengan lain jenis dalam suatu lingkungan dan kelompok masyarakat. Ketika rasa keamanan sudah terpenuhi maka individu memiliki kemampuan untuk mersa diakui, disayangi, dicintai secara timbal balik. (Hambali, 2013: hal 181).

  • Kebutuhan rasa harga diri, oleh Maslow dibagi menjadi dua yaitu penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan yang kedua adalah suatu penghargaan dari orang lain. Bagian pertama adalah hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kemandirian dan kebebasan. Dan yang kedua adalah tentang prestasi, penghargaan dari orang lain meliputi suatu pengakuan, perhatian, prestise, respek dan kedudukan. (Hambali, 2013: hal 181)
  • Kebutuhan kognitif, disebut oleh Maslow adalah manusia memiliki hasrat untuk ingin tahu (memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang sesuatu). Hal ini berkembang dari sejak usia bayi sampai dengan awal anak-anak. Lingkungan sangat memengaruhi bagaimana kondisi ini terus berkembang, sehingga potensi itu bisa menjadi lebih bermakna sampai di dewasa. Kebutuhan ini contohnya adalah tentang kebutuhan akan menganalisa, memahami, mengevaluasi, menjelaskan, atau mencari sesuatu suasana baru dan meneliti. (Hambali, 2013 : hal 182)
  • Kebutuhan Estetika, yaitu kebutuhan manusia yang sehat mentalnya di mana ia bisa mengembangkan kreativitasnya di bidang seni, arsitektur, tata busana, tata rias, dan kecendrungan untuk keteraturan, keserasian, dan keharmonisan. Hal ini terlihat dalam kondisi mental yang sehat dari seseorang, di mana kebutuhan estetika ini akan membentuk seseorang yang memerhatikan kebersihan lingungan, serta mengapresiasi keteraturan dan keindahan. (Hambali, 2013 : hal 182)
  • Aktualisasi Diri adalah konsep puncak dari hierarki yaitu di mana merupakan perwujudan dan perkembangan potensi dan kapasitas secara penuh. Kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut ketika terpenuhi, namun tidak bisa memenuhi suatu aktualisasi diri, maka ini bisa menyebabkan suatu gangguan juga. Bakat-bakat serta potensi yang berkembang sejatinya bisa untuk diwujudkan dengan rasa keterpenuhan, sehingga mampu mencita-ciptakan diri dalam keadaan nyata, yaitu ruang aktualisasi diri. (Hambali, 2013: hal 183).

Hirarki Maslow ini dapat merupakan suatu tingkatan kebutuhan manusia, yang berarti bahwa ketika suatu kebutuhan itu terpenuhi, suatu kesehatan mental bisa dikatakan baik adanya. Setiap hirarki tersebut dalam konsep psikologi cakra sangat berhubungan, begitu juga konsep keseimbangan yang ada bisa dikondisikan dengan baik dengan meditasi mudra sebagai sarana usadha.

3.    Pembahasan

3.1.Mudra Sebagai Usadha

Mudra yang terdapat pada relief Candi Prambanan tedapat pada Arca Resi Brahma dan Arca Pendeta Wisnu. Jumlah dari relief arca tersebut masing-masing adalah 76 buah untuk Arca Resi Brahma, dan 72 buah pada Arca Pendeta Wisnu. Tidak semua mudra dari arca ini dibahas, namun hanya mudra yang digunakan dalam sarana pengusadha untuk melakukan suatu terapi tertentu dan memengaruhi sapta cakranya.

Mudra adalah suatu objek yang dapat terlihat dari suatu tanda pada arca-arca tersebut. Mudra itu merupakan bentuk tangan yang spesifik yang biasanya digunakan sebagai pembahasaan komunikasi sakral dalam suatu ritual. Mudra sudah terstruktur adanya sebagai bagian sejarah dan mulai dipergunakan oleh pendeta-pendeta dengan penganut kepercayaan Hindu Budha di Nusantara. Itu adalah sebetulnya mengacu pada gerakan untuk menghubungkan diri dengan alam semesta dan energi Tuhan. Mudra dikatakan pula sebagai komunikasi antara pendeta dan dewata pada ritual keagamaan yang memiliki makna dan tujuan tertentu (Suryawan. 2024: hal 26).

Mudra tersebut pun bisa disebut sebagai suatu simbol kebudayaan yang masih mengakar di ritual yang sakral, termasuk di Bali. Dari berbagai arca-arca yang terangkum dan pula relief-relief pada candi-candi, itu bisa menjadi suatu bukti tentang kebudayaan nusantara waktu itu, di mana ada landasan ritual juga keagamaan yang sakral pada masyarakat. Pada abad ke-4 Masehi dikatakan para pemimpin keagamaan mendapatkan tempat yang istimewa yaitu sebagai penasehat raja yang disebut pendeta kerajaan. Sehingga terdapat keterkaitan antara sistem keagamaan dan kesejahteraan kerajaan beserta rakyatnya (Suryawan, 2024 : hal 26).

Hal ini bisa menjadi bentuk penandaan bahwa pada berbagai relief-relief yang ada, bisa menjadi gambaran tentang konsep suatu kehidupan nusantara di masa itu. Dan di Bali terutama, begitu pula daerah nusantara yang masih menggunakan ritual keagamaan Siwa Budha dengan konsep mudranya, menunjukkan eksistensi yang terjalin dari saat itu sampai sekarang. Bisa dikatakan bahwa tanda-tanda yang hadir, ketika dimaknai secara mendalam oleh generasi selanjutnya, dapat membuka suatu kebermanfaatan pada ranah tertentu. Ini bisa juga dipergunakan sebagai sarana komunikasi dan transfer pengetahuan suci jnana widya yang siap untuk dipahami, dilisankan, serta dilaksanakan dalam kehidupan yang sakral atau pun profan.

Mudra sendiri adalah sarana komunikasi kepada entitas yang lebih tinggi, secara lanjut dalam suatu kegiatan penyehatan diri, mudra digunakan juga sebagai konsep posisi meditasi yang dapat memengaruhi simpul-simpul energi dalam tubuh yang disebut cakra. Cakra-cakra tersebut pada dasarnya terdiri dari tiga keadaan berdasarkan kualitas maya gunanya. Cakra yang dengan kondisi terlalu aktif disebut cakra dengan kualitas rajas, cakra dengan keadaan diam atau tidak aktif disebut sebagai kondisi tamas, serta kondisi terbaik dari cakra itu adalah kualitas sattwika atau keseimbangan. Mudra kemudian menjadi posisi meditasi yang baik untuk membantu cakra menuju kondisi yang seimbang.

Usada adalah konsep ayurweda bali, secara tradisional usada berasal dari kata sansekerta yakni Ausadha yang berarti tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat obat, atau dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Namun di Bali pengertian lebih meluas yang artinya tata cara menyembuhkan penyakit, cara pengobatan (kuratif), cara pencegahan (preventif), memperkirakan jenis penyakit (diagnosis), maupun perjalanan penyakit dan pemulihannya (prognosis). Disebut juga sebagai suatu ilmu pengobatan yang ramah terhadap lingkungan dan bersumber dari berbagai lontar-lontar yang ada. (Nala, 2021).

Fungsi-fungsi Usadha secara umum dapat terbagi menjadi empat bagian sebagai berikut :

  1. Promotif meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat akan hidup sehat. Jadi dalam hal ini ada suatu penyadaran atas suatu pengetahuan tentang berbagai cara-cara untuk meningkatkan kesehatan bagi masyarakat luas.
  2. Preventif untuk pencegahan penyakit yang merupakan konsep atau cara-cara khusus dalam menjaga suatu kesehatan tubuh agar terhindar dari suatu penyakit tertentu.
  3. Kuratif untuk mengobati dan penyembuhan penyakit. Hal ini dilakukan dengan berbagai metode-metode tertentu untuk menghilangkan berbagai masalah-masalah karena suatu penyakit tertentu.
  4. Rehabilitatif untuk memulihkan kemampuan fisik, mental, atau sosial pasien yaitu sebagai cara penguatan-penguatan terhadap pasien ketika usai melakukan pengobatan-pengobatan terkait.

Kemudian oleh Sukartha (2014) elemen-elemen dasar usadha adalah sebagai berikut :

  1. Pendekatan universal yang menekankan pemakaian dan relevansi pada hal yang bersifat universal, sehingga bisa digunakan di mana saja.
  2. Tubuh memiliki kaitan sangat erat dengan jiwa serta pikiran manusia, sehingga dengan meperbaiki, memahami jiwa dan pikiran, mampu untuk mencapai keharmonisan hidup. Konsep pembagian jiwa seperti pada panca maya kosha, Suksma dan stula sarira.
  3. Penyakit manusia terdiri dari dua faktor penyebab, faktor utama dan faktor kedua.
    1. Faktor utama adalah ketidakseimbangan dari Tri ala, tri pramana, tri datu, satwik rajas tamas, vatta pitha kapha, konsep yin yang tubuh, sapta cakra.
    1. Faktor kedua adalah dari luar yaitu bibit penyakit, virus bakteri, organisme luar,kuman, yang masuk karena ketidakseimbangan faktor utama itu.
  4. Obat-obatan yang berasal dari bahan tumbuhan, Binatang, logam mineral batu-batuan yang diolah menjadi obat dan bukan racun, untuk mengobati dan merangsang kekebalan tubuh.
  5. Usada beranggapan ada buana agung buana alit yang selalu berhubungan dan terkoneksi, dan apa yang ada di alam diri ada di buana agung.
  6. Usadha adalah ilmu yang ramah lingkungan.

Dari yang tersebutkan di atas, mudra adalah suatu bagian metode dalam usadha, yang bisa digunakan pada berbagai fungsi usadha yang ada. Sebagai sarana promotif untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan jasmani dan rohani, sebagai sarana untuk preventif pencegahan penyakit di kemudian hari, dengan menguatkan kondisi cakra yang ada. Mudra juga dapat digunakan penguatan dalam penyembuhan suatu penyakit yang meliputi bagian-bagian cakra yang ada, serta kekuatan rehabilitatif untuk mempercepat pemulihan suatu penyakit yang ada.

Mudra pun bisa digunakan oleh semua kalangan, karena usadha pada dasarnya adalah pemahaman yang universal. Universal yang membangun suatu alam bawah sadar manusia yang kolektif, yang artinya setiap manusia bisa menggali kebersadaran itu untuk mendapatkan suatu kesehatan kepadanya. Mudra yang dilaksanakan secara disiplin dan meditatif, akan dapat berpengaruh baik kepada setiap cakra yang ada.

3.2.Mudra dalam Relief Candi Prambanan

Mudra yang terdapat pada Relief Candi Prambanan merupakan mudra yang tersimbolkan dalam Arca Rsi Brahma dan Arca Pendeta Wisnu. Hal ini telah dirangkum oleh Suryawan (2024), mengenai konsep mudra yang ada pada relief arca brahma dan arca wisnu di Candi Prambanan. Mudra sendiri dikatakan sebagai konsep Siwa Buddha yang masih dilakukan saat ini oleh Ida Sulinggih di Bali.

Sikap mudra tersebut dapat dirangkum pada matriks berikut :

Nama MudraGambar Arca (Representamen-)Bentuk Tangan (Objek)Pemaknaan (Interpretasi)
Padma Mudra  Sebagai simbol kebijaksanaan, seperti suatu keindahan yang terpancar pada bunga padma dan tidak terpengaruhi oleh kotornya lumpur.  
Naraca Mudra  Simbol Kebijaksanaan simbol penyucian, suatu simbol kewibawaan.
Pratiwhi Mudra  Simbolisme penyerahan diri kepada Tuhan, penyerahan diri kepada kehidupan dan pengabdian kepada jalan Tuhan.
Akasha Mudra  Simbolisme sebuah ketenangan, seperti ruang yang hampa udara, menjadi terjaga dan dalam ketenangan jiwa.
Astra MudraSimbolisme sebuah penyampaian permohonan, memohon kekuatan energi semesta untuk menguatkan diri dalam melaksanakan sesuatu.
Dhwaja Mudra  Mudra menolak segala penyakit dan menguatkan diri atas lingkungan yang mungkin tidak baik.
Trisula Mudra Keseimbangan energi, sehingga kelelahan, dan kepenatan yang menyebabkan stress menjadi menyirna, dan tubuh menjadi stabil.
Pratiwi Akasa Mudra  Penyatuan energi dari semesta dan meminta berkat semesta, terutama kepada energi Brahma, Wisnu, Siwa, untuk kehidupan yang lebih harmonis.
Bajra Mudra  Digunakan untuk membentuk pikiran yang positif, serta menguatkan diri agar mampu menerima karma dengan baik.
Cakra Mudra  Cakra mudra sebagai konsep waktu atau kala, dan juga digunakan untuk mensikronkan diri dengan Bhatara Wisnu, serta mendapatkan berkatNya untuk kehidupan.
Petik Mudra Saraswati Dewi  Memohon berkat kepada Sakti Dewi Saraswati, agar selalu dikuatkan dalam mendapatkan penyucian pikiran, dan kecerdasan.
Petik Mudra Laksmi Dewi  Memohon berkat kepada Sakti Dewi Laksmi agar selalu dikuatkan dalam mendapatkan pemeliharaan diri dan orang yang disayangi dalam hidup, agar kuat dan mampu mendapatkan rejeki dan keberkahan.
Petik Mudra Upeksa Dewi  dan Petik Mudra Karuna Dewi
Upeksa Dewi

Karuna Dewi

Upeksa Dewi  

Karuna Dewi
Keduanya adalah bagian dari Catur Paramita Upeksa Dewi adalah untuk menambah empati dan kepedulian kepada sesama,  Karuna Dewi adalah untuk menambah rasa cinta kasih sayang kepada semua mahluk.
Hredaya Mudra  Menjadi kekuatan karakter kita agar lebih percaya diri, serta menguatkan diri kita untuk bisa mendengar pesan-pesan semesta, di hati kecil kita, kejujuran diri, dan aktualisasi diri.

Dapat terlihat dalam relief-relief yang ada, mendapatkan interpretasi pemaknaan sendiri. Pemaknaan itu memberikan fungsi-fungsi yang berbeda ketika digunakan seseorang untuk melaksanakan meditasi tertentu. Fungsi-fungsi ketika dikonsepsikan berdasarkan cakra-cakra yang ada, maka bisa bermanfaat pada peningkatan kualitas kesehatan orang tersebut.

3.3. Mudra Keseimbangan Cakra untuk Kesehatan Psikologis

 Mudra yang dilaksanakan dalam kondisi meditatif, dapat memberikan suatu manfaat dari berbagai cakra bagi yang melaksanakannya. Suatu keadaan sehat secara psikologis yang tergambar pada kondisi cakra yang seimbang, dapat pula terlihat pada kesehatan mental ketika seseorang mampu mendapatkan suatu kebutuhan kehidupan. Seperti keadaan di mana hirarki Maslow itu terpenuhi secara baik dan menemukan suatu aktualisasi diri.

Hubungan cakra dengan mudra begitu pula bagaimana itu memengaruhi gambaran suatu kebutuhan hidup yang sudah atau kelak terpenuhi, dapat disimak sebagai berikut:

Nama MudraSapta Cakra yang Dipengaruhi
Padma MudraMembuka Cakra Anahata dan menciptakan nuansa kasih sayang.
Naraca MudraSimbol kebijaksanaan Kewibawaan, ketika menyangkut kewibawaan dan kebijaksanaan maka akan memengaruhi Cakra Wisudha sebagai sarana komunikasi dan kewibawaan begitu pula Cakra Ajna sebagai simbol kebijaksanaan.
Pratiwi MudraSimbol penyerahan diri kepada Tuhan, dan membumi, untuk kenyaman diri biasanya akan memengaruhi Cakra Muladhara atau cakra dasar ketika bisa dilaksanakan dengan tekun dan baik.
Akasha MudraMudra ini ketika dilakukan dengan tekun dan sadar, akan memberikan kenyamanan pada Cakra tenggorokan atau Wisudha.
Astra MudraMudra ini ketika dilakukan dengan baik, maka dapat menguatkan motivasi diri, yang sangat baik menguatkan cakra perut. Astra mudra juga memiliki kekuatan Dewa Mahesora yang baik untuk menguatkan paru-paru, sehingga bisa menguatkan Cakra Anahata.
Dhwaja MudraMudra ini menguatkan diri untuk kekuatan terhadap lingkungan, kekuatan untuk selalu percaya diri, sehingga ini berhubungan dengan cakra sacral.
Trisula MudraMudra ini memberikan keseimbangan energi, sehingga kesehatan terpancar dengan baik, dan sangat berhubungan dengan Dewa Sambhu, kesehatan pankreas sesuai aksara sucinya. Ini berhubungan dengan cakra Manipura atau cakra perut, pengendalian emosi untuk keseimbangan energi cakra lainnya.
Pratiwi Akasa MudraMudra yang dikatakan sebaiknya dilakukan setelah melakukan meditasi keseimbangan cakra. Untuk memohon suatu kekuatan semesta. Memberikan suatu koneksi dari Cakra Mahkota menuju Cakra Pertiwi.
Bajra MudraMudra untuk kesucian pikiran, dan sangat baik untuk kesehatan jantung (pepusuh), hal ini dihubungkan dengan konsep Dewa Iswara yang berada di Timur dengan senjata bajraNya. Ini baik juga untuk Cakra Ajna agar lebih tenang, serta cakra mahkota untuk memohon kesucian, sekaligus pula cakra anahata.
Cakra MudraMelambangkan waktu, atau Kala, dan dihubungkan dengan Bhatara Wisnu di Utara, yang berstana di empedu. Empedu adalah organ untuk menetralisir racun yang ada, ketika dihubungkan dengan warna hitam wisnu, maka akan baik untuk perlindungan diri bagi seluruh cakra.
Petik Mudra Saraswati DewiMudra ini untuk kesehatan pikiran, dan kecerdasan di Cakra Ajna.Cakra dari Dewi Sakti ini juga mempengaruhi cakra sakral agar seimbang.
Petik Mudra Laksmi DewiMudra ini untuk menguatkan motivasi kita untuk kehidupan, menguatkan cakra perut manipura. Cakra dari Dewi Sakti ini juga mempengaruhi cakra sakral agar seimbang.
Petik Mudra Upeksa dan Karuna DewiMudra ini adalah untuk menguatkan kesehatan di cakra anahata untuk cinta kasih, yang bagi pengusadha sangat diperlukan, sebagai kekuatan taksu sebagai dharma dalam melaksanakan swadharma
Hredaya MudraMudra untuk menguatkan diri, serta mendengarkan hati kecil kita, tekun kepada kejujuran, menguatkan dharma kita sehingga mampu menguatkan cakra anahata, cakra mahkota, cakra wisudha

Kemudian ketika suatu mudra itu dilaksanakan secara seimbang, maka kesehatan mental pun meningkat. Kesehatan mental terpancar dari bagaimana suatu kebutuhan pada sisi psikologis terpancar pada keseimbangan cakra yang ada.

Bagian Cakra yang Sattwika (Seimbang)Kebutuhan Psikologis yang TerpenuhiMudra yang Terlibat
Cakra Dasar (Muladhara)Kebutuhan Fisiologis dan Kebutuhan Rasa Nyaman, Stamina yang baik bersumber dari kebutuhan makanan minuman yang tercukupi, dan keseimbangan cakra dasar akan berpengaruh pada rasa nyaman seseorang.Pertiwi Mudra, Padma Mudra, Cakra Mudra, Pratiwi Akasa Mudra.
Cakra Swadisthana (Sakral)Kebutuhan akan rasa cinta, kebutuhan akan harga diri, menguatkan kepercayaan diri agar tidak mudah terhasut oleh cinta palsu, serta terlalu posesif kepada seseorang yang dicintai. Mempengaruhi kesehatan organ -organ sakral manusia, dan kesehatan ginjal.Dwhaja Cakra, Cakra Mudra, Petik Cakra Dewi Saraswati dan Dewi Laksmi
Cakra Manipura (Solar Plexus)Berhubungan dengan kebutuhan atas harga diri, dan juga pemenuhan kebutuhan materialitas fisiologis sebagai kekuatan untuk kuat bekerja keras, dan memenuhi ambisinya dan menjaga motivasinya. Simbolisme aktualisasi diri di kehidupan, namun belum sempurna. Kesehatan perut, emosi terkontrol, dan rasa nyaman di lambung pencernaan akan terjagaAstra Mudra, Trisula Mudra, Cakra Mudra.
Cakra AnahataBerhubungan dengan rasa cinta kasih, dan memenuhi kebutuhan rasa cinta, harga diri, serta kebutuhan akan estetika. Menguatkan rasa cinta kepada sesama, dan penting bagi pengusadha, kesehatan jantung, paru-paru di sekitar dada akan juga terjaga.Padma Mudra, Bajra Mudra, Petik Mudra Upeksa Karuna Dewi, Hredaya Mudra, Astra Mudra.
Cakra WisudhaBerhubungan dengan kebutuhan akan komunikasi, tumbuhnya kebutuhan akan rasa seni, estetika, berhubungan dengan kewibawaan, bisa dikatakan kebutuhan akan harga diri, serta kebutuhan aktualiasi diri mulai terpenuhi dengan baik.Hredaya Mudra, Akasha Mudra, Cakra Mudra.
Cakra AjnaBerhubungan dengan kebutuhan kognitif atau kecerdasan, dan estetika atau seni, menuju keterpenuhan dari kebutuhan aktualisasi diri. Cakra Ajna ini jika dalam kondisi baik dan seimbang, maka akan bisa memberikan kontrol terhadap keseimbangan cakra yang lain. Sangat penting untuk mendapatkan keterpenuhan aktualisasi diri hirarki maslow.Bajra Mudra, Naraca Mudra, Petik Mudra Saraswati Dewi, Cakra Mudra
Cakra MahkotaBerhubungan dengan bagaimana aktualisasi diri mampu tercapai, dengan pula dibantu oleh cakra-cakra yang lain. Cakra yang memberikan keterhubungan dengan semesta.Hredaya Cakra, Cakra Mudra, Pratiwi Akasa Mudra, Padma Mudra, dan disiplin mudra-mudra yang lainnya.

Jadi ada suatu keterhubungan ketika mudra pada Relief Candi Prambanan dilaksanakan dalam suatu meditasi cakra, dan hal tersebut pun bisa memengaruhi kondisi dari psikologis seseorang. Psikologis seseorang yang dilihat berdasarkan konsepsi Hirarki Kebutuhan Maslow, dan dengan penuh keyakinan bahwa keniscayaan seseorang untuk mencapai pada ranah aktualisasi dirinya bisa terakomodasikan.

4.    Kesimpulan

Mudra yang terdapat di relief Candi Prambanan, pada dasarnya sangat bermanfaat untuk menambah kualitas kesehatan dari seseorang. Hal itu terjadi dengan melakukannya secara disiplin, sebagai penambah penguatan meditasi seseorang. Meditasi tersebut dikuatkan secara sugestif dengan mudra ini, kemudian dapat memengaruhi cakra-cakra yang ada. Waktu yang digunakan disesuaikan dengan tingkat kenyamanan yang ada. Dan secara konsep itu pun dapat memberikan suatu kesehatan selain pada sisi rohani atau psikologis, juga kepada sisi jasmaninya.

Mudra yang terdapat di Relief Candi Prambanan, adalah suatu konsep simbol yang berisikan tanda dan dapat dimanifestasikan menjadi objek tertentu kemudian mampu diinterperetasikan pada konsep Usadha Mudra. Mudra itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan masa lampau, yang memperlihatkan bagaimana suatu keyakinan yang berkembang pada saat itu, dan masih sangat layak diungkap fungsi serta kebermanfaatannya. Dan mudra tersebut pun dapat terinterpretasikan dalam maujud mudra untuk kesehatan diri, berdasarkan cakra-cakra yang terpengaruhi oleh mudra itu.

Cakra-cakra yang dipengaruhi oleh Mudra itu ketika dilaksanakan dengan baik dan tekun, akan mendapatkan suatu peningkatan kualitas-kualitas tertentu. Kualitas peningkatan itu adalah :

  1. Cakra Dasar (Muladhara) diseimbangkan dengan Pertiwi Mudra, Padma Mudra, Cakra Mudra, Pratiwi Akasa Mudra, yang bermanfaat pada sisi psikologis tingkat kenyaman diri dan ditandakan pula dengan terpenuhinya kebutuhan fisiologis.
  2. Cakra Sakral (Swadisthana) diseimbangkan dengan Dwhaja Cakra, Cakra Mudra, Petik Cakra Dewi Saraswati dan Dewi Laksmi, yang bermanfaat pada sisi psikologis kebutuhan akan rasa cinta, dan kebutuhan akan harga diri.
  3. Cakra Perut (Manipura) diseimbangkan dengan Astra Mudra, Trisula Mudra, Cakra Mudra, yang bermanfaat pada sisi kebutuhan harga diri, dasar utama untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis, dan titik awal untuk pemenuhan konsep aktualisasi diri.
  4. Cakra Jantung (Anahata) diseimbangkan dengan Padma Mudra, Bajra Mudra, Petik Mudra Upeksa Karuna Dewi, Hredaya Mudra, Astra Mudra, yang bermanfaat pada kebutuhan akan rasa cinta, harga diri, dan ruang kebutuhan estetika. Mudra yang menguatkan rasa cinta kasih dan empati, kemudian sebagai dasar utama seorang pengusadha untuk bermanfaat kepada yang memerlukan.
  5. Cakra Tenggorokan (Wisudha) diseimbangkan dengan Hredaya Mudra, Akasha Mudra, Cakra Mudra. Mudra yang dapat membuat laju komunikasi menjadi lancar dan terbuka, di mana akan menuju suatu pemenuhan kebutuhan pada sisi harga diri, sisi kebutuhan estetika, serta pemenuhan aktualisasi diri. Arus komunikasi yang baik dan lancar, akan memengaruhi kewibawaan seseorang dan sangat baik ketika sapta cakra lainnya terkondisikan seimbang.
  6. Cakra Ajna mudra yang digunakan adalah mudra Bajra Mudra, Naraca Mudra, Petik Mudra Saraswati Dewi, Cakra Mudra. Mudra ini sangat mempengaruhi sisi kecerdasan dan intelektuatias sebagai kebutuhan kognitif, dan dapat dikatakan seluruh kebutuhan lain dan cakra-cakra yang ada bisa dikuatkan keseimbangannya dengan mudra di cakra ajna ini. Simbolisme suatu pengetahuan yang dapat membuka konsep diri dan aktualiasi diri.
  7. Cakra Mahkota (Sahasraha) digunakan Hredaya Cakra, Cakra Mudra, Pratiwi Akasa Mudra, Padma Mudra, dan disiplin mudra-mudra yang lainnya. Cakra mahkota menghubungkan manusia dengan semesta, ketika cakra-cakra lain seimbang maka cakra mahkota secara otomatis akan menguatkan dan memberikan kekuatan dengan “cara-cara”Nya untuk menyeimbangkan cakra yang ada. Sebuah simbolisme Aktualisi Diri yang tercapai dengan baik, di mana Sang Sangkan Paraning Dumadi, kesejatian diri, kekuatan diri untuk hidup dalam lingkup sang dharma tercipta dengan berkat dan disiplinnya.

Aktualisasi diri dalam lingkup Dharma adalah seseorang yang mampu memahami dirinya sendiri, kemudian mengetahui potensi dirinya sendiri. Serta dengan itu bisa menguatkan keberadaannya di alam ini (Bhur Loka), untuk menjadi abdi-abdi Sang Dharma. Sebagaimana disebutkan dalam sloka Sarasamuscaya:

Sarasamuscaya Sloka 4 :

Apan iking dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsãra, makasãdhanang śubha karma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Artinya : Menjelma sebagai manusia itu sungguh-sungguh yang utama, sebab demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir mati berulang-ulang), dengan jalan berbuat baik (dharma); demikian keuntungan menjelma sebagai manusia.

Daftar pustaka

Anonim  (tt), “What is Levi-Strauss Structuralism?” di Web https://testbook.com/ias-preparation/levi-strauss-structuralism login pada 18Juli 2025

Anonim (tt), “Teori-Teori Tentang Budaya  Roger M. Keesing”, pada web https://pusdikmin.com/perpus/file/TEORI%20TEORI%20KEBUDAYAAN.pdf  login pada 18 Juli 2026

Atmaja, dkk. (2010). Etika Hindu. Surabaya: Penerbit Paramita. Cetakan Pertama 2010.

Badrock, Christoper (2022). Levi-Strauss Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Terjemahan Penerbit Insight Reference Yogyakarta. Cetakan Kedua 

Geria, A.A. Gde Alit (2018). Wacana Siwa-Buddha dalam Kekawin Nilacandra. Penerbit Cakra Media Utama Denpasar Bali.

Ginajar, Ahmad (2018). Struktur  Cerita Padi Nusantara dan Penafsiran Simbol-Simbolnya dalam Sudut Pandang Antropologi Levi Strauss. Jurnal Bahasa, Sastra, Pembelajarannya  Dinamika Vol.1. (1).                                                                                          

Jaenudin, Ujam (2012) Psikologi Kepribadian. Penerbit Pustaka Setia Bandung.

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuscaya (dalam teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna). Surabaya: Penerbit Paramita

Maswinara, I Wayan (penyadur). 1997. Bhagawadgita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Surabaya:Penerbit Paramita

Pudja G.,M.A., Rai Sudharta, Tjokorda, M.A. 1996. Manawa Dharmasastra (Weda Smreti Compendium Hindu). Jakarta:Penerbit Hanuman Sakti

Palguna. IBM Dharma. 2008. Leksikon Hindu. Lombok: Penerbit SadampatyAksara

Saleha dan MR Yuwita, 2023. Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Pada Simbol Rambu Lalu Lintas Dead End. Jurnal Mahadaya Vol.3, No.1 April 2023

Suhardana Komang. 2010. Catur Marga Empat Jalan Menuju Brahman. Surabaya : Penerbit Paramita

Suhardana Komang. 2010. Karmaphala Menciptakan Karma Baik Menurut Kitab Suci Hindu. Surabaya: Penerbit Paramita Cetakan Pertama.

Suryawan, I Putu Arya, 2024. Mudra dan Patatangan. Cetakan pertama Penerbit Pustaka Pranala Yogyakarta

Wardana, Lingga I.B. (2021). Ke Mana Kita Setelah Mati (Menganalisa Mayaguna). Penerbit Kalvatar Tastra Aksara Denpasar

Wardana, Lingga I.B. (2022).  Susila Dalam Sloka. Penerbit Kalvatar Tastra Aksara

Wardana, Lingga I.B. (2024)Psikologi (kepribadian) dalam ruang dharma. Penerbit Kalvatar Tastra Aksara


Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengelola Web Kalvatar Tastra Aksara

Ida Bagus Lingga Wardana, S.E, M.Sos., CH.,CHt., CFHPSy

Lulusan Pasca Sarjana S2 ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi, saat ini sedang mengemban pendidikan S3 untuk Ilmu Agama dan Kebudayaan di Unhi

Merupakan Founder dari Penerbit Kalvatar Tastra Aksara, Penerbit buku-buku religi dan spiritualitas.

Serta membuka Konsultasi Psikologi Tarot Reading Kanda Pat Suksma Kalvatar Bali. Dengan Nomor Ijin Praktek,

STPT 570/STPT/0022/IX/DPM-PMTSP 2023

Alamat Jalan Tukad Balian 70x Sidakarya (Sebelah Kedai Magisa)

Kalvatar Tastra Aksara

Jl. Tukad Yeh Aya ruko No.70x blok A2, Panjer, Kec. Denpasar Bar., Kota Denpasar, Bali 80224

https://maps.app.goo.gl/GBnJXoDBh7UMLBRs6

Related posts

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-9735786260076542"
     crossorigin="anonymous"></script>

Eksplorasi konten lain dari Kalvatar Tastra Aksara (DharmaNya Tanpa Batas)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca